10
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Anggaran
A. Definisi Anggaran
Menurut Dharmanegara (2010:2) menyatakan bahwa “Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (satuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang “. Blocher, et.al (2011:564) berpendapat bahwa “ Anggaran merupakan rencana terperinci untuk pemerolehan dan pemakaian sumber daya keuangan dan lain-lain selama periode waktu tertentu khususnya satu tahun fiskal”.
Suatu perusahaan dalam menetapkan tujuan dan sasarannya dibuatlah perencanaan untuk mengetahui apa saja kegiatan yang akan dicapai dengan menggambarkan rencana dalam bentuk angka-angka dan ukuran tertentu disebut dengan anggaran (Nafarin, 2012). Menurut Abdul dan Kusufi (2016) Anggaran adalah sebagai berikut “anggaran adalah dokumen yang berisi estimasi kinerja, baik berupa penerimaan dan pengeluaran, yang disajikan dalam ukuran moneter yang akan dicapai pada periode waktu tertentu dan menyertakan data masa lalu sebagai bentuk pengendalian dan penilaian kinerja”. Anggaran salah satu hal penting dalam sistem pengendalian manajer karena anggaran dapat membantu manajer dalam mengalokasikan keterbatasan sumber daya dana yang dimiliki perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaannya (Prasetya & RM, 2017).
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa anggaran merupakan rencana kerja yang disusun secara rinci untuk pemerolehan dan pemakaian sumber daya keuangan dalam sistem pengendalian manajer yang membantu untuk mencapai tujuan pada kegiatan perusahaan dalam ukuran moneter dan bentuk angka-angka, ukuran, kuantitatif, formal, dan sistematis untuk jangka waktu (periode) yang akan datang.
B. Tujuan Penyusunan Anggaran
Anggaran dalam perusahaan memegang peranan penting sebagai alat manajemen dalam mengendalikan operasi perusahaan agar strategi yang ditetapkan dapat digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan memperhatikan pihak-pihak yang ada pada proses penyusunan anggaran tersebut (Triana, et.al 2012).
Tujuan penyusunan anggaran menurut Ellen Christina, dkk (2011:4) adalah sebagai berikut:
1. Untuk menyatakan harapan sasaran perusahaan secara jelas dan formal, sehingga bisa menghindari kerancuan dan memberikan arah terhadap apa yang hendak dicapai manajemen.
2. Untuk mengkomunikasikan harapan manajemen kepada pihak-pihak terkait sehingga anggaran dimengerti, didukung dan dilaksanakan.
3. Untuk menyediakan rencana terinci mengenai aktivitas dengan maksud mengurangi ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok dalam upaya mencapai tujuan perusahaan.
4. Unuk mengkoordinasi cara atau metode yang akan ditempuh dalam memaksimalkan sumber daya.
5. Untuk menyediakan alat pengukur dan mengendalikan kinerja individu dan kelompok menyediakan informasi yang mendasari perlu tidaknya tindakan koreksi.
Berdasarkan beberapa tujuan penyusunun anggaran yang telah diuraikan, maka dapat diartikan bahwa anggaran digunakan unuk menyediakan dan mengkoordinasikan segala sumber saya secara maksmial dengan mengendalikan kinerja individu dan kelompok dalam menyediakan informasi.
C. Manfaat Anggaran
Menurut Adisaputro,dkk (2010:20) Penyusunan anggaran secara cermat dan baik akan mendatangkan manfaat-manfaat bagi perusahaan, yaitu Anggaran sebagai alat penaksir yaitu alat perencanaan, sebagai plafon dan sekaligus alat pengatur otoritasi pengeluaran dana atau kas dan sebagai alat penilai efisiensi yaitu anggaran dapat disesuaikan dengan tingkat kegiatan yang sebenernya tanpa perlu khawatir bahwa pengubahaannya akan bersifat berlebihan ataupun terlalu minim.
D. Proses Penyusunan Anggaran
Penyusunan anggaran dalam suatu organisasi biasanya dikoordinasikan oleh komite anggaran dan departmen anggaran. Prosedur penyusunan anggaran menurut (Irsutami & Wulan, 2014) adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis informasi masa lalu, lingkungan luar yang diantisipasi, dan SWOT.
