BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Keluarga
2.1.1 Definisi
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial dari setiap anggota keluarga (Duvall, 1986 dalam Andarmoyo, 2012: 3).
Menurut Bussard dan Ball, 1966 dalam Setiadi menjelaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan sosial yang sangat dekat hubungannya dengan seseorang. Di keluarga itu seseorang dibesarkan, bertempat tinggal, berinteraksi satu dengan yang lain, dibentuknya nilai-nilai, pola pemikiran, dan kebiasaannya dan berfungsi sebagai saksi segenap budaya luar, dan mediasi hubungan anak dengan lingkungannya.
Menurut Depkes RI (1998) keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekumpulan orang yang dibentuk oleh sebuah perkawinan, hubungan darah ataupun adopsi
yang saling berhubungan serta berinteraksi satu sama lain sehingga dapat menjalankan fungsi-fungsi keluarga.
2.1.2 Peran Keluarga
1) Peran ayah
Ayah sebagai pemimpin keluarga mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung/pengayom, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu.
2) Peran ibu
Ibu sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak- anak, pelindung keluarga dan juga sebagai pencari nafkah tambahan keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu.
3) Peran anak
Anak berperan sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental, sosial, dan spiritual.
2.1.3 Tugas Keluarga
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan
dilakukan. Freeman (1981) membagi tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan yaitu :
1. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya.
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggungjawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya.
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga.
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka segera melakukan tindakan yang tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan seyogyanya meminta bantuan orang lain dilingkunganan sekitar keluarga.
3. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda.
Perawatan ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan
pertama atau kepelayanan kesehatan untuk memperoleh tindakan lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
4. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan (pemanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada).
2.1.4 Tipe Keluarga
Pembagian tipe ini bergantung kepada konteks keilmuan dan orang yang mengelompokkan
1. Secara tradisional
Secara tradisional keluarga dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
a. Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.
b. Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek, paman-bibi).
2. Secara modern berkembangnya peran individu dan meningkatnya rasa individualisme maka pengelompokkan tipe keluarga selain di atas adalah :
a. Tradisional Nuclear
Keluarga inti (ayah, ibu, dan anak) tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
b. Reconstiuted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru, satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah.
c. Niddle Age/Aging Couple
Suami sebagai pencari uang, istri di rumah/kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti karier.
d. Dyadic Nuclear
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak yang keduanya atau salah satu bekerja diluar rumah.
e. Single Parent
Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah atau di luar rumah.
f. Dual Carrier
Yaitu suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak.
g. Commuter Married
Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu. Keduanya saling mencari pada waktu- waktu tertentu.
h. Single Adult
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk kawin.
i. Three Generation
Yaitu tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
j. Institusional
Yaitu anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.
k. Comunal
Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
l. Group Marriage
Yaitu satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
m. Unmaried Parent and Child
Yaitu ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya diadopsi.
n. Cohibing Coiple
Yaitu dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.
o. Gay and Lesbian family
Yaitu keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama.
2.1.5 Struktur Keluarga
Menurut Setiadi (2008) Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi keluarga dimasyarakat.
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah : 1. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2. Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
5. Keluarga Kawin
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
2.1.6 Fungsi Pokok Keluarga
Fungsi pokok keluarga secara umum menurut Friedman (1998) sebagai berikut :
a. Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain
b. Fungsi sosialisasi adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah
c. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga
d. Fungsi ekonomi adalah keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
e. Fungsi perawatan/pemeliharaan kesehatan, yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi.
Sedangkan, ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya (Effendy 1998: 36):
a. Asih, adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
b. Asuh, adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan keperawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
c. Asah, adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
2.2 Konsep Gangguan Jiwa 2.2.1 Definisi
Penyakit gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara maju, tetapi masih kurang populer di kalangan masyarakat awam. Di masa lalu banyak orang menganggap gangguan jiwa merupakan penyakit yang tidak dapat diobai (Hawari, 2012).
Menurut Nasir, Muhith (2011) Gangguan jiwa merupakan manifestasi dari bentuk penyimpangan perilaku akibat adanya distorsi emosi sehingga ditemukan ketidakwajaran dalam bertingkah laku. Hal
ini terjadi karena menurunnya semua fungsi kejiwaan. Dengan demikian, gangguan jiwa dapat di definisikan sebagai berikut:
1. Keadaan adanya gangguan pada fungsi kejiwaan. Fungsi kejiwaan meliputi : proses berfikir, emosi, kemauan, dan perilaku psikomotorik, termasuk bicara.
