BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha untuk menciptakan manusia seutuhnya, dalam arti manusia yang dapat membangun dirinya sendiri dan secara bersamasama membangun bangsa dan Negara. Hal ini tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 23 yaitu: Pendidikan khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosiaonal, mental dan sosial salah satu kesulitannya adalah mengikuti pembelajaran matematika.
Pembelajaran Matematika pada anak tunagrahita ringan pada umumnya terkait dengan berhitung, menambah, mengurang, mengali, membagi dengan konsep angka, simbol dan garis. Pembelajaran matematika harus menggunakan media pembelajaran baik media asli maupun kongkrit, sederhana sehingga mudah dipahami, menarik, menyenangkan dan siswa tidak jenuh. Untuk memperjelas pemahaman siswa maka media di atas harus diupayakan oleh guru termasuk untuk siswa berkebutuhan khusus anak tunagrahita ringan.
Siswa tunagrahita ringan merupakan siswa yang memiliki berbagai gangguan intelektual dengan karakteristik keterbatasan kecerdasan, keterbatasan sosial, keterbatasan fungsi mental, keterbatasan dalam dorongan
1
emosi. Berdasarkan keterbatasan tersebut maka siswa tunagrahita ringan sulit memahami pembelajaran matematika, untuk membantunya diperlukan berbagai media yang dapat membantu pemahaman anak salah satunya dengan menggunakan media tangga bilangan.
Media tangga bilangan adalah sebuah media pembelajaran yang digunakan untuk memberi pemahaman kepada anak tunagrahita ringan, dimana media ini berupa susunan balok yang berjajar dengan susunan jumlah satu balok sampai dengan sepuluh balok sehingga menyerupai suabuah tangga dan dilengkapi juga dengan angka-angka. Di dalam pembelajaran sangat membutuhkan bimbingan dan latihan terhadap siswa, baik siswa normal ataupun siswa berkebutuhan khusus.
Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak dikatakan berkebutuhan khusus jika ada sesuatu yang kurang atau bahkan lebih dalam dirinya. Menurut Heward (2003), anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Adapun jenis-jenis anak berkebutuhan khusus seperti tunanetra (gangguan penglihatan), tunarungu (gangguan pendengaran), tunagrahita (gangguan intelektual), tunadaksa (gangguan gerak/motorik), autis (gangguan pada sistem syaraf pusat), kesulitan belajar dan lamban belajar. Dari berbagai jenis anak berkebutuhan khusus di
atas, peneliti tertarik tentang perkembangan akademik bagi anak tunagrahita rangan.
Anak tunagrahita ringan merupakan salah satu anak luar biasa yang termasuk golongan anak berkelainan mental, kemampuan intelektualnya berada di bawah rata-rata, kemampuan berfikirnya rendah, perhatian dan daya ingatnya lemah, sukar berfikir abstrak, serta tidak mampu berfikir yang logis.
Mereka yang masih mempunyai kemungkinan untuk memperoleh pendidikan dalam bidang, membaca, menulis dan berhitung suatu tingkat tertentu serta dapat mempelajari keterampilan atau permainan. Perhatian dan ingatan anak tunagrahita lemah, tidak dapat memperhatikan sesuatu hal dengan serius dan lama, sebentar saja perhatian anak tunagrahita akan berpindah pada persoalan lain, apalagi dalam hal memperhatikan pelajaran, anak tunagrahita cepat merasa bosan.
Untuk melihat bagaimana proses pembelajaran berhitung 1 sampai 20 pada siswa tunagrahita ringan maka diperlukan metode atau media yang sesuai dengan karakteristik anak seperti media tangga bilangan. Media tangga bilangan menurut Sukayati, (2003) merupakan sebuah mainan edukatif atau media pembelajaran matematika yang digunakan untuk memudahkan siswa dalam aplikasi berhitung. Tangga bilangan merupakan pengembangan media bantu pengajaran dari materi ”tangga bilangan” yang lebih dahulu digunakan dalam proses pembelajaran matematika.
Berdasarkan studi pendahuluan dalam bentuk observasi pada bulan oktober 2018 yang peneliti lakukan di SLB Perwari didapatkan dua orang
siswa laki-laki yang duduk di kelas III. Secara fisik anak tidak bermasalah baik motorik halus maupun motorik kasar tetapi anak mengalami kesulitan dalam akademik, seperti pada mata pelajaran matematika yaitu anak mengalami kesulitan dalam berhitung 1-20. Hal ini terbukti anak belum bisa berhitung 1-20 tetapi anak baru bisa berhitung 1-5 saja dan pola guru mengajar terkesan monoton atau tidak kreatif, guru hanya menggunakan media kartu gambar pada saat pembelajaran.
