1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam perkembangan perekonomian sekarang ini, dunia usaha sudah mengalami kemajuan yang pesat serta diiringi dengan tingkat persaingan yang sangat ketat (Budiwati et al., 2018). Hal ini terlihat dari banyaknya perusahaan- perusahaan yang bermunculan, baik perusahaan nasional milik pemerintah, perusahaan swasta nasional maupun perusahaan swasta milik asing. Kemajuan teknologi yang semakin meningkat juga menjadi salah satu faktor yang membuat persaingan di era globasisasi ini semakin ketat (Pratama & Wiksuana, 2016). Salah satu sektor usaha yang mengalami persaingan yang cukup ketat adalah sektor transportasi dan pergudangan di karenakan pertumbuhan usaha sektor tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup baik, hal ini di dukung dengan berita sebagai berikut :
Menurut lapangan usaha, rilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor transportasi dan pergudangan pada triwulan II 2017 tumbuh 8,37 persen. Laju pertumbuhan ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 7,65 persen.
Kenaikan ini diperkirakan akibat kenaikan aktivitas transportasi dan perdagangan online dalam beberapa tahun terakhir. Senada dengan ini, dilansir dalam laman Asosiasi Logistik Indonesia menyebutkan pertumbuhan pengiriman JNE mulai tahun 2010 sampai dengan akhir tahun lalu konsisten mencapai 30 persen.
Saat ini jumlah pengiriman paket setiap bulannya rata-rata 16 juta paket. Dan sekitar 60 sampai 70 persen pengiriman JNE adalah dari paket e-commerce.
Sedangkan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) mencatat pada akhir tahun lalu, perputaran uang di pasar logistik sekitar Rp 2.443 triliun, yang mencakup pengiriman e-commerce, ekspres, dan paket logistik.
Melihat perkembangan ini, Asperindo memperkirakan nilai transaksi e-commerce mencapai USD 130 juta pada tahun 2020, yang berimbas pada peningkatan pasar logistik sebesar Rp 2.433 triliun. Saat ini menurut data Asperindo, ada sekitar 35.000 gerai tempat penitipan barang yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini belum termasuk gerai milik Pos Indonesia dan Bhanda Ghara Reksa.
Maraknya perdagangan dan transportasi online, serta media sosial di tanah air membuat sektor transportasi dan pergudangan semakin menjanjikan dan semakin berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi (Saputra, 2017).
Berdasarkan berita diatas pertumbuhan usaha sektor transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan sebesar 8,37 persen. Pertumbuhan usaha ini diperkiraan akibat meningkatnya kegiatan transportasi dan perdagangan online yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan sektor ini juga di tunjukan dengan meningkatnya jumlah gerai penitipan barang (pergudangan) yang mencapai 35.000 gerai hal ini membuat sektor usaha transportasi dan pergudangan sangat menjajikan untuk di jadikan usaha.
Badan Pusat statistik juga merilis data tentang laju pertumbuahan produk domestik bruto berdasarkan lapangan usahanya periode 2017- 2019 yang di rilis pada tanggal 08 may 2019. Berikut laju pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan periode 2017-2019 :
Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)
Gambar I.1. laju pertumbuhan usaha sektor transportasi dan pergudangan 0:001:12
2:243:36 4:486:00 7:128:24 10:489:36
Triwulan I
Triwulan II
Triwulan III
Triwulan IV
Tahunan Triwulan I
Triwulan II
Triwulan III
Triwulan IV
Tahunan Triwulan I
2017 2018 2019
Laju Pertumbuhan Triwulanan terhadap Triwulan yang Sama Tahun Sebelumnya (y-on-y) [Seri 2010] Laju Pertumbuhan PDB Seri 2010 (Persen)
Transportasi dan Pergudangan
Berdasarkan Gambar I.1. mengenai laju pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan periode 2017- 2019 mengalami pertumbuhan setiap periodenya laju pertumbuhan paling tinggi terjadi pada triwulan ke tiga tahun 2017 dimana laju pertumbuhan mencapai 8,21% periode setelahnya sektor transportasi dan pergudangan tetap mengalami laju pertumbuhan meskipun tidak mencapai persentase pada triwulan ke tiga tahun 2017 namun rata rata laju pertumbuhan pada periode 2017-2019 berada di 5% setiap periodenya.
