BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang
Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat yang melintasi berbagai Kabupaten. Di antaranya melintasi Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang dan sebagai melintasi Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bogor.
Sungai Citarum saat ini mendapatkan berbagai persoalan yang Kompleks di antaranya Pencemaran, Krisis air bersih, Limbah Rumah Tangga, limbah industri, Krisi ketersedian Energi, Banjir, Sedimentasi. Bahkan Sungai Terpanjang di jawabarat ini mendapat predikat sebagai “Sungai Terkotor di Dunia”. Hal tersebut sempat menjadi Isu yang luar biyasa dan menjadi sorotan dari berbagai media Asing tentang keberadaan Sungai Citarum yang pada akhiranya membuat Masyarakat serta Pemerintah merasa sangat prihatin dengan kondisi tersebut.1
Pada awal tahun 2018, kebijakan pemerintah untuk merevitalisasi Citarum kembali digelorakan melalui Program Nasional Citarum Harum. Program tersebut dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Inovasi yang dilakukan adalah pengelolaan pengendalian DAS secara masif, multi sektor dan lintas wilayah kewenangan yang sinergis antara Pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Pusat dengan melibatkan unsur TNI, POLRI, komunitas filantropi dan masyarakat. Dalam pelaksanaannya dibentuk Tim DAS Citarum yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten/Kota di DAS Citarum, TNI dan POLRI, yang beroperasi melalui Satuan Tugas dengan Gubernur Provinsi Jawa Barat sebagai Komandan Satuan Tugas.2
1 Bappenas, 2018 2 RKPD 2022
Pelaksanaan Program Citarum Harum dilaksanakan secara tematik dan holistik melalui penanganan menyeluruh dan terfokus pada upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan kerusakan lingkungan, serta pemulihan fungsi DAS. Program yang dilakukan disesuaikan dengan berbagai permasalahan pencemaran dan kerusakan di DAS Citarum, meliputi penanganan lahan kritis, penanganan limbah industri, penanganan limbah domestik, penanganan persampahan, penanganan limbah peternakan, penanganan limbah perikanan dari keramba jaring apung, pemantauan kualitas air, pengendalian pemanfaatan ruang, penegakan hukum, pengelolaan sumber daya air, pariwisata, edukasi dan hubungan Masyarakat.3
Dari 12 program utama dalam penanggulangan pencemaran dan kerusakan lingkungan serta pemulihan fungsi DAS, target utama program adalah menurunnya tingkat pencemaran Sungai Citarum dengan indikator utama Indeks Kualitas Air (IKA). Pada Tahun 2023, IKA Sungai Citarum ditargetkan dapat mencapai 38,57 (kondisi IKA Tahun 2018 adalah 33,43).
Kondisi ini menunjukkan bahwa adanya perbaikan status mutu sungai kategori cemar berat menjadi cemar sedang. Pada Tahun 2025, IKA Sungai Citarum ditargetkan mencapai 40,86. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan status mutu kategori cemar sedang ke cemar ringan.4
3 Ibid, hlm 225-226
4 Satgas, Rencana Aksi Pengendalian Pencemaran dan kerusakan DAS Citarum 2018-2025
I. 2. 1. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan DAS (Daerah Aliran Sungai) ?
2. Bagaimana Program Citarum Harum dan Dampaknya terhadap Lingkungan dan Daerah Aliran Sungai ?
I. 2. 2. Tujuan Penulisan
2 Mengetahui yang dimaksud dengan Pengertia DAS ( Daerah Aliran Sungai).
3 Mengetahui bagaimana dampak dari Program Citarum Harum terhadap Lingkungan dan Daerah Aliran Sungai.
BAB II PEMBAHASAN
2 1. Daerah Aliran Sungai ( DAS )
Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.5
Menurut Dharmawan, dkk, DAS adalah bentang lahan yang dibatasi oleh topografi pemisah aliran (topographic divide), yaitu punggung bukit atau gunung yang menangkap curah hujan, menyimpan dan kemudian mengalirkannya melalui saluran-saluran pengaliran ke suatu titik (outlet) yang umumnya berada di muara sungai biasa atau danau. 6
Fungsi utama DAS adalah sebagai hidrologis, dimana fungsi tersebut sangat dipengaruhi oleh jumlah curah hujan yang diterima, geologi dan bentuk lahan. Fungsi hidrologis yang dimaksud termasuk kapasitas DAS untuk mengalirkan air, menyangga kejadian puncak hujan, melepaskan air secara bertahap, memelihara kualitas air, serta mengurangi pembuangan massa (seperti terhadap longsor).