Selanjutnya untuk memastikan fakta tersebut maka penulis melakukan wawancara dengan guru kelas dimana guru tersebut hanya menggunakan media kartu gambar yang sudah ada sehingga anak merasa bosan dalam proses pembelajaran tersebut. Berdasarkan observasi dan wawancara, peneliti melakukan tes terhadap anak tersebut dimana siswa A dalam berhitung 1-20 hanya bisa menyebutkan angka 1, 2, 3, 5, dan 8 dari 20 tes yang peneliti berikan hanya 3 yang benar atau berhitung secara berurutan sekitar 15%, sedangkan siswa B mampu menyebutkan angka 1, 2, 3, 4, 6, 9 dan 11 dari 20 tes yang peneliti berikan hanya 4 yang benar atau berhitung secara berurutan sekitar 20%, sedangkan tuntutan KKM di sekolah tersebut adalah 75. Maka jelaslah bahwa guru belum berhasil dalam pembelajaran Matematika tentang materi berhitung bilangan 1-20 dikarenakan guru hanya menggunakan media kartu gambar saja dan tidak pernah menggunakan media sesuai dengan kebutuhan anak.
Jadi berdasarkan permasalahan yang di temukan di lapangan, maka peneliti tertarik untuk mengajarkan bagaimana berhitung bilangan 1-20 dengan benar, dengan menggunakan media yang belum pernah dipakai guru saat mengajar dalam pembelajaran Metematika dengan materi pokok berhitung 1-20, penulis akan menggunakan media tangga bilangan.
B. Identifikasi Masalah
1. Anak mudah bosan saat pembelajaran karena media kurang menarik 2. Anak hanya bisa berhitung 1 sampai 4
3. Guru kurang kreatif dalam mencarikan media pembelajaran
C. Batasan Masalah
Agar penulis terarah maka penulis membatasi masalah hanya menggunakan media tangga bilangan dalam meningkatkan kemampuan berhitung 1 sampai 20 bagi anak tunagrahita ringan di SLB Perwari Padang.
D. Tujuan Penelitian
Berkenaan dengan masalah yang diuraikan diatas maka peneliti ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan proses kemampuan berhitung 1 sampai 20 melalui media kartu gambar bagi anak tunagrahita kelas III C di SLB Perwari Padang.
2. Membuktikan apakah kemampuan berhitung bagianaktunagrahita kelas III C di SLB Perwari Padang dapat ditingkatkan dengan media kartu gambar.
E. Manfaat Penelitian 1. Bagi siswa
Menambah khasanah ilmu dalam bidang peningkatan kemampuan matematika untuk anak tunagrahita ringan melalui media tangga bilangan. 2. Bagi guru
Sebagai bahan masukan pada guru dalam meningkatkan Meningkatkan proses kemampuan berhitung1 sampai 20 melalui media tangga bilangan 3. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah SLB untuk meningkatkan kualitas pembelajaran terhadap anak tunagrahita ringan khususnya pada pelajaran matematika
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hakekat Pembelajaran Matematiaka 1. Pengertian Pembelajaran Matematika
Istilah matematika berasal dari kata Yunani “mathein” atau
“manthenein”, yang artinya “mempelajari”. Mungkin juga, kata tersebut erat hubungannya dengan kata Sanskerta “medha” atau “widya” yang artinya “kepandaian”, “ketahuan”, atau “intelegensi”, Halim 2007.
Sedangkan menurut menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (2005) diartikan sebagai mengerjakan hitungan, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Pakasi,S (1970) menyatakan matematika adalah bekerja dengan bilangan, dengan kata lain dalam matematika kita meletakkan hubungan atau relasi antara dua buah bilangan. Menurut Purwoto (1998) matematika adalah pengetahuan yang bersifat hirarkis, artinya tersusun dalam urutan tertentu, bermula dari urutan sederhana kemudian menuju ke hal yang rumit, bermula dari hal yang konkret menuju hal yang abstrak.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan yang bersifat hirarkis, bermula dari urutan sederhana kemudian mejuju hal yang rumit, dari yang konkrit menuju ke hal yang abstrak untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupansehari-hari.
7
Matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah matematika yang dipelajari di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang terdiri dari bagian- bagian matematika yang dipilih guna mengembangkan kemampuan- kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta berpadu kepada perkembangan IPTEK.
