53
SENSITIVITY OF PINEAPPLE PEEL (Ananas comosus) EXTRACT AGAINSTEdwardsiella tarda BACTERIA
Mhd. Azaldin1), Henni Syawal2)*, Iesje Lukistyowati2)
1Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan
2Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan
*Email: [email protected]
ABSTRAK
Kulit nanas (Ananas comosus) merupakan limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai antimikroba/
antibakteri karena mengandung senyawa metabolit sekunder, seperti flavonoid, tanin, dan saponin.
Edwardsiella tarda adalah patogen yang dapat menimbulkan penyakit pada ikan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas dari ekstrak kulit nanas (A.comosus) dalam menghambat pertumbuhan E.tarda dan Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Konsentrasi ekstrak kulit nanas yang digunakan adalah 100%-10% dan sebagai kontrol antibiotik oxytetracycline. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensitivitas dari kulit nanas terhadap E. Tarda berkisar antara 6,13 mm - 14,78 mm dan pada konsentrasi 18% ditetapkan sebagai nilai MIC dengan kepadatan bakteri 265,33 CFU/mL.
Kata Kunci: Ekstrak Kulit Nanas(Ananas comosus), Edwardsiella tarda, Sensitivitas, Minimum Inhibitory Concentration
ABSTRACT
Pineapple peel(Ananas comosus) was an organic waste that can be used as an antimicrobial / antibacterial because it contains secondary metabolites, such as flavonoids, tannins, and saponins. Edwardsiella tarda was pathogen that can cause diseases in cultured fish. The research aimed to determine the sensitivity of pineapple peel extract (A.comosus) in inhibit the growth of E. Tarda and Minimum Inhibitory Concentration. The concentration of pineapple peel extract was use 100%-10% and oxytetracycline antibiotic was use as a control.
The results showed that the sensitivity of pineapple peel extract against E. tarda ranged from 6,13 mm – 14,78 mm and at a concentration of 18% was determined as the MIC value with a bacterial density 265,33 CFU / mL.
Keyword: Pineapple peel extract (Ananas comosus), Edwardsiella tarda, Sensitivity, Minimum Inhibitory Concentration
54
1. Pendahuluan
Bakteri Edwardsiella tarda merupakan agen penyebab penyakit edwardsiellosis yang kerap meng-infeksi dan menyebabkan kegagalan budidaya catfish di Indonesia (Fikar et al., 2015).
Edwardsiellosis dapat ditularkan secara horizontal antara ikan sakit ke ikan sehat. Bakteri ini dapat bertahan di dalam air dan lumpur, serta bersifat oportunitis.
Nanas merupakan salah satu tanaman yang banyak dihasilkan di Provinsi Riau, terutama di Desa Rimbo Panjang dan Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Desa tersebut merupakan desa binaan dalam memproduksi olahan nanas, dimana terdapat 11 rumah produksi. Rata-rata setiap hari menghasilkan 15–16,5 kg limbah kulit nanas / rumah produksi yang dibuang tanpa dilakukan pengelohan (Prastiyo et al., 2012). Apabila kon- disi ini berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa dilakukan pengolahan yang tepat, maka dapat menyebabkan pence-maran dan ketidaknyamanan di lingkungan tersebut.
Pemanfaatan kulit nanas sebagai antibakteri telah banyak diteliti, terutama pada bakteri Gram positif. Manaroinsong et al. (2015) melaporkan bahwa ekstrak kulit nanas dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus dengan zona hambat sebesar 15,55mm dan 15,06mm. Selanjutnya Maghfiro (2017) melaporkan bahwa ekstrak kulit nanas dapat menurunkan cemaran Escherichia coli pada ikan tongkol dengan zona hambat yang dihasilkan 19,92 mm.
Berdasarkan informasi tersebut maka peneliti berkeyakinan bahwa ekstrak kulit nanas dapat dijadikan sebagai antibakteri dalam meng- hambat pertumbuhan bakteri Gram negatif (E.
tarda).
2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Uji sensitivitas ekstrak kulit nanas menggunakan metode Kirby-Bauer dengan konsentrasi 100% - 10% masing-masing kon- sentrasi diulang 3 kali. Selanjutnya dilakukan uji Minimum Inhibitory Concentration (MIC) menggunakan metode turbidimetri dan Total Plate Count (TPC) dengan konsentrasi 22%- 14%.