DAS Citarum adalah Daerah Aliran Sungai yang berhulu di Gunung Wayang di Daerah Kabupaten Bandung dan mengalir melewati 13 (tiga belas) Daerah Kabupaten/Kota sampai bermuara di Tanjung Karawang dan Muara Gembong di Daerah Kabupaten Bekasi. 7 DAS menjadi sumber air baku untuk air minum, Sungai Citarum juga sumber air irigasi untuk ratusan ribu hektar sawah serta pembangkit listrik untuk Pulau Jawa dan Bali.
5 PERPRES RI Nomor 15 Tahun 2018
6 Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: Universitas Negeri Malang.
7 PERGUB JABAR No 28 Th 2019
DAS Citarum mengalami pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat tingginya aktivitas domestik dan industri di pinggiran sungai. Pencemaran dan kerusakan Sungai Citarum meliputi pencemaran industri, limbah pertanian, limbah peternakan, limbah perikanan, dan limbah domestik baik air limbah domestik maupun sampah domestik. Untuk melakukan percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum dibentuk Tim Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum, yang disebut Tim DAS Citarum. Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan (PPK) DAS Citarum bertujuan sebagai pelestarian fungsi DAS Citarum sehingga tujuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tercapai.
2 2. Program Citarum Harum dan Dampaknya Terhadap Lingkungan dan Daerah Aliran Sungai
Program Citarum Harum merupakan upaya untuk merevitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang dilaksanakan dalam rangka mendukung Program Nasional Citarum Harum yang dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Inovasi yang dilakukan adalah pengelolaan pengendalian DAS secara masif, multi sektor dan lintas wilayah kewenangan yang sinergis antara Pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Pusat dengan melibatkan unsur TNI, POLRI, komunitas filantropi dan masyarakat. Dalam pelaksanaannya dibentuk Tim DAS Citarum yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten/Kota di DAS Citarum, TNI dan POLRI, yang beroperasi melalui Satuan Tugas dengan Gubernur Provinsi Jawa Barat sebagai Komandan Satuan Tugas. 8
Berdasarkan Permenko Bidang Kemaritiman No. 8 Tahun 2018, Wilayah Kerja Tim DAS Citarum dibagi menjadi 22 sektor dari hulu sampai hilir (Gambar 3), yang dipimpin oleh 23 orang Perwira TNI sebagai Komandan Sektor (Dansektor). Pada setiap sektor terdapat 2 Dansektor, dan masing-
8 RKPD, 2022. Op.cit hlm 225
masing Dansektor fokus pada pembibitan dan revitalisasi kawasan hulu.
Seluruh aktivitas baik yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga, Dinas Provinsi, Dinas Kabupaten/Kota, diketahui oleh Dansektor sebagai pengawal pelaksanaan kegiatan di sektor masing-masing.
Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Sektor 1 – 22
Merujuk pada arahan yang tertuang dalam Perpres No. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum, yaitu Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran DAS dan/atau Kerusakan DAS, serta Pemulihan Fungsi DAS. Berdasarkan arah kebijakan tersebut, disusun program sebagai berikut :
2 2. 1. Penanganan Lahan Kritis
Berdasarkan pembaharuan data lahan kritis tahun 2018 melalui analisa penyusunan data spasial lahan kritis, luas lahan kritis di wilayah DAS Citarum adalah 199,514.14 Ha atau sekitar 29.24% dari total seluruh wilayah DAS Citarum, yang terdiri dari kategori sangat kritis dan kritis. Berdasarkan kewenangan dan kondisi tutupan lahan, luas lahan kritis DAS Citarum hanya dapat ditangani seluas 53.298,65 Ha, dengan rincian : - di luar Kawasan Hutan terdiri dari Kawasan hutan (45.985,05 Ha), Pertanian (1.025 Ha), dan Perkebunan (951,6 Ha), - di
dalam Kawasan Hutan (5.337 Ha) Target outcome pertahun, indikasi lokasi kegiatan, dan indikasi kebutuhan pendanaan untuk penanganan lahan kritis disajikan pada Tabel 1.9
Table 1. Target Penanganan Lahan Kritis Pertahun
2 2. 2. Penanganan Limbah Industri
Pengelolaan limbah industri dapat dilakukan secara terpadu atau oleh masing-masing industri. Pengelolaan limbah industri secara terpadu pada umumnya diterapkan pada suatu kawasan industri, sedangkan industri di luar kawasan tetap harus mengelola limbahnya secara individu. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa masih banyak industri di luar kawasan industri, terutama industri Usaha Kecil Menengah (UKM) di DAS Citarum yang tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan membuang langsung limbahnya ke sungai. Data target jumlah industri yang taat terhadap izin pada tahun 2023 sebesar 1.242, diperoleh dari hasil sinkronisasi dan koordinasi bersama Kabupaten/Kota se-Jawa Barat (Tabel 2).10
Tabel 2. Target Outcome Penanganan Limbah Industri
9 Satgas RENAKSI 2018-2025, Op.cit hlm 7 10 Ibid hlm 8
2 2. 3. Penanganan Limbah Peternakan
Peternakan berkontribusi pada pencemaran Sungai Citarum.
Teridentifikasi sejumlah peternak yang bermukim di sekitar sungai tidak mengolah limbah ternaknya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan membuang langsung kotoran ternaknya ke aliran sungai.
Strategi penanganan limbah peternakan meliputi : Menginventarisasi dan mengidentifikasi sumber pencemar limbah peternakan industri di DAS Citarum; Membangun IPAL Komunal untuk usaha peternakan;
Meningkatkan Sosialisasi Good Farming Practises dan Pengelolaan Limbah Peternakan di Kelompok Peternakan; Meningkatkan Penguatan Kelembagaan USK, Pertanian, dan Peternakan; Melakukan relokasi peternakan/alih fungsi profesi; Melakukan Pengelolaan limbah kotoran hewan menjadi pupuk organik dan vermicomposting (Kascing); Melakukan penanganan limbah kotoran hewan menjadi energi dan disinergikan dengan program konversi LPG ke EBT (Biogas).
Indikator kinerja outcome pelaksanaan program Penanganan Limbah Peternakan diperoleh dari perbandingan jumlah ternak yang telah dikelola kotoran ternaknya dengan populasi ternak di wilayah yang berkontribusi menyebabkan pencemaran di DAS Citarum (Tabel 3).11
Table 3. Target Outcome Penanganan Limbah Peternakan
2 2
11 Ibid hlm 9
. 4. Penanganan Air Limbah Domestik
Penanganan air limbah domestik, tidak terlepas dari pembangunan sanitasi nasional dengan target pencapaian akses Sanitasi Layak tahun 2019; dan akses Sanitasi Aman tahun 2030 sesuai amanat SDGs. Pada DAS Citarum, masih terdapat 200.000 KK yang belum terlayani akses sanitasi serta masih melakukan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Berdasarkan permasalahan tersebut, strategi penanganan air limbah domestik tidak cukup dengan menata infrastruktur, namun harus bersamaan dengan upaya menumbuhkan kesadaran masyarat untuk hidup sehat, serta berkemampuan mengelola sarana-prasarana kesehatan lingkungan secara berkelanjutan.
