1 1.1. Latar Belakang Masalah
Undang-undang 1945 Pasal 1 ayat (1) menjelaskan bahwa Indonesia merupakan Negara kesatuan. Indonesia merupakan Negara berkembang yang sedang giat melakukan pembangunan (Nurdin & Riana, 2013). Indonesia memulai babak baru dengan diberlakukannya otonomi daerah. Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan untuk memperkokoh otonomi Indonesia. Sesuai dengan tujuan utama dari kebijakan otonomi daerah yaitu memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia agar dapat berdiri sendiri. Pelaksanaan otonomi akan berpengaruh terhadap sistem pembiayaan, pengelolaan dan pengawasan keuangan daerah (Lestari & Tjatur, 2015).
Keseriusan Pemerintah ini diwujudkan dengan diberlakukannya Undang- Undang No 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah (Laksono & Subowo, 2014).
Pemerintah daerah diharapkan mampu meningkatkan kapasitas fiskal dengan cara mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerahnya sendiri (Melas, 2017).
Salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas daerah yaitu meningkatkan pendapatan asli daerah melalui melalui belanja modal (Kresnandra, Made, &
Erawati, 2013). Menurut PP Nomor 71 tahun 2010, belanja modal merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah.
Pemanfaatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah masih berkutat pada belanja operasi sementara belanja modal untuk pendanaan pembangunan masih
kecil. Jika dilihat dari segi manfaat belanja modal sangat produktif dalam meningkatkan pelayanan publik, hal ini tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit (Febriana & Praptoyo, 2015). Mengingat sistem pembiayaan daerah dalam otonomi daerah satu faktor yang sangat penting, maka dalam pelaksanaan APBD harus terarah kepada sasaran dengan cara yang efektif dan efisien (Samudra, 2015 : 65). Berikut dapat dilihat pada tabel I.1 mengenai perbandingan belanja operasi dan belanja modal pada Pemerintah Kota Bandung.
Tabel 1.1.
Perbandingan Belanja Operasi dan Belanja Modal Kota Bandung Tahun 2011-2016 (Dalam Jutaan Rupiah)
Sumber : Data diolah
Kota Bandung merupakan kota yang sedang berkembang, saat ini sedang giat melakukan kegiatan salah satunya yaitu membangun fasilitias yang bermanfaat dan dapat dinikmati oleh masyarakat dikalangan apapun. Pemerintah Kota Bandung pada tahun 2011 mengalokasikan anggaran untuk belanja modal sebesar 20%
sedangkan untuk belanja operasi sebesar 80% tentu ini sangat tidak efektif sekali, belanja modal yang seharusnya lebih besar berbanding terbalik dengan belanja
Tahun
Belanja
Operasi Belanja Modal
Total Belanja
% Belanja Modal
% Belanja Operasi 2011
2.319.610
612.081
2.931.691 20% 80%
2012
2.105.950
806.665
2.912.615 28% 72%
2013
2.115.995
1.064.845
3.180.840 33% 67%
2014
2.340.030
971.440
3.311.470 30% 70%
2015
2.383.630
1.287.802
3.671.432 35% 65%
2016
2.901.243
2.045.718
4.946.961 41% 59%
operasi. Pada kurun waktu 6 tahun Pemerintah Kota Bandung dapat mengalokasikan dana untuk belanja modal cukup besar dalam persentase sebesar 41% dan untuk belanja operasi sebesar 59%. Namun perbandingannya cukup jauh karena penyerapan anggaran belanja modal belum juga optimal.
Berdasarkan data tersebut perlu diketahui komponen – komponen apa saja yang mempengaruhi untuk meningkatkan pengalokasian belanja modal (Wahyudi
& Handayani, 2015). Pemerintah daerah diharapkan mampu mengoptimalkan pendapatan daerahnya untuk belanja modal dengan baik. (Hendaris & Rahayu, 2012). Dalam pengelolaan keuangan, pemerintah daerah harus dapat menerapkan asas kemandirian daerah dengan cara megoptimalkan sumber sumber pendapatan asli daerah (Sudika & Budiartha, 2017). Pendapatan asli daerah terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan yang sah (Amerta & Budhiasa, 2014). Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan dua sumber pendapatan asli daerah terbesar diantara sumber-sumber yang lain (Devi & Handayani, 2017).
Undang-Undang no 28 tahun 2009 mengatur tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Pajak daerah terdiri dari pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral bukan logam dan batuan, pajak parkir, pajak sarang burung walet, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. Terdapat keterkaitan antara pajak daerah dengan belanja modal, semakin tinggi pajak daerah maka akan mempengaruhi pendapatan daerah tentunya dalam pengalokasian belanja modal akan semakin meningkat (Wahyudi, Maria Valencia dan Handayani, 2015) dan apabila terjadi peningkatan pendapatan pajak satu satuan maka belanja modal akan
meningkat (Sudika & Budiartha, 2017). Semakin tinggi penerimaan pajak daerah maka akan mempengaruhi pendapatan daerah. pendapatan daerah yang tinggi akan digunakan oleh pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan publik yang memadai sehingga hal ini akan meningkatkan belanja modal (Lestari & Tjatur, 2015).