Prosedur Penelitian
Pembuatan Ekstrak Kulit Nanas (A. comosus) Sampel kulit nanas diperoleh dari salah satu Rumah Produksi Nanas di Desa Kuala Nenas.
Sampel dicuci dengan air mengalir, ditiriskan, dan
dipotong menjadi ukuran dadu, lalu dikeringkan dengan oven pada suhu 50oC selama 6 jam.
Selanjutnya diblender untuk mendapatkan simplisia. Setelah itu dilakukan maserasi selama 24 jam dengan menggunakan pelarut etanol 96%
dengan perbandingan 1 kg simplisia kulit nanas dilarutkan dalam 5 L etanol 96% (1:5). Hasil maserasi dipekatkan dengan meng-gunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kulit nanas yang merupakan larutan stok (100%).
Pembuatan Media Tumbuh E. tarda
Media tumbuh E. tarda yang digunakan adalah Tryptic Soy Agar (TSA) dan Tryptic Soy Broth (TSB). Pembuatan TSA dengan cara mela- rutkan 40g TSA dalam 1 L akuades sedangkan TSB dengan cara mela-rutkan 30g TSB dalam 1 L akuades. Setelah media dihomogenkan diatas hot plate, lalu disterilisasi dalam autoclave pada suhu 1210C dengan tekanan 2 atm selama 15 menit.
Selanjutnya ditunggu hingga suhu±500C, kemudian media dituangkan ke dalam cawan petri dan dibiarkan hingga padat. Kemudian dilakukan kultur bakteri dengan cara mengambil satu ose kultur murni E. tarda, lalu digoreskan pada media TSA dan diinkubasi dalam inkubator pada suhu 28OC selama 20 jam. Koloni bakteri yang tumbuh pada media TSA diambil dengan jarum ose steril sebanyak 1 ose lalu dipindahkan ke media TSB.
Setelah itu diinkubasi kembali, hasil kultur dalam media TSB disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Kemudian supernatan dibuang dan pelet (E. tarda) ditambahkan 10 mL larutan PBS, lalu divortex hingga kekeruhan bakteri yang digunakan setara dengan standar McFarland 1 dan bakteri siap digunakan untuk uji sensitivitas dan uji MIC dengan ekstrak kulit nanas (A. comosus).
Uji Sensitivitas
Uji sensitivitas ekstrak kulit nanas terhadap bakteri E. tarda menggunakan metode Kirby- Bauer. Inokulum bakteri sebanyak 100 μL dari media TSB diinokulasikan ke dalam media TSA dengan cara disebar secara merata dengan menggunakan spreader glass. Kertas cakram (disk blank) berdiameter 6 mm ditetaskan ekstrak kulit nanas sebanyak 50 μL dan didiamkan selama 3 menit, kemudian diletakkan di permukaan media TSA yang telah diinokulasi bakteri. Selanjutnya diinkubasi selama 20 jam dalam inkubator pada suhu 28oC, setelah 20 jam dilakukan pengamatan diameter zona hambat, yaitu zona bening yang terbentuk disekitar disk blank dan diukur diameternya dengan menggunakan jangka sorong.
2
55 Uji Minimum Inhibitory Concen-tration (MIC)
Uji MIC dilakukan dengan melihat turbidimetri pada media TSB. Adapun tahap kegiatannya adalah pertama, disiapkan tabung reaksi sebagai wadah pembuatan konsentrasi ekstrak kulit nanas. Setelah itu, konsentrasi ekstrak kulit nanas diambil 100 µL dan dimasukkan ke dalam mikrotube 1 mL, lalu ditambahkan 50 µL bakteri E. tarda dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL dan divortex agar homogen. Setelah homogen diambil 100 µL dan diinokulasi pada media TSB. Kemudian diinkubasi selama 20 jam pada suhu 280C di inkubator. Setelah 20 jam, dilakukan penga-matan terhadap kekeruhan dengan membandingkan dengan standar McFarland 1. Selanjutnya dilakukan uji Total Plate Count (TPC) mengikuti prosedur Soelama et
al. (2015). Sedangkan perhitungan koloni bakteri berdasarkan Waluyo (2008).
Analisa Data
Data diameter zona hambat dan nilai MIC ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif.
