• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

11

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Kebijkakan Hutang A. Pengertian Hutang

Utang merupakan kewajiban yang dimiliki oleh pihak perusahaan yang bersumber dari dana eksternal baik yang berasal dari sumber pinjaman perbankkan, leasing, penjualan obligasi dan sebagainya (Fahmi, 2016).

B. Klasifikasi Hutang

Menurut Jumringan (2011) berdasarkan jangka waktu pengembaliannya atau pelunasannya, utang dibedakan menjadi utang jangka pendek (current liabilities) dan utang jangka panjang (noncurrent liabilities) sebagai berikut:

1. Utang Jangka Pendek

Utang jangka pendek merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu yang normal, umumnya satu tahun atau kurang semenjak neraca disusun, atau utang yang jatuh temponya masuk siklus akuntansi yang sedang berjalan. Yang termasuk utang jangka pendek adalah sebagai berikut:

a. Utang Dagang (Account Payable)

Semua pinjaman yang timbul karena pembelian barang-barang dagangan atau jasa secara kredit. Pinjaman tersebut akan dikembalikan dalam jangka waktu satu tahun atau kurang (jangka waktu operasi perusahaan yang normal).

(2)

b. Wesel Bayar (Notes Payable)

Wesel bayar adalah promes tertulis dari perusahaan untuk membayar sejumlah uang atau perintah pihak lain pada tanggal tertentu yang akan datang yang ditetapkan (utang wesel). Promes dapat diberikan kepada bank ketika perusahaan meminjam uang, kepada kreditur untuk pembelian barang dagangan secara kredit, atau kepada perusahaan lain untuk pembelian aktiva yang lain-lain barang dagangan.

c. Penghasilan Yang Ditangguhkan (Deferred Revenue)

Penghasilan yang diterima lebih dahulu merupakan penghasilan yang sebenarnya belum menjadi hak perusahaan. Pihak lain telah menyerahkan uang lebih dahulu kepada perusahaan sebelum peusahaan menyerahkan barang atau jasanya (perusahaan berkewajiban untuk memenuhinya).

Penghasilan baru direalisasi bila jasa-jasa telah dipenuhi atau transaksi penjualan telah selesai. Yang termasuk penghasilan yang ditangguhkan, misalnya pembayaran di muka dari langganan untuk hasil produksi, sewa yang diterima dimuka, uang langganan majalah yang diterima lebih dahulu.

d. Utang Dividen (Dividends Payable)

Bagian laba perusahaan yang diberikan sebagai dividen kepada pemegang saham tetapi belum dibayarkan pada waktu neraca disusun. Penarikan check yang melebihi simpanan di bank (bank overdraft).

e. Utang Pajak

Beban pajak perseroan yang belum dibayarkan pada waktu neraca disusun.

(3)

f. Kewajiban Yang Masih Harus Dipenuhi (Accruals Payable)

Kewajiban yang timbul karena jasa-jasa yang diberikan kepada perusahaan selama jangka waktu tertentu, tetapi pembayarannya belum dilakukan (misalnya upah, bunga, sewa, pensiun, pajak harta milik, dan lain-lain).

g. Utang Jangka Panjang Yang Telah Jatuh Tempo (Maturing Long Term Debt)

Sebagian atau seluruh utang jangka panjang yang menjadi uang jangka pendek karena sudah sampai waktunya untuk dilunasi.

2. Utang Jangka Panjang

Utang jangka panjang merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu melebihi satu tahun. Timbulnya pinjaman ini umumnya karena perusahaan memerlukan dana besar untuk membelanjai perluasan pabrik, tambahan perlengkapan, modal kerja, atau tanah, melunasi utang jangka pendek atau utang jangka panjang lainnya. Yang termasuk utang jangka panjang adalah sebagai berikut:

a. Utang Hipotik (Mortgage Note Payable)

Utang hipotik adalah tanda berutang dengan jangka waktu pembayaran melebihi satu tahun, dimana pembayarannya dijamin dengan aktiva tertentu seperti bangunan, tanah, atau perabot.

b. Utang Obligasi (Bonds Payable)

Utang obligasi adalah surat tanda berutang yang dikeluarkan di bawah cap segel, yang berisi kesanggupan membayar pokok pinjaman pada tanggal jatuh temponya dan membayar bungannya secara teratur pada tiap interval waktu tertentu yang telah disepakati.

(4)

c. Wesel Bayar Jangka Panjang (Notes Payable-Long Term)

Wesel bayar jangka panjang adalah wesel bayar dimana jangka waktu pembayarannya melebihi jangka waktu satu tahun atau melebihi jangka waktu operasi normal.

C. Pengertian Kebijakan Hutang

Kebijakan hutang perusahaan merupakan tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional perusahaan dengan modal yang berasal dari hutang (Ramadhani & Barus, 2018).

