1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Permasalahan
Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh suatu negara atau daerah memiliki tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka dapat dilihat dari beberapa indikator, salah satunya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk mengetahui keberhasilan pembangunan suatu negara atau daerah.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara adil dan merata, serta mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, setiap daerah memiliki potensi dan kemampuan keuangan yang berbeda-beda untuk membiayai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Hal ini menimbulkan ketimpangan fiskal antara satu daerah dengan daerah lainnya, maka untuk mengatasi masalah ketimpangan fiskal ini pemerintah mengalokasikan dana transfer dari pusat (dana perimbangan) yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Berdasarkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, “Desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom berdasarkan asas otonomi”. Sedangkan
“Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menjelaskan bahwa dana perimbangan terdiri dari dana bagi hasil (DBH), dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK). Selain dana perimbangan tersebut, pemerintah daerah juga memiliki sumber pendapatan sendiri berupa pendapatan asli daerah (PAD)
yang bersumber dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah.
Salah satu indikator keberhasilan suatu daerah adalah keberhasilan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi diharapkan hal ini akan membuka kesempatan bagi daerah untuk mengurangi jumlah pengangguran serta mengurangi angka kemiskinan bagi daerah tersebut.
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah merupakan suatu proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan daerah. Adanya pertumbuhan ekonomi daerah merupakan indikasi keberhasilan pembangunan suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat diukur dengan cara membandingkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun yang sedang berjalan dengan PDRB tahun sebelumnya. Menurut Buana (2018) menjelaskan salah satu indikator untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu daerah sebagai berikut:
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi disuatu Kabupaten atau provinsi dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data produk domestik regional bruto (PDRB). PDRB disajikan dalam dua konsep harga, yaitu harga berlaku dan harga konstan. Atas dasar harga konstan (ADHK) lebih digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun, untuk menunjukkkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan/setiap sektor dari tahun ke tahun. Selain itu data PDRB ADHK ini lebih menggambarkan perkembangan produksi riil barang dan jasa yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi tersebut.
Berikut pergerakan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Selatan atas Dasar Harga Konstan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan (%) tahun 2015-2019.
Tabel 1.1
Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan, 2015-2019
(Dalam Persen)
No. Kabupaten/Kota 2015 2016 2017 2018 2019 1. Kabupaten Ogan
Komering Ulu 3,05 3,96 4,06 5,00 5,64
2. Kabupaten Ogan
Komering Ilir 4,81 4,47 5,11 5,01 5,14
3. Kabupaten Muara
Enim 7,62 6,78 7,16 8,67 7,02
4. Kabupaten Lahat 2,14 2,34 4,44 4,07 5,62
5. Kabupaten Musi
Rawas 5,13 5,25 5,03 5,79 5,88
6. Kabupaten Musi
Banyuasin 2,29 2,17 3,02 3,23 4,57
7. Kabupaten
Banyuasin 5,56 5,89 5,05 5,14 5,22
8. Kabupaten OKU
Selatan 4,54 5,19 4,51 5,16 5,07
9. Kabupaten OKU
Timur 6,05 6,17 3,37 4,43 5,86
10. Kabupaten Ogan
Ilir 4,43 5,13 5,14 5,26 5,16
11. Kabupaten Empat
Lawang 4,50 4,54 3,71 4,23 3,62
12. Kabupaten PALI 4,44 5,19 5,97 6,43 6,16
13. Kabupaten Musi
Rawas Utara 3,34 2,70 4.65 4,22 4,16
14. Kota Palembang 5,45 5,74 6,21 6,69 5,94
15. Kota Prabumulih 4,84 6,62 5,27 5,83 5,55
16. Kota Pagar Alam 4,33 4,41 4,81 4,31 3,23
17. Kota Lubuklingg-
au 6,00 6,33 6,31 6,01 5,69
Sumber : www.bps.go.id , 2021
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa pada tahun 2015-2019 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan masih belum menunjukkan laju pertumbuhan produk domestik regional bruto yang maksimal dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat pada tabel 1.1 laju pertumbuhan produk domestik regional bruto tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan hanya mencapai 8,67% yang didapat oleh Kabupaten Muara Enim tahun 2018. Sedangkan laju
pertumbuhan produk domestik regional bruto terendah di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 2,14% yang didapat oleh Kabupaten Lahat tahun 2015. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan laju pertumbuhan produk domestik regional bruto atas dasar harga konstan (PDRB ADHK) di daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan masih menunjukkan tingkat yang rendah dan tidak merata.