3. Hasil dan Pembahasan
Sensitivitas Ekstrak Kulit Nanas (A.comosus) terhadap Bakteri E. tarda
Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa penggunaan oxytetracycline dan ekstrak kulit nanas pada setiap perlakuan (100%-10%) sensitif terhadap pertumbuhan bakteri E. tarda (Gambar 1).
Gambar 1. Hasil Uji Sensitivitas Ekstrak Kulit Nanas (A. comosus) terhadap Bakteri E. Tarda.
Keterangan: K. Kontrol (Oxytetracycline), D1. 100%, D2. 90%, D3. 80%, D4.70%, D5.60%, D6.50%, D7.40%, D8.30%, D9.20%, D10. 10%
Berdasarkan Gambar 1, terlihat bahwa semua dosis ekstrak kulit nanas menghasilkan zona bening di sekeliling disk blank yang dikenal dengan zona hambat. Zona hambat yang terbentuk dari setiap perlakuan menandakan bahwa ekstrak kulit nanas sensitif terhadap pertumbuhan E. tarda.
Terbentuknya zona hambat akibat adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak kulit nanas, yaitu (flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid) yang dapat menghambat pertumbuhan E. tarda.
Adanya perbedaan ukuran zona hambat yang terbentuk berhubungan dengan dosis yang
diberikan, yakni semakin tinggi dosis maka aktivitas sebagai antibakteri juga semakin besar demikian juga dengan zona hambat yang terbentuk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Farlex (2005) bahwa suatu bahan dikatakan sensitif terhadap bakteri ditandai dengan adanya zona hambat di sekeliling disk blank. Ukuran diameter zona hambat ekstrak kulit nanas (A.comosus) terhadap bakteri E. tarda dapat dilihat pada Gambar 2.
D1
D2 K D3
K D5 D6
D4
K D7
D8 D9
D10
56 Gambar 2. Diameter Zona Hambat Ekstrak Kulit Nanas terhadap E.tarda. K. Kontrol (Oxytetracycline)
Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa diameter zona hambat yang dihasilkan oleh Oxytetracycline (kontrol) sebesar 15,95mm se- dangkan zona hambat dari ekstrak kulit nanas berkisar antara 6,13 mm – 14,78 mm. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi yang digunakan semakin besar nilai diameter zona hambat yang dihasilkan, artinya aktivitas anti- bakteri semakin meningkat dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak yang digunakan. Nilai diameter zona hambat yang dihasilkan berbanding lurus dengan tingkat konsentrasi ekstrak yang diberikan. Hal ini disebabkan meningkatnya kadar senyawa antibakteri yang terdapat pada berbagai konsentrasi ekstrak (Bobbarala 2012; Syawal et al.
2017, dan Syawal et al. 2019).
Berdasarkan Davis dan Stout dalam Jannata (2014), klasifikasi respons hambatan pertumbuhan bakteri yang dilihat berdasarkan diameter zona hambat terdiri atas 4 kelompok, yaitu respons lemah (diameter ≤5 mm), sedang (diameter 5-10 mm), kuat (diameter 10-20 mm), dan sangat kuat (diameter ≥20 mm). Berdasarkan klasifikasi tersebut didapatkan hasil bahwa semua konsentrasi ekstrak kulit nanas (Ananas comosus) memiliki respons antibakteri terhadap pertumbuhan Edwardsiella tarda. Respons antibakteri kategori kuat pada konsentrasi 100% - 50% dan kategori sedang pada konsentrasi 40% - 10%. Ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi suatu bahan antibakteri maka aktivitas antibakterinya semakin kuat. Sehingga kemampuan dalam membunuh suatu bakteri juga semakin besar (Roslizawaty et al., 2013).
Manaroinsong (2015) mela-porkan penggunaan ekstrak kulit nanas terhadap bakteri S.
aureus pada konsentrasi 100% mengha-silkan zona hambat sebesar 15,06 mm. Jika dibandingkan dengan ekstrak kulit nanas terhadap bakteri E.
tarda dengan konsentrasi 100% menghasilkan zona hambat sebesar 14,78 mm. Artinya, zona hambat yang dihasilkan terhadap S. aureus lebih besar dibandingkan E. tarda. Perbedaan nilai diameter zona hambat pada kedua bakteri terjadi karena bakteri Gram positif (S.aureus) hanya memiliki satu lapis membran peptidoglikan yang tebal (Warsa, 2011), sehingga menyebabkan senyawa antibakteri mudah masuk ke dalam sel bakteri tersebut. Sedangkan bakteri Gram negatif (E. tarda) memiliki lapisan tambahan pada dinding sel yang disebut membran luar yang tersusun dari lipopolisakarida, porin matriks, dan lipoprotein sehingga senyawa antibakteri lebih sulit untuk masuk ke dalam sel. Hal ini menyebabkan aktivitas antibakterinya lebih lemah dibandingkan Gram positif (Satriyadi et al., 2016).