Menurut Riyanto (2011) menyatakan bahwa:

“Kebijakan hutang merupakan keputusan yang sangat penting dalam perusahaan. Dimana kebijakan hutang merupakan salah satu bagian dari kebijakan pendanaan perusahaan. Kebijakan utang adalah kebijakan yang diambil pihak manajemen dalam rangka memperoleh sumber daya pembiayaan bagi perusahaan sehingga dapat digunakan untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan”.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka kebijakan hutang merupakan keputusan pendanaan yang dilakukan manajer perusahaan dalam memperoleh sumber dana untuk dapat digunakan dalam membiayai kegiatan operasional perusahaan.

D. Teori Kebijakan Hutang

Terdapat beberapa teori tentang pendanaan hutang dengan hubungan terhadap nilai perusahaan Menurut (Mardiyati et al, 2012):

(5)

1. Teori struktur modal dari Miller dan Modligiani (Capital structure theory).

Pada teori ini mereka berpendapat bahwa dengan asumsi tidak ada pajak, bancruptcy cost, tidak adanya informasi asimetris antara pihak manajemen dengan para pemegang saham, dan pasar telibat dalam kondisi yang efisien, maka value yang bisa diraih oleh perusahaan tidak terkait dengan bagaimana perusahaan melakukan strategi pendanaan. Setelah menghilangkan asumsi tentang ketiadaan pajak, hutang dapat menghemat pajak yang dibayar (karena hutang menimbulkan pembayaran bunga yang mengurangi jumlah penghasilan yang terkena pajak) sehingga nilai perusahaan bertambah.

2. Trade off theory

Pada teori ini menjelaskan bahwa semakin tinggi perusahaan melakukan pendanaan menggunakan hutang maka semakin besar pula resiko mereka untuk mengalami kesulitan keuangan karena membayar bunga tetap yang terlalu besar bagi para debtholders setiap tahunnya dengan kondisi laba bersih yang belum pasti (bancruptcy cost of debt).

3. Pendekatan teori keagenan (Agency approach)

Menurut pendekatan ini, struktur modal disusun untuk mengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Konflik antara pemegang saham dengan manajer sebenarnya adalah konsep free cash flow. Tetapi ada kecenderungan bahwa manajer ingin menahan sumber daya (termasuk free cash flow) sehingga mempunyai kontrol atas sumber daya tersebut. Hutang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan terkait free

(6)

cash flow. Jika perusahaan menggunakan hutang maka manajer akan dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahaan (untuk membayar bunga).

4. Teori Signalling

Jika manajer memiliki keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya ingin agar harga saham meningkat, manajer tersebut tentunya ingin mengkomunikasikan hal tersebut kepada para investor. Manajer bisa menggunakan utang yang lebih banyak, yang nantinya berperan sebagai sinyal yang lebih terpercaya. Ini karena perusahaan yang meningkatkan utang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Investor diharapkan akan menangkap sinyal tersebut, sinyal yang mengindikasikan bahwa perusahaan mempunyai prospek yang prospektif di masa depan. Jadi, kita dapat menyimpulkan dari penjelasan diatas bahwasannya hutang merupakan tanda atau signal positif dari perusahaan.

E. Pengukuran Kebijakan Hutang

Terdapat beberapa rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur kebijakan hutang (Riyanto, 2011):

1. Long term debt to equity ratio, rasio yang menunjukkan besarnya bagian modal sendiri perusahaan yang dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjangnya.

2. Tangible assets debt coverage, rasio yang menunjukkan besarnya aktiva tetap tangible yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjang.

(7)

3. Times interest earned ratio, rasio yang menunjukkan besarnya jaminan keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan untuk membayar beban bunga hutang jangka panjangnya.

4. Debt to assets ratio, rasio yang menunjukkan seberapa besar bagian dari aktiva yang digunakan untuk menjamin hutang perusahaan.

5. Debt to equity ratio, rasio yang menunjukkan seberapa besar bagian modal sendiri yang dijadikan jaminan atas seluruh hutang perusahaan.

Pada penelitian ini kebijakan hutang diukur dengan proksi debt to asset ratio yang merupakan perbandingan antara total hutang dengan total aktiva.

Tujuan dari perhitungan kebijakan hutang adalah untuk mengetahui besarnya aktiva yang dibiayai oleh hutang yang dimiliki perusahaan. Peneliti menggunakan debt to asset ratio karena debt to asset ratio menunjukkan proporsi penggunaan utang untuk membiayai setiap aktiva perusahaan sehingga dapat diketahui seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Menurut Kasmir (2014) debt to asset ratio dirumuskan sebagai berikut:

2.1.2. Struktur Aktiva A. Pengertian Aktiva

Aktiva (asset) merupakan kekayaan yang dimiliki perusahaan yang digunakan dalam menjalankan kegiatan perusahaan. Aktiva perusahaan diperoleh

(8)

dari hasil kegiatan dimasa lampau dan bermanfaat untuk kegiatan perusahaan di masa yang akan datang (Mulyati 2014).

