• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Anak merupakan generasi penerus yang harus mendapat pendidikan dan pembinaan sebaik-baiknya agar mampu mengharumkan nama baik keluarga, agama serta bangsa. Anak generasi penerus yang membangun bangsa salah satunya yaitu anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam belajar, interaksi sosial, perkembangan mental dan intelektual.

Anak tunagrahita (retardasi mental) merupakan anak yang mempunyai hambatan dalam perkembangan mental maupun intelektual yang mengganggu proses pertumbuhan dibanding anak pada umumnya sehingga memerlukan perhatian khusus dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sosial. Meskipun anak tunagrahita mempunyai hambatan dalam beraktivitas tetapi anak tersebut tetap membutuhkan pendidikan yang layak dalam proses belajar.

SLB Shanti Yoga merupakan salah satu sekolah luar bisa yang menyediakan sarana pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus penyandang tunagrahita.

Sekolah yang berada di Klaten ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat sehingga banyak orang tua menyekolahkan anaknya yang menyandang tunagrahita pada SLB tersebut. SLB Shanti Yoga memberikan pelayanan pendidikan pada siswa spesialis penyandang tunagrahita ringan, sedang maupun berat. Pada sekolah tersebut memberikan pendidikan yang berbeda pada setiap klasifikasi siswa tunagrahita. Siswa tunagrahita ringan mempunyai kesulitan dalam berfikir abstrak tetapi mampu mengikuti kegiatan akademik dalam batas

(2)

tertentu. Pada siswa tunagrahita sedang mempunyai kesulitan dalam menerima pelajaran akademik yang harus dilatih untuk mandiri terutama dalam merawat diri sendiri. Sedangkan siswa tunagrahita berat harus di rehabilitasi sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam menentukan klasifikasi tunagrahita bukan hal yang mudah karena harus mempelajari perilaku terhadap siswa. Demikian pula yang dialami oleh SLB Shanti Yoga dalam penempatan kelas siswa dibagi berdasarkan klasifikasi ringan, sedang dan berat, maka dari itu para guru harus melakukan observasi selama tiga bulan untuk menganalisa klasifikasi siswa berkebutuhan khusus tunagrahita.

Namun para guru masih mengalami kesulitan dalam menentukan klasifikasi siswa setelah dilakukannya observasi. Dalam menentukan klasifikasi siswa sebaiknya sekolah menyediakan orang yang ahli yaitu psikolog atau psikiater, namun di SLB Shanti Yoga tidak tersedia tenaga ahli tersebut.

Salah satu penelitian yang dijadikan referensi penulis adalah penelitian Triara Puspitasari, Boko Susilo, dan Funny Farady Coastera yang membuat penelitian tentang Implementasi Metode Dempster-Shafer Dalam Sistem Pakar Diagnosa Anak Tunagrahita Berbasis Web. Penelitian ini dilatar belakangi oleh keterbatasan anak tunagrahita dari segi mental intelektual dibawah rata-rata normal sehingga mengalami kesulitan terutama dari tugas akademik, komunikasi, interaksi sosial sehingga memerlukan pelayanan pendidikan yang khusus. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk membangun sistem pakar untuk diagnosa anak tunagrahita berbasis web. Metode yang digunakan yaitu model waterfall dan perancangan sistem menggunakan Data Flow Diagram (DFD). Hasil sistem pakar ini yaitu nilai kesimpulan dan klasifikasi tunagrahita yang dialami oleh penderita

(3)

yang lebih akurat. Dari uji kelayakan sistem yang dilakukan menggunakan kuesioner yang diperoleh baik dengan presentase variabel 52,50%, variabel kemudahan pengguna 41,6%, variabel kinerja sistem 45,00% dan variabel isi 48,33% (Puspitasari dkk, 2016).

Dari paparan yang telah dijelaskan maka dibangunlah sistem pakar untuk memberikan kemudahan pada SLB Shanti Yoga dalam mendiagnosa klasifikasi tunagrahita sesuai dengan gejala yang berjudul Sistem Pakar Klasifikasi Siswa Tunagrahita Pada SLB Shanti Yoga Klaten Menggunakan Metode Naive Bayes.

1.2.Identifikasi Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, terdapat beberapa masalah yang muncul adalah sebagai berikut:

1. Guru SLB Shanti Yoga mengalami kesulitan dalam menentukan tingkat klasifikasi siswa tunagrahita untuk penempatan kelas pada SLB Shanti Yoga.

2. Belum tersedia sumber daya manusia (psikolog dan psikiater) yang ahli dalam mengklasifikasi tunagrahita.

3. Belum terdapat fasilitas sistem pakar sebagai media dalam menentukan klasifikasi anak tunagrahita di SLB Shanti Yoga.

1.3.Perumusan Masalah

Berdasarkan paparan identifikasi permasalahan diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

(4)

1. Bagaimana membangun sistem pakar yang digunakan untuk mengklasifikasi siswa tunagrahita?

2. Bagaimana sistem pakar yang dibangun dapat membantu guru ataupun pengelola pada SLB Shanti Yoga?

3. Bagaimana sistem pakar mengidentifikasi klasifikasi tunagrahita dengan akurat sehingga sesuai dengan keputusan psikolog ataupu psikiater?

1.4.Maksud dan Tujuan

Pembuatan sistem pakar dalam mengklasifikasikan siswa tunagrahita mempunyai maksud yaitu:

1. Membangun pakar untuk mengklasifikasikan siswa tunagrahita pada SLB Shanti Yoga.

2. Membangun sistem untuk membantu guru SLB Shanti Yoga dalam menentukan kelas yang sesuai dengan klasifikasi siswa tunagrahita dengan tepat.

Sedangkan tujuan membangun sistem pakar sebagai berikut:

1. Membangun sistem pakar untuk mengklasifikasi siswa tunagrahita.

2. Sistem pakar dibagun untuk membantu guru atau pengelola SLB Shanti Yoga sesuai dengan kebutuhan yang telah dianalisa.

3. Sistem pakar dapat mengidentifikasi siswa tunagrahita dengan akurat.

1.5.Metode Penelitian

Metode penelitian digunakan untuk pengumpulan data dalam membangun sistem pakar. Adapaun penulis menggunakan teknik penelitian sebagai berikut:

(5)

1.5.1. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Dalam mengumpulkan data, penulis melakukan pengamatan secara langsung pada SLB Shanti Yoga. Obyek yang diamati adalah proses belajar mengajar antara guru dengan siswa di kelas observasi selama tiga bulan. Hasil dalam teknik pengumpulan data ini yaitu terdapat 135 siswa penyandang tunagrahita pada SLB Shanti Yoga. Kelas yang melakukan observasi untuk menganalisa gajala siswa adalah kelas observasi. Didalam kelas tersebut jumlah siswa rata- rata 20 orang.

2. Wawancara

Untuk mengetahui klasifikasi anak tunagrahita, penulis melakukan wawancara kepada kepala sekolah dan guru yang mengajar di kelas observasi yang dapat menilai kriteria setiap anak tunagrahita. Selain wawancara dengan pihak sekolah, penulis juga melakukan wawancara dengan pihak rumah sakit yaitu 4 pakar yang merupakan psikolog dan dokter spesialis kejiwaan. Hasil yang diperoleh dalam teknik wawancara yaitu di SLB Shanti Yoga dalam mengelompokkan siswa untuk penempatan kelas sesuai dengan tingkat klasifikasi tunagrahita. Dan hasil dari wawancara terhadap dokter dan psikolog yaitu terdapat 47 gejala tunagrahita.

3. Studi Pustaka

Dalam memperoleh data penulis mendapatkan informasi dari berbagai sumber yaitu dengan membaca buku, jurnal, karya ilmiah maupun browsing di

(6)

internet mengenai sistem pakar, anak tunagrahita, pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, metode yang digunakan serta teori pendukung lainnya yang berkaitan dengan pembahasan dalam hal pembangunan sistem.

1.5.2. Model Pengembangan Sistem 1.5.2.1.Pengembangan Pakar

Pengembangan pakar dalam pembuatan sistem pakar klasifikasi siswa tunagrahita menggunakan metode naive bayes. Sistem pakar ini digunakan untuk mendeteksi tingkat klasifikasi tunagrahita ringan, sedang ataupun berat. Data mengenai klasifikasi tunagrahita dan gejala-gejala dalam setiap klasifikasi tunagrahita dibutuhkan dalam pembuatan sistem pakar ini. Dalam pengolahan data metode naive bayes menggunakan seluruh data siswa SLB Shanti Yoga yang berjumlah 135 data siswa, selain itu menggunakan 47 gejala yang bersumber dari buku, jurnal dan hasil wawancara pakar.

1.5.2.2.Pengembangan Software

Pembuatan sistem pakar dalam mengklasifikasi anak tunagrahita menggunakan metode pengembangan perangkat lunak yaitu metode air terjun (waterfall). Metode air terjun merupakan model yang sistematis serta mempunyai alur hidup klasik, menyediakan pendekatan perangkat lunak secara terurut yang terdiri dari lima tahap dimulai dari analisis kebutuhan perangkat lunak (software), desain, code generation, pengujian (testing), dan pendukung atau pemeliharaan (support) (Sukamto dan Shalahuddin, 2014:28).

1. Analisa Kebutuhan Perangkat Lunak (Software)

(7)

Pada tahap awal, penulis memulai dengan menganalisa sistem yang dijadikan dasar dalam membuat sistem pakar mengklasifikasikan anak tunagrahita yaitu melalui observasi serta wawancara yang dilakukan secara langsung pada SLB Shanti Yoga.

2. Desain

Setelah selesai menganalisis kebutuhan, dalam proses ini penulis fokus membuat desain tampilan program, representasi antamuka serta struktur data yang dijadikan rancanagan dalam membangun sistem.

3. Code Generation

Pada tahap ketiga penulis melakukan pengkodean program dengan beberapa bahasa pemrograman seperti html, php, javascript, css dan dalam membuat database menggunakan mysql sehingga dari perpaduan tersebut dapat

dihasilkan program berbasis komputer sesuai dengan desain yang telah dirancang pada tahap kedua.

4. Testing

Program sistem pakar yang telah dibangun selanjutnya diuji dengan menggunakan pengujian whitebox testing untuk mengetahui tingkat kemampuan program sehingga dapat dipastikan tingkat keberhasilannya.

5. Support

Support digunakan untuk memberikan jaminan jika terjadi kemungkinan

kesalahan (error) ketika sedang dijalankan. Selain itu, support dapat dilakukan dengan cara backup data secara berkala dan pengembangan sistem sesuai dengan kebutuhan.

(8)

1.6.Ruang Lingkup

Ruang lingkup masalah dijadikan batasan penulis dalam membatasi pokok bahasan mengenai sistem pakar yang dibuat antara lain:

1. Sistem pakar mendiagnosa klasifikasi siswa tunagrahita berdasarkan data gejala-gejala yang timbul.

2. Sistem pakar memberikan solusi berdasarkan hasil klasifikasi yang diperoleh.

3. Metode yang digunakan dalam membuat sistem pakar yaitu naive bayes.

4. Sistem pakar pengklasifikasian siswa tunagrahita hanya digunakan oleh SLB Shanti Yoga dan tidak dipublikasikan.

Referensi

Dokumen terkait

Using this method, the researcher has to explain and focused on the process by trying to understand how the teacher assesses the students speaking online.. The results in this