BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah tenaga kerja selalu berkembang sesuai perkembangan zaman. Salah satu hal yang mempengaruhinya adalah meningkatnya perdagangan dan industri yang tumbuh di dalam masyarakat. Para pekerja yang semula bekerja disektor pertanian kemudian mulai ke sektor industri yang tumbuh secara pesat dengan berdirinya berbagai perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.
Hukum ketenagakerjaan bukan hanya mengatur hubungan antara pekerja atau buruh dengan pengusaha dalam pelaksanaan hubungan kerja tetapi juga termasuk seseorang yang akan mencari pekerjaan melalui proses yang benar ataupun lembaga-lembaga pelaksana yang terkait, serta menyangkut pekerja yang purna atau selesai bekerja.
Penyediaan lapangan pekerjaan merupakan salah satu kewajiaban pemerintah sesuai yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 27 ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak. Atas dasar tersebut pemerintah mengeluarkan berbagai aturan dan kebijaksanaan untuk memberikan perlindungan dan kesempatan pada mereka.1
1Soedarjadi, 2008, Hukum Ketenagakerjaan Di Indonesia, Cetakan I, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, hlm. 1
Berdasarkan Undang-Undang No 13 Tahun 2003 menjelaskan bahwa ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada saat waktu sebelum, selama dan sesudah berakhir masa kerja.2Salah satu peraturan yang dibuat oleh pemerintah adalah peraturan yang mengatur hubungan seseorang didunia kerja. Fakta menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang bekerja pada perusahaan, oleh sebab itu hubungan kerja antara seorang pekerja dengan pihak perusahaan perlu diatur sedemikian rupa supaya tidak terjadi kesewenang- wenangan yang bisa merugikan salah satu pihak.3
Serikat pekerja merupakan mitra kerja bagi pengusaha, aktivitas yang dilakukan tidak hanya memperjuangkan kepentingan anggota untuk peningkatan kesejahteraannya, tetapi juga membantu peningkatan partisipasinya dalam rangka menjaga kelangsungan dan pengembangan usaha perusahaan. Dengan demikian kehadiran serikat pekerja/serikat buruh diperusahaan ini tidak menambah masalah bagi perusahaan, tetapi dapat membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan disiplin dan etos kerja.
Hal ini sekaligus dapat menghilangkan pandangan negatif terhadap serikat pekerja/serikat buruh, tetapi kehadirannya membawa angin segar yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan usaha.4
Guna menumbuhkembangkan hubungan industrial yang sehat dan dinamis, dibutuhkan serikat pekerja/buruh yang bertanggung jawab, demokratis
2Ibid, hlm. 4
3Nikodemus Maringan, 2015, Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak Oleh Perusahaan, Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion,Edisi 3, Volume 3
4Adrian Sutedi, 2009, Hukum Perburuhan, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, hlm.25
dan dikelola oleh pimpinan perusahaan yang profesional. Dalam memperjuangkan kepentingan masing-masing diharapkan agar kedua belah pihak saling memahami dan menghormati kepentingan pihak lainnya. Pimpinan serikat pekerja/buruh dalam memperjuangkan aspirasi para anggotanya, harus memahami situasi dan kondisi perusahaan, sedangkan pihak pimpinan perusahaan juga harus memahami keinginan para pekerja/buruh.
Memang tidak mudah membangun kondisi hubungan industrial yang benar-benar ideal menurut ukuran masing-masing pihak, namun disisi lain bukan sesuatu yang mustahil untuk mencari pendekatan-pendekatan yang adil terhadap semua permasalahan ketenagakerjaan secara menyeluruh. Untuk itu perlu dilakukan diskusi secara kesinambungan guna mengatasi semua yang muncul baik saat sekarang maupun untuk masa-masa yang akan datang. Atas dasar pertimbangan bahwa manajemen dan serikat pekerja/serikat buruh merupakan inti sel atau elemen yang paling pokok dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial dan PHK serta faktor kunci modernisasi hubungan industrial di perusahaan. Banyak juga perusahaan yang dapat bertahan dan berkembang justru karena memperhatikan kesejahteraan pekerja atau buruh. Sebab dengan memperhatikan kesejahteraan pekerja/buruh, mereka merasa ikut memiliki dan bertanggung jawab atas kelangsungan dan kemajuan perusahaan.5
Perlu disadari bahwa tingkat kesejahteraan materil yang tinggi belum menjamin tidak timbulnya masalah dalam hubungan kerja. Salah satu sarana yang penting dalam mengatasinya adalah melalui komunikasi, yang teratur disegala
5Adrian Sutedi, 2009, Hukum Perburuhan, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, hlm.36
tingkat. Oleh karena itu, agar komunikasi yang telah berjalan dengan baik ini dikembangkan dalam bentuk kelembagaan bipartit, sebagai forum komunikasi dan konsultasi diperusahaan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa masalah ketenagakerjaan adalah bagian integral dari masalah ekonomi, sehingga masalah pembangunan ketenagakerjaan juga merupakan bagian dari masalah pembangunan ekonomi. Dengan demikian, perencanaan ekonomi harus mencakup juga perencanaan ketenagakerjaan atau dengan kata lain, perlu dibangun rencana tenga kerja sebagai bagian dari rencana pembangunan ekonomi. Program pembangunan di masa lalu yang hanya berorientasi pada aspek pertumbuhan, dengan mengabaikan pembangunan ketenagakerjaan memberikan pengalaman yang berharga dengan timbulnya masalah ketenagakerjaan yang besar, yaitu tingkat pengangguran yang tinggi dan rendahnya tingkat kualitas tenaga kerja.
