1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
STIKES RSPAD Gatot Soebroto Prodi DIII Kebidanan merupakan pendidikan vokasi yang memiliki ciri khas mengutamakan dan menerapkan aspek- aspek praktis didukung dengan teori yang tepat. Hal ini untuk membedakan terhadap pendidikan sarjana kebidanan yang lebih mengutamakan capaian teoritis didukung aspek praktis. Komposisi praktik lebih dominan daripada teori.
Kurikulum Prodi DIII Kebidanan STIKES RSPAD Gatot Soebroto memiliki mata kuliah wajib sebanyak 8 SKS, mata kuliah prodi sebanyak 89 sks dan mata kuliah penciri institusi sebanyak 15 SKS, total sebanyak 112 SKS (Teori 43 SKS atau 38,39%, praktikum dan klinik 69 SKS atau 61,50%).1
Sebelum diaplikasikan langsung terhadap klien, mahasiswa dilatih keterampilannya di laboratorium. Praktik klinik di laboratorium dilakukan dengan metode simulasi, yaitu metode pengajaran untuk menirukan keadaan sebenarnya ke dalam situasi buatan. Kondisi laboratorium dan metode pembelajaran yang digunakan memengaruhi kualitas proses pembelajaran, khususnya pembelajaran praktik di laboratorium. Hal ini akan membawa dampak pada kualitas keterampilan klinik (skill lab) mahasiswa dengan variasi yang sangat besar.2
Penilaian aspek keterampilan lebih rumit dan subyektif bila dibandingkan dengan penilaian dalam aspek kognitif. Hal ini dikarenakan penilaian keterampilan memerlukan teknik pengamatan dengan keterandalan yang tinggi terhadap dimensi yang akan diukur. Bila tidak demikian maka unsur subjektivitas menjadi sangat
dominan3. Evaluasi kebidanan dilakukan dalam bentuk ujian tertulis dan ujian praktik metode Objective Structured Clinical Assessmentt (OSCA). Pelaksanaan OSCA ada beberapa perangkat yang digunakan seperti ruangan, penguji, checklist penilaian, probantus dan alat yang digunakan untuk tindakan ujian4. Objective Structured Clinical Assessmentt (OSCA) dapat digunakan dalam penilaian klinis untuk menilai kemampuan dan keterampilan klinis mahasiswa ilmu kesehatan dan OSCA diberikan dalam standar dan cara yang konsisten5.
Metode OSCA merupakan suatu model uji dimana perbedaan dengan uji lain adalah pada tehnik ujian dan cara penilaian, bukan pada materi uji, karena materi uji tetap berdasarkan kurikulum pendidikan D-III dan pengalaman selama praktik. OSCA ini dipandang lebih valid, lebih reliabel dan lebih objektif dibanding dengan ujian lisan kasus yang selama ini dipakai dalam menilai kemampuan klinis, kemampuan komunikasi dan perilaku. Selain itu keuntungan OSCA adalah bisa melakukan evaluasi peserta dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang lebih pendek dan serentak, menguji keterampilan dan pengetahuan lebih luas, dan semua peserta dievaluasi dengan instrument dan bahan uji yang sama. Keuntungan lain metode OSCA yaitu: dapat digunakan untuk menguji berbagai kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dalam waktu yang relatif singkat, dimana keberhasilan teruji dapat segera diketahui.6
Evaluasi pembelajaran praktik di STIKES RSPAD Gatot Soebroto Prodi DIII Kebidanan dilakukan melalui uji OSCA. Penilaian uji OSCA ini dikatakan objektif karena semua mahasiswa diuji dengan ujian yang sama, terstruktur karena yang diuji keterampilan klinik tertentu dengan menggunakan lembar penilaian
tertentu. Mahasiswa berkeliling ke beberapa station yang berurutan, dan di setiap station terdapat tugas yang harus didemonstrasikan atau pertanyaan pertanyaan yang harus dijawab. Observasi dilakukan penguji terhadap mahasiswa. Pada beberapa station, mahasiswa akan diuji mengenai kemampuan menginterpretasi data atau materi klinik serta menjawab pertanyaan secara lisan. Setiap station dibuat seperti kondisi klinik yang mendekati kenyataan. Dalam OSCA, penilaian berdasarkan pada keputusan yang sifatnya menyeluruh dari berbagai komponen kompetensi. Setiap station mempunyai materi uji yang spesifik. Semua mahasiswa diuji terhadap materi klinik yang sama dengan durasi waktu yang terbatas. 1
Pandemi Covid-19 berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Prodi DIII Kebidanan STIKES RSPAD Gatot Soebroto wajib mematuhi Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi No 1 Tahun 2020 tentang Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) di Perguruan Tinggi. Ujian OSCA yang semula dilaksanakan secara tatap muka, kini dilakukan secara daring. Hal ini dilakukan untuk mencegahadanya cluster baru Covid-19.1