Pada dasarnya pertumbuhan perusahaan seperti ini baik untuk mendongkrak perekonominan negara, namun di sisi lain dengan bertumbuhnya sebuah sektor usaha akan menyebabkan persaingan yang ketat dan kondisi persaingan yang ketat seperti ini mengakibatkan jatuh bangun sebuah perusahaan (Poluan & Nugroho, 2015). perusahaan yang tidak dapat bersaingan dalam persaingan akan mengalami kerugian yang berdampak kepada masalah keuangan yang menyebabkan sebuah perusahaan mengalami kebangkrutan. Dikutip dari berita industri kementrian perindustriaan Republik Indonesia Sarman Simanjorang wakil ketua kamar dagang dan industri menyebutkan bahwa ada sekitar 60 perusahaan terancam mengalami kebangkrutan (Berita industri, 2018). Ancaman kebangkrutan tidak hanya mengancam perusahaan swasta tetapi juga mengancam badan usaha milik negara hal ini di perkuat dengan berita dari Kementrian badan usaha milik negara yang diwakilkan oleh Aloysius Kiik Ro menyebutkan ada 4 badan usaha milik negara yang sudah mengelami kebangkrutan secara teknis ( dewi rachmat Kusuma, 2018).
Kebangkrutan sebuah perusahaan dapat terjadi karena kegagalan ekonomi ataupun kegagalan keuangan. Kegagalan ekonomi merupakan suatu kondisi dimana pendapatan dan pengeluaran biaya perusahaan tidak seimbangan. Sedangkan
kegagalan keuangan merupakan kondisi dimana sebuah perusahaan tidak mampu membayar kewajiban saat jatuh tempo (Ginting, 2017) . Kebangkrutan merupakan kondisi financial distress yang terburuk yang dialami oleh sebuah perusahaan (Putri
& Merkusiwati, 2014). Financial distress sendiri merupakan suatu konsep yang terdiri dari beberapa kondisi kesulitan keuangan pada sebuah perusahaan (Aisyah et al., 2017) .
Financial distress merupakan sebuah keadaan yang dialami sebuah perusahaan dimana perusahaan mengalami penurunan laba, atau kondisi dimana perusahaan tidak mampu memayar utang dang kewajibannya (Huntal Rim Danel Silalah, 2018). Kondisi financial distress terjadi karena perusahaan tidak mampu mengembangkan kegiatan usahanya dalam memperoleh laba (Santosa, 2017).
Ketika sebuah perusahaan tidak dapat dengan pasti memperoleh profitabilitas di suatu periode maka perusahaan sedang mengalami tahap financial distress dimana tahap ini di sebut juga tahap sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan (Putera et al., 2016).Kondisi financial distress dapat di prediksi lebih awal dengan mengunakan model tertentu (Permana at al., 2017). Semakin awal tanda tanda financial distress di ketahui perusahaan semakin baik karena dengan mengetahui lebih awal,pihak manajemen dapat memperbaiki keadaan menjadi lebih baik dengan cepet dan lebih awal (Putera et al., 2016.). Model prediksi kebangkrutan yang ada saat ini merupakan antisipasi dan peringatan dini terhadap financial distress karena model tersebut dapat di gunakan untuk mengidentifikasikan bahkan memperbaiki keadaan sebelum terjadinya kebangkrutan pada perusahaan (Cahyaningdyah, 2013). Model model prediksi Financial distress yang ada saat ini di kembangkan dengan teknik multiple discriminant analysis (MDA) teknik ini
merupakan teknik mengabungkan beberapa macam rasio keuangan dalam satu persamaan (Putera et al., n.d, 2016) dalam penilitian (Faradila & Aziz, n.d. 2016) kondisi financial distress dapat diprediksi melalui analisis rasio keuangan. Rasio keuangan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi financial distress yang dapat dilihat dari laporan keuangan yang telah dibuat perusahaan (Ginting, 2017).
Laporan keuangan merupakan sebuah dokumen penting yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menilai kinerja perusahaan (Emay et al., 2019).
Laporan keuangan perusahaan juga menjadi alat bagi para stakeholder mengetahui informasi tentang kondisi keuangan sebuah perusahaan (Aisyah et al., 2017).
