1 A. Latar Belakang
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sebanyak 57juta (63%) angka kematian yang terjadi didunia dan 36 juta (43%) angka kesakitan disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. Global status report on NCD World Health Organization (WHO) tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia adalah karena penyakit tidak menular (PTM) dan 4% meninggal sebelum usia 70 tahun. Seluruh kematian akibat PTM terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% di negara-negara berkembang, sedangkan dinegara-negara maju sebesar 13%. Pada tahun 2014, 8,5% orang dewasa berusia 18 tahun ke atas menderita diabetes. Pada tahun 2015, diabetes adalah penyebab langsung 1,6 juta kematian dan pada tahun 2012 glukosa darah tinggi adalah penyebab 2,2 juta kematian lainnya. (WHO, 2016).
Salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah diabetes yang saat ini telah menjadi ancaman serius kesehatan global. Istilah diabetes pertama kali dipakai oleh Artaeus dari Cappadocia pada abad ke-2, yang dalam bahasa Yunani berarti siphon (air yang terus keluar melalui tubuh manusia atau
banyak kencing). Artaeus menggambarkan orang yang terkena penyakit ini merasa haus yang berlebihan, banyak kencing, dan berat badan menurun. Ia mengatakan, tubuh makin habis mencair dan si pasien tidak hentinya memproduksi air keluar (Irianto Koes, 2014)
Diabetes melitus adalah sekelompok penyakit metabolik dengan karakteristik terjadinya peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemi), yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, aktivitas insulin dan keduanya (Smeltzer & Bare, 2013). Diabetes melitus (DM) merupakan keadaan yang seringkali dikaitkan dengan meningkatnya risiko kesakitan dan kematian.
Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO, 2011) menunjukan jumlah penderita diabetes militus di Dunia sekitar 200 juta jiwa dan diprediksikan akan meningkat dua kali, 366 juta jiwa tahun 2030 (WHO, 2011).
Berdasarkan problem data Internasional Diabetes Federation (IDF) tingkat prevelensi global penderita DM pada tahun 2012 sebesar 8,4% dari populasi penduduk dunia dan mengalami peningkatan 382 kasus pada tahun 2013. IDF memperkirakan pada tahun 2035 jumlah insiden DM akan mengalami peningkatan menjadi 55 % (592 juta) diantara usia lanjut penderita DM (IDF International Diabetes Federation, 2014).
Data IDF juga menunjukkan bahwa biaya langsung penanganan Diabetes mencapai lebih dari 727 Milyar USD per-tahun atau sekitar 12% dari pembiayaan kesehatan global. Data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga menunjukkan peningkatan jumlah kasus dan pembiayaan pelayanan Diabetes
di Indonesia dari 135.322 kasus dengan pembiayaan Rp 700,29 Milyar di tahun 2014 menjadi 322.820 kasus dengan pembiayaan Rp 1,877 Trilliun di tahun 2017(IDF International Diabetes Federation, 2014)
Menurut American Diabetes Association (ADA), prevalensi penderita DM di Amerika adalah sebesar 9,3%, meningkat dari tahun 2010 yaitu sebanyak 25,8 juta jiwa, dimana 8,1 juta orang penderita tersebut tidak terdiagnosa. Insidens DM pada tahun 2012 adalah 17 juta jiwa. Serta merupakan penyakit ke tujuh penyebab utama kematian di Amerika pada tahun 2010 (American Diabetes Association, 2011).
Prevalensi DM di Asia Tenggara (2014), sebesar 8,3%, kasus tidak terdiagnosa 52,8%. Kematian akibat DM pada penderita yang berusia dibawah 60 tahun adalah 53,8%. Diprediksikan pada tahun 2035 prevalensi DM di Asia Tenggara meningkat10,1%(Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018)
Indonesia juga menghadapi situasi ancaman diabetes serupa dengan dunia. International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 melaporkan bahwa epidemi Diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat. Indonesia adalah negara peringkat keenam dengan jumlah penyandang Diabetes usia 20-79 tahun sekitar 10.3 juta orang di dunia setelah Tiongkok (114,4 juta), India (72,9 juta), Amerika Serikat (30,2 juta), Brazil (12,5 juta) dan Meksiko (12 juta). Sejalan dengan hal tersebut, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memperlihatkan peningkatan angka prevalensi
Diabetes yang cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5%
di tahun 2018; sehingga estimasi jumlah penderita di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang yang kemudian berisiko terkena penyakit lain (komplikasi), seperti: serangan jantung, stroke, kebutaan dan gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian (Sulistiowati Eva, 2018).
Berdasarkan data terbaru Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, secara umum angka prevalensi diabetes mengalami peningkatan cukup signifikan selama lima tahun terakhir. Di tahun 2013, angka prevalensi diabetes pada orang dewasa mencapai 6,9 persen, dan di tahun 2018 angka terus melonjak menjadi 8,5 persen. Penderita diabetes (diabetesi) di Indonesia termasuk yang terbanyak di dunia. Bahkan berdasarkan data dari Diabetes Atlas IDF tahun 2010, Indonesia menduduki peringkat sembilan dengan 7,6 juta penduduk menderita diabetes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018).
