• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan terhadap suatu rangsangan yang menyebabkan peradangan, penyempitan yang bersifat sementara (Nurarif, 2012).

Asma adalah gangguan pada saluran bronkhial dengan ciri bronkospasme periodic atau kontraksi spasme pada spasme saluran pernafasan. Bronkus mengalami inflamsi atau peradangan dan hiperesponsif sehingga saluran nafas menyempit dan menimbulkan kesulitan dalam bernafas. Asma adalah penyakit obtruksi saluran pernafasan yang bersifat reversible dan berbeda dari obstruksi saluran pernafasan lain seperti pada penyakit bronchitis yang bersifat irreversible dan berkelanjutan (Saktya, 2018).

Gejala asma yang dirasakan oleh penderita dapat menimbulkan rasa cemas.

Ansietas adalah suatu perasaan takut akan terjadinya sesuatu yang disebabkan oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang membantu individu untuk bersiap mengambil tindakan menghadapi ancaman. Pengaruh tuntutan, persaingan, serta bencana yang terjadi dalam kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologi. Salah satu dampak psikologis yaitu ansietas atau kecemasan (Sutejo, 2018).

Kecemasan sering kali mengganggu tidur. Seseorang yang pikirannya dipenuhi

dengan masalah pribadi dan merasa sulit untuk rileks saat akan memulai tidur.

Kecemasan meningkatkan kadar norepinefrin dalam darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis. Perubahan kimia ini menyebabkan kurangnya waktu tidur NREM dan tidur REM serta lebih banyak perubahan dalam tahap tidur lain dan lebih sering terbangun (Kozier et.al. 2010).

(2)

baik apabila tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya (Pitaloka RD, 2016).Tidur yang tidak adekuat dan kualitas tidur buruk dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan fisiologi dan psikologi seperti berhalusinasi. Akibat kualitas tidur yang buruk terhadap dampak fisiologi berupa penurunan aktivitas sehari-hari seperti tidak kuat berjalan jauh, rasa lelah, lemah, daya tahan tubuh menurun dan ketidakstabilan tanda-tanda vital seperti Tekan darah nya 130/70 mmHg, nadinya 76x/menit, pernafasannya 36x/menit, dan suhunya 37°C. Dampak psikologis meliputi depresi, cemas dan tidak konsentrasi (Potter & Perry, 2010).

Kurang tidur dapat mengakibatkan dampak negatif. Pada fungsi tubuh seperti pusing,lelah ,dan kesulitan konsentrasi .Saat kita terjaga, kita menyimpan suatu keadaan yang disebut ‘sleep debt’ yang dapat diganti hanya melalui tidur. Hal ini diatur oleh suatu mekanisme dalam tubuh yang disebut sebagai “sleep homeostat”, yang mengatur keinginan kita untuk tidur. Jika jumlah ‘sleep debt’ besar, maka

“sleep homeostat” akan memberitahukan pada kita bahwa kita perlu tidur lebih banyak (Robotham,2011).

Asma menjadi salah satu masalah kesehatan utama baikdi negara maju maupun di negara berkembang. Menurut data dari laporan Global Initiatif for Asthma (GINA) tahun 2017 dinyatakan bahwa angka kejadian asma dari berbagai negara adalah 1-18% dan diperkirakan terdapat 300 juta penduduk di dunia menderita asma. Prevalensi asma menurut World Health Organization (2016) memperkirakan 235 juta penduduk dunia saat ini menderita penyakit asma dan tidak terdiagnosis.

Angka kematian penderitaan asma adalah lebih dari 80% di negara berkembang.