Kemampuan ekstrak kulit nanas dalam menghambat pertumbuhan bakteri diduga karena adanya senyawa antibakteri yang terkandung di dalam ekstrak tersebut. Hasil uji fitokimia diketahui bahwa kulit nanas mengandung senyawa antibakteri, seperti flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan steroid.
Mekanisme kerja dari tanin, yaitu membentuk ikatan hidrogen antara tanin dengan protein yang terdapat pada bakteri. Ikatan yang terbentuk menyebabkan protein terdenaturasi sehingga metabolisme bakteri terganggu.
Terdenaturasinya protein juga mengakibatkan sintesa dinding sel bakteri terhambat, rusaknya membran sel bakteri, menghambat fungsi selaput sel (transpor zat dari sel satu ke sel lain), dan menghambat sintesis asam nukleat sehingga pertumbuhan bakteri dapat terhambat. Asam tanat yang terdapat pada tanin juga dapat menghambat metabolisme sel dengan cara mengganggu aktivitas enzim bakteri (Roslizawaty et al., 2013).
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
K 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100%
Diameter Zona Hambat (mm)
Konsentrasi Ekstrak Kulit Nanas
57 Mekanimse kinerja flavonoid dapat
menghambat metabolisme energi dengan cara menghambat sistem respirasi. Terhambatnya sis- tem respirasi menyebabkan energi yang dihasilkan sedikit dan tidak cukup untuk penyerapan aktif berbagai metabolit dan biosintesa makromolekul (Cushnie, 2005). Efek flavonoid juga dapat mencegah pembelahan bakteri sehingga bakteri tidak dapat berkembang biak dan membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraseluler yang akan mengganggu integritas membran sel (Sudarno et al., 2011).
Berdasarkan efektif kerjanya, senyawa antibakteri dibagi dua, yaitu senyawa antibakteri berspektrum luas dan berspektrum sempit.
Senyawa antibakteri berspektrum luas efektif terhadap bakteri yang bersifat gram positif dan gram negatif, sedangkan senyawa antibakteri ber- spektrum sempit hanya efektif untuk bakteri yang bersifat Gram positif atau Gram negatif saja
(Jamaludin, 2005). Dari hasil penelitian yang diperoleh, senyawa antibakteri pada ekstrak kulit nanas berspektrum luas, karena selain mampu menghambat bakteri Gram positif, yaitu bakteri S.
aureus dan bakteri S. mutans juga mampu menghambat partumbuhan bakteri Gram negatif, yaitu E. tarda.
Uji Minimum Inhibitory Concentration (MIC) Uji Minimum Inhibitory Concentration (MIC) digunakan untuk menentukan konsentrasi minimum sebagai antimikroba yang dapat menghambat mikroorganisme sesudah 18 sampai 24 jam setelah masa inkubasi (Golan et al., 2008).
Uji MIC dilakukan menggunakan metode turbidimetri dan uji Total Plate Count (TPC).
Konsentrasi yang diuji berdasarkan hasil uji sensi- tivitas ekstrak kulit nanas, yaitu pada konsentrasi 22% - 14%. Hasil uji MIC metode turbidimetri ekstrak kulit nanas (A. comosus) terhadap bakteri E. tarda dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Hasil Uji MIC Metode Turbidimetri Ekstrak Kulit Nanas (A. comosus) terhadap Bakteri E.
tarda. Keterangan: K merupakan media kontrol yang berisi inokulum bakteri Berdasarkan Gambar 3 menunjukkan
konsentrasi MIC ekstrak kulit nanas terhadap E.
tarda terdapat pada konsentrasi 18% yang ditunjukkan secara visual dimana media konsentrasi 18% lebih jernih dibandingkan media kontrol (K) yang berisi inokulum bakteri. Endapan yang terdapat pada bagian bawah media uji merupakan koloni bakteri yang mengalami kematian yang disebabkan aktivitas antibakteri ekstrak kulit nanas. Sedangkan pada konsentrasi 14% dan 16% tingkat kekeruhan media lebih keruh jika dibandingkan media kontrol (K), hal ini
disebabkan pertumbuhan bakteri tidak dapat dihambat oleh aktivitas antibakteri ekstrak kulit nanas. Senada dengan pernyataan Lestari et al.
