10
BAB II
KONTEKS KONSEPTUAL
2.1 Kajian Terdahulu
Kajian terdahulu merupakan tinjauan hasil dari penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya yang saat ini digunakan peneliti sebagai referensi serta bahan perbandingan dengan penelitian sejenis yang memiliki keterkaitan kajian baik itu persamaan ataupun perbedaan dan menemukan masalah baru yang akan dikembangkan juga mengetahui tingkat kepentingan dari masalah yang ditemukan lalu di telaah dari sudut pandang yang berbeda. Berikut dibawah merupakan hasil kajian terdahulu yang peneliti dapatkan:
Penelitian pertama berjudul “Personal Branding Announcer Radio di Bandung” yang dilakukan oleh Aghnia Nur Ilmi Widhia Sari Lubis (Universitas Islam Bandung / 2015). Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut yaitu personal branding amat penting dalam membentuk sebuah brand image sebuah usaha atau profesi seseorang dalam bidangnya agar menjadi unggulan dan personal branding dapat diartikan adalah image yang kuat dan jelas yang ada di benak seseorang mengenai diri sendiri, tiga aspek penting personal brand tersebut adalah anda sendiri, janji dan hubungan. Personal Branding mungkin memang sudah menjadi lumrah bagi setiap orang bahkan seseorang secara sadar berupaya membentuk identitas diri nya agar di anggap unik dan memiliki kelebihan dalam karakter atau bidang di profesinya baik oleh perempuan atau laki-laki. Dan kesimpulannya bentuk personal branding yang
dilakukan oleh penyiar radio dalam branding diri yang dilakukan. Diantara adalah eksistensi, meningkatkan kepercayaan diri, dan kompetensi diri.
Penelitian kedua berjudul “Mempertahankan Identitas Radio Melalui Pembentukan Karakter penyiar (Studi kasus tentang mempertahankan identitas radio melalui pembentukan karakteristik penyiar pada radio ardan 105,9 FM Bandung” yang dilakukan oleh Marlinah (Universitas Komputer Indonesia / 2015). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Informan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang, para informan dipilih menggunakan Teknik Snowball Sampling. Data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, studi pustaka dan internet searching. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut yaitu symbol yang muncul ketika siaran yakni terdapat pada pengucapakan nama radio, frekuensi, tagline, tema bulanan, nama program, jingle, serta memilih iklan sesuai dengan segmentasi radio Ardan. Perilaku yang ditunjukan untuk menarik pendengar radio Ardan diantaranya dengan bersikap asik, seru, akrab, terbuka kepada pendengar dan merangkul pendengar, serta membuat pendengar merasa nyaman untuk mendengarkan Radio Ardan. Kesimpulannya karakter pemyiar dibentuk sesuai dengan identitas radio ardan yang bersegmentasi untuk anak muda, karakteristik tersebut yakni nada yang bersemangat, energik, dan memiliki Teknik penekanan suara yang jelas, agar dapat menjadi suatu pemacu semangat bagi insan muda dan menjadi pembeda dengan radio lain.
Penelitian ketiga berjudul “Program Siaran radio Sindo Trijaya 91,7 Bandung FM dalam mempertahankan sebuah positioning radio sebagai radio berita” yang dilakukan oleh Nunung Indrawan dan Dede Lilis C
(Universitas Islam Bandung / 2017). Penelitian ini menggunakan metode Teknik analisis SOSTAC (Situasi, Tujuan, Strategi, Taktik, Tindakan dan Control). Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut yaitu menunjukkan Sindo Trijaya menciptakan SDM yang berkualitas, membentuk tim news, menciptakan segmentasi, manfaat media grup, rujukan kemajuan radio, mengatahui situasi pasar dan mengetahui pesaing. Melalui program siaran radio Sindo Trijaya dapat mengangkat visi misi perusahaan dan memiliki target secara internal dan eksternal. Strategi yang dilakukan program siaran Sindo Trijaya yaitu menerapkan proses Akurasi, Balance, Clarity, dan duluan, memutuskan rencana, membentuk SDM yang unggul, pengorganisasian perusahaan dan pengemasan konten berita.
