• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya yang adil, makmur, sejahtera, dan tertib berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disingkat UUD NRI Tahun 1945). Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera tersebut, perlu secara terus menerus ditingkatkan usaha-usaha pencegahan dan pemberantasan tindak pidana. Perbuatan korupsi yang adalah bagian dari tindak pidana korupsi telah menimbulkan kerugian negara yang sangat besar dan berimplikasi pada timbulnya krisis di berbagai bidang. Untuk itu, upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi yang diharapkan mampu mencegah kerugian keuangan negara atau perekonomian negara.1

Keuangan negara merupakan seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun, yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan, termasuk didalamnya segala bagian kekayaan negara dan segala hak dan kewajiban yang timbul karena :

(a) berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggungjawaban pejabat Negara, baik di tingkat pusat maupun daerah

(b) berada dalam penguasaan, pengurusan dan pertanggungjawaban Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, yayasan, badan hukum, dan perusahaan yang menyertakan modal negara, atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan Negara.2

1 Penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

2Ibid.

(2)

Sedangkan perekonomian Negara adalah kehidupan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan ataupun usaha masyarakat secara mandiri yang didasarkan pada kebijakan Pemerintah, baik ditingkat pusat maupun di daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku yang bertujuan memberikan manfaat, kemakmuran, dan kesejahteraan kepada Seluruh kehidupan masyarakat.3

Pada prinsipnya perbuatan korupsi terjadi karena adanya perbuatan secara melawan hukum dan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara.

Berbagai tindakan korupsi yang dilakukan dengan modus operandi menimbulkan kerugian keuangan Negara dan perekonomian Negara, dan sudah merambat di segala bidang kehidupan bernegara. Perkembangannya juga terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian negara, bahkan dilakukan secara sistematis, sehingga tidak mengherankan kalau dalam beberapa tahun terakhir lembaga Riset Political And Economi Risk Consultancy (PERC) menempati Indonesia sebagai juara korupsi di Asia. Predikat serupa juga datang pula dari Transparency Internasional yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu Negara terkorup di dunia.4 Karena itu, tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai tindak pidana biasa melainkan tindak pidana luar biasa (extraordinary crime) sehingga dibutuhkan

3Ibid

4 Mardjono Reksodiputro, 1997, Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Pusat Pelayanan Keadilan Dan Pengabdian Hukum UI, hal 25

(3)

keinginan kuat dari seluruh elemen bangsa dan negara untuk melakukan tindakan pemberantasan terhadap tindak pidana dimaksud.

Meluasnya praktek korupsi di Indonesia sehingga pada tanggal 16 Agustus 1999 Pemerintah menetapkan Undang Undang Negara Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang selanjutnya disingkat dengan UU No. 31 Tahun 1999) sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, yang selanjutnya di singkat UU No. 20 Tahun 2001) sebagai kebutuhan hukum untuk memberantas setiap bentuk tindak pidana korupsi.

Pemberantasan korupsi telah dilakukan melalui upaya pencegahan maupun penindakan terhadap pelaku dugaan tindak pidana korupsi tetapi masih saja banyak terjadi praktik korupsi terutama dalam bidang layanan publik. Dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana korupsi maka Undang-undang telah menentukan ancaman pidana minimum khusus, pidana denda yang lebih tinggi, dan ancaman pidana mati. Selain itu, Undang-undang juga memuat pidana penjara bagi pelaku tindak pidana korupsi yang tidak dapat membayar pidana tambahan berupa uang pengganti kerugian Negara.5 Hal ini merupakan bentuk penerapan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi guna mencegah terjadinya tindak pidana korupsi dan menegakan hukum sebagai konsekuensi dari penetapan Negara Indonesia sebagai Negara hukum sebagaimana ditetapkan

5Op Cit, Penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(4)

dalam ketentuan pasal 1 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 yang mengatur bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum.

Terhadap pelaku tindak pidana korupsi, dilakukan proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan dipengadilan untuk membuktikan apakah terjadi atau tidaknya tindak pidana korupsi. Penyidikan merupakan tindakan untuk menentukan ada tidaknya unsur tindak pidana korupsi sebelum dilakukan penuntutan oleh penuntut umum serta pemeriksaaan oleh hakim dipengadilan.

Rangkaian ini merupakan suatu sistem dalam penanganan suatu perkara tindak termasuk tindak pidana korupsi.