(2013), tingkat kekeruhan yang terbentuk pada setiap konsentrasinya akan berbeda. Semakin rendah konsentrasi maka tingkat kekeruhan media semakin menyamai kontrol dan bahkan lebih keruh. Adapun hasil uji Total Plate Count (TPC) ekstrak kulit nanas (A. comosus) terhadap bakteri E. tarda dapat dilihat pada Gambar 4.
K 22% 20% 18% 16% 14%
58 Gambar 4. Hasil Uji Total Plate Count (TPC) Ekstrak Kulit Nanas (A. comosus) terhadap Bakteri E.
tarda. Keterangan: A. 22%, B. 20%, C. 18%, D. 16%, E. 14%
Berdasarkan Gambar 4 terlihat bahwa semakin rendah konsentrasi ekstrak kulit nanas maka semakin tinggi kepadatan koloni bakteri yang terdapat pada media. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan kepadatan koloni bakteri pada konsetrasi 22% dengan kepadatan koloni bakteri pada konsentrasi 14% yang sangat padat, sehingga antara satu koloni dengan koloni yang lain menyatu. Menurut Ajizah (2004) hal tersebut
berhubungan dengan kepekatan konsentrasi di setiap perlakuan, dimana senyawa antibakteri yang terkandung di dalam konsentrasi 14% lebih rendah sehingga aktivitas antibakteri lemah menyebabkan kepadatan koloni bakteri yang tumbuh sangat padat. Untuk lebih jelasnya hasil uji MIC ekstrak kulit nanas (A. comosus) terhadap bakteri E. tarda tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Uji MIC Ekstrak Kulit Nanas (A. comosus) terhadap Bakteri E. tarda Dosis Ekstrak Kulit
Nanas (%)
Jumlah Koloni Bakteri (CFU/mL) Rata-rata (CFU/mL)
I II III
22 171 183 169 174,33
20 217 222 235 224,67
18 260 257 279 265,33
16 316 339 321 325,33
14 ∞ ∞ ∞ ∞
Keterangan: Tanda ∞ merupakan jumlah koloni yang tumbuh tidak terhingga Data pada Tabel 1 menun-jukkan
bahwapada dosis 14% belum mampu menghambat pertumbuhan bakteri karena dosis yang digunakan masih kecil sehingga koloni bakteri yang tumbuh dan tidak dapat dihitung, sedangkan pada dosis 18% merupakan dosis minimum dari uji MIC ditandai dengan jumlah koloni bakteri yang tumbuh Hal ini sesuai dengan pendapat (Waluyo, 2008) bahwa jumlah koloni bakteri yang dapat dihitung berkisar antara 30-300 CFU/mL.
Proses penghambatan partum-buhan koloni bakteri disebabkan adanya zat antibakteri, seperti fla-vonoid, tanin, alkaloid, steroid, dan saponin.
Zat antibakteri tersebut menyebabkan kerusakan pada din-ding sel, perubahan pada permia-bilitas sel, perubahan molekul pro-tein, terjadi penghambatan kerja enzim dan sintesis asam nukleat serta protein (Brooks, 2005). Adanya perubahan struktur sel bakteri dapat menyebabkan terhambatnya pertum-buhan bakteri.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit nanas (A.
comosus) sensitif terhadap bakteri E. tarda. Nilai diameter zona hambat berkisar antara 6,13-14,78 mm. Nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) ekstrak kulit nanas, yaitu pada konsentrasi 18% dengan rata-rata jumlah koloni yang tumbuh adalah 265,33 CFU/mL.
Daftar Pustaka
Ajizah A. 2004. Sensitivitas Salmonella typhymurium terhadap daun jambu biji (Psidium guajava L). Bioscientiae 1: 8- 31.
Bobbarala V. 2012. A search for antibacterial agents. Kroasia : Rijeka.