2. Menyusun perencanaan stategi dan program.
3. Mengomunikasikan tujuan, strategi, strategi pokok, dan program 4. Memilih taktik, mengoordinasi, dan mengawasi operasi.
5. Menyerahkan revisi usulan anggaran.
6. Menyetujui revisi usulan anggaran dan merakit menjadi anggaran perusahaan.
7. Revisi dan penetapan final anggaran perusahaan untuk diajukan kepada pimpinan perusahaan, dan pengesahaan biasanya dilakukan oleh pemilik perusahaan dalam PT.
2.1.2. Efektivitas Pengendalian Anggaran
A. Definisi Efektivitas Pengendalian Anggaran
Syuliswati (2010:192) Mengungkapkan Bahwa efektivitas adalah sebagai berikut :
Ukuran berhasil atau tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya. Apabila suatu organisasi mencapai tujuan, maka organisasi tersebut dikatakan telah berjalan dengan efektif dan mengatakan bahwa Efektivitas pengendalian anggaran merupakan Proses untuk memastikan bahwa anggaran telah sampai tujuan yang spesifik dilaksanakan secara tepat dan efisien agar menjamin pengumpulan penerimaan dan penyaluran pengeluaran perusahaan tidak menyimpang dari rencana yang telah digariskan dalam anggaran perusahaan.
Menurut Ozer & Yilmar (2011) mengungkapkan bahwa “pengendalian anggaran yaitu kondisi dalam proses penyusunan dan penggunaan anggaran diawasi dengan ketat agar dikatakan efektif”. Menurut Fuadi (2013:4) menyatakan bahwa “ Pengendalian terhadap anggaran adalah proses untuk memastikan bahwa anggaran sampai hal yang spesifik dilaksanakan secara tepat dan efisien”.
Menurut Peuranda (2014:13) menyatakan “efektivitas pengendalian anggaran
yaitu upaya dalam mengendalian anggaran secara efektif berhubungan dengan pengeluaran aktual sejalan dengan jumlah yang dianggarkan untuk tujuan dan tingkat aktivitas yang dicantumkan dalam anggaran tercapai”. Islami (2016:494) berpendapat bahwa “Efektivitas pengendalian anggaran adalah berhasil atau tidaknya tujuan dari pengendalian terhadap anggaran tersebut dilaksanakan.”
Sedangkan Bajora (2017) menyatakan bahwa “ Efektivitas Pengendalian anggaran merupakan variabel yang dapat menimbulkan senjangan anggaran dengan argumentasi untuk meningkatkan kompensasi”. Dan menurut (Kalauw, 2018:78)
“Efektivitas pengendalian anggaran adalah upaya yang dilakukan agar pengeluaran aktual sejalan dengan jumlah yang dianggarkan dan tujuan dari tingkat aktivitas yang dicantumkan dalam anggaran tercapai”
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas pengendalian anggaran adalah proses dimana suatu perusahaan dalam membuat tujuan anggaran yang spesifik dilaksanakan secara tepat dan efisien diawasi dengan ketat agar dikatakan efektif untuk menentukkan berhasil atau tidaknya tujuan anggaran dan upaya yang dilakukaan agar sesuai dengan jumlah dilaksanakan agar tidak menimbulkan senjangan anggaran dengan argumentasi yang meningkatkan kompensasi dengan tujuan dalam anggaran tercapai.
B. Ketentuan Untuk Pengendalian Penganggaran yang Efektif
Menurut Siyanbola dan Tunji (2013:13) Persyaratan yang menjadi pengendalian anggaran menjedi efektif yaitu sebagai berikut :
1. Keterlibatan dan dukungan manajemen puncak.
2. Menghapus informasi yang jelas tentang keberatan perusahaan jangka panjang dimana sistem penganggaran akan beroperasi.
3. Struktur organisasi yang realitis dengan batasan yang jelas tanggung jawab.
4. Keterlibatan asli dan penuh manajer lini dalam semua aspek proses penggaran.
5. Sistem akuntansi dan informasi yang tepat yang akan mencakup catatan pengeluaran dan kinerja yang terkait dengan tanggung jawab cepat dan sistem pelaporan yang akurat menunjukkan aktual terhadap anggaran, kemampuan untuk memberikan informasi yang lebih terperinci atau saran berdasarkan permintaan.