2. Tujuan Pembelajaran Matematika Anak Tunagrahita Ringan
Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) kelas III SLB Perwari merumuskan kurikulum matematika sebagai berikut:
a. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan hitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam hidup sehari-hari
b. Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan (transferable)melalui kegiatan matematika
c. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di SLTP PLB tunagrahita ringan
d. Membentuk sifat jujur, cermat, dan disiplin
Dalam perumusan tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah untuk mengembangkan keterampilan berhitung, mengembangkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan, memberikan bekal kemampuan dasar matematika, serta membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif, dan disiplin.
Mengingat kemampuan kognitif anak tunagrahita ringan sangat terbatas, maka pengajaran remedial dipandang perlu sebagai upaya
peningkatan prestasi belajar matematika anak tunagrahita ringan agar tujuan yang ditargetkan/diterapkan dapat tercapai.
3. Manfaat Belajar Matematika
Matematika sebenarnya tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, dalam arti matematika mempunyai kegunaan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari.Hal ini sesuai dengan pendapat Suria sumantri (1998) yang mengatakan bahwa matematika mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari.Semua masalah kehidupan yang membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti, mau tidak mau harus berpaling kepada matematika.
Menurut Purwoto (1998), tujuan siswa belajar matematika adalah agar siswa memiliki sikap dan nilai, teliti, hati-hati, cermat, cerdas, tangkas, terampil, aktif, belajar untuk cinta kepada keindahan, senangkepada keteraturan, jujur pada diri sendiri sehingga mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat.
4. Prestasi Belajar Matematika
Menurut Tirtonagoro (2001),prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar mengajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf,maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.
Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam belajar lazimnya ditunjukkan pada nilai test atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2005).
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa dengan kerja keras, ulet, tekun, sehingga dapat memberikan kepuasan pemenuhan hasrat ingin tahu siswa.
Sedangkan prestasi belajar matematika adalah hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan suatu proses belajar matematika.
Untuk mengungkapkan dan mengukur hasil belajar yang telah dilakukan oleh siswa, perlu dilakukan evaluasi.Menurut Winkel (2001) yang dimaksud dengan evaluasi adalah penentuan sampai seberapa jauh sesuatu berharga, bermutu, atau bernilai. Evaluasi terhadap hasil belajar yang dicapai olehsiswa dan terhadap proses belajar mengajar mengandung penilaian terhadap hasil belajar atau proses belajar itu, sampai seberapa jauh keduanya dapat dinilai baik.
Kegiatan evaluasi meliputi pengukuran dan menilai.Kegiatan mengukur adalah kegiatan untuk menerapkan alat ukur pada suatu objek tertentu. Sedangkan menilai adalah mengambil keputusan terhadapsesuatu dengan cara membandingkan hasil pengukuran dengan suatu kriteria.
5. Materi Pembelajaran Matematika Anak Tunagrahita Ringan
Kurikulum yang digunakan di SLB C adalah menggunakan kurikulum KTSP SLB tahun 2007, adapun materi pelajaran Matematika sesuai dengan GBPP Matematika SLB C Tunagrahita ringan meliputi pokok bahasan: bilangan dan lambang bilangan, nilai tempat, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pecahan, ukuran panjang, ukuran berat, ukuran waktu, ukuran isi, mata uang, dan bangun-
bangun datar yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Materi pembelajaran dalam pelajaran matematika pada penelitian ini tentang penjumlahan dan pengurangan yang ada pada Semester II.
B. Media Pembelajaran
1. Pengertian Media Pembelajaran
Menurut Pupuh (2007:65) menjelaskan bahwa istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium. Secara harfiah media berarti perantara atau pengantar. Dibidang pendidikan, media yang digunakan dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan lebih spesifik dalam proses belajar mengajar kita mengenal istilah media pembelajaran. Media pembelajaran digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang dirumuskan secara khusus.
Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Sejalan dengan perubahan waktu sumber belajar sudah semakin meluas diantaranya buku, gambar atau objek langsung. Dari semula pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat memberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi siswa melalui semua indera, terutama indera pandang dan dengar.
Bila diamati lebih cermat lagi pada mulanya media pembelajaran hanyalah alat untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar. Alat Bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih kongkit, dapat memotivasi serta mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar.
Agar media pembelajaran dirasakan besar manfaatnya maka guru bisa lebih banyak menggunakan waktunya untuk menjalankan fungsinya sebagai penasehat, pembimbing, motivator, fasilitator dalam kegiatan belajar. Sebagai
manajer pembelajaran guru harus mampu menciptakan kondisi sedemikian rupa dalam interaksi antara guru, siswa dan media pembelajaran.
