1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan praktik kesehatan yang diciptakan dengan pengetahuan pribadi, keluarga dan semua anggotanya dapat membantu diri mereka dalam perawatan kesehatan dan menjaga kesehatan serta berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat (PHBS, 2022).
Indikator PHBS yang paling sederhana yait tangan harus dicuci di bawah air mengalir dan sabun harus. Cuci tangan pakai sabun dapat mengurangi separuh jumlah penderita diare (Kody, 2016 dikutip dari Setiani, 2020).
Salah satu kebiasaan kecil yang jarang orang-orang terapkan yaitu kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan atau sesudah memegang benda kotor yang salah satunya dapat menimbulkan diare. Diare adalah (BAB) dengan konsistensi tinja cair dan frekuensi BAB lebih dari tiga kali sehari, kecuali untuk bayi baru lahir (anak <1 bulan) yang diberi ASI, biasanya BAB (5-6 kali sehari) dengan konsistensi tinja yang baik, itu dianggap normal (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Diare yang terjadi pada anak menyebabkan hilangnya cairan tubuh sehingga menyebabkan sehidrasi. Dampak pada masalah tubuh yang muncul ketika duare tidak diobati mengakibatkan hilangnya cairan dan elektrolit dengan tiba-tiba dan dapat menyebabkan kurang nafsu makan pada anak, sehingga penurunan asupan makanan dan diare dapat mengurangi asupan sari makanan pada usus anak yang mengalami diare dan dapat menyebabkan malnutrisi (Intan & Setiawati, 2020). Diare masih
masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat, meskipun pada umum penyakit diare masih naik turun, petugas kesehatan telah melaporkan kematian akibat diare, tetapi penyakit diare sering menimbulkan KLB (kejadian luar biasa) yang relatif besar (M. Saleh dan Lia Hijriani Rachim, 2014). Diare masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat terutama di Indonesia, menunjukkan tingginya angka kematian dan kesakitan akibat penyakit diare, terutama anak dibawah lima tahun, karena sistem kekebalan tubuh yang masih belum sempurna pada usia dini, akibatnya anak menjadi mudah sakit (Trianto, 2018).
Menurut data dari World Health Organization (WHO) Penyakit diare merupakan penyebab kematian kedua pada balita, pada tahun 2019 kematian anak sudah mencapai 370.000 kasus. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menyimpulkan penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia. Di Negara Indonesia prevelensi diare sudah mencapai 9,0% (kisaran 4,2% - 18,9%), dan yang tertinggi di Provinsi NAD (18,9%) dan yang terendah di Yogyakarta (4,2%). Beberapa provinsi memiliki pravelensi diare diantaranya > 9% NAD, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua Barat, dan Papua. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi diare yang terjadi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Penyebab kematian bayi (usia 29 hari – 111 bulan) yang terbanyak adalah diare yaitu sekitar 31,4% begitupun juga pada balita (usia 12-59 bulan) yang terbanyak adalah diare sekitar 25,2% (Kementerian Kesehatan RI, 2018).
Pravelensi di Provinsi Jawa Barat yaitu sudah mencapai 7,4% kejadian diare pada anak balita mencapai 12,8% (Riskesdas, 2018). Kemudian hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukam Prevalensi di Kabupaten Ciamis Tahun 2017-2019. Kabupaten Ciamis menjadi salah satu wilayah bermasalah dengan kasus diare di Provinsi Jawa Barat. Pada jumlah penderita diare sebanyak 30.501 kasus (21,76/1000 penduduk), sedangkan pada tahun 2018 mengalami penurunan menjadi 27.367 kasus (19,43/1000 penduduk) dan pada tahun 2019 mengalami peningkatan menjadi 28.544 kasus (20,13/1000 penduduk).
Dari data diatas menunjukkan bahwa penyakit diare harus segera diobati. Dari segi penumpukan, ada beberapa cara pengobatan diare selain dengan pengunaan teknik farmakoterapi yaitu tersedia terapi komplementer yaitu dengan pemberian madu. Madu sudah dikenal pada zaman dahulu sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit, tetapi pada masa itu madu kurang digunakan dalam pengobatan modern karena banyak ditemukan antibiotik. Madu bisa digunakan untuk mengobati diare karena senyawa antibakteri yang terdapat dalam madu yaitu osmosis, keasaman, dan inhibine. Hasil penelitian menemukan bahwa terapi tambahan madu pada anak untuk menurunkan frekuensi diare telah membuktikan bahwa terapi tambahan madu ini lebih efektif menurunkan frekuensi diare pada anak. Madu yang digunakan dalam penelitian ini adalah madu murni (Suntin, et al,.
2021). Penelitian ini dengan judul “Inovasi Pemberian Madu Untuk Menurunkan Frekuensi BAB Pada Anak Dengan Diare” membuktikan bahwa pemberian madu pada anak dengan diare yaitu selama lima hari dengan dosis madu 5cc dengan ditambahkan larutan air hangat sebanyak 10cc tiga kali sehari, pemberian dilakukan
pada jam (pukul 07.00, 15.00, 21.00) sebelum 2 jam atau 3 jam setelah makan (Sari, 2020 dikutip dari Nurmaningsih, dkk., 2015).
Penelitian yang dilakukan terkait penerapan madu untuk anak dengan diare untuk menurunkan frekuensi BAB oleh Sharif, dkk,. 2017 menunjukkan bahwa madu yang ditambahkan ke larutan oralit dapat memperpendek masa akut pada anak yang berusia 1-5 tahun, untuk pemberiannya (pukul 7.00, 15.00, 21.00) sebelum pengeceran dengan air hingga 10 cc per pemberian. Pemberian harus 2 jam sebelum atau 3 jam setelah makan. Kemudian penelitian yang telah dilakukan oleh Puspitayani & Fatimah (2014) menjelaskan bahwa madu juga memiliki pH yang rendah, hal ini menunjukkan bahwa keasaman dapat menghambat bakteri patogen di usus dan lambung dan terbukti dengan kurun waktu 24 jam, frekuensi diare menurun dan persistensi diare meningkat. Saat memeriksa kondisi anak, kondisi keselurahan semakin tinggi, dan semakin baik (Nurmaningsih dan Rokhaidah, 2019).
Penelitian yang dilakukan terkait penerapan pemberian madu diantaranya oleh (Nurmaningsih dan Rokhaidah, 2019) yang diberi judul “Madu Sebagai Terapi Komplementer Untuk Anak Dengan Diare Akut”. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata frekuensi BAB pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa terdapat penurunan frekuensi BAB sebelum dan setelah intervensi sebesar 6.30, yaitu dari 7.92 turun menjadi 1.62. Hasil uji T diperoleh pvalue= 0.001 dengan 95% CI, 5.04;7.57 yang artinya secara statisik ada perbedaan yang signifikan frekuensi BAB sebelum dan setelah intervensi pada kelompok eksperimen.
Madu adalah cairan alami dan biasanya memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah. Madu telah terbukti memiliki banyak sifat antibakteri, anti-inflamasi dan antioksidan. Suplementasi madu dapat mengurangi kejadian diare karena flavonoid, yang merupakan antioksidan yang terlibat dalam cairan dan elektrolit tubuh. Sementara aksi prebiotik madu meningkatkan pertumbuhan bakteri endogen dan memungkingkan untuk melawan pertumbuhan patogen, antibakteri madu menghasilkan hidrogen peroksida, yang juga melawan pertumbuhan patogen (Putri dan Setiawati, 2020). Kandungan madu merupakan metode yang dipromosikan dalam pengobatan diare, salah satu kandungan nutrisi yang terdapat dalam madu adalah: Karbohidrat, enzim, asam amino, asam organik, mineral, senyawa aromatik, pewarna dan serbuk sari. Madu memiliki efek antibakteri pada bakteri usus penyebab diare seperti Shigella, Salmonella, E.Colli dan Vibrio Cholera.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan studi kasus yang berjudul “ Penerapan Pemberian Madu Pada Anak Usia Balita Dengan Diare Untuk Menurunkan Frekuensi BAB di RSUD Ciamis“ .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai berikut
“Bagaimanakah penerapan pemberian madu dalam asuhan keperawatan pada anak usia balita dengan diare untuk menurunkan frekuensi BAB “.
C. Tujuan Karya Tulis Ilmiah 1. Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran penerapan pemberian madu pada anak diare untuk menurunkan frekuensi BAB
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus yang didapat yaitu :
a. Menggambarkan tahapan pemberian madu pada anak dengan diare.
b. Menggambarkan penerapan madu pada anak dengan diare.
D. Manfaat Karya Tulis Ilmiah 1. Bagi Penulis
Menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan bagi penulis dalam melakukan terapi komplementer.
2. Bagi Rumah Sakit
Bisa menjadi masukkan untuk perawat dalam memberikan intervensi pada pasien diare.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil karya tulis ini bisa dijadikan sebagai bahan bacaan dan referensi untuk mempelajari intervensi pemberian madu yang dapat menurunkan frekuensi BAB pada pasien diare, serta dapat menjadi kerangka perbandingan untuk mengembangkan ilmu keperawatan.
4. Bagi Klien
Dapat menambah pengetahuan dan mengetahui secara umum tentang penyakit diare serta cara perawatan yang baik dan benar sehingga keluarga dapat mudah mengaplikasikan cara perawatan dengan cara memberikan madu pada pasien dengan anak diare.