6. Revisi anggaran dan target secara berkala.
7. Diadmiistrasikan secara fleksibel. Berubah dalam kondisi dapat meminta perubahan dalam rencana sesuai kepatuhan terhadap yang jelas tidak tepat untuk kondisi saat ini, akan menyebabkan keseluruhan sistem pengganggaran untuk kehilangan kredibilitas dan efektif.
C. Tujuan Pengendalian Anggaran
Menurut Siyanbola dan Tunji (2013:13) tujuan utama dari pengendalian dapat disimpulkan dikategorikan sebagai berikut:
1. Kombinasi ide dari semua tingkatan manajemen di penyusunan.
2. Koordinasi berbagai kegiatan dalam bisnis dalam bisnis atau organisasi.
3. Pengungkapan tentang di mana suatu organisasi perlu mengingat membangun situasi.
4. Merencanakan dan mengendalikan semua pendapatan dan pengeluaran untuk mencapai manfaat maksimum bagi organisasi.
5. Penyediaan tolak ukur terhadap hasil yang sebenarnya dapat dibandingkan dengan hasil yang telah ditentukan.
6. Penyaluran belanja modal di sebagian besar dengan cara yang layak.
D. Faktor Efektivitas Pengendalian Anggaran
Faktor yang dapat memberikan kontribusi terhadap efektivitas pengendalian. Kalauw (2018) menjelaskan beberapa dimensi yang dapat mengukur efektivitas pengendalian anggaran yaitu pengendalian keuangan dan pengendalian kinerja. Menurut (Fuadi, 2013) efektivitas pengendalian anggaran dapat diukur dengan beberapa faktor, berikut ini faktor efektivitas pengendalian anggaran bagi perusahaan dilihat dari segi anggaran adalah sebagai berikut:
1. Teknik perhitungan perkiraan pendapatan dan pengeluaran.
2. Fleksibilitas dalam fiskal
3. Tingkat pengeluaran yang diharapkan 4. Fasilitas dalam pemberlakuan tingkat pajak.
5. Batasan proses anggaran 6. Waktu dan Informasi 7. Manajemen Keuangan
8. Waktu yang salah dalam melepaskan dana 9. Biaya yang terlalu besar
10. Kurangnya fleksibilitas dalam menggunakan dana 11. Hambatan sumber daya manusia.
2.1.3. Asimetri Informasi
A. Definisi Asimetri Informasi
Menurut Anthony,dkk (2012) Asimetri Informasi adalah sebagai berikut:
Asimetri informasi merupakan suatu kondisi jikalau atasan atau principal tidak memiliki informasi yang memadai tentang kinerja bawahan atau agen baik didalam kinerja sebenarnya, dorongan serta tujuan, dengan demikian atasan tidak bisa menentapkan sumbangan bawahan terhadap hasil sebenarnya entitas.
Menurut Kridawan & Mahmud (2014:197) berpendapat bahwa:
Asimetri informasi adalah suatu keadaan dimana salah satu pihak mempunyai pengetahuan lebih daripada pihak lainnya yang diukuur dari beberapa faktor, yaitu informasi yang dimiliki bawahan dibandingkan dengan atasan, hubungan input-output yang ada dalam operasi internal, kinerja potensial, teknis pekerjaan, mampu menilai dampak potensial, dan pencapaian bidang kegiatan .
Untuk itu informasi merupakan satu hal yang membantu dalam operasi harian perusahahaan untuk pengambilan keputusan (Putriyandari, 2014).
Mukaromah dan Suryandari (2015) berpendapat bahwa “suatu kondisi apabila pemilik/atasan tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai kinerja agen/bawahan baik itu dalam kinerja aktual, motivasi dan tujuan, sehingga atasan tidak dapat menentukan kontribusi bawahan terhadap hasil aktual perusahaan”.