B. Klasifikasi Aktiva 1. Aktiva Lancar

Aktiva lancar adalah harta perusahaan yang dapat dijadikan uang dalam waktu singkat (maksimal satu tahun). Komponen aktiva lancar meliputi kas, bank, surat-surat berharga, piutang, persediaan, biaya dibayar di muka, pendapatan yang masih harus diterima, pinjaman yang diberikan dan aktiva lancar lainnya (Kasmir, 2014).

Menurut Jumringan (2011) yang termasuk dalam aktiva lancar (current asset) adalah sebagai berikut:

1) Kas (Cash)

Uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk membiayai operasi perusahaan. Uang tunai dan alat pembayaran itu terdiri atas uang logam, uang kertas, check, wesel-wesel bank, money order, dan lain-lain yang oleh bank dapat diterima sebagai deposit dan demand deposit pada bank.

2) Investasi Jangka Pendek (Temporary Investment)

Obligasi pemerintah, obligasi perusahaan industri dan surat-surat utang sejenis, dan saham perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali, dikenal sebagai investasi jangka pendek. Surat-surat berharga yang dibeli sebagai investasi jangka pendek dari dana-dana yang sementara belum digunakan, dan bila surat- surat berharga tersebut dapat segera dijual, maka dapat dianggap sebagai aktiva

(9)

lancar. Surat-surat berharga tersebut dimiliki untuk jangka pendek dengan maksud untuk diperjualbelikan (marketable securities).

3) Wesel Tagih (Notes Receivable)

Tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam suatu promes.

Promes tagih adalah promes yang ditandatangani untuk membayar sejumlah uang dalam waktu tertentu yang akan datang kepada seseorang atau suatu perusahaan yang namanya tercantum dalam surat perjanjian tersebut (nama perusahaan yang memegang surat tersebut).

4) Piutang Dagang (Accounts Receivable)

Meliputi keseluruhan tagihan atas langganan perseorangan yang timbul karena penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit.

5) Penghasilan Yang Masih Akan Diterima (Accruals Receivable)

Penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa-jasanya kepada pihak lain, tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan tagihan.

6) Persediaan Barang (Inventories)

Barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali, yang masih ada di tangan pada saat penyusunan neraca. Ada berbagai metode dalam menilai persediaan akhir, misalnya metode first in first out (FIFO), last in first out (LIFO), average cost, lower of cost or market, standard cost, base stock, inventory-retail. Untuk perusahaan industri yang mengolah bahan dasar menjadi barang jadi, mempunyai tiga persediaan, yakni (1) persediaan bahan dasar (raw material inventory), (2) persediaan barang dalam proses (goods in process inventory), dan (3) persediaan barang jadi (finished goods inventory).

(10)

7) Biaya Yang Dibayar Dimuka (Prepaid Expenses)

Pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi biaya atau jasa dari pihak lain itu yang belum dinikmati oleh perusahaan pada periode yang sedang berjalan. Sebagai contoh persediaan supplies, biaya sewa yang dibayar dimuka, biaya bunga yang dibayar dimuka, biaya advertensi yang dibayar dimuka.

2. Aktiva Tidak Lancar

Aktiva tidak lancar adalah aktiva yang tidak memenuhi definisi aktiva lancar. Aktiva tidak lancar mencakup berbagai pos, yaitu investasi jangka panjang, aktiva tetap, aktiva tidak berwujud, dan aktiva tidak lancar lainnya (Hery, 2012).

1) Investasi Jangka Panjang

Perusahaan dapat juga menanamkan dananya dalam bentuk aktiva yang dikelompokkan sebagai investasi jangka panjang (Long Term Investment).

Investasi jangka panjang tersebut dapat berupa:

(a) Saham dan obligasi dari, dana pinjaman kepada, perusahaan lain.

(b) Harta kekayaan yang tidak digunakan dalam operasi rutin perusahaan, misalnya gedung yang disewakan kepada pihak lain, mesin yang akan digunakan di waktu yang akan datang.

(c) Dana yang diperuntukkan bagi tujuan khusus selain pembayaran utang jangka pendek.

(d) Pinjaman kepada anak perusahaan atau perusahaan afiliasi.

(11)

2) Aktiva Tetap

Aktiva tetap (fixed assets) merupakan harta kekayaan yang berwujud, yang bersifat relatif permanen, digunakan dalam operasi reguler lebih dari satu tahun, dibeli dengan tujuan untuk tidak dijual kembali. Yang termasuk dalam aktiva tetap adalah:

(a) Tanah (Land)

Tanah yang dimiliki dan dipergunakan dalam operasi perusahaan.

