• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perpustakaan Poltekkes Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perpustakaan Poltekkes Malang"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

Konseling gizi menurut Kemenkes 1991 dalam Supriasa (2012) menyatakan bahwa konseling gizi adalah suatu proses pembelajaran untuk mengembangkan pemahaman dan sikap positif terhadap gizi agar yang bersangkutan dapat memiliki dan membentuk kebiasaan makan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Supriasa (2012), tujuan pendidikan gizi secara umum adalah upaya meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan gizi (ibu hamil, ibu menyusui, dan anak sampai dengan usia lima tahun) dengan mengubah perilaku masyarakat dalam cara yang lebih baik. arah yang baik sesuai dengan kaidah ilmu gizi. Mengubah perilaku konsumsi pangan sesuai dengan tingkat kebutuhan gizinya, sehingga pada akhirnya tercapai status gizi yang baik.

Menurut Notoatmodjo (2007), metode pemanjangan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya hasil pemanjangan yang optimal. Dalam pendidikan kesehatan, metode ini digunakan untuk mendorong suatu perilaku baru atau seseorang yang tertarik pada perubahan perilaku atau inovasi. Menurut Supriasa (2012), manfaat alat peraga adalah memperjelas pesan yang ingin disampaikan dan meningkatkan efektivitas proses pendidikan dan konseling gizi.

Gantilah poster dalam jangka waktu tertentu, jangan menempelkan poster terlalu lama karena akan menimbulkan kesan hiasan dinding permanen. Keakraban diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat kembali sesuatu yang spesifik tentang sesuatu yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Penerapan diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi atau kondisi nyata (aktual).

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan membuat justifikasi atau penilaian berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau berdasarkan kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2003).

Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Sintesis menunjukkan kemampuan meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian menjadi suatu bentuk keseluruhan yang baru atau kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi yang sudah ada. Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan membuat justifikasi atau penilaian berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada (Notoatmodjo, 2003). untuk mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

Pengukuran Tingkat Pengetahuan

Sikap

  • Pengertian sikap
  • Ciri-ciri Sikap
  • Tingkatan Sikap
  • Fungsi Sikap
  • Komponen Sikap
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap
  • Cara Pengukuran Sikap
  • Definisi Buah dan Sayur
  • Penggolongan Buah dan Sayur a. Penggolongan Buah
  • Kandungan Gizi dan Manfaat Buah dan Sayur
  • Dampak Kurang Konsumsi Buah dan Sayur
  • Kecukupan Konsumsi Buah dan Sayur

Beberapa vitamin dan mineral yang terkandung dalam sayur dan buah berperan sebagai antioksidan atau penangkal senyawa jahat di dalam tubuh (Kementerian Kesehatan RI, 2014). Menurut Mohammad & Madanijah (2015), buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan sumber makanan kaya vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, perkembangan dan pertumbuhan. Buah dan sayur sangat penting dikonsumsi terutama bagi anak-anak, khususnya anak usia sekolah dasar (AUS).

Namun saat ini anak-anak kurang mengkonsumsi buah dan sayur, padahal buah dan sayur sangat bermanfaat sebagai sumber pemenuhan kebutuhan gizinya. Oleh karena itu sangat disayangkan jika konsumsi masyarakat terhadap buah dan sayur masih tergolong rendah dibandingkan negara lain yang tidak memproduksi buah dan sayur (Astawan, 2008). Buah dan sayur merupakan sumber serat, vitamin A, vitamin C, vitamin B terutama asam folat, berbagai mineral seperti magnesium, kalium, kalsium dan Fe, namun tidak mengandung lemak atau kolesterol.

Tak hanya mengandung asam allegatic, buah berwarna hijau juga banyak mengandung kalsium yang dapat membantu menormalkan tekanan darah. Pepaya, wortel, mangga, labu kuning, melon, dan ubi jalar merupakan beberapa contoh buah dan sayur yang berwarna jingga.Warna jingga pada buah dan sayur tersebut menandakan mengandung kadar betakaroten yang cukup tinggi. Oleh karena itu, jika Anda sering mengonsumsi buah dan sayur berwarna jeruk, Anda akan memiliki kulit yang sehat dan terhindar dari penyakit jantung.