Di Amerika Serikat menurut National Center Health Statistic (NCHS) tahun 2016 prevalensi asma berdasarkan umur, jenis kelamin,

(3)

3

dan ras berturut-turut adalah 7,4% pada dewasa, 8,6% pada anak-anak, 6,3% laki- laki, 9,0% perempuan. Angka kejadian asma di Indonesia mencapai 4,5%. Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005 mencatat 225.000 orang meninggal karena asma, dan Penyakit asma masuk dalam sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia dengan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit asma diperkirakan akan meningkat sebesar 20% pada 10 tahun mendatang, jika tidak terkontrol dengan baik. (Rikkesdas, 2013)

Prevalensi asma terus mengalami peningkatan terutama di negara-negara berkembang akibat perubahan gaya hidup dan peningkatan polusi udara. Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, melaporkan prevalensi asma di Indonesia adalah 4,5% dari populasi, dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032. Asma berpengaruh pada disabilitas dan kematian dini terutama pada anak usia 10-14 tahun dan orang tua usia 75-79 tahun. Di luar usia tersebut kematian dini berkurang, namun lebih banyak memberikan efek disabilitas. Saat ini, asma termasuk dalam 14 besar penyakit yang menyebabkan disabilitas di seluruh dunia. Untuk itulah kita harus selalu mewaspadai penyakit asma dengan cara meningkatkan kesadaran setiap orang untuk selalu mengetahui waktu yang tepat mengatasi penyakit saluran pernapasan. Data Dinas Kesehatan Kota Bndung, dikatakan purbani Pada 2017, jumlah kasus penyakit asma sebanyak 8.333 kasus dengan angka kematian sebanyak 68 kasus. Sedangkan di tahun 2018 pengidap penyakit asma meningkat menjadi 12.332 kasus dan 127 kasus di antaranya menyebabkan kematian.

Berdasarkan data di Catatan Medis Puskesmas Cipaku, data penderita asma pada tahun 2018 adalah 97 penderita, sedangkan pada tahun 2019 adalah 136 penderita. Pada bulan Desember tahun 2019 terdapat 30 pasien asma, dari 30 pasien tersebut terdiri dari: 52,5% pada dewasa, 47,5% pada anak-anak, 59,5% laki-laki, 40,5% perempuan. Dari hasil studi pendahuluan pada bulan februari 2020 di Puskesmas Cipaku diketahui 30 penderita asma usia dewasa mengeluh tidak bisa tidur di malam hari setiap kali asmanya kambuh dan menemukan bahwa sebagian besar penderita asma cenderung memiliki masalah gangguan kecemasan seperti,

(4)

jantung berdebar, sulit tidur, keringat dingin, sulit berkonsetrasi. Mereka merasa cemas dengan keadaan yang mereka alami. Mereka mengeluhkan cemas dan takut pada saat terjadi serangan asma, sehingga dengan kondisi itu kualitas tidur penderita asma tidak terpenuhi secara optimal yaitu sekitar 6-7 jam normalnya kualitas tidur yang baik.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada penderita asma di Puskesmas Cipaku.

B. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur penderita asma di Puskesmas Cipaku ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum :

Mengidentifikasi hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur penderita asma di Cipaku Kota Bandung

2. Tujuan Khusus :

a. Mengidentifikasi karakteristik responden di Puskesmas Cipaku Kota Bandung

b. Mengidentifikasi tingkat kecemasan penderita asma di Puskesmas Cipaku Kota Bandung

(5)

5

c. Mengidentifikasi kualitas tidur penderita asma di Puskesmas Cipaku Kota Bandung

d. Mengidentifikasi hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur penderita asma di Puskesmas Cipaku Kota Bandung

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini peneliti harapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, meliputi :

1. Bagi Puskesmas

Dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Cipaku Bandung untuk evaluasi dalam promosi tentang tata laksana asma agar penderita tahu tindakan kesehatan yang penting dilakukan saat asma terjadi, sehingga cemasn tidak terjadi dan kualitas tidur terpenuhi.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan referetan nsi untuk meningkatkan pembelajaran khususnya yang terkait dengan pengembangan konsep asuhan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur klien dengan asma dan alami kecemasan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur penderita asma.

(6)

4. Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti adalah memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur penderita asma.

E. Lingkup Penelitian

1. Ruang Lingkup Lokasi

Penelitian ini di laksanakan di Puskesmas Cipaku.

2. Ruang lingkup Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Mei 2020.

(7)

7

Referensi

Dokumen terkait

Saran Dari Hasil penelitian ini di harapkan Bagi UPTD Puskesmas Lasalimu agar kiranya dapat ditingkatkan lagi promosi kesehatan dan penyuluhan terkait gizi khususnya Stunting untuk