ANALISA PERILAKU KONSUMEN DAN GAYA HIDUP KONSUMERISME MAHASANTRI PUTRI UIN MALIKI MALANG
DALAM PERSPEKTIF TEORI KONSUMSI JEAN BAUDRILLARD
Diajukan untuk Melengkapi
Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Sosial
Disusun Oleh:
Nourma Cendika Annufusy 13040219140114
PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2022
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
UIN Maulana Malik Ibrahim atau UIN Malang adalah salah satu kampus negeri atau perguruan tinggi Islam negeri yang ada di Kota Malang. Kampus ini berjuluk kampus Ulul Albab yang memiliki reputasi nasional dan internasional. Sebagai Bilingual university, UIN Malang menetapkan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar untuk kajian Islam melalui sumber aslinya yaitu Al-Qur’an dan Hadits, Bahasa Inggris sebagai sarana untuk mengkaji ilmu-ilmu umum dan modern, dan sebagai komunikasi global dunia internasional[ CITATION Sul06 \l 1033 ]. Oleh karena itu, seluruh mahasiswa baru wajib menguasai setidaknya 2 bahasa, dari tiga bahasa yang telah ditetapkan.
Mahasiswa UIN Malang disebut dengan mahasantri. Mahasantri UIN Malang berasal dari berbagai suku di Indonesia, bahkan ada yang berasal dari manca negara. Seluruh mahasiswa baru yang lolos seleksi masuk UIN Malang, akan mengikuti program di ma’had, yaitu lembaga pendidikan Islam yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi untuk mendidik dan mengajarkan mahasiswa tentang agama Islam dengan menggunakan kurikulum pondok pesantren. Bukan pesantren yang menjadi tempat belajar kitab klasik, tetapi pendidikan yang memadukan antara sistem salafi dengan sistem modern[ CITATION Placeholder1 \l 1033 ], termasuk didalamnya terdapat PKPBA (Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab) dan PPBI (Program Khusus Pengembangan Bahasa Inggris). Setelah mengikuti kegiatan belajar selama dua semester di ma’had, diharapkan akan lahir sarjana dengan predikat ulama yang intelek, professional, dan/atau intelek, profesional yang ulama. Ciri utama sosok lulusan demikian tidak saja menguasai disiplin ilmu masing-masing sesuai pilihannya, tetapi juga menguasai al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber utama ajaran Islam[ CITATION Nuq16 \l 1033 ].
Mahasantri (mahasiswa baru) akan tinggal di asrama atau tempat tinggal sementara di gedung-gedung yang disebut dengan mabna. UIN Malang menyediakan 7 mabna untuk mahasantri putra, yaitu Mabna Al-Ghazali, Mabna Ibnu Rusyd, Mabna Ibnu Sina, Mabna Al- Muhasibi, Mabna Ibnu Kholdun, Mabna Al-Faroby, dan mabna yang berada di Fakultas Kedokteran adalah Mabna Ar-Razi. Sedangkan mabna bagi mahasantri putri terdapat 5 mabna, yaitu Mabna Fatimah Azzahra, Mabna Ummu Salamah, Mabna Asma' Binti Abi bakar, Mabna Khadijah Al-Qubra, dan Mabna Ar-Razi yang berada di fakultas kedokteran.
Untuk mabna mahasantri putra 1 kamar berisi 10 orang, sedangkan untuk mahasantri putri, 1 kamar terdiri dari 6 - 8 orang.
Mahasantri di UIN Malang adalah pribadi yang tengah menempuh kegiatan pembelajaran di ma’had dan di bangku kuliah. Kegiatan kegiatan belajar yang dilaksanakan bertujuan membentuk kepribadian Islam. Peraturan ketat di ma’had benar-benar diterapkan agar perilaku mahasantri diharapkan berpedoman pada ajaran Islam, yaitu mengajarkan kita bersikap murah hati dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar kita[ CITATION Sar09 \l 1033 ], mengingat munculnya kesenangan di tengah masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan hidup akan menimbulkan kecemburuan yang dapat menjadi sumber konflik.
Mahasantri putri UIN Malang yang adalah remaja dengan rata-rata usia 18 – 19 tahun.
Pada usia ini, mereka disebut remaja akhir yang memiliki dorongan aktualisasi yang tinggi[ CITATION Des05 \l 1033 ], menyukai hal-hal baru yang penuh tantangan, senang berkelompok dengan teman sebayanya, emosi tidak stabil, senang ‘pamer, berpenampilan khas dalam berpakaian, berbahasa, bergaul, dan cara mengkonsumsi makanan. Remaja perempuan merupakan pihak yang mudah sekali terpengaruh budaya konsumen, karena secara psikologis mereka berada dalam tahap pencarian identitas diri.
Tinggal di kamar yang besar dengan tempat tidur susun bersama 5-7 orang bukan hal yang mudah bagi mahasantri putri. Berbagai fenomena sosial, ekonomi, budaya, dan psikologi muncul menjadi polemik di masing-masing mabna, kamar, dan kelompok- kelompok kecil. Mulai dari cara berpakaian, gaya bicara, cara bergaul, kecerdasan, kecantikan, makanan yang dikonsumsi, kebiasaan-kebiasaan yang tampak, akan menjadi sorotan, bahan pembicaraan, pengaruh bagi mahasantri putri, tak terkecuali para mushrif/mushrifah, atau dosen pengajarnya. Latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang melekat pada dirinya, memandang hal-hal asing itu sebagai fenomena yang menguasai seluruh konsentrasi, perhatian, dan rasa ingin tahunya. Bisa jadi, hal itu akan menjadi acuan bagi mahasantri lain dalam bertingkah laku, berpenampilan, bertutur, mengambil keputusan konsumsi, dengan membuat seluruh aspek kehidupannya berubah menjadi suatu pola tertentu, dan mengatur strategi begaimana ia ingin dipersepsikan oleh orang lain[ CITATION Sol15 \l 1033 ]. Lingkungan dimana seseorang tinggal, dapat berperan sebagai struktur yang dapat mendukung maupun menghambat kemungkinan munculnya perbedaan potensi seseorang [ CITATION Gid41 \l 1033 ].
Problematika mahasantri putri tidak terlepas dari pola konsumsi dan konsumerisme yang berkaitan dengan eksistensi diri, dan gaya hidup, seperti kebiasaan, penampilan, makanan, pakaian, produk kecantikan, asesoris, dan sebagainya. Sekalipun dalam ajaran
Islam telah diajarkan pola hidup sederhana dan menghindari riya’, serta aturan ma’had yang ketat, tidak akan dapat menghilangkan dorongan konsumsi mahasantri putri. Seperti, membeli makan, jilbab, bros, buku tulis, dan sebagainya. Dorongan konsumsi akan memberi manfaat dan halal, selama tidak melanggar ketentuan ma’had maupun syariat agama. Namun demikian, sesederhana apapun wujud objek atau produk, dapat menjadi media pembentukan personalitas, gaya, citra, dan cara diferensiasi diri. Sehingga, sebuah benda yang dikonsumsi mahasantri putri A, dapat menjadi inspirasi dan cerminan yang digunakan mahasantri putri lain untuk ikut membeli atau memiliki. Walaupun hanya sekedar bros kecil, jika itu digunakan agar terlihat cantik, elegan dan berkelas, akan mempengaruhi budaya konsumsinya juga budaya konsumsi orang lain. Bros kecil dapat menjadi satu-satunya alat pemuas kebutuhan dan indikator dari eksistensi diri.
Sebuah bros adalah benda kecil dengan wujud yang biasa saja. Info-info yang masuk kealam pikir seseorang, seperti iklan, ajakan persuasif seseorang, justru mengabaikan kebutuhan akan suatu produk. Bros kecil dengan ajakan persuasif dari teman, dapat menyinggung rasa sombong tersembunyi dalamnya. Sehingga produk yang ditawarkan dalambentuk bros sebagai simbol prestise dan gaya hidup mewah yang menumbuhkan rasa bangga yang klise dalam diri pemakainya. Perilaku konsumsi yang terus mendesak secara perlahan membuat mahasantri putri jauh dari kenyataan. Mereka secara tidak sadar akan terpengaruh oleh simulasi dan tanda (simulacra) yang perlahan muncul mendominasi alam pikiran mereka. Sikap konsumtif yang demikian dapat terjadi pada siapapun, termasuk mahasantri putri di UIN Malang. Selebihnya, perilaku konsumsi mahasantri putri UIN Malang terus berkembang ditengah batasan aturan dan ajaran agama, sehingga membentuk gaya hidup unik para penghuninya.