Menurut Hidayati, dkk (2017), konsumsi buah dan sayur pada anak masih rendah karena kelompok makanan tersebut biasanya kurang disukai oleh anak. Padahal, buah-buahan dan sayur-sayuran sangat penting dikonsumsi, terutama bagi anak usia sekolah, karena nutrisi yang dikandungnya berguna untuk menunjang tumbuh kembang serta mencegah penyakit tidak menular seperti kanker saat dewasa. Apabila konsumsi buah dan sayur kurang maka akan menyebabkan kekurangan zat gizi dalam tubuh seperti vitamin, mineral, serat dan ketidakseimbangan asam basa tubuh sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit (Nurmahmudah, 2015).

Manfaat besar buah dan sayur segar sebagai sumber vitamin dan mineral sudah banyak diketahui. Meskipun buah dan sayur bukan merupakan sumber mineral utama, namun beberapa jenis buah dan sayur mengandung zat besi, kalium, fosfor, dan lain-lain (Surahman & Darmajana, 2004). Sekitar dua pertiga dari anjuran konsumsi sayur dan buah adalah porsi sayur (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).

Ketika anak mengetahui jumlah buah dan sayur yang boleh dikonsumsi, maka anak akan sadar dan tertarik untuk mencoba mengonsumsinya, sehingga konsumsi buah dan sayurnya pun meningkat. Sayangnya di Indonesia, pengetahuan gizi khususnya tentang buah-buahan dan sayur-sayuran belum diberikan dalam pendidikan di sekolah, meskipun FAO, UNESCO dan WHO telah merekomendasikan agar pendidikan gizi diberikan pada saat anak memasuki sekolah dasar.

Pengaruh Penyuluhan terhadap Pengetahuan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara umum menganjurkan konsumsi sayur dan buah untuk hidup sehat sebanyak 400 g per orang per hari, terdiri dari 250 g sayur (setara dengan 2 1/2 porsi atau 2 1/2 cangkir sayur setelahnya). memasak dan mengeringkan) dan 150 g buah. setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 1 1/2 buah pepaya ukuran sedang atau 3 14 buah jeruk ukuran sedang). Bagi masyarakat Indonesia, dianjurkan mengonsumsi sayur dan buah 300-400g per hari untuk anak balita dan anak usia sekolah, serta 400-600g per orang per hari untuk remaja dan dewasa. Pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang, dengan bertambahnya pengetahuan diharapkan terjadi perubahan perilaku menjadi lebih baik mengenai gizi dan kesehatan (Machfoedz & Suryani, 2007).

Program pendidikan kesehatan dan gizi pada anak sekolah merupakan salah satu cara untuk melaksanakan intervensi kesehatan global secara sederhana dan efektif untuk mendapatkan pendidikan yang lebih luas. Pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya menerjemahkan apa yang diketahui tentang kesehatan ke dalam perilaku yang diinginkan individu atau masyarakat melalui proses pendidikan. Pendidikan gizi atau kesehatan dapat dilakukan melalui penyuluhan atau cara lain seperti pemberian poster (Nuryanto, 2014).

Hasil penelitian pengaruh konseling terhadap tingkat pengetahuan yang dilakukan oleh Benita, N. 2012) menunjukkan bahwa konseling berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja SMP Kristen Gergaji. Hal ini sejalan dengan penelitian serupa di SMP Eka Sakti Semarang, terdapat peningkatan pengetahuan setelah mendapat penyuluhan tentang bahaya HIV dan AIDS, serta penelitian di Surakarta yang menemukan adanya pengaruh yang signifikan pemberian konseling terhadap pengetahuan remaja putri di SMP Muhammadiyah.

Pengaruh Penyuluhan terhadap Sikap

Hasil penelitian Musfiroh & Wisudaningtyas (2014) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konseling terhadap sikap ibu dalam menawarkan toilet training pada balita. Begitu pula penelitian Merdhika, dkk. 2014) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konseling terhadap tingkat sikap ibu menyusui terhadap pemberian ASI Eksklusif di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar.

Referensi

Dokumen terkait