• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 Pembahasan Advokat

N/A
N/A
M. Adji

Academic year: 2024

Membagikan "BAB 1 Pembahasan Advokat"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

ADVOKAT

Disusun Oleh:

Kelompok 4 Nama anggota : 1. Dela krismilita 2. m. Bagus daumarsyah

3. m. Rizky

4. m. Syahrul ramadhani 5. nur aini

6.siti mariyam

Kelas : XII ips 4 Guru pembimbing : Dra. Arniati

Sma negeri 18 unggulan palembang

Tahun ajaran 2018/2019

(2)

BAB 1 Pembahasan

1.1. Latar belakang

Advokat adalah setiap orang yang berprofesi memberi jasa hukum dan bertugas menyelesaikan persoalan hukum kliennya baik secara litigasi maupun nonlitigasi. Sejak dulu keberadaan advokat selalu ada semacam perbedaan pandangan. Menurut Frans Hendra Winata, tugas advokat adalah mengabdikan dirinya pada masyarakat, sehingga dia dituntut untuk selalu turut serta dalam penegakan Hak Asasi Manusia, dan dalam menjalankan profesinya ia bebas untuk membela siapapun, tidak terikat pada perintah klien dan tidak pandang bulu siapa lawan kliennya, apakah dia dari golongan kuat, penguasa, pejabat bahkan rakyat miskin sekalipun.

Salah satu hal lain yang menarik perhatian adalah peran advokat bukan hanya sebagai penyelesaian pertentangan antara warga, tetapi juga sebagai spesialisasi dalam hubungan antara warga negara dan lembagalembaga pemerintahan, yaitu antara masyarakat dan negara. Dalam negara modern, tanpa ada orang yang mengisi fungsi itu secara profesional, masyarakat akan lebih mudah ditindas dan dipermainkan oleh penguasa.

1.2. Rumusan masalah

1. Pengertian advokat?

2. Fungsi dan peranan advokat dalam penegakan hukum?

3. Pemahaman masyarakat tentang jasa advokat?

4. Sistem tarif dan kode etik advokat?

5. Hubungan kode etik dan undang-undang advokat?

1.3. Tujuan

1. Agar siswa mengetahui pengertian advokat.

2. Agar siswa mengetahui fungsi dan peranan advokat.

3. Agar siswa mengetahui Pemahaman masyarakat tentang jasa advokat.

4. Agar siswa mengetahui Sistem tarif dan kode etik advokat.

5. Agar siswa mengetahui Hubungan kode etik dan undang-undang advokat.

2

(3)

BAB II Pembahasan

2.1. pengertian advokat

Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik didalam maupun diluar pengadilan,yang memenuhi persyaratan bedasarkan ketentuan undang-undang, jasa hukum adalah jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien. Klien adalah orang, badan hukum, atau kembaga lain menerima jasa hukum dari advokat. Bantuan hukum adalah jasa hujum yang diberikan advokat secara Cuma-Cuma kepada klien yang tidak mampu.

Kata advokat itu sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu “ADVOCARE” yang berarti to deffend, to call one said, to vouch or to warrant.Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “ADVOCATE” yang berarti to speakin favorof or defend by argument, to support, indicate or recommand publicly. Dalam bahasa Belandajuga disebutkan bahwa advokat berasal dari kata “ADVOCAAT” yakni seorang yang telah resmi dianggakat dalam profesinya sebagai Meester in de Rechten (Mr).

Di Indonesia sendiri, muncul penamaan-penamaan yang berkaitan dengan profesi advokat ini diantaranya lawyer, pengacara, barrister, penasehat hukum, dan konsultan hukum.

Variasi dari penamaan-penamaan tersebut dikarenakan dalam undang-undang memakai istilah yang berbeda-beda, misalkan dalam undang-undang no.1 tahun 1981 tentang kitab undang-undang hukum acara pidana (KUHAP) mengunakan istilah penasehat hukum, sedangkan dengan disahkannya undang-undang no.18 tahun 2003 tentng advokat, maka seluruh penamaan yang berhubungan dengan dengan konteks pembelaan baik didalam ataupun diluar persidangan telah disatukan menjadi “advokat”, sehingga semua penamaan yang lain sudh tidak dipakai lagi.