Adalah hal yang manusiawi jika mahasantri putri ingin membuat gambaran hidup mereka terlihat sempurna, ideal, menampilkan sosok yang sederhana dan Islami namun memikat, atau prestise sosial lain yang mungkin dapat menimbulkan asumsi-asumsi bagi mahasantri lain yang melihatnya. Hal inilah yang membangun perilaku konsumsi mahasantri putri di tiap kamar. Unsur-unsur kebendaan yang memicu rasa ingin tahu seseorang, yang kemudian membangun rasa suka dan ingin memiliki benda yang sama agar terlihat menarik seperti yang ia lihat dalam tangkapan indra matanya. Sederhana, tidak melanggar peraturan, tidak mengganggu keuangan, dan bisa dibeli tanpa proses yang rumit.
Jika Lury menyebutkan, bahwa salah satu penyebab berkembangnya budaya konsumen adalah terjadinya manipulasi ruang dan waktu melalui media periklanan[ CITATION Lur96 \l 1033 ], maka media periklanan yang ada di kamar
mahasantri putri atau di mabna adalah kelompok referen di lingkungan mabna, kamar, atau di ruang kelas. Mahasantri membeli bros bukan karena unsur use value atau exchange value, tetapi lebih pada faktor symbolic, value, dan sign value[ CITATION Suy13 \l 1033 ].
Konsumsi bagi mahasantri putri bukan sekadar nafsu untuk membeli komoditas untuk berfoya-foya, tetapi memiliki fungsi kepuasan, kenikmatan, fungsi individual, pembebasan kebutuhan, pemuasan diri, kemampuan membeli, atau sekedar ingin mengkonsumsi sebuah objek. Artinya, mahasantri putri membeli sebuah bros bukan hanya karena kegunaan bros dan harganya yang murah (nilai tukarnya), tetapi juga karena adanya makna simbolik dan nilai tanda yang bersifat abstrak. Dengan demikian, aktifitas mahasantri putri membeli bros adalah konsumsi tanda, karena tindakan konsumsi barang atau jasa tidak lagi berdasarkan kegunaannya saja melainkan lebih mengutamakan pada tanda dan simbol yang melekat pada bros. Walaupun hanya sekedar bros sebagai contoh benda nyata di kamar mahasantri putri, mampu menggerakkan anggota kamar untuk mengonsumsi citra yang melekat pada benda itu, sehingga mahasantri putri memiliki keinginan untuk membeli benda yang serupa. Mungkin tidak puas jika wujudnya sama atau jumlahnya hanya satu, dan akan memicu perilaku konsumsi yang terus menerus, sehingga memengaruhi gaya hidup mahasantri putri menjadi konsumtif. Dirinya akan merasa puas walaupun hanya dengan tindakan membeli bros.
Gaya hidup merupakan pola tindakan yang membedakan di antara satu orang dengan satu orang lainnya dengan bergantung pada bentuk kultural. Gaya hidup seseorang tidak hanya ditentukan dari pribadi masing-masing, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan tempat tinggal. Setiap gaya hidup menunjukkan tata krama, cara penggunaan barang, tempat, dan waktu tertentu yang menjadi karakteristik suatu kelompok[ CITATION Cha041 \l 1033 ].
Gaya hidup dapat dipahami sebagai perburuan penampilan diri di hadapan publik sekaligus merupakan pencarian identitas dalam pentas konsumsi massa[ CITATION Int21 \l 1033 ].
Gaya hidup tidak terlepas dari budaya konsumen, yaitu kebiasaan masyarakat yang menganut paham bahwa materi merupakan satu-satunya alat pemuas kebutuhan dan indikator dari eksistensi diri. Budaya konsumen membuat komoditas dengan sedemikian rupa sehingga memunculkan impian-impian yang dikonstruksi secara sosial, misalnya melalui iklan atau info-info dari kelompok referensi.
Terkait gaya hidup dan perilaku konsumsi, laki-laki dan Perempuan memiliki perilaku yang sama. Tetapi dibandingkan laki-laki, perempuan cenderung lebih konsumtif untuk membeli bukan berdasarkan kebutuhan atau membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan [ CITATION Mei15 \l 1033 ]. perempuan lebih sering menghabiskan uang untuk fashion dalam jumlah banyak, sedangkan laki-laki dengan frekuensi belanja lebih sedikit
menghabiskan uang jauh lebih banyak. Hal ini terjadi, karena produk yang dibeli oleh laki- laki cenderung lebih mahal dan diluar nalar, seperti rokok, stick golf, back pack, gagdet, aksesoris mobil, fotografi, alat memancing, alat olahraga dan sebagainya. Perempuan memiliki kecenderungan meniru dan mengimitasi hal-hal yang berkaitan dengan penampilan.
Jenis kelamin merupakan salah satu faktor demografi yang berpengaruh terhadap pembelian[ CITATION Alf07 \l 1033 ]. Perempuan memiliki perilaku pembelian lebih besar pada semua produk dibandingkan laki-laki [ CITATION San15 \l 1033 ]. Budaya konsumen memaksa masyarakat, perempuan maupun laki-laki menggunakan barang konsumsi untuk melambangkan gaya hidup yang beragam. Profil diri, kelas, dan cara mengonsumsi merupakan hal-hal yang membuat orang lain menyadari bahwa identitas tidak menetap, dan sebaliknya dapat dimainkan, dikonstruksi, dan direkonstruksi [ CITATION Sri15 \l 1033 ].
Perilaku konsumsi mahasantri putri akan terus berkembang, tidak lagi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tetapi didasarkan motivasi untuk mendapat tantangan, suatu senses, kegembiraan, sosialisasi, menghilangkan stress, memberikan pengetahuan baru, dan menjadi trend yang berlangsung dalam kegiatan aktivitas komunikasi sehari hari. Aktifitas konsumsi yang dilakukan salah satu mahasantrivputri, akan menjadi pengalaman dan informasi bagi mahasantri putri lain, terutama teman sekamar di mabna. Ia akan menginformasikan, bahwa pilihan makanan lebih banyak ditemui di restoran A atau kafe X di luar kampus, membeli kosmetik online lebih murah, jilbab yang dibelikan ibu tidak bikin gerah, memesan masakan tertentu pada Bu Kantin ma’had putra lebih enak dan murah. Atau ada bukti otentik yang menggambarkan dirinya telah membeli berbagai menu makanan, minuman, baju, bedak, parfum, kaos kaki, masker, dalam foto, atau sengaja disebar dalam media sosial, dengan harapan foto-foto itu akan dilihat teman-temannya di kamar atau di mabna, atau semua orang yang melihat status di medsosnya, tentang apa yang ia konsumsi.
Lambat laun perilaku konsumsi yang demikian dapat dikatakan telah mengarah ke perilaku konsumtif. Ketika mengkonsumsi sesuatu seperti halnya makan di luar, ia ingin menunjukkan keberadaannya kepada orang lain tentang gambaran kehidupannya, dengan asumsi hal ini akan membuat orang lain menilai bahwa dirinya adalah orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup[ CITATION Tri19 \l 1033 ].
Teori Konsumsi Baudrillard, mengatakan bahwa masyarakat konsumeris pada masa sekarang tidak didasarkan kepada kelasnya, tetapi pada kemampuan konsumsinya. Siapapun bisa menjadi bagian dari kelompok apapun jika sanggup mengikuti pola konsumsi kelompok tersebut. Mahasantri putri sebagai bagian dari masyarakat konsumen dalam lingkup ma’had UIN Malang, tidak hanya ada mengkonsumsi objek-objek dan barang-barang yang ingin
dibeli, tetapi juga tempat aktivitas konsumsi dalam bentuk mitos [ CITATION Hid21 \l 1033 ].
