• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perpustakaan Poltekkes Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perpustakaan Poltekkes Malang"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Kualitas pangan yang rendah dapat berupa rendahnya mutu mikronutrien, variasi jenis pangan yang dikonsumsi dan sumber pangan hewani yang rendah, pangan yang miskin gizi, dan makanan pendamping ASI yang mengandung energi rendah. Praktik manajemen yang tidak memadai meliputi frekuensi pemberian makan yang rendah, pemberian makanan yang tidak memadai selama sakit dan setelah sakit, konsistensi makanan yang terlalu halus, volume pemberian makanan yang rendah. Keamanan makanan dan minuman dapat mencakup makanan dan minuman yang terkontaminasi, kebersihan yang buruk, penyimpanan dan penyiapan makanan yang tidak aman. 9 semakin mudahnya memenuhi kebutuhan nutrisi. Padahal, semakin beragam makanan yang dikonsumsi, maka semakin mudah pula tubuh memperoleh berbagai zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Oleh karena itu, mengonsumsi makanan yang bervariasi merupakan salah satu anjuran penting untuk mewujudkan gizi seimbang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara umum menganjurkan konsumsi sayur dan buah untuk hidup sehat sebanyak 400 g per hari. orang per hari, terdiri dari 250 g.

Bagi masyarakat Indonesia, dianjurkan mengonsumsi 300-400 g buah dan sayur per hari untuk anak balita dan anak usia sekolah, serta 400-600 g per orang per hari untuk remaja dan dewasa. Sekitar dua pertiga dari jumlah konsumsi buah dan sayur yang disarankan terdiri dari porsi sayur. Segala informasi detail pada label makanan kemasan sangat membantu konsumen mengetahui bahan-bahan yang ada pada makanan tersebut.

Oleh karena itu, disarankan untuk membaca label pangan kemasan, terutama informasi informasi kandungan gizi dan tanggal kadaluarsa sebelum membeli atau mengonsumsi pangan tersebut. Pentingnya mencuci tangan dengan baik dan benar menggunakan sabun dengan air bersih mengalir adalah untuk menjaga kebersihan secara keseluruhan dan mencegah berpindahnya kuman dan bakteri dari tangan ke makanan yang akan kita makan dan juga agar tubuh kita tidak terkena kuman penyakit. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan bayi hingga usia 6 bulan, sesuai dengan perkembangan sistem pencernaannya, murah dan bersih.

Pada bayi dan anak usia 6-24 bulan, kebutuhan berbagai zat gizi semakin meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dengan ASI saja.

Berikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) mulai usia 6 bulan

Pemberian ASI tetap dilanjutkan sampai usia 2 tahun, karena ASI tetap mengandung zat-zat gizi penting walaupun jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan.

Makanan Sehat Untuk Bayi

Pilih tomat yang sudah matang, cuci bersih, rendam dalam air mendidih, buang kulitnya, saring, encerkan dengan air matang dalam jumlah yang sama dan tambahkan sedikit gula. Campur 1-2 sendok makan tepung beras dan 1-2 sendok makan gula pasir, tambahkan 5 sendok makan susu/santan yang dicairkan dengan 200 cc air, aduk sedikit demi sedikit hingga rata, lalu masak dengan api kecil sambil terus diaduk hingga rata. dilakukan.

Makanan Sehat Untuk Anak Balita

Konseling Gizi

Makan adalah proses dimana organisme mengkonsumsi makanan yang biasanya dicerna melalui proses pencernaan, penyerapan, transportasi, ekskresi, metabolisme dan ekskresi zat-zat yang tidak digunakan untuk pemeliharaan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ-organ dan untuk produksi energi. . (Suparasa, 2002). Sikap adalah evaluasi, perasaan, dan kecenderungan seseorang yang relatif konsisten terhadap suatu objek atau gagasan. Pengetahuan gizi akan mempengaruhi pola konsumsi pangan sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan pangan, sedangkan tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang dalam memaknai sesuatu.

Disebut juga dengan mengingat sesuatu yang spesifik terhadap materi yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Evaluasi ini menyangkut kemampuan untuk membenarkan atau menilai suatu materi atau benda, berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau berdasarkan kriteria yang sudah ada sebelumnya. Pola makan atau pola konsumsi makanan adalah pengaturan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu (Yayuk Farida Baliwati. dkk.

Gizi seimbang adalah suatu kondisi yang menjamin tubuh menerima cukup makanan dan mengandung semua zat gizi dalam jumlah yang diperlukan. Pola makan yang terbentuk erat kaitannya dengan kebiasaan makan seseorang. Secara umum faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola makan adalah faktor ekonomi, sosial budaya, agama, pendidikan dan lingkungan (Sulistyoningsih, 2011). Pendapatan yang tinggi yang tidak diimbangi dengan pengetahuan gizi yang cukup akan menyebabkan seseorang menjadi sangat konsumtif dalam pola makan sehari-harinya, sehingga pemilihan bahan makanan menjadi lebih didasarkan pada pertimbangan rasa dibandingkan pada aspek gizi.