2. Fungsi Media Pembelajaran
Pada mulanya media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu visual dalam kegiatan pembelajaran, yaitu sebagai sarana untuk mendorong motivasi belajar siswa, memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak dan mempertinggi daya serap. Kemudian dengan adanya pengaruh teknologi lahirlah beberapa alat peraga audiovisual yang menekankan pada penggunaan pengalaman yang kongkrit untuk menghindari verbalisme.
Menurut Azhar Arsyad (2007:20). mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, fungsi kompensatoris.
a. Fungsi Atensi
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang menampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik pada materi pelajaran atau mata pelajaran itu merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka sehingga mereka tidak memperhatikan.
b. Fungsi Afektif
Fungsi Afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras.
c. Fungsi Kognitif
Fungsi Kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian
yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
d. Fungsi Kompensatoris
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks bagi siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingat kembali. Dengan kata lain media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.
Sedangkan menurut Pupuh (2007:67) menjelaskan bahwa fungsi media pembelajaran antara lain yaitu: a). Menarik perhatian anak, b). Membantu mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran, c). Memperjelas penyajian pesan agar tidak terkesan verbalistis (kata-kata tertulis atau lisan), d).
Pembelajaran lebih komunikatif dan interaktif, e). Menghilangkan kebosanan anak dalam belajar, f). Meningkatkan motivasi belajar anak dalam mempelajari sesuatu/menimbulkan gairah belajar, g). Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan anak dalam kegiatan pembelajaran.
3. Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. MenurutAzhar Arsyad (2007: 21) manfaat Media Pembelajaran adalah:
a. Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku.
b. Pembelajaran bisa lebih menarik.
c. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik dan pengetahuan,
d. lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat kerana kebnyakan mdia hanya memerlukan waktu sinhkat untuk mengantarkan pesan dam sis pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinanya dapat diserap oleh siswa,
e. Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilaman integrasi kata dan gambar sebagai media pembelajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikn dengan baik, spesifik, dan jelas, f. Pembelajaran dapat diberikan kapan dan dimana diinginkan atau diperlukan
terutama jika media pembelajaran dirancang untuk penggunaan secra individu, g. Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses
belajar dapat ditingkatkan
h. Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif: beban guru untuk menjelaskan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar
Sedangkan menurut Pupuh (2007:65) mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu : a). Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan, b). Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, c). Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, d). Efesiensi dalam waktu dan tenaga, e). Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, f)..Memungkinkan proses
belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, g). Menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar, h)..Merubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif.
Berdasarkan perincian manfaat media di atas dapat diambil satu intisari bahwa media berguna memperlancar proses belajar mengajar sehingga tercipta interaksi multi arah dalam upaya pencapaian standar kurikulum pendidikan.
4. Kriteria Pemilihan media
Dalam memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan.
Kesalahan dalam pemilihan akan membawa akibat panjang yang tidak kita inginkan dikemudian hari. Secara umum Pupuh (2007:68) menjelaskan bahwa kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran diuraikan sebagai berikut:
a.Tujuan
Dengan beraneka jenis media yang ada guru harus menyesuaikan jenis media dengan tujuan yang akan dicapai.
b. Sasaran didik
Karakteristik, dan latar belakang peserta didik merupakan andil yang besar untuk menentukan keberhasilan penggunaan media.
c.Karakteristik Media yang Bersangkutan
Akan menjadi lebih efektif apabila pemilihan media dengan memperhatikan karakteristiknya, agar adanya kesesuaian materi ajar dengan jenis media.
d. Waktu dan Biaya
Semua media tidak mungkin tersedia mengingat biaya untuk media sangat besar dan keterbatasan waktu dalam mengajar tidak terbuang sia-sia pada
pengoperasian media itu sendiri. Diharapkan media yang ada bersifat sederhana, mudah didapat dan sarat dengan pengetahuan.
Pemanfaatan media pada dasarnya dimaksudkan untuk membantu agar kegiatan pembelajaran lebih efektif mencapai tujuan dan efisien dalam hal tenaga, waktu dan biaya. Adalah tugas guru untuk memberdayakan semua komponen pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan media pembelajaran kita antar anak didik mencapai tujuan belajar.
5. Media Tangga Bilangan
a. Pengertian Media Tangga Bilangan
Menurut Ahmad, Abdul Karim H. 2007. Media pembelajaran adalah suatu cara, alat, atau proses yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber pesan ke penerimapesan yang berlangsung dalam proses pembelajran.