Brooks GF, Janet SB, Stephen AM, Jawetz, Melnick, Adelbergs. 2005.
Mikrobiologi kedokteran (medical micro-biology) buku 1, alih bahasa oleh Mudihardi E, Kuntaman, Wasito EB, Mertaniasih NM, Harsono S, Alimsardjono L. Jakarta : Salemba Medika.
D E
B
A C
59 Cushnie TPT, Lamb AJ. 2005. Antimicrobial
activity of flavonoids. International Journal of Antimicrobial Agents, (26):
343-356.
Farlex. 2005. The free dictionary.
http://www.thefreedictionary/com/self- control. Diakses tanggal 10 Januari 2019.
Fikar M, S Amanu, SRT Simanjuntak, MA Yudistra. 2015. Deteksi Edwardsiella Ictaluri pada ikan dengan metode co- agglutination test. Jurnal Sain Veteriner. 33(2) : 222-227.
Golan DE, Wilkins WL. 2008. Principles of pharmacology : the pathophysiologic basis of drug therapy (3rd ed). LWW.
Jannata RH, Achmad G, Tantin E. 2014. Daya antibakteri ekstrak kulit apel manalagi (Malus sylvestris Mill) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. e-Jurnal Pustaka Kesehatan.
Vol. 2, No. 2, Hlm. 23-28.
Jamaludin. 2005. Study Awal Kandungan Steroid dan Uji Aktivitas Antibakteri Ikan Laut Dalam (Satyrichthys welchi) dari Perairan Selatan Jawa [Skripsi].
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lestari A, Mohammad J dan Kundera IN. 2013.
Daya Hambat Ekstrak Daun Tembelek (Lantana camara L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli.
E-Jipbiol 1(1): 42-49.
Maghfiro SR. 2017. Kajian daya hambat ekstrak beberapa kulit buah sebagai antimikroba alami dalam menurunkan cemaran E.Coli pada ikan tongkol (Euthynnus affinis) [skripsi]. Bandar Lampung : Sekolah Sarjana, Universitas Lampung.
Manaroinsong A, J Abidjulu, KV Siagian.
2015. Uji daya hambat ekstrak kulit nanas (Ananas comosus L) terhadap bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT. Vol. 4 No. 4 : 27-33 ISSN 2302 – 2493.
Prastiyo A, Duwi B, Gita T, Siti S. 2012.
Penerapan green manufacturing analisis proses produksi nenas sebagai komoditas unggulan masyarakat.
Pekanbaru : Paper LKTI UI 2012.
Roslizawaty. 2013. Aktivitas antibakterial ekstrak etanol dan rebusan sarang semut (Myrmecodia sp.) terhadap bakteri Escherichia coli. Jurnal Medika
Veterinaria. Vol. 7, No. 2, Hlm. 91-94, ISSN : 0853-1943.
Satriyadi, Suryanto D, Lesmana I. 2016.
Pengujian Efektivitas Ekstrak Kulit Batang Rhizophora mucronata sebagai Antibakteri untuk Mencegah Infeksi Bakteri Streptococcus iniae pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) [Skripsi].
Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sudarno, Setiorini FA, Suprapto H. 2011.
Efektivitas ekstrak tanaman meniran (Phyllanthus niruni) sebagai antibakteri Edwardsiella tarda secara in vitro.
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan 3(1): 103-108.
Soelama HJJ, Billy JK, KristaVS. 2015. Uji minimum inhibitory concentration (mic) ekstrak rumput laut (Eucheuma cottonii) sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans. Jurnal e-Gigi.
Vol. 3 No. 2.
Syawal H, Rahman K, Angraika D, Ronal K.
2017. Ekstrak daun Rhizophora sp.
menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus agalactiae dan Edwardsiella tarda. Jurnal Veteriner.
Vol. 18 No. 4 : 604-609.
Syawal H, Yuharmen, Ronal K. 2019.
Sensitivitas ekstrak daun Rhizopora apiculata dalam menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Ruaya. Vol. 7 No. 2:
ISSN 2541-3155.
Waluyo. 2008. Teknik metode dasar mikrobiology: teknik pengenceran dan penghitungan bakteri. Malang: UMM Press.
Warsa UC. 2011. Buku ajar mikrobiologi kedokteran: kokus positif gram Staphylococcus. Tangerang : Binarupa Aksara Publisher.