Kondisi ketenagakerjaan Indonesia dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cukup tinggi mengakibatkan meningkatnya biaya produksi perusahaan pemberi pekerjaan. Hal ini selain meningkatkan tekanan biaya hidup kepada masyarakat, juga mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk tetap bertahan menjalankan usahanya. Untuk mengefisiensi usahanya, perusahaan pun melakukan pembatasan pekerjaan sampai pada keputusan yang tidak banyak disukai, yaitu pemutusan hubunga kerja (PHK).6
Menurut Umar Kasim salah satu permasalahan yang sering muncul dalam hubungan kerja adalah permasalahan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
6Adrian Sutedi, 2009, Hukum Perburuhan, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, hlm.48
Menurut Umar Kasim berakhirnya hubungan kerja bagi tenaga kerja dapat mengakibatkan perkerja kehilangan mata pencahariannya yang berarti pula permulaan masa pengangguran dengan segala akibatnya, sehingga untuk menjamin kepastian dan ketentraman hidup tenaga kerja, seharusnya tidak ada pemutusan hubungan kerja.7
Sebelum membahas lebih jauh tentang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) perlu diketahui terlebih dahulu apa itu PHK, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak-hak dan kewajiban (prestasi dan kontra-prestasi) antara pekerja/buruh dengan pengusaha (Pasal 1 angka 25 Undang-Undang Ketenagakerjaan).8
Gejala PHK perlu menjadi perhatian utama pemerintah karena hal ini dapat memperbesar angka pengangguran dan menurunkan daya beli masyarakat.
Tekanan biaya hidup pekerja/buruh yang semakin tinggi juga menimbulkan tuntutan akan kenaikan upah minimum. Namun proses penetapannya sejauh ini masih mempunyai banyak kelemahan. Selanjutnya, upah pekerja formal yang semakin meningkat akibat kenaikan upah minimum tidak diimbangi dengan meningkatnya upah tenaga kerja informal. Kenaikan upah pekerja formal ini dan membesarnya lapangan kerja informal telah menyebabkan jurang perbedaan upah yang semakin lebar antara tenaga kerja formal dan informal. Selain itu, adanya
7Umar Kasim, 2004, Hubungan Kerja Dan Pemutusan Hubungan Kerja, Informasi Hukum Vol. 2, hlm. 26
8Sudibyo Aji Narendra Buana dan Mario Septian Adi Putra,2004, Implementasi Pemutusan Hubungan Kerja, Jurnal Studi Manajemen, Vol 9, No 2, Oktober
kecenderungan peningkatan upah tenaga kerja formal di industri besar tanpa mempertimbangkan produktifitas akan berakibat pada penurunan daya saing.9
Pemutusan hubungan kerja merupakan suatu hal yang sangat ditakuti oleh karyawan. Hal ini dikarenakan carut marutnya kondisi perekonomian yang berdampak pada banyak perusahaan yang harus gulung tikar, dan tentu saja berdampak pada pemutusan hubungan kerja yang dilakukan secara sepihak oleh perusahaan. Kondisi inilah yang menyebabkan orang yang berkerja pada waktu itu selalu dibayangi kekhawatiran dan kecemasan, kapan giliran dirinya diberhentikan dari pekerjaan yang menjadi penopang hidup dari keluarganya.
