• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Terapi Okupasi 2.1.1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Terapi Okupasi 2.1.1"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

Terapi okupasi lebih fokus pada mengenali kemampuan yang ada pada seseorang, kemudian mempertahankan atau meningkatkannya sehingga mampu mengatasi permasalahan yang ingin dihadapinya. Tujuan utama terapi okupasi adalah melatih seseorang agar mampu berdiri sendiri tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Fungsi dan Tujuan Terapi Okupasi Terapi okupasi adalah aplikasi medis yang ditargetkan untuk pasien fisik dan mental dengan menggunakan aktivitas sebagai media terapi untuk memulihkan fungsi seseorang sehingga ia dapat mandiri.

Program terapi okupasi merupakan bagian dari pelayanan medis dengan tujuan rehabilitasi total pasien melalui kerjasama dengan staf lain di rumah sakit. Dalam penerapan terapi okupasi, nampaknya banyak terjadi tumpang tindih dengan terapi lain sehingga diperlukan kolaborasi yang terkoordinasi dan terintegrasi (Nasir & Muhith, 2011, p. 262). Kegiatan terapi okupasi digunakan sebagai media evaluasi, diagnosis, terapi dan rehabilitasi. Dengan mengamati dan mengevaluasi pasien saat melakukan suatu aktivitas dan menilai hasil pekerjaannya, maka dapat ditentukan arah terapi dan rehabilitasi pasien selanjutnya.

Penting untuk diingat bahwa kegiatan dalam terapi okupasi bukan untuk penyembuhan, melainkan hanya sebagai media. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan yang digunakan dalam terapi okupasi, yang dipengaruhi oleh konteks terapeutik secara keseluruhan, lingkungan, sumber daya yang tersedia, serta kemampuan terapis itu sendiri (pengetahuan, keterampilan, minat dan kreativitas). Aktivitas dalam terapi okupasi adalah segala macam aktivitas yang dapat menyibukkan seseorang secara produktif, yaitu sebagai media pembelajaran dan pengembangan, serta sebagai sumber kepuasan emosional dan fisik.

Oleh karena itu, setiap aktivitas yang digunakan dalam terapi okupasi harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

Indikasi Terapi Okupasi

Proses Terapi Okupasi

Koleksi Data

Analisa data dan identifikasi masalah

Penentuan tujuan

Penentuan aktivitas

Dalam hal ini perlu diingat bahwa kegiatan ini tidak akan menyembuhkan penyakit, namun hanya sebagai media untuk memahami permasalahan dan mencoba mengatasinya di bawah bimbingan seorang terapis. Pasien juga harus diberitahu alasan mengapa ia harus melakukan aktivitas tersebut, sehingga ia sadar dan berharap untuk melakukannya secara aktif.

Evaluasi

Pelaksanaan

Terapi okupasi dapat dilakukan secara individu atau kelompok, tergantung kondisi pasien, tujuan, atau secara berkelompok, tergantung kondisi pasien, tujuan terapi, dan lain-lain. Pasien yang kurang mampu atau mampu berkomunikasi dengan baik dalam kelompoknya, sehingga dianggap mengganggu kelancaran fungsi kelompok jika dimasukkan dalam kelompok ini. Pasien yang dilatih untuk bekerja sehingga terapis dapat menilai pasien dengan lebih efektif.

Sebelum terapis memulai suatu kegiatan, baik secara individu maupun kelompok, ia harus mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaannya. Pasien juga harus bersiap dengan memperkenalkan kegiatan dan menjelaskan tujuan dilakukannya kegiatan sehingga mereka dapat lebih memahaminya dan mencoba berpartisipasi secara aktif. Jumlah anggota dalam suatu kelompok disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilakukan dan kemampuan terapis dalam melakukan supervisi.

Terapi okupasi dilakukan antara 1-2 jam per sesi, baik secara individu maupun kelompok, setiap hari, dua atau tiga kali secara individu atau kelompok setiap hari, dua atau tiga kali seminggu, tergantung tujuan terapi, ketersediaan. staf dan fasilitas. , Dan seterusnya. Sesi ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ½-1 jam untuk menyelesaikan kegiatan dan 1-1 ½ jam untuk diskusi.

Terminasi. Keikut sertaan seseorang pasien dalam kegiatan okupasi terapi dapat diakhiri dengan dasar bahwa pasien

Konsep Menjahit .1 Pengertian menjahit

  • Proses cara menggunakan mesin jahit
    • Kampuh dasar
    • Alat-alat menjahit a. Benang

Keterampilan menjahit pada klien gangguan jiwa dimulai dari tahap awal atau dasar yaitu menjahit garis lurus terlebih dahulu hingga pasien mampu dan mampu melakukannya. Setelah tahap awal, pasien dapat diajari membuat sprei, tali, menjahit. dll. Awalnya petugas bangsal (perawat atau dokter) memilih pasien yang akan didaftarkan untuk rehabilitasi dengan syarat pasien bersikap kooperatif, tidak mudah melarikan diri, tidak berisiko bunuh diri, tidak mengidap penyakit menular, tenang, dan lain-lain. Dalam terapi okupasi menjahit, pasien diajarkan dari tahap awal yaitu pengenalan alat dan bahan, kemudian diajarkan untuk melatih kaki agar tidak maju mundur, memegang alat dan menggunakan alat tanpa jarum, jalankan mesin jahit dengan jarum tetapi tidak menggunakan benang, usahakan menjahit tetapi menjahit garis lurus terlebih dahulu seperti; menjahit tali, seprai, dll, sehingga pasien dapat menjalankannya.

Setelah pasien dapat menjahit dalam garis lurus, pasien dianjurkan untuk membuat pola seperti menjahit taplak meja, membuat penutup kulkas, membuat baju atau daster, dan lain-lain. Cara Menggulung Benang pada Pallet Untuk memudahkan menggulung benang pada palet, biasanya terdapat alat khusus yang terletak pada badan mesin jahit di dekat roda putar mesin jahit. Kemudian kawat ditarik ke atas dan ditempatkan pada lubang penahan kawat kedua (pelat kawat) (6).

Daripada penyangkut wayar kedua, wayar dimasukkan ke dalam lubang wayar yang dipasang pada penyangkut wayar ketiga (7). Kemudian, sebelum benang dimasukkan ke dalam lubang jarum, ia terlebih dahulu dicantumkan pada benang di bahagian atas jarum jahit. Penggunaan kampu bermula dengan kampu asas dan kemudian bahagian tiras kain ditekan supaya lebih kemas.

Jahitan terbuka yang difinishing dengan jahitan perban, jahitan ini digunakan untuk jenis kain yang tebal. Cara menjahitnya diawali dengan menyematkan bagian kain yang jelek seperti jahitan dasar dengan jarak 0,5 cm, kemudian diputar hingga jahitan pertama masuk ke dalam, kemudian dijahit dengan lebar jahitan 1 cm tekan dan jahit. jahitan kedua adalah bagian dalam pakaian. Cara menjahitnya dimulai dari bagian kain yang bagus, buat jahitan dasar selebar 2,5 cm, lalu lipat kedua sisi kain ke dalam lalu jahit.

Cara membuat jahitan Perancis adalah dengan menyatukan dua lembar kain yang lebar bagian tepinya tidak sama, kemudian menjahit jahitan dasar dan menggunakan tepi kain yang lebih lebar untuk menutup jahitan dengan cara ditekan. Cara membuat jahitan ini adalah dengan melipat dua lembar kain selebar 0,5 cm, kemudian disatukan dengan jahitan 1 cm dan menekan bagian pinggir lipatan. Jahitan slip digunakan untuk menjahit bagian bawah yang berlipit dan bagian atas yang tidak berlipit.

Caranya dengan menjahit kira-kira sepanjang kain dengan lebar 1 cm dari tepinya, lalu menjahit lagi dengan lebar 1 cm dari jahitan pertama. Kemudian gabungkan bagian bawah yang berlipit dengan bagian atas yang tidak berlipit dengan jarak 3 cm dari garis tepi atas dan jahit tepat di tengah kedua benang yang berlipit dan lipat lagi 3 cm untuk menutup lipatannya.

  • Gejala Skizofrenia
  • Klasifikasi Skizofrenia
  • Penatalaksanaan Skizofrenia

Delusi biasanya berupa delusi penganiayaan atau delusi keagungan, atau keduanya, namun delusi dengan tema lain (misalnya, delusi cemburu, agama, atau Somalia) juga dapat terjadi. Bentuk-bentuk pemikiran dicirikan oleh asosiasi yang longgar (asosiasi yang tergelincir atau tangensial), gagasan yang independen, dapat melompat dari satu topik ke topik lainnya, dan tidak berhubungan sehingga membingungkan pendengarnya. Sedangkan pada isi pemikirannya terdapat delusi, yaitu keyakinan tetap yang salah dan tidak sesuai dengan fakta, yang tetap dipertahankan meskipun telah muncul bukti nyata yang memperbaikinya.

Penderita skizofrenia mengalami kehilangan kemauan, kelemahan dan kurangnya dorongan, yang terlihat dari kegagalan melakukan pekerjaan rumah, belajar atau bekerja. Dan dalam keadaan tertentu dapat ditemukan sikap kaku yang berlebihan, negativisme atau ketaatan yang tiba-tiba (otomatis). Keyakinan yang tetap dan tidak dikoreksi berdasarkan fakta dan keyakinan, serta masih dipertahankan, bersifat patologis dan tidak ada hubungannya dengan budaya asli.

Gangguan persepsi sensorik seseorang, dimana tidak ada rangsangan pada skizofrenia, halusinasi ditemukan dalam kesadaran jernih, dan biasanya halusinasi pendengaran, namun indra indera lain juga mungkin terlibat. Merupakan gangguan gerak yang dapat muncul dalam bentuk kekakuan, kurangnya koordinasi gerakan, serta gaya berjalan dan perilaku yang tidak tepat. Onsetnya bertahap atau subakut, dan sering terjadi pada masa pubertas atau remaja pada usia 15-24 tahun.

Dan gejalanya adalah gangguan proses berpikir, gangguan kemauan dan depersonalisasi, gangguan psikomotorik, banyak delusi dan halusinasi. Muncul pertama kali pada usia 15-30 tahun dan biasanya bersifat akut, biasanya timbul akibat stres emosional. Gejala yang menonjol adalah waham primer yang disertai waham sekunder dan halusinasi, hanya jika diperiksa lebih dekat.

Gejala skizofrenia yang muncul tiba-tiba dan seperti dalam mimpi, kesadaran bisa berkabut dan dalam keadaan ini timbul perasaan seolah-olah dunia luar dan diri sendiri telah berubah dan segala sesuatu seolah mempunyai arti khusus (aneroid). Skizofrenia jenis ini merupakan sisa dari semua gejala skizofrenia yang kurang menonjol, misalnya perasaan yang tumpul, datar dan tidak konvensional, serta isolasi sosial yang sering muncul. Ini diberikan secara kombinasi satu sama lain dan dalam jangka waktu yang relatif lama.

Referensi

Dokumen terkait

Amenity turf can be divided into two main types: a Fine turf is required for sports which call for the ball or bowl to run smoothly over the surface of the ground.. The necessity for