Media pembelajaran matematika diartikan sebagai semua benda yang menjadi perantara dalam terjadinya pembelajaran untuk memberikan motivasi kepada siswa agar siswa menjadi senang.
Menurut Sukayati, (2003:14), Tangga bilangan merupakan sebuah mainan edukatif atau media pembelajaran matematika yang digunakan untuk memudahkan siswa dalam aplikasi berhitung. Tangga bilangan merupakan pengembangan media bantu pengajaran dari materi ”tangga bilangan” yang lebih dahulu digunakan dalam proses pembelajaran matematika. Tangga bilangan merupakan suatu materi pembelajaran yang sudah sangat sering digunakan, sebagai contoh permasalahan yang dapat diselesaikan dengan cara rekursi. Secara singkat tangga bilangan adalah cara penyelesaian operasi hitung dengan menggunakan sebuah garis yang terdapat angka-angka secara berurutan.
Dimana cara pengoperasiannya adalah bergerak kesebelah kanan untuk proses menjumlahkan dan ke sebelah kiri untuk pengurangan.
Sedangkan Media tangga bilangan adalah sebuah media pembelajaran yang digunakan untuk memberikan pemahaman kepada anak tunagrahita dimana media ini berupa susunan balok yang berjajar dengan susunan jumlah balok dari 1balok sampai dengan 10 balok (disesuaikan dengan kebutuhan materi), sehingga menyerupai sebuah tangga dan di lengkapi juga angka-angka dari 0 sampai dengan angka 9 sebagai petunjuk. Dimana cara pengoperasiannya adalah dengan menaiki anak tangga tersebut sesuai perintah soal dengan alat bantu miniatur / mainan yang anak sukai.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan media ini adalah kayu.
Dikarenakan ini merupakan alat bantu hitung bagi anak–anak maka didesain sesederhana mungkin dan tidak berbahaya bagi anak tuna grahita. Selain itu penggunaan warna dan bentuk model yang menarik memungkinkan juga merespon semangat belajar bagi anak tunagrahita.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa media tangga bilangan adalah media pembelajaran yang penggunaannya dengan cara menghitung anak tangga (yang tersusun dari balok-balok) dengan menggunakan model.
Gambar 1. Media Tangga Bilangan
b. Penggunaan Media Tangga Bilangan
Menurut Sukayati, (2003:16), Untuk menerapkan konsep operasi menjumlahkan dengan menggunakan media tangga bilangan diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
Memperkenalkan alat Media Tangga Bilangan sebagai alat hitung kepada anak:
1) Melakukan stimulasi secara cermat dan tepat 2) Membimbing anak untuk menggunakannya sendiri 3) Memberi tugas pada anak agar menggunakannya sendiri.
Cara menggunakan atau mengoperasikan Media Tangga Bilangan adalah sebagai berikut:
1) Posisi awal benda yang menjadi model harus berada pada anak tangga pertama dengan angka nol.
2) Model akan naik ke anak tangga selanjutnya sesuai dengan besar bilangan yang diberikan oleh guru.
3) Setelah selesai anak dapat langsung melihat bentuk angka yang ditunjuk atau yang diperintahkan.
Media tangga bilangan, merupakan salah satu media pembelajaran bagi anak tunagrahita ringan yang diharapkan akan meningkatkan kemampuan berhitung. Dalam hal ini hendaknya anak tunagrahita ringan lebih banyak dibawa pada proses langsung sehingga lebih dapat memberikan motivasi dalam belajar serta dapat memunculkan minat belajar pada diri anak.
C. Hakikat Anak Anak Tunagrahita Ringan 1. Pengertian Anak Tunagrahita Ringan
Anak tunagrahita ringan adalah mereka yang masih dapat belajar, membaca, menulis dan berhitung sederhana, Sutjihati Sumantri(1996).
Tunagrahita ringan yaitu mereka yang termasuk kedalam kelompok yang meskipun kecerdasannya dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam pelajaran akademik, Penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja. Dalam matapelajaran akademik mereka pada umumnya mampu mengikuti matapelajaran tingkat sekolah lanjutan baik SLTPLB dan SMLB maupun disekolah biasa dengan program khusus sesuai dengan berat ringannya ketunagrahitaan yang disandangnya, Moh. Amin(1996).
