• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASY-SYATIBI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ASY-SYATIBI "

Copied!
106
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

1 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, Ekonomi Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2008), hal.6 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII Yogyakarta, Islam Ekonomi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hal.

Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran Imam Asy-Syatibi tentang maslahah dalam ekonomi Islam. Hasil kajian ini diharapkan dapat menyumbang pemikiran kepada masyarakat tentang konsep maslahah dalam ekonomi Islam menurut Asy-Syatibi. Fokus kajian ini adalah untuk mengenal pasti pembolehubah atau komponen terpenting konsep maslahah dalam ekonomi Islam menurut Asy-Syatibi.

Serta kumpulan karya ilmiah berupa jurnal ilmiah yang membahas tentang konsep ekonomi syariah menurut Asy-Syatibi. Kebutuhan kebutuhan manusia ada pada tingkatan-tingkatan, menurut Asy-Syatibi ada 3 (tiga) kategori tingkatan kebutuhan, yaitu: dharurijat (kebutuhan primer), hajiat (kebutuhan sekunder) dan tahsiniyah (kebutuhan tersier). Imam Asy-Syatibi merupakan seorang pemikir terkenal dalam sejarah intelektual Islam, khususnya di bidang fiqih.

Unsur terpenting dalam maslahah dalam ekonomi Islam menurut Imam Asy-Syatibi ialah akidah (al-din), nyawa atau jiwa (al-nafs), keturunan (al-nasb), intelektual (al-aql), dan harta atau harta benda. (pusat membeli-belah al).

Tujuan Penelitian

Definisi Istilah

Asy-Syatibi merupakan salah seorang pemikir yang terkenal dalam sejarah intelektual Islam khususnya dalam bidang perundangan. Ash-Syatibi membesar dan menerima semua pendidikannya di ibu kota kerajaan Nashr, Granada, yang merupakan kubu terakhir umat Islam di Sepanyol.

Tinjauan Penelitian Relevan

Asy-Syatibi merupakan salah seorang pemikir yang terkenal dalam sejarah intelektual Islam khususnya dalam bidang perundangan. Kitab al-Muwafaqat fi Ushul al Shari'ah sendiri disusun oleh Asy-Syatibi untuk merapatkan ketegangan yang wujud antara mazhab Maliki dan Hanafi ketika itu. Sedangkan konsep kepuasan dalam ekonomi Syariah adalah berdasarkan pemikiran Imam Asy-Syatibi, yang disebut sebagai maslahah, sesuatu itu baik dan dapat diterima oleh akal sehat.

Menurut Imam Asy-Syatibi, terdapat lima unsur tujuan asas kehidupan manusia di muka bumi ini iaitu akidah (al-din), nyawa atau jiwa (al-nafs), asal (al-nasb), intelektual (al- aql ) dan harta atau harta (al mal). Dari pemahaman tersebut dapat kita katakan bahwa tujuan syariah menurut Imam Asy-Syatibi adalah kemaslahatan umat manusia. Imam Asy-Syatibi mempunyai banyak karya, tetapi hanya sedikit yang diterbitkan, seperti Al-Muwafaqat fi Ushul Asy-Syariah dan Al-Itisham.

Pandangan Imam Ash-Syatibi tentang maslahah ialah kualiti atau kekuatan barang atau perkhidmatan untuk memenuhi keperluan manusia di dunia.

Tinjauan Teori

  • Teori Ekonomi Islam
  • Teori Konsumsi Islam
  • Teori Maslahah

Metode Penelitian

  • Jenis Penelitian
  • Fokus Penelitian
  • Jenis dan Sumber Data
  • Metode Pengumpulan Data
  • Metode Pengolahan Data

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek yang akan diteliti 66 Objek yang menjadi sumber data primer penelitian ini adalah buku-buku yang merupakan sumber literatur ilmiah yang resmi menjadi pedoman dalam kajian ilmu ekonomi khususnya buku tentang pekerjaan. - Syatibi. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku yang berkaitan dengan objek penelitian, hasil penelitian berupa laporan, skripsi, tesis dan tesis 67 Peneliti akan mengumpulkan data dan informasi terkait permasalahan yang ada dalam ekonomi Islam menurut Asy-Syatibi sebelumnya dalam bentuk jurnal , tesis, tesis atau tesis. Penelitian deskriptif pada umumnya tidak menggunakan hipotesis (non hipotesis), sehingga dalam penelitian ini tidak perlu merumuskan hipotesis.68 Dalam penelitian deskriptif, data yang dikumpulkan tidak berupa angka-angka, melainkan berupa kata-kata atau gambar. .69.