Pengukuran financial distress dapat dilakukan menggunakan rasio keuangan yang di hitung menggunakan data yang sudah tersaji di laporan keuangan perusahaan (Kholidah, Gumanti, & Mufidah, 2016). Rasio keuangan yang biasa di pakai dalam memprediksi financial distress adalah rasio leverage, rasio likuiditas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas karena rasio rasio ini dianggap dapat menunjukan kinerja keuangan secara umum (Ginting, 2017). Menurut Lu dan Chang dalam Santosa ( 2017) menyebutkan variabel variabel keuangan dan varaiabel corporate governance dapat memprediksi kondisi financial distress. Sejalan dengan penelitian yang lain ,penelitian yang dilakukan Silalahi et al., (2018) meyebutkan financial distress dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti rasio leverage, rasio likuiditas,rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan ukuran perusahaan.
Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki hutang baik jangka pendek maupun hutang jangka panjang, karena hutang dapat dijadikan sumber pendanaan perusahaan selain dari laba di tahan atau penyusutan (Pratama & Wiksuana, 2016).
Namun perusahaan juga harus mengontrol total hutang yang di miliki jika tidak
kemungkinan perusahaan dibiayain oleh hutang akan semakin tinggi dan kondisi seperti ini tidak baik terhadap kondisi keuangan perusahaan, untuk mengontrol pembiayaan perusahaan oleh hutang perusahaan dapat menggunakan rasio leverage, karena rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang (Sidabalok, Deviyanti, & Ginting, 2014). Leverage sendiri timbul dari aktifitas penggunaan dana perusahaan yang berasal dari pihak ketiga dalam bentuk utang (Cinantya & Merkusiwati, 2015).
Penghitungan leverage suatu perusahaan akan memberikan gambaran kepada para kreditur dalam menganalisis risiko utang yang diberikan. Semakin tinggi leverage sebuah perusahaan kemungkinan terjadinya kesulitan keuangannya pun meningkat karena tingginya tingkat leverage sejalan dengan naiknya utang perusahaan (Pulungan, 2017). Rasio leverage yang biasa digunakan dalam memprediksi kondisi financial distress adalah rasio utang (debt ratio) yaitu total utang dibagi dengan total aktiva (Faradila & Aziz, 2016) sama halnya dengan penelitian kali ini rasio leverage yang di pakai adalah rasio debt to asset.
Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang di miliki perusahaan khususnya kewajiban jangka pendek menjadi hal yang penting bagi para kreditur. Rasio likuiditas dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan karena rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan yang di miliki pada saat di tagih atau jatuh tempo (Ginting, 2017). Likuiditas sendiri dapat diartikan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansialnya yang harus segara di lunasi yang bersifat kewajiban jangka pendek (Cinantya & Merkusiwati, 2015). Ada beberapa faktor yang membuat perusahaan tidak mampu membayar kewajiban
jangka pendeknya pertama karena memang tidak memiliki dana sama sekali atau kedua perusahaan memiliki dana tetapi tidak cukup secara tunai dengan kata lain dana tersedia dalam bentuk aset lain (Bernardin & Chaniago, 2017), ketidakmampuan perusahaan dalam membayar utang yang sudah jatuh tempo membuat kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan meningkat . Rasio likuiditas yang biasa di gunakan untuk mengukur dan memprediksi financial distress adalah current ratio (Andre & Salma, 2014). Current ratio adalah rasio yang digunakan untuk menunjukan tingkat kemampuan perusahaan memnuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan asset yang di miliki (Faradila
& Aziz, 2016). semakin besar nilai current ratio sebuah perusahaan mencerminkan semakin baik kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan asset yang ada (Kholidah et al., 2016). Dengan kata lain semakin besar nilai curret ratio sebuah perusahaan makan semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami kondisi financial distress (Aisyah et al., 2017). hal ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan (Yustika, 2015) yang menyatakan bahwa likuiditas atau current ratio berpengaruh terhadap financial distress.
