• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu hal yang penting bagi manusia, termasuk kesehatan tidur yang mempengaruhi tubuh. Tidur merupakan suatu kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua orang (Zaini, 2013). Tidur dianggap penting karena proses tidur merupakan proses yang diperlukan oleh manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel yang rusak (Natural Healing Mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat maupun menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh (Wulandari, Kepel, & Rompas, 2015). Oleh karena itu, apabila seseorang tidak dapat melakukan proses tidur dengan baik, maka orang tersebut dicurigai mengalami gangguan tidur (Permana, 2013).

Jumlah keseluruhan penderita penyakit gangguan tidur yang terjadi di Indonesia diperkirakan mencapai 10%, yaitu sekitar 23 juta jiwa penduduk (Diana, Tanto, & Vita, 2016). Di Indonesia gangguan tidur menyebabkan rasa mengantuk sepanjang hari, yang mana mengantuk merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kecelakaan, mudah jatuh, serta penurunan stamina pada seseorang (Rompas, 2013).

Penelitian di China menyebutkan bahwa 23.5% melaporkan pola tidur yang buruk, 26.2% tidak merasa puas dengan masa tidurnya, 16.1% mengalami insomnia, dan 17.9% mengantuk pada siang hari yang menyebabkan gangguan konsentrasi dan proses belajar (Lukmasari, dkk, 2017). Perubahan-perubahan pada siklus biologis, menurunnya daya tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung,

(2)

depresi, kelalahan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain (Handayani & Udani, 2016).

Salah satu cara untuk menyelesaikan masalah tersebut saat ini adalah dengan melakukan konsultasi kepada seorang pakar. Konsultasi terhadap seseorang yang memiliki kemampuan khusus di bidang tertentu dalam menyelesaikan suatu permasalahan merupakan pilihan tepat guna mendapatkan jawaban, saran, solusi, keputusan atau kesimpulan terbaik (Fuad, Boko, & Diyah, 2016). Kegiatan konsultasi dalam bidang medis bisa dilakukan dengan cara bertatap muka, namun hal ini dapat menimbulkan masalah jika orang yang ingin berkonsultasi diharuskan bertemu misalnya karena kesibukan atau jarak dan tempat (Tullah, Ramdhan, &

Mubarak, 2017). Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, salah satunya adalah penerapan sistem pakar. Sistem pakar mampu memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang pakar dengan menggunakan basis pengetahuan, fakta dan teknik penalaran (Verina, 2015). Dengan adanya sistem pakar, orang dapat berkonsultasi layaknya kepada seorang pakar tanpa harus menemuinya secara langsung.

Sebelumnya terdapat juga beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan metode forward chaining, yaitu Sistem Pakar Penentu Bakat Anak (Salisah, Lidya, & Defit, 2015). Metode forward chaining akan bekerja dengan baik ketika problem bermula dari mengumpulkan atau menyatukan informasi, lalu kemudian mencari kesimpulan apa yang dapat diambil dari informasi tersebut (Herdiawiranata, Putrama, & Wirawan, 2018). Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis

(3)

berniat untuk merancang sistem pakar berbasis web dengan judul “Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Gangguan Tidur Menggunakan Metode Forward Chaining”.

1.2. Identifikasi Permasalahan

Bedasarkan paparan latar belakang, maka dapat diindentifikasikan permasalahannya bahwa minimnya pengetahuan mengenai penyakit gangguan tidur dikalangan masyarakat saat ini, dan kurangnya media bagi masyarakat untuk berkonsultasi mengenai penyakit gangguan tidur sehingga menyita banyak waktu untuk berkonsultasi secara langsung.

1.3. Perumusan Masalah

Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian mengenai sistem pakar untuk prediksi diagnosa penyakit gangguan tidur adalah sebagai berikut:

1. Apa saja faktor-faktor yang harus diperhatikan pada metode forward chaining serta penyakit gangguan tidur apa saja yang akan muncul pada penelitian ini?