Perilaku konsumtif tersebut tidak terlepas dari watak manusia sebagai makhluk yang hedonis dimana rasa tidak puas akan segala sesuatu yang telah dimiliki. Perilaku konsumtif ini akan berkembang menjadi sebuah gaya hidup tersendiri bagi mahasantri putri UIN Malang. Walaupun mereka diajarkan ilmu-ilmu aqidah akhlak dan tatacara berperilaku sebagai seorang muslim berdasarkan prinsip-prinsip Islam, dorongan untuk mengkonsumsi sesuatu tetap akan muncul sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhannya. Seperti, membeli makan, minum, pakaian, kebutuhan kewanitaan, perlengkapan pribadi, dan sebagainya.
Pengaruh teman-teman di kamar, di mabna, atau di tempat kuliah, adalah faktor sosial yang membawa pengaruh besar dalam keputusan konsumsinya[ CITATION Kot02 \l 1033 ].
Pengaruh kebutuhan dan keinginan memicu munculnya rasa gengsi terhadap orang lain apalagi terhadap kelompok sosial tertentu. Sehingga dorongan konsumsi akan sesuatu akan mendominasi gaya hidup konsumtif mereka. Ketika makan di luar, mereka akan memilih menu makanan tertentu, yang selanjutnya akan dipublikasikan melalui cerita, foto, atau status di media sosial. Atau sepulang berbelanja bersama keluarga di hari Ahad, ia akan menunjukkan kepada teman-teman di kamar atau di mabna, bahwa ia telah membeli baju, boneka, tas, parfum, bedak, atau produk lain.
Mahasantri putri memiliki kecenderungan konsumtif, bergaya hidup tidak realistis, boros, labil, dan mudah terpengaruh oleh lingkungannya, seperti: teman, orang-orang terdekat, dan promosi media massa[ CITATION Dev15 \l 1033 ]. Mereka adalah salah satu kelompok sosial yang rentan terhadap perubahan pola konsumsi[ CITATION Rom20 \l 1033 ], yang masih memperoleh pendapatan yang berasal dari orang tuanya[ CITATION Les10 \l 1033 ]. Ketersediaan waktu luang yang cukup serta bantuan keuangan yang selalu dipenuhi oleh orangtua menjadi faktor pendukung gaya hidup mereka[ CITATION Alf07 \l 1033 ].
Selanjutnya, mengkonsumsi sesuatu tidak lagi menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok atau nilai guna dari produk yang dibeli, tetapi juga nilai dan prestise yang diperoleh melalui pembelian produk tersebut. Menurut Baudrillard dalam [CITATION Das12
\p 61 \l 1033 ], mekanisme konsumsi masyarakat konsumen bukanlah berada pada faktor kebutuhan atau manfaat untuk mendapatkan suatu kenikmatan, tetapi disebabkan oleh adanya tanda dan simbol yang melekat pada suatu barang yang dapat dikonsumsi. Tanda dan simbol yang dikonsumsi dianggap dapat menentukan identitas seseorang. Menurut Featherstone konsumsi bukan hanya tentang akses terhadap benda-benda produksi melainkan lebih
berperannya kepuasan dan kesenangan yang didapat dari pengalaman-pengalaman konsumsi.
Dalam budaya konsumen, kepuasan individu diperoleh dari barang-barang yang dikonsumsi berkaitan dengan aksesnya yang terstruktur secara sosial. Publisitas budaya konsumen menegaskan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk melakukan ekspresi diri tanpa melihat dari mana status dan kelas sosial berasal[ CITATION Fea01 \l 1033 ].
Berkaitan dengan perilaku konsumsi mahasantri putri UIN Malang, beberapa penelitian telah mengkaji perilaku konsumsi mahasiswa dari berbagai sudut pandang, termasuk dalam paradigma Islam. Diantaranya dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dhanang Rohmad Wijaya, tentang Pengaruh Kelompok Referensi dan Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumsi Mahasiswa Muslim (Studi Kasus Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Barokah, Mangunsuman, Siman, Ponorogo). Penelitian ini menjelaskan tentang perilaku konsumsi mahasantri di Pondok Pesantren Al-Barokah. Hampir setiap hari ada kiriman paket belanja daring yang masuk untuk para santri yang rata-rata itu merupakan produk fashion dan rokok. Terkadang kiriman paket tersebut tidak hanya satu bahkan pernah datang sepuluh paket dalam satu hari. Perkembangan gaya hidup yang modern dan semakin kapitalistik juga merambah ke kehidupan umat beragama. Sekalipun dalam agama Islam diajarkan untuk berlatih mengendalikan diri, tidak boros, dan menghindari perilaku riya’.
Perilaku konsumsi dipengaruhi oleh beberapa faktor dan beberapa di antaranya dipengaruhi oleh gaya hidup kelompok referensi, yaitu teman-teman sekamar, maupun senior di asrama/pondok.
Penelitian selanjutnya dari Devi Fitria Indriyanti, membahas tentang Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Perilaku Konsumsi Islami Di Pondok Pesantren Al-Anwar Bantul Yogyakarta. Menurut penulis, bahwa minat dan opini mempengaruhi perilaku konsumsi sekalipun dalam Islam telah diajarkan tentang perilaku konsumsi yang benar sesuai syariat agama. Tidak semua barang dan jasa dapat dikonsumsi, karena seorang konsumen muslim hanya dibolehkan mengkonsumsi barang dan jasa yang tidak mahal. Bahkan jumlahnya pun dibatasi hanya sebatas keperluan dan sifat sederhana. Dengan kata lain, jika seseorang memiliki gaya hidup baik, maka akan mempengaruhi perilakunya pada hal baik.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka peneliti akan mengkaji lebih mendalam untuk mengetahui fenomena perilaku konsumsi dan gaya hidup mahasantri putri UIN Malang yang memiliki lingkungan berbeda dengan mahasiswa urban lain dari perguruan tinggi lain di Kota Malang
1.2 Rumusan Masalah
Agar penulis memiliki panduan dan fokus penelitian dalam mengumpulkan data maka perlu dirumuskan masalah yang dikaji, yaitu :
A. Bagaimana perilaku konsumsi dan gaya hidup yang ditampilkan mahasantri putri UIN Maulana Malik Ibrahim Malang?
B. Bagaimana perilaku konsumsi dan gaya hidup mahasantri putri UIN Malang dalam perspektif Teori Konsumsi dari Jean Baudrillard?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
A. Untuk mengetahui perilaku konsumsi dan gaya hidup mahasantri putri yang tinggal di Ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
B. Untuk mengetahui penjelasan tentang perilaku konsumsi dan gaya hidup dalam pandangan ajaran Islam
C. Untuk mengetahui penjelasan perilaku konsumsi dan budaya konsumen mahasantri putri yang tinggal di Ma’had UIN Malang dalam perspektif Teori Simulakra dari Jean Baudrillard?
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat baik itu secara teoritis maupun manfaat secara praktis.
1.4.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis merupakan manfaat yang berhubungan langsung dengan wacana diskursus antropologi. Adapun manfaat teoritis yang diharapkan dari penelitian ini antara lain:
A. Kontribusi pada studi antropologi konsumsi: Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan studi antropologi konsumsi dalam memahami konstruksi standar perilaku konsumsi dan gaya hidup mahasantri putri di ma’had UIN Malang.
B. Penerapan Teori Simulakra diterapkan dalam penelitian antropologi: Penelitian ini dapat memperlihatkan Teori Simulakra dari Jean Baudrillard dapat diterapkan dalam
studi antropologi konsumsi, khususnya dalam konteks perilaku konsumsi dan gaya hidup mahasantri putri di ma’had UIN Malang.
1.4.2 Manfaat Praktis
Manfaat penelitian praktis adalah manfaat untuk memecahkan masalah secara pratis atau sebagai alternatif solusi suatu permasalahan. Berikut beberapa manfaat praktis yang diharapkan dapat diberikan oleh penelitian ini:
A. Informasi bagi ma’had putri UIN Maliki Malang: Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pengelola ma’had dalam memahami perilaku konsumen dan memperbaiki manajemen konsumsi ma’had.
B. Informasi bagi mahasantri putri yang tinggal di mabna: Penelitian ini dapat memberikan informasi pada mahasantri putri dalam memahami proses pembentukan kegiatan konsumsi yang mereka lakukan dan memahami motifnya.
