• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa “Negara Indonesia adalah negara Hukum”. Sebagai suatu negara hukum dalam setiap tindakan pemerintah selalu dituntut untuk memberikan perlindungan hukum terhadap warga negaranya.

Tentunya ada regulasi-regulasi yang dibuat oleh pengambil kebijakan untuk melindungi kepentingan setiap warga negaranya, guna menciptakan kesejahteraan rakyat khususnya kesejahteraan terhadap anak yang terlibat dalam kejahatan prostitusi online.

Indonesia merupakan salah satu negara yang perkembangan teknologi dan informasinya bertumbuh dengan pesat. Perkembangan teknologi tersebut memberikan pengaruh positif bagi masyarakat diantaranya mempermudah melakukan pekerjaan dalam mendapatkan informasi. Namun selain itu terdapat juga dampak negatif. Dampak negatifnya yaitu menimbulkan gejala sosial yang dapat memberikan dampak buruk bagi masyarakat dan salah satu gejala sosial yang menonjol ialah bermunculan praktik prostitusi online yang tidak hanya melibatkan orang-orang dewasa saja tetapi juga kalangan remaja yangt terus tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. terhadap perkembanagan teknologi itu sendiri, salah satunya yaitu ialah kegiatan prostitusi yang dilakukan melalui media elektronik komunikasi atau yang dikenal dengan prostitusi online.

(2)

Prostitusi di kalangan masyarakat sendiri dianggap telah melanggar mengenai norma kesusilaan yang menjadi salah satu dasar bertingkah laku dalam masyarakat. Kesusilaan dalam arti luas bukan hanya menyangkut soal birahi, akan tetapi meliputi semua kebiasaan hidup yang pantas dan berakhlak dalam kelompok suatu masyarakat tertentu yang sesuai dengan sifat-sifat dari masyarakat yang bersangkutan. Norma kesusilaan dalam masyarakat tidak hanya mengatur tingkahlaku manusia saja, tetapi terdapat sanksi apabila melanggar.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP), perbuatan yang melanggar norma disebut sebagai kejahatan terhadap kesusilaan atau delik kesusilaan. Kejahatan terhadap kesusilaan meskipun jumlahnya relatif tidak banyak jika dibandingkan dengan kejahatan terhadap harta benda (kekayaan) namun sampai sekarang sering menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.1

Prostitusi online terhadap anak dibawah umur sangat menjanjikan permintaan pasar. Impian tersebut muncul dengan menjanjikan wanita yang masih dibawah umur sebagai korban prostitusi, terhadap berbuatan orang dewasa yang melakukan prostitusi online terhadap anak tersebut semacam penyakit masyarakat yang muncul dari berbagi tuntutan hidup. Praktek prostitusi di katagorikan ke dalam “patologi sosial” atau penyakit masyarakat yang harus diupayakan penanggulangannya.2

Jika ditinjau dari anak sebagai Pekerja seks komersial (PSK), terdapat berbagi persoalan yang menyangkut tuntutan hidupnya sehingga tidak merasa

1Grace Patricia watak, Pertanggung Jawaban Tindak Pidana Mucikari, http://

kekegwp. blogspot. Com/2009/08/pertanggung-jawaban-tindak-pidana.html, diakses pada tanggal 19 juli 2019.

2 Kartini Kartono, Pathologi Sosial, CV. Rajawali, Jakarta, 1981, hlm. 13

(3)

bersalah dengan enggan untuk dilindungi. Mereka seolah-olah senang dengan perbuatan tersebut. Salah satu faktor penyebabnya dalah tuntutan ekonomi dalam keluarga sehingga seks sebagai komoditi telah menumbuhkan suatu profesi yang memerlukan totalitas diri sebagai modal kerja.3 Tetapi bukan tuntutan ekonomi (kemiskinan) saja yang menjadi salah satu timbulnya prostitusi anak. Tuntutan ekonomi (kemiskinan) suatu yang sangat parah, apabila akses pendidikan, kesehatan, atau kredit, misalnya tidak dimiliki oleh kelompok yang sangat membutuhkan.4 Disamping itu, ada kalanya anak pada mulanya tidak mempunyai niat untuk melakukan prostitusi, melainkan suatu jebakan dengan iming-iming dipekerjakan pada suatu perusahaan, namun pada akhirnya ternyata anak tersebut dipaksa melakukan prostitusi.5

Praktik prostitusi melalui media elektronik atau prostitusi online saat ini tengah ramai di perbincangkan dimasyarakat. Praktik prostitusi online ini menjadikan seseorang sebagai objek untuk diperdagangkan melalui media elektronik atau online, prostitusi online dilakukan karena lebih mudah praktik dan lebih aman dari razia petugas. Maka dari itu praktik prostitusi online. sering terdengar dan kita lihat di berita-berita. Tindakan penyimpangan seperti ini biasanya didorong atau motivasi oleh dorongan pemenuhan kebutuhan hidup yang relative sulit di penuhi.