Umar Kasim juga mengemukakan bahwa pemutusan hubungan kerja merupakan isu yang sensitif, pengusaha seharusnya bijaksana dalam melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), karena PHK dapat menurunkan kesejahteraan masyarakat, rakyat kehilangan pekerjaan, bahkan lebih gawat lagi PHK dapat mengakibatkan pengangguran. Istilah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah sebuah momok bagi pekerja, mengingat sangat banyak sekali dampak dan akibat yang ditimbulkannya, tidak hanya bagi pekerja itu sendiri, bahkan ini seperti efek domino yang saling berkaitan satu sama lain yang merambah kesektor kehidupan masyarakat lainnya. Jadi, pemerintah, pengusaha, pekerja dan serikatnya sebaiknya mengupayakan agar jangan sampai terjadinya pemutusan hubungan kerja.10 Terkait dengan masalah perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu antara lain : upah minimum
9Adrian Sutedi,2009,Hukum Perburuhan, Cetakan Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 5
10Umar Kasim, Op Cit, hlm. 39
yang ada pada saat ini pada umumnya masih berada dibawah kebutuhan hidup minimum.11
Hak dan kewajiban yang timbul akibat adanya hubungan kerja harus disepakati secara bersama oleh pekerja dan pengusaha, juga tidak boleh kurang dari standar minimum yang diatur dalam ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.
Setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, oleh karena itu pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja yang meliputi upah minimum, upah kerja lembur, upah tidak masuk kerja karena berhalangan.12
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) seringkali menimbulkan keresahan khususnya bagi pekerja, PHK memberikan dampak Psycologis dan economis Financill bagi pekerja dan keluarganya.13Dalam hubungan kerja perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan kepentingan antara pengusaha dengan pekerja biasa saja terjadi, yang dapat mengakibatkan adanya perselisihan hubungan industrial. Perselisihan hubungan industrial diatur didalam Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Pasal 1 angka (1) menyebutkan bahwa :
“ Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusahan atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat/pekerja buruh karena adanya
11 Suwarto,2003,Hubungan Industrial Dalam Praktek Asosiasi Hubungan Industrial Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, hlm, 210
12Ibid, hlm. 77
13 F.X. Jumialdi, 1985, Perjanjian Perburuhan dan Hubungan Perburuhan Pancasila, Bina Aksara, Jakarta, hlm. 88
perselisihan mengenai hak, peselisihan kepentingan, perselisihan hubungan kerja dan perselisihan antara serikat pekerja/serikat buruh dalam suatu perusahaan”
Dari uraian masalah diatas menjadi alasan penulis mengambil judul penelitian “ Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Yang Mengalami Pemutusan Hubungan Kerja Secara Sepihak”.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas maka penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Apakah tenaga kerja dapat dikenakan pemutusan hubungan kerja secara sepihak ?
2. Apakah pemutusan hubungan kerja dapat dilakukan tanpa melalui prosedur yang berlaku ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menjelaskan dan menganalisis pemutusan hubungan kerja terhadap tenaga kerja yang dilakukan secara sepihak
2. Untuk menjelaskan dan menganalisis apakah pemutusan hubungan kerja dapat dilakukan tanpa melalui prosedur yang berlaku
D. Manfaat Penelitian
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak terkhusus pekerja/buruh.
1. Secara Teoritis, Penelitian ini diharapakan dapat memberikan manfaat sebagai bahan kajian dalam pengembangan ilmu hukum terkhususnya di bidang Ketenagakerjaan terkait dengan tenaga kerja dapat dikenakan pemutusan hubungan kerja secara sepihak dan apakah pemutusan hubungan kerja dapat dilakukan tanpa melalui prosedur PHK yang berlaku berdasarkan Undang-Undang No 11Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja.
2. Kegunaan Praktis, Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan refleksi bagi penegak hukum, juga diharapkan dapat memberikan masukan terhadap pemerintah daerah kota Ambon, terkhususnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi pentingnya merealisasikan prosedur pemutusan hubungan kerja yang berlaku berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
E. Kerangka Konseptual
Dari uraian diatas dapat dijelaskan gambaran bagaimana hubungan antara konsep-konsep yang akan diteliti sebagai berikut :
1. Konsep Negara Hukum
Munculnya pemikiran tentang negara hukum sebenarnya dimulai sejak abad XIX sampai dengan abad XX.Arti negara hukum itu sendiri pada hakikatnya berakar dari konsep teori kedaulatan hukum yang pada prinsipnya menyatakan bahwa kekuasaan tertinggi didalam suatu negara adalah hukum, oleh sebab itu seluruh alat perlengkapan negara apapun namanya
termasuk warga negara harus tunduk dan patuh serta menjunjung tinggi hukum tanpa kecuali.14
Secara embrionik, gagasan negara hukum telah dikemukakan oleh Plato, ketika ia menulis Nomoi, sebagai karya tulis ketiga yang dibuat di usia tuanya, sementara dalam dua tulisan pertama, Politeia dan Politicos, belum muncul istilah negara hukum. Dalam Nomoi, Plato mengemukakan bahwa penyelenggaraan negara yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan (hukum) yang baik.15Gagasan Plato tentang negara hukum ini semakin tegas ketika didukung oleh muridnya, Aristoteles, yang menuliskannya dalam buku Politica.16
Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik ialah negara yang diperintah oleh konstitusi dan berkedaulatan hukum.