Penelitian keempat berjudul “Strategi komunikasi radio dahlia dalam membangun loyalitas customer (studi kasus mengenai strategi komunikasi radio dahlia dalam membangun loyalitas customer dengan menggunakan strategi komunikasi Touch personal)” yang dilakukan oleh Syafirdaus Adam (Universitas BSI Bandung/2018). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara obervasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Strategi komunikasi yang digunakan radio dahlia dalam membangun loyalitas customer adalah dengan menggunakan strategi komunikasi touch personal touch personal merupakan strategi komunikasi antar pribadi yang menitik beratkan pada pendekatan pribadi, touch personal merupakan konsep dari strategi CRM yang dimana pendekatan yang dilakukan akan membangun relationship customer, persepsi positif customer, hingga kepercayaan customer.
Penelitian kelima berjudul “Gaya Komunikasi Penyiar Acara Musik Radio Ramaloka FM” yang dilakukan oleh Ryan Hardeanto (Universitas Sultan Ageung Tirtayasa / 2017). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut yaitu Gaya komunikasi di radio Ramaloka FM mayoritas menyesuaikan dengan pendengar yang di hadapi selain itu, radio Ramaloka FM juga lebih mengutamakan pada interasksi antara penyiar dan pendengar. Sehingga pada radio ini lebih mengutamakan pada pendengar aktif. Meskipun hal ini lebih efektif pada program acara dangdut. Pembawaan penyiar pada saat membawakan suatu acara dilakukan dengan santai dan menghibur. Serta gaya percakapan setiap penyiar yang memiliki karakter berbeda. Untuk lebih mengakrabkan dengan pendengar, seringkali diadakan program Off-Air yang melibatkan penyiar dan pendengar.
Tabel 2.1 Kajian Terdahulu Peneliti Aghnia Nur Ilmi
Widhia Sari Lubis
Marlinah Nunung
Indrawan dan Dede Lilis C
Syafirdaus Adam
Ryan Herdeanto Agung Retno Pratama Judul Personal Branding
Announcer Radio di Bandung
Mempertahankan Identitas Radio
Melalui Pembentukan Karakter penyiar
(Studi kasus tentang mempertahankan
identitas radio melalui pembentukan
karakteristik penyiar pada radio ardan 105,9
FM Bandung
Program Siaran radio Sindo Trijaya 91,7 Bandung FM
dalam mempertahankan
sebuah positioning radio
sebagai radio berita
Strategi komunikasi radio dahlia
dalam membangun
loyalitas customer (studi kasus mengenai
strategi komunikasi radio dahlia
dalam membangun
loyalitas customer
dengan menggunakan
strategi komunikasi Touch personal
Gaya Komunikasi Penyiar Acara
Musik Radio Ramaloka FM
Pembentukan Karakter Announcer
(Studi Fenomonologi
Pembentukan Karakter Announcer Ardan Radio
Bandung)
Institusi/Tahun Universitas Islam Bandung / 2015
Universitas Komputer Indonesia / 2015
Universitas Islam Bandung /
2017
Universitas BSI Bandung/2018
Universitas Sultan Ageung Tirtayasa / 2017Bandung/2018
Universitas Bina Sarana Informatika /
2019 Metedelogi Kualitatif Kualitatif Kualitatif Kualitatif Kualitatif Kualitatif
Hasil personal branding amat penting dalam membentuk sebuah brand image sebuah
usaha atau profesi seseorang dalam
bidangnya agar menjadi unggulan
dan personal branding dapat diartikan adalah image yang kuat dan
jelas yang ada di benak seseorang mengenai diri sendiri, tiga aspek
penting personal brand tersebut adalah anda sendiri,
symbol yang muncul ketika
siaran yakni terdapat pada pengucapakan
nama radio, frekuensi, tagline,
tema bulanan, nama program,
jingle, serta memilih iklan sesuai dengan segmentasi radio
Ardan. Perilaku yang ditunjukan untuk menarik pendengar radio
Ardan diantaranya
menunjukkan Sindo Trijaya menciptakan
SDM yang berkualitas, membentuk tim
news, menciptakan
segmentasi, manfaat media
grup, rujukan kemajuan radio,
mengatahui situasi pasar dan
mengetahui pesaing. Melalui
program siaran radio Sindo Trijaya dapat
Strategi komunikasi yang digunakan
radio dahlia dalam membangun
loyalitas customer adalah dengan menggunakan
strategi komunikasi
touch personal.touch
personal merupakan
strategi komunikasi antar pribadi
Gaya komunikasi di radio Ramaloka
FM mayoritas menyesuaikan dengan pendengar
yang di hadapi selain itu, radio Ramaloka FM juga
lebih mengutamakan
pada interasksi antara penyiar dan
pendengar.