Anak tunagrahita ringan merupakan kondisi yang komplek, menunjukkan kemampuan intelektual yang rendah dan mengalami hambatan dalam prilaku adaptif atau kemampuan seseorang dalam memikul tanggung jawab sosial menurut ukuran norma sosial tertentu, Endang Rochyadi dan Zaenal Alimin(2005:12)
Berdasarkan pendapat diatas, dapat dimaknai bahwa pada dasarnya anak tunagrahita ringan mempunyai IQ berada dibawah rata-rata sekitar 50-70. akan tetapi ia masih bisa mengikuti pelajaran akademik, penyesuaian sosial, mereka dapat bergaul, dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial, tidak saja pada lingkungan yang terbatas tetapi juga pada lingkungan yang paling luas dan bekerja.
2. Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan
Karakteristik merupakan suatu ciri untuk menentukan apakah seorang anak termasuk pada kelompok anak tunagrahita ringan atau tidak, maka melalui
ciri-ciri yang ada dapat memahami dan menentukan langkah pemberian bantuan atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya.
Secara rinci, karakteristik anak tunagrahita ringan dijelaskan oleh Moh Amin (1996) anatara lain sebagai berikut:
a. Kecerdasan
Kecerdasan anak tunagrahita ringan sangat terbatas terutama dalam hal yang bersifat abstrak, mereka banyak belajar cara membeo.
b. Keterbatasan Sosial
Anak tunagrahita ringan dalam memelihara dan memimpin selalu memerlukan bimbingan dan pengawasan dari orang lain.
c. Keterbatasan Fungsi Mental
Anak tunagrahita ringan sukar dalam memusatkan perhatian dan mengalami kesukaran dalam mengungkapkan suatu ingatan.
d. Keterbatasan Dalam Dorongan Emosi
Perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita ringan sesuai dengan ketunaannya.
Sedangkan menurut Bandi Delphie (2006) mengemukakan karakteristik anak tunagrahita meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Mempunyai dasar secara fisiologis, sosial dan emosional sama seperti anak- anak yang tidak menyandang tunagrahita.
b. Selalu bersifat eksternal locus of control sehingga mudah sekali melakukan kesalahan (expectanci for filure)
c. Suka meniru perlakuan yang benar dari orang lain dalam upaya mengatasi kesalahan-kesalan yang mungkin ia lakukan (outerdirectedness).
d. Mempunyai prilaku yang tidak dapat mengatur diri sendiri
e. Mempunyai permasalahan berkaitan dengan prilaku sosial (social behavioral) f. Mempunyai masalah berkaitan dengan karakteristik belajar.
g. Mempunyai masalah dalam bahasa dan pengucapan h. Mempunyai masalah dalam kesehatan fisik.
i. Kurang mampu untuk berkomonikasi.
j. Mempunyai kelainan pada sensori dan gerak
Berdasarkan karaktristik di atas dapat dijelaskan anak tunagrahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang perbendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran berfikir abstrak, tetapi mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik di sekolah biasa maupun di sekolah khusus. Dari ciri-ciri yang ada kita dapat menentukan langkah pemberian layanan yang sesui dengan kemampuan yang dimilikinya.
3. Prinsip Pembelajaran bagi Anak Tunagrahita
Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan maksud untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan efesien guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran.
Adapun prinsip-prinsip pembelajaran untuk anak tunagrahita menurut Direktorat Pendidikan Luar Biasa (2004) antara lain:
a. Prinsip Kasih Sayang
Untuk mengajar Anak Tunagrahita membutuhkan kasih sayang yang tulus dari guru. Guru hendaknya berbahasa yang lembut, penyabar, rela berkorban, ramah, berperilaku baik dan supel sehingga siswa tertarik untuk belajar dan timbul kepercayaan, dan akhirnya siswa bersemangat untuk belajar.
b. Prinsip Keperagaan
Anak Tunagrahita kesulitan dalam berfikir Abstrak, dengan segala keterbatasannya itu siswa lebih mudah tertarik dalam belajar dengan menggunakan benda-benda kongkrit maupun berbagai alat peraga (model) yang sesuai.
c. Prinsip habilitasi dan rehabilitasi
Meskipun dalam bidang akademik Anak Tunagrahita memiliki kemampuan yang terbatas. Namun dalam bidang-bidang lainnya mereka masih memiliki kemampuan atau potensi yang masih dapat dikembangkan (Habilitasi). Rehabilitasi adalah usaha yang dilakukan dengan berbagai macam bentuk dan cara, sedikit demi sedikit mengembalikan kemampuan yang hilang atau belum berfungsi optimal
D. Penelitian Relevan
Penelitian relevan dalam penelitian ini adalah penelitian Herman 2015 dengan judul Meningkatkan Kemampuan Penjumlahan Bilangan Bulat 1-10 Bagi Anak Tunagrahita Ringan Melalui Media Tangga Bilangan Kelas IV di SLB Fan- Redha Padang, Skripsi Jurusan PLB FIP UNP. Penelitian ini relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan di SLB perwari Padang dengan judul meninkatkan kemampuan berhitung 1-20 bagi anak tunagrahita ringan kelas III.