Prostitusi menjadi salah satu bentuk kejahatan yang paling banyak terjadi terhadap anak-anak khususnya di Indonesia. Prostitusi kini telah menjadi masalah

3 Ashadi Siregar, Menyusuri Remang-Remang Jakarta, Sinar Harapan, Jakarta, 1979, hlm. 5

4 Rachmad Syaffat, Dagang Manusia, Lappera Pustaka Utama, Yogyakarta, 2002, hlm.

98

5 Ibid, hlm. 98

(4)

sosial yang cukup serius dan memprihatinkan. Dalam praktiknya kasus-kasus prostitusi yang melibatkan anak sering terjadi dan ditemukan dilingkungan masyarakat. Bahkan saat ini sudah banyak pemberitahuan dimedia cetak maupun media elektronik mengenai kasus-kasus prostitusi yang melibatkan anak dibawah umur.6 Kejahatan prostitusi online tidak dibatasi oleh perbedaan jenis kelamin, anak laki-laki maupun anak perempuan berpotensi menjadi korban dan sasaran dari kejahatan seksual yang berkembang di masyarakat. Namun jumlah anak yang menjadi korban kejahatan seksual lebih dominan terjadi kepada anak perempuan karena anak perempuan lebih lemah serta lebih mudah dikuasai.

Fenomena prostitusi online yang terjadi dalam masyarakat hampir menjadi habit dalam kehidupan sosial bermasyrakat yang berimplikasi pada munculnya eksploitasi khususnya terhadap perempuan dan anak, problematika tentang praktek prostitusi online merupakan persoalan yang sangat kompleks dan sangat rawan, karena menyangkut tata kelakuan manusia yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak tatanan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.

Prostitusi juga terdapat beberapa pihak yang erat hubungannya dan saling mempengaruhi satu sama lain dan menjadi satu mata rantai yaitu pekerja seks komersial (PSK) atau pelacur, mucikari atau germo dan pelanggan. Seorang pelacur tidak dapat bekerja apabila tidak ada pelanggan yang membutuhkan jasa dari pelacur dan mucikari yang mengatur pertemuan di antara keduanya.

Seseorang tidak hanya dikatakan mucikari apabila menjadi penghubung tapi juga

6Astuti, Made Sadhi, Selayang Pandang Anak Sebagai Korban dan Pelaku Tindak Pidana, Arena hukum, Malang, 1997, hlm. 15

(5)

apabila seseorang menyediakan tempat seperti rumah atau kamar dapat disebut sebagai mucikari atau germo.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), melarang mereka yang mempunyai profesi sebagai penyedia sarana dan mereka mempunyai profesi penyedia sarana dan mereka yang mempunyai profesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) serta mucikari atau pelindung PSK (Pasal 296 KUHP). Mereka yang menjual perempuan dan laki-laki dibawah umur untuk menjadi pelacur (Pasal 297 KUHP). Barang siapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seseorang wanita dan menjadikannya sebagai pelacur, diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun (Pasal 506). Perbuatan mengenai praktik prostitusi diatur dalam oleh pasal 4 ayat 2 huruf d Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi Dan Pornoaksi yang menegaskan :

“setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung maupun tidak langsung layanan seksual”.

Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/149/II/2019/Maluku/Res Ambon, Saat ini banyak anak-anak yang terlibat dalam kasus prostitusi. Seperti halnya yang terjadi di Ambon prostitusi yang melibatkan anak dibawah umur kerap terjadi, selalu ada pelaporan setiap tahunnya. Terakhir mulai dari januari 2018 sampai awal 2019 ada 80 kasus prostitusi anak, termasuk kasus prostitusi yang dibongkar oleh pihak Aparat Satuan Sabhara Polres Pulau Ambon di awal 2019 yang terjadi di Maluku beberapa waktu lalu di penginapan Nyaman, Jalan Sedap Malam, belakang A. Y. Patty, Ambon. Menemukan 18 orang anak baru gede (ABG) salah satu diantaranya yaitu CINDY GABRIELLA NOIYA alias SINDY