Sehingga pada radio ini lebih mengutamakan pada pendengar
aktif.
Hasil dari penelitian ini
adalah pembentukan proses karakter
pada posisitioning
ardan radio berpengaruh
pada rating siaran program yang dibawakan
pada radio ardan. Sehingga
program yang dibawakan oleh
penyiar yang memiliki karakter akan
janji dan hubungan dengan bersikap asik, seru, akrab, terbuka kepada
pendengar dan merangkul pendengar, serta
membuat pendengar merasa
nyaman untuk mendengarkan Radio Ardan.
mengangkat visi misi perusahaan dan memiliki
target secara internal dan
eksternal.
yang menitik beratkan pada
pendekatan pribadi, touch
personal merupakan konsep dari strategi CRM
yang dimana pendekatan yang dilakukan
akan membangun relationship customer, persepsi positif
customer, hingga kepercayaan
customer.
lebih unik dan menarik perhatian pendengar setia
ardan radio.
Persamaan Tentang penyiar atau radio yang akan memperlihatkan identitas atau ciri
Karakteristik announcer yang khas pembawaan
yang seru dan
membentuk SDM yang berkualitas
Tentang radio yang sedang yang mengarah
pada brand
Penyiar banyak interaksi dengan pendengar salah satunya memlalui
khasnya asik image dan kepuasan pendengar
program off air
Perbedaan Fokus pembahasan pada penelitian ini yang difokuskan pada brand image.
Mempertahankan identitas radio
melalui karakteristik.
Mempertahankan Positioning Program Siaran
radio berita.
Strategi dan membangun Loyalitas pendengar.
Gaya Komunikasi dan interaksi langsung antara
penyiar dan pendengar.
2.2 Kajian Litelatur 2.2.1. Komunikasi
Komunikasi atau “Communication” berasal dari bahasa latin
“communis”, sedangkan dalam Bahasa inggris disebut “commun” yang berarti sama. Sama dalam hal ini adalah sama makna. Ketika berkomunikasi, berarti kita berusaha untuk mewujudkan kesamaan makna mengenai sesuatu hal. Jika komunikan mengerti pesan apa yang disampaikan oleh komunikator berarti telah terjadi komunikasi.(Hardeanto, 2017)
Harold Lasswell menggambarkan proses komunikasi memiliki unsur- unsur sebagai berikut.(Mulyana, 2015)
a. Sumber (who) adalah merujuk pada siapa yang menyampaikan pesan.
Pada konteks penelitian ini yang menjadi sumber adalah announcer ardan radio.
b. Pesan (says what) adalah apa yang disampaikan dalam percakapan berupa verbal dan non verbal. Pesan tentunya dapat berupa informasi yang update dan akurat yang akan disampaikan langsung oleh sumber melalui program siaran langsung ardan radio.
c. Saluran atau media (in which channel) adalah tempat atau perantara untuk menyampaikan pesan kepada penerima. Media di dalam konteks ini tentunya ardan radio bandung yang menjadi media bagi sumber dan penerima.
d. Penerima (to whom) adalah siapa yang kan menjadi penerima pesan dari sumber. Pendengar ardan tentunya yang akan menjadi penerima pesan yang disampaikan oleh sumber melalui media radio.
e. Efek (with that effect) adalah hasil dari pesan dari komunikasi yang terjadi. Efek yang ditimbulkan akan berakibat bagi sumber, media dan penerima, yaitu announcer, ardan radio dan pendengar ardan radio.
2.2.2. Komunikasi Massa
Menurut Defleur dan McQuail dalam Sholihat (2019) komunikasi massa adalah suatu proses dimana komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak-khalayak yang besar dan berbeda dengan melalui berbagai cara. Media massa menjadi media/sarama utama untuk melakukan kegiatan komunikasi massa, dengan media massa pesan yang akan disampaikan dengan cepat akan tersebar luas. Media massa yang digunakan ada 3 jenis, yaitu media massa cetak,media massa digital, dan media massa elektronik. Contoh dari media massa elektronik adalah radio, radio ardan menjadi salah satu media massa yang masih bertahan di era sekarang, ardan menjadi media massa yang sangat efektif, karena pesan pesan yang ingin disampaikan bisa begitu cepat diterima oleh pendengar melalui frekuensi radio yang bisa didengarkan dimana saja.