Sedangkan menurut Kode Etik Advokat ( disahkan tahun 23 mei tahun 2002 ), advokat adalah orang yang berpraktek memberi jasa hukum, baik didalam maupun diluar pengadilan yang memenuhi persyaratan bedasarkan undan-undang yang berlaku, baik sebagai advokat, pengacara,penasehat hukum, pengacara praktek, ataupun sebgai konsultan hukum.

Dalam hal ini seorang advokat selain memberikan bantuan hukum diluar pengadilan, berupa konsultasi hukum, negosiasi,maupundalamhal pembuatan perjanjian kontrak-kontrak dagang ataupun melakukan tindakan hukum lainnya untuk kepentingan hukum dari klien baik orang maupun lembaga atau badan hukum yang menerima jasa hukum dari advokat.

2.2.

Fungsi dan peranan advokat dalam proses penegakan hukum

Peran dan fungsi advokat tidak akan lepas dari yang namanya penegakan hukum, khususnya di Indonesia. Pola penegakan hukum dipengaruhi oleh tingkat perkembangan masyarakat, tempat hukum itu berlaku atau diberlakukan (locus tempus). Dalam masyarakat

(4)

yang sederhana,pola penegakan hukumnya dilaksanakan berdasarkan mekanisme dan prosedur yang sedehana pula, namun dalam perkembangan masyarakat yang modern atau bisa dikatakan sedikit lebih maju perkembangannya yang memiliki tingkat rasionalitas dan tingkat spesialisasi dan differensiasi yang begitu tinggi,pengognisasian penegakan hukum menjadi lebih kompleks dan birokratis dalam proses penegakan hukumnya.

Tugas & Tanggung jawab Advokat

 Mewawancarai klien dan menyediakan mereka dengan nasihat hukum ahli

 Meneliti dan mempersiapkan kasus dan menghadirkan mereka di pengadilan

 Menulis dokumen hukum dan menyiapkan pembelaan tertulis untuk kasus perdata

 Penghubung dengan profesional lain seperti pengacara

 Mengkhususkan diri dalam bidang hukum tertentu

 Mewakili klien di pengadilan, pertanyaan publik, arbitrase dan pengadilan

 Mempertanyakan saksi

 Negosiasi

Sebagai akibatnya, penegakan hukum bukan lagi berbicara tentang orang yang menjadi apaarat penegak hukum tersebut,tapi juga organisasi yang mengatur dan

mengoprasionalisasikan proses penegakan hukum tersebut. Secara sosiologis, ada suatu jenis hukum yang mempunyai daya laku bisa lebih kuat dibanding hukum yang lain. Banyak didapati hukum yang ada sebagai produk dari sebuah kekuasaan tidak sesuai dengan kenyataanya dengan hukum yang nyata di masyarakat. Maka berdasarkan pada fenomena tersebut, fungsi dan peranan advokat dalam upaya penegakan hukum menurut ketentuan pasal 5 ayat (1) undang-undang no.18 tahun 2003 tentang advokat dan lainnya adalah secara garis besar sebagai berikut:

1. Advokat berstatus sebagai penegak hukum bebas dan mandiri yang dijaminoleh hukum

dan peraturn perundang-undangan. Artinya profesi advokat bisa disamakan

dengan kedudukan penegak hukum lainnya dalammenegakan hukum dan keadilan.

2. Memberikan bantuan hukum kepada setiap orang yang membutuhkan dengan tidak boleh

membedakan antara ras, suku, dan agama dalam melakukan praktek penegakan hukum tersebut.

3. Menjunjung tinggi nilai keadilan dan morlitas serta kebenaran.

4. Sebagai pengawal konstitusi dan hak asasi manusia.

5. Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan advokat terhadap masyarakat dengan cara

belajar terus menerus (continues legal education) untuk memperluas wawasan keilmuannya.

6. Membela kepentingan klien (litigsi) diluar pengadilan dan mewakili klien di muka pengadilan (legal representation).

7. Memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat yang lemah dan

tidak mampu (pro bono publico).

8. Memberikan pelayanan hukum (legal service), konsultasi hukum

(legal consultation),nasehat hukum (legal advice), pendapat hukum (legal opinion), informasi hukum (legal information), dan dan menyusun kontrak-kontrak atau perjanjian

4

(5)

(legaldrafting).

9. Memegang teguh sumpah advokat dalam rangka menegakan hukum, keadilan, dan

kebenaran.