Adapun laju pertumbuhan PDRB Provinsi Sumatera Selatan dibandingkan dengan Nasional tahun 2015-2019 (%) seperti terlihat pada gambar di bawah ini:
Sumber : https://www.bps.go.id , 2021 Sumber : www.djbp.kemenkeu.go.id, 2021
Gambar 1.1
Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Sumsel dibandingkan dengan Nasional Tahun 2015-2019 (%)
Dilihat dari tabel diatas dapat diketahui bahwa Laju Pertumbuhan berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan bergerak secara fluktuatif setiap tahunnya. Pendapatan Domestik Regional Bruto dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Pada gambar 1.1 diatas terlihat
4.42
5.03
5.51
6.04 5.69
4.88 5.03
5.07 5.17 5.02
0 1 2 3 4 5 6 7
2015 2016 2017 2018 2019
Laju Pertumbuhan (%)
Tahun
Sumsel Nasional
bahwa laju pertumbuhan Provinsi Sumatera Selatan untuk tahun 2017-2019 cukup tinggi dibandingkan dengan nasional.
Bentuk partisipasi masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi tercermin dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang salah satu sumbernya yaitu pajak daerah.
Untuk itu pemerintah daerah harus mampu menggali dan mengolah sumber-sumber pajak daerah yang potensial agar dapat meningkatkan pendapatan pemerintah daerah demi terwujudnya kemandirian daerah.
Selain pendapatan asli daerah (PAD) yang bersumber dari pajak daerah, pemerintah daerah juga mendapatkan transfer dana dari pusat yang berasal dari pendapatan APBN berupa dana perimbangan diantaranya dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dana alokasi umum (DAU) merupakan bagian dari alokasi dana perimbangan yang diperoleh daerah untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan daerah. Sedangkan dana alokasi khusus (DAK) merupakan dana yang dialokasikan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas nasional.
Beberapa peneliti yang melakukan penelitian mengenai pengaruh pajak daerah, dana alokasi umum, dan dan alokasi khusus terhadap pertumbuhan ekonomi, memberikan hasil yang bervariasi. Hasil dari penelitian Riski (2018) adalah Pajak Daerah berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Hasil dari penelitian Putri (2016) adalah Pendapaan Asli Daerah (PAD) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan Dana Alokasi Umum tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil dari penelitian Sari (2017) adalah Dana alokasi umum tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan Dana alokasi khusus berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan fenomena yang terjadi mengenai pertumbuhan ekonomi yang mengalami perubahan secara fluktuatif dan hasil penelitian terdahulu yang bervariasi maka peneliti bermaksud untuk menguji pengaruh pajak daerah, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus terhadap pertumbuhan ekonomi. Sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Dengan demikian penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul "Pengaruh Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan."
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah Pajak Daerah berpengaruh secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan?
2. Apakah Dana Alokasi Umum berpengaruh secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan?
3. Apakah Dana Alokasi Khusus berpengaruh secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan?
4. Apakah Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus berpengaruh secara simultan terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan?
1.3. Batasan Masalah
Membahas mengenai pengaruh pertumbuhan ekonomi, tentunya ini akan banyak pemaparan yang dapat dibahas, sehingga pengaruh pertumbuhan ekonomi harus difokuskan pada daerah tertentu agar sesuai dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan membahas pengaruh pertumbuhan ekonomi yang diukur menggunakan jumlah produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan (ADHK) Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan pada periode tahun 2015-2019. Karena terdapat banyak variabel yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, penelitian ini hanya mengambil tiga variabel yaitu pajak daerah, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan.
1.4. Tujuan dan Manfaat 1.4.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:
1. Untuk mengetahui pengaruh Pajak Daerah secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan.
2. Untuk mengetahui pengaruh Dana Alokasi Umum secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan.
3. Untuk mengetahui pengaruh Dana Alokasi Khusus secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan.
4. Untuk mengetahui pengaruh Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus secara simultan terhadap Pertumbuhan Ekonomi pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan.
1.4.2 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi:
1. Bagi Penulis
Dapat menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya untuk mata kuliah akuntansi keuangan pemerintah serta mampu menerapkan teori yang didapat selama kuliah dengan kenyataan yang ada diinstansi.
2. Bagi Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai pengaruh Pajak Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan. Sehingga nantinya informasi yang diberikan dapat menjadi pedoman untuk merencanakan tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki kinerja dimasa depan.
3. Bagi Lembaga Pendidikan
Sebagai bahan pengayaan perpustakaan dan referensi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas kuliah maupun tugas akhir atau skripsi.