(b) Bangunan atau gedung (Building)

Bangunan yang dimiliki dan dipergunakan dalam aktivitas usaha.

Perusahaan dapat memiliki hanya satu bangunan untuk berbagai aktivitas atau memiliki beberapa bangunan yang terpisah, misalnya untuk produksi sendiri, untuk penjualan barang sendiri, untuk kegiatan administrasi sendiri.

(c) Mesin-Mesin (Machinery)

Mesin-mesin dan alat perlengkapannya yang dipergunakan dalam mengolah bahan dasar menjadi barang jadi (proses pembuatan barang).

(d) Perabot Dan Peralatan Kantor (Office Furniture And Fixtures)

Kursi, meja dan bangku, mesin-mesin kantor seperti mesin hitung, mesin pembukuan, kalkulator, mesin untuk memproses data, mesin ketik yang diperlukan dalam operasi umum perusahaan. Perabot dan peralatan ini tidak secara langsung dipergunakan dalam rangka penjualan barang.

(e) Perabot Dan Peralatan Toko (Store Furniture And Fixtures)

Register kas, meja tempat membayar, alat ukur, rak barang, etalase, dan prabot serta peralatan lain yang digunakan dalam penjualan barang.

(12)

(f) Alat Pengangkutan (Delivery Equipment)

Semua alat atau kendaraan yang dimiliki dan dipergunakan untuk pengangkutan barang yang dibeli dan kemudian dijual seperti truk, traktor, pick up, gerobak dan lain-lain.

(g) Sumber-Sumber Alam (Natural Resources)

Misalnya tambang batubara, hutan kayu, kebun buah-buahan.

3) Aktiva Tidak Berwujud

Aktiva yang berupa hak-hak yang dimiliki perusahaan. Hak-hak ini diberikan kepada penemuannya, penciptanya, atau penerimanya. Pemilikan hak ini dapat karena menemukan sendiri atau diperoleh dengan jalan membeli dari penemunya. Hak-hak ini dilindungi oleh udang-undang. Yang termasuk aktiva tak berwujud (Intangible Assets) adalah sebagai berikut:

(a) Hak Cipta (Copyrights)

Hak cipta adalah hak yang diberikan kepada pengarang untuk menerbitkan, menjual, atau mengawasi karangannya. Hak cipta ni bisa dijual atau diberikan kepada pihak lain dengan perjanjian-perjanjian tertentu. Harga perolehan hak cipta yang dibeli adalah sebesar jumlah uang yang dibayarkan.

(b) Hak Sewa/Kontrak (Leasehold)

Hak sewa atau kontrak adalah hak untuk mempergunakan suatu aktiva tetap yang telah disewanya. Harga perolehan hak sewa ini meliputi biaya sewa, asuransi, pajak, reparasi, dan pemeliharaan.

(13)

(c) Hak Monopoli (Franchises)

Hak monopoli adalah hak yang diberikan oleh pemerintah untuk menggunakan suatu fasilitas umum yang akan membawa manfaat bagi masyarakat. Harga perolehan hak monopoli adalah sebesar pembayaran kepada pemerintah.

(d) Hak Paten

Hak paten adalah hak yang diberikan kepada pihak yang menemukan sesuatu hal baru untuk membuat, menjual, atau mengawasi penemuannya.

Paten mungkin digunakan sendiri oleh penemuannya atau dijual kepada pihak lain dengan perjanjian tertentu. Harga perolehannya meliputi biaya pembuatan modal dan gambar, biaya untuk membuat percobaan dan pengembangan, dan biaya pendaftaran. Apabila dibeli harga perolehan dicatat sebesar harga beli yang dibayarkan.

(e) Merek Dagang (Trademarks)

Merek dagang adalah cap dagang yang dilindungi oleh undang-undang setelah didaftarkan. Merek dagang ini dapat dibuat sendiri atau dibeli dari penciptanya. Harga perolehannya dicatat sebesar harga beli ditambah semua biaya pembelian, sedang bila dibuat sendiri dicatat sebesar biaya-biaya untuk merencanakan dan mendaftarkan.

(f) Goodwill

Goodwill adalah semua kelebihan yang terdapat dalam suatu usaha seperti letak perusahaan yang baik, nama yang terkenal, pimpinan yang ahli dan lain-lain. Kelebihan-kelebihan tersebut menimbulkan kemampuan untuk memperoleh laba di atas keadaan normal. Goodwill dicatat dalam buku

(14)

hanya bila terjadi pembelian suatu usaha, reorganisasi, atau perubahan letak perusahaan.

4) Biaya Organisasi (Organization Costs)

Biaya organisasi adalah biaya-biaya yang terjadi dalam mendirikan perusahaan seperti izin, pajak, ongkos cetak saham dan formulir, dan lain- lain.