Jawa Barat menempati posisi pertama jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) Tipe II. Sebagai salah satu provinsi terbesar di Indonesia, Di Jawa Barat DM dengan spesifikasi sebanyak 418 ribu orang sudah terdiagnosa DM dan sebanyak 225 ribu orang belum terdiagnosa, tetapi sudah menunjukkan indikasi DM.
Di Rumah Sakit Umum Unit Swadana Daerah Kabupaten Sumedang (RSU USDKS) pada tahun 2007 diabetes melitus termasuk kategori penyakit
rawat jalan terbanyak dengan jumlah 13.021 pasien (11,09%) 90-95% dari kasus Diabetes adalah Diabetes Tipe 2 yang sebagian besar dapat dicegah karena disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. (SIM-RS, 2007) dalam (Erlina Lina, 2013)
Faktor risiko kejadian penyakit Diabetes Mellitus tipe dua yaitu gaya hidup (Isnaini Nur, 2018). Gaya hidup merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh setiap orang. Banyak teori tentang gaya hidup, tetapi tidak ada yang membahasnya secara spesifik. Gaya hidup yang kurang sehat akan meningkatkan jumlah penderita penyakit tidak menular seperti Diabetes Miletus, DM dikenal dengan penyakit kencing manis adalah keadaan dimana terdapat kadar gula yang berlebihan dalam peredaran darah. Banyaknya jumlah penderita Diabetes Melitus saat ini, beberapa intstitusi mencoba mencari faktor yang menjadi penyebab. Menurut survey dari Departemen kesehatan RI diketehui bahwa sebagian besar pasien diabetes melitus memiliki gaya hidup tidak sehat . Penyakit Diabetes Melitus dapat menyerang siapa saja, tua-muda, kaya-miskin, kurus-gemuk (wahdah 2011). Gaya hidup urban, seperti konsumsi makanan cepat saji yang berkalori tinggi dan lebih banyak menghabiskan waktu duduk di depan komputer, diduga kuat menjadi pemicu kegemukan. Sedangkan gaya hidup rural, cenderung dapat dikatakan lebih baik karena lebih banyak mobilisasi seperti bertani, berburu, dan aktivitas lainnya tetapi masyarakat yang tinggal di desa, kebanyakan tidak tahu apa itu diabetes. Informasi yang didapatkan sangat minim sehingga
mereka tidak peduli menjaga apa yang dikonsumsi, menjaga kesehatan dan hal lain yang dapat meningkatkan faktor resiko diabetes (National Geographic Indonesia, 2019).
Faktor yang merupakan faktor gaya hidup antara lain pola makan, aktifitas fisik, stress, pola istirahat, merokok, dan alkohol (Nofrida & Putra, 2018). Pola makan yang sehat terletak pada perencanaan 3J (jumlah, jenis dan jadwal makan) (Prawira, 2009). Pola makan masyarakat saat ini telah bergeser ke pola makan modern yang cenderung serba instan. Banyak pakar yang menyebutkan hal tersebut sebagai faktor pemicu dan dihubungkan dengan timbulnya berbagai penyakit. Salah satu penyakit yang dimaksud adalah diabetes mellitus (Nathan & Delahanty, 2010) dalam (Diabetes et al., 2019).
Di samping itu revolusi industri mengubah jenis dan jumlah kerja seseorang. Sebelum revolusi industri, sebagian besar orang melakukan pekerjaan fisik yang berat. Lambat laun mesin mengurangi pekerjaan fisik yang harus dilakukan. Sehingga semakin sedikit orang yang melakukan pekerjaan fisik dan semakin banyak yang bekerja di belakang meja (Nathan &
Delahanty, 2009) dalam (Diabetes et al., 2019).
Secara garis besar kejadian diabetes melitus dipengaruhi oleh kurangnya berolahraga atau beraktivitas. Aktivitas fisik mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keseimbangan energi dan dapat dikatakan sebagai faktor- faktor utama yang dapat diubah yang melalui faktor-faktor tersebut banyak
kekuatan luar yang memicu pertambahan berat badan itu bekerja. Latihan fisik pada penderita DM memiliki peranan yang sangat penting dalam mengendalikan kadar gula dalam darah, dimana saat melakukan latihan fisik terjadi peningkatan pemakaian glukosa oleh otot yang aktif sehingga secara langsung dapat menyebabkan penurunan glukosa darah. Sebagian besar penyebab diabetes adalah meningkatnya jumlah penduduk yang kelebihan berat badan atau obesitas (Ilyas, 2011).
Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan energi.Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO, 2013). Macam-macam aktivitas fisik dibagi menjadi 3 yaitu, ketahanan, kelenturan dan kekuatan.Pengaruh aktivitas fisik atau olahraga secara langsung berhubungan dengan peningkatan kecepatan pemulihan glukosa otot (seberapa banyak otot mengambil glukosa dari aliran darah). Saat berolahraga, otot menggunakan glukosa yang tersimpan dalam otot dan jika glukosa berkurang, otot mengisi kekosongan dengan mengambil glukosa dari darah. Ini akan mengakibatkan menurunnya glukosa darah sehingga memperbesar pengendalian glukosa darah (Barnes, 2012).