1. Karakteristik Komunikasi Massa
Orang-orang yang akan menggunakan media massa sebagai alat untuk melakukan kegiatan komunikasi haruslah memahami karakteristik komnukasi massa. Adapaun karakteristik komunikasi massa adalah : (Jamilah, 2011)
a. Komunikator terlembagakan. Komunikator dalam komunikasi massa bukanlah satu orang melainkan kumpulan orang-orang. Artinya gabungan
antar berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Satu gabungan para announcer yang berkerja dalam satu Lembaga yaitu ardan radio bandung.
b. Pesan bersifat umum. Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Jadi pesan dari sebuah program siaran ardan radio disajikan untuk semua pendengar ardan bukan untuk salah satu kelompok saja.
c. Komunikannya anonim dan heterogen. Komunikan pada komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen. Para pendengar tidak memiliki nama atau identitas pribadi dalam siaran.
d. Media massa menimbulkan keserempakan. Jumlah sasaran khalayak/komunikan yang relative banyak dan tidak terbatas merupakan kelebihan yang ada pada komunikasi massa. Bahkan, komunikan yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula. Pesan program ardan radio diterima oleh para pendengar ardan diwaktu yang bersamaan karena program ardan radio bersifat langsung.
e. Komunikasi massa bersifat satu arah. Merupakan salah satu kelemahan yang ada pada komunikasi massa. Ini berarti tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator. Jadi para pendengar ardan tidak dapat memberi feedback secara langsung pada saat announcer berbicara dalam program siaran.
2.2.3. Radio
Radio adalah media massa yang hanya dapat di dengarkan suaranya saja.
Gelombang suara menjadi saluran agar suara announcer dapat didengarkan oleh para pendengar dimana saja, karena media radio menimbulkan komunikan yang sangat banyak dan serentak. Radio menjadi alat yang mudah bagiorang untuk mendapatkan informasi dan hiburan secara langsung dan cepat.
Menurut H.A Wijaya dalam Hardeanto (2017) radio adalah keseluruhan system gelombang suara yang dipancarkan dari stasiun pemancar dan diterima oleh pesawat penerima dirumah, mobil, dan dilepas dimana saja. Sementara menurut Didin Syaifuddin, radio adalah sesuatu yang menghasilakn bunyi atau suara karena dipancarkan oleh gelombang atau frekuensi melalui udara.
1. Karakteristik radio
Menurut Effendy dalam Aghnia Lubis (2015) Karakteristik radio merupakan ciri atau sifat radio yang membedakan dengan radio lain, ciri atau sifat radio secara karakteristik mencakup :
a. Auditif
Sifat radio adalah auditif, untuk didengar, maka siaran yang sampai ditelinga pendengar hanya sepintas lalu saja, ini berbeda dengan sesuatu yang disiarkan melalui media surat kabar, majalah dan media dalam bentuk tulisan lainnya yang dapat dibaca, diperiksa dan ditelaah berulangkali. Pendengar yag tidak mengerti terhadap sesuatu uraian yang disampaikan melalui radio tidak mungkin untuk meminta ulangan kepada pembicara. Misal pendengar ardan
terlewat untuk mendengarkan program acara nightmare side ardan radio, pendengar tidak bisa mendengarkan atau meminta memutar ulang pada radio, pendengar bisa mendengarkan ulang melalu media lain semisal youtube atau podcast.
b. Mengandung Gangguan
Setiap komunikasi yang menggunakan saluran bahasa dan bersifat masal yang akan memiliki dua faktor gangguan, gangguan pertama adalah apa yang disebut “semantic noise factor” dan yang kedua adalah “channel noise factor”.