Sesuai dengan ketentuan pada panduan ujian OSCA di RSPAD Gatot Soebroto, nilai batas lulus adalah 71. Pada station satu (kemampuan interpretasi data pada kasus kehamilan serotinus) tingkat kelulusan 91,9%. Kompetensi mahasiswa di station dua mengenai kemampuan interpretasi data pada kasus persalinan dengan PEB, angka kelulusannya sebesar 87,7%. Kompetensi mahasiswa di station tiga mengenai kemampuan interpretasi data pada kasus persalinan dengan KPD, tingkat kelulusannya sebesar 81,6%. Kompetensi
mahasiswa di station empat mengenai tindakan KB suntik, tingkat kelulusan sebesar 93,8%. Kompetensi mahasiswa di station lima mengenai tindakan KB suntik, angka kelulusan sebesar 89,7%. Kompetensi mahasiswa di station enam mengenai partograf, angka kelulusan sebesar 81,6%. Kompetensi mahasiswa di station tujuh mengenai CTG, angka kelulusan sebesar 77,5%. Kompetensi mahasiswa di station depalan mengenai resusitasi jantung paru, angka kelulusan sebesar 89,8%.1
Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi hasil uji kompetensi dengan metode OSCA lulusan DIII kebidanan di Propinsi DIY Tahun 2009 menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil uji kompetensi dengan metode OSCA yaitu faktor internal, yaitu kesiapan pribadi peserta uji kompetensi, faktor eksternal, yaitu adanya pembekalan dan persiapan yang dilakukan oleh pihak kampus, peran penguji, peran instrument yang digunakan, peran teman-teman sesama peserta uji kompetensi, motivasi dari dosen pembimbing, keluarga dan orang terdekat, pengalaman belajar di bangku kuliah, klinik dan bimbingan dari pembimbing klinik (CI), serta yang terakhir adalah adanya faktor keberuntungan.7
Penelitian tentang studi analisis penerapan metode non OSCA dengan OSCA terhadap kelulusan uji kompetensi mahasiswi Diploma III Kebidanan didapatkan hasil bahwa kelulusan kompetensi keterampilan Antenatal Care (ANC) pada metode Non OSCA sebanyak 96,8%, sedangkan pada metode OSCA sebanyak 74,1%, nilai p=0,000. Kelulusan nilai akhir uji kompetensi pada metode Non OSCA sebanyak 95,8%, sedangkan pada metode OSCA sebanyak 79,2%, nilai
p=0,000. Rerata nilai uji kompetensi ANC pada metode Non OSCA adalah 75,93, sedangkan metode OSCA adalah 72,22, nilai p=0,000. Rerata nilai akhir uji kompetensi pada metode Non OSCA adalah 75,65, sedangkan metode OSCA adalah 71,14, nilai p=0,000. Kesimpulan penelitian tersebut adalah ada hubungan penerapan metode uji dengan kelulusan uji kompetensi ANC dan kelulusan seluruh uji kompetensi (rekapitulasi) mahasiswi akademi kebidanan. Terdapat perbedaan nilai uji kompetensi ANC dan rekapitulasi nilai akhir uji kompetensi metode Non OSCA dengan OSCA mahasiswi akademi kebidanan, hal tersebut dapat disebabkan oleh unsur subjektivitas dosen penguji pada ujian Non OSCA.8
Proses ujian OSCA secara daring baru dilaksanakan pada tahun 2020.
Perubahan yang terjadi ini membuat dosen maupun mahasiswa menjadi bingung karena tidak terbiasa, sehingga ada beberapa kesulitan yang dialami dosen maupun mahasiswa. Salah satu kendala adalah akses internet yang kurang mendukung, terutama mahasiswa yang tinggal di pedesaan yang kesulitan mendapatkan sinyal provider telekomunikasi dan internet, sehingga banyak yang mengeluh dalam belajar daring. Kendala lain yang dihadapi perfoma gadget penguji yang lebih cepat kehabisan daya saat digunakan untuk videocall. Ujian yang berlangsung seharian membuat gadget cepat panas dan baterai cepat habis, hal ini menyebabkan pengisian baterai dilakukan bersamaan dengan ujian yang berlangsung. Tentu saja ini sangat berbahaya karena sebaiknya bila gadget sedang mengisi daya lebih baik dimatikan. Selain itu, dikhawatirkan pula bahwa mutu pembelajaran dan hasil ujian secara daring akan menurun secara kualitas, karena interaksi dosen dan mahasiswa terbatas.
Kekurangan lain dari ujian skill laboratorium dengan metode OSCA berbasis aplikasi web ini adalah rentan dengan gangguan teknis yang berkaitan dengan akses jaringan komputer yang jika tidak diantisipasi dengan baik maka berakibat fatal. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian tentang laporan survey kepuasan mahasiswa pada pembelajaran daring semester genap 2019/2020 di Universitas Jember, bahwa gangguan pada sistem pembelajaran/ujian online yang sering terjadi yaitu servernya sering down. Server down adalah kegagalan sebuah sistem, dimana server mengalami sebuah kegagalan, Yang menyebabkan server tidak bisa di akses.9 Maka dari itu dalam pelaksanaan ujian skill laboratorium dengan metode OSCA berbasis aplikasi web ini harus memperhatikan ketersediaan perangkat keras, seperti komputer server dan komputer digunakan oleh mahasiswa, akses jaringan internet yang memadai, dan sumber daya listrik atau menyediakan cadangan genset.
