• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB I"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Setelah pemerintah pusat memberlakukan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah, maka pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dari mulai provinsi, kota, dan kabupaten untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan kepentingan masyaraka setempat. Pemerintah daerah berkesempatan untuk membuat rencana keuangan daerahnya sendiri dari mulai pendapatan daerah, belanja daerah, pembiayaan, sampai dengan pinjaman daerah.

Dengan adanya otonomi daerah pemerintah dituntut untuk mengembangkan potensi sumber daya yang ada didaerah tersebut guna terciptanya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (Wertianti & Dwirandra, 2013). Otonomi daerah memberikan manfaat bagi masyakat yaitu dengan adanya pembangunan didaerah (Wati & Fajar, 2017). Fokus pembangunan didaerah adalah meningkatkan kapasitas ekonomi dan kualitas manusia yang sekarang dan yang akan datang (Wildan, 2018).

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2013 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah, keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan

(2)

hak dan kewajiban daerah tersebut. Sedangkan pengertian dari pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah.

Pemerintah daerah berkewajiban membuat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) setiap tahunnya.

Faktor pendorong pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pengeluaran atau belanja pemerintah daerah dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) setiap satu tahun anggaran (Onibala, Ilat, & Kalangi, 2014). Pemerintah daerah dituntut oleh pemerintah pusat untuk menggali potensi daerahnya secara maksimal (J.R.Walakandou, 2013). Pemerintah daerah harus mulai mengurangi ketergantungan pada bantuan yang diberikan oleh pemerintah pusat (Nugraha & Muid, 2012).

Saat ini pemerintah daerah masih belum bisa lepas dengan dana sumbangan dari pemerintah pusat (J.R.Walakandou, 2013). Pemerintah daerah harus mandiri karena tidak semua sumber pembiayaan pemerintah pusat diberikan kepada pemerintah daerah (Nurdin & Riana, 2013). Dana alokasi umum berasal dari APBN dengan tujuan untuk diberikan kepada pemerintah daerah untuk pemerataan keuangan antar daerah dan untuk membiayai kepentingan daerah (Wandira, 2013).

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 menjelaskan bahwa kekuasaan tertinggi dalam pengelolaan keuangan daerah ialah kepala daerah termasuk didalamnya walikota, bupati, dan gubernur. Pejabat pemerintah tersebut wajib untuk memperhatikan pengelolaan keuangan daerah yang sedang berjalan agar tercapainya kinerja yang maksimal (Safwan, Nadirsyah, & Abdullah, 2014). Pejabat yang melakukan pengelolaan keuangan pemerintah harus memperhatikan dan menerapkan

(3)

asas-asas hukum tertentu. Demi mencapai pelayanan dan pengelolaan keuangan pemerintah meningkat (Rachmat, 2010). Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai salah satu bentuk pengelolaan keuangan daerah harus digali potensinya secara maksimal (Nugraha & Muid, 2012).

Sumber-sumber keuangan tersebut harus memadai dan cukup guna untuk membiayai urusan rumah tangga daerah itu sendiri (Bernardin, 2017). Pendapatan daerah bermanfaat bagi pemerintah daerah untuk membangun wilayahnya sendiri baik itu infrastruktur maupun non infrastruktur untuk keperluan masyarakat (Bernardin & Sofyan, 2017).

Pajak daerah sebagai salah satu bagian dari pendapatan asli daerah, dimana pajak daerah menjadi penyumbang terbesar sumber dana dibandingkan dengan pendapatan yang lainnya (Handayani & Nuraina, 2012). Pendapatan daerah merupakan pendapatan yang dikelola oleh pemerintah daerah (Putriyandari &

Setiawanti, 2018). Pajak daerah berguna bagi pembangunan daerah dan penyelenggaraan pemerintah daerah (Mikha, 2010). Selain itu pajak daerah juga berguna untuk menekan inflasi (Bernardin, 2017). Pajak daerah sangat penting bagi pemerintah daerah, maka pemerintah daerah harus mendahulukan kepentingan rakyatnya dan bertindak adil dalam mengambil keputusan yang menyangkut dengan pajak daerah (Kusuma & Wirawati, 2013).

Pajak hotel termasuk didalam pajak daerah yang menjadi wewenang kota/kabupaten (Adam, 2013). Undang Undang Nomor 28 Tahun 2009, menjelaskan bahwa pajak hotel merupakan pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Pajak hotel dipungut di tempat dimana hotel tersebut berlokasi (Alista, 2014).

(4)

Sektor pariwisata merupakan salah satu faktor pertumbuhan ekonomi yang paling cepat (Brahmanto, Hermawan, & Hamzah, 2017). Sektor pariwisata sebagai salah satu bagian dari pendapatan daerah yang sangat diperlukan oleh pemerintah daearah (Supit, Kumenaung, & Tumilaar, 2015). Pendapatan sektor pariwisata berguna bagi daerah untuk pembangunan dan pengembangan daerah (Widjaja, 2018).