Target Outcome penanganan Air Limbah Domestik terdiri dari pemicuan kepada masyarakat untuk tidak buang air besar sembarangan yang dinyatakan dalam jumlah desa yang terverifikasi Open Defecation Free (ODF)/Bebas Buang Air Besar Sembarangan (BABS) pada tahun 2021 dan peningkatan akses terhadap infrastruktur sanitasi layak pada tahun 2022 (Tabel 4).12
Tabel 4. Target Outcome penanganan Air Limbah Domestik
2 2. 5. Pengelolaan Sampah
Untuk mengatasi masuknya sampah ke Sungai Citarum, diperlukan strategi pengelolaan sampah, strategi nya yaitu menangani sampah rumah tangga yang masih belum terkelola dengan cepat dan tuntas;
serta menangani sampah yang berada di Sungai Citarum.
Rencana penanganan DAS Citarum dilakukan secara bertahap
12 Ibid hlm 10
selain menuntaskan sampah di sumber, meningkatkan peran serta masyarakat dalam hal pengurangan sampah, mengoptimalisasi pengangkutan sampah residu, dan sampah sungai, serta meningkatkan pengelolaan sampah di pemrosesan akhir. Target Outcome Pengelolaan Sampah tahun 2018-2025 dalam (table 5).13
Table 5. Target Outcome Pengelolaan Sampah
2 2. 6. Penataan Ruang
Terselenggaranya pengendalian dan pemanfaatan ruang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum merupakan tugas dan kewenangan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Alih fungsi kawasan di DAS Citarum, memerlukan strategi terdiri dari upaya pengendalian dan pemanfaatan ruang agar fungsi kawasan DAS Citarum tidak terganggu dan upaya pemulihannya, yaitu dengan prinsip strategi:
a. Membatasi dan mengendalikan perizinan pemanfaatan ruang yang dapat mengganggu fungsi kawasan lindung DAS Citarum;
b. Merumuskan kebijakan terkait pengendalian dan pemanfaatan ruang kawasan DAS Citarum beserta pemulihan daya dukung kawasan DAS Citarum.14
Indikator kinerja outcome dalam menyelenggarakan pengendalian pemanfaatan ruang adalah tersedianya data ketidaksesuaian pemanfaatan ruang di DAS Citarum dan berkurangnya jumlah pelanggaran pemanfaatan ruang (Tabel 6).
Tabel 6. Target Outcome Rencana Aksi Pengendalian
13 Ibid hlm 11 14 Ibid hlm 12
Pemanfaatan Ruang
2 2. 7. Pengelolaan Sumber Daya Air
Upaya Struktural meliputi: Normalisasi dan penataan Oxbow;
Normalisasi dan atau Rehabilitasi Sungai di DAS Citarum; Pembuatan Polder/Kolam Retensi; Pembangunan Floodway; Pembuatan Cekdam di kawasan hulu sungai; Peningkatan ketersediaan air baku;
Revitalisasi dan atau Penataan Situ/Waduk; Pembangunan Embung;
Peningkatan Kapasitas Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya.
Upaya Non Struktural meliputi: Peningkatan Kapasitas Sungai Citarum beserta anak-anak sungainya; Penataan kawasan sempadan sungai; Pelaksanaan Gerakan Kemitraan Penyelamatan Air (GN- KPA).
Khusus untuk aspek pengendalian daya rusak air difokuskan kepada pengendalian banjir di 7 (tujuh) lokasi yaitu Rancaekek, Dayeuh kolot, Pasteur, Pagarsih, Gedebage, Melong dan Margaasih.
Indikator outcome yang akan dijadikan acuan keberhasilan penanganan banjir ditinjau dari sebaran luas genangan, durasi genangan dan tinggi genangan (Tabel 7). 15
Tabel 7. Target Pengurangan Banjir
15 Ibid hlm 13
2 2. 8. Penataan Keramba Jaring Apung
Waduk Cirata, Saguling, dan Jatiluhur sebagai perairan umum (daerah terbuka), selain berfungsi sebagai pembangkit listrik juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budidaya ikan air tawar. Saat ini, budidaya ikan air tawar oleh masyarakat sudah tidak terkendali.