Selain hutang perusahaan Aset perusahaan juga dapat dijadikan dasar dalam menilai kondisi dan kinerja sebuah perusahaan. Karena Aset yang dimiliki sebuah perusahaan dapat mencerminkan ukuran perusahaan (Putri & Merkusiwati, 2014).
menurut (Ananto et al., 2017) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ukuran perusahaaan mencerminkan jumlah Aset yang dimiliki. Semakin besar nilai asetnya maka semakin besar pula ukuran perusahaannya. Pada dasarnya dalam mengukur ukuran perusahaan terdapat beberapa instrumen yang dapat digunakan untuk
mengukur ukuran perusahaan, seperti jumlah penjualan, total aset, jumlah karyawan atau kapitalisasi pasar (Bernardin & Pebryyanti, 2016). Dalam penelitian kali untuk mengukur nilai ukuran perusahaan peneliti mengacu kepada penelitian (Setiawati & Lim, 2018) dimana ukuran perusahaan di ukur dengan nilai logaritma natural (Ln) dari total Asset. Menurut (Bernardin & Pebryyanti, 2016) perusahaan yang besar akan lebih mudah mendapatkan pinjaman karena nilai aktiva yang menjadi jaminan besar, selain pinjaman dengan ukuran perusahaan yang besar juga dapat menarik para investor untuk menanamkan modal, maka dari itu peluang perusahaan besar mengalami kesulitan keungan menjadi lebih kecil dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang di lakukan (Putri & Merkusiwati, 2014) yang menyebutkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap financial distress.
Pengelolaan aset perusahaan sangat penting karena jika perusahaan tidak dapat mengelolanya dengan baik akan memicu kesulitan keuangan karena perusahaan tidak dapat memaksimalkan aset yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan yang di inginkan untuk mengukur hal tersebut rasio aktivitas dapat digunakan karena rasio ini mengukur tingkat seberapa efesien perusahaan melakukan tugas sehari hari (Santosa, 2017). Sedangkan menurut Hery (2017) dalam Silalahi et al., (2018) menyebutkan rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aset yang dimilikinya, termasuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Menurut (Rory et al., 2017) ukuran tingkatan keberhasilan sebuah perusahaan dalam mengelola aktiva atau aset identik dengan Rasio aktivitas . Rasio aktivitas yang biasa di gunakan untuk memprediksi financial distress adalah
rasio perputaran total asset. Perputaran total asset adalah rasio yang digunakan untuk mengukur jumlah penjualan yang akan di hasilkan dari total asset yang ada (Aisyah et al., 2017).
Laba salah satu indikator yang menarik para investor karena para investor akan menganalisis kelancaran sebuah perusahaan dalam menghasilkan laba sebelum melakukan investasi (Palupi & Hendiarto, 2018). Selain itu Rasio profitabilitas juga dapat di identifikasikan sebagai salah satu indikator yang dapat memprediksi kondisi financial distress sebuah perusahaan (A. Nugraha & Fajar, 2018) . Rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur besarnya laba yang dapat di hasilkan dari kegiatan utama perusahaan (Widhiastuti et al., 2019). Profitabilitas menunjukan seberapa efesien dan efektivitas perusahaan menggunakan asset yang dimiliki untuk memperoleh laba (Andre & Salma, 2014). Rasio profitabilitas yang sering di gunakan dalam memprediksi financial distress adalah Return On Asset (ROA). Ketika profitabilitas yang di ukur dengan return on Asset menurun maka probabilitas kemungkinan perusahaan mengalami kondisi kesulitan keuangan meningkat (Aisyah et al., 2017). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Ananto et al., 2017) bahwa profitabilitas memiliki pengaruh signifikan terhadap financial distress.