Letak geografis suatu daerah menjadi salah satu penentu berkembangnya potensi pariwisata (Suleman, 2018). Ciri khas dan karakteristik setiap daerah berbeda, maka dari itu pemerintah daerah harus mengembangkan potensi tersebut (Bagus &

Purbadharmaja, 2019).

Kunjungan wisatawan sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah daerah yang bergantung pada sektor pariwisata (Dewi & Bendesa, 2013). Jumlah kunjungan wisatawan akan membantu perekonomian masyarakat dan pembangunan daerah (Widiana & Sudiana, 2015). Wisatawan yang melakukan perjalan di suatu daerah akan membeli barang untuk keperluannya maupun untuk oleh-oleh (Roostika, 2012).

Hotel merupakan perusahaan yang dikelola oleh seseorang yang memberikan pelayanan makanan, minuman, dan kamar untuk menginap kepada orang yang sedang berkunjung dan mampu membayar sesuai dengan palayanan yang diterimanya (Moha

& Loindong, 2016). Akomodasi sangat penting bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke suatu daerah (Sumarabawa, 2013). Akomodasi yang memiliki fasilitas yang baik akan mampu menarik wisatawan untuk datang kembali (Azizah, 2012).

Pendapatan nasional merupakan pendapatan yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi (Murni, 2013). Pendapatan nasional menjadi salah

(5)

satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai kondisi perekonomian suatu Negara (Naf’an, 2014). Pemerintah pusat saat ini sedang fokus pada pembangunan nasional (Mulyanti & Sunardjo, 2019).

Pembangunan nasional mendorong berkembangnya pembangunan daerah (regional) (Adisasmita, 2013). Pembangunan memerlukan biaya yang sangat besar (Fajar, 2014). Pembangunan menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi daerah (Wildan, 2018). Pemerintah daerah harus memperhatikan pembangunan yang ada di daerah (Aliandi & Handayani, 2013).

Perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi secara riil dari tahun ke tahun di suatu wilayah atau daerah (Sutrisno, 2013).

Berikut adalah data realisasi penerimaan pajak hotel di Kota Bandung

Sumber: Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Bandung (2019) Gambar I.1.

Perkembangan Realisasi Penerimaan Pajak Hotel Kota Bandung Tahun 2011-2017

(6)

Gambar I.1. menunjukkan perkembangan realisasi penerimaan pajak hotel di kota Bandung. Sejauh ini realisasi penerimaan pajak hotel di kota Bandung terus meningkat setiap tahunnya. Realisasi penerimaan pajak hotel meningkat menunjukkan pemerintah sudah mengetahui potensi pajaknya secara baik. Masih didapatkan adanya perbandingan realiasasi yang belum mecapai target penerimaan.

Pada tahun 2015 realisasi penerimaan pajak hotel sebesar Rp 215.285.361.236 jumlah tersebut masih dibawah target penerimaan sebesar Rp 260.000.000.000, pada tahun 2017 realisasi penerimaan pajak hotel sebesar Rp 295.385.661.260 jumlah tersebut masih dibawah target penerimaan pajak hotel sebesar Rp 300.000.000.000.

Fenomena yang terjadi di Pemerintahan Kota Bandung adalah masih adanya realisasi penerimaan pajak hotel yang belum bisa mencapai atau melampaui target penerimaan pajak, itu berarti masih adanya potensi yang belum dimaksimalkan oleh pemerintah Kota Bandung.

0 1.000.000 2.000.000 3.000.000 4.000.000 5.000.000 6.000.000 7.000.000 8.000.000

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Jumlah Wisatawan

Jumlah Wisatawan

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung (2019) Gambar I.2.

Jumlah Wisatawan di Kota Bandung Tahun 2011-2017

(7)

Terlihat dari Gambar I.2. bahwa jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota Bandung, baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara mengalami fluktuasi.

Jumlah di kota Bandung pada tahun 2011 sebanyak 6.712.824 orang, akan tetapi pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 5.527.439 orang dan kembali bertambah sampai dengan tahun 2018 sebesar 6.960.512 orang. Jumlah wisatawan yang fluktuasi bisa diakibatkan dengan jumlah objek wisata yang tidak memiliki inovasi dan kurang gencarnya promosi pariwisata. Jumlah wisatawan yang semakin meningkat akan memiliki manfaat bagi hotel yang ada didaerah tersebut.

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung (2019) Gambar I.3.