Retribusi memiliki peranan penting karena retribusi penyumbang PAD setelah pajak (Handayani, Abdullah, & Fahlevi, 2015). Retribusi merupakan pungutan pembayaran kepada Pemerintah Daerah dari orang pribadi atau badan atas pemberian jasa atau izin tertentu (Mardiasmo, 2018 : 8). Retribusi terdiri dari retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu. Retribusi erat kaitannya dengan pembangunan daerah karena retribusi membiayai penyelenggaraan pemerintah dareah dan dapat membantu meningkatkan pelayanan untuk masyarakat (Kresnandra, Made, & Erawati, 2013). Retribusi daerah memiliki pengaruh terhadap belanja modal, apabila retribusi meningkat maka pendapatan daerah juga akan meningkat sehingga dapat meningkatkan pengalokasian belanja modal (Sudika & Budiartha, 2017).
Berdasarkan dua sumber tersebut menunjukkan adanya dampak dari masing-masing sumber pendapatan asli daerah terhadap belanja modal. Pada Pemerintah Kota Bandung penerimaan pajak daerah setiap tahunnya meningkat namun masih ada beberapa indikator dari pajak daerah yang belum memberikan kontribusi baik, seperti penerimaan pajak reklame pada tahun 2015 sebesar Rp.
18.107.052.336 dari Rp.15.000.000.000 yang telah ditargetkan. Pencapaian penerimaan pajak reklame masih dibawah 50% dibandingkan dengan penerimaan pajak daerah lainnya yang memiliki capaian diatas 50% meskipun belum sesuai
dengan yang telah ditargetkan. Hal ini terjadi pula pada penerimaan retribusi daerah yang memiliki kontribusi namun peranananya kecil. Pada tahun 2015 penerimaan retribusi yang masih cenderung kecil yaitu retribusi jasa usaha sebesar Rp.
10.644.382.620,00 dibandingkan dengan penerimaan retribusi jasa umum dan retribusi perizinan tertentu. Dengan berlakunya kebijakan otonomi daerah ini menjadi sebuah tantangan bagi daerah untuk mengoptimalkan sumber kekayaan daerah yang dimiliki untuk membantu keuangan daerah itu sendiri (Nugraha &
Dwirandra, 2016)
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti ingin mengkaji lebih dalam masalah belanja modal yang dikhususkan di Kota Bandung dengan sumber pendapatannya dari daerah Kota Bandung itu sendiri. maka penulis berkeinginan untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Partisipasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terhadap Belanja Modal pada Pemerintah Kota Bandung”.
1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.2.1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas maka identifikasi masalah adalah sebagai berikut :
1. Penerimaan pajak daerah belum optimal, ada beberapa pos pajak daerah yang belum memberikan kontribusi yang cukup baik.
2. Hasil penerimaan retribusi daerah relatif kecil, penerimaan retribusi daerah belum memadai dan memiliki peranan yang kecil.
3. Pemerintah lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk belanja operasi dibandingkan dengan belanja modal.
1.2.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana penerimaan pajak daerah di Kota Bandung?
2. Bagaimana penerimaan retribusi daerah di Kota Bandung?
3. Bagaimana belanja modal di Kota Bandung?
4. Apakah pajak daerah berpengaruh secara parsial terhadap belanja modal di Kota Bandung?
5. Apakah retribusi daerah berpengaruh secara parsial terhadap belanja modal di Kota Bandung?
6. Apakah pajak daerah dan retribusi daerah secara simultan berpengaruh terhadap belanja modal di Kota Bandung?
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah pajak daerah dan retribusi daerah memiliki pengaruh terhadap belanja modal. Dan memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Program Studi strata satu di Universitas BSI.
1.3.2. Tujuan Penelitian
Dengan latar belakang masalah dan perumusan masalah tersebut, maka penelitian dan penulisan ini dilakukan dengan maksud sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana penerimaan pajak daerah di Kota Bandung.
2. Untuk mengetahui bagaimana penerimaan retribusi daerah di Kota Bandung.
3. Untuk mengetahui bagaimana belanja modal di Kota Bandung.
4. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh pajak daerah terhadap belanja modal di Kota Bandung.
5. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh retribusi daerah terhadap belanja modal di Kota Bandung.
6. Untuk mengetahui apakah pajak daerah dan retribusi daerah memiliki pengaruh secara simultan terhadap belanja modal di Kota Bandung.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis
Kegunaan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat akademis sebagai berikut :
1. Bagi Penulis
Sebagai pembelajaran awal dalam melakukan penelitian dan juga menambah pengetahuan tentang pajak daerah, retribusi daerah dan hubungannya dengan belanja modal.
2. Bagi Peneliti Lain
Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi informasi, bahan rujukan atau referensi tentang pengaruh pajak daerah dan retribusi daerah terhadap belanja modal.
3. Bagi Perguruan Tinggi
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang berguna untuk acuan sivitas akademik.
1.4.2. Manfaat Praktis
Kegunaan penelitian yang dilakukan diharapkan akan memberikan manfaat praktis sebagai berikut :
1. Bagi pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi pemerintah dan dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah dalam hal penyusunan kebijakan dimasa yang akan datang.
2. Pihak Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi yang dapat bermanfaat bagi pihak lain.