(6)

yang masih berusia 16 tahun bahwa kejahatan prostitusi online anak dibawah umur terjadi sebanyak 2 kali yaitu pertama kali terjadi pada hari rabu tanggal 13 Februari 2019 sekitar jam 15.00 Wit bertempat didalam kamar 402 di penginapan Nyaman Ay Patty Kecamatan Sirimau Kota Ambon sedangkan yang kedua kalinya pada hari sabtu tanggal 16 Februari 2019 sekitar jam 17.00 Wit ditempat yang sama didalam kamar nomor 402 di penginapan Nyaman Ay Patty Kecamatan Sirimau Kota Ambon. para ABG yang ditangkap tersebut tergabung melalui aplikasi Mi Chat.

Mi Chat merupakan sebuah aplikasih pesan instan yang memiliki fitur untuk menemukan teman baru berdasarkan lokasih terdekat. Mi Chat memiliki fitur “People Nerby” untuk menemukan pengguna lain aplikasih tersebut yang sedang berada dari lokasi pengguna yang mana kontak-kontak tersebut kemudian bisa ditambahkan ke daftar teman. Selain itu ada pula fitur penambah orang asing untuk jadi teman baru.7

Kejahatan praktik prostitusi yang dilakukan melalui media elektronik internet juga diatur oleh Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, berbunyi bahwa :

”Setiap orang dengan sengaja atau tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan dipidana dengan pindana penjara paling lama 6 tahun enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000.00 satu miliar rupiah”.

7 http://www metodeku.com, diakses pada tanggal 19 juli 2019

(7)

Susai dengan Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (selanjutnya disebut UU ITE), harus ditegakkan terhadap kejahatan prostitusi melalui media elrktronik terutama terhadap kejahatan yang dilakukan oleh mucikari bernama Kiki Tehupelasury alias Micky yang menyediakan sarana prostitusi online anak dibawah umur di Pengginapan Nyaman Jalan Sedap Malam blakang A. Y. Patty, Ambon.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulisan tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dengan judul “TINJAUAN KRIMINOLOGIS TERHADAP PENYEDIA SARANA PROSTITUSI ONLINE ANAK DIBAWAH UMUR”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini adalah faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi tersedianya sarana prostitusi online anak di Kota Ambon.

C. TujuanPenelitian

1. Untuk mengkaji dan membahas faktor-faktor yang melatarbelakangi tersedianya sarana prostitusi online anak di Kota Ambon.

2. Sebagai salah satu persyaratan guna menyelesaikan studi pada Fakultas Hukum Universitas Pattimura.

D. Manfaat Penelitian

1. Menjelaskan faktor-faktor yang melatarbelakangi tersedianya sarana prostitusi online anak di Kota Ambon.

2. Memberikan sumbangsi pemikiran bagi ilmu hukum, khususnya kriminologi sebagai ilmu yang membantu hukum pidana terhadap Prostitusi Online Anak.

(8)

E. Kerangka Teoritis

Kriminologi sebagai ilmu sosial terus mengalami perkembangan dan peningkatan. Perkembangan dan peningkatan ini disebabkan pola kehidupan sosial masyarakat yang terus mengalami perbuhan-perubahan dan berbeda antara tempat yang satu dengan yang lainnya serta berbeda pula dari suatu waktu atau zaman tertentu dengan waktu atau zaman yang lain, sehingga studi terhadap masalah kejahatan dan penyimpangan juga mengalami perkembangan dan peningkatan dalam melihat, memahami, dan mengkaji permasalahan- permasalahan sosial yang ada dalam masyarakat dan substansi di dalamnya.

Kriminologi merupakan ilmu pengatahuan yang mempelajari kejahatan dari berbagi aspek. Kata kriminologi pertama kali ditemukan pleh p. topinard, seseorang antropologi asal prancis. Kriminologi berasal dara kata “crime” yang berarti kejahatan dan “logos” yang berarti ilmu pengatahuan, maka krimonologi dapat berarti ilmu tentang kejahatan.8 Untuk lebih jelasnya tentang pengertian kriminologi, beberapa sarjana telah memberikan beberapa definisi tentang kriminologi antara lain :

Moeljatno berpendapat bahwa kriminologi adalah untuk mengerti apa sebab-sebab sehingga seseorang berbuat jahat. Apakah memang karena bakatnya adalah jahat ataukah didorong oleh keadaan masyarakat disekitarnya baik keadaan sosiologis maupun ekonomis. Jika sebab-sebab itu diketahui, maka disamping pemidanaan, dapat diadakan tindakan-tindakan yang tepat, agar orang tadi tidak

8 Topo Santoso,Eva Achjani Zulva, Kriminologi, PT Raja Rafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm. 9

(9)

lagi berbuat demikian, atau agar orang-orang lain tidak akan melakukannya.