Aktiva tidak berwujud tersebut ada yang mempunyai umur tidak terbatas dan ada yang mempunyai umur terbatas baik secara ekonomis maupun secara hukum. Untuk aktiva tidak berwujud yang mempunyai umur terbatas harus dilakukan penyusutan (amortisasi) secara sistematis dan periodik sepanjang umurnya. Adapun yang mempunyai umur tidak terbatas, bila ada tanda-tanda telah menurun manfaatnya aktiva tidak berwujud harus segera dihapuskan.

5) Beban Biaya Yang Ditangguhkan

Beban biaya yang ditangguhkan (deferred charges) adalah pengeluaran- pengeluaran atau biaya yang mempunyai manfaat jangka panjang, dimana pembebanannya sebagai biaya usaha berlangsung untuk beberapa tahun atau periode. Yang termasuk biaya yang ditangguhkan ini misalnya biaya pemasaran dan biaya penelitian.

6) Aktiva Tidak Lancar Lainnya

Aktiva tidak lancar lainnya (other noncurrent assets) adalah harta kekayaan perusahaan lain yang tidak termasuk pada kelompok-kelompok aktiva tersebut sebelumnya. Misalnya uang kas pada bank tertutup atau di negara asing, investasi lain yang tidak termasuk dalam investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang.

(15)

C. Pengertian Struktur Aktiva

Menurut Mulyati (2014) struktur asset merupakan perbandingan antara aktiva tetap dan total aktiva yang dapat menentukan besarnya alokasi dana untuk masing-masing komponen aktiva.

Menurut Riyanto (2011) struktur aktiva adalah:

“Struktur aktiva atau struktur kekayaan adalah perimbangan atau perbandingan baik dalam artian absolut maupun dalam artian relative antara aktiva lancar dengan aktiva tetap, yang dimaksud dengan artian absolut adalah perbandingan dalam bentuk nominal, sedangkan yang dimaksud dengan relatif adalah perbandingan dalam bentuk persentase”.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka struktur aktiva merupakan penentuan seberapa besar alokasi dana dari masing-masing komponen aktiva, baik aktiva lancar maupun aktiva tetap dengan perbandingan baik dalam bentuk nominal maupun dalam bentuk persentase.

D. Pengukuran Struktur Aktiva

Menurut Riyanto (2011:22) perhitungan struktur aktiva adalah sebagai berikut:

2.1.3. Pertumbuhan Penjualan

A. Pengertian Pertumbuhan Penjualan

Menurut Dharmmesta & Handoko (2011) Pertumbuhan atas penjualan merupakan indikator penting dari penerimaan pasar dari produk dan/atau jasa

(16)

perusahaan tersebut, dimana pendapatan yang dihasilkan dari penjualan akan dapat digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan penjualan.

Menurut Horne (2013) pertumbuhan penjualan adalah:

“Tingkat stabilitas jumlah penjualan yang dilakukan oleh perusahaan untuk setiap periode tahun buku. Pertumbuhan penjualan yaitu peningkatan dari segi jumlah, produktivitas perusahaan untuk menjual produknya dari tahun sebelumnya”.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka pertumbuhan penjualan merupakan perubahan penjualan dari tahun ke tahun atas penerimaan produk atau jasa yang dijual dimana pendapatan yang diperoleh dapat digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan penjualan.

Pertumbuhan penjualan merupakan peningkatan jumlah penjualan dari tahun ke tahun (Sari & Prasetiono, 2014). Pertumbuhan penjualan menunjukkan aktivitas penjualan yang diukur dari penjualan bersih (net sales) sebuah perusahaan (Chaidir & Pitriana, 2017). Pertumbuhan penjualan mencerminkan keberhasilan investasi periode masa lalu dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan masa yang akan datang (Rajagukguk et. al, 2017). Tingginya penjualan akan meningkatkan laba perusahaan, sehingga akan meningkatkan nilai perusahaan dan menunjang pertumbuhan perusahaan (Mulyati, 2014). Laju pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan mempertahankan keuntungan dalam mendanai kesempatan-kesempatan yang akan datang (Sayuthi

& Raithari, 2013).

Menurut Hani dan Rahmi (2014) tingkat pertumbuhan penjualan yang ditentukan dengan hanya melihat kemampuan keuangan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tingkat pertumbuhan atas kekuatan sendiri (internal growth rate) dan

(17)

tingkat pertumbuhan berkesinambungan (sustainable growth rate). Internal growth rate merupakan tingkat pertumbuhan penjualan maksimum yang dapat dicapai perusahaan tanpa membutuhkan dana eksternal atau tingkat pertumbuhan penjualan yang hanya dipicu oleh tambahan atas laba ditahan. Sustainable growth rate adalah tingkat pertumbuhan penjualan maksimum yang dapat dicapai perusahaan tanpa melakukan pembiayaan modal tetapi dengan memelihara perbandingan antara hutang dengan modal (debt to equity ratio).