Perkembangan usaha Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata dari hasil sensus 2018 telah mencapai 98.397 petak. Jumlah tersebut melebihi dari kuota yang ditetapkan sebanyak 12.000 petak sesuai Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 41 Tahun 2002 tentang Perairan Umum, Lahan Pertanian dan Kawasan Waduk Cirata untuk 3 Kabupaten.
KJA yang tidak terkendali menimbulkan permasalahan pada ekosistem dan lingkungan waduk. Penumpukan sisa pakan di dasar waduk dan limbah lainnya selain menyebabkan sedimentasi juga berakibat tercemarnya air waduk.
Strategi untuk pengelolaan atau penanganan nya adalah mengurangi KJA, mengganti atau menerapkan teknologi pada kegiatan budidaya pembudidayaan ikan yang ramah lingkungan dengan cara keramba jaring apung (Smart KJA) dan Culture Base Fisheries (Penangkapan ikan berbasis budidaya); Melakukan penebaran ikan (restocking) di perairan waduk Cirata, Saguling, dan Jatiluhur. Target outcome penataan KJA tertuang dalam tabel 8. 16
Tabel 8.Target Penataan JKA
16 Ibid 14-15
2 2. 9. Penegakan Hukum
Penegakan Hukum di DAS Citarum dilakukan dengan Pencegahan, Pembinaan serta Penegakan Hukum tentang Lingkungan Hidup terhadap perusahaan yang membuang Limbah di sepanjang aliran DAS Citarum. Sasaran penegakan hukum adalah perusahaan/pabrik yang menghasilkan Limbah B3 baik membuang secara langsung maupun melalui pengolahan IPAL yang melebihi batas baku mutu disepanjang aliran sungai DAS Citarum. Tujuan dan penegakan hukum adalah pengusaha dan masyarakat dapat memahami pentingnya ekosistem kehidupan sungai serta memahami Undang-Undang Nomor 32b tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Target outcome pada Program Penegakan Hukum adalah kasus kasus yang ditangani oleh POLDA Jabar dan Jajaran maupun Dinas LH Kabupaten/Kota atau Provinsi dapat terselesaikan (P-21 atau sanksi adminstrasi) tercantum dalam Tabel 9. 17
Table 9. Target Outcome Penegakan Hukum 2
2.
10. Edukasi
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung upaya pengendalian pencemaran adalah melalui edukasi yang dapat mengubah kesadaran dan perilaku industri serta masyarakat khususnya institusi Pendidikan terhadap lingkungan. Langkah yang dilakukan dalam mengedukasi industri dan institusi Pendidikan dilakukan melalui strategi berikut: 1. Edukasi Industri melalui perwujudan green industry. 2. Edukasi Institusi Pendidikan melalui perwujudan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan skema 3R (Reduce, Reuse, dan Recycling).
Outcome yang akan dicapai Program Edukasi (Tabel 10) adalah
17 Ibid hlm 16
Meningkatnya pemahaman dan penerapan green industry di industri;
serta Meningkatnya pemahaman dan penerapan PHBS dan 3R di institusi pendidikan. 18
Tabel 10. Target Outcome Program Edukasi
2 2. 11. Hubungan Masyarakat
Dengan besarnya tingkat pencemaran hampir di seluruh aliran DAS Citarum dari hulu hingga hilir sangat diperlukan kampanye yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat perihal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Strategi yang dilakukan antara lain : Menggerakkan semua unsur masyarakat, pemerintah dan swasta (kolaborasi) dengan sistem pembiayaan APBD Provinsi, APBN, CSR, dan mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan kampanye PHBS; Menggunakan semua media yang ada untuk memaksimalkan hasil kampanye PHBS; Mendorong kepada Pemerintah Pusat besaran anggaran pembiayaan dalam kampanye PHBS pada wilayah Kabupaten/Kota yang termasuk pada wilayah DAS Citarum;
Pendekatan budaya lebih diutamakan dalam kampanye PHBS;
Penyediaan Command Center sebagai wadah komunikasi dan sumber informasi.