Gangguan tehnis dapat berupa “interferensi”, yakni dua atau lebih gelombang yang berdempetan, sehingga membuat isi siaran sukar dimengerti, atau gangguan karena pesawat penerima lainnya dan lain sebagainya. Gangguan noise atau sinyal gangguan sering didapatkan saat melakukan program siaran diluar. Factor alat yang belum memadai atau ketersediaan sinyal yang memang kurang ditempat saat siaran program berlangsung.
c. Akrab
Radio sifatnya akrab, intim, seorang penyiar seolah-olah berada di kamar pendengar dengan penuh hormat dan cekatan menghidangkan acara-acara yang menggembirakan kepada penghuni rumah, sifat ini tidak dimiliki oleh media lainnya. (kecuali TV yang merupakan saudara radio). Ardan radio sering melakukan interaksi dengan pendengar, meskipun tidak langsung atau feedback nya tidak dirasakan saat itu juga, tetapi itu cukup membuat pendengarnya merasa berinteraksi langsung dan menganggap announcer ada disebelah mereka.
A. Keunggulan dan Kelemahan Radio
Menurut Romli (2009) Radio mempunyai karakteristik atau ciri yang membedakannya dengan media komunikasi lainnya. Karakteristik tersebut tidak lepas dari adanya kelebihan radio dan kekurangan radio, sebagai berikut:
1. Keunggulan
a. Auditif, Radio is sound. Radio itu suara. Hanya bisa didengarkan.
Media dengar. Komunikasi berupa suara.
b. Theatre of Mind. Siaran radio merupakan seni menyampaikan atau memainkan imajinasi pendengar melalui tata suara. Mencipta
“gambar” dipikiran pendengar melalui suara.
c. Transmisi. Proses menyebarluaskan siara radio pada pendengar melalui pemancar lalu dikirim oleh pesawat radio sesuai gelombang/frekuensi masing-masing.
d. Cepat dan langsung. Radio merupakan sarana tepat dalam menyampaikan informasi disbanding TV/Koran.
e. Akrab. Radio adalah alat yang akrab dengan pemiliknya, jarang sekali ada sekelompok orang mendengarkan siaran radio di suatu tempat.
f. Dekat. Radio begitu dekat dengan pendengarnya, penyiar radio menyapa pendengar secara personal. Hangat. Paduan kata-kata, lagu, dan efek suara dalam siaran radio terasa hangat dan mampu mempengaruhi emosi pendengar.
g. Tanpa Batas. Siaran radio bisa disimak oleh siapa saja, menembus batas geografis, demografis, suku agama, ras, antar golongan, juga kelas sosial.
h. Murah. Dibandingkan dengan langganan media cetak/harga pesawat televisi. Pesawat radio relative lebih murah.
i. Portabel, Fleksibel. Siaran radio bias dinikmati sambal mengerjakan aktivitas lain, tanpa mengganggu aktivitas tersebut.
2. Kelemahan
a. Selintas. Siaran radio cepat hilang dan gampang dilupakan.
Pendengar tidak bisa mengulang apa yang didengarnya.
b. Global. Siaran informasi radio bersifat global, tidak detail, karena angka – angka dibulatkan.
c. Batasan waktu. Setiap berita atau informasi yang disiarkan sangat singkat berdasarkan waktu yang telah ditentukan.
d. Beralur linier. Program disajikan dan dinikmati berdasarkan urutan yang sudah ada.
e. Mengandung gangguan. Seperti timbul dan tenggelam (fading) dan gangguan teknis “channel noise factor”.
B. Penyiar Radio
Menurut Romli (2009) “Penyiar adalah orang yang bertugas membawakan atau memandu acara di radio. Ia menjadi ujung tombak radio dalam berkomunikasi atau berhubungan langsung dengan pendengar”. Penyiar radio adalah seorang yang bertugas menyebarkan (syiar) suatu atau lebih informasi
yang terjamin akurasinya dengan menggunakan radio dengan tujuan untuk diketahui oleh pendengarnya, dilaksanakan, dituruti, dan dipahami.