Karena itulah kriminologi dibagi menjadi tiga bagian.9 Yaitu : 1) Criminal biology

Yang menyelidiki dalam diri orang itu sendiri akan sebab-sebab dari perbuatannya, baik dalam jasmani maupun rohani.

2) Criminal sosiologi

Yang mencoba mencari sebab-sebab dalam lingkungan masyrakat dimana penjahat itu berbeda (dalam melieunya)

3) Criminology policy

Yaitu tindakan-tindakan apa yang disekitrnya harus dijalankan supaya orang lain tidak berbuat demikian.

Bonger memberikan definisi kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. 10 Bonger, dalam memberikan batasan kriminologi, membagi kriminologi ke dalam dua aspek:

a. kriminologi praktis, yaitu kriminologi yang berdasarkan hasil penelitiannya disimpulkan manfaat praktisnya.

b. kriminologi teoritis, yaitu ilmu pengetahuan yang berdasarkan pengelamannya seperti ilmu pengetahuan lainnya yang sejenis, memeprhatikan gejala-gejala kejahatan dan mencoba menyelidiki sebab dari gejala tersebut (etiologi) dengan metode yang berlaku pada kriminologi.

Paul Moedigdo Moelino, merumuskan Kriminologi merupakan ilmu pengatahuan yang mempelajari kejahatan sebagai masalah manusia.11 Dari kedua

9 Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, 2008, Jakarta, hlm. 14

10 Topo Santoso, Eva Achjani Zulva, Op. Cit, hlm. 10

(10)

definisi di atas dapat dilihat perbedaan pendapat antara Sutherland dan Paul Moedigdo Moelino, keduanya mempunyai defenisi yang bertolak belakang.

Dimana defenisi Sutherlan menggabarkan terjadi kejahatan karenan perbuatan yang ditentang masyarakat, sedangkan defenisi Paul Moedigdo Moelino menggambarkan terjadinya kejahatan karena adanya dorongan pelaku untuk melakukan kejahatan.

Kriminologi “merupakan ilmu pengatahuan yang mempelajari sebab akibat, perbaikan dan pencegaan kejahatan sebagai gejala manusia dengan menghimpun sumbangan-sumbangan dari berbagai ilmu pengatahuan”.12 Dari defenisi Soedjono tersebut ia berpendapat bahwa kriminologi bukan saja ilmu yang mempelajari tentang kejahatan dalam arti sempit, tetapi kriminologi merupakan sarana untuk mengatahui sebab-sebab kejahatan dan akibatnya, cara- cara memperbaiki pelaku kejahatan dan cara-cara mencegah kemungkinan terjadi kejahatan.

Secara etemologi kata prostitusi berasal dari Bahasa latin yaitu “pro- stituere” artinya membiarkan diri berbuat zina, sedangakan kata “Prostitute”

merujuk pada kata keterangan yang berarti Wanita Tuna Susila WTS atau sundal dikenal pula dengan istilah Wanita Tuna Susila (WTS). Merujuk pada kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) WTS adalah orang celaka atau perihal menjual diri (persundalan) atau orang sundal. Prostitusi juga dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri atau menjual jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan imbalan sesuai

11 Soedjono Dirdjosisworo, Sosio Kriminologi Amalan Ilmu-Ilmu Sosial Dalam Studi Kejahatan, Sinar Baru, Bandung, 1984, hlm. 24

12 Ibid

(11)

dengan apa yang diperjanjikan sebelumnya. Sesorang yang menjualkan jasa seksual disebut WTS, yang kini kerap disebut dengan istilah pekerja Seks komersial (PSK).13

Prostitusi (pelacuran) secara umum adalah praktik hubungan seksual sesaat, yang kurang lebih dilakukan dengan siapa saja, untuk imbalan berupa uang. Tiga unsur utama praktik pelacuran adalah: pembayaran, promiskuatis dan ketidakacuan emosional.14 Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual diri biasa disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK).

