PENGARUH CITRA MISS UNIVERSE INDONESIA 2023 TERHADAP PERSEPSI PELECEHAN SEKSUAL DIKALANGAN GENERASI Z DIKOTA BOGOR
Eka Supriyanti 044120235
Fenomena pelecehan seksual masih sering terjadi hingga saat ini. Subjek pelecehan seksual tidak memperhatikan usia dan jenis kelamin karena siapapun bisa menjadi korban pelecehan seksual, namun mayoritas subjek yang mengalami pelecehan seksual adalah perempuan. Pelecehan seksual bukan merupakan permasalahan pribadi namun sudah menjadi permasalahan kriminal yang berujung pada nilai-nilai budaya, sosial, ekonomi, dan politik dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak perbuatan yang dapat digolongkan sebagai pelecehan seksual, seperti pelaku menggoda korban, bersiul, melontarkan komentar seksual kepada korban, melontarkan lelucon seksual, menyentuh bagian tubuh tertentu korban, atau bahkan pemerkosaan (Ainaya, 2021).
Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) tahun 2022 menyebutkan Berdasarkan bentuk kekerasannya, secara umum data lembaga layanan dan komnas Perempuan mencatatkan bahwa dari 13.428 kasus, tercatat 15.466 bentuk kekerasan. Terbanyak adalah kekerasan fisik, yaitu ditemukan dalam 6,784 kasus atau hampir 44%. Untuk pengaduan ke Komnas Perempuan, terbanyak adalah kasus kekerasan seksual, sebanyak 2.228 kasus dari 5.831 kasus berdasarkan bentuk kekerasan, atau 38%. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2021 yang berjumlah 2.204 kasus. Sedangkan lembaga layanan didominasi oleh kekerasan dalam bentuk fisik (6.001 kasus/38.8%), diikuti dengan kekerasan seksual (4.102 kasus/26.52%).
Jumlah pengaduan kekerasan seksual ini mengalami peningkatan di tahun 2022 baik Komnas Perempuan maupun Lembaga Layanan. data berdasarkan provinsi juga diolah dari tiga sumber data utama, yaitu dari pengaduan ke Komnas Perempuan, 137 lembaga layanan berdasarkan kuesioner, dan data BADILAG. Menurut data Kasus KBG (Kekerasan Berbasis Gender) terhadap Perempuan 2022 Berdasarkan Provinsi bahwa provinsi di Pulau Jawa terutama Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Timur, dan DKI menempati posisi terbanyak kasusnya. Perlu dipahami jika banyaknya data tidak selalu diartikan secara negatif, tetapi juga dimungkinkan karena banyak korban yang berani melapor (Speak Up) atau juga karena proses penanganan kasus sudah berjalan dengan baik. Banyak kasus di Pulau Jawa dimungkinkan karena infrastruktur Pengadilan Agama di wilayah tersebut mudah diakses di samping pengolahan data serta pelaporan yang baik (Komnas Perempuan 2023).
Persepsi Merupakan penilaian yang dilakukan suatu individu terhadap suatu kejadian sehingga menimbulkan rekasi berupa respon yang diciptakan, salah satunya reaksi terhadap budaya patriarki yang dipersepsikan oleh individu. budaya patriarki yang berlaku di masyarakat memandang laki-laki sebagai sosok kuat yang cenderung bebas melakukan apa pun terhadap perempuan, sehingga salah satu penyebab kekerasan seksual terus terjadi terhadap perempuan di Indonesia adalah budaya patriarki. bahwa adanya persepsi masyarakat terhadap budaya patriarki yang memandang perempuan sebagai makhluk yang berstatus lebih rendah dan tubuhnya sebagai objek seksual menjadikan perempuan sebagai sasaran laki-laki yang melakukan tindakan kekerasan seksual, bahkan eksploitasi (Pangestika et al., 2022).
Keberhasilan suatu organisasi tidak hanya bergantung pada kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, hal penting yang mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi adalah citra baik organisasi tersebut. Pengertian menurut salah satu tokoh yaitu Menurut Wasesa (2005:13) Citra perusahaan di mata masyarakat dapat dilihat dari opini atau keadaan mental masyarakat ketika mempersepsikan kenyataan yang sedang terjadi. Fakta dapat diambil dari media massa atau media lain yang relevan secara langsung dengan publik dan dapat dianggap mewakili persepsi yang lebih luas atau populer, khususnya seluruh komunitas. Dengan demikian, salah satu hal yang perlu dipahami mengenai pembentukan citra suatu perusahaan adalah persepsi yang berkembang di benak masyarakat terhadap realitas yang muncul di media, oleh karena itu sejauh mana citra tersebut akan terbentuk secara utuh ditentukan oleh sejauh mana humas mampu membangun persepsi berdasarkan realitas yang terjadi. Sekalipun muncul 5 persepsi yang tidak menyerupai kenyataan, persepsi tersebut tidak dapat dikonstruksi tanpa adanya realitas yang mendasarinya (Susanti, 2014).
Kontes kecantikan merupakan acara yang menarik banyak perhatian penonton di seluruh dunia. Kontes ini bertujuan untuk memilih perempuan-perempuan cantik, cerdas dan berbakat untuk menjadi duta suatu organisasi, daerah atau perwakilan suatu negara di ajang internasional. Di Indonesia, banyak sekali acara pemilihan ratu kecantikan yang didukung oleh banyak yayasan atau organisasi berbeda, tapi nyatanya dalam ajang yang memilih wanita cantik ini, banyak dinamika yang terjadi di masyarakat, mulai dari penolakan, larangan pemerintah, hingga buruknya perspektif masyarakat. Kontes kecantikan dianggap tidak sesuai dengan budaya Timur karena identik dengan menampilkan perempuan yang berjalan berlenggak-lenggok (Januar, 2022).
Kecantikan seseorang ditunjukkan dengan mengadakan berbagai kontes atau lomba kecantikan, termasuk kontes Miss Universe yang baru-baru ini diadakan. Miss Universe merupakan kontes kecantikan global yang diadakan setahun sekali. Acara tersebut akan menampilkan sejumlah perempuan yang akan meraih mahkota yang menunjukkan bahwa yang terpilih memiliki apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang perempuan sejati, yaitu brain, beauty, behavior dan brave (Hermansyah, 2011).
Berdasarkan pemaparan diatas, menyoroti citra Miss Universe dan dampaknya pada persepsi pelecehan seksual di kalangan masyarakt adalah sebuah langkah penting karena Sebagai kontes kecantikan internasional terkemuka, Miss Universe memiliki pengaruh besar di bidang kecantikan dan penampilan, yang dapat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap norma, etika dan citra maka dari itu penulis tertarik memilih judul “Pengaruh Citra Miss Universe Indonesia 2023 Terhadap Persepsi Pelecehan Seksual Dikalangan Generasi Z Dikota Bogor”.