10. Melindungi dan memelihara kemandirian, kebebasan, derajat, dan martabat advokat.

11. Menjaga hubungan baik dengan klien maupun dengan teman sejawat.

12. Memelihara persatuan dan kesatuan advokat agar sesuai dengan maksud dan tujuan organisasi advokat.

13. Menangani perkara-perkara sesuai dengan kode etik advokat, baik secara nasional maupun internasional.

14. Mencegah penyalahgunaan keahlian dan pengetahuan yang merugikan masyarakat dengan cara mengawasi pelaksanaan etika profesi advokat melalui Dewan Kehormatan Asosiasi Advokat.

2.3.

Pemahaman Masyarakat Tentang Jasa Advokat

Penggunaan jasa advokat tidak hanya diperlukan seseorang ketika menghadapi masalah hukum. Terkadang, masyarakat borjius atau kalangan atas, memiliki pengacara atau advokat pribadi. Bahkan, tidak jarang para pengacara atau advokat sering dipakai sebagai juru bicara seseorang. Proses memilih advokat atau pengacara sesuai dengan kebutuhan hukumnya hampir sama dengan proses memilih dokter, akuntan, notaris, arsitek, dan pekerja propesianal lainnya

Perlu kehati-hatian dan ketelitian klien dalam memilih jasa perizinan dan menentukan advokat atau pengacara untuk menangani urusan hukumnya, beberapa petunjuk dapat dijalankan.

1. Pastikan bahwa advokat atau pengacara tersebut benar-benar merupakan advokat atau

pengacara resmi yang memiliki izin praktik yang masih berlaku, bukan pengacara “gadungan” atau “porkot”.

2. Pastikan bahwa advokat atau pengacara memiliki kualifikasi yang baik dalam bidang

hukum tersebut.

3. Pastikan bahwa advokat atau pengacara tidak memiliki konflik kepentingan (conflict

interest) dalam kasus yang ditangani.

4. Pastikan bahwa advokat atau pengacara tidak akan melakukan kerjasama dengan pihak

lawan atau advolat/pemgacara pihak lawan.

5. Pastikan bahwa advokat atau pengacara tersebut memiliki track record yang baik dalam

keadvokatan atau pengacaraan (perusahaan konsultan atau kantor konsultan), termasuk menyangkut etika, moral, dan kejujurannya.

6. Pastikan bahwa advokat atau pengacara tersebut tidak pernah terlibat dalam malpraktik

hukum.

7. Pastikan bahwa advokat atau pengacara adalah tipe pekerja keras dan berdedikasi tinggi

akan profesinya serta benar-benar bekerja demi kepentingan kliennya.

8. Jika merasa ragu terhadap kredibilitas seorang advokat atau pengacara, mintkanlah

fotokopi izin praktik advokat yang bersangkutan (berwarna merah) yang diterbitkan oleh Komite Kerja Advokat Indonesia, bukan kop suratnya, atau mintalah informasi tentang advokat atau pengacara tersebut langsung kepada asosiasi-asosiasi advokat atau pengacara resmi yang diakui oleh undang-undang, yaitu Persatuan Advokat Indinesia

(6)

(PERADI), Kongres Advokat Indinesia (KAI), Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI), HimpunanAdvokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM), dan Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI).

9. Jika diperlukan tidak sepantasnya oleh oknum advokat atau pengacara, laporkan yang

bersangkutan kepada Dewan Kehormatan Profesi Advokatyang telah ditetapkan oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), ), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI), HimpunanAdvokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM).

2.4. Sistem Tarif Dan Kode Etik Advokat

Jasa advokat merupakan jasa yang memberikan perlindungan hukum dan pendampingan hukum kepada klien yang dihadapkan pada sebuah masalah hukum, pembayaran terhadap jasa advokat dilakukan oleh klien yang menggunakan jasa advokat tersebut dengan jumlah atau nominal yang telah disepakati . ini sesuai dengan isi UU No. 18 Tahun 2003 tentang advokat pasal 1 ayat 7, yang menyebutkan bahwa, “Honorarium adalah imbalan atas jasa hukum yang diterima oleh advokat berdasarkan kesepakatan dengan klien”.