Menurut Asep Syamsul M. Romli dalam Marlinah (2015) , ada 3 keahlian utama yang harus dimiliki seorang penyiar.
a. Berbicara
Pekerjaan penyiar adalah berbicara, mengeluarkan suara, atau melakukan komunikasin secara lisan. Oleh karena itu, dia harus lancar bicara dengan kualitas vokal yang baik, seperti pengaturan suara, pengendalian irama, tempo, dan artikulasi. Penyiar ardan radio harus memiliki kualitias vocal yang sangat baik dan memiliki karakter yang unik dalam air personality nya, sehingga air personality yang ada dapat dipadukan dengan pembawaan yang mewakili anak muda, karena ardan radio merupakan radio anak muda no 1 di bandung.
b. Membaca
Dalam bersiaran, penyiar radio tidak hanya membaca naskah siaran secara kaku, melainkan seperti bertutur kata. Naskan menjadi acuan bagi penyiar dan tidak harus dibacakan secara gambling atau keluruhan, penyiar ardan radio harus mampu mengembakang naskah tersebut menjadi lebih hidup dan pastinya lebih berisi lagi.
c. Menulis
Penyiar radio dituntut untuk menyiapkan naskah siarannya sendiri walaupun sudah ada scriptwriter yang bertugas menyiapkan naskah-naskah siaran, untuk itu penyiar harus memiliki kemampuan menulis naskah siaran yang ditulis dalam bahasa tutur, bukan naskah tulisan seperti dikoran atau majalah.
C. Karakter
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yang dikutip Agustiana (2015) Karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Griek menjelaskan dalam kutipan Agustiana (2015) bahwa karakter dapat didefinisikan sebagai panduan dari pada segala tabiat manusia yang bersifat tetap, sehingga menjadi tanda yang khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain.
Menurut Esti Ismawati dalam buku Mumpuniarti (2011:252) Karakter adalah sebuah sifat yangmencirikan kepribadian seseorang yang membedakan dengan yang lain. Karakter mencirikan seseorang dalam merespon situasi dan kondisi sosial yang dihadapi.
D. Pembentukan Karakter
Menurut Abdul Majid dalam Agustiana (2015) secara alami, sejak lahir sampai berusia tiga tahun, atau mungkin hingga sekitar lima tahun, kemampuan nalar seorang anak belum tumbuh sehingga pikiran bawah sadar (subconscious mind) masi terbuka dan menerima apa saja informasi dan stimulus yang dimasukan ke dalamnya tanpa ada penyeleksian, mulai dari orang tua dan lingkungan keluarga. Dari mereka itulah, pondasi awal terbentuknya karakter sudah terbangun. Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah, dan berbagai sumber lainnya menambah pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar. Mulai dari sinilah, peran pikiran sadar (conscious) menjadi semakin
dominan. Seiring berjalannya waktu, makan penyaringan terhadap informasi yang melalui panca indra dapat mudah dan langsung diterima oleh pikiran bawah sadar.
E. Karakteristik Penyiar
Penyiar terkadang dideskripsikan sebagai seseorang yang ideal. Sifat ideal tersebut meliputi kehangatan dan kasih sayang, memiliki rasa humor dan cerdas, jujur, rasa saling berbagi sekaligus teman yang selalu menemani dengan baik, dapat dipercaya, memiliki rasa percaya diri, bersemangat, dan optimis. (Marlinah, 2015)
Seorang penyiar harus memiliki Air Personality, karena sebagai komunikator pada sebuah radio tentunya penyiar memiliki karakteristik tersendiri, dan seorang penyiar yang profesional haruslah pandai dalam bermain peran. Air Personality merupakan sebuah karakter atau ciri khas yang muncul dari seorang penyiar ketika mereka sedang membawakan sebuah program pada radio. Air Personality yang dimiliki oleh penyiar tidaklah muncul begitu saja, tetapi harus terus digali dan dipelajari, karena Air Personality pada masing- masing penyiar tidaklah sama, tergantung bagaimana mereka mengolah kekayaan pada dirinya agar menjadi sesuatu yang menarik dan istimewa. Air Personality seorang penyiar akan menjadikan nilai lebih bagi penyiar tersebut dan khalayak atau pendengar pun akan mudah dalam membedakan penyiar yang satu dengan penyiar yang lain, sehingga terbentuk identitas dari penyiar tersebut.
Setiap radio pada umumnya tentu harus memiliki karakteristiknya sendiri yang berbeda dengan radio lain, begitu juga penyiar yang harus memiliki karakteristik yang berbeda juga dari penyiar lainnya. Namun setiap radio pasti
memiliki karakter penyiar yang berbeda beda dan penyiar setiap radio harus memiliki ciri khas radio tersebut. Setiap penyiar memiliki karakter yang berbeda beda disetiap program yang dipegangnya, karena program – program yang dimiliki ardan berbeda beda dan membutuhkan karakter setiap penyiar yang berbeda, ardan memiliki program acara fun, romantis, horror, ataupun edukasi yang harus mengharuskan setiap penyiar memiliki karakter yang berbeda beda.