Meskipun pembelajaran dan ujian online banyak kekurangannya tetapi manfaatnya juga ada, yaitu dapat dilakukan dimana saja. Berdasarkan pengamatan peneliti, ujian dengan metode OSCA secara online ini memudahkan berbagai pihak dari segi biaya, waktu, dan tempat pelaksanaan. Kelebihan lain dari pelaksanaan ujian skill laboratorium dengan metode OSCA berbasis aplikasi web yaitu dapat menghemat pengeluaran, model ujian online tidak membutuhkan pengawas, hasil ujian memiliki kapasitas computerized marking, sehingga bila dibutuhkan bisa langsung diketahui. Selain itu tidak lagi menggunakan alat pemindai (scanner), objektivitas nilai dapat dijamin karena tidak adanya campur tangan manusia, data nilai tersimpan dengan aman dan dapat diakses secara terbuka.
Bagi mahasiswa, ujian secara online memudahkan dalam melihat hasil penilaian ujian secara langsung, namun bagi dosen secara kualitas, lebih baik melaksanakan ujian praktek dengan metode OSCA langsung di laboratorium (non web) dibandingkan ujian praktek dengan metode OSCA berbasis aplikasi web (online), karena dalam ujian praktek dengan metode OSCA non web dosen dapat melakukan interaksi dengan mahasiswa langsung dan memperbaiki kesalahan- kesalahan yang dilakukan saat itu juga.10
Tema sentral penelitian ini, yaitu adanya pandemic Covid-19 yang melarang kegiatan perkuliahan secara tatap muka untuk menghambat penyebaran covid-19 tersebut, sehingga mengakibatkan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran maupun ujian dilakukan secara daring. Pada pelaksanaan ujian keterampilan, penilaian dilakukan dengan metode OSCA. Pelaksanaan ujian keterampilan membutuhkan penilaian secara langsung di laboratorium dengan menggunakan berbagai peralatan yang dibutuhkan, namun pada ujian secara daring, terdapat beberapa keterbatasan terutama permasalahan teknis seperti perangkat yang mengalami gangguan, terganggunya akses internet, kehabisan batere, gadget yang panas, dan lain-lain.
Berdasarkan hal-hal tersebut dikhawatirkan terjadinya penurunan mutu hasil pembelajaran keterampilan pada mahasiswa kebidanan. Hasil pembelajaran dapat diketahui berdasarkan nilai ujian, sehingga melalui penelitian ini dapat diketahui kemudian dipilih metode ujian yang paling baik untuk diterapkan di masa mendatang. Penelitian ini sangat penting karena pemilihan metode ujian akan mempengaruhi hasil ujian dan tingkat kelulusan, sehingga perlu dipilih metode ujian yang paling sesuai dengan kondisi saat ini.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian perbandingan hasil penilaian skill laboratorium tentang praktik klinik asuhan kebidanan pada kehamilan dengan metode OSCA berbasis aplikasi web dengan non web pada mahasiswa akademi kebidanan di Akademi Kebidanan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah masalah dalam penelitian ini adalah :
1) Bagaimana perbedaan hasil ujian antara OSCA non Web (di laboratorium) dan OSCA bebasis Web (daring) pada mahasiswa akademi kebidanan di Akademi Kebidanan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.
2) Bagaimana perbedaan tingkat kelulusan antara OSCA non Web (di laboratorium) dan OSCA bebasis Web (daring) pada mahasiswa akademi kebidanan di Akademi Kebidanan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.
1.3. Tujuan Penelitian
1) Menganalisis perbedaan hasil ujian antara OSCA non Web (di laboratorium) dan OSCA bebasis Web (daring) pada mahasiswa akademi kebidanan di Akademi Kebidanan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.
2) Menganalisis perbedaan tingkat kelulusan antara OSCA non Web (di laboratorium) dan OSCA bebasis Web (daring) pada mahasiswa akademi kebidanan di Akademi Kebidanan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.
1.4. Kegunaan Penelitian 1.4.1 Aspek Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan bahan kajian dalam bidang ilmu kebidanan terapan khususnya dalam pengembangan sistem penilaian ujian skill laboratorium berbasis aplikasi web.
1.4.2 Aspek Praktis
1. Bagi Akademi Kebidanan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi institusi pendidikan untuk memilih cara ujian OSCA serta mengembangkan system ujian lab dengan osca secara daring
2. Bagi Mahasiswa
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa untuk belajar mandiri dan mencari tambahan informasi terkait mata kuliah di luar jam pembelajaran.
3. Bagi Dosen
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dosen untu memberikan materi pembelajaran maupun ujian dimanapun dan kapanpun.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan aplikasi yang dapat digunakan secara online dengan lebih efektif dan efisien baik untuk pembelajaran maupun ujian.