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penjualan

Menurut Bayangkara dalam Sidabutar (2017) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penjualan antara lain:

1. Produk

Segala sesuatu yang ditawarkan kepada pasar untuk menarik perhatian dan memuaskan keinginan dan kebutuhan.

2. Harga

Merupakan jumlah uang yang harus dibebankan konsumen untuk mendapatkan manfaat dari memiliki atau memanfaatkan suatu barang.

3. Distribusi

Distribusi merupakan jaringan organisasi yang menghubungkan produsen dan konsumen.

4. Promosi

Untuk mengkomunikasikan produk dan pelayanan yang disediakan kepada pelanggan dan keberadaan suatu produk.

(18)

C. Pengukuran Pertumbuhan Penjualan

Menurut Horne (2013) tingkat pertumbuhan penjualan dihitung dengan rumus sebagai berkut:

Keterangan:

g = Growth Sales Rate (tingkat pertumbuhan penjualan)

S1 = Total Current Sales (total penjualan selama periode berjalan).

S0 = Total Sales For Last Period (total penjualan periode yang lalu)

2.1.4. Keterkaitan Antar Variabel

A. Keterkaitan Struktur Aktiva terhadap Kebijakan Hutang

Menurut Rajagukguk et al, (2017) struktur aset merupakan penentuan seberapa besar alokasi dana untuk masing-masing komponen aset, baik aset lancar maupun aset tetap. Struktur aset adalah perimbangan atau perbandingan antara aktiva tetap dan total aktiva (Mulyati, 2014). Aktiva tetap merupakan aset yang sering dipergunakan untuk menjadi jaminan suatu perusahaan untuk memperoleh pinjaman, sehingga jika suatu perusahaan mempunyai akiva tetap yang besar maka akan semakin mudah perusahaan tersebut memperoleh pinjaman (Hardiningsih & Oktaviani, 2012). Besarnya struktur aset bagi perusahaan cenderung untuk memiliki hutang yang besar pula karena memiliki sejumlah aset tetap yang dapat digunakan sebagai jaminan (Widati & Nafisah, 2017). Semakin tinggi struktur aktiva yang dimiliki oleh perusahaan maka semakin tinggi

(19)

perusahaan dalam menggunakan utang, begitu pula sebaliknya semakin rendah struktur aktiva yang dimiliki oleh perusahaan maka semakin rendah pula utang yang digunakan perusahaan (Novianti, 2016). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hardiningsih & Oktaviani, (2012) struktur aset berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan hutang.

B. Keterkaitan Pertumbuhan Penjualan terhadap Kebijakan Hutang

Menurut Novianti (2016) pertumbuhan penjualan adalah kenaikan jumlah penjualan dari tahun ke tahun atau dari waktu ke waktu. Pertumbuhan penjualan merupakan hasil perbandingan antara selisih penjualan tahun berjalan dan penjualan di tahun sebelumnya dengan penjualan di tahun sebelumnya (Ramadhani & Barus, 2018). Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan penjualan yang tinggi akan lebih banyak menggunakan investasi pada berbagai elemen aktiva, baik aktiva tetap maupun aktiva lancar (Mulyanti & Priastari, 2016). Meningkatnya tingkat pertumbuhan penjualan akan diikuti dengan meningkatnya utang karena perusahaan yang tumbuh dengan pesat lebih banyak mengandalkan modal eksternal (Novianti, 2016). Semakin meningkat penjualan perusahaan maka semakin bertambah pula penggunaan pinjaman (Rajagukguk et.

al, 2017). Hal ini didukung oleh penelitian Mulyati (2014) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang.

2.2. Penelitian Terdahulu

Untuk tetap menjaga keaslian dari karya ilmiah ini, maka penulis melampirkan beberapa penelitian terdahulu yang bekaitan dengan penelitian ini, diantaranya sebagai berikut:

(20)

Tabel II.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul

Penelitian Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan 1 Hardiningsih

& Oktaviani, (2012)

Determinan Kebijakan Hutang (Dalam Agency Theory Dan Pecking Order Theory).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur aktiva

berpengaruh positif signifikan terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti struktur aktiva dan kebijakan hutang.

Variabel yang tidak diteliti yaitu profitabilitas ,

pertumbuhan perusahaan, saldo laba, free cash flow, dan kepemilikan manajerial.

Proksi yang digunakan DER.

Tempat penelitian.

2 Manoppo, Mangantar,

& Rate (2018)

Pengaruh Struktur Aset Terhadap Kebijakan Hutang Pada Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di BEI Periode 2012-2016

Hasil penelitian menunjukkan bahwa stuktur aset tidak berpengaruh signifikan terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti Struktur Aktiva dan kebijakan hutang.

Tempat Penelitian.

Proksi yang digunakan DER.