2. Bagaimana cara merangkai faktor-faktor yang ada untuk dapat menghasilkan sebuah sistem pakar berbasis web?

3. Bagaimana tingkat akurasi dari sistem yang dibuat?

(4)

1.4. Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud dari pembuatan skripsi ini adalah:

1. Mengetahui jenis dan gejala-gejala dari penyakit gangguan tidur yang dapat didiagnosis.

2. Mengimplementasikan metode forward chaining ke dalam web yang dapat mendiagnosa penyakit gangguan tidur dengan benar.

Tujuan dari penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan pada program Strata Satu (S1) untuk jurusan Teknik Informatika di Universitas BSI Bandung.

1.5. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode Analisis Deskriptif yaitu metode yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai objek yang sedang diteliti dan kemudian diadakan analisa terhadap objek penelitian tersebut.

1.5.1. Teknik Pengumpulan Data

Cara yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian skripsi ini adalah:

A. Observasi

Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses mendiagnosa penyakit gangguan tidur oleh pakar secara langsung agar kemudian dapat diterjemahkan dalam pembuatan sistem dengan baik.

(5)

B. Wawancara

Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan mewawancarai kepada 3 pakar dengan cara berkonsultasi langsung guna mendapatkan informasi mengenai klasifikasi, gejala, kemungkinan-kemungkinan komplikasi dan penanganan penderita penyakit gangguan tidur.

C. Studi Pustaka

Dalam mendukung penelitian dan pengumpulan data ini, penulis mengumpulkan beberapa referensi yang memiliki keterkaitan dengan penelitian guna menghasilkan penelitian yang baik.

1.5.2. Metode Pengembangan Aplikasi

Metode pengembangan aplikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode waterfall. Metode ini sering dinamakan siklus hidup klasik (classic life cycle), dimana hal ini menggambarkan pendekatan yang sistematis dan juga berurutan pada pengembangan perangkat lunak, dimulai dengan spesifikasi kebutuhan pengguna, lalu berlanjut melalui tahap-tahap perencanaan (planning), permodelan (modeling), konstruksi (construction), serta penyerahan sistem ke pelanggan/pengguna (deployment) yang diakhiri dengan dukungan pada perangkat lunak lengkap yang dihasilkan (Muhammad, Elis, & Guntur, 2017). Berikut merupakan tahapan-tahapan penggunaan model waterfall yang penulis gunakan pada penyusunan skripsi ini:

(6)

A. Requirements System Analysis

Tahap ini merupakan pengembangan dari pengumpulan data-data sebagai bahan pengembang sistem. Dalam tahap ini, penulis melakukan sebuah wawancara, observasi dan kuesioner.

B. Design

Proses desain adalah proses multi langkah yang berfokus pada empat atribut, yaitu struktur data, arsitektur, perangkat lunak, representasi interface dan detail procedural. Proses desain menterjemahkan hasil analisis ke dalam representasi perangkat lunak.

C. Code Generation

Tahap pengkodean merupakan penterjemahan dari desain ke dalam program perangkat lunak. Pada tahap ini kode program akan bergantung pada hasil desain perangkat lunak pada tahap sebelumnya.

D. Testing

Setelah pengkodean, dilanjutkan dengan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat. Pengujian dilakukan untuk mengetahui kesesuaian hasil output dari sistem dengan kebutuhan yang telah dirancang pada tahap analisis.

(7)

1.6. Ruang Lingkup

Ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Mendiagnosa penyakit gangguan tidur berdasarkan gejala yang dialami oleh user.dengan menggunakan metode forward chainsing.

2. Membuat website yang ditulis dengan bahasa pemrograman PHP (Hypertext Preprocessor), HTML (Hypertext Markup Language), CSS (Cascading Style Sheet) dan MySQL sebagai databasenya.

Referensi

Dokumen terkait

DEVELOPMENT ASSESSMENT UNIT MEETING 27 APRIL, 2021 Development Standard Proposal Compliance 1 A consent authority must not consent to development to which this Division applies

Algoritma dan metode sequential Search yang digunakan sangat cocok digunakan dalam aplikasi kamus bahasa Indonesia Karo karena dapat menerjemahkan kata yang dicari dengan cepat, apabila