Menurut Evindiana,et.al (2018:4) mengatakan bahwa asimetri informasi adalah sebagai berikut:
Suatu organisasi yang baik tentu diperlukannya sebuah komunikasi dimana untuk menyampaikan informasi dari satu pihak ke pihak yang lain namun ketidakseimbangan informasi yang dimiliki antara satu pihak ke pihak yang lain mengenai suatu unit tanggung jawab pada sebuah organisasi yang memicu timbulnya senjangan anggaran
Menurut Sari Lupita,et.al (2019) menyatakan sebagai berikut:
Asimetri informasi bisa terjadi karena manajer lebih menguasai informasi mengenai perusahaan dibanding dengan pihak lain (pemilik atau pemegang saham). Dengan asumsi-asumsi bahwa
individu lebih mementingkan kepentingan diri sendiri, maka dengan asimetri informasi yang ia miliki dapat mendorong individu untuk menyembunyikan informasi yang tidak diketahui oleh principal
Menurut Noviyanti (2019:26) menyatakan bahwa “Asimetri Informasi yaitu atasan mungkin mempunyai pengetahuan dan wawasan lebih dari pada bawahanm ataupun sebaliknya”.
Berdasarkan definisi yang telah disampaikan, maka dapat diartikan bahwa Asimetri Informasi adalah suatu kondisi jikalau atasan atau principal tidak memiliki informasi yang memadai dibanding bawahan untuk pengambilan keputusan dalam operasi internal, kinerja potensial, teknis pekerjaan karena ketidakseimbangan informasi dari satu pihak ke pihak lain mungkin memiliki pengetahuan wawasan lebih baik yang dapat mendorong individu untuk menyembunyikan informasi yang tidak diketahui.
B. Jenis Dan Bentuk Asimetri Informasi
Asimetri informasi ada dua jenis, yaitu adverse selection dan moral hazard Faria & Sonia (2013) yaitu sebagai berikut:
1. Adverse Selection
Adverse selection ditunjukan dengan perbedaan informasi yang dimiliki antara manajer atas dan manajer bawah. Adanya perbedaan informasi yang dimiliki tersebut membuat manajer bawah dapat menyembunyikan informasi yang dimilikinya dimana informasi ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Adverse Selection terjadi sebelum disetujuinya kontrak antara manajer atas dan manajer bawah.
2. Moral Hazard
Moral Hazard terjadi ketika principal tidak selalu bisa mengawasi dan mengetahui apa yang dilakukan agennya (manajer bawah) setelah principal mengontrak agen. Masalah dari Moral Hazard adalah adanya kecenderungan berubahnya perilaku manajer kontrak disetujui manajer atas dan manajer bawah, dimana perubahan perilaku ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan karena manajer bawah mengejar keuntungan pribadi.
Dari dua jenis asimetri informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis asimetri informasi itu adverse selection merupakan terjadinya perbedaan informasi manajer atas dan manajer bawah yang dapat dimanfaatkan sebagai keuntungan pribadi. Lalu ada Moral hazard yang merupakan perubahan perilaku para manajer untuk mengejar keuntungan pribadi.
Bentuk-Bentuk Asimetri Informasi Menurut Aranta (2013) yaitu, sebagai berikut:
1. Asimetri informasi vertical
Yaitu informasi yang mengalir dari tingkat yang lebih rendah (bawahan) ke tingkat yang lebih tinggi (atasan). Setiap bawahan dapat mempunyai alasan yang baik dengan meminta atau memberi informasi kepada atasan.
2. Asimetri Informasi horizontal
Yaitu informasi yang mengalir dari orang ke orang dan jabatan yang sama tingkat otoritasnya atau informasi yang bergerak diantara orang-orang dan jabatan-jabatan yang tidak menjadi atasan maupun bawahan satu dengan yang lainnya dan mereka menempati bidang fungsional yang berbeda dalam organisasi tapi dalam lebih yang sama.