Ternyata DM tidak hanya berhubungan dengan makanan mengandung gula tetapi juga kondisi psikologis. Sebuah studi mengklaim bahwa depresi atau stres dapat memicu diabetes. Bahkan bagaikan lingkaran setan yang
menakutkan, diabetes juga bisa memicu depresi. Awalnya gejala DM pada manusia diperlihatkan dengan kadar gula darah tinggi dan ketidakmampuan untuk memproduksi insulin. Biasanya ditandai sering buang air kecil, mudah haus, penglihatan kabur dan mati rasa di tangan atau kaki. Stres memicu DM bisa diterima sebab tingkat stres tinggi akan memengaruhi kadar gula darah dan metabolisme insulin. Jadi stres bisa menjadi pemicu Diabetes. Secara psikologi akibat stres terjadi perubahan gaya hidup, gaya pola makan dengan cemilan mengandung kadar gula tinggi. Rentetannya mempengaruhi level glukosa secara langsung (Salsabela, 2015).
Selain itu data dari Ainurafiq IZ, Eko Jahir Maindi Orang yang kurang aktif secara fisik memiliki hampir 50% peningkatan risiko terkena DM dibandingkan dengan mereka yang aktif. Namun, efek pencegahan DM tipe 2 dengan aktifitas fisik ini terkadang dapat dihambat efektifitasnya karena adanya paparan lain yang masih sulit ditinggalkan, salah satunya yang paling sering adalah sulitnya meninggalkan kebiasaan merokok. Padahal rokok ditemukan berpotensi menjadi faktor risiko sekaligus dapat memperparah penyakit DM. Studi yang dilakukan oleh Houston dari Birmingham Veteran Affairs Medical Center, Amerika Serikat menyatakan bahwa perokok aktif memiliki risiko 22% lebih tinggi untuk terserang DM tipe 2 dibanding orang yang tidak merokok, sedangkan pada perokok pasif ditemukan memiliki risiko 17% lebih tinggi untuk terserang diabetes dibanding dengan orang yang tidak terpajan (IZ & Maindi, 2015).
Penelitian menurut Hamdan Hariawan, Akhmad Fathoni dan Dewi Purnamawati tahun 2013 mengenai Hubungan Gaya Hidup (pola makan dan aktifitas fisik) dari Hasil Penelitian tersebut disimpulkan bahwa ada hubungan gaya hidup (pola makan dan aktivitas fisik) dengan kejadian DM di RSU Provinsi NTB.
Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas wado Kabupaten Sumedang pada tanggal 6 dan 9 Maret 2020, penderita DM menempati posisi ke 7 dari 10 penyakit besar, pada bulan Febuari 2018 berjumlah 111 orang (laporan puskesmas, 2018). Dari hasil wawancara dua orang penderita diantaranya jarang melakukan olahraga dan ia malah melanggar makanan yang seharus nya dihindari dengan berbagai macam makanan seperti minuman yang mengandung banyak gula, soda, makanan cepat saji, dan mengkonsumsi rokok. Klien kemana-mana menggunakan sepeda motor walaupun jaraknya engga terlalu jauh. Selanjut nya 5 orang klien didapatkan 2 orang klien mengatakan berat badanya normal tidak ada penurunan berat badan, 3 orang klien mengatakan ada penurunan berat badan.
Berdasarkan permasalahan diatas faktor gaya hidup yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah aktifitas fisik, pola makan dan merokok. Maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian tentang “Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Diabetes Melitus”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah pada peneliti tersebut adalah “Adakah Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Diabetes Melitus” ?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Diabetes Melitus.
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis kajian literature review hubungan aktivitas fisik dengan kejadian pasien Diabetes Melitus.
b. Menganalisis kajian literature review hubungan pola makan dengan kejadian pasien Diabetes Melitus.
c. Menganalisis kajian literature review hubungan perilaku merokok dengan kejadian pasien Diabetes Melitus.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternative meningkatkan perkembangan dalam ilmu keperawatan khususnya di bidang medikal bedah dan keperawatan komunitas yang berfokus pada gaya hidup dengan kejadian diabetes melitus.
b. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya, khususnya yang berfokus pada gaya hidup dengan kejadian diabetes melitus.
2. Manfaat Praktis a. Akademik
Secara akademi penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu keperawatan medical medah dan keperawatan komunitas, dapat memberikan suatu karya peneliti baru yang dapat mendukung dalam pengembangan sistem informasi dan dapat menjadi bahan pertimbangan ilmu yang telah diperoleh secara teori di lapangan dengan dijadikan sebagai acuan terhadap pengembangan ataupun pembuatan dalam penelitian yang sama.
b. Profesi Keperawatan
Sebagai masukan tentang bagaimana hubungan gaya hidup dengan kejadian diabetes mellitus sehingga dapat dijadikan sebagai dasar untuk memberikan proses asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus.
E. Ruang lingkup penelitian
Berdasarkan kajian literature penelitian ini membahas tentang Hubungan gaya hidup dengan kejadian diabetes mellitus. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan April - Juli 2020