Metode induktif berupa analisis data dari kasus-kasus tertentu kemudian menarik kesimpulan umum. Metode deduktif berupa analisis data dari kasus-kasus umum untuk memperoleh suatu kesimpulan yang bersifat khusus dan dapat dipertanggungjawabkan.

LATAR BELAKANG GENEALOGIS PEMIKIRAN IMAM ASY-

  • Biografi Imam Asy-Syatibi
  • Guru dan Murid Imam Asy-Syatibi
  • Karya-Karya Imam Asy-Syatibi
  • Pendapat Ulama Tentang Asy-Syatibi

Asy-Syatibi berada di Granada diperkirakan pada masa pemerintahan Isma'il bin Farraj yang berkuasa pada tahun 713 H. Al-Muwafaqat adalah karya monumental Asy-Syatibi di mana konsep teologi dan ushul fiqhnya tentang Mashlahah ditulis. Sebagai contoh, penghargaan yang besar diberikan oleh para ulama kepada ash-Syatibi kerana kepakarannya berbanding ulama di zamannya.

93Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syariah Menurut Iman Asy-Syatibi, (Jakarta: Grafindo Persada, 1996), hal. w. 848H), membuktikan keilmuan asy-Syatibi dalam bidang hukum Islam. 99 Cendekiawan Muslim asal Pakistan lainnya yang sangat mengapresiasi karya Asy-Syatibi adalah Fazlur Rahman.

GAMBARAN UMUM TENTANG MASLAHAH DAN KONSUMSI

Konsumsi Secara Umum, Konsumerisme, dan Kebutuhan Palsu

Sehingga menjadi mitos yang berujung pada pemborosan yang tidak dapat dihentikan, karena masyarakat tidak lagi memikirkan eksploitasi dan produksi manusia (jasa) dan alam (barang), melainkan dipenuhi dengan pemikiran konsumsi yang terus menerus. 103. Konsumerisme menggambarkan suatu masyarakat di mana banyak orang merumuskan tujuan hidup mereka sebagian melalui pembelian barang-barang yang tidak jelas-jelas mereka butuhkan untuk penghidupan atau untuk pajangan tradisional. Mereka terlibat dalam proses berbelanja dan memperoleh sebagian identitas mereka dengan memiliki barang-barang baru yang mereka beli dan pajang.

Penjelasan di atas memberi kesan bahwa konsumerisme adalah perilaku konsumsi berlebihan dimana sebagian individu terjebak dalam pola konsumsi yang berusaha memperoleh produk-produk yang “jelas-jelas tidak mereka perlukan untuk keberadaannya” atau yang tidak mereka perlukan. Pemilik toko berusaha menarik pelanggan dan membeli barang yang tidak mereka butuhkan serta memproduksi barang baru dan menciptakan kebutuhan baru.

Pendapat Pemikir Tentang Utility dan Maslahah

Kepuasan pelanggan merupakan suatu hal yang sangat berharga untuk mempertahankan eksistensi pelanggan agar bisnis tetap berjalan. Pelanggan akan merasa puas jika hasil evaluasinya menunjukkan bahwa produk yang digunakannya berkualitas. Produk yang mempunyai kualitas yang sama namun mematok harga yang relatif murah akan menawarkan nilai yang lebih tinggi kepada konsumen.

Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung merasa puas terhadap produk atau jasa tersebut. Sedangkan pengertian dari terminologinya adalah: “Al-Mashlahah adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, yang dapat dicapai manusia dengan memperolehnya atau dengan menghindarinya.

Gambar 1.1 : Konsep Kepuasan Pelanggan
Gambar 1.1 : Konsep Kepuasan Pelanggan

Perbandingan Antara Utility dan Maslahah

Menurut Imam Asy-Syatibi, istilah maslahah mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar kegunaan atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Dari penjelasan konsep Maqashid Asy-Syatibi di atas terlihat jelas bahwa syariah ingin setiap individu memperhatikan kesejahteraannya. Menurut al Syatibi, maslahah dan maqashid al Syari'ah merupakan dua hal penting dalam pembinaan dan pengembangan hukum Islam.

Secara linguistik, maqashid al-syari'ah terdiri dari dua kata, yaitu maqashid dan alsyari'ah. Kemaslahatan yang dilihat dari sudut pandang ini disebut maslahah al murlahah (maslahah yang tidak bergantung pada dalil-dalil tertentu), namun sesuai dengan petunjuk umum hukum Islam. Fauzia, Ika Yunia & Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam; Perspektif Maqashid al-Syari'ah, Jakarta: Kencana, 2014.

Ika Yunia Fauzia & Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam; Perspektif Maqashid al-Syari'ah, Jakarta: Kencana, 2014.