Pengadilan memiliki kewenangan untuk menerima, memeriksa dan memutus perkara tindak pidana korupsi yang diajukan kepadanya setelah dilakukan penyidikan dan penuntutan. Untuk melakukan pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi di pengadilan maka terdakwa harus hadir di pengadilan.

Hadirnya terdakwa untuk memberikan kejelasan mengenai perkara yang didakwakan kepadanya melalui pemberian keretangan maupun melakukan pembelaan. Oleh karena itu, hakim yang akan memeriksa terdakwa tindak pidana korupsi memerintahkan kepada terdakwa untuk hadir dipengadilan untuk memberikan keterangan serta melakukan pembelaan terhadap perkara yang didakwakan kepadanya guna membuktikan telah terjadi atau tidaknya tindak pidana korupsi. Hal ini merupakan hak dari terdakwa untuk membuktikan kepada hakim bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana yang didakwakan oleh penuntut umum dalam dakwaan, sebagaimana ditetapkan dalam

(5)

ketentuan pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 yang menyebutkan bahwa :

(1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi.

(2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi maka keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang menguntungkan baginya.

Hak terdakwa untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi melalui pemberian keterangan dalam persidangan. Keterangan terdakwa yang disampaikan dipengadilan berkaitan dengan perbuatan yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Hal ini sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan pasal 189 ayat (1) Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (selanjutnya di singkat UU No. 8 Tahun 1981) yang mengatur bahwa :

(1) Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.

(2) Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.

(3) Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.

(4) Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.

Terdakwa menyampaikan keterangan dalam proses pemeriksaan terkait dengan perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.

Untuk itu dalam proses pemeriksaan dipengadilan, terdakwa wajib hadir dipengadilan untuk memberikan keterangan. Sebab terdakwa sendiri yang mengalami atau mengetahui peristiwa pidana yang didakwakan kepadanya,

(6)

sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan pasal 154 ayat (4), ayat (5) dan ayat (6) UU No. 8 Tahun 1981 bahwa:

(4) Jika terdakwa ternyata telah dipanggil secara sah tetapi tidak datang di sidang tanpa alasan yang sah, pemeriksaan perkara tersebut tidak dapat dilangsungkan dan hakim ketua sidang memerintahkan agar terdakwa dipanggil sekali lagi.

(5) Jika dalam suatu perkara ada lebih dari seorang terdakwa dan tidak semua terdakwa hadir pada hari sidang, pemeriksaan terhadap terdakwa yang hadir dapat dilangsungkan.

(6) Hakim ketua sidang memerintahkan agar terdakwa yang tidak hadir tanpa alasan yang sah setelah dipanggil secara sah untuk kedua kalinya, dihadirkan dengan paksa pada sidang pertama berikutnya.

Sesuai pengaturan dimaksud maka apabila terdakwa telah dipanggil secara sah tetapi tidak datang ke sidang tanpa alasan yang sah maka pemeriksaan perkara tidak dapat dilakukan, dan hakim memerintahkan agar terdakwa dipanggil untuk hadir pada persidangan, dan bahkan hakim dapat memerintahkan menghadirkan terdakwa dengan cara paksa. Akan tetapi dalam ketentuan pasal 38 ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 mengatur bahwa dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah, dan tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa kehadirannya. Dalam penjelasan Pasal 38 ayat (1) UU No 31 Tahun 1999 menyebutkan bahwa ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk menyelamatkan kekayaan negara sehingga tanpa kehadiran terdakwapun, perkara dapat diperiksa dan diputus oleh hakim.

Berdasarkan pengaturan sebagaimana disebutkan diatas maka pemeriksaan terhadap terdakwa dapat dilakukan apabila terdakwa telah dipanggil secara sah dan tidak hadir disidang pengadilan tanpa alasan yang sah, dan bahkan pengadilan dapat memutuskan perkara tanpa hadirnya terdakwa. Proses dimaksud oleh

(7)

Abdul Rahman Saleh disebut peradilan In Absentia atau pemeriksaan suatu perkara dipengadilan tanpa hadirnya terdakwa. Menurut Abdul Rahman Saleh bahwa Peradilan In Absentia adalah konsep dimana terdakwa telah dipanggil secara sah dan tidak hadir di persidangan tanpa alasan yang sah, sehingga pengadilan melaksanakan pemeriksaan di pengadilan tanpa kehadiran terdakwa.6

Namun proses pemeriksaan perkara tanpa hadirnya terdakwa tentunya sangat sulit untuk mengetahui secara pasti mengenai tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa. Dalam perkembangan penanganan perkara tindak pidana korupsi pada akhir-akhir ini, muncul fenomena yang berkaitan dengan ketidakhadiran terdakwa dalam proses persidangan dikarenakan terdakwa melarikan diri maupun sakit dalam waktu yang panjang pada saat akan dilakukannya proses pemeriksaan di pengadilan. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam upaya penanganan serta menyelesaikan perkara dimaksud.