Outcome yang akan dicapai Progam Hubungan Masyarakat (Tabel
18 Ibid hlm 17
11) adalah masyarakat di desa prioritas dapat melakukan praktik PHBS yang ditunjukan melalui jumlah desa yang diintervensi.19
Tabel 11. Target Outcome Program Hubungan Masyarakat
2 2. 12. Pemantauan Kualitas Air
Pemantauan kualitas air menunjukan gambaran kondisi lingkungan terutama sumber air seperti sungai, waduk, situ dsb. Strategi pemantauan kualitas air meliputi meningkatkan pembinaan teknis pemantauan kualitas air dan meningkatkan ketersediaan data dan informasi pemantauan kualitas air. Strategi pemantauan kualitas air meliputi meningkatkan pembinaan teknis pemantauan kualitas air dan meningkatkan ketersediaan data dan informasi pemantauan kualitas air.
Target outcome pemantauan kualitas air adalah meningkatnya data dan informasi kualitas air DAS Citarum sehingga lebih representatif dan terupdate sebagai evaluasi kebijakan/program yang diterapkan.
Pada saat ini ada sekitar 329 titik yang dipantau secara manual dan 3 pemantauan secara online monitoring dengan rincian disajikan pada Tabel 12. Target outcome pemantauan kualitas air disajikan pada Tabel 13. 20
Tabel 12. Rincian Titik Patau Kualitas Air
19 Ibid hlm 18 20 Ibid hlm 19
Tabel 13. Target Target Outcome Pemantauan Kualitas Air
Dari 12 program diatas target utama program adalah menurunnya tingkat pencemaran Sungai Citarum dengan indikator utama Indeks Kualitas Air (IKA). Pada Tahun 2023, IKA Sungai Citarum ditargetkan dapat mencapai 38,57 (kondisi IKA Tahun 2018 adalah 33,43). Kondisi ini menunjukkan bahwa adanya perbaikan status mutu sungai kategori cemar berat menjadi cemar sedang. Pada Tahun 2025, IKA Sungai Citarum ditargetkan mencapai 40,86. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan status mutu kategori cemar sedang ke cemar ringan.
Gambar 1. Target Indeks Kualitas Air
BAB III KESIMPULAN
Program Citarum Harum merupakan upaya untuk merevitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang dilaksanakan dalam rangka mendukung Program Nasional Citarum Harum yang dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Program nya meliputi penanganan lahan kritis, penanganan limbah industri, penanganan limbah domestik, penanganan persampahan, penanganan limbah peternakan, penanganan limbah perikanan dari keramba jaring apung, pemantauan kualitas air, pengendalian pemanfaatan ruang, penegakan hukum, pengelolaan sumber daya air, pariwisata, edukasi dan hubungan Masyarakat. Target utama program adalah menurunnya tingkat pencemaran Sungai Citarum dengan indikator utama Indeks Kualitas Air (IKA). Pada Tahun 2023, IKA Sungai Citarum ditargetkan dapat mencapai 38,57 (kondisi IKA Tahun 2018 adalah
33,43). Kondisi ini menunjukkan bahwa adanya perbaikan status mutu sungai kategori cemar berat menjadi cemar sedang. Pada Tahun 2025, IKA Sungai Citarum ditargetkan mencapai 40,86. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan status mutu kategori cemar sedang ke cemar ringan.
DAFTAR PUSTAKA
BAPPENAS. 2014. Pengolahan Roadmap Wilayah Citarum. Kementrian BAPENNAS
Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: Universitas Negeri Malang
Pemerintah Provinsi Jawa Barat. 2022. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2022. Provinsi Jawa Barat
Peraturan Gubernur Jawa Barat No 28 Th 2019. tentang Rencana Aksi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan daerah Aliran Sungai Citarum Tahun 2019-2025
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2018. Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum
Satgas. Rencana Aksi Pengendalian Pencemaran dan kerusakan DAS Citarum 2018-2025