Juga disebutkan dalam pasal 1 poin (f)dalam Kode Etik Advokat Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena tidak adanya standarisasi baku yang mengatur batas munimal dan maksimal jumlah bayaran jasa advokat. Para advokat biasanya mengenakan tarif yang dianggap pantas oleh kedua belah pihak, atau mungkin kisaran yang dianggap pantas menurut kantor advokat yang bersangkutan

Dalam dunia advokat dikenal dengan lima metode pembayaran jasa advokat:

1. Pembayaran borongan (contract fee). Advokat memperoleh bayaran yang sudah

ditentukan besarnya hingga perkara tersebut tuntas ditangani, diluar honorarium keberhasilan menangani perkara (success fee). Jadi, kalah atau menang dalam menangani suatu perkara, advokat tetap menerima honorarium sebesar yang telah disepakati, baik tata cara maupun pembayarannya.

2. Pembayaran berdasarkan porsi (contingent fees). Advokat menerima bagian dari hasil

yang dimenangkan oleh klien pada suatu sengketa hukum. Akan tetapi, advokat hanya akan menerima bagian jika ia berhasil memenangkan perkara tersebut (success fee). Jika tidak berhasil, dia hanya akan menerima penggantian untuk biaya operasional yang telah dikeluarkannya.

3. Pembayaran perjam (hourly rate). Cara pembayaran ini seperti ini dilakukan untuk jasa

dalam lingkup bisnis kecil. Jika metode ini yang digunakan, saat calon klien menggadakan pembicaraan dengan calon advokat yang dipilih, klien harus terlebih dahulu menanyakan tarif advokat perjam dan waktu minimum pemakaian jasanya.

Kebanyakan advokat menggunakan waktu minimum untuk pemakaian jasanya adalah 15 menit. Metode ini kurang cocok untuk perkara litigasi (sengketa yang penyelesaiannya

6

(7)

melalui proses di Pengadilan/Kepolisian/Kejaksaan) yang besar dan membutuhkan waktu yang lama untuk penanganannya.

4. Pembayaran di tetapkan (fixed rate). Advokat yang akan menangani suatu tugas atau

proyek biasanya menentukan sistem pembayaran tetap. Sistem ini tidak dipakai untuk pelayanan jasa dalam lingkup litigasi. Sistem ini, biasanya diterapkan pada pemanfaatan jasa oleh bisnis kecil. Contohnya, seorang advokat menetapkan pembayaran untuk menghasilkan suatu kontrak atau dokumen.

5. Pembayaran berkala (retainer). Jika seorang advokat menggunakan sistem pembayaran

berkala, klien membayar secara bulanan atau bisa juga dirancang untuk pembayaran perbulan sebelum berbagai jasa hukum diterima oleh klien (pembayaran didepan) dan harus diperinci untuk disepakati bersama.

Uraian penting mengenai Kode Etik Advokat meliputi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang Adovokat yang dipilah menjadi beberapa bagian antara lain:

1. Etika Kepribadian Advokat.

Advokat Indonesia adalah warga negara Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap satria, jujur, dalam mempertahankan keadilan dan kebenaran dilandasi moral yang tinggi, luhur dan mulia, dan dalam melaksanakan tugasnya menjunjung tinggi hukum, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, kode etik advokat serta sumpah jabatannya (Pasal 2 Kode Etik Advokat)

2. Etika Hubungan Dengan Klien.

Bahwa sejatinya advokat juga harus menjaga etika dengan kliennya. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 4 Kode Etik Advokat, yang menyatakan hal-hal sebagai berikut :

a) Advokat dalam perkara perdata harus mengutamakan penyelesaian dengan jalan damai.

b) Tidak dibenarkan memberikan keterangan yang dapat menyesatkan klien mengenai perkara yang sedang diurusnya.

c) Tidak dibenarkan memberikan jaminan bahwa perkaranya akan menang

d) Dalam menentukan honorarium, Advokat wajib mempertimbangkan kemampuan klien e) Tidak dibenarkan membebani klien dengan biaya-biaya yang tidak perlu.