Kartini Kartono berpendapat bahwa, prostitusi yaitu bentuk penyimpangan seksual, dengan pola-pola organisasi implus atau dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi, dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendala dengan banyak orang (promiskuatis), disertai eksploitas dan komersialisasi seks, yang impersional tanpa efeksi sifatnya.15

Perbuatan mengenai praktik prostitusi diatur dalam oleh pasal 4 ayat 2 huruf d Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi Dan Pornoaksi menyebutkan bahwa :

“setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung maupun tidak langsung layanan seksual”.

13 Drs, H, Kondar Siregar, MA, Model Pengaturan Hukum Tentang Pencegahan Tindak Pidana prostitusi Berbasis Masyarkat Adat Dalihan Na tolu, Perdana Mitra Handalan, 2015, hlm. 1-3

14 Bangong Suyanto, Masalah Sosial Anak, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010, hlm. 159-160

15 Ibid., hlm. 185

(12)

Pada dasarnya prostitusi anak ini dilarang, prostitusi anak merupakan kejahatan terhadap kemanusian yang harus diberantas dan pelaku tindak pidan prostitusi anak harus dihukum. Di dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) itu sendiri, prostitusi diatur pada pasal 296 dan pasal 506 KUHP yang berbunyi :

“Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah”.

Sedangkan pasal 506 menyebutkan :

“Barang siapa yang menarik dari perbuatan cabul seseorang wanita dan menjadikannya sebagai pelacur, diancam pidana kurungan paling lama satu tahun”.

Prostitusi yang melibatkan anak atau pekerja seks anak mengisyaratkan bahwa seorang anak seolah-olah memilih hal tersebut sebagai sebuah pekerjaan atau profesi. Dalam hal ini jelas bahwa orang-orang dewasalah yang menciptkan pelacuran anak-anak melalui permintaan mereka atas anak untuk dijadikan sebagai objek seks, penyalahgunaan kekuasaan dan keinginan mereka untuk mengambil keuntungan sedangkan anak-anak tersebut menjadi korban kejahatan prostitusi. Argumentasi apakah seorang anak dapat diminta pertanggung jawaban pidana atas tindakannya yang dikarenakan kerentanan dan dorongan keadaan sosial, mimilih terlibat atau membawa diri ke dalam dunia pelacuran, dapat dikatakan anak tersebut tidak memenuhi kapasitas mental untuk diminta

(13)

pertanggu jawaban pidana.16 Anak yang dimaksud anak menurut Undang-Undang tersebut adalah seseorang yang belum berumur 18 (Delapan Belas) tahun termasuk anak yang masih ada dalam kandungan.

Anak merupakan seseorang yang dilahirkan dari sebuah hubungan antara pria dan wanita. Hubungan anatara pria dan wantita ini jika terikat dalam suatu ikatan perkawinan lazimnya disebut sebagi suami istri.17

Ditinjau dari aspek yuridis, maka pengertian anak dimata hukum positif di Indonesia diartikan sebagai orang yang belum dewasa, orang yang dibawah umur atau keadaan dibawah umur atau kerap juga disebut anak dibawah pengawasan wali.18

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesehjateran Anak Pasal 1 angka 2 menyebutkan bahwa :

“anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin”.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1990 tentang Retifikasi Konvensi Hak Anak, anak adalah setiap manusia yang berusia dibawah delapan belas tahun kecuali berdasarkan undang-undang lain yang berlaku bagi anak-anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal.

R.A. Kosnan mendefinisikan “Anak-anak yaitu manusia muda dalam umur muda dalam jiwa dan perjalanan karena mudah terpengaruh untuk keadaan sekitarnya”.19 Oleh karena itu anak-anak perlu diperhatikan secara sungguh-

16 Tanya & Jawab Tentang Eksploitasi Seksual Komersial Anak, ECPAT internasional, 2001, hlm. 5

17 Abu Huraerah, Kekerasan Terhadap Anak, Nuansa, 2006, hlm. 36

18 Sholeh Soeaidy dan Zulkhair, Dasar Hukum Perlindungan Anak, CV. Novindo Pustaka Mandiri, Jakarta, 2001, hlm. 5

19 R.A. Koesnan, Susunan Pidana Dalam Negara Sosialis Indonesia, sumur, 2005, hlm.

113

(14)

sungguh. Akan tetapi, sebagai makhluk sosial yang paling rentan dan lemah, ironisnya anak-anak sering kali di tempatkan dalam posisi yang paling dirugikan, tidak memiliki hak untuk bersuara, dan bahkan mereka sering menjadi korban tindak kekerasan dan pelenggaran terhadap hak-haknya.20