C. Dimensi Asimetri Informasi
Menurut (Mukaromah & Suryandari, 2015:12) dimensi asimetri informasi yaitu keadaan dimana bawahan banyak informasi mengenai perusahaan atau instansi tempatnya bekerja dibanding dengan atasannya dan mempunyai 6 (enam) indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat senjangan anggaran. Indikator- indikator tersebut adalah:
1. Informasi yang dimiliki bawahan dan atasan 2. Input dan output dalam operasi internal 3. Kinerja potensial
4. Teknis pekerjaan
5. Mampu menilai dampak potensial 6. Pencapaian bidang kegiatan
2.1.4. Senjangan Anggaran
A. Definisi Senjangan Anggaran
Senjangan anggaran yaitu perbedaan selisih antara sumber daya yang kendala yang paling sering muncul dalam proses penyusunan anggaran, yang mengakibatkan hilangnya estimasi terbaik dari anggaran itu sendiri yang berpengaruh pada kinerja suatu organisasi. Beberapa definisi Pengertian Senjangan anggaran menurut Suartana (2010:138) adalah sebagai berikut:
Senjangan anggaran (Budgetary slack) dapat diartikan sebagai perbedaan antara jumlah anggaran yang dinyatakan dan diestimasi terbaik yang secara jujur diprediksikan. Senjangan anggaran terjadi dikarenakan manajer menetapkan pendapatan lebih rendah dan biaya yang lebih tinggi dibandingkan estimasi yang seharusnya menjadi target organisasi tersebut. Estimasi adalah anggaran yang sesungguhnya terjadi dan sesuai dengan kemampuan terbaik perusahaan. Pihak yang mengetahui adanya senjangan anggaran adalah pembuatan anggaran itu sendiri.
Wati,et.al (2013:394) menyatakan sebagai berikut: “ Slack atau senjangan anggaran didefinisikan sebagai perbedaan atau selisih antara sumber daya yg sebenarnya dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan dengan sumber daya yang diajukan dalam anggaran”. Pengertian budgetary slack juga didefinisikan oleh (Siregar, 2013:168) menyatakan sebagai berikut “ slack anggaran adalah jumlah kekurangan pendapatan dan kelebihan biaya yang sengaja dimasukan ke dalam anggaran sehingga manajer tingkat menengah dan bawah lebih mudah mencapai tujuan anggaran”. Senjangan Anggaran merupakan selisih antara jumlah anggaran dan estimasi terbaik yang dilakukan dengan meninggikan biaya atau menurunkan pendapatan dari yang semestinya agar anggaran mudah untuk dicapai (Alfebriano, 2013).
Kridawan & Mahmud (2014) mendefinisikan senjangan anggaran yaitu:
“ Senjangan anggaran adalah selisih antara jumlah anggaran yang diajukan oleh bawahan dan jumlah estimasi terbaiknya yang dapatkan supaya bawahan lebih mudah mencapai target anggaran”. Senjangan anggaran merupakan suatu keadaan dimana jika bawahan berhasil di jenis negosasi tersebut, mereka akan menemukan bahwa merupakan hal yang mudah untuk memenuhi atau melampaui sasaran anggaran mereka (Qolunsalim, 2016).
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka senjangan anggaran dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara yang jumlah anggaran yang dinyatakan dan estimasi terbaik yang secara jujur untuk melaksanakan sebuah pekerjaaan dengan sumber daya antara jumlah kekurangan pendapatan dan kelebihan biaya agar bawahan lebih mudah mencapai target anggaran untuk memenuhi atau melampai sasaran anggaran mereka.
B. Alasan Melakukan Senjangan Anggaran
Menurut Hasanah & Suartana (2014) motivasi yang menyebabkan seseorang melakukan senjangan anggaran yaitu sebagai berikut:
1. Kebutuhan untuk berprestasi (Achievement)
2. Kebutuhan kekuaran atau kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu (power).
3. Kebutuhan otonomi atau kebutuhan untuk kebebasan (autonomy).
Menurut Pratama (2013) Tiga alasan utama manajer melakukan Budgetary slacks sebagai berikut:
1. Orang-orang selalu percaya bahwa hasil pekerjaan mereka akan terlihat bagus di mata atasan jika mereka dapat mencapai anggarannya
2. Budgetary slack selalu digunakan untuk mengatasi kondisi ketidakpastian, jika tidak ada kejadian yang tidak terduga, yang terjadi melampaui/mencapai anggarannya
3. Rencana anggaran selalu dipotong dalam proses pengalokasian sumber daya.
Berdasarkan apa yang sudah diuraikan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa alasan seseorang dalam melakukan senjangan anggaran terjadi karena faktor kebutuhan dan ingin terlihat bagus dimata atasan.