Menurutnya ada tiga unsur pemerintahan yang berkonstitusi, yaitu : pertama, pemerintahan dilaksanakan untuk kepentingan umum;
kedua, pemerintahan dilaksanakan menurut hukum yang berdasarkan pada ketentuan-ketentuan umum, bukan hukum yang dibuat secara sewenang-wenang yang menyampingkan konvensi dan konstitusi; ketiga, pemerintahan berkonstitusi berarti pemerintahan yang dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan
14Hestu Cipto Handoyo, 2015, Hukum Tata Negara Indonesia (Menuju Konsolidasi Sistem Demokrasi), Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, hlm. 17
15Ibid, hlm. 18
16Ridwan HR, 2017, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, Cetakan Ke-13, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 2
berupa paksaan tekanan yang dilaksanakan pemerintahan despotik.
Dalam kaitannya dengan konstitusi.
Aristoteles mengatakan, konstitusi merupakan penyusunan jabatan dalam suatu negara dan menentukan apa yang diamaksudkan dengan badan pemerintahan dan apa akhir dari setiap masyarakat, konstitusi merupakan aturan-aturan dan penguasa harus mengatur negara menurut aturan-aturan tersebut.17
Menurut Sri Soemantri, tidak ada suatu negara pun di dunia ini yang tidak mempunyai konstitusi atau undang-undang dasar.
Negara dan konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Bila hukum diidentikkan dengan keberadaan konstitusi dalam suatu negara, maka benar apa yang dikemukakan oleh A.
Hamid S. Attamimi, yang mengatakan bahwa dalam abad ke-20 ini hampir tidak satu negara pun menganggap sebagai negara modern tanpa menyebutkan dirinya “negara berdasar atas hukum”. Dengan demikian, dalam batas-batas minimal, negara hukum identik dengan negara yang berkonstitusi atau negara yang menjadikan konstitusi sebagai aturan main kehidupan kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan.18
17Ibid
18Ridwan HR, 2017, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, Cetakan Ke-13, Rajawali Pers, Jakarta, hlm. 4
2. Konsep Perlindungan Hukum
Subjek hukum selaku pemikul hak-hak dan kewajiban- kewajiban (de dragger van de rechten en plichten), baik itu manusia (naturlijke person), badan hukum (rechtspersoon), maupun jabatan (ambt), dapat melakukan tindakan-tindakan hukum berdasarkan kemampuan (bekwaam) atau kewenangan (bevoegdheid) yang dimilikinya.
Dalam pergaulan di tengah masyarakat, banyak terjadi hubungan hukum yang muncul sebagai akibat adanya tindakan- tindakan hukum dari subjek hukum itu. Tindakan hukum ini merupakan awal lahirnya hubungan hukum (rechtsbetrekking), yakni interaksi antar subjek hukum yang memiliki relevansi hukum atau mempunyai akibat-akibat hukum. Agar hubungan hukum antar subjek hukum itu berjalan secara harmonis, seimbang, dan adil, dalam arti setiap subjek hukum mendapatkan apa yang menjadi haknya dan menjalankan kewajiban yang dibebankan kepadanya, maka hukum tampil sebagai aturan main dalam mengatur hubungan hukum tersebut.
Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia. Agar kepentingan manusia terlindungi, hukum harus dilaksanakan.Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara
normal, damai, tetapi dapat terjadi juga karena pelanggaran hukum.19
Hukum menghendaki perdamaian, perdamaian diantara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan manusia tertentu (baik material maupun ideal), kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta benda, dan sebagainya terhadap yang merugikannya. Tujuan-tujuan hukum itu akan tercapai jika masing-masing subjek hukum mendapatkan hak- haknya secara wajar dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.20
3. Konsep Ketenagakerjaan
Dalam kepustakaan hukum yang ada selama ini selalu menyebutkan dengan istilah hukum perburuhan. Dalam bukunya, Iman Soepomo disebutkan mengenai defenisi hukum perburuhan (Arbeidstrecth) adalah bagian dari hukum yang berlaku, yang pada pokoknya mengatur hubungan antara buruh dan majikan, antara buruh dengan buruh, dan antara buruh dengan penguasa.21
Mr. M. G. Levenbach menyebutkan juga bahwa hukum perburuhan adalah hukum yang berkenan dengan hubungan kerja,
19 R.M. Sudikno Mertokusumo, 1996, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, hlm. 34
20Ibid, hlm. 265
21Iman Soepomo, 2003, Pengantar Hukum Perburuhan, Djambatan, Jakarta, hlm. 2
dimana pekerjaan tersebut dilakukan di bawah pimpinan dan dengan keadaan yang bersangkut paut dengan hubungan kerja.22
Selain itu dari pengertian hukum perburuhan yang diberikan oleh Iman Soepomo tersebut jelaslah bahwa pandangan tersebut didasarkan pada aliran hukum Eropa Kontinental yang memandang hukum identik dengan undang-undang juga kebiasaan, perjanjian, traktat dan yurisprudensi. Selain itu untuk hukum yang tidak tertulis sulit ditemukan kodifikasinya.