PT. Bhanda Ghara Reksa adalah salah satu badan usaha milik negara yang bergerak di sektor transportasi dan pergudangan. Dimana dalam beberapa tahun terakhir ini sektor tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup baik namun pertumbuhan tersebut juga di ikuti dengan meningkatnya persaingan. Selain bersaing dengan badan usaha milik negara yang lain dalam sektor transportasi dan pergudangan PT . Bhanda Ghara Reksa juga harus bersaing dengan perusahaan
swasta nasional maupun internasional dalam memperoleh laba, karena menurut Wahyuningsih dan Suryanawa dalam (Putri & Merkusiwati, 2014) pada dasarnya tujuan perusahaan didirikan adalah memperoleh laba sebesar besarnya agar tetap mampu menjalankan usahanya dan terhindar dari kondisi financial distress. Kodisi keuangan PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung dapat dilihat pada grafik current ratio, debt to asset ratio dan perputaran aktiva sebagai berikut:
Sumber : data diolah
Gambar I.2. Grafik Current Ratio, debt to asset ratio dan total asset turnover PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung periode 2016-2018
Berdasarkan Gambar 1.2. dapat dilihat bahwa curret ratio PT. Bhanda Ghara Reksa bandung mengalami inkosisten tingkat current ratio paling tinggi terjadi pada triwulan pertama tahun 2017 dimana nilai current rationya sebesar 8.7 yang berarti setiap Rp.1,- hutang lancar perusahaan dijamin dengan Rp. 8,70 ,- aktiva lancar, sedangkan untuk tingkat current ratio paling rendah terjadi pada periode triwulan ketiga tahun 2018 diman setiap Rp. 1,- hutang lancar di jamin oleh Rp. 1,50,- aktiva lancar. Dengan kondisi seperti ini perusahaan dikatakan belum mengalami kesulitan keuangan karena perusahaan masih dikatakan mampu untuk memnuhi kewajiban lancarnya hal ini di dukung oleh penelitian yang di lakukan
0 20 40 60 80 100 120
1 16 2 16 3 16 4 16 1 17 2 17 3 17 4 17 1 18 2 18 3 18 4 18 Grafik Current Ratio, debt to asset ratio dan perputaran aktiva PT. Bhanda Ghara
Reksa Bandung periode 2016-2018
current ratio debt to asset ratio perputaran aktiva
(Pulungan, 2017) yang mengatakan semakin rendah likuiditas yang diukur dengan current ratio semakin tinggi kemungkinan perusahaan mengalami kesulitan keuangan.
Sedangkan untuk debt to Asset ratio PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung cenderung mengalami peningkatan meskipun sesekali mengalami penurunan atau bahkan tetap, tingkat debt to asset ratio paling tinggi terjadi pada periode triwulan kedua tahun 2018 dimana nilai Debt to Asset Ratio sebesar 96%. Yang berarti aset atau aktiva yang dimiliki perusahaan 96% dibiayai hutang. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan total hutang khususnya hutang jangka panjang pada PT.
Bhanda Ghara Reksa Bandung. Kondisi seperti ini mengharuskan perusahaan lebih waspada karena kemungkinan perusahaan mengalami kondisi financial distress semakin tinggi. Seperti yang dikatakan (Aisyah et al., 2017) dalam penelitiannya semakin besar total hutang yang di miliki perusahaan maka semakin besar kemungkinan perusahaan mengalami kondisi financial distress.
Rasio Aktivitas PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung mengalami inkonsisten bahkan cenderung mengalami penurunan. Tingkat Rasio aktivitas paling rendah terjadi pada periode triwulan kedua tahun 2018 dimana perputaran aktiva sebesar 0,04 yang berarti perputaran aktiva yang terjadi pada periode tersebut hanya 0,04 kali. Hal ini perlu di waspadai oleh PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung karena ketika tingkat perputaran aktiva tinggi berarti tingkat penjualan pun tinggi, maka jika tingkat perputaran aktiva rendah dapat disimpulkan penjualannya pun rendah sehingga pendapatan pun menurun dengan kondisi penjualan yang rendah kemungkinan mengalami financial distress akan semakin besar (Aisyah et al., 2017) .
Berdasarkan uraian diatas, pada penelitian kali ini penulis tertarik melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul “Financial Distress di tinjau dari Leverage, Likuiditas, Rasio Aktivitas dan Ukuran Perusahaan dengan Profitabilitas sebagai Pemoderasi “
1.2. Indentifikasi Masalah dan Rumusan Masalah 1.2.1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan di atas maka penelitian mengidentifikasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Leverage perusahaan yang di ukur menggunakan DAR cenderung meningkat, dikarenakan meningkatnya total hutang perusahaan yang di dominasi hutang jangka panjang.
2. Likuiditas Perusahaan yang di hitung menggunakan current Ratio cenderung tidak konsisten, dikarenakan total aktiva lancar yang juga mengalami kenaikan dan penurunan setiap periodenya.
3. Rasio Aktivitas perusahaan cenderung menurun, dikarenakan tingkat penjualan yang tidak stabil .
4. Ukuran perusahaan cenderung meningkat karena total aktiva yang dimiliki perusahaan mengalami peningkatan.
5. Profitabilitas perusahaan belum konsisten dan cenderung belum memaksimalkan aset perusahaan dalam memperoleh profit.
6. Kondisi financial distress perusahaan termasuk kedalam klasifikasi berpotensi bangkrut.
1.2.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas, permasalahan dalam penelitian kali dapat di rumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat leverage pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung?
2. Bagaimana tingkat likuiditas Pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung?
3. Bagaimana tingkat rasio aktivitas pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung?
4. Bagaimana ukuran perusahaan pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung?
5. Bagaimana tingkat profitabilitas pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung?
6. Bagaimana tingkat financial distress pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung?
7. Seberapa besar pengaruh leverage terhadap financial distress secara parsial?
8. Seberapa besar pengaruh likuiditas terhadap financial distress secara parsial?
9. Seberapa besar pengaruh Rasio aktivitas terhadap financial distress secara parsial?
10. Seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan terhadap financial distress secara parsial?
11. Seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh leverage terhadap financial distress?
12. Seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh likuiditas terhadap financial distress?
13. Seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh perputaran total aktiva terhadap financial distress?
14. Seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap financial distress?
15. Seberapa besar pengaruh leverage, likuiditas, rasio aktivitas dan ukuran perusahaan terhadap financial distress yang di moderasi dengan profitabilitas secara simultan?
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian kali ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan data serta informasi mengenai kondisi keuangan serta prediksi Financial distress sebuah perusahaan agar terhindar dari kebangkrutan yang di dapatkan dari hasil analisa yang di lakukan dalam penelitian kali ini. Serta untuk melengkapi salah satu syarat kelulusan dalam menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) program studi akuntansi pada Universitas BSI.
1.3.2. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana tingkat leverage pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung.
2. Untuk mengetahui bagaimana tingkat likuiditas pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung.
3. Untuk mengetahui bagaimana tingkat rasio aktivitas pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung.
4. Untuk mengetahui bagaimana ukuran perusahaan pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung.
5. Untuk mengetahui bagaimana tingkat profitabilitas pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung.
6. Untuk mengetahui Bagaimana tingkat financial distress pada PT. Bhanda Ghara Reksa Bandung.
7. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh leverage terhadap financial distress secara parsial .
8. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh likuiditas terhadap financial distress secara parsial.
9. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh rasio aktivitas terhadap financial distress secara parsial.
10. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh ukuran perusahaan terhadap financial distress secara parsial.
11. Untuk menganalisis seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh leverage terhadap financial distress.
12. Untuk menganalisis seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh likuiditas terhadap financial distress.
13. Untuk menganalisis seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh perputaran total aktiva terhadap financial distress.
14. Untuk menganalisis seberapa besar kemampuan profitabilitas dalam memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap financial distress.
15. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh leverage, likuiditas, rasio aktivitas dan ukuran perusahaan terhadap financial distress yang dimoderasi oleh profitabilitas secara simultan.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis
1. Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan aplikasi teori akuntansi yang telah di pelajari selama kuliah.
2. Sebagai bahan referensi untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai financial distress.
3. Bagi penulis :
a. Memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian terutama mengenai financial distress.
b. Memperoleh informasi dan pengetahuan tambahan mengenai kondisi financial distress dan cara terhindar dari kondisi financial distress.
c. Sarana penilaian kualitas dan kemampuan diri dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab.
1.4.2. Manfaat Praktis
Adapun manfaat yang di harapkan secara praktis sebagai berikut : 1. Untuk PT. Bhanda Ghara Reksa
Penulis mengharapkan penelitian mengenai pengukuran prediksi financial distress yang di lakukan dapat bermaanfaat sebagai bahan evaluasi dan masukan bagi perusahaan untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja keuangan serta sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam melakukan pencegahan financial distress sehingga perusahaan dapat terus berkembang dalam menjalankan usahanya.
2. Untuk Pembaca dan Umum
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi mengenai prediksi financial distress.