C. Dimensi Senjangan Anggaran
Menurut (Alfebriano, 2013) dimensi senjangan anggaran dapat dilihat dari perbedaan/selisih antara anggaran yang dilaporkan dengan anggaran yang sesuai
dengan estimasi terbaik dan mempunyai 6 (enam) indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat senjangan anggaran. Indikator-indikator tersebut adalah:
1. Standar anggaran dapat meningkatkan produktivitas . 2. Pencapaian anggaran.
3. Monitor biaya disebabkan batasan anggaran.
4. Tuntutan pada anggaran.
5. Target anggaran yang menyebabkan efisiensi.
6. Target anggaran sulit dicapai.
2.2. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang relevan dan yang dapat dijadikan referensi dengan penelitian yang dilakukan seperti digambarkan pada tabel II.1 sebagai berikut:
Tabel II.1.
Penelitian Terdahulu
NO. Peneliti Judul Persamaan Perbedaan Hasil 1. Caecilia
Henny Setya Wati dkk
( 2013)
Pengaruh Partisipasi anggaran dan Budget emphasis terhadap budgetary slack pada telkom di kota merauke
Variabel Y yaitu
budgetary slack
Tidak menggunka n partisipasi dan budget emphasis
Partisipasi anggaran berpengaruh dan signifikan terhadap budgetary slack.
Budget emphasis berpengaruh tetapi tidak signifikan terhadap signifikan budgetary slack 2. Ria
Angelina Latif
Pengaruh Informasi Asimetri
Variabel X yaitu
Informasi
Menggunak an Varibel X2
Informasi asimetri berpengaruh
(2013) terhadap Budgetary Slack Pada Pemerintah Daerah Bolaang Mongondow Utara
Asimetri Variabel Y yaitu
Budgetary slack
Efektivitas Pengendalia n Anggaran
positif dan signifikan terhadap senjangan anggaran
3. Paingga Rukmana DB (2013)
Pengaruh Partisipasi anggaran dan asimetri informasi terhadap timbulnya Budget Slack
Variabel X yaitu
Asimetri Informasi Variabel Y yaitu Budget slack
Tidak Menggunak an Variabel X yaitu Partisipasi anggaran
Partisipasi Anggaran tidak
berpengaruh positif terhadap senjangan anggaran, sedangkan asimetri informasi berpengaruh positif terhadap senjangan anggaran.
4. Mutiara Islami (2016)
Pengaruh Partisipasi anggaran dan efektivitas pengendalian anggaran terhadap timbulnya kesenjangan anggaran yang
dimoderating oleh gaya kepemimpinan
Variabel X yaitu
efektivitas pengendalian anggaran
Variabel Y yaitu
Senjangan Anggaran
Tidak Menggunak an Variabel partisipasi Anggaran dan Variabel Moderasi yaitu Gaya kepemimpin an
Partisipasi anggaran dan efektivitas pengendalian anggaran berpengaruh signifikan terhadap kesenjangan anggaran.
Gaya kepempinan memoderasi hubungan antara partisipasi anggaran dan efektivitas pengendalian terhadap kesenjangan anggaran.
Namun Gaya
kepemipinan memperlemah hubungan variabel partisipasi anggaran dengan Kesenjangan anggaran, Sedangkan Gaya
kepemimpinan memperkuat hubungan variabel Efektivitas pengendalian Anggaran dengan Kesenjangan anggaram 5. Akhmad
Azmi Basyir (2016)
Pengaruh Partisipasi Anggaran, Informasi Asimetri, Dan Kapasitas Individu terhadap Budgetary Slack Pada SKPD
Pemerintah Kota Samarinda
Variabel X yaitu
Asimetri Informasi Variabel Y yaitu
Senjangan Anggaran
Tidak Menggunak an
Partisipasi Anggaran dan Kapasitas Individu
Partisipasi anggaran, Informasi Asimetri dan Kapasitas Individu Berpengaruh positif dan signifikan terhadap Budgetary Slack
6. Ida Bagus Adi
Prasetya&
Ketut Muliartha RM, 2017)
Pengaruh Partisipasi Anggaran, Job Relevant Information dan Asimetri Infomasi Pada Budget slack
Variabel X yaitu
Asimetri Informasi Variabel Y yaitu Budget slack
(Senjangan Anggaran)
Tidak Menggunak an Variabel yaitu
Partisipasi anggaran dan job relevant information
Partisipasi anggaran dan Asimetri Informasi berpengaruh Positif pada budget slack, sedangkan Job relevant
Information berpengaruh negatif pada
Sumber : Data diolah
A. Keterkaitan Antar Variabel
Berdasarkan tabel II.1 adapun keterkaitan antar variabel yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengaruh Efektivitas Pengendalian Anggaran terhadap Senjangan Anggaran.