Jumlah Hotel di Kota Bandung Tahun 2011-2017

Terlihat dari Gambar I.3. Jumlah hotel kota Bandung terus meningkat dari tahun ke tahun, jumlah pada tahun 2011 sebanyak 303 unit terus mengalami peningkatan sampai tahun 2015 sebanyak 392 unit. Tahun 2016 turun sebanyak 336

(8)

unit dan kembali naik ditahun 2017 sebanyak 345 unit. Peningkatan jumlah unit hotel tersebut dapat dikatakan bahwa jasa perhotelan di kota Bandung terus bertambah karena banyaknya hotel baru yang terus bermunculan setiap tahunnya. Menurunnya jumlah hotel disebabkan banyaknya hotel yang tutup serta klasifikasi yang dirubah berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 7 Tahun 2012. Bertambahnya jumlah unit hotel tesebut seharusnya akan menambah pula jumlah penerimaan pajak hotel di kota Bandung. Fenomena yang terjadi saat ini adalah maraknya pembangunan hotel baru akan tetapi jumlah penerimaan pajak hotel belum memenuhi target. Jumlah hotel yang semakin banyak seharusnya akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Bandung (2019) Gambar I.4.

PDRB Atas Dasar Harga

Konstan 2010 di Kota Bandung Tahun 2011-2017

(9)

Gambar I.4. menunjukkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kota Bandung, PDRB Kota Bandung berdasarkan harga konstan 2010 mengalami peningkatan dari tahun 2011 sebesar 110.234.437,46 Jutaan rupiah terus mengalami peningkatan jumlah sampai dengan tahun 2017 dengan jumlah sebesar 172.851.960,77 Jutaan rupiah. Fenomena saat ini meskipun PDRB terus meningkat akan tetapi jumlah tersebut belum bisa melampaui pertumbuhan ekonomi tingkat Provinsi

Berdasarkan fenomena dan uraian yang telah dijelaskan dan ditambah dengan teori yang ada, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang diberi judul

“Dampak Jumlah Wisatawan, Jumlah Hotel dan PDRB terhadap Penerimaan Pajak Hotel”

1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.2.1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka identifikasi masalah dijabarkan sebagai berikut:

1. Perkembangan jumlah wisatawan di Kota Bandung cenderung mengalami peningkatan, meskipun mengalami penurun pada tahun 2012

2. Jumlah hotel di Kota Bandung cenderung mengalami peningkatan, meskipun mengalami penurunan pada tahun 2015

3. PDRB di Kota Bandung terus bertambah setiap tahun

4. Tingkat realisasi penerimaan pajak hotel di Kota Bandung terus meningkat, akan tetapi masih ada beberapa yang belum melebihi target penerimaan.

(10)

1.2.2. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah dari Penelitian ini adalah :

1. Seberapa besar pengaruh jumlah wisatawan terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung?

2. Seberapa besar pengaruh jumlah hotel terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung?

3. Seberapa besar pengaruh PDRB terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung?

4. Seberapa besar pengaruh jumlah wisatawan, jumlah hotel, dan PDRB terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung?

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1. Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan pengetahuan yang didapat didalam perkuliahan dengan keadaan yang sesungguhnya terjadi didalam dunia usaha dan pemerintahan, khususnya permasalahan yang berkaitan dengan akuntansi. Adapun maksud dari penelitian ini khususnya untuk mengkaji jumlah wisatawan, jumlah hotel, dan PDRB di Kota Bandung yang mana diharapkan hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dan pembanding bagi penelitian selanjutnya dengan tema yang sama. selain itu maksud dari penelitian ini juga sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan S1 Program Studi Akuntansi pada Universitas BSI.

(11)

1.3.2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengkaji dampak jumlah wisatawan terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung

2. Untuk mengkaji dampak jumlah hotel terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung

3. Untuk mengkaji dampak PDRB terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung

4. Untuk mengkaji dampak jumlah wisatawan, jumlah hotel, dan PDRB terhadap penerimaan pajak hotel di Kota Bandung

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis

Kegiatan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat akademis sebagai berikut:

1. Bagi penulis

Diharapkan dapat memperluas dan memperkaya pengetahuan dari perkuliahan dengan praktek di lapangan, khususnya di bidang pajak daerah yang menyangkut tentang pemerintahan di Kota Bandung

2. Bagi peneliti lain

Diharapkan dapat digunakan sebagai bagan referensi khususnya mengenai rasio yang digunakan agar dapat dijadikan sebagai pembanding dalam penelitian selanjutnya dengan tema yang sama.

(12)

3. Bagi Perguruan Tinggi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang berguna untuk acuan sivitas akademik.

1.4.2. Manfaat Praktik

Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat praktis sebagai berikut:

1. Bagi Instansi

Penelitian ini dapat memberikan masukan, bahan referensi, dan dapat dijadikan sebagai bahan penilaian bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

2. Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakan serta tindakan-tindakan selanjutnya dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualiatas laporan keuangan pemerintah daerah

3. Pihak Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat informasi yang berguna bagi pihak-pihak di luar pemerintah daerah.

Referensi

Dokumen terkait