Tidak banyak makanan yang dianggap tabu, namun dari segi kesehatan baik. Contohnya saja anak-anak di bawah usia lima tahun yang pantangan mengonsumsi ikan laut, karena takut menimbulkan penyakit cacingan. Pendidikan dalam hal ini biasanya dikaitkan dengan pengetahuan, hal ini akan mempengaruhi pemilihan bahan makanan dan pemenuhan kebutuhan gizi. Misalnya saja prinsip yang biasa dimiliki oleh seseorang yang berpendidikan rendah adalah penting untuk mengenyangkan agar porsi makanan sumber karbohidrat lebih banyak dibandingkan dengan kelompok makanan lainnya.

Sebaliknya kelompok dengan pendidikan tinggi mempunyai kecenderungan untuk memilih makanan sumber protein dan akan berusaha menyeimbangkannya dengan kebutuhan gizi lainnya. Lingkungan yang bersangkutan dapat berupa lingkungan keluarga, maupun promosi melalui media elektronik maupun cetak, kebiasaan makan dalam keluarga mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola gizi seseorang, kesukaan seseorang terhadap makanan terbentuk dari kebiasaan makanan yang terjadi dalam keluarga. . . Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pola makan terbentuk sejak masa kanak-kanak dan akan diturunkan hingga masa kanak-kanak.

Oleh karena itu, perlu dibentuk pola makan yang baik sejak kecil. Data gizi balita stunting diperoleh dengan menjumlahkan komponen makanan berdasarkan kelompok makanan per hari kemudian membaginya dengan jumlah kelompok makanan yang dibutuhkan per hari, yang dihitung dengan rumus sebagai berikut.

Status Gizi Balita

  • Definisi Status Gizi
  • Penilaian Status Gizi
  • Variabel Pengukuran Status Gizi
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Penilaian status gizi yang komprehensif kemudian dapat dilakukan untuk mencapai tujuan dan menentukan intervensi untuk memperbaiki diskontinuitas yang telah atau mungkin terjadi (Nugroho dan Santoso menyebutkan bahwa penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penilaian status gizi langsung dapat dibedakan menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik. Untuk mengetahui status gizi anak balita, angka berat badan dan tinggi badan setiap anak balita dikonversi ke nilai standar (Zscore) dengan menggunakan standar antropometri WHO 2005 untuk anak di bawah lima lima

Dapat memberikan gambaran status gizi masa lalu, dan antropometri menggambarkan kondisi tulang normal; panjang bertambah seiring bertambahnya usia. Ini merupakan indikator yang baik mengenai status gizi saat ini, terutama ketika data umur sulit diperoleh. Karena indeks ini dapat memberikan gambaran tentang hubungan antara berat badan dan tinggi badan, maka biasa juga disebut dengan indeks ketipisan.

Usia memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan status gizi; Kesalahan dalam menentukannya akan mengakibatkan kesalahan penafsiran status gizi. Hasil akurat berat dan tinggi badan tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan penentuan usia yang akurat. Oleh karena itu penghitungan umur dilakukan dalam satuan bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan (Departemen Kesehatan, 2004). b) Berat badan.

Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat untuk Umur) atau membuat penilaian dengan melihat perubahan berat badan pada masa pengukuran dibuat, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran tentang arus. syarat. Ketinggian badan sangat baik untuk mengesan keadaan pemakanan sebelum ini, terutamanya yang berkaitan dengan berat lahir rendah dan kekurangan zat makanan pada kanak-kanak kecil. 32 Berat badan dan ketinggian merupakan salah satu parameter penting untuk menentukan status kesihatan manusia terutamanya berkaitan status pemakanan.

Penggunaan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M. Khumaidi, 1994). Faktor yang mempengaruhi status gizi dibedakan menjadi dua yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Perekonomian keluarga, pendapatan merupakan faktor yang mempengaruhi kedua faktor yang berperan langsung terhadap status gizi.

Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Sikap

Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Pengetahuan

2016) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan (p=0,039) antara konseling gizi dengan sikap ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Wua-wua kota Kendari. Berdasarkan penelitian Chandradewi dkk (2012), ibu yang mendapat konseling dan dukungan selama 3 bulan menunjukkan perubahan yang signifikan (p=0,000) pada pola makan anak usia 6 hingga 24 bulan di Mataram.

Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Status Gizi

Referensi

Dokumen terkait