Agenda persidangan pemeriksaan terdakwa tanpa hadirnya terdakwa (In Absentia) mempunyai keuntungan untuk menyelamatkan keuangan Negara agar aset-aset dari pelaku tindak pidana korupsi bisa langsung disita dan dieksekusi oleh jaksa melalui putusan hakim. Akan tetapi dalam proses pemeriksaan perkara tanpa hadirnya terdakwa tentunya merugikan hak-hak terdakwa, sebab setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan suatu tindak pidana mempunyai hak untuk melakukan pembelaan. Hak terdakwa untuk melakukan pembelaan di katagorikan sebagai hak asasi manusia. Dalam ketentuan pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 39 Tahun

6Abdul Rahman, 2008, Bukan Kampung Maling, Bukan Desa Ustadz, Jakarta, Kompas Media Nusantara, Hal 208.

(8)

1999 Tentang Hak Asasi Manusia (selanjutnya di singkat UU No. 39 Tahun 1999) yang mengatur bahwa Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Oleh karena itu, pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi tanpa hadirnya terdakwa sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 38 ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 bahwa dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah, dan tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa kehadirannya dianggap bertentangan dengan pasal 154 ayat (4), UU No. 8 Tahun 1981 bahkan merugikan hak terdakwa yang diatur dalam pasal 18 ayat (1) UU No. 39 Tahun 1999.

Salah satu contoh yaitu kasus Bank Harapan Sentosa (BHS) yang mana terdakwa Hendra Rahardja, Eko Edi Putranto, Sherny Kojongian dipanggil secara sah oleh Jaksa Penuntut Umum atas perintah Majelis Hakim akan tetapi terdakwa tidak hadir. Sehingga putusan Hakim dalam peradilan In Absentia dengan Nomor : 1032/Pid.B/2001/PN.JKT.PST. menghukum para terdakwa masing-masing :

- a) Terdakwa I : HENDRA RAHARDJA dengan Pidana Penjara : seumur hidup

b) Terdakwa II : EKO EDY PUTRANTO dengan Pidana Penjara 20 (dua puluh) tahun

c) Terdakwa III: SHERNY KOJONGIAN dengan Pidana Penjara 20 (dua puluh) tahun

(9)

- Menghukum para Terdakwa dengan pidana denda masing-masing sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) dengan ketentuan jika denda tidak dibayarkan harus diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan

- Menyatakan barang bukti berupa Tanah dan Bangunan berikut surat- suratnya yang terlampir dalam daftar barang bukti dan barang bukti pengganti berupa hasil lelang barang bukti sebesar Rp.

13.529.150.800,- (tiga belas milyar lima ratus dua puluh sembilan juta seratus lima puluh ribu delapan ratus rupiah) dirampas untuk Negara, sedangkan yang berupa Dokumen Asli dikembalikan kepada Bank Indonesia dan Tim Likuidasi PT. BHS DL, sedangkan foto copy yang dilegalisir tetap terlampir dalam berkas perkara

- Menghukum para Terdakwa secara tanggung renteng untuk membayar uang pengganti sebesar Rp. 1.950.995.354.200,- (satu triliyun sembilan ratus lima puluh milyar sembilan ratus sembilan puluh lima juta tiga ratus lima puluh empat ribu dua ratus rupiah)

- Menghukum masing-masing Terdakwa dengan membayar biaya perkara sebesar Rp. 7.500,. (tujuh ribu lima ratus rupiah)

Padahal kehadiran terdakwa untuk memberikan keterangan dipengadilan adalah berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan atau yang diketahuinya sendiri atau dialaminya sendiri. Tujuan utamanya adalah agar terdakwa dapat mengerti benar-benar apa yang didakwakan, bagaimana keterangan saksi ahli, dan alat-alat bukti yang lain, sehingga ia bebas dan leluasa mengatur jawaban dan pembelaannya.7

UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana dirubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 untuk melindungi harta kekayaan/perkonomian negara, serta melakukan pemidanaan bagi mereka yang melakukan korupsi demi menyelamatkan harta kekayaan negara. Namun peradilan In Absentia potensial melahirkan kewenang- wenangan dan pelanggaran hak asasi manusia. Hak-hak terdakwa menjadi

7Mien Rukmini, 2003, Perlindungan HAM melalui Asas Praduga Tak Bersalah dan Asas Persamaan Kedudukan dalam Hukum pada Peradilan Pidana Indonesia, Penerbit PT. Alumni, Bandung, Hal. 89

(10)

terhempas atau hilang, Bertolak dari latar belakang di atas, maka judul yang dikaji dalam penulisan ini “TINJAUAN YURIDIS PERADILAN IN ABSENTIA PADA PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penulisan ini adalah, Apakah pelaksanaan peradilan In Absentia terhadap terdakwa tindak pidana korupsi tidak melanggar hak asasi manusia ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui dan memahami pelaksanaan peradilan In Absentia terhadap terdakwa tindak pidana korupsi dalam kaitan dengan Hak Asasi Manusia.

2. Sebagai salah satu syarat untuk penyelesaian studi pada Fakultas Hukum Universitas Pattimura.

D. Kegunaan Penelitian

1. Mengetahui apakah proses Peradilan In Absentia melanggar hak asasi manusia dalam proses persidangan.

2. Sebagai sumbangan pemikiran dalam pengembangan Ilmu Hukum Pidana kedepan khususnya yang berkaitan dengan Peradilan In Absentia dalam Tindak Pidana Korupsi.

E. Kerangka Teori

Penegakan hukum merupakan proses dilakukan untuk tegaknya atau berfungsinya norma norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam

(11)

hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.8 Hukum harus ditegakan dalam negara yang menyatakan dirinya sebagai negara hukum. Hukum menjadi dasar atau patokan atau sumber dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara.

Penegakan hukum menurut Utrecht mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum dari individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.9

Menurut Sudikno Mortokusumo bahwa dalam penegakan hukum harus ada kompromi antara kedua unsur tersebut. Kalau dalam penegakan hukum hanya diperhatikan kepastian hukum saja, maka unsur-unsur lainnya dikorbankan.

Demikian pula kalau yang diperhatikan hanyalah kemanfaatannya maka kepastian hukum dan keadilan dikorbankan dan begitu selanjutnya. Oleh sebab itu kedua unsur tersebut harus mendapat perhatian secara proporsional seimbang. Akan tetapi dalam praktek tidak selalu mudah dalam mengusahakan kompromi secara proporsional seimbang antara kedua unsur tersebut. 10

Selanjutnya menurut Soerjono Soekamto terdapat lima faktor yang sangat mempengaruhi penegakan hukum. Kelima faktor tersebut sangat berkaitan erat

8 Djarot M. Subroto, 2001, Peran Polisi Dalam Pembangunan, Sinar Persada, Jakarta, hal 34

9 Riduan Syahrini, 1999, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, hal 23

10 Sudikno Martokusumo, 1993, Bab Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Adytia Bekerja sama dengan konsorsium ilmu ilmu hukum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bandung, hal 2

(12)

sehingga merupakan essensi dari penegakan hukum dan merupakan tolak ukur dari efektivitas penegakan hukum. Ke lima faktor tersebut adalah11 :

1. Faktor hukumnya sendiri, terutama undang undang.

2. Faktor penegak hukum yakni pihak pihak yang membentuk dan menerapkan hukum

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum 4. Faktor masyarakat dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan 5. Faktor kebudayaan yakni sebagai hasil karya cipta dan rasa didasarkan

pada karsa manusia didalam pergaulan hidup.

Demikian juga dengan pelaksanakan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi guna memberantas tindak pidana korupsi yang dari tahun ke tahun semakin meningkat, baik dari aspek kuantitas maupun kualitas. Dari aspek kuantitas semakin meningkatnya jumlah tindak pidana korupsi, sedangkan dari aspek kualitas semakin sistematis, canggih serta meluasnya lingkup tindak pidana korupsi dalam seluruh lini kehidupan bernegara.

Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahwa pemberantasan korupsi harus ditingkatkan dalam rangka pengamanan dan penyelamatan keuangan dan kekayaan negara.12 Sehingga pemberantasan tindak pidana korupsi merupakan salah satu prioritas utama dalam penegakan hukum di Indonesia. Karena dalam kenyataan pembuatan korupsi telah menimbulkan kerugian negara yang sangat besar yang pada gilirannya dapat berdampak pada timbulnya krisis di berbagai bidang. Namun dalam penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi tidak boleh melanggara hak-hak dari pelaku tindak pidana korupsi. Hak pelaku

11 Soerjono Soekamto, 1993, Beberapa catatan tentang Psikologi Hukum, Citra Adytia Bakti, Bandung, hal 5

12 Mochtar Kusumaatmadja, 2006, Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan (kumpulan karya tulis), Alumni, Bandung, hal 31

(13)

tindak pidana korupsi dikatagorikan sebagai hak sasi manusia salah satu hak membela diri dalam pemeriksaan di pengadilan.

Hak asasi manusia merupakan hak dasar daripada manusia yang telah diperolehnya dan dibawahnya bersamaan dengan kehadiran manusia dilingkungan kehidupan masyarakat. Hak ini dibawah manusia sejak lahir sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa, sehingga harus dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang. Hak Asasi Manusia dihubungkan dengan kodrat, harkat dan martabat manusia maka Hak Asasi Manusia bersumber pada kodratnya sebagai makhluk Allah. Manusia diciptakan Allah untuk hidup, maka hidup adalah Hak Asasi Manusia dan Hak Asasi Manusia bersumber pada harkat dan martabatnya, karena diciptakan Allah dengan kemampuan berpikir, bernalar, mengeluarkan pendapat dan pikiran.13

Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada setiap manusia sejak lahir yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.

Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.14

Hak asasi manusia bersifat universal dan abadi. Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan

13 Farhana, 2012, Aspek Hukum Perdagangan Orang di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, hal 11

14 Ketentuan pasal 1 angka 1 Undang-Undang Negara Republik Iindonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak asasi Manusia.

(14)

dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan.

Hak Asasi Manusia dalam perkembangannya akhir-akhir ini merupakan konsep yang menjadi perhatian diseluruh belahan dunia. Ada beberapa alasan :

a. HAM itu berkaitan erat dengan martabat kemanusiaan.

b. HAM memiliki berbagai aspek kehidupan dari manusia baik aspek hukum, ekonomi, sosial politik, budaya, dan lain-lain sebagainya.

c. HAM saat ini tidak lagi sekedar berkaitan dengan dimensi individu, tetapi telah dikembangkan sedemikian rupa kedalam dimensi kolektif.

d. HAM selalu berkaitan dengan penegakan konsep negara hukum yang demokratis.

Pengakuan dan perlindungan hak asasi mansia dalam suatu negara hukum dan lebih khusus negara hukum modern sekarang ini sudah tidak mungkin dapat dihindari karena hak asasi manusia adalah merupakan hak yang paling mendasar yang dibawah sejak lahir oleh manusia dan wajib untuk dikukuhkan secara hukum dalam berbagai kebijakan penyelenggaraan negara. Karena itu bagi setiap angota masyarakat disamping ada kewajiban yang harus dilakukan dalam kedudukannya sebagai warga negara dalam negara, tetapi ia juga memiliki hak-hak yang patut dihormati, diakui dan dilindungi oleh negara.15

Murwanto Heru Santoso, mengemukakan bahwa gagasan perlindungan dan penghormatan hak hak asasi manusia ini bahkan diadopsi kedalam pemikiran mengenai pembatasan kekuasaan yang kemudian dikenal dengan aliran konstitusionalisme. Aliran inilah yang memberi warna modern terhadap ide-ide demokrasi dan nomokrasi Negara hukum dalam sejarah, sehingga perlindungan

15 Bagir Manan, 2006, Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia, PT Alumni, Bandung, hal. 6-28.

(15)

konstitusional terhadap hak asasi manusia dianggap sebagai ciri utama yang perlu ada dalam negara hukum yang demokratis, atau negara demokratis yang berdasar pada hukum.16

Dari segi sejarah, perkembangan Hak Asasi manusia (HAM) yang kini menjadi kebijakan universal dari negara-negara didunia, maka penuntutan, pemenuhan dan penegakan hukum terhadap hak asasi manusia menjadi perioritas untuk diatur dalam ketentuan hukum yang berlaku baik berdasarkan UUD maupun berbagai peraturan pelaksanaan lain. Walaupun, dimana-mana, di negara- negara yang ada dibelahan dunia ini penegakan hak asasi manusia masih merupakan permasalahan yang terus menerus mendapat perhatian untuk dikaji.