1.5 Kerangka Pemikiran
Menurut Kerlinger dalam [ CITATION Sug09 \l 1033 ] yang menjelaskan, bahwa landasan teori adalah konsep yang memiliki hubungan satu sama lain yang di dalamnya memuat isi terkait pandangan dari fenomena. Sedangkan tinjauan pustaka adalah hasil dari tindakan meninjau pustaka atau literatur terkait yang sudah ada sebelumnya. Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan sebelumnya, penulis memperoleh tinjauan pustaka dan landasan teori sebagai berikut:
1.5.1 Tinjauan Pustaka
Untuk melakukan sebuah penelitian diperlukan tinjauan pustaka. Penulisan tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menghindari kesamaan dan mencari kesenjangan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Beberapa penelitian yang telah dibaca dan dipahami, oleh penulis sebagai berikut.
Pertama, skripsi yang ditulis oleh Monika Mala Agnes dengan judul “Implementasi Pemahaman Konsumsi Pada Perilaku Konsumsi mahasiswa Muslim” Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi dalam Islam yang dijadikan sebagai pedoman bagi umat Muslim dalam melakukan kegiatan konsumsi. Perilaku konsumsi dalam Islam dilakukan dengan landasan bersedekah, membantu orang lain yang sedang kesusahan, tidak hidup mewah dan berlebihan.
Kedua, skripsi dari Devi Fitria Indriyanti meneliti tentang pengaruh gaya hidup terhadap perilaku konsumsi Islami di Pondok Pesantren Al-Anwar Bantul Yogyakarta.
Penelitian ini mengkaji beberapa variabel gaya hidup yang mempengaruhi perilaku konsumsi
islami di Pondok Pesantren Al- Anwar Bantul Yogyakarta. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gaya hidup berpengaruh positif terhadap perilaku konsumen, dengan alasan bahwa gaya hidup yang baik dapat mempengaruhi perilaku mahasiswa untuk menjadi baik, dalam perilaku mahasiswa mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh mashlahah namun dengan interpretasi yang berbeda.
Selanjutnya penelitian dari Khoirotun Nisak dalam skripsinya yang berjudul Perilaku konsumsi mahasantri putri Ma’had Al-Jamiah IAIN Ponorogo dalam perspektif Islam.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku konsumtif Mahasantri Putri Ma’had Al- Jamiah. Bentuk perilaku konsumtif mahasantri meliputi kebutuhan harian, uang saku, dan pakaian. Mayoritas dari mereka masih belum dapat memutuskan barang-barang yang akan dibeli, digunakan, serta dikonsumsi. Adapun beberapa faktor yang menjadi latar belakang adalam faktor eksternal antara lain faktor sosial/budaya serta teman bermain.
Keempat, Skripsi dari Nurpadila juga meneliti tentang perilaku konsumsi extravaganza dalam skripsi yang berjudul Gaya Hidup Shopaholic Mahasiswa dalam Perspektif Islam. Gaya hidup shopaholic merupakan bentuk perilaku konsumtif. Faktor- faktor yang mempengaruhi gaya hidup shopaholic adalah: 1) Gaya hidup mewah, 2) Pengaruh dari keluarga, 3) Iklan, 4) Banyaknya pusat-pusat perbelanjaan, 5) Mengikuti trend, 6) Pengaruh lingkungan pergaulan. Gaya hidup shopaholic sangat boros karena mereka berbelanja bukan atas dasar kebutuhan melainkan keinginan, sikap boros tentu tidak dianjurkan dalam Islam.
Kelima, Ria Listiana Devi meneliti tentang pola konsumsi mahasantri dalam skripsinya yang berjudul Analisis Pola Konsumsi Mahasantri Dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus tentang Gaya Hidup Mahasantri Putri Ma’had Al-jamiah Ulil Abshar IAIN Ponorogo). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi Mahasantri Ma’had Al-jamiah Ulil Abshar IAIN Ponorogo serta mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pola konsumsi mahasantri Ma’had Al-jamiah Ulil Abshar IAIN Ponorogo.
Hasil penelitian menunjukkan pola konsumsi Mahasantri Ma’had Al-jamiah Ulil Abshar IAIN Ponorogo muncul ketidaksesuaian antara teori dengan praktik yang ada sehingga menimbulkan konsumsi berlebihan. Faktor yang menjadi latar belakang adanya konsumsi adalah faktor eksternal diantaranya sosial/ budaya dan kelompok acuan. Faktor sosial budaya ini bersangkutan dengan gaya hidup, kebiasaan, dan lingkungan sekitar yang mempengaruhi perilaku konsumtif seseorang. Sedangkan kelompok acuan yang dimaksud adalah teman bermain atau teman kuliah.
Keenam, skripsi yang ditulis oleh Mertisa Fardesi dengan judul Analisis Perilaku Konsumtif Dan Gaya Hidup Santri Ditinjau Dalam Perspektif Religiusitas. Perilaku konsumtif santri Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh dapat dilihat dari pengeluaran untuk kebutuhan harian dan kepemilikan pakaian dan lainnya. Faktor yang melatarbelakangi santri berperilaku konsumtif adalah faktor eksternal meliputi kelompok acuan dan lingkungan sekitar. Sedangkan faktor internal yaitu ikutikutan teman dan kebanggaan terhadap penampilan. Dari segi kebutuhan harian, lebih mengutamakan pemenuhan keinginan untuk membeli jajanan dan makanan di luar Dayah yang lebih bervariasi tanpa adanya batasan pengeluaran uang saku yang dimiliki. Sedangkan dalam segi pakaian, mereka memiliki pakaian yang melebihi kapasitas lemari yang disediakan di Dayah karena tidak adanya batasan dalam kepemilikan pakaian. Sehingga pada akhirnya muncul sifat perilaku konsumtif atau israf.
1.5.2 Landasan Teori
Menurut perspektif ekonomi, manusia disebut sebagai Homo Economicus. Yaitu sosok manusia yang rasional dan bebas dalam menentukan pilihan-pilihan yang ada untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam setiap perilakunya, manusia harus lebih bersifat rasional dalam memilih sumber daya yang ada [CITATION Cas07 \p 29 \l 1033 ]. Namun, pada kenyataannya perilaku manusia khususnya perilaku konsumsi lebih mengarah pada perilaku konsumtif. Jika diperhatikan lebih lanjut, perilaku konsumtif ini cenderung terjadi di masyarakat yang ada di sekitar kita, khususnya yang akan beranjak remaja.
Manusia tidak hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan, tetapi juga merek.
Merek barang tersebut menimbulkan kebanggaan diri. Membeli merek-merek yang dianggap ternama menimbulkan perasaan diri “lebih” dalam diri penggunanya. Dengan belanja, konsumen tidak hanya mengonsumsi nilai material atau nilai utilitas dari barang yang dibelinya, tetapi juga apa yang ditandakan oleh barang tersebut[ CITATION Raf17 \l 1033 ].
Menurut Mike Featherstone, belanja merupakan “interaksi simbolis” di mana individu membeli dan mengonsumsi kesan.” Membeli barang berarti membeli kesan dan pengalaman.
Hal ini dikarenakan “individu didorong untuk menikmati konsumsi gaya hidup, untuk menjadi peraga yang sadar akan penampilannya dan kesan yang diberikannya[ CITATION Fea991 \l 1033 ]. Konsumsi telah membentuk kehidupan sosial manusia. Ia menjadi budaya yang dominan pada era sekarang. Budaya ini sedemikian rupa telah meresapi diri kita sebagai
manusia yang tidak cukup diri untuk memenuhi hasrat yang tak terbatas dengan kemampuan yang terbatas.
1.5.2.1 Perilaku Konsumsi a. Perilaku
Perilaku adalah bentuk interaksi individu dengan lingkungan dalam bentuk tindakan, pengetahuan dan sikap. Perilaku juga disebut sebagai reaksi seseorang secara individual yang terwujud dalam gerakan sikap bukan hanya badan atau ucapan[ CITATION Sud02 \l 1033 ]. Perilaku adalah kelakuan pembeli serta faktor yang mempengaruhinya pada waktu ia mengambil keputusan untuk membeli atau tidak membeli suatu produk atau jasa.