2. Adanya kelompok gejala atau perilaku yang ditemukan secara klinis yang disertai adanya penderitaan distress pada kebanyakan kasus da berkaitan dengan terganggunya fungsi seseorang (PPGDJ III).
2.2.2 Sumber Penyebab Gangguan Jiwa
Manusia bereaksi secara keseluruhan-somato-psiko-sosial. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa, unsur ini harus diperhatikan. Gejala gangguan jiwa yang menonjol adalah unsur psikisnya, tetapi yang sakit dan menderita tetap sebagai manusia seutuhnya (Maramis, 2010).
1. Faktor somatik (somatogenik), yakni akibat gangguan pada neuroanatomi, neurofisiologi, dan neurokimia, termasuk tingkat kematangan dan perkembangan organik, serta faktor pranatal dan perinatal.
2. Faktor psikologik (psikogenik), yang terkait dengan interaksi ibu dan anak, peranan ayah, persaingan antarsaudara kandung, hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permintaan masyarakat.
Selain itu, faktor intelegensi, tingkat perkembangan emosi, konsep diri, dan pola adaptasi juga akan mempengaruhi kemampuan untuk
menghadapi masalah. Apabila keadaan ini kurang baik, maka dapat mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu, dan rasa bersalah yang berlebihan.
3. Faktor sosial budaya, yang meliputi faktor kestabilan keluarga, pola mengasuh anak, tingkat ekonomi, perumahan, dan masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka, fasilitas kesehatan, dan kesejahteraan yang tidak memadai, serta pengaruh rasial dan keagamaan.
2.2.3 Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa
Menurut Nasir, Muhith (2011), beberapa tanda dan gejala gangguan jiwa, yaitu :
1. Gangguan kognitif
Kognitif adalah suatu proses mental dimana seseorang individu menyadari dan mempertahankan hubungan dengan lingkunganya, baik lingkungan dalam maupun lingkugan luar (fungsi mengenal).
Proses kognitif meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Sensasi persepsi b) Perhatian c) Ingatan d) Asosiasi e) Pertimbangan f) Pikiran g) kesadaran
2. Gangguan perhatian
Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energy, menilai dalam suatu proses kognitif yang timbul dari luar akibat suatu rangsangan.
3. Gangguan ingatan
Ingatan (kenangan, memori) adalah kesanggupan untuk mencatat, menyimpan, memproduksi isi, dan tanda-tanda kesadaran
4. Gangguan asosiasi
Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu perasaan, kesan, atau gambaran ingatan cenderung untuk menimbulkan kesan atau gambaran ingatan respon atau konsep lain, yang sebelumnya berkaitan dengannya.
5. Gangguan pertimbangan
Pertimbangan (penilaian) adalah suatu proses mental untuk membandingkan atau menilai beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja dengan memberikan nilai-nilai untuk memutuskan maksud dan tujuan dari suatu aktivitas.
6. Gangguan pikiran
Pikiran umum adalah meletakkan hubungan antara berbagai bagian dari pengetahuan seseorang
7. Gangguan kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk mengadakan hubungan dengan lingkungan, serta dirinya melalui pancaidra dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungan serta dirinya sendiri.
8. Gangguan kemauan
Kemauan adalah suatu proses dimana keinginan-keinginan dipertimbangkan yang kemudian diputuskan untuk dilaksanakan sampai mencapai tujuan.
9. Gangguan emosi dan afek
Emosi adalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan pengaruh pada aktivitas tubuh serta menghasilkan sensasi organic dan kinetis. Afek adalah kehidupan perasaan atau nada perasaan emosional seseorang, menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran, biasa berlangsung lama dan jarang disertai komponen fisiologis.
10. Gangguan psikomotor
Psikomotor adalah gerakan tubuh yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa.
2.3 Konsep Halusinasi
2.3.1 Definisi
Halusinasi adalah persepsi klien yang salah terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, memberi persepsi yang salah atau pendapat tentan sesuatu tanpa ada objek/rangsangan yang nyata dan hilangnya kemampuan manusia untuk membedakan rangsang internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) (Trimeilia S, 2011).
Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori dari suatu obyek tanpa adanya rangsangan dari luar, gangguan persepsi sensori ini meliputi seluruh pancaindra (Yusuf Ah. Dkk., 2015).
Menurut (Keliat, 1999 dalam Amin dan Hardhi 2016: 268) Halusinasi adalah suatu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan.
Pasien seakan stimulus yang sebenarnya tidak ada.
2.3.2 Etiologi
Dalam buku Yusuf Ah, Dkk., (2015) menyebutkan bahwa halusinasi disebabkan oleh :
1. Faktor predisposisi
a) Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stress dan ansietas yang dapat berakhir dengan gangguan persepsi. Pasien mungkin menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
b) Faktor sosial budaya
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang merasa disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi.
c) Faktor psikologi
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, serta peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan ansietas berat terakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan, sehingga terjadi halusinasi.
d) Faktor biologis
Struktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien gangguan orientasi realitas, serta dapat ditemukan atropik otak, pembesaran vertikal, perubahan besar, serta bentuk sel kortikal dan limbik.
e) Faktor genetik
Gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi umumnya ditemukan pada pasien skizofrenia. Skizofrenia ditemukan cukup tinggi pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami skizofrenia, serta akan lebih tinggi jika kedua orangtuanya skizofrenia.
2. Faktor presipitasi
a) Stressor sosial budaya
Stress dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau diasingkan dari kelompok dapat menimbulkan halusinasi.
b) Faktor biokimia
Berbagai penelitian tentang dopamin, norepinetrin, indolamin, serta zat halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi.
c) Faktor psikologis
Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan berkembangnya gangguan orientasi realitas. Pasien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.
d) Perilaku
Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan orientasi realitas berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif persepsi, motorik, dan sosial.
2.3.3 Jenis dan Tanda-Tanda Halusinasi
Menurut Kusumawati & Hartono (2015), Menarik diri, tersenyum sendiri, duduk terpaku, bicara sendiri, memandang satu arah, menyerang, tiba-tiba marah, dan gelisah.
Jenis-jenis halusinasi adalah sebagai berikut.
1. Halusinasi pendengaran: mendengarkan suara atau kebisingan yang kurang jelas ataupun yang jelas, dimana terkadang suara- suara tersebut seperti mengajak berbicara klien dan kadang memerintah klien untuk melakukan sesuatu.
2. Halusinasi penglihatan: stimulus visual dalam bentuk kilatan atau cahaya, gambar atau bayangan yang rumit dan kompleks.
Bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan.
3. Halusinasi penghidu: membau bau-bauan tertentu seperti bau darah, urine, feses, parfum, atau bau yang lain. Ini sering terjadi pada seseorang pasca-serangan stroke, kejang atau demensia.
4. Halusinasi pengecapan: merasa mengecap rasa seperti darah, urine, feses, atau yang lainnya.
5. Halusinasi perabaan: merasa mengalami nyeri, rasa tersetrum atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.
6. Halusinasi cenesthetic: merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.
7. Halusiansi kinestetika: merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
2.3.4 Rentang Respons Neurobiologi
Rentang respons neurobiologi yang paling adaptif adalah adanya pikiran yang logis dan terciptanya hubungan sosial yang harmonis.
Rentang respons yang maladapif adalah adanya waham, halusinasi, termasuk isolasi sosial menarik diri. (Yusuf Ah. Dkk., 2015).
Rentang respons halusinasi
Adaptif Maladaptif
− Pikiran logis
− Persepsi akurat
− Emosi konsisten
− Perilaku sesuai
− Hubungan sosial harmonis
− Distorsi pikiran
− Ilusi
− Menarik diri
− Emosi tidak stabil
− Perilaku tidak biasa
− Waham
− Halusinasi
− Kesukaran proses emosi
− Perilaku tidak terorganisasi
− Isolasi sosial
GAMBAR 2.1
2.3.5 Pohon Masalah
GAMBAR 2.2
2.3.6 Proses Terjadinya Halusinasi
Menurut Kusumawati & Hartono (2011), Halusinasi berkembang melalui empat fase, yaitu sebagai berikut.
1. Fase Pertama
Disebut juga dengan fase comforting, yaitu fase menyenangkan.
Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik. Karakteristik:
Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
Perubahan persepsi sensori: Halusinasi
Isolasi diri: menarik diri
klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan.
Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara.
Perilaku klien: tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respons verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.
2. Fase Kedua
Disebut dengan fase condeming atau ansietas berat yaitu halusinasi menjadi menjijikkan. Termasuk dalam psikotik ringan.
Karakteristik: pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan, kecemasan meningkat, melamun, dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin orang lain tahu, dan ia tetap dapat mengontrolnya.
Perilaku klien: meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah.
Klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.
3. Fase Ketiga
Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik.
Karakteristik: bisikan suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien jadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
Perilaku klien: kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat
Adalah fase conquering atau panik yaitu klien lebur dengan halusinasinya, termasuk dalam psikotik berat. Karakteristik:
halusinasinya berubah menjadi mengancam, memerintah, memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol, dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan oranglain di lingkungannya.
Perilaku klien: perilaku teror terhadap panik, potensi bunuh diri, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespons terhadap perintah kompleks, dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.
2.3.7 Mekanisme Koping
1. Regresi : menjadi malas beraktivitas sehari-hari
2. Proyeksi : menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain
3. Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal. (Prabowo, 2014).
2.3.8 Penatalaksanaan Halusinasi
Pengobatan harus secepat mungkin harus diberikan, disini peran keluarga sangat penting karena setelah mendapatkan perawatan di RSJ pasien dinyatakan boleh pulang sehingga keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat pasien, menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan sebagai pengawas minum obat.
1. Strategi Pelaksanaan Tindakan (SP)
Strategi pelaksanaan adalah rencana yaang akan dilakukan pada pasien halusinasi. Hal ini sangat berguna bagi pasien, dan tidak hanya bagi pasien, keluarga juga harus mengetahui strategi pelaksanaan ini untuk bekal jika pasien pulang ke rumah. Strategi pelaksanaan, yaitu :
a) SP 1 Klien :
Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenali halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi dengan cara pertama; menghardik halusinasi.
b) SP 2 Klien :
Melatih klien dengan cara ke 2 menemui orang lain dan bercakap-cakap.
• Evaluasi cara menghardik
• Latih cara ke 2 : menemui orang lain dan bercakap- cakap
• Susun jadwal kegiatan harian cara ke 2.
c) SP 3 Klien :
Melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga : melaksanakan aktivitas terjadwal
• Evaluasi jadwal harian untuk dua cara yang sudah
diajarkan : menghardik dan bercakap-cakap dengan orang lain
• Latihan melaksanakan aktivitas terjadwal
d) SP 4 Klien :
Latihan mengontrol halusinasi dengan menggunakan obat secara teratur
• Evaluasi jadwal kegiatan harian klien untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang sudah dilatih
• Latih klien minum obat secara teratur dengan prinsip 5
benar, disertai penjelasan tentang guna obat dan akibat berhenti minum obat
• Susun jadwal minum obat secara teratur.
2. Elektro Convulsive Therapy (ECT)
Adalah suatu jenis pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut
menimbulkan kejang grand nal yang berlangsung 25-30 detik dengan tujuan terapeutik. Respon bangkitan listrik di otak menyebabkan terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.
3. Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relative cukup lama dan merupakan bagian penting dalam proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi ini meliputi: Memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan lingkungan yang terapeutik, bersifat tempati, menerima klien apa adanya, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur kepada klien.
4. Terapi Aktivitas 1) Terapi music
Focus ; mendengar ; memainkan alat musik ; bernyanyi. yaitu menikmati dengan relaksasi music yang disukai pasien.
2) Terapi seni
Focus: untuk mengekspresikan perasaan melalui beberapa pekerjaan seni.
3) Terapi menari
Focus pada: ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh 4) Terapi relaksasi
Belajar dan praktik relaksasi dalam kelompok Rasional : untuk koping/perilaku mal adaptif/deskriptif meningkatkan partisipasi dan kesenangan pasien dalam kehidupan.
5) Terapi sosial
Pasien belajar bersosialisai dengan pasien lain 6) Terapi kelompok
a) Terapi group (kelompok terapeutik)
b) Terapi aktivitas kelompok (adjunctive group activity therapy)
c) TAK Stimulus Persepsi; Halusinasi Sesi 1 : Mengenal halusinasi
Sesi 2 : Mengontrol halusinasi dengan menghardik
Sesi 3 : Mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan Sesi 4 : Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap Sesi 5 : Mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat
7) Terapi lingkungan
Suasana rumah sakit dibuat seperti suasana d idalam keluarga ( Home Like Atmosphere) (Prabowo,2014).
5. Terapi Okupasi
Suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang.