• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Industri perbankan memiliki peranan signifikan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dan menciptakan pemerataan pada suatu negara. Perbankan berperan penting terhadap pergerakan roda perekonomian di Indonesia. Bank harus mempunyai kemampuan dalam menjalankan fungsi utamanya secara optimal sebagai lembaga intermediasi keuangan, dimana berpengaruh besar pada pertumbuhan perekonomian pada suatu negara.

Hal ini menggambarkan bahwa kegiatan utama suatu bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup rakyat. Bank merupakan lembaga intermediasi masyarakat sekaligus penunjang perkembangan ekonomi sehingga pengelolaan bank harus seimbang antara rentabilitas, likuiditas dan kecukupan modal (Ambarita, 2015) dalam Evi Nur Fadillah (2018).

Bank menjadi penting dalam kegiatan ekonomi masyarakat dan negara. Sektor perbankan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian suatu negara. Bank merupakan industri dimana kunci utama dari kegiatan usahanya adalah kepercayaan dari masyarakat. Bank perlu menjaga kinerja agar tetap pada kondisi baik atau sehat. Turunnya kinerja bank dapat

(2)

menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat. Kepercayaan masyarakat juga diperlukan karena keterbatasan bank dalam memiliki memiliki uang tunai untuk membayar kewajiban kepada seluruh nasabahnya sekaligus.

Sektor perbankan berpengaruh terhadap kuatnya fundamental perekonomian nasional. Peran dan fungsi bank diatur dalam peraturan undang- undang. Menurut Ade dan Edia (2006), berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998 dimana perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut pada bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Sementara itu bank menurut Kasmir (2008) adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya. Pengertian bank menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa bank merupakan lembaga keuangan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Industri perbankan merupakan suatu jenis industri yang sangat sarat dengan risiko-risiko karena melibatkan pengelolaan uang milik masyarakat yang sifatnya sewaktu-waktu dapat ditarik kembali untuk diputar dalam bentuk berbagai investasi, seperti pemberian kredit, pembelian surat-surat berharga dan penanaman dana lainnya (Isnaisyah, 2011) dalam Arif Lukman Santoso (2013).

(3)

Dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat dan mampu berkembang serta bersaing secara nasional maupun internasional, bank perlu mengelola likuiditas sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Pengalaman krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 menunjukkan bahwa meskipun permodalan bank memadai namun apabila bank tidak mengelola likuiditasnya secara berhati-hati maka dapat mengganggu kelangsungan usaha bank (Ringkasan Eksekutif POJK No. 50/POJK.03/2017).

Likuiditas merupakan kemampuan manajemen bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi kewajibannya setiap saat (Taswan, 2010). Bank sebagai lembaga kepercayaan bagi masyarakat harus bisa mengelola likuiditas secara baik terutama ditujukan untuk memperkecil risiko likuiditas yang disebabkan oleh adanya kekurangan dana. Dalam mengelola likuiditas selalu akan terjadi benturan kepentingan antara keputusan untuk menjaga likuiditas dan meningkatkan pendapatan. Menurut Astuti (1995) dalam Gladys Rosadaria (2012), bagi suatu bank masalah likuiditas merupakan lebih berbahaya dibandingkan dengan kondisi bank yang memberikan pelayanan kurang baik terhadap nasabah. Masalah likuiditas bagi suatu bank sangat penting karena likuiditas dapat dianggap sebagai cerminan kepercayaan nasabah terhadap bank.

Bank yang selalu berhati-hati dalam menjaga likuiditas akan cenderung memelihara alat likuiditasnya yang relatif lebih besar dari yang diperlukannya dengan maksud untuk menghindari kesulitan likuiditas. Namun di sisi lain bank juga dihadapkan pada biaya yang besar berkaitan dengan

(4)

pemeliharaan alat likuiditas yang berlebihan. Dana yang menganggur mengakibatkan biaya yang dikeluarkan oleh bank lebih besar dari penerimaan yang didapat dari penerimaan bunga untuk kredit yang diberikan kepada nasabah.

Contoh yang lainnya, pada saat suatu perusahaan akan menarik dana yang dibutuhkan, harus diketahui lebih dahulu untuk berapa lama dana itu akan dipergunakan di dalam perusahaan. Penarikan dana yang dibutuhkan didasarkan kepada ketentuan bahwa dana yang dibutuhkan itu hendaknya ditarik untuk jangka waktu yang sesuai dengan penggunaan dana tersebut di dalam perusahaan atau jangka waktu terikatnya dana dalam aktiva yang akan dibiayai dengan dana tersebut. Karena itu perlu adanya pemenuhan kebutuhan dana dalam setiap perusahaan.

Menurut Kuncoro dan Suhardjono (2011), dana bank yang digunakan sebagai modal operasional dalam kegiatan usahanya dapat bersumber dari dana sendiri (dana pihak pertama), dana pinjaman dari pihak di luar bank (dana pihak kedua) dan dana masyarakat (dana pihak ketiga). Dana sendiri didapat dari modal yang disetor, cadangan-cadangan, dan laba yang ditahan. Dana pihak kedua didapat dari pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lain baik di dalam atau di luar negeri, dan pinjaman dari bank sentral. Sedangkan dana masyarakat adalah dana-dana yang didapat dari masyarakat baik perorangan maupun badan usaha melalui instrumen produk-produk perbankan.

Pendapatan pada sisi pasiva harus mampu memenuhi kewajiban kepada nasabah setiap simpanan mereka yang ada di bank, ditarik pada sisi aktiva bank harus menyanggupi pencairan kredit yang telah diperjanjikan. Supaya bank

(5)

tidak terjadi kelebihan atau kekurangan dana bank perlu mengatur dananya secara terencana dan tepat karena efek kelebihan maupun kekurangan dana kedua- duanya tidak menguntungkan bagi bank.

Keberhasilan bank dalam manajemen likuiditas dapat diketahui pada (Irsad Andriyanto, 2014) :

1. Kemampuan memprediksi kebutuhan dana di waktu yang akan datang.

2. Kemampuan untuk memenuhi permintaan akan cash dengan menukarkan harta lancarnya.

3. Kemampuan memperoleh cash secara mudah dengan biaya yang sedikit.

4. Kemampuan pendapatan pergerakan cash in dan cash out dana.

5. Kemampuan untuk memenuhi kewajibannya tanpa harus mencairkan aktiva tetap apapun kedalam cash.

Berdasarkan surat edaran kepada semua bank umum di Indonesia oleh Bank Indonesia Nomor 11/16/DPNP yang berlaku sejak tanggal 6 Juli 2009 mengenai Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko Likuiditas dimana Bank dapat memastikan kecukupan dana secara harian baik dalam kondisi normal maupun kondisi krisis dalam memenuhi kewajiban secara tepat waktu. Melalui pengelolaan likuiditas yang baik bank dapat memberikan keyakinan kepada para penyimpan dana bahwa mereka dapat menarik dananya sewaktu-waktu pada saat jatuh tempo, untuk itulah analisis likuiditas sangat penting dan bank harus dapat mempertahankan likuiditasnya.

Menurut Lukman Dendawijaya (2005) menegaskan bahwa likuiditas suatu bank dapat diukur dari Loan to Deposit Rasio (LDR). LDR adalah rasio

(6)

antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. LDR memperlihatkan hubungan antara DPK dengan kredit. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) akan berpengaruh pada besarnya penyaluran kredit, hal ini sejalan juga akan mempengaruhi LDR (Martha Novalina Ambaroita, 2015).

Bank Indonesia selaku otoritas moneter menetapkan batas LDR yang ideal berada pada tingkat 75 % - 85 % dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP.

Dengan menghitung LDR, bank dapat mengetahui serta menilai sampai berapa jauh bank memiliki kondisi sehat dalam menjalankan operasi atau kegiatan usahanya. Dengan kata lain LDR digunakan sebagai suatu indikator

untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu bank (Nurul Fitria, 2012).

LDR menunjukkan seberapa likuid suatu bank. Semakin tinggi tingkat LDR, menunjukkan kondisi likuiditas bank tersebut semakin tidak likuid. Artinya perbankan akan kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, seperti penarikan dana oleh nasabah terhadap simpanannya yang dilakukan secara tiba- tiba. Sementara itu, semakin rendah LDR suatu bank, maka bank tersebut semakin likuid. Akan tetapi kondisi likuiditas yang semakin likuid mengindikasikan banyak dana yang menganggur sehingga memperkecil kesempatan bank untuk mendapatkan penerimaan dari bunga kredit yang seharusnya bisa disalurkan, sehingga fungsi bank sebagai lembaga intermediasi belum dapat tercapai dengan baik. Maka dari itu, keseimbangan likuiditas perlu dijaga supaya tidak melebihi batas atas maupun kurang dari batas bawah dari tingkat LDR yang telah ditentukan oleh pemerintah (Agustina dan Anthony Wijaya, 2013).

(7)

Dalam kegiatan operasional bank, modal juga merupakan suatu faktor yang penting dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat. Modal bank dapat juga digunakan untuk menjaga kemungkinan timbulnya risiko, diantaranya risiko yang timbul dari kredit itu sendiri. Untuk menanggulangi kemungkinan risiko yang terjadi, maka suatu bank harus menyediakan penyediaan modal minimum.

Fungsi utama modal bank memenuhi kebutuhan minimum dan untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan (Dahlan Siamat, 2005). Dengan kata lain, Capital Adequecy Ratio (CAR) merupakan tingkat kecukupan modal yang dimiliki bank dalam menyediakan dana dan untuk keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank. Semakin tinggi nilai CAR mengindikasikan bahwa bank telah mempunyai modal yang cukup baik dalam menunjang kebutuhannya serta menanggung risiko-risiko yang ditimbulkan termasuk didalamnya risiko kredit. Dengan modal yang besar maka suatu bank dapat menyalurkan kredit lebih banyak, sejalan dengan kredit yang meningkat maka akan meningkatkan LDR itu sendiri. Sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia, besarnya CAR yang harus dicapai oleh suatu bank minimal 8 %. Angka tersebut merupakan penyesuaian dari ketentuan yang berlaku secara internasional berdasarkan standar Bank for International Settlement (BIS).

Faktor berikutnya yang mempengaruhi penilaian kinerja bank adalah Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional atau disebut juga dengan BOPO. Bank harus melakukan perbandingan antara jumlah biaya operasional dan

(8)

juga pendapatan operasional yang diperolehnya. Menurut Lukman Dendawijaya (2005), BOPO merupakan rasio antara biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Biaya operasioal merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka menjalankan aktivitas usaha pokoknya. Pendapatan operasional merupakan pendapatan utama bank yaitu pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan penempatan operasi lainnya.

Jika biaya operasional besar namun hanya menghasilkan pendapatan operasional yang sedikit, maka bank tersebut tergolong tidak efisien dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Di lain pihak, biaya operasional yang besar nantinya akan mengurangi jumlah laba bersih yang dapat diperoleh karena biaya operasional merupakan faktor pengurang dalam laporan laba rugi. Nilai rasio BOPO bank yang tinggi menunjukkan bahwa bank tersebut tidak beroperasi dengan efisien sehingga kemungkinan suatu bank dalam dalam kondisi bermasalah semakin besar. Nilai rasio BOPO yang ideal berada antara 50 % - 75 % sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.

Perbankan pada umumnya juga tidak dapat dipisahkan dari yang namanya risiko kredit karena tidak lancarnya nasabah untuk membayar utangnya.

Kredit macet tersebut digambarkan oleh NPL atau Non Performing Loan.

Semakin besar tingkat NPL, menunjukkan bahwa bank tersebut tidak profesional dalam pengelolaan kreditnya (Selamet, 2006) dalam Gladys Rosadaria (2012).

Kredit bermasalah yang tinggi dapat menimbulkan keengganan bank untuk menyalurkan kredit karena harus membentuk cadangan penghapusan yang besar, sehingga mengurangi jumlah kredit yang diberikan oleh suatu bank dimana

(9)

nantinya akan mempengaruhi rasio LDR itu sendiri (Martha Novalina Ambaroita, 2015). Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, tingkat NPL maksimum suatu bank adalah sebesar 5 %. Apabila bank melebihi batas yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka bank tersebut dikatakan tidak sehat.

Faktor yang tak kalah penting dari likuiditas suatu bank adalah penilaian tingkat rentabilitas. Rentabilitas sendiri merupakan ukuran untuk mengukur seberapa besar keuntungan yang diperoleh oleh bank dalam mengelola sebanyak total aset yang dimilikinya. Rasio yang digunakan dalam rentabilitas bank adalah Return on Asset (ROA). Laba suatu bank mutlak harus ada untuk menjamin kontinuitas bank tersebut. Tetapi bank yang hanya mengejar rentabilitas yang tinggi, besar kemungkinan posisi likuiditasnya terancam. Sebaliknya, jika alat-alat likuid menumpuk, penawaran dana bertambah yang mengakibatkan menurunnya rentabilitas.

Total aset digunakan untuk mengukur seberapa besar sebuah bank juga menjadi salah satu indikator untuk mengukur tingkat likuiditas karena struktur aset akan berpengaruh pada besarnya laba yang dihasilkan. Apabila porsi terbesar aset adalah penyaluran kredit, maka piutang penyaluran kredit, dan apabila porsi kredit tidak lancarnya besar, maka akan berpengaruh terhadap pendapatan bank sehingga akan menyebabkan penurunan modal, maka dari itu setiap adanya peningkatan aset atau total aset akan menyebabkan penurunan likuiditas.

PT. Bank DKI yang lebih dikenal dengan Bank DKI merupakan Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang

(10)

kepemilikan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan PD Pasar Jaya, yang menyediakan layanan jasa perbankan sebagaimana Bank Umum lainnya. Dengan visinya menjadi bank terbaik yang membanggakan, Bank DKI berupaya menjalankan misinya yaitu bank berkinerja unggul, mitra strategis dunia usaha, masyarakat, dan andalan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memberi nilai tambah bagi stakeholder melalui pelayanan terpadu dan profesional. Bank DKI harus mampu mengelola risiko pada setiap aktivitas operasional dan non operasional sebagai cerminan dari bank berkinerja unggul (www.bankdki.co.id).

Bank DKI mendapatkan sumber dana dari masyararakat dalam bentuk simpanan berupa Giro, Deposito, dan Tabungan. Di sisi lain, penggunaan dana dari masyarakat tersebut digunakan dengan memberikan kredit kepada masyarakat dan juga di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti kredit investasi, kredit modal kerja, atau pun kredit konsumtif. Dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemegang saham terbesar, salah satunya dalam penambahan modal, akan memperkuat profil likuiditas Bank DKI. Dukungan likuiditas yang kuat ini membuat Bank DKI siap bersaing dan semakin kuat di masa datang, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat semakin terjaga.

(11)

Tabel 1.1

Rasio Kinerja LDR, CAR, NPL, ROA, BOPO dan Aset antara Bank DKI dan Bank BUKU 3

Periode LDR CAR BOPO NPL ROA Aset

(dalam Miliar Rupiah)

Bank

DKI BUKU 3 Bank

DKI BUKU 3 Bank

DKI BUKU 3 Bank DKI

BUKU 3

Bank DKI

BUKU 3

Bank

DKI BUKU 3

2014 92,57 % 96,99 % 17,96 % 17,04 % 80,26 % 84,67 % 2,92 % 1,88 % 2,10 % 1,78 % 36.436 1.762.813 2015 91,14 % 99,37 % 24,53 % 23,30 % 90,99 % 90,70 % 4,23 % 1,87 % 0,89 % 1,25 % 38.638 2.248.668 2016 87,41 % 95,96 % 29,79 % 24,86 % 77,82 % 89,33 % 2,75 % 1,99 % 2,29 % 1,41 % 40.567 2.410.748 2017 70,77 % 96,63 % 28,77 % 24,85 % 76,97 % 86,08 % 2,31 % 1,62 % 2,04 % 1,77 % 51.417 2.463.522 2018 93,04 % 101,53 % 28,62 % 25,72 % 76,86 % 86,00 % 1,95 % 1,70 % 2,19 % 1,82 % 53.028 2.697.941

Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (OJK) dan Laporan Keuangan PT. Bank DKI

Terlihat pada Tabel 1.1 di atas dimana nilai Loan Deposit Ratio (LDR) Bank DKI mengalami penurunan dari 92,57 % pada tahun 2014 menjadi 70,77 % pada tahun 2017 dan kembali naik menjadi 93,04 % pada tahun 2018. Secara keseluruhan pada periode tahun 2014 – 2018 LDR Bank DKI menunjukkan tren fluktuasi yang naik. Hal ini menunjukkan kondisi Bank DKI yang likuid dengan rata-rata LDR sebesar 86.99 % dimana masuk ke kriteria penilaian peringkat cukup sehat. Sebaliknya, jika dibandingkan pada rata-rata bank dalam klasifikasi Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 3 dimana Bank DKI telah termasuk di dalamnya sejak tahun 2015, rata-rata LDR Bank BUKU 3 mengalami kecenderungan berfluktuasi menaik. Dapat dilihat diawali dari tahun 2014 rata- rata LDR Bank BUKU 3 sebesar 96,99 % terus bergerak naik sehingga Bank BUKU 3 mencapai rata-rata LDR tertinggi pada tahun 2018 yaitu sebesar 101,53 % yang menunjukkan rata-rata likuiditas Bank BUKU 3 dalam peringkat kurang sehat. Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa periode

(12)

tahun 2014 – 2018 Bank DKI yang juga termasuk dalam Bank BUKU 3 dapat bersaing dan menjaga likuiditas di kelasnya, dengan menunjukkan kinerja likuiditas Bank DKI yang masih lebih baik dibandingkan kinerja likuiditas Bank BUKU 3. Oleh karena itu perlu diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas Bank DKI guna menjaga kinerja operasional Bank DKI pada periode berikutnya.

Nilai CAR Bank DKI mengalami kecenderungan berfluktuasi naik pada periode tahun 2014 – 2018. Kenaikan yang besar terjadi dari semula sebesar 17,96 % pada tahun 2014 menjadi sebesar 24,53 % pada tahun 2015 tetapi LDR Bank DKI turun menjadi sebesar 91,14 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika CAR naik seharusnya LDR juga ikut naik. Pada tahun 2016 CAR naik menjadi sebesar 29,79 % tetapi LDR turun menjadi sebesar 87,41 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika CAR naik seharusnya LDR juga ikut naik. Pada tahun 2017 CAR turun menjadi sebesar 28,77 % dan LDR ikut turun menjadi sebesar 70,77 %. CAR pada tahun 2018 turun menjadi sebesar 28,62 % tetapi LDR naik menjadi sebesar 93,04 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika CAR turun seharusnya LDR juga ikut turun. Rata-rata CAR Bank DKI selama periode 2014 – 2018 sebesar 25,93 %, sedangkan rata-rata CAR Bank BUKU 3 sebesar 23,15 %. Hal ini menunjukkan kinerja Bank DKI yang lebih baik dibandingkan Bank BUKU 3 secara rata-rata dalam menjaga rasio permodalan.

Pada periode tahun 2014 – 2018 nilai BOPO Bank DKI mengalami kecenderungan berfluktuasi turun. Pada tahun 2014 BOPO sebesar 80,26 %. Pada

(13)

tahun 2015 BOPO naik menjadi sebesar 90,99 % dan LDR turun menjadi sebesar 91,14 %. BOPO pada tahun 2016 turun menjadi sebesar 77,82 % tetapi LDR ikut turun menjadi sebesar 87,41 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika BOPO turun seharusnya LDR akan naik. BOPO pada tahun 2017 turun menjadi sebesar 76,97 % tetapi LDR ikut turun menjadi sebesar 70,77 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika BOPO turun seharusnya LDR akan naik. Pada tahun 2018, BOPO turun menjadi sebesar 76,86 % dan LDR naik menjadi sebesar 93,04 %. Hal ini sesuai teori dimana turunnya BOPO diikuti dengan naiknya LDR. Rata-rata BOPO Bank DKI selama periode 2014 – 2018 sebesar 80,58 %, sedangkan rata-rata BOPO Bank BUKU 3 sebesar 87,36 %.

Hal ini menunjukkan kinerja Bank DKI yang lebih efisien dibandingkan Bank BUKU 3 secara rata-rata dalam melakukan kegiatan operasionalnya.

Nilai NPL Bank DKI pada periode tahun 2014 – 2018 mengalami kecenderungan berfluktuasi turun. Pada tahun 2014 NPL sebesar 2,92 %. Pada tahun 2015 rata-rata NPL naik menjadi sebesar 4,23 % dan LDR turun menjadi sebesar 91,14 %. NPL pada tahun 2016 turun menjadi sebesar 2,75 % tetapi LDR ikut turun menjadi sebesar 87,41 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika NPL turun seharusnya LDR akan naik. NPL pada tahun 2017 turun menjadi sebesar 2,31 % tetapi LDR ikut turun menjadi sebesar 70,77 %.

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika NPL turun seharusnya LDR akan naik. Pada tahun 2018 NPL turun menjadi sebesar 1,95 % dan LDR naik menjadi sebesar 93,04 %. Hal ini sesuai teori dimana jika NPL turun maka akan diikuti dengan naiknya LDR. Rata-rata NPL Bank DKI selama periode

(14)

2014 – 2018 sebesar 2,83 %, sedangkan rata-rata NPL Bank BUKU 3 sebesar 1,83 %. Hal ini menunjukkan baik Bank DKI maupun Bank BUKU 3 dapat mengendalikan rasio kredit bermasalah dengan baik.

Nilai ROA Bank DKI mengalami kecenderungan berfluktuasi naik pada periode tahun 2014 – 2018. Pada tahun 2014 ROA sebesar 2,10 %. ROA turun menjadi sebesar 0,89 % pada tahun 2015 dan LDR ikut turun menjadi sebesar 91,14 %. ROA pada tahun 2016 naik menjadi sebesar 2,29 % tetapi LDR ikut turun menjadi sebesar 87,41 %. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika ROA naik seharusnya LDR juga akan naik. ROA pada tahun 2017 turun menjadi sebesar 2,04 % dan LDR ikut turun menjadi sebesar 70,77 %.

Pada tahun 2018 ROA naik menjadi sebesar 2,19 % dan LDR ikut naik menjadi sebesar 93,04 %. Hal ini sesuai teori dimana naiknya ROA juga diikuti dengan naiknya LDR. Rata-rata ROA Bank DKI selama periode 2014 – 2018 sebesar 1,90 %, sedangkan rata-rata ROA Bank BUKU 3 sebesar 1,61 %. Hal ini menunjukkan kinerja Bank DKI yang lebih baik dibandingkan Bank BUKU 3 secara rata-rata dalam kemampuannya menghasilkan laba.

Besar Total Aset Bank DKI mengalami kecenderungan berfluktuasi

naik pada periode tahun 2014 – 2018. Pada tahun 2014 besar Total Aset sebesar Rp 36.436 miliar. Total Aset mengalami kenaikan sebesar 6,00 % pada tahun

2015 menjadi Rp 38.638 miliar tetapi LDR turun menjadi sebesar 91,14 %.

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika Total Aset naik

seharusnya LDR juga akan ikut naik. Total Aset pada tahun 2016 naik menjadi Rp 40.467 miliar atau sebesar 5,00 % tetapi LDR turun menjadi sebesar 87,41 %.

(15)

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika Total Aset naik seharusnya LDR juga akan ikut naik. Total Aset pada tahun 2017 naik sebesar 26,7 % atau menjadi sebesar Rp 51.417 miliar tetapi LDR turun menjadi sebesar 70,77 %.

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan jika Total Aset naik seharusnya LDR juga akan ikut naik. Pada tahun 2018 Total Aset naik menjadi sebesar Rp 53.028 miliar atau sebesar 3,13 % dan LDR naik menjadi sebesar 93,04 %.

Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan jika Total Aset naik maka LDR juga akan ikut naik. Secara keseluruhan selama periode 2014 – 2018 keduanya Bank DKI maupun Bank BUKU 3 secara rata-rata menunjukkan tren nilai Total Aset yang menaik beriringan juga dengan naiknya nilai LDR keduanya, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan jika Total Aset naik maka LDR juga akan ikut naik.

Berdasarkan uraian di atas tampak fenomena gap pada seluruh variabel. Hubungan antara CAR, ROA, dan Total Aset tidak menunjukkan arah yang sama terhadap LDR. Sedangkan antara NPL dan BOPO menunjukkan arah yang sama dimana seharusnya menunjukkan arah yang berbeda terhadap LDR.

Karena itu, penulis merasa perlu mengetahui lebih jauh bagaimana tentang manajemen likuiditas pada Bank DKI, guna melihat faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas di Bank DKI, yang kemudian dapat digunakan oleh bank sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang. Maka dalam hal ini, penulis mengambil judul “Analisis Pengaruh CAR, BOPO, NPL, ROA, dan Total Aset Terhadap LDR pada Bank DKI (Periode 2014 – 2018)”

(16)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan pada hal sebagai berikut :

1. Apakah Capital Adequacy Rasio (CAR) berpengaruh positif terhadap LDR pada Bank DKI?

2. Apakah Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negatif terhadap LDR pada Bank DKI?

3. Apakah Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap LDR pada Bank DKI?

4. Apakah Return on Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap LDR pada Bank DKI?

5. Apakah Total Aset berpengaruh positif terhadap LDR pada Bank DKI?

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan dan latar belakang masalah yang dijelaskan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Capital Adequacy Rasio (CAR) terhadap LDR pada Bank DKI.

2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh negatif Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap LDR pada Bank DKI.

3. Mengetahui dan menganalisis pengaruh negatif Non Performing Loan (NPL) terhadap LDR pada Bank DKI.

(17)

4. Mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Return on Asset (ROA) terhadap LDR pada Bank DKI.

5. Mengetahui dan menganalisis pengaruh positif Total Aset terhadap LDR pada Bank DKI.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Manajemen Bank DKI

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan mitigasi risiko bagi pihak manajemen dalam pengambilan keputusan yang bersifat keuangan. Selain itu ialah sebagai bahan informasi dan masukan bagi manajemen perusahaan atau bank dalam rangka pengambilan langkah-langkah kebijaksanaan pada waktu mendatang terkait pengelolaan likuiditas sehingga Bank DKI dapat lebih bersaing dengan bank umum lainnya serta akan semakin dipercaya masyarakat sebagai bank terbaik yang membanggakan.

1.4.2. Bagi Pemerintah Provinsi

Memberikan gambaran tentang kinerja keuangan dan penilaian tingkat kesehatan Bank DKI dari segi likuiditas, sehingga dapat menjadi acuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemegang saham pengendali bank dalam mengambil keputusan memberikan dukungan kepada Bank DKI pada permodalan.

(18)

1.4.3. Bagi Nasabah

Dengan lebih memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kesehatan umum bank, maka dapat digunakan sebagai dasar bagi nasabah bahwa Bank DKI merupakan bank pilihan masyarakat serta pemain penting di industri perbankan nasional yang dapat memenuhi pelayanan dan kewajibannya terhadap nasabahnya.

1.4.4. Bagi Akademis

Dapat menambah sumber referensi dan sebagai bahan masukan serta informasi bagi peneliti selanjutnya sehingga diharapkan hasilnya lebih baik dari peneliti terdahulu.

1.5. Sistematika Penelitian

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika penelitian.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan tentang tinjauan pustaka yang berisi landasan teori, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, serta hipotesa yang mejelaskan teori-teori yang berhubungan dengan pokok pembahasan dan penelitian terdahulu dan menjadi dasar acuan teori yang digunakan dalam analisa penelitian ini.

(19)

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan tentang metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian. Selain itu dijelaskan variabel penelitian, metode pengambilan sample, jenis data yang digunakan beserta sumbernya, teknik pengumpulan data, dan metode analisis yang digunakan untuk menganalisis hasil pengujian sampel.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan tentang gambaran umum obyek penelitian, statistik deskriptif, uji asumsi klasik, hasil regresi linear, uji hipotesis, pembahasan hasil penelitian dan implikasi majerial.

BAB V : PENUTUP

Bab ini menguraikan tentang simpulan atas hasil pembahasan analisis data penelitian dan saran-saran yang bermanfaat untuk penelitian selanjutnya

Referensi

Dokumen terkait