Perilaku manusia digerakkan oleh kebutuhan dasar, manusia sebagai makhluk sosial perilakunya dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan sosial selain berfungsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan juga berfungsi sebagai kontrol terhadap perilaku individu.
Sebagian besar perilaku manusia dibentuk dan dipelajari. Terbentuknya perilaku yakni dapat melalui kebiasaan seseorang, pengertian, dan terdapat contoh seperti contoh yang terdekat adalah orang tua, guru, tokoh yang dianut bahkan pemimpin. Perilaku dipengaruhi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu melalui suatu proses dalam mengambil keputusan yang cermat dan beralasan.
Selain sikap yang mempengaruhi perilaku adalah norma-norma subjektif yaitu suatu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan terhadap apa yang kita perbuat. Sehingga dapat disimpulkan, perilaku akan muncul karena adanya stimulus dari dalam dan stimulus dari luar.
b. Konsumsi
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan pengertian konsumsi adalah pemakaian barang hasil produksi (bahan pakaian, makanan, dan sebagainya) [CITATION Suh05 \p 264 \l 1033 ]. Konsumsi juga didefinisikan sebagai penggunaan barang dan jasa sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Konsumsi merupakan aktivitas dan tindakan penggunaan atas sumber daya dalam rangka pemenuhan kebutuhan seperti sandang, pangan dan papan.
Setiap makhluk hidup pasti melakukan aktivitas konsumsi termasuk manusia.
Kata konsumsi berasal dari bahasa Belanda ‘consumptie’, yaitu suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda,
baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung.
Istilah konsumsi pada awalnya menjadi pembahasan dalam bidang ekonomi, karena ekonomi merupakan kajian yang membahas perilaku manusia dalam memanfaatkan sumber produktif sebagai hasil produksi barang maupun jasa serta mendistribusikannya untuk dikonsumsi[ CITATION Sam04 \l 1033 ].
Kata konsumsi dalam kehidupan sehari-hari dapat diartikan dengan perilaku makan, minum, memakai baju, menggunakan jasa layanan, dan sebagainya. Sehingga konsumsi dapat diartikan sebagai perilaku seseorang yang menggunakan dan memanfaatkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Konsumsi dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan baik itu kebutuhan primer maupun sekunder. Setiap manusia memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, namun tidak semua kebutuhan harus di penuhi pada saat itu juga.
Jika seseorang menginginkan suatu barang untuk bisa dimiliki pada saat itu juga, itu namanya keinginan atau hasrat yang muncul dalam diri manusia. Setiap orang berhak memenuhi keinginannya, namun mereka harus mengerti batasan-batasan yang harus di lakukan untuk mengurangi keinginan yang ingin dicapai. Karena keinginan akan terus muncul dalam diri manusia selama masa hidupnya.
Konsumsi telah menjadi budaya. Konsumsi yang dilakukan bukan sekedar memanfaatkan benda yang berasal dari produksi. Konsumsi tidak lagi sekedar kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dan fungsional manusia.
Manusia terus melakukan kegiatan konsumsi untuk memenuhi kebutuhannya.
Baik kebutuhan dasar, fungsional, maupun kebutuhan eksistensi diri.
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan [CITATION Muh04
\p 162-164 \l 1033 ]. Konsumen dapat berupa individu, kelompok ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai inisiator, influence, buyer, payer, atau user.
Setiap individu terlibat dalam mengonsumsi produk dan jasa yang diproduksi dari lingkungannya, maka individu bersangkutan memiliki perilaku konsumen.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumsi
Menurut Kotler dan Armstrong (dalam Hurriyati 2005:94), faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku konsumen itu terdiri dari :
1) Faktor Kebudayaan a) Budaya
Budaya, adalah penyebab paling mendasar dari keinginan dan tingkah laku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan tingkah laku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kelompok atau masyarakat mempunyai suatu budaya, dan pengaruh budaya pada tingkah laku membeli bervariasi amat besar dari negara ke negara.
Kegagalan menyesuaikan perbedaan ini dapat menghasilkan pemasaran yang tidak efektif atau kesalahan yang memalukan. Pemasar selalu mencoba menemukan pergeseran budaya agar dapat mengetahui produk baru yang mungkin diinginkan.
b) Sub-budaya
Setiap budaya terdiri dari beberapa subbudaya yang lebih kecil, atau kelompok orang yang mempunyai sistem nilai sama berdasarkan pada pengalaman hidup dan situasi. Subbudaya termasuk nasionalitas, agama, kelompok ras, dan wilayah geografi. Banyak subbudaya membentuk segmen pasar penting, dan pemasar seringkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
c) Kelas sosial
Hampir setiap masyarakat mempunyai semacam bentuk struktur kelas sosial. Kelas sosial adalah divisi masyarakat yang relatif permanen dan teratur dengan para anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan tingkah laku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kebudayaan, dan veriabel lain. Kelas sosial menunjukkan pemilihan produk dan merek tertentu dalam bidang- bidang seperti pakaian, peralatan rumah tangga, aktivitas di waktu senggang, dan mobil.
2) Faktor Sosial a) Kelompok
- Kelompok Keanggotaan
Tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok kecil.
Kelompok yang mempunyai pengaruh langsung dan seseorang yang menjadi anggotanya disebut kelompok keanggotaan. Beberapa merupakan kelompok primer yang mempunyai interaksi reguler tapi informal seperti, keluarga, teman, tetangga, dan rekan sekerja.
Beberapa merupakan kelompok sekunder, yang mempunyai interaksi lebih formal dan kurang reguler.
- Kelompok Acuan
Kelompok acuan berfungsi sebagai titik perbandingan atau acuan langsung (tatap muka) atau tidak langsung dalam membentuk sikap atau tingkah laku seseorang. Orang seringkali dipengaruhi oleh kelompok acuan yang dia sendiri tidak menjadi anggotanya. Di dalam kelompok acuan ada pemuka pendapat yaitu orang yang karena keterampilan, pengetahuan, kepribadian, atau karakteristik lain. Pemasar mencoba mengidentifikasi produknya pada pemuka pendapat dan melakukan usaha pemasaran langsung terhadap mereka. Pentingnya pengaruh kelompok bervariasi untuk produk dan merek. Pengaruh itu cenderung paling kuat kalau produk itu terlihat oleh orang lain yang dihargai oleh pembelinya. Pembelian produk yang dibeli dan digunakan secara pribadi tidak banyak berubah oleh pengaruh kelompok karena baik produk maupun mereknya tidak akan dilihat oleh orang lain.
b) Keluarga
Anggota keluarga dapat amat mempengaruhi tingkah laku pembeli. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan telah diteliti secara mendalam. Pemasar tertarik dalam peran dan pengaruh suami, istri, dan anak-anak pada pembelian berbagai produk dan jasa.
c) Peran dan Status
Seseorang menjadi anggota banyak kelompok keluarga, klub, organisasi. Posisinya dalam setiap kelompok dapat ditentukan dalam bentuk peran dan status. Peran terdiri dari aktivitas yang diharapkan dilakukan seseorang menurut orang-orang yang ada di sekitarnya. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Orang seringkali memilih produk yang menunjukkan statusnya dalam masyarakat.
3) Faktor Pribadi
a) Umur dan tahap daur hidup
Orang merubah barang dan jasa yang mereka beli selama masa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur. Membeli juga dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan kedewasaannya. Pemasar seringkali menentukan sasaran pasar dalam bentuk tahap daur hidup dan mengembangkan produk yang sesuai serta rencana pemasaran untuk setiap tahap. Tahap-tahap daur hidup keluarga tradisional meliputi bujangan dan pasangan muda dengan anak. Akan tetapi, dewasa ini pemasar semakin banyak melayani tahap alternatif nontradisonal yang jumlahnya bertambah seperti pasangan yang tidak menikah, pasangan yang menikah di kemudian hari, pasangan tanpa anak, orang tua tunggal, orang tua dengan anak dewasa yang pulang lagi ke rumah, dan lain-lain.
b) Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Pekerja kasar cenderung membeli lebih banyak pakaian untuk bekerja, sedangkan pekerja kantor membeli lebih banyak jas dan dasi.
Pemasar berusaha mengenali kelompok pekerjaan yang mempunyai
minat di atas rata-rata akan produk dan jasa mereka. Sebuah perusahaan bahkan dapat melakukan spesialisasi dalam memasarkan produk menurut kelompok pekerjaan tertentu. Jadi perusahaan perangkat lunak komputer akan merancang produk berbeda untuk manajer merek, akuntan, insinyur, pengacara, dan dokter.
c) Situasi Ekonomi
Situasi ekonomi akan mempengaruhi pilihan produk. Pemasar produk yang peka terhadap pendapatan mengamati kecendrungan dalam pendapatan pribadi, tabungan, dan tingkat minat. Bila indikator ekonomi menunjukkan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, memposisikan kembali, dan mengubah harga produknya.
d) Gaya Hidup
Orang yang berasal dari subbudaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin mempunyai gaya hidup yang jauh berbeda. Gaya hidup adalah pola kehidupan seseorang yang diwujudkan dalam psikografik-nya. Gaya hidup termasuk pengukuran dimensi AIO utama dari para konsumen, aktivitas (pekerjaan, hobi, berbelanja, olahraga, kegiatan sosial), minat (makanan, mode, keluarga, rekreasi), dan opini (mengenai diri mereka sendiri, isu sosial, bisnis, produk). Gaya hidup mencakup sesuatu yang lebih dari sekedar kelas sosial atau kepribadian seseorang; gaya hidup menampilkan pola beraksi dan berinteraksi seseorang secara keseluruhan di dunia.
e) Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian setiap orang yang jelas mempengaruhi tingkah laku membelinya. Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologi unik yang menyebabkan respons yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan diri sendirinya. Kepribadian biasanya diuraikan dalam arti sifat-sifat seperti rasa percaaya diri, dominasi, kemudahan bergaul, otonomi, mempertahankan diri, kemampuan menyesuaikan diri, dan keagresifan. Dasar pemikiran konsep diri adalah bahwa apa yang dimiliki seseorang memberi kontribusi dan mencerminkan identitas mereka; artinya “kami adalah apa yang menjadi milik kami”. Jadi, agar
dapat memahami tingkah laku konsumen, pertama-tama pemasar harus memahami hubungan antara konsep diri konsumen dan miliknya.
4) Faktor Psikologis a) Motivasi
Seseorang mempunyai banyak kebutuhan pada suatu saat. Ada kebutuhan biologis, yang muncul dari keadaan yang tegang seperti lapar, haus, atau merasa tidak nyaman. Yang lainnya adalah kebutuhan psikologis, yang muncul dari kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau rasa memiliki. Kebanyakan dari kebutuhan ini tidak cukup kuat untuk memotivasi seseorang supaya bertindak suatu saat. Kebutuhan berubah menjadi motif kalau merangsang sampai tingkat intensitas yang mencukupi. Motif (dorongan) adalah kebutuhan yang cukup menekan untuk mengarahkan seseorang mencapai kepuasan.
b) Persepsi
Seseorang yang termotivasi siap untuk bertindak. Bagaimana orang bertindak dipengaruhi oleh persepsi mengenai situasi. Dua orang dengan motivasi sama dan dalam situasi yang sama mungkin mengambil tindakan yang jauh berbeda karena mereka memandang situasi seara berbeda. Persepsi adalah proses yang dilalui orang dalam memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan informasi guna membentuk gambaran berarti mengenai dunia. Orang juga dapat membentuk persepsi berbeda dari rangsangan yang sama karena tiga macam proses penerimaan indera: perhatian yang selektif, distorsi selektif, dan ingatan selektif. Perhatian selektif merupakan kecendrungan bagi manusia untuk menyaring sebagian besar informasi yang mereka hadapi berarti bahwa pemasar harus bekerja cukup keras untuk menarik perhatian konsumen.
c) Pengetahuan
Dorongan merupakan rangsangan kuat internal yang menyebabkan adanya tindakan. Dorongan menjadi motif kalau diarahkan pada obyek rangsangan. Isyarat adalah rangsangan kecil yang menentukan kapan, di mana, dan bagaimana seseorang memberikan respon. Apabila respon tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan, maka respon tersebut akan dibenarkan dan diperkuat.
Pentingnya praktik dan teori pengetahuan bagi pemasar adalah mereka
dapat membentuk permintaan akan suatu produk dengan menghubungkannya dengan dorongan yang kuat, menggunakan petunjuk yang membangkitkan motivasi, dan memberikan pembenaran positif.
d) Keyakinan dan Sikap
Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang mengenai sesuatu. Pemasar tertarik pada keyakinan bahwa orang merumuskan mengenai produk dan jasa spesifik, karena keyakinan ini menyusun citra produk dan merek yang mempengaruhi tingkah laku membeli. Bila ada sebagian keyakinan yang salah dan menghalangi pembelian, pemasar pasti ingin meluncurkan usaha untuk mengoreksinya. Orang mempunyai sikap terhadap agama, politik, pakaian, musik, makanan, dan hampir segala sesuatu yang lain. Sikap menguraikan evaluasi, perasaan, dan kecendrungan dari seseorang terhadap suatu obyek atau ide yang relatif konsisten.
Jadi, perilaku konsumsi adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa termasuk proses kebutuhan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Dalam buku Consumer Behavior, Shiffman dan Kanuk menyatakan bahwa perilaku konsumen merupakan perilaku yang diperlihatkan oleh konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk barang dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan mereka[CITATION Sch00 \l 1033 ]. Tujuan melakukan tindakan konsumsi antara lain: 1) Memenuhi kebutuhan hidup; 2) Mempertahankan status sosial; 3) Mempertahankan status keturunan; 4) Mendapatkan keseimbangan hidup; 5) Memberikan bantuan kepada orang lain (tujuan sosial); 6) Menjaga keamanan dan Kesehatan; 7) Menciptakan keindahan dan seni; 8) Memuaskan batin; dan 9) Memunculkan keinginan untuk meniru[ CITATION Cas07 \l 1033 ].
1.5.2.2 Gaya Hidup a. Pengertian
Secara bahasa gaya hidup terdiri dari dua kata yaitu gaya dan hidup. Gaya dalam kamus bahasa Indonesia adalah sikap, gerakan, ragam yang khusus, tingkah laku. Hidup adalah masih tetap ada, bergerak, bekerja sebagaimana mestinya. Dari pengertian tersebut, maka gaya hidup dapat diartikan memiliki hubungan menunjukkan makna gerak, yang berarti adanya suatu aktifitas [ CITATION Suh05 \l 1033 ].
Gaya hidup adalah bagaimana cara atau kebiasaan seseorang dalam menghabiskan uang dan membagi waktu dalam hidupnya[ CITATION Mow98 \l 1033 ]. Gaya hidup merupakan pola tindakan yang dapat membedakan status individu maupun kelompok dengan lainnya. Gaya hidup mengandung suatu tujuan yang kemudian bisa menciptakan serta membentuk citra untuk pengikutnya. Citra yang ditampilkan melalui gaya hidup berkaitan dengan nilai (value) dan status sosial.
Kotler berpendapat, gaya hidup adalah cara hidup seseorang yang diaktualisasikan dan berhubungan erat dengan kegiatan (activity), minat (interest) dan pendapat (opinion) [CITATION Kot02 \p 234 \l 1033 ]. Gaya hidup mengekspresikan kehidupan seseorang secara menyeluruh melalui interaksi dengan orang lain. Artinya gaya hidup yang berasal dari proses sosialisasi memiliki perbedaan pada tingkat kelas sosial, subkultur sampai pekerjaan. Sehingga gaya hidup individu satu dengan individu lainnya berbeda-beda. Dengan adanya pengalaman hidup dapat dicerminkan pada rangkaian tingkah laku individu yang menurutnya sesuai ataupun tidak untuk ditampilkan dan dihadapkan kepada realitas sosial dalam masyarakat.
Gaya hidup disebut lifestyle dalam pengertian terbatas merujuk pada gaya hidup khas suatu kelompok tertentu. Sementara dalam kelompok masyarakat modern, gaya hidup berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, kekayaan, serta posisi sosial seseorang.
Dalam masyarakat modern istilah ini mengkonotasikan individualisme, ekpsresi diri, serta kesadaran diri untuk bergaya.
Menurut Arnould, Price, dan Zinkhan, bahwa faktor yang membentuk gaya hidup meliputi demografi, kelas sosial, kelompok referensi dan keluarga [CITATION Arn02 \l 1033 ]. Terdapat dua faktor yang membentuk gaya hidup yakni faktor yang berakar dari dalam diri seseorang (internal) dan faktor lingkungan (eksternal).
1) Faktor Internal
Secara umum faktor internal lebih banyak dari dalam daripada dari luar diri seseorang. Faktor internal pembentuk gaya hidup menyangkut beberapa hal seperti sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri dan motif.
Adapun faktor internal yang menjadi pemicu gaya hidup akan dijelaskan sebagai berikut:
a) Sikap
Sikap merupakan cerminan segala perbuatan dan tingkah laku seseorang yang cenderung dilakukan secara terus menerus terhadap objek tertentu.
b) Pengalaman dan pengamatan
Pengalaman dan pengamatan merupakan dua bagian yang erat kaitannya karena memiliki potensi untuk mendorong saru dengan yang lainnya.
Pengalaman sosial membentuk sudut pandang individu terhadap suatu objek.
Sehingga individu akan menerapkan gaya hidup secara eksklusif setelah melewati pengalaman dan pengamatan yang dilakukannya.
c) Kepribadian
Kepribadian merupakan tanda-tanda jiwa yang menentukan dan merepresentasikan individu dalam menanggapi lingkungannya. Kepribadian membentuk karakter dan gaya hidup individu sesuai apa yang dipilihnya.
d) Konsep diri
Konsep diri merupakan representasi atas masing-masing individu. Konsep diri menjadi dasar dari individu dalam melihat dirinya sendiri. Sehingga menemukan kemampuan, kekuatan, kelemahan dan kegagalan yang ada dalam setiap individu. Oleh karena itu, konsep diri begitu penting untuk mengenal jadi diri masing-masing individu.
e) Motif
Motif adalah suatu kebutuhan yang lebih mengutamakan individu agar mengejar kepuasan. Apabila individu memiliki motif terhadap sesuatu, maka dengan mudah tercipta gaya hidup yang lebih mengutamakan kemewahan.
f) Persepsi
Persepsi ialah suatu proses individu untuk mendefinisikan, merumuskan sudut pandang, dan menilai informasi agar terciptanya pikiran yang semakin luas mengenai objek tertentu di dunia. Persepsi juga mengarah pada proses kognitif secara kompleks sehingga menghasilkan pandangan-pandangan yang unik.
Persepsi dapat digunakan dalam memahami situasi dan kondisi pada setiap individu.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor dari pengaruh lingkungan sekitar individu.
Faktor eksternal pembentuk gaya hidup meliputi keluarga, kelompok referensi, kelas sosial dan kebudayaan. Agar komponen-komponen tersebut dapat dipahami maka akan dijelaskan sebagai berikut:
a) Kelompok Referensi
Kelompok referensi terdiri dari individu atau kelompok-kelompok yang berhubungan erat dengan kesamaan keinginan, pencapaian maupun perilaku.
Besarnya pengaruh dari kelompok mampu mengubah sikap dan perilaku individu. Sehingga memengaruhi karakteristik atas gaya hidup masing-masing individu.
b) Keluarga
Peran keluarga begitu penting dalam membentuk karakter individu. Keluarga menjadi lingkup sosialisasi pertama sebelum melangkah ke dunia luar.
Pendidikan pertama yang diberikan oleh orang tua sangat menentukan sikap dan perilaku individu dalam membentuk pola dan gaya hidup serta memecahkan masalah yang dihadapinya.
c) Kelas Sosial
Munculnya kelas sosial berasal dari sistem pergaulan yang dilakukan oleh individu. Dalam pergaulan terdapat sistem sosial yang membentuk kelas-kelas sosial. Adapun dua elemen penting dalam pembagian kelas sosial adalah kedudukan dan peran. Hierarki kelas sosial masyarakat semakin menguatkan gaya hidup seseorang yang akan ditampilkan [CITATION Shi15 \p 330 \l 1033 ]
d) Kebudayaan
Kebudayaan mencakup akal budi, keyakinan, seni, moral, nilai, adat istiadat dan pola perilaku yang didapatkan individu sebagai bagian dari masyarakat.
Kebudayaan menunjukkan rangkaian perilaku, interaksi maupun konstruksi kognitif yang diperoleh dari proses sosialisasi. Kebudayaan akan terus menerus dipertahankan olek beberapa kelompok hingga diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya.
b. Bentuk-bentuk Gaya Hidup
Chaney mengungkapkan bahwa bentuk-bentuk gaya hidup meliputi: industri gaya hidup, iklan gaya hidup, public relations dan jurnalisme gaya hidup, gaya hidup mandiri dan gaya hidup hedonis.
1) Industri Gaya Hidup
Pada era modern ini, penampilan menjadi pusat perhatian utama masyarakat. Penampilan diri dan tubuh menjadi eksistensi tersendiri dalam menjalani kehidupan di setiap harinya. Sehingga penampilan diri dan tubuh sebagai manifestasi dari bentuk gaya hidup. Maka dari itu industri gaya hidup ditujukan untuk mengembangkan mode penampilan yang kekinian[CITATION Cha09 \p 15 \l 1033 ].
2) Iklan Gaya Hidup
Banyaknya industri, para politisi dan individu begitu antusias akan suatu citra.
Arus globalisasi membawa informasi yang memiliki kekuatan untuk membangun merek suatu produk tertentu. Dinamakan sebagai budaya citra (image culture) dan budaya cita rasa (taste culture). Hal tersebut ditunjukkan melalui iklan mempertontonkan gaya visual dengan menarik dan memesona. Tentu tidak semua orang hanyut akan produk-produk dalam iklan, namun sebagian besar masyarakat mulai mengikuti seperti yang ditampilkan pada iklan. Tanpa disadari iklan membentuk individu dengan gaya hidup yang mementingkan citra di muka publik.
3) Public Relations dan Jurnalisme Gaya Hidup
Dalam budaya konsumen, selebriti menjadi basis penciptaan identitas diri konsumen. Secara umum, masyarakat yang menjadi konsumen akan mengikuti dan menyesuaikan gaya hidup selebriti yang serba modis dan mewah. Maka tidak mengherankan, apabila masyarakat meniru gaya hidup dari selebriti. Terlihat dari
cara berpakaian, aktivitas sehari-hari maupun tempat hiburan atau kafe yang dikunjungi.
4) Gaya Hidup Mandiri
Mandiri merupakan pola hidup yang berdiri sendiri tanpa bergantung pada objek lain. Dalam mencapai tujuan tertentu diperlukan kemampuan agar dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan dari dirinya sendiri. Tidak hanya itu, kemampuan nalar, sikap bertanggung jawab dan disiplin sangat dibutuhkan untuk membentuk gaya hidup mandiri. Pada akhirnya, melalui gaya hidup mandiri budaya konsumerisme semakin minim dan inovasi-inovasi yang kreatif muncul dari diri sendiri.
5) Gaya Hidup Hedonis
Hedonis berasal dari bahasa Yunani hedone yang berarti kesenangan, kenikmatan dan bersenang-senang. Hedonis lebih mengutamakan kesenangan dan meninggalkan segala hal yang rumit. Gaya hidup hedonis tercermin pada pola hidup yang lebih banyak penggunaan waktunya untuk kegiatan di luar rumah, senang akan keramaian kota dan gemar membeli barang agar menjadi pusat perhatian publik.
1.6 Metode penelitian
Pada bagian metode penelitian, inti dari setiap penelitian terletak dalam uraian yang mendetail tentang pendekatan dan langkah-langkah yang diambil untuk mengumpulkan, mengolah, serta menganalisis data penelitian. Sejalan dengan pemikiran Sugiyono (2016), metode penelitian merupakan elemen krusial yang memastikan keabsahan hasil penelitian.
Penjelasan yang jelas dan terperinci mengenai prosedur penelitian ini akan memberikan gambaran yang komprehensif kepada pembaca mengenai penelitian ini dan memastikan bahwa proses penelitian dilakukan secara tepat. Dengan demikian, metode penelitian yang terperinci akan menjadi landasan yang kuat bagi pembaca untuk menilai kredibilitas dan relevansi hasil penelitian yang diperoleh.