3 Mardiyati, Qothrunnada

& Kurnianti (2018)

Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Struktur Aktiva, Ukuran

Perusahaan, Pertumbuhan Penjualan Dan Profitabilitas Terhadap Kebijakan Utang Pada Perusahaan Sektor Aneka Industri Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2012- 2016.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh terhadap

kebijakan hutang

(DAR) dan

pertumbuhan penjualan tidak bepengaruh terhadap

kebijakan hutang (DAR).

Variabel yang diteliti struktur aktiva dan pertumbuhan penjualan dan kebijakan hutang.

Proksi yang digunakan DAR.

Variabel yang tidak diteliti kepemilikan manajerial, ukuran perusahaan dan profitabilitas ..

Tempat penelitian.

Proksi yang digunakan DER.

4 Marhamah

(2016) Pengaruh

Kepemilikan Hasil penelitian

menunjukkan Varibel yang

diteliti yaitu Variabel yang tidak

(21)

Manajerial.

Kepemilikan Institusional, Kebijakan Deviden, Pertumbuhan (Growth), Ukuran Perusahaan, Dan Struktur Aktiva

Terhadap Kebijakan Hutang Perusahaan Yang Terdaftar Di BEI.

bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap

kebijakan hutang.

struktur aktiva dan kebijakan hutang.

diteliti yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan deviden, pertumbuhan (growth) dan ukuran perusahaan Tempat Penelitian.

Proksi yang digunakan Kewajiban Jangka panjang dan total modal sendiri.

5 Mulyati

(2014) Pengaruh Struktur Asset Dan

Pertumbuhan Penjualan Terhadap Kebijakan Hutang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur asset tidak berpengaruh signifikan terhadap

kebijakan hutang dan pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti struktur aktiva, pertumbuhan penjualan dan kebijakan hutang.

Tempat Penelitian.

Proksi yang digunakan DER.

6 Prathiwi &

Yadnya (2017)

Pengaruh Free Cash Flow, Struktur Aktiva, Risiko Bisnis Dan

Profitabilitas Terhadap Kebijakan Hutang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti struktur aktiva dan kebijakan hutang.

Variabel yang tidak diteliti free cash flow, risiko bisnis dan

profitabilitas .

Tempat penelitian.

Proksi yang digunakan DER.

7 (Rajagukguk ,Widyastuty

& Pakpahan (2017)

Analisis Pengaruh Kebijakan Deviden, Struktur Asset, Dan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur aset memiliki pengaruh positif terhadap

Variabel yang diteliti yaitu struktur aktiva, pertumbuhan penjualan dan

Variabel yang tidak diteliti yaitu kebijakan deviden

(22)

Pertumbuhan Penjualan Terhadap Kebijakan Hutang Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2015.

kebijakan hutang dan pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap

kebijakan hutang.

kebijakan hutang.

Proksi yang digunakan DAR

Tempat penelitian

8 Ramadhani

& Barus (2018)

Kebijakan Hutang Pada Perusahaan Sektor Utama Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013- 2016.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti yaitu pertumbuhan penjualan dan kebijakan hutang.

Variabel yang tidak diteliti yaitu profitabilitas , arus kas bebas, ukuran perusahaan, likuiditas dan kepemilikan institusional.

Tempat penelitian.

Proksi yang digunakan yaitu DER.

9 Sayuthi &

Raithari (2013)

Pengaruh Pertumbuhan Penjualan, Operating Leverage, Dan

Tax Rate

Terhadap Kebijakan Hutang Dengan Pendekatan Pecking Order Theory

(Perusahaan Manfaktur Di Bursa Efek.

Indonesia Tahun 2007-2010).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti pertumbuhan penjualan dan kebijakan hutang.

Variabel yang tidak diteliti operating leverage dan tax rate.

Tempat penelitian.

Proksi yang digunakan yaitu DEBT 10 Sha (2018) Faktor-faktor

Yang

Mempengaruhi Kebijakan Utang Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti pertumbuhan penjualan dan kebijakan hutang

Variabel yang tidak diteliti profitabilitas , tangibility asset, tax rate, dan ukuran perusahaan.

(23)

Tempat penelitian.

11 Trisnawati

(2016) Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Kebijakan Hutang Pada Perusahaan Non-Keuangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur aset berpengaruh terhadap

kebijakan hutang.

Variabel yang diteliti yaitu struktur aktiva dan kebijakan hutang.

Variabel yang tidak diteliti yaitu kepemilikan manajerial.

Kepemilikan institusional, kebijakan deviden, pertumbuhan perusahaan, profitabilitas , arus kas bebas dan ukuran perusahaan

Tempat penelitian Proksi yang digunakan yaitu DEBT 12 Widati

(2017) Analisis Pengaruh Struktur Aset, Risiko Bisnis, Pajak Dan Likuiditas Terhadap Keputusan Pendanaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur aset berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pendanaan.