ANALISIS PEMIKIRAN TENTANG MASLAHAH DALAM EKONOMI

Pandangan Al Syatibi Dalam Bidang ekonomi

Konsep Maslahah dan Maqashid Al Syariah Al Syatibi

Dalam hal ini beliau menyatakan bahwa tidak ada satu pun hukum dari Allah SWT yang tidak mempunyai tujuan, karena hukum yang tidak ada tujuannya sama saja dengan memaksakan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan.123 Keutamaan dalam hal ini diartikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan rezeki manusia, pemenuhan penghidupan manusia, dan perolehan apa pun yang dibutuhkan kualitas emosional dan intelektualnya, dalam arti absolut. Dharuriyat, kebutuhan pada tingkat ‘primer’ merupakan sesuatu yang harus ada bagi keberadaan manusia, atau dengan kata lain kehidupan manusia tidak sempurna tanpa harus dipenuhi oleh manusia sebagai ciri atau kelengkapan hidup manusia, yaitu ditinjau dari derajatnya: iman ( al.-din), hidup atau jiwa (al -nafs),. Hajiyat, kebutuhan tingkat “sekunder” bagi kehidupan manusia, adalah sesuatu yang diperlukan bagi kehidupan manusia tetapi tidak mencapai tingkat dharuri.

Agama merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk mencapai kedamaian hidup. Akal juga memungkinkan seseorang dapat membedakan manfaat dan bahaya, terutama pada sesuatu yang dikonsumsinya.

Faktor-Faktor Yang Menentukan Tingkat Maslahah Konsumen

Asas keadilan, asas ini mengandung makna ganda dalam mencari rezeki yaitu halal dan tidak dilarang oleh undang-undang. Asas Kesopanan, asas ini mengatur perilaku manusia dalam makan dan minum secukupnya. Firman Allah dalam QS: Al-A'raaf: 31. Wahai anak Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah setiap kali (memasuki) masjid, makan dan minum, dan jangan berlebihan.

Dari penjelasan di atas dapat tercapainya suatu barang atau jasa pada tingkat maslahah tidak hanya bergantung pada lima faktor saja, yaitu kualitas produk, kualitas layanan, emosionalitas, harga dan biaya. Apabila suatu barang atau jasa memenuhi lima faktor penentu maslahah, namun tidak mengikuti atau melanggar kaidah halal dan haram serta kelima prinsip tersebut, maka barang atau jasa tersebut tidak dapat mencapai tingkat maslahah yang tertinggi.

Metode Pengukuran Tingkat Maslahah Konsumen

Allah memerintahkan kita untuk menjadikan kehidupan dunia ini sebagai wasilah (jembatan) menuju kebahagiaan akhirat dengan menerima syariat yang kaffah (seutuhnya). Semua maslah harus mengacu pada norma agama yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis. Membakukan nilai maslah dengan nalar akan membatalkan syariat, sebagaimana dikemukakan Syathibi: “Salah besar akal mempunyai otoritas di luar teks, akibatnya akal dapat membatalkan syariat.”136 Karena.

Semua pihak yang membelanjakan segala-galanya diharapkan dapat mengamati manfaat ekonomi Islam, bukan sahaja memperhatikan ekonomi Islam untuk dunia, tetapi juga memerhatikan akhirat. Memandangkan maslaha dalam ekonomi Islam merupakan masalah yang sering berlaku dalam kehidupan seharian masyarakat, kami berharap umat Islam khususnya ulama dapat membincangkan lebih lanjut masalah maslaha dalam ekonomi Islam.

PENUTUP

Simpulan

Dalam rangka pengembangan intelektualnya, tokoh yang tergabung dalam mazhab Maliki ini mempelajari berbagai ilmu, baik yang berupa 'ulum al-wasa'il (metode) maupun 'ulum maqashid (hakikat dan hakikat).

Saran

Ahmad al-Raisuni, Nazariyyat al-Maqasid inda al-Shatibi, Herndon-Virginia, The International Institute of Islamic Thought, 1995. Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought In Islam (Jakarta: Tintamas, 1966), diterjemahkan oleh 'Ali Audah , dkk.Muhammad Khalid Masud, Filsafat Hukum Islam: Kajian Kehidupan dan Pemikiran al-Syathibi, Bandung: Penerbit Pustaka, 1996.

Ikhawan Aulia Fatahillah, Penerapan Konsep Etis dalam Konsumsi dalam Perspektif Ekonomi Islam, Jurnal: UIN Sunan Gunung Jati, XIII. Solihin, Perilaku Pelanggan Syariah: Perilaku Konsumen dalam Belanja Online, JEBI (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam), Vol.

Gambar

Gambar 1.1 : Konsep Kepuasan Pelanggan

Referensi

Dokumen terkait