E. Kerangka Berpikir
Uma Sekaran dalam (Sugiyono, 2014) mengemukakan bahwa
“kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting”.Sesuai Dengan Judul Peneliti “Meningkatkan kemampuan berhitung melalui media kartu gambar bagi anak tunagrahita kelas IIIC SLB Perwari Padang
Untuk memperjelas penelitian ini maka dibuat kerangka berpikir seperti bagan di bawah ini:
Pelaksanaan Pembelajaraan
Program pembelajaran matematika SLB Perwari Padang
Pemberian pembelajaran berhitung
Siswa Tunagrahita Guru
Rancangan Pelaksanaan Evaluasi
Kemampuan Siswa Tunargrahita
Metode/Strategi Media/Alat
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki mutu praktek pengajaran di kelas.Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang melaksanakan pencermatan terhadap kegiatan belajar dikelas dengan memunculkan sebuah tindakan atau pendekatan baru, guna meningkatkan kualitas dari kegiatan belajar tersebut.
Menurut MC Sniff dalam (Kusmah, W , Dwitagama, 2010)Penelitian Tindakan Kelas adalah sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangkan keahlian mengajar. Selanjutnya menurut (Kusmah, W , Dwitagama, 2010)Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah
“penelitian yang dilakukan oleh guru dikelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat”.Tujuan penelitian tindakan yakni, untuk meningkatkan praktik, meningkatkan pemahaman praktek oleh praktisinya, serta peningkatan situasitempat pelaksanaan praktek. Grunndy dan Kemmis dalam (Suwarsih, 2006) menyatakan bahwa
24
penelitian tindakan kelas atau dunia kerja lainnya terjadi dikelas yang mana guru sebagai penelitinya.
Dari pendapat di atas dapat dimaknai bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar mengajar berupa suatu tindakan yang sengaja dimunculkan yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil bekerja siswa meningkat. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan guru kelas, mulai dari perumusan masalah hingga penyusunan laporan penelitian. Berdasarkan permasalahan yang ada pada latar belakang maka peneliti ingin memperbaiki proses pembelajaran menggunakan media kartu gambar untuk meningkatkan kempuan berhitung melalui media kartu gambar kelasIII C SLB Perwari Padang.
B. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SLB Perwari Padang yang mana sekolah ini merupakan tempat dimana subjek bersekolah. Peneliti melakukan penelitian pada saat proses belajar mengajar di dalam kelas III C SLB Perwari Padang. Kelas III C memiliki dua siswa dan yang akan menjadi subjek penelitian bagi peneliti.
C. Subjek Penelitian
Menurut (Arikunto, 2006) subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti, yaitu subjek yang menjadi perhatian atau
sasaran peneliti. Penelitian ini merupakan PTK kolaboratif partisipatif, yaitu bekerja sama dengan guru kelas untuk memecahkan permasalahan dalam berhitung pada mata pelajaran matematika di SLB Perwari Padang khususnya untuk siswa tunagrahita ringan kelas III C. Penelitibertindak sebagai pemberi tindakan. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah dua orang anak tunagrahita ringan dan penelitian ini berkolaborasi dengan guru kelas III C.
Anak yang akan menjadi objek tersebut adalah W dan S dalam pelaksanaan penelitian ini melibatkan guru kelas sebagai mintra.
D. Prosedur Penelitian 1. Alur Penelitian
Penelitian ini mengunakan siklus,dimana tiap dalam siklus terdapat tiga tahap yang terdiri dari nperencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
Sebagimana di jelaskan (Zainal, 2013)bahwa penelitian tindakan di pandang “Sebagai siklus spiral terdiri atas empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, observasi atau pengamatan revleksi, kemudian diikuti adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus berikutnya”.
Alur Penelitian Tindakan Kelas
Siklus I
Pelaksanaan tindakan II Menggunakan media tangga bilangan Pelaksanaan tindakan I Menggunakan
mediadalam meningkatkan PERMASALAHAN
Kemampuan yang masih rendah dalam membuat berhitung
Perencanaan
Refleksi I
Merefleksikan peningkatan berhitung, apabila hasilnya belum memuaskan maka dilanjutkan dengan siklus berikutnya
Observasi I Melihat dan mengamati kemampuan anak dalam berhitung
Siklus II
PERMASALAHAN Siswa perlu meningkatkan kemampuan berhitung
Perencanaan
Refleksi II
Dari hasil refleksi terlihat terjadi peningkatan kemampuan anak tunagrahita melaui media tangga bilangan, dilanjutkan dengan pembutan laporan
Observasi II Melihat peningkatan kemampuan anak dalam berhitung
Gambar 3.1 Siklus Penelitian
2. Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus 1 : a. Perencanaan
Tahap ini berupa kegiatan menyusun rancangan tindakan yang akan dilakukan. Perencanaan tindakan ini adalah meningkatkan kemampuan berhitung anak tunagrahita ringan. Adapun kegiatan perencanaan ini:
a. Menyiapkan rencana program pembelajaran (RPP).
b. Membuat lembar observasi
c. Mendesain alat evaluasi untuk menilai kemampuan anak.
d. Menyiapkan pedoman observasi e. Menyiapkan media
b. Pelaksanaan tindakan
Tindakan yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini dengan mengajarkan berhitung dengan benar menggunakan media tangga bilangan yang berkolaborasi dengan guru kelas. Adapun langkah- langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Pada awal pelajaran peneliti menerangkan terlebih dahulu materi yang diajarkan tentang “berhitung ” yang materinya menjelaskan langkah-langkah dalam berhitung .
2) Setelah menerangkan materi, peneliti meminta siswa untuk behitung menggunakan media tangga bilangan.
3) Peneliti bersama siswa akan mempraktekan secara langsung cara berhitung mengunakan media dengan langkah-langkah yang benar.
4) Dikegiatan akhir peneliti bersama siswa mendiskusikan tentang materi yang telah diajarkan dan memberikan penguatan materi dengan menjelaskan kembali secara sekilas. Kemudian guru dan siswa menyimpulkan tentang materi pelajaran bersama-sama.
c. Obsevasi
Pada tahap ini melakukan pengamatan dan mencatat semua yang terjadi selama pelaksanaan tindakan yang dilakukan dengan berpedoman pada format observasi, kegiatan yang akan dilakukan adalah melihat dan mengamati peningkatan kemampuan berhitung melalui media tangga bilangan pada anak tunagrahita ringan. Observasi dilakukan untuk mengamati setiap proses yang terjadi dalam pembelajaran. Pada kegiatan awal guru memasuki kelas lalu membaca salam dan mengajak siswa untuk membaca doa, siswa menjawab salam dan membaca doa bersama guru. Setelah membaca doa dan siswa siap untuk belajar guru menjelaskan materi pelajaran menggunakan media tangga bilangan. Kemudian guru bersama siswa mempraktekkan cara cara berhitung mengunakan media tangga bilangan dengan teknik dan langkah-langkah yang benar Siswa memperhatikan guru cara melakukannya dan siswa langsung mempraktekkannya. Pada kegiatan akhir siswa dan guru mendiskusikan kemampuan berhitung siswa dan memberikan penguatan materi dengan menjelaskan kembali secara
sekilas. Kemudian guru dan siswa menyimpulkan tentang materi pelajaran bersama-sama.
Berdasarkan penjelasan kegiatan di atas maka peneliti dan guru mengamati bagaimana kegiatan siswa dan guru pada setiap tahap dalam proses pembelajaran. Kemudian guru dan peneliti mendiskusikan tentang hal yang harus diperbaiki untuk pertemuan selanjutnya.
d. Refleksi
Hasil yang diperoleh dalam observasi dikumpulkan dan dianalaisis. Kemudian merumuskan tindakan untuk merenungkan keberhasilan dan kegagalan pendekatan media tangga bilangan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berhitung serta merencanakan kegiatan berikutnya atau memperbaiki tindakan pada siklus-siklus yang direncanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim Fathoni dan Moch. (2007). Masykur, Mathematical Intelegence.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Arikunto, Suharsimi.(2005). Menajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Pupuh Faaturrahman dan Sobry Sutikno, 2007, Strategi Belajar Mangajar Melalui Penanaman Konsep Umum dan Islami, Refika Aditama, Bandung.
Sucjihati, S. (2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.
Sukayati. 2003. Media Pembelajaran Matematika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suharsimi, A. (1993). Prosedur Penelitian Suatu Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Suwarsih, M. (2006). Teori Dan Praktek Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
Alfabeta.
Winarsih, M. (2007). Intervensi Dini bagi Anak Tunarungu dalam Pemrolehan.
Jakarta: DEPDIKBUD.
Zainal, A. (2013). Model-Model, Media dan Strategi Pembelajaran Konstektual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.