Dengan karakter beragam yang dimiliki setiap penyiar membuat program - program ardan menjadi beragam.
F. Positioning
Menurut Burnett, 2008:47 dalam Suseno, Yulianto, & Abdillah (2016) menjelaskan bahwa positioning adalah tindakan merancang penawaran dan citra perusahaan agar mendapatkan tempat khusus dalam pikiran sasaran. Semua orang dalam organisasi harus memahami positioning mereka dan menggunakannya sebagai konteks untuk membuat keputusan. Hasil positioning adalah terciptanya suatu posisi nilai yang terfokus pada konsumen, alasan kuat pasar sasaran untuk membeli produk bersangkutan.
Menurut Philip Kotler dalam Asriani (2009) mendefinisikan “The act of designing the company’s offering and image so what the occupy a meaningful and distinct competitive positioning the target customers mind”. Positioning adalah tindakan yang dilakukn marketer untuk membuat citra produk dan hal-hal yang ingin di tawarkan kepada pasarnya berhasil memperoleh posisi yang jelas yang mengandung arti dalam benak sasaran (kosumennya).
Adapun menurut Kertajaya dalam Asriani (2009) mendefinisikan positioning sebagai the strategy to lead your customer credibility (upaya mengarahkan pelanggan anda secara kredibel).
Pengertian lain menyebutkan bahwa positioning adalah strategi komunikasi untuk memasuki jendela otak konsumen, agar produk atau merk atau nama anda mengandung arti tertentu yang dalam beberapa segi mencerminkan keunggulan terhadap produk atau merk atau nama dalam bentuk hubungan asosiatif.
Program ardan radio memilki nilai value yang lumayan tinggi, ditambahn dengan karakter announcer yang khas dan memiliki daya tarik yang tinggi, apalagi special program dan weekly program yang menjadi andalan bagi ardan radio untuk dijadikan bahan pertimbangan terhadap konsumen. Program dan karakter announcer yang kuat akan membuat posisi ardan kuat dan akan selalu menjadi radio anak muda no 1 di bandung.
2.3 Kajian Teoritis
2.3.1 Teori Status Identitas
Marcia dalam Purba (2012) mengidentifikasi eksplorasi dan komitmen sebagai dua dimensi dasar untuk mendefinisikan status seseorang dalam mencapai sebuah indentitas diri. Berdasarkan dua dimensi dasar ini, Marcia kemudian bisa mengklarifikasi perkembangan pembentukan identitas diri seseorang kepada empat stastus, antara lain (Rice & Dolgin, 2008):
1. Identity Diffused
Seseorang yang berada dalam status identity diffused tidak mengalami sebuah periode eksplorasi (krisis), dan mereka juga tidak membuat komitmen pada aspek pekerjaan, agama, filosofi politik, peran gender, ataupun memiliki standar personal dalam berperilaku. Mereka tidak mengalami sebuah krisis identitas dalam salah satu atau semua aspek yang telah disebutkan diatas, dan mereka juga tidak melewati proses mengevaluasi, mencari, ataupun mempertimbangkan alternatif-alternatif.
2. Idnetity Foreclosure
Seseorang yang berada dalam status identity foreclosure tidak mengalami periode eksplorasi (krisis) tapi mereka telah membuat sejumlah komitmen pada aspek-aspek identitas seperti pekerjaan dan ideologi yang bukan berasal dari pencarian mereka sendiri tapi sudah disiapkan oleh orang disekitar mereka, khususnya orang tua. Mereka menjadi seseorang yang diinginkan oleh orang lain, tanpa benar-benar memutuskan untuk diri mereka sendiri.
3. Identity Moratorium
Seseorang yang berada dalam status identity moratorium sudah ataupun sedang mengalami masa eksplorasi (krisis) terhadap alternatif-alternatif pilihan namun belum membuat komitmen pada aspek identitas. Beberapa orang yang berada dalam status moratorium mengalami krisis yang berkelanjutan, sehingga mereka mengalami kebingungan, tidak stabil, dan tidak puas. Individu dengan status moratorium juga menghindari berhadapan dengan masalah, dan mereka
memiliki kecenderungan untuk menunda sampai situasi memaksa sebuah tindakan harus dilakukan.