Malah negara-negara adi daya seperti Amerika Serikat yang dianggap sebagai pengawal hak asasi manusia masih dituduh sebagai negara pelanggar hak asasi manusia.

Menurut Scoot Davidson, kepedulian internasional terhadap hak asasi menusia, merupakan gejala yang cukup baru,meskipun kita dapat menunjuk pada sejumlahtraktat atau perjanjian internasional yang mempengaruhi isu kemanusiaan sebelum perang dunia ke II.17 Di Indonesia sendiri kepedulian mengenai hak asasi manusia, dalam kurun waktu perjalanan sejarah ketatanegaraan Indonesia baru muncul kepermukaan dan menjadi isu paling popular semenjak gelombang reformasi pada tahun 1998 yang membuka katup-

16 Murwanto Heru Santoso, 1998, Polisi Dalam Era Reformasi, Makala, Jakarta, hal 13

17 Scott Devidson dalam B.Hestu Cipto Handoyo, 2009, Hukum Tata Negara Indonesia, Universitas Atma Jaya Yokyakarta, hal 383

(16)

katup demokratisasi dibidang ketatanegaraan.18 Walaupun masih baru dari sudut implementasinya, namun dari segi konsep pemikiran tentang HAM telah berkembang sejak awal Indonesia berada pada perjuangan mencapai kemerdekaannya.

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Sesuai dengan substansi permasalahan yang akan dikaji, maka jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian Yuridis Normatif, yakni suatu penelitian yang terutama mengkaji ketentuan hukum positif, guna menjawab permasalahan hukum yang dihadapi,19 dalam hal ini melakukan pengkajian tentang tinjauan yuridis peradilan In Absentia pada perkara tindak pidana korupsi.

2. Tipe Penelitian

Guna melengkapi jenis penelitian diatas dan untuk memberi arah pada penulisan ini maka tipe penelitian ini bersifat “deskriptif analitis”, maksudnya bahwa data yang ditemukan selanjutnya dianalisis dan dibahas dengan berpatokan pada kerangka teori dan pemikiran beberapa ahli sehingga hasilnya dapat dideskripsikan untuk membantu penarikan kesimpulan.20

18 B.Hestu Cipto Handoyo, Ibid, hal 383

19 Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, hal 35

20 Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, hal 205

(17)

3. Sumber Bahan Hukum

Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat yang terdiri dari peraturan perundangan yang terkait dengan judul substansi yang diangkat diantaranya:

a. UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

b. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

c. UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi d. UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM

Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer seperti hasil penelitian dan pendapat para pakar-pakar hukum.21 Bahan hukum sekunder dimaksud seperti buku-buku, artikel dalam berbagai majalah ilmiah atau jurnal hasil penelitian di bidang hukum, makalah-makalah yang disampaikan dalam berbagai bentuk pertemuan seperti diskusi, seminar, lokakarya, dan lain-lain serta tulisan-tulisan lain yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.

4. Teknik Pengumpulan dan Analisa Bahan Hukum

Bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang telah dikumpulkan, kemudian dikelompokkan, serta dikaji untuk memperoleh gambaran taraf sinkronisasi dari semua bahan hukum. Bahan hukum yang telah diklasifikasi tersebut dipelajari, dikaji dan dibandingkan dengan teori dan prinsip hukum yang dikemukakan oleh para ahli, untuk akhirnya dianalisis secara normatif.

21Ronny Hanitijo Soemitro, 1980, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal 12

(18)

G. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan terdiri dari :

Bab I : Pendahuluan terdiri atas : Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Kerangka Teori, Metode Penulisan, Dan Sistematika Penulisan.

Bab II : Tinjauan Pustaka, terdiri atas : Pengertian, unsur dan tujuan Peradilan In Absentia, Pengertian dan pengaturan korupsi, Pengaturan Hukum mengenai Hak Asasi Manusia.

Bab III : Hasil dan Pembahasan, terdiri atas : Pengaturan Hukum Tentang Pelaksanaan Peradilan In Absentia di Indonesia, Pemeriksaan Terdakwa Tindak pidana korupsi pada peradilan In Absentia Dalam Kaitannya dengan HAM,

Bab IV, Penutup, terdiri atas : Kesimpulan dan Saran.

Referensi

Dokumen terkait

of documents Geneva Papers on Risk and Insurance: Issues and Practice 14 Environmental Claims Journal 6 Ecological Economics 5 Climate Policy 3 Natural Hazards 3 IEEE Power