1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kitchen set (peralatan dapur) merupakan salah satu perabot rumah yang sering kali mendapat perhatian khusus. Dengan desain yang menarik, kitchen set juga bisa menjadi elemen estetik interior rumah, terlepas dari fungsi utamanya yaitu sebagai pelengkap ruang dapur. Oleh karena itu, desain kitchen set modern, vintage dan minimalis tidak lagi disembunyikan, tetapi justru lebih ditampilkan (Santosa & Irnanda, 2010). Dalam memasarkan interior kitchen set perlu adanya media promosi dimana promosi bertujuan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengomunikasikan manfaat dari produknya dan meyakinkan konsumen agar tertarik untuk membeli (Rangkuti, 2009).
Promosi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengomunikasikan manfaat dari produknya dan untuk meyakinkan konsumen agar membeli produknya. Promosi disini sebagai salah satu variable dalam satuan pemasaran yang sangat penting dilaksanakaan oleh perusahaan dalam memasarkan produk-produk barang dan jasa. Dimana promosi merupakan serangkaian teknik yang digunakan untuk mencapai sasaran penjualan atau pemasaran dengan penggunaan biaya yang efektif, dengan memberikan nilai tambah pada produk atau jasa baik kepada para perantara maupun pemakai langsung (Rangkuti, 2009).
Salah satu bentuk media promosi kitchen set ditoko Marble Kitchen Set Bandung dengan menggunakan media brosur. Kelemahan kegiatan promosi
dengan menggunakan media brosur sangat bergantung pada jumlah orang tetapi dalam menjangkau dikalangan umum masih sangat sedikit karena tidak semua kalangan umum mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari penyebaran media brosur ini (Sopian, 2016).
Marble Kitchen Set Bandung adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kitchen set dengan beragam model yang menggunakan bahan mentah yang berkualitas. Untuk media promosi, selama ini yang dilakukan oleh Marble Kitchen Set adalah menawarkan desain kitchen set kepada konsumen hanya dengan memperlihatkan gambar 2D-nya melalui website dan melalui katalog atau brosur. Strategi pemasaran yang seperti itu saat ini masih kurang menarik minat konsumen terhadap desain kitchen set yang ditawarkan.
Dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality, konsumen akan melihat tampilan 3D desain kitchen set yang terdapat pada katalog atau brosur, sehingga kitchen set yang tampil akan terlihat lebih detail dan nyata.
Augmented Reality (AR) adalah pengalaman menakjubkan yang menampilkan langsung tampilan objek 3D virtual pada pengguna tentang lingkungan nyata disekitarnya yang menghasilkan ilusi bahwa benda-benda virtual itu ada diruang itu. AR menghubungkan penggunanya dengan orang lain, lokasi, dan objek disekitar (Azuma, 2017). Hal ini membuat realitas tertambah sesuai sebagai alat untuk membantu persepsi dan interaksi penggunanya dengan dunia nyata. Informasi yang ditampilkan oleh benda maya membantu pengguna melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam dunia nyata (Nugroho & Pramono, 2017).
Pemanfaatan teknologi Augmented Reality ini telah banyak digunakan di berbagai bidang. Khususnya dalam bidang perdagangan, Augmented Reality ini dapat digunakan sebagai teknologi dalam mempromosikan berbagai produk.
Kebanyakan perusahaan menggunakan katalog atau brosur sebagai media untuk mempromosikan produk mereka. Tetapi dengan teknologi Augmented Reality ini dapat dirancang sebuah katalog atau brosur yang sangat menarik dan bersifat interaktif. Pengembang dapat merancang sebuah brosur virtual yang dapat memberikan informasi produk yang lengkap secara 3D, sehingga konsumen dapat mengetahui secara jelas berbagai produk yang ditawarkan. Maka, munculah sebuah teknologi baru dalam bidang perdagangan yang memanfaatkan teknologi Augmented Reality sehingga menghasilkan suatu brosur interaktif yang dapat membuat suatu proses bisnis dalam melakukan promosi produk menjadi lebih efektif (Rumajar, Lumenta, & Sugiarso, 2015).
Untuk memanfaatkan kelebihan dari Augmented reality dalam memvisualisasikan suatu promosi produk, perlu adanya aplikasi yang dapat menampilkan model interior 3D dalam lingkungan Augmented Reality diantaranya Unity 3D dan Vuforia sehingga pada tahap ini memiliki metode baru yang lebih interaktif dengan memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang saat ini.
Aplikasi unity 3D adalah game engine merupakan sebuah software pengolah gambar, grafik, suara, input, dan lain-lain yang ditujukan untuk membuat suatu game, meskipun tidak selamanya harus untuk game. Contohnya adalah seperti materi pembelajaran untuk simulasi membuat SIM. Kelebihan dari game engine ini adalah bisa membuat gameberbasis 3D maupun 2D, dan sangat mudah digunakan.Unity merupakan game engine yang multiplatform.Unity mampu di
publish menjadi Standalone (.exe), berbasisweb, Android, IoS Iphone, XBOX, dan PS3.Walau bisa dipublish ke berbagai platform, Unity perlu adanya lisensi untuk dapat dipublish ke platform tertentu. Tetapi Unity menyediakan untuk free user dan bisa di publish dalam bentuk Standalone (.exe) dan web. Untuk saat ini Unity sedang di kembangkan berbasis AR (Augmented Reality).
Unity bukan software game engine baru, sehingga banyak tutorial yang tersebar luas, bahkan banyak game dan tutorial untuk Unity yang telah beredar.
Unity cepat berkembang dikarenakan bisa free user dan banyak di implementasikan ke berbagai platform disamping banyaknya tutorial yang bisa dengan mudah dicari. Dengan Unity 3D kita dapat membuat game 3D, FPS dan 2D game bahkan Game Online. Sedangkan Vuforia adalah Augmented Reality Software Development Kit (SDK) untuk perangkat mobile yang memungkinkan pembuatan aplikasi AR. SDK Vuforia juga tersedia untuk digabungkan dengan Unity yaitu bernama Vuforia AR Extension for Unity. Vuforia merupakan SDK yang disediakan oleh Qualcomm untuk membantu para developer membuat aplikasi-aplikasi Augmented Reality (AR) di mobile phones IOS atau ANDROID (Nugroho et al., 2017).
1.2. Identifikasi Permasalahan
Identifikasi permasalahan dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Tampilan katalog pada website resmi Marble Kithen Set yang kurang menarik serta terbatasnya sudut pandang calon pembeli terhadap desain kitchen set yang terlihat pada brosur yang menampilkan gambar 2D.
2. Belum adanya suatu media promosi berupa animasi interaktif yang menampilkan gambar kitchen set dengan sudut pandang 3D.
1.3. Perumusuan Masalah
Perumusan masalah dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Bagaimana cara agar marketing lebih mudah memvisualisasikan model desain kitchen set dalam memasarkan desain interior?
2. Bagaimana merancang media pemasaran untuk desain kitchen set dengan teknologi Augmented Reality yang dapat berjalan pada smartphone berbasis Android?
1.4. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Membantu marketing untuk memvisualisasikan model desain kitchen set dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality, desain kitchen set pada katalog akan terlihat jadi gambar 3D sehingga desain kitchen set lebih detail dan nyata.
2. Mengimplementasikan teknologi Augmented Reality dalam bidang pemasaran di Marble Kitchen Set.
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Untuk mempermudah marketing dalam memvisualisasikan model desain kitchen set dalam memasarkan desain interior.
2. Merancang media pemasaran untuk desain kitchen set dengan teknologi Augmented Reality pada smartphone berbasis Android.
1.5. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan penulis dalam pembuatan aplikasi ini adalah metode pengumpulan data dan metode pengembangan sistem. Hal ini dilakukan agar dalam tahap pengerjaan berjalan dengan baik dan sesuai prosedur.
1.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam pembuatan aplikasi ini adalah:
1. Observasi
Pada tahap observasi penulis berkunjung ke toko Marble Kitchen Set untuk mengamati desain dan tipe-tipe kitchen set di toko tersebut.
2. Wawancara
Pada tahap wawancara penulis bertanya kepada salah satu marketing di toko Marble Kitchen Set tentang strategi pemasaran dan media yang digunakan untuk pemasaran toko Marble Kitchen Set.
3. Studi Pustaka
Pada tahap studi pustaka penulis mengkaji beberapa penelitian sebelumnya tentang Augmented Reality, membaca buku referensi dan browsing di internet untuk bahan penelitian.
1.5.2 Metode Pengembangan Aplikasi
Metode yang digunakan pada pengembangan aplikasi Augmented Reality ini menggunakan metode waterfall. Metode ini adalah metode yang paling banyak digunakan oleh para pengembang software (Muharto & Ambarita, 2016). Ada 5 tahap dalam metode waterfall antara lain:
1. Analisa Kebutuhan
Analisa kebutuhan terdiri dari dua bagian yaitu analisa kebutuhan hardware dan analisa kebutuhan software. Hardware yang digunakan yaitu Dell 12HKL0Q Intel(R) Core(TM) i5-2520M CPU @ 2.50 GHz dan RAM 8 GB.
Software yang digunakan yaitu Sistem Operasi Windows 10, Unity 3D, Google Sketch Up, Vuforia SDK, Vray dan Corel Draw X7.
2. Desain
Pada tahap desain penulis merancang tampilan untuk antarmuka aplikasi dan desain interior kitchen set dalam bentuk 3D.
3. Code Generation
Pada tahap Code Generation penulis menggunakan bahasa pemrograman C# untuk membuat aplikasi Augmented Reality berbasis Android.
4. Testing
Testing untuk aplikasi ini penulis menggunakan Blackbox testing. Blackbox testing digunakan untuk mengetahui apakah aplikasi yang dibuat berjalan dengan semestinya saat aplikasi ini dijalankan
5. Implementasi
Implementasi merupakan tahapan yang dilakukan setelah melakukan analisa kebutuhan, desain, code generation dan testing dimana aplikasi siap dioperasikan pada keadaan yang sebenarnya. Sehingga dari sini akan diketahui apakah aplikasi benar-benar dapat menghasilkan output yang sesuai dengan yang diinginkan.
1.6. Ruang Lingkup
Penulisan skripsi ini membahas mengenai perancangan dan pembuatan aplikasi Augmented Reality berbasis Android dengan batasan masalah sebagai berikut:
1. Aplikasi ini hanya berjalan pada smartphone dengan sistem operasi Android 4.4 (KitKat).
2. Aplikasi ini berfungsi untuk menampilkan desain interior dan furniture dalam bentuk 3D.
3. Pengguna aplikasi pada penelitian ini khususnya ditujukan kepada sales &
custumer.