Saat ini kondisinya telah berubah dengan intervensi pemerintah yang sangat dalam dibidang perburuhan, sehingga kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemerintah sudah demikian luas, tidak hanya aspek hukum yang berhubungan dengan hubungan kerja saja, tetapi sebelum dan sesudah hubungan kerja.
Konsep ini sudah jelas diakomodir dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja.
Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa ketenagakerjaan adalah hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dirumuskan pengertian Hukum Ketenagakerjaan adalah semua peraturan hukum yang berkaitan dengan tenaga kerja baik sebelum bekerja, selama atau dalam hubungan kerja, dan
22 Endah Pujiastuti, 2008, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan, Semarang University Press, Semarang, hlm. 1
sesudah hubungan kerja. Jadi pengertian hukum ketenagakerjaan lebih luas dari hukum perburuhan yang selama ini kita kenal yang ruang lingkupnya hanya berkenaan dengan hubungan hukum antar buruh dengan majikan dalam hubungan kerja saja.23
F. Metode Penelitian 1. Tipe Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tipe penelitian hukum normatif, yang dimana penelitian hukum normatif adalah suatu penelitian hukum baik bersifat murni maupun bersifat terapan, yang dilakukan oleh seorang peneliti hukum untuk meneliti suatu norma karena itu disebut normatif.24
2. Pendekatan Masalah
Didalam penelitian hukum ini menggunakan pendekatan peraturan perundangan-undangan (Statue Appoach), dan pendekatan konseptual (conceptual approach).25Karena penelitian ini memfokuskan pada penerapan dan analisis terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan pendekatan konseptual yang beranjak dari pandangan- pandangan dan doktrin yang berkembang tentang perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja.
23Lalu Husni, 2009, Pengantar Hukum Ketengakerjaan Indonesia, Edisi Revisi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,2009. hlm. 24
24Munir Fuady, 2018, Metode Riset Hukum: Pendekatan Teori Dan Konsep,PT Raja Gravindo Persada, Depok, hlm,130
25Peter Mahmud Marzuki,2013, Penelitian Hukum Edisi Revisi, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, hlm. 133
3. Bahan Hukum
Didalam metode penelitian hukum ini terdapat 3 macam bahan hukum yang penulis pergunakan, diantara ketiga bahan hukum yang dimaksud adalah :
a. Bahan Hukum Primer
Yaitu mencakup bahan-bahan hukum yang terkait dengan masalah yang ditulis sebagai berikut :
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Undang-Undang No 11 Tahun 2020 TentangCipta Kerja 3. Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan
4. Undang-Undang No 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
Yaitu dalam hal ini akan di kumpulkan data dari Buku, Jurnal dan hasil karya ilmiah para sarjana serta hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan isu hukum yang akan dikaji
4. Prosedur Pengumpulan Bahan Hukum
Prosedur pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini yaitu dikumpulkan melalui studi pustaka (Library Research), yaitu penelitian ini dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau yang disebut dengan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan non-hukum.26 Dikumpulkan berdasarkan permasalahan dan dikaji secara komprehensif agar dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan atau untuk memecah suatu masalah yang berhubungan dengan penelitian ini.
5. Pengolahan Dan Analisis Bahan Hukum
Analisis yang digunakan dalam metode ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif yaitu data yang dihimpun dengan cara diuraikan diatas, kemudian diolah dengan cara diseleksi, diklasifikasi berdasarkan dengan masalah yang diteliti, guna mendapatkan gambaran umum yang jelas untuk mendukung materi peneliti ini melalui analisa data kualitatif.27
26Nomensen Sinamo, 2009, Metode Penelitian, Bumi Initama Sejahtera, Jakarta, hlm. 56
27H. Zainuddin Ali, 2014, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 68