4. Identity Achievement
Seseorang yang berada dalam status identity achievement telah mengalami sebuah moratorium psikologis, telah menyelesaikan krisis identitas mereka
dengan secara berhati-hati mengevaluasi sejumlah alternatif dan pilihan, dan telah menyimpulkan dan memutuskan sendiri setiap pilihan yang akan dilakukan.
2.3.2 Teori Konstruksi Identitas
Menurut afthonul afif dalam Syarifudin (2017) menjelaskan bahwa secara alamiah, setiap individu memiliki kebutuhan untuk menjalin dan memiliki hubungan dengan individu lainnya. Kebutuhan ini selanjutnya mengantarkan mereka untuk menciptakan ikatan-ikatan social tertentu sebagai syarat bagi lahirnya kelompok social. Selama proses ini berlangsung, mereka akan menemukan kesamaan-kesamaan sekaligus perbedaan-perbedaan baik itu terhadap hal-hal yang terkait dengan kepentingan-kepentingan maupun unsur- unsur pembentuk konsep diri mereka. Kelompok social inilah yang kemudian mampu berperan sebagai sumber identitas dan pemberi rasa aman bagi anggota- anggotanya, baik ketika mereka sedang berinteraksi dengan maupun ketika sedang menangkal ancaman-ancaman dari kelompok lain.
Sebagai makhluk social dan budaya, manusia mencoba membangun identitas mereka dalam relasi social dan kultural mereka, untuk menegaskan posisi individu dan social suatu komunitas di hadapan orang atau komunitas lain.
Identitas adalah representasi diri melalui mana seseorang atau masyarakat melihat
dirinya sendiri dan bagaimana orang lain melihat mereka sebagai sebuah entitas social-budaya. Dengan demikian, identittas adalah produk budaya yang dalam praktik sosialnya berlangsung demikian kompleks, namun kadangkala atau bahkan sering kali direduksi sebagai sesuatu yang pasti, utuh, stabil, dan tunggal.
(Artikel Jamal D Rahman).
Menurut afthonul afif (2012) dalam Syarifudin (2017) Identitas yang dibentuk oleh individual individual dalam sebuah komunitas social, secara tidak langsung merupakan pembentukan identitas komunitas tersebut. Beberapa bentuk identitas dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Identitas Budaya
Identitas budaya merupakan ciri yang muncul karena seseorang itu merupakan anggota dari sebuah kelompok etnik tertentu. Meliputi pembelajaran tentang dan penerimaan tradisi, sifat bawaan, Bahasa, agama, dan keturunan dari suatu kebudayaan.
b. Identitas Sosial
Identitas social terbentuk sebagai akibat dari kenaggotaan kita dalam suatu kebudayaan. Tipe kelompok itu antara lain, umur, gender, kerja, agama, kelas social dan tempat. Identitas social merupakan identittas
c. Identitas Pribadi
Identitas pribadi atau personal didasarkan pada keunikan karakteristik pribadi seseorang. Perilaku budaya, suara, gerak-gerik, anggota tubuh, nada suara, cara berpidato, warna pakaian, dan guntingan rambut menunjukan ciri khas seseorang yang tidak dimiliki oleh orang lain.
2.4 Kerangka Pemikiran
Dalam penelitian ini, peneliti akan memfokuskan kajiannya kepada bagaimana karakteristik Announcer sebagai salah satu elemen penting sebagai ciri khas dan identitas radio Ardan 105,9 FM yang mempengaruhi positioning di mata media. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.
Bagan I. 1 Kerangka Pemikiran
Pembentukan karakter announcer
Metode Fenomenologi
Teori Status Identitas & Teori Kontruksi Identitas
Bagaimana Motivasi Membentukan Karakter
Announcer Sebagai Positioning Ardan Radio?
Bagaimana Pengalaman Membentukan Karakter
Announcer Sebagai Positioning Ardan Radio?
Bagaimana Makna Membentukan Karakter
Announcer Sebagai Positioning Ardan Radio?
Studi Fenomonologi Proses Pembentukan Karakter Announcer Sebagai Posisitioning Ardan Radio