• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab 1 pendahuluan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "bab 1 pendahuluan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan 17.508 pulau, hal ini membuat Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan lima pulau besar yaitu Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua serta ribuan pulau kecil yang membentang dari Sabang hingga Merauke, beragam fenomena muncul di dalamnya. Salah satu permasalahan yang hingga kini terus terjadi di Indonesia sebagai negara kepulauan dan pesisir adalah pengambilan pasir laut ilegal.

Fenomena ini terus-menerus terjadi di berbagai pulau di Indonesia sehingga membutuhkan perhatian berbagai pihak.

Penambangan pasir di laut dilarang untuk dilakukan sebagaimana yang diatur dalam UU 27 tahun 2007 dan direvisi dengan UU 1 tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, dalam pasal 35 dilarang melakukan penambangan pasir, jika dapat merusak ekosistem perairan. Pasal 35 ayat 1, yang berbunyi melakukan penambangan pasir pada wilayah yang apabila secara teknis, ekologis, sosial, dan/atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan dan/atau pencemaran lingkungan dan/atau merugikan masyarakat.

Dalam Undang-undang Nomor 1 Pasal 1 Ayat 28 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Pencemaran Pesisir adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan Pesisir akibat adanya kegiatan setiap orang sehingga kualitas pesisir turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan pesisir tidak

(2)

dapat berfugsi sesuai dengan peruntukannya.

Kepulauan Riau merupakan provinsi yang tidak luput dari fenomena pengambilan pasir laut, kasus-kasus serupa terjadi di beberapa lokasi seperti Kabupaten Karimun, Kabupaten Anambas, dan Kota Batam. Kabupaten Karimun penambangan pasir terjadi di Pasir Panjang, Kecamatan Meral Barat. Aktivitas penambangan tersebut berdampak pada keruhnya air, padahal air merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat sekitar. (Alnovyan, 2022). Penambangan pasir laut juga terjadi di salah satu wilayah di Kabupaten Anambas lebih tepatnya di Desa Air Sena. Dimana pengambilan pasir pantai ini sudah sering dilakukan, bahkan salah satu oknum masyarakat yang membawa 2,5 kubik pasir laut menggunakan pompong di rute perjalanan Air Sena yang berakhir tertangkap oleh Polres Kepulauan Anambas. (Andini, 2021)

Kota Batam memiliki 329 pulau-pulau kecil yang terbentang di sekitarnya.

Dengan banyaknya pulau-pulau tersebut aktivitas penambangan pasir laut sering kali tidak terpantau. Pulau Karas merupakan bagian dari Kota Batam yang berbentuk kelurahan. Jarak dari Kota Batam ke Pulau Karas sekitar 45 hingga 60 menit menggunakan pompong. Berdasarkan wawancara dengan Ibu Lamaria selaku Staf bidang Konservasi dan Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Kamis, 09 Maret 2023 bahwa pengawasan pasir laut di Pulau Karas merupakan wewenang Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang berkolaborasi dengan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kota Batam. Pernyataan tersebut didukung dengan UU No. 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah yakni tentang kewenangan pengelolaan 0-12 mil di kelola oleh

(3)

pemerintah Provinsi. Lamria selaku staf konservasi dan pengawasa Dinas Kelautan dan Perikanan juga mengatakan bahwa wilayah Pulau Karas bukan merupakan wilayah zonasi penambangan sehingga pengambilan pasir laut tersebut dapat dikatakan ilegal.

Tabel 1.1 Pembagian Urusan Bidang Kelautan dan Perikanan No Sub Urusan Pemerintah Pusat Daerah Provinsi 1 Kelautan, Pesisir,

dan Pulau-Pulau Kecil

a. Pengelolaan ruang laut di atas 12 mil dan strategis nasional.

b. Penerbitan izin pemanfaatan ruang laut nasional.

c. Penerbitan izin pemanfaatan jenis dan genetik (plasma nutfah) ikan antar negara.

d. Penetapan jenis ikan yang dilindungi dan diatur perdagangannya secara internasional.

a. Pengelolaan ruang laut sampai dengan 12 mil di luar minyak dan gas bumi.

b. Penerbitan izin dan pemanfaatan ruang laut di bawah 12 mil di luar minyak dan gas bumi c. Pemberdayaan

Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

2 Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di atas 12 mil, strategis nasional dan ruang laut tertentu.

Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan sampai dengan 12 mil.

Sumber: Undang-undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah

Sebagai wilayah pesisir, pengambilan pasir laut sangat sering terjadi.

Pengambilan pasir laut di Pulau Karas dilakukan secara perorangan maupun pengusaha, pasir laut tersebut dijual kepada masyarakat setempat dan juga dijual ke luar pulau seperti di Pulau Mubut untuk proyek pembuatan jalan maupun rumah dan Pulau Pasir Gelam untuk kebutuhan pembangunan wisata. Pengambilan pasir laut ini tidak memiliki izin usaha pertambangan, hal ini diketahui dari hasil

(4)

observasi dan wawancara peneliti kepada pengusaha tersebut. Selain pengusaha, sebagian masyarakat juga mengambil pasir di sekitaran pantai tersebut untuk kebutuhan pembuatan rumah. Dari kegiatan tersebut diperkirakan abrasi yang disebabkan telah mencapai 10 hingga 20 meter dari daratan. Dari kegiatan pengambilan pasir laut ini terdapat dampak positif dan negatif. Dampak positif diantaranya menambah penghasilan atau pendapatan masyarakat. Sedangkan dampak negatifnya terdiri dari meningkatnya kerusakan pada tanggul, rumah- rumah dipesisir pantai, terjadi abrasi, serta kerusakan jalan di pinggir pantai.

(Syafaruddin & Ihsan, 2018).

Sejak 2012, abrasi pantai Pulau Karas semakin parah. Pasir pantai yang terus- menerus di keruk mengikis "pertahanan" pulau itu dari gempuran ombak. Pantai yang dulunya landai sudah tak terlihat. Jarak antara jalan desa dan air laut yang dulunya cukup jauh, kini sudah mulai merapat. Pantai Pulau Karas rentan terhadap hantaman ombak. Warga setempat memang mengaku pernah diimbau oleh pemerintah agar tidak mengeruk pasir di pantai. Namun, karena kebutuhan, imbauan itu tak digubris. Spanduk dari pemerintah yang berisi larangan mengeruk pasir di pantai juga lesap. (Abrasi, 2013)

Abrasi dipulau Karas telah terjadi sejak tahun 2012, maka dapat disimpulakan kegiatan pengambilan pasir laut secara ilegal oleh masyarakat sudah sangat lama dilakukan. Dapat diperkirakan pengambilan/penambangan pasir pantai hingga kini telah dilakukan kurang lebih selama 10 sampai 15 tahun. Akibatnya wilayah pulau semakin mengecil disebabkan pasir yang berkurang terlalu banyak. Abrasi ini terjadi di sejumlah wilayah Pulau Karas, seperti Kampung Padang, Kp. Tabuhan,

(5)

Air Mas, Kp. Langkang, Kp. Batu Putih dan Darat Pulau.

Kerusakan ekosistem laut disebabkan laju abrasi yang meningkat menimbulkan kecemasan yang tinggi. Karena abrasi menyebabkan daratan menyempit tersapu oleh pantai yang hampir menyapu badan jalan. Hal ini dikarenakan banyaknya pasir yang berkurang akibat pengambilan pasir laut terus- menerus oleh masyarakat hingga menyebabkan wilayah semakin mengecil.

Kerusakan jalan dapat dengan mudah terjadi karena tidak adanya penahan hempasan gelombang air laut seperti batu miring, tanggul dan tidak ada pepohonan seperti bakau dan cemara sebagai penahan air di pinggir pantai.

Berdasarkan pernyataan Lurah yang berwenang di Kelurahan Karas sudah ada himbauan untuk tidak lagi melakukan pengambilan pasir pantai oleh masyarakat. Bapak Syaiful Anwar selaku lurah juga menyatakan telah berkomitmen bersama masyarakat untuk tidak menggunakan pasir pantai sebagai bahan utama pembangunan. Namun, pernyataan tersebut tidak secara resmi tertuang sebagai aturan. Aturan tentang larangan pengambilan pasir pantai baru akan menjadi Program Kerja di tahun 2023 ini. (Wawancara Kamis, 09 Februari 2023)

Pengawasan yang merupakan tindakan yang paling efektif sebagai pendisiplinan. Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen di sebuah organisasi yang berwenang atau bertanggungjawab mengawasi diwilayah-wilayah tertentu yang memerlukan pengawasan. Dari adanya pengawasan diharapkan dapat memberikan perubahan disuatu daerah, terlebih diwilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Wilayah laut pulau Karas merupakan wewenang Provinsi Kepulauan Riau

(6)

sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibu Lamria selaku Staf Bidang Konservasi Dan Pengawasan tertuang sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah, yang menyebutkan bahwa Daerah Provinsi diberiakan kewenangan untuk mengelola sumber daya laut yang ada wilayahnya dan Pasal 27 ayat (3) dimana kewenangan pengelolaan laut daerah provinsi diatur paling jauh 12 mil diukur dari garis pantai ke arah laut lepas. Akan tetapi peneliti belum melihat adanya Tindakan dari pemerintah terkait hal ini. Oleh Karena Itu, Peneliti Tertarik Untuk Mengetahui “Apa saja Faktor Lemahnya Pengawasan Dinas Kelautan Dan Perikanan Terhadap Tindakan Pengambilan Pasir Laut di Pulau Karas Kota Batam pada Tahun 2020-2023”.

1.2. Rumusan Masalah

Untuk mempermudah penulisan Usulan Penelitian ini maka dari pembahasan latar belakang di atas dapat di simpulkan bahwa rumusan masalah pada penulisan usulan penelitian ini adalah apa saja Faktor-faktor penyebab Lemahnya Pengawasan oleh Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau Terhadap Pengambilan Pasir Laut Di Pulau Karas, Kota Batam Tahun 2020-2023

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan yang akan diteliti oleh penulis, Fokus dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang menyebabkan

(7)

lemahnya pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau terhadap pengambilan pasir laut di Pulau Karas, Kota Batam Tahun 2020-2023.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat untuk kemajuan di bidang ilmu pengetahuan khusunya di bidang ilmu pemerintahan untuk dijadikan acuan bagi mahasiswa maupun pihak yang melakukan penelitian khususnya yang menyangkut tentang Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Terhadap Tindakan Pengambilan Pasir Laut.

1.4.2 Manfaat Praktis

Harapan penulis dalam penelitian ini ialah dapat memberikan sumbangan pemikiran dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah, yakni Dinas Kelautan dan Perikanan untuk Mengawasi tindakan pengambilan pasir laut Pulau Karas. Serta bagi Masyarakat itu sendiri sebagai informasi terkait pentingnya mengetahui dampak dari kegiatan pengambilan pasir laut bagi lingkungan pesisir

Referensi

Dokumen terkait

64 BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, maaf penelitian, batasan masalah dan kerangka penelitian yang akan