1.6.1 Jenis Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian kualitatif, yaitu suatu jenis penelitian yang hasil temuannya tidak didapat dengan proses statistik atau perhitungan dengan rumus melainkan sebagai bentuk jenis penelitian yang memiliki tujuan untuk menjelaskan gejala secara kontekstual dengan menggunakan peneliti sebagai bagian alami dalam penelitian tersebut. Creswell mendefinisikan, bahwa penelitian kualitatif merupakan metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna sejumlah individu atau kelompok yang berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan[ CITATION Cre12 \l 1033 ].
Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang hasil temuannya tidak didapat dengan proses statistik atau perhitungan dengan rumus melainkan sebagai bentuk jenis penelitian yang memiliki tujuan untuk menjelaskan gejala secara kontekstual dengan menggunakan peneliti sebagai bagian alami dalam penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif lebih banyak menjelaskan, mendeskripsikan dan lebih banyak menganalisis dengan menggunakan pendekatan induktif. Penelitian kualitatif lebih mengutamakan proses dan makna yang didasari sudut pandang atau penilaian dari sisi subjek.
1.6.2 Lokasi dan Waktu Penelitian A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Ma’had Putri Fatimah Azzahra, 3 kafe, 3 Warung Makan, dan 3 warung kopi berkonsep workplace di belakang UIN Maliki. Lokasi tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian oleh penulis dengan alasan bahwa Ma’had Putri Fatimah Azzahra adalah tempat untuk mengetahui aktifitas keseharian mahasiswi urban yang tinggal di tempat itu selama 2 semester. Kemudian, 3 kafe, 3
Warung Makan, dan 3 warung kopi Kafe mewakili representasi tempat nongkrong favorit mahasiswa UIN Malang yang diharapkan memberikan informasi tentang perilaku konsumsi mahasiswa.
B. Waktu Penelitian
Untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya dibutuhkan kehadiran narasumberpadalokasi dan waktu yang tepat. Sehingga peneliti dapat memperoleh gambaran data yang faktual dan momen yang diharapkan benar-benar mewakili kondisi mahasiswa urban. Oleh karena itu, penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2023 setiap hari Jumat – Minggu, dimana mahasiswa memiliki jadwal bebas untuk kunjungan keluarga, atau libur.
1.6.3 Penentuan Informan Penelitian
Subjek penelitian adalah benda, hal, atau orang, yang menjadi sasaran data penelitian dan yang di permasalahkan. Dalam penelitian, data subjek penelitian sangat penting untuk dijelaskan karena menggambarkan mengenai penelitian yang akan diteliti. Pada istilah penelitian kualitatif subjek penelitian dikatakan dengan sebutan informan atau narasumber, yang merupakan pihak yang memberi informasi mengenai data-data dan informsi lain yang dibutuhkan penelitian terkait dengan penelitian yang sedang dilakukan. Dalam penelitian ini yang menjadi Subyek Penelitian adalah 4 mahasantri putri yang dipilih dengan pertimbangan tertentu (Purposive Sampling), penentuan sampel ini dengan kriteria sebagai berikut :
a. Subyek yang dipilih adalah mahasiswi baru UIN Maulana Malik Ibrahim semester 1 dan 2, karena mereka wajib mengikuti programpendidikan di ma’had selama 2 semester;
b. Mahasiswa berasal dari daerah/kota kecil di sekitar Kota Malang seperti Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Blitar, Lamongan, Jombang, atau Gresik;
c. Bersedia menjadi subyek penelitian.
1.6.4 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian kualitatif, penting untuk menyesuaikan teknik pengumpulan data dengan tujuan penelitian dan karakteristik objek penelitian [ CITATION Mil84 \l 1033 ]. Maka dari itu, penting bagi peneliti untuk memastikan bahwa teknik pengumpulan data yang dipilih dapat menghasilkan data yang valid dan dapat diandalkan untuk mendukung kesimpulan penelitian.
A. Observasi Partisipatif
Observasi partisipatif sangat diutamakan dalam Teori Budaya Konsumen. Teknik pengumpulan data ini melibatkan peneliti secara langsung dalam situasi yang diamati.
Dalam observasi partisipatif, penulis terlibat dalam aktivitas yang diamati dan mencatat secara detail tentang fenomena yang terjadi, termasuk perilaku, preferensi, dan pengaruh dari konteks sosial dan budaya. Selain itu, penulis juga dapat melakukan wawancara mendalam dengan responden untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengalaman dan persepsi mereka terkait fenomena yang diamati partisipatif yang dilakukan oleh penulis dalam konteks penelitian ini berupa:
1. Mengamati kegiatan mahasantri pada jam makan di ma’had
2. Mengikuti kegiatan mahasiswi ketika hari libur, atau ketika memanfaatkan waktu luang diantara jeda waktu kuliah, mengikuti kegiatan nugas. Penulis dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan memberikan komentar.
Dengan melakukan observasi partisipatif, penulis dapat memperoleh data yang lebih lengkap dan mendalam tentang fenomena eating out mahasantri putri. Data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi aktifitas eating out mahasantri.
B. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam menurut Miles and Huberman (1994) adalah salah satu teknik pengumpulan data kualitatif yang melibatkan interaksi antara penulis dan responden dalam situasi yang terstruktur. Dalam wawancara mendalam, penulis mengajukan pertanyaan terkait topik penelitian kepada responden dan mencatat secara detail jawaban dan tanggapan yang diberikan. Tujuan dari wawancara mendalam adalah untuk mengumpulkan data berupa pemahaman yang lebih mendalam tentang pengalaman dan persepsi responden terkait fenomena yang diamati. Pada penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan berfokus pada interview mendalam (in-depth interviews) dan narasi (narratives) sebagai langkah-langkah utama dalam membuat penjelasan dan penggambaran cara beradaptasi dengan kebiasaan teman makan di luar Ma’had, serta aktifitasnya ketika hari libur, atau di waktu senggang di luar kampus.
C. Dokumentasi
Dokumentasi data dilakukan untuk memberikan bukti pada penelitian yang dilakukan bahwa penelitian tersebut valid karena dilengkapi dengan dokumentasi terbaru, sedangkan visual methods perlu dilakukan untuk tujuan agar penelitian yang
dilakukan dapat divisualisasikan dan diberikan gambaran nyata tentang keadaan yang sebenarnya.
Dalam konteks penelitian ini, dokumentasi data dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menganalisis dokumen-dokumen berikut:
1. Media sosial tentang aplikasi makanan 2. Video masak memasak
3. Artikel-artikel tentang menu makanan
Dokumen-dokumen tersebut dapat digunakan untuk memahami berbagai aspek dari fenomena eating out pada mahasantri putri.
1.6.5 Metode Analisis Data
Teknik analisa data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan di pelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain[ CITATION Sug09 \l 1033 ]. Analisa data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan.
Ada tiga macam kegiatan dalam analisis data kualitatif[ CITATION Mil84 \l 1033 ], yaitu :
A. Data Reduction (Reduksi data)
Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan, perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan lapangan, sehingga data itu memberi gambaran yang lebih jelas tentang hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi;
B. Data Display (Penyajian Data)
Yaitu sekumpulan informasi tersusun memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam penelitian kualitatif penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, tabel, grafik, pictogram, dan sejenisnya. Melaui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan sehingga akan semakin mudah dipahami;
C. Conclusion Drawing atau Verification (verifikasi atau simpulan)
Peneliti membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah diproses melalui reduksi dan display data. Penarikan kesimpulan yang dikemukakan bersifat sementara dan
akan berubah bila tidak ditemukan bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Namun apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data maka kesimpulan yang di kemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan yang didasarkan pada sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu kredibilitas (derajat kepercayaan), keteralihan (tranferbility), kebergantungan (dependenbility), kepastian (conformability).
Teknik pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua jenis triangulasi yaitu triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Triangulasi sumber ini digunakan oleh peneliti untuk mengecek data yang diperoleh dari mahasiswa urban.
Sedangkan triangulasi teknik yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Triangulasi teknik ini digunakan oleh peneliti setelah mendapatkan hasil wawancara yang kemudian dicek dengan hasil observasi dan dokumentasi.