F). Dalam mengurus perkara Cuma-Cuma harus memberikan perhatian yang sama seperti perkara yang menerima imbalan jasa.

g) Harus menolak mengurus perkara yang menurut keyakinannya tidak ada dasar hukumnya.

h) Memegang rahasia jabatan tentang hal-hal yang diberitahukan kepadanya dan sampai berakhirnya hubungan antara Advokat dank klien itu.

i) Tidak diperkenankan melepaskan tugas yang dibebankan kepadanya pada saat yang tidak menguntungkan posisi klien atau pada saat itu dapat menimbulkan kerugia terhadap kliennya.

j) Harus mengundurkan diri sepenuhnya dari pengurusan kepentingan-kepentingan bersama dua pihak atau lebih yang menimbulkan pertentangan kepentingan antara pihak-pihak yang bersangkutan

(8)

3. Hubungan Dengan Teman Sejawat.

Etika dengan teman sejawat juga diatur dalam kode etik advokat. Hubungan dengan teman sejawat ditegaskan dalam Pasal 5 Kode Etik Advokat yang menerangkan :

a) Saling menghormati, saling menghargai dan saling mempercayai.

b) Dalam persidangan hendaknya tidak menggunakan kata-kata yang tidak sopan baik scara lisan maupun tertulis.

c) Keberatan-keberatan tindakan teman sejawat yang dianggap bertentangan dengan Kode Etik Advokat harus diajukan kepada Dewan Kehormatan untuk diperiksa dan tidak dibenarkan untuk disiarkan melalui media massa atau cara lain.

d) Tidak diperkenankan untuk merebut seorang klien dari teman sejawat

e) Apabila Klien menghendaki mengganti advokat, maka advokat yang baru hanya dapat menerima perkara itu setelah menerima bukti pencabutan pemberian kuasa kepada advokat semula dan berkewajiban mengingatkan kliennya untuk memenuhi

kewajibannnya apabila masih ada terhadap advokat semula.

f) Apabila suatu perkara kemudian diserahkan oleh klien terhadap advokat yang baru, maka Advokat semula wajib memberikan kepadanya semua surat dan keterangan yang penting untuk mengurus perkara ini, dengan memperhatikan hak retensi Advokat terhadap Klien tersebut.

4. Etika Cara Bertindak menangani Perkara

Dalam menjalankan profesinya, seorang Advokat juga memiliki kode etik yang harus dipatuhi. Adapun etika cara bertindak menangai perkara sesuai dengan Pasal 7 Kode Etikadalah :

a) Surat-surat yang dikirim oleh advokat kepada teman-teman sejawatnya dalam suatu perkara dapat ditunjukkan kepada hakim apabila dianggap perlu kecuali surat-surat yang bersangkutan dibuat dengan membubuhkan catatan “sans Prejudice”

b) Isi pembicaraan atau korespondensi dalam rangka upaya perdamaian antar advokat, tetapi tidak berhasil , tidak dibenarkan untuk dijadikan alat bukti di pengadilan

c) Dalam perkara yang sedang berjalan advokat tidak dapat menghubungi hakim tanpa adanya pihak lawan dalam perkara perdata ataupun tanpa jaksa penuntut umum dalam perkara pidana.

d) Advokat tidak dibenarkan mengajari atau mempengaruhi saksi-saksi yang diajukan oleh pihak lawan dalam perkara perdata atau oleh jaksa penuntut Umum daam perkara pidana.

e) Apabila mengetahui bahwa seseorang telah menunjuk advokat maka hubunga dengan orang itu hanya dapat dilakukan melalui advokat tersebut.

f) Advokat bebas mengeluarkan pernyataan-pernyataan atau pendapat yang dikemukakan dalam sidang pengadilan dalam rangka pembelaan yang menjadi tanggung jawabnya, yang dikemukanka secara proporsional dan tidak berlebihan dan untuk itu advokat memiliki hak imunitas hukum baik perdata maupun pidana.

g) Advokat wajib untuk memberikan bantuan hukum Cuma-Cuma bagi orang yang tidak mampu.

8

(9)

h) Advokat wajib menyampaikan pemberitahuan tentang putusan pengadilan mengenai perkara yang ia tangani kepada kliennya pada waktunya.

5. Kode etik lainnya yang menyangkut profesi advokat.

Selain kode etik yang telah disampaikan sebelumnya, terdapat ketentuan-ketuan tentang kode etik yang diatur dalam Pasal 8 Kode Etik Advokat tersebut antara lain :

a) profesi advokat adalah profesi yang mulia dan terhormat (officium nobile) dan karenanya dalam menjalankan profesinya selaku penegak hukum sejajar dengan jaksa dan hakim.

b) Dilarang memasang iklan semata-mata untuk menarik perhatian orang lain termasuk pemasangan papan nama dengan bentuk dan atau ukuran yang berlebihan.

c) Kantor advokat atau cabangnya tidak dibenarkarkan diadakan di suatu tempat yang merugikan kedudukan dan martabat Advokat.

d) Advokat tidak dibenarkan mengizinkan orang yang bukan Advokat mencantumkan namanya sebagai advokat di papn nama kantor advokat atau mengizinkan orang yang bukan advokat tersebut untuk memperkenalkan dirinya sebagai advokat.

e) Advokat tidak dibenarkan mengizinkan karyawannya-karyawannya yang tidak

berkualitas unuk mengurus perkara atau memberi nasihat hukum kepada kliennya dengan lisan atau dengan tulisan

f) Advokat tidak dibenarkan melalui media massa mencari publisitas bagi dirinya dan atau untuk menarik perhatian masyaraka mengenai tindakan-tindakannya sebagai advokat mengenai perkara yang sedang atau telah ditanganinya, kecuali apabila keterangan tersebut bertujuan untuk menegakkan prinsip hukum yang wajib diperjuangkan oleh Advokat.

g) Advokat wajib mengundurkan diri dari perkara yang akan dan atau diurusnya apabila timbul perbedaan dan tidak dicapai kesepatan tentang cara penangan perkara dengan kliennya.

h) Bagi advokat yang pernah menjadi hakim atau panitera dalam pengadilan tidak dibenarkan untuk memegang atau menagani perkara yang diperiksa pengadilan tempatnya terakhir bekerja selama 3 (tiga) tahun semenjak ia berhenti dari pengadilan tersebut.

2.5.

Hubungan Kode Etik Dan Undang –Undang Advokat

Dalam organisasi advokat yang diakui oleh undang-undang terdapat dewan kehormatan. Dewan kehormatan inilah yang berperan untuk memberikan sanksi kepada seorang advokat yang melanggar kode etik. Sejauh ini, peranan Dewan Kehormatan dipandang cukup efektif.

Sering terjadi pandangan buruk di masyarakat terhadap seorang advokat yang membela seorang klien yang dimata masyarakat telah dinyatakan bersalah atas suatu kasus.

Tidak jarang masyarakat mencemooh advokat yang menjadi kuasa hukum terdakwa. Dari

(10)

sudut UU No. 18 Tahun 2003, hal ini dapat dimungkinkan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 15 UU No. 18 tahun 2003. Disebutkan pula dalam pasal 18 ayat 2 bahwa advokat tidak dapat diidentikan dengan klien yang sedang dibelanya.

Seorang advokat tidak dapat membela seorang klien yang telah nyata-nyata bersalah agar dibebaskan dari semua tuntutan, tetapi semata-mata enjadi penasihat atau pendamping tersangka di muka Pengadilan. Di sini, advokat bertugas untuk mendampingi agar hak-hak yang dimiliki tersangka tidak dilanggar. Hal ini karena tidak jarang seorang tersangka di perlakukan semena-mena oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Akan tetapi, seorang advokat berhak untuk menolak pendampingan hukum kepada seorang klien dengan alasan bertentangan dengan hati nurani advokat, tetapi tidak diperkenankan karena alasan perbedaan agama, suku, kepercayaan, keturunan, dan sebagainya, sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 pion (a) Kode Etik Advokat Indonesia. Pendampingan hukum yang dilakukan oleh seorang advokat sesuai dengan UU No. 18 tahun 2003 dan kode etik advokat indonesia, bebas kepada siapapun tanpa membedakan agama, kepercayaan, dan sebagainya.

Dalam melaksanakan profsinya, seorang advokat memiliki aturan atau norma yang harus dipatuhi, yaitu berupa kode etik. Kode etik advokat merupakan hukum tertinggi dalam menjalankan profesi, yang menjamin dan melindungi, tetapi membebankan kewajiban kepada setiap advokat untuk jujur dan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, baik pada klien, pengadilan, teman sejawat, negara atau masyarakat, dan terutama kepada dirinya sendiri.

10

(11)

BAB III Penutup

3.1. Kesimpulan

Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik didalam maupun diluar pengadilan,yang memenuhi persyaratan bedasarkan ketentuan undang-undang ,adapun peran dan fungsi advokat tidak akan lepas dari yang namanya penegakan hukum karena advokat merupakan satu dari empat catur wangsa penegakan hukum selain dari hakim, jaksa dan polisi.

Pemahaman masyarakat terhadap advokat itu sendiri sangatlah penting, karena dapat membantu masyarakat yang awam terhadap hukum, membantu untuk nyelesaikan perkara dan karena kebutuhan masyarakat sesuai dengan kebutuhan hukumnya hampir sama dengan proses memilih jasa profesi lainnya seperti membutuhkan jsa dokter, guru, arsitek, konsultan, notaris dan lain-lain.

Profesi advokat sudah diatur dalam undang-undang telah diatur dalam undang-undang nomer 18 tahun 2003 dan pengaturan tentang kode etik advokat yang disahkan pada tanggal 23 mei tahun 2002 didalamnya mengatur jug mengenai pelanggaran dan sanksi yang di berikan kepada advokat yang melanggar tersebut seperti sanksi-sanksi hukuman sebagaimana tertuang dalam pasal 16 kode etik advokat berupa peringatan biasa, peringatan keras, pemberhentian sementara untuk waktu tertentu dan pemecatan dari keanggotaan organisasi profesi.

Dalam organisasi advokat yang diakui oleh undang-undang terdapat dewan kehormatan. Dewan kehormatan inilah yang berperan untuk memberikan sanksi kepada seorang advokat yang melanggar kode etik. Sejauh ini, peranan Dewan Kehormatan dipandang cukup efektif. Kode etik advokat merupakan hukum tertinggi dalam menjalankan profesi, yang menjamin dan melindungi, tetapi membebankan kewajiban kepada setiap advokat untuk jujur dan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, baik pada klien, pengadilan, teman sejawat, negara atau masyarakat, dan terutama kepada dirinya sendiri. Jadi dalam hal ini hubungan antara undang-undang yang mengatur tentang advokat

(12)

berkesinambungan dengan kode etik advokat yang mengatur tata cara bagaimana advokat itu bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam kode etik tersebut agar apa yang dialkukan tidak melenceng jauh dari apa yang telah diatur dan ditetapkan.

Daftar Pustaka 1. Undang-undang nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat 2.

Luhut M.P Pangaribuan. Advokat dalam Contempt of Court Satu Proses di Dewan

Kehormatan Profesi. Dalam Amir Syamsuddin. Tanggung jawab Profesi danEtika Advokat.

Di : http//:Click-gtg.blogspot.com/2017/03 3.

Sidarta. Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Berfikir. Bandung ;Refika Aditama. 2006

4.

Nuh, Muhammad. Etika Profesi Hukum .Bandung; CV Pustaka Setia. 2011.

5.

Nasution, M.Irsan. Buku Daras Etika Profesi Hukum . Bandung. 2017 6.

Rahardi, Kunjana. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi . Jakarta; Erlangga.2009

12

Referensi

Dokumen terkait

5 Tahun 2019 tentang Program Profesi Advokat (PPA) dalam pelaksanaanya Perguruan Tinggi harus memiliki kerjasama sesuai Pasal 7 ayat (1) Permenristekdikti No.5 Tahun 2019

- Pasal 14 angka 3 tentang Kode Etik Advokat Indonesia dinyatakan bahwa “Majelis dipilih dalam rapat dewan Kehormatan cabang/Daerah yang khusus dilakukan untuk

Pandangan Islam tentang kedudukan advokat di Indonesia seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa para ulama mdzhab telah memposisikan pemberi bantuan hukum itu jejajar

Pengadilan tinggi tidak boleh membenarkan advokat yang diambil sumpahnya menyimpang dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003 untuk beracara

(2) Dalam hal diketahui bahwa Surat Keterangan Magang tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya, baik Advokat Pendamping yang menerbitkan Surat Keterangan Magang

Ada beberapa syarat yang diatur dalam Pasal 2 Surat Keputusan Dewan Pimpinan Nasional Persatuan Advokat Indonesia (SK DPN Peradi) Tahun 2013, yang berbunyi: (1)

5 Tahun 2019 tentang Program Profesi Advokat (PPA) dalam pelaksanaanya Perguruan Tinggi harus memiliki kerjasama sesuai Pasal 7 ayat (1) Permenristekdikti No.5 Tahun 2019

Untuk masalah kinerja advokat, advokat harus bisa melayani klien, membantu klien, memberikan nasehat dengan tidak melanggar dari jalur kode etik profesi kepada setiap