Pengendalian anggaran dikatakan efektif kondisi dalam penyusunan dan penggunaan anggaran diawasi dengan ketat (Ozer & Yilmaz, 2011).
Efektivitas pengendalian anggaran adalah suatu proses untuk memastikan bahwa anggaran sampai hal yang spesifik dilaksanakan secara tepat dan efisien (Fuadi, 2013). Efektivitas pengendalian anggaran yang baik yaitu bila proses penyusunan anggaran dalam mencapai anggaran telah dilaksanakan secara tepat dan efisien serta tujuan dalam pengeluaran anggaran tidak menyimpang dari rencana yang telah digariskan dalam anggaran (Peuranda, 2014).
budget slack 7. Raden
Vivi Noviyanti, (2019)
Pengaruh Asimetri Informasi dan Ketidakpastia n Lingkungan terhadap Senjangan Anggaran
Variabel X yaitu
Asimetri Informasi Variabel Y Yaitu
Senjangan Anggaran
Tidak Menggunak an yaitu ketidakpasti an
lingkungan
Asimetri Informasi berpengaruh positif terhadap senjangan anggaran, sedangkan ketidakpastian lingkungan Tidak berpengaru positif terhadap senjangan anggaran
Penelitian Menurut Novitasari & Wirama (2016) efektivitas pengendalian anggaran yaitu variabel yang dapat menimbulkan senjangan anggaran karena ketatnya pengendalian anggaran merupakan penyebab penyimpangan perilaku yang berhubungan dengan manipulasi target anggaran dimana pengendalian yang ketat cenderung meningkatkan perilaku disfungsional dalam hal ini terciptanya senjangan anggaran.Sedangkan menurut penelitian Bajora (2017) menyatakan bahwa efektivitas pengendalian anggaran akan meminimalisir senjangan anggaran, bahwa semakin efektif sistem pengendalian anggaran maka kecenderungan seseorang untuk menciptakan senjangan anggaran akan semakin berkurang.
2. Pengaruh Asimetri Informasi terhadap Senjangan Anggaran.
Asimetri informasi merupakan perbedaan informasi yang relevan yang digunakan dalam pengambilan keputusan antara manajer tingkat atas dan manajer tingkat bawah ataupun sebaliknya (Sujana, 2010).Otomatis dalam hal penyusunan dan pengendalian anggaran diperlukanlah informasi yang terjalin baik antara pegawai dan atasan karena semakin biasnya informasi yang diberikan akan memungkingkan terjadinya senjangan anggaran (DB, 2013). Asimetri informasi terjadi ketika bawahan memiliki banyak informasi mengenai perusahaan atau instansi tempatnya bekerja dibanding dengan atasan (Mukaromah & Suryandari, 2015) .
Penelitian Ida dan Ketut (2017) Menyatakan bahwa informasi asimetri mendorong bawahan/pelaksana anggaran membuat budgetary slack (senjangan anggaran), sehingga dengan adanya informasi akan
meningkatan terjadinya senjangan anggaran. Begitu pun dengan penelitian (Latif, 2013), (Sujana, 2010), dan (Bajora, 2017) Bahwa ketika asimetri informasi yang dilakukan oleh bawahan/pelaksana semakin besar, maka akan menimbulkan senjangan anggaran yang semakin besar pula.
2.3. Kerangka Pemikiran
Efektivitas pengendalian anggaran merupakan suatu cara dalam pengendalian anggaran yang efektif untuk mengurangi kelalaian para pelaksana anggaran dalam mendeteksi terjadinya senjangan anggaran (Novitasari & Wirama, 2016). Pengendalian anggaran sebagai alat yang berguna untuk menilai apakah aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan rencana atau tidak (Qolunsalim, 2016). Maka dari itu efektivitas pengendalian anggaran yang akan meminimalisir timbulnya senjangan anggaran. beberapa mengenai efektivitas pengendalian anggaran telah dijelaskan bahwa variabel yang dapat menimbulkan senjangan anggaran dengan argumentasi untuk meningkatkan kompensasi yaitu efektivitas pengendalian anggaran memiliki dimensi yaitu pengendalian keuangan dan pengendalian kinerja (Kalauw, 2018).
Setiap kegiatan perusahaan dibutuhkan sebuah informasi yang baik antara karyawan/bawahan dengan manajer agar tidak terciptanya informasi yang bias antar atasan dan bawahan. asimetri informasi yaitu kondisi apabila atasan tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai kinerja karyawan/bawahan baik itu dalam kinerja aktual, motivasi dan tujuan, sehingga atasan tidak dapat menentukan kontribusi bawahan terhadap hasil aktual perusahaan (Noviyanti, 2019). Namun bila asimetri informasi yang
dilakukan oleh bawahan/karyawan tinggi akan meningkatkan terjadinya senjangan anggaran (Basyir, 2016). Maka dari itu adanya asimetri informasi akan membawa dampak terhadap timbulnya senjangan anggaran (Prasetya & RM, 2017). Dimensi Asimetri Informasi menurut (Mukaromah & Suryandari, 2015) keadaan dimana bawahan memiliki banyak informasi mengenai perusahaan atau instansi tempatnya bekerja dibanding dengan atasannya dan beberapa indikator.
Menurut (Alfebriano, 2013) dimensi senjangan anggaran dapat dilihat dari perbedaan/selisih antara anggaran yang dilaporkan dengan anggaran yang sesuai dengan estimasi terbaik dan mempunyai 6 (enam) indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat senjangan anggaran.
Penelitian mengenai pengaruh asimetri informasi dengan senjangan anggaran dalam beberapa penelitian (Noviyanti,2010; Bajora, 2017; Latif, 2013; Basyir ,2016; Sujana, 2010; DB, 2013; Ayu & Budiasih, 2017), Hasil penelitian menunjukkan bahwa asimetri informasi mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap senjangan anggaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tingginya asimetri informasi yang dilakukan oleh bawahan/karyawan maka akan meningkatkan terjadinya senjangan anggaran.
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan tersebut, maka bagan kerangka pemikiran yang dapat digambarkan adalah sebagai berikut:
H1
Bja
H3
H4 H2
H5
H6
Gambar II.1.
Kerangka Pemikiran Efektivitas Pengendalian
Anggaran (X1) 1. Pengendalian
Keuangan
2. Pengendalian kinerja
(Kalauw, 2018)
Senjangan anggaran (Y) Perbedaan antara anggaran yang dilaporkan dengan anggaran yang sesuai dengan estimasi terbaik perusahaan.
(Alfebriano, 2013)
(Alfebriano, 2013) Asimetri Informasi (X2)
.
Keadaan dimana bawahan memiliki banyak informasi mengenai perusahaan atau instansi tempatnya bekerja dibanding dengan atasannya.
(Mukaromah & Suryandari, 2015)
Noviyanti (2019)
2.4. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang berdasarkan teori bukan berdasarkan fakta-fakta empiris, terhadap rumusan masalah penelitian.
Berdasarkan kerangka yang telah disampaikan maka hipotesis yang akan diuji kebenerannnya sebagai berikut:
H1 : Efektivitas pengendalian anggaran pada karyawan PT.Pindad Enjiniring Indonesia Belum baik.
H2 : Asimetri Informasi pada karyawan PT. Pindad Enjiniring Indonesia relatif tinggi.
H3 : Senjangan Anggaran pada PT. Pindad Enjiniring Indonesia relatif tinggi.
H4 : Efektivitas Pengendalian Anggaran pada PT. Pindad Enjiniring Indonesia berpengaruh signifikan terhadap senjangan anggaran.
H5 : Asimetri Informasi pada Karyawan di PT. Pindad Enjiniring Indonesia berpengaruh signifikan terhadap senjangan anggaran.
H6 : Efektivitas Pengendalian Anggaran dan Asimetri Informasi Berpengaruh signifikan terhadap Senjangan Anggaran.