Dengan dimikian anak pada umumya adalah seseorang yang dilahirkan dari perkawinan antara pria dan wanita, menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan sebagai anak. Anak juga merupakan generasi baru penerus bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan dimasa yang akan datang, dalam pemaknaan anak yang umumnya mendaptkan perhatian tidak saja dalam bidang ilmu pengetahuan (the body of knowledge), tetapi dapat di telah dari sisi pandang sentralisasi kehidupan. Misalnya agama, hukum dan sosial menjadikan pengertian anak semakin rasional dan aktual dalam lingkungan sosial.21

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini akan disusun dengan menggunakan tipe penelitian yuridis empiris yang dengan kata lain adalah jenis penelitihan hukum sosiologi dan dapat disebut pula dengan penelitian lapangan, yaitu mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataan masyarakat.22 Atau dengan kata lain suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan sebenarnya atau keadaan nyata yang terjadi di masyarakat dengan maksud untuk mengatahui dan menemukan fakta-fakta dan data yang dibutuhkan, setelah data yang dibutuhkan

20Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak, Sinar Grafika, Jakarta, 1992, hlm. 28

21 Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia, pustaka sinar harapan, Jakarta, 1997, hlm. 98

22 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hlm. 15

(15)

terkumpul kemudian menuju kepada identifikasi masalah yang pada akhirnya menuju pada penyelesaian masalah.23

2. Tipe Penelitian

Menurut sugiyono, berpendapat bahwa metode deskriptif-analitis adalah suatu metode yang digunanakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Tipe penelitian yang digunakan adalah “Deskriptif Analitis” dengan alasan bahwa hasil yang digunakan dari studi kepustakaan selanjutnya dianalisis dan dibahas menggunakan alur pembahasan secara sistematis didalam beberapa bab dengan demikian hasil analisis dan pembahasan tersebut selanjutnya dideskripsikan untuk memudahkan penarikan beberapa kesimpulan dan pengajuan saran.

3. Sumber Data

Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data yaitu :

1) Sumber data Primer

Yaitu data yang langsung di kumpulkan melalui sumber Berita Acara Pemeriksa dari laporan Polisi :

LP-A/150/II/2019/MALUKU/RES Ambon.

23 Ibid, hlm. 16

(16)

2) Sumber data Sekunder

Yaitu data yang telah dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder yaitu :

a) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

b) Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi dan Pornoaksi

c) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

d) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

3) Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data

Dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan (Library research) yaitu mengumpulkan bahan-bahan hukum peraturan perundang- undangan yang terkait dangan masalah hukum yang diteliti, untuk memperoleh informasi yang objektif dan akurat dan hasil penelitian lainnya, maupun internet.

Pengumpulan bahan-bahan hukum dilakukan dengan menyusun berdasarkan subjek yang diinginkan, selanjutnya dipelajari kemudian diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan yang dibahas.

Metode analisis yang dipakai untuk menganalisis bahan hukum yang telah terhimpun adalah metode analisis kualitatif, yaitu bahan hukum yang diperoleh dari kemudian disusun secara sistematik untuk selanjutnya dianalisis secara

(17)

kualitatif berdasarkan disiplin ilmu hukum pidana untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memberi secara jelas mengenai seluruh isi penulisan proposal ini, maka penulis membagi penulisan proposal ini menjadi beberapa bagian. Adapun sistematika dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

Bab I, yang merupakan Pendahuluan, yang menguraikan Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Kerangka Teoritis, dan Sistematika Penulisan.

Bab II, Tinjaun Pustaka yang terdiri dari, Objek dan Ruang Lingkup Kriminologi, Teori Kriminolgi, Pengertian Prostitusi dan Pengaturannya Dalam Hukum Pidana.

Bab III, Hasil dan Pembahasan yang terdiri dari, Kasus Prostitusi dengan Menggunakan Media Sosial di Kota Ambon, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Praktek Prostitusi Melalui Media Sosial, Upaya Penanganan Praktek Prostitusi Melalui Media Sosial.

Bab IV, yang merupakan Penutup yang terdiri dari, Kesimpulan dan Saran.

Referensi

Dokumen terkait

LAYERS IN THE SLAG FILM BETWEEN STEEL SHELL AND MOULD IN CONTINUOUS CASTING OF STAINLESS STEEL Paavo Hooli Outokumpu Stainless Oy, Finland ABSTRACT In order to investigate the