BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara global, diperkirakan 1,3 miliar orang memiliki gangguan penglihatan. Sehubungan dengan penglihatan jarak, 188,5 juta memiliki gangguan penglihatan ringan, 217 juta memiliki gangguan penglihatan sedang sampai berat, dan 36 juta orang buta. Sedangkan dengan penglihatan dekat, 826 juta orang hidup dengan gangguan penglihatan dekat(World Health Organization, 2018).
Menurut WHO anak-anak yang berusia dibawah 15 tahun diperkirakan sebanyak 19 juta mengalami gangguan penglihatan dan 12 juta diantaranya mengalami kelainan refraksi, skrining kelainan refraksi yang dilakukan di seluruh sekolah dasar di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman Yogyakarta, jumlah sekolah dasar dilakukan skrining adalah 22 Sekolah Dasar dengan jumlah siswa sebanyak 2.622 dari jumlah 2.622 siswa, siswa yang mengalami kelainan refraksi sebanyak 2,32% baik miopia maupun astigmatisme (Lukman, Heriana, 2016).
Sitompul (2015) menyatakan dalam penelitiannya bahwa
”Lensa kontak merupakan alat bantu penglihatan yang diletakan di permukaan kornea untuk memperbaiki gangguan refraksi. Pemakaian lensa kontak memberi kenyamanan beraktivitas, tidak membatasi lapang pandang, dan lebih baik secara estetik.”
Di Amerika Utara tercatat pengguna contact-lens terbanyak sebesar 38juta , kemudian 24 juta berasal dari Asia dan 20 juta pengguna contact-lens berasal dari Eropa. Secara keseluruhan pengguna contact-lens di dunia mencapai 140 juta orang, baik contact-lens untuk kepentingan koreksi ataupun untuk kosmetik (dalam Wakarie dkk, 2014).
Pada tahun 2014, lensa silicone hydrogel menyumbang 68% dari alat kelengkapan lensa kontak yang dilakukan di Amerika Serikat, dibandingkan dengan 24% untuk lensa lunak biasa, 6% untuk kontak permeable kaku dan 1% untuk lensa kontak hybrid . Lensa kontak dengan bahan silicone hydrogel memiliki nilai dk yang jauh lebih baik, melebihi dk yang dicapai dengan hidrogel (Heiting, 2016).
Kataria (2011) menyatakan dalam penelitiannya bahwa ketajaman visual (VA) yang diukur selama 4 jam pemakaian. lensa kontak dengan bahan silicone hydrogel memberikan kinerja visual yang rendah.
Menurut penelitian Diec, yang membandingkan lensa kontak harian silicone hydrogel dengan lensa kontak hydrogel pada 40 pasien ditemukan tidak ada perbedaan antara pengguna silicone hydrogel dan hydrogel (Diec & Optom, 2016).
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa perkembangan fisik, mental, eemosional dan sosial berlangsung pada dekade kedua masa kehidupan (Cahyaningsih, 2011)
Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman di era modern ini banyak remaja terutama kaum hawa yang ingin memperindah atau mempercantik dirinya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengganti kacamata dengan lensa kontak, semakin lama semakin meningkat karena lebih praktis penggunaannya dan tidak berat saat memakai. Lensa kontak memiliki banyak warna yang bisa dipilih sesuai keinginan. (Setianingsih, 2017)
Saat ini penggunaan maupun pembelian lensa kontak sangat mudah terutama untuk kelainan refraksi maupun kosmetik. Dari hasil pengamatan disekitar Kampus STIKes Dharma Husada Bandung. Khususnya mahasiswi yang mengalami kelainan refraksi dan sudah pernah memakai lensa kontak, 100% tidak mengetahui tentang bahan lensa kontak mana yang baik untuk digunakan. Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa mahasiswi yang sering menggunakan lensa kontak, mereka tidak mengetahui bahan lensa kontak apa yang mereka gunakan, sehingga mereka tidak tau apa yang akan terjadi apabila mereka salah memilih bahan lensa kontak, terutama yang memiliki kelainan refraksi. Karena dengan bahan yang berbeda tentu memliki keunggulan dan kekurangan dalam rehabilitas tajam penglihatan, bahan lensa kontak silicone hydrogel memiliki keunggulan yang sangat baik dalam menghasilkan ketajaman visul, dan untuk bahan hydrogel memiliki kekurangan dalam rehabilitas tajam penglihatan, khususnya dalam mengoreksi astigmat.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Perbandingan Tajam Penglihatan Lensa kontak hydrogel dan silicone hydrogel untuk Terapi Miopia”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian, maka penulis dapat merumuskan masalah yaitu “Adakah perbandingan tajam penglihatan pada lensa kontak hydrogel dan silicone hydrogel untuk terapi miopia”.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Perbandingan tajam penglihatan lensa kontak hydrogel dan silicone hydrogel untuk terapi miopia di Stikes Dharma Husada Bandung.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tajam penglihatan terapi miopia sedang yang meggunakan bahan lensa kontak hydrogel.
b. Untuk mengetahui tajam penglihatan terapi miopia sedang yang meggunakan bahan lensa kontak silicone hydrogel.
c. Untuk mengetahui adakah perbedaan tajam penglihatan pada terapi miopia sedang yang menggunakan lensa kontak hydrogel dan silicone hydrogel.
D. Manfaat Peneliti 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi dan pengetahuan tentang perbandingan tajam penglihatan lensa kontak hydrogel dan silicone hydrogel untuk terapi miopia di Stikes Dharma Husada Bandung.
2. Manfaat Praktisi a. Bagi Penulis
Harapan penulis dengan hasil penelitian ini, dapat menjadi informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada tajam penglihatan pada lensa kontak hydrogel dan silicone hydrogel untuk miopia.
b. Bagi Institusi Stikes Dharma Husada Bandung
Diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan khususnya program studi DIII Refraksi Optisi tentang tajam penglihatan pada lensa kontak hydrogel dan silicone hydrogel untuk miopia”.
c. Bagi Tenaga Kesehatan (Refraksi Optisi)
Harapan penulis dengan hasil penelitian ini, dapat menjadi bahan masukan dan landasan bagi profesi optisi.
E. Ruang Lingkup 1. Lingkup Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang masalah yang akan diteliti, yaitu membandingkan tajam penglihatan pada mahasiwa Program Studi DIII Refraksi Optisi tingkat I, II, dan III STIKes Dharma Husada Bandung yang memiliki kelainan refraksi miopia sedang.
2. Lingkup Metode dan Sampel
Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif dengan pendekatan cross sectional, yaitu tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2012). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini mahasiswa Program Studi DIII Refraksi Optisi tingkat I,II dan III kelas reguler angkatan 2019 STIKes Dharma Husada Bandung yang memiliki kelainan refraksi miopia sedang dan sudah pernah menggunakan lensa kontak.
3. Lingkup Keilmuan
Penelitian ini merupakan bidang keilmuan Refraksi Optisi khususnya Lensa Kontak.
3. Lingkup Tempat dan waktu
Penelitian ini dilakukan di Stikes Dharma Husada Bandung.