Variabel yang diteliti struktur aktiva.

Variabel yang tidak diteliti risiko bisnis, pajak, likuiditas dan keputusan pendanaan.

Tempat penelitian

Proksi yang digunakan DER

2.3. Kerangka Pemikiran

Kebijakan hutang merupakan keputusan yang sangat penting dalam perusahaan, dimana kebijakan hutang merupakan salah satu bagian dari kebijakan pendanaan perusahaan (Sayuthi & Raithari, 2013). Kebijakan hutang perusahaan merupakan tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan untuk mendanai

(24)

kegiatan operasional perusahaan dengan modal yang berasal dari hutang (Ramadhani & Barus, 2018). Pengambilan keputusan penggunaan sumber dana dari hutang harus dipertimbangkan mengenai besarnya bunga yang ditimbulkan dari utang tersebut (Sha, 2018). Perusahaan yang menggunakan utang dalam jumlah tinggi akan meningkatkan beban bunga dan pokok pinjaman yang harus dibayar (Mulyati, 2014). Pendanaan perusahaan dengan menggunakan pinjaman yang terlalu tinggi akan meningkatkan risiko keuangan perusahaan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan perusahaan mengalami krisis keuangan (Rajagukguk et. al, 2017). Berdasarkan alasan tersebut manajer diharapkan untuk lebih berhati-hati dalam penentuan kebijakan hutang perusahaan (Marhamah, 2016).

Kebijakan hutang perusahaan salah satunya dapat diproksikan dengan debt to asset ratio (Rajagukguk et. al, 2017). Dalam menentukan kebijakan hutang, salah satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah struktur aset. Struktur aset merupakan penentuan berapa besar alokasi dana untuk masing-masing komponen aset, baik dalam aset lancar maupun dalam aset tetap (Utami, 2014) Struktur aset merupakan rasio antara aktiva tetap dengan total aktiva (Manoppo et. al, 2018).

Besarnya struktur aset bagi perusahaan cenderung besar untuk memiliki hutang yang besar pula karena memiliki sejumlah aset tetap yang dapat digunakan sebagai jaminan (Widati & Nafisah, 2017). Apabila perusahaan tidak mampu melunasi kewajibannya maka aset tersebut akan diambil alih dan dijual oleh pihak eksternal sebagai bentuk pelunasan (Rajagukguk et. al, 2017). Hal ini mengindikasikan bahwa struktur aktiva sebagai salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan bagi manajer untuk menentukan kebijakan hutang.

(25)

Pertumbuhan penjualan juga menentukan keputusan kebijakan hutang yang akan diambil dalam perusahaan. Pertumbuhan penjualan mencerminkan manifestasi keberhasilan investasi periode masa lalu dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan masa yang akan datang (Sayuthi & Raithari, 2013).

Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi cenderung membutuhkan dana dari sumber eksternal yang besar (Mulyati, 2014). Perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan yang tinggi mampu memenuhi kewajiban finansialnya seandainya perusahaan tersebut mendanai asetnya dengan menggunakan pinjaman (Rajagukguk et. al, 2017). Meningkatnya pertumbuhan penjualan, maka keuntungan dari penjualan juga meningkat sehingga dapat digunakan perusahaan untuk menutupi utang (Novianti, 2016). Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan penjualan sebagai salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan bagi manajer untuk menentukan kebijakan hutang.

Berdasarkan penelitian terdahulu dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan, maka model kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(26)

Sumber: Data diolah

Gambar II.1 Kerangka Pemikiran

2.4. Hipotesis

Menurut Martono (2014) hipotesis dapat didefinisikan sebagai jawaban sementara yang kebenarannya masih harus diuji atau rangkuman simpulan teoritis yang diperoleh dari tinjauan pustaka. Hipotesis juga merupakan proposisi yang akan diuji keberlakuannya atau merupakan suatu jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dibuat, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

Struktur Aktiva (X1) 1. Aktiva Tetap 2. Total Aktiva (Riyanto, 2011:22)

Pertumbuhan Penjualan (X2) 1. Penjualan periode berjalan 2. Penjualan periode yang lalu (Horne, 2013:122)

Kebijakan Hutang (Y) 1. Total Hutang 2. Total Aktiva (Kasmir, 2014:156)

(27)

1. Struktur aktiva pada PT Pindad Enjiniring Indonesia fluktuaktif cenderung menurun.

2. Pertumbuhan penjualan pada PT Pindad Enjiniring Indonesia tidak stabil cenderung menurun.

3. Kebijakan hutang pada PT Pindad Enjiniring Indonesia cenderung tinggi.

4. Struktur aktiva berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang pada PT Pindad Enjiniring Indonesia.

5. Pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang pada PT Pindad Enjiniring Indonesia.

6. Struktur aktiva dan pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan hutang pada PT Pindad Enjiniring Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait