• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Daun Binahong

2.1.1 Uraian Tanaman Binahong

Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) termasuk dalam family Basellaceae merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai potensi ke depan untuk diteliti, karena dari tanaman ini masih banyak yang perlu digali sebagai bahan fitofarmaka. Uraian tumbuhan meliputi sistematika tumbuhan, sinonim, nama daerah, habitat dan daerah tumbuh, morfologi tumbuhan, kandungan kimia dan khasiat.

Anredera cordifolia (Ten.) Steenis dikelompokkan sebagai tanaman merambat dengan batang terjalin dan silindris. Memiliki daun dan umbi berbentuk hijau di akarnya atau aksila (Vivian-Smith, 2007). Tanaman asal keluarga basellaceae ini memiliki nama sinonim yaitu Boussingautia cordifolia Ten., B. gracilis Miers, A. cordifolia subsp. Gracilis (Miers), B.

gracilis f. pseudobaselloides Hauman, B. gracilis var pseudobaselloides (Hauman) Bailey, B. gracilis f. typica (Hauman) dan B. cordata Sprenger (Erikson, R., 2007). A. cordifolia juga dikenal sebagai Madeira vine, potato vine, lamb’s tail vine, mignonette vine, heart-leaf Madeira vine, jalap vine, white shroud, enredadera del mosquito, enredera papa (Vivian-Smith, 2007), bayam malabar (India) (Prasuna, et. al., 2009), speck blatter / fat fat / bacon leaf (Jerman) (Heisler, et. al., 2012), dan binahong (Indonesia) (BPOM, 2008).

Gambar 2.1 Daun Binahong (doktersehat.com)

(2)

2.1.2 Kandungan Kimia Tanaman Binahong

Hasil uji fitokimia yang dilakukan Khunaifi (2010) ektrak daun binahong mengandung senyawa polifenol, alkaloid, dan flavonoid. Jenis flavonoid yang diperoleh dari hasil isolasi dan identifikasi serbuk segar dan serbuk kering ekstrak etanol daun binahong adalah flavonol (Selawa, et al., 2013), serta mempunyai kapasitas sebagai antioksidan. Daun binahong mengandung flavonoid, saponin, dan steroid/triterpenoid (Garmana, et al., 2014).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Astuti et al. (2011), tanaman binahong mengandung saponin pada semua bagian tanaman, triterpenoid dan steroid, serta tanin (Andreani, 2011). Daun binahong mengandung saponin, flavonoid, quinon, steroid, monoterpenoid dan sesquiterpenoid. Hasil penelitian isolasi triterpenoid saponin dari daun binahong dikenal sebagai bousingosida A1 (Lemmens & Bunyapraphatsara 2003 dalam Sukandar et al. 2011). Titis et al. (2013) berhasil melakukan isolasi alkaloid daun binahong. Isolat alkaloid yang telah diisolasi dari daun binahong mengandung senyawa betanidin (C18H16N2O8) yang bersifat tidak sitotoksik. Golongan senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa bioaktif dalam tanaman, sehingga diduga juga berpotensi sebagai antibakteri.

Flavonoid adalah senyawa dari golongan fenol yang terdiri dari 15 atom karbon yang tersebar di dunia flora. Flavonoid dari ekstrak daun binahong memiliki aktivitas farmakologi sebagai analgesik, antiinflamasi, dan antioksidan (Mardiana, 2013). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Selawa (2013), flavonoid yang terkandung dalam ekstrak binahong yang berasal dari sampel segar dan kering masing-masing sekitar 7,81 mg/kg dan 11,23 mg/kg.

2.1.3 Pengembangbiakan Tanaman Binahong

Tanaman binahong mudah tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dalam lingkungan yang dingin dan lembab. Perbanyakan bisa dilakukan secara generatif dengan biji, namun lebih sering

(3)

dikembangbiakkan secara vegetatif menggunakan akar rimpangnya (Usman, 2010). Perbanyakan tanaman binahong secara vegetatif pada umumnya dilakukan dengan menggunakan stek batang sehingga dapat dijadikan sebagai pengembangan tumbuhan obat yang berskala besar (Mus, 2008).

2.2 Metode Ekstraksi

Ekstraksi merupakan penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih di mana zat yang akan diinginkan larut (Ansel, 2005 dalam Khunaifi, 2010). Faktor-faktor yang menentukan hasil ekstraksi adalah jangka waktu sampel kontak dengan cairan pengekstraksi (waktu ekstraksi), perbandingan antara jumlah sampel terhadap jumlah cairan pengekstraksi (jumlah bahan pengekstraksi), ukuran bahan dan suhu ekstraksi. Semakin lama waktu ekstraksi, kesempatan untuk bersentuhan makin besar sehingga hasilnya juga bertambah sampai titik jenuh larutan. Perbandingan jumlah pelarut dengan jumlah bahan berpengaruh terhadap efisiensi ekstraksi, jumlah pelarut yang berlebihan tidak akan mengekstrak lebih banyak, namun dalam jumlah tertentu pelarut dapat bekerja optimal. Ekstraksi akan lebih cepat dilakukan pada suhu tinggi, tetapi hal ini dapat mengakibatkan beberapa komponen mengalami kerusakan. Penggunaan suhu 50°C menghasilkan ekstrak yang optimum dibandingkan suhu 40°C dan 60°C (Voight, 1994).

Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI, 2000).

Ekstraksi merupakan proses penarikan komponen aktif menggunakan pelarut tertentu. Metode ekstraksi yang dilakukan adalah metode maserasi (perendaman). Metode ini merupakan cara dingin, sehingga senyawa kimia yang terdapat didalamnya tidak mengalami kerusakan (Setiaji, 2009). Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali

(4)

pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. Remaserasi berarti dilakukan penyaringan maserat pertama dan seterusnya.

Maserasi berasal dari bahasa latin Macerace berarti mengairi dan melunakkan. Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi yang dilakukan melalui perendaman serbuk bahan dalam larutan pengekstrak. Metode ini digunakan untuk mengekstrak zat aktif yang mudah larut dalam cairan pengekstrak, tidak mengembang dalam pengekstrak, serta tidak mengandung benzoin (Hargono dkk., 1986).

Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada temperature kamar terlindung dari cahaya, pelaut akan masuk kedalam sel tanaman melewati dididing sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didala sel dengan diluar sel. Larutan yang konentrasinya tinggi akan terdeak keluar dan diganti oleh pelarut dengan konsentrasi redah (proses difusi). Peristiwa tersebut akan berulang sampai terjadi keseimbangan antara larutan didalam sel dan larutan diluar sel (Ansel, 1989).

Lama maserasi memengaruhi kualitas ekstrak yang akan diteliti. Lama maserasi pada umumnya adalah 4-10 hari (Setyaningsih, dkk., 2006). Menurut Voight (1995), maserasi akan lebih efektif jika dilakukan proses pengadukan secara berkala karena keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif. Melalui usaha ini diperoleh suatu keseimbangan konsentrasi bahan ekstraktif yang lebih cepat masuk ke dalam cairan pengekstrak. Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15-20ºC dalam waktu selama 3 hari sampai bahan-bahan yang larut, melarut (Ansel, 1989).

Keunggulan metode maserasi ini adalah maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana dan paling banyak digunakan, peralatannya mudah ditemukan dan pengerjaannya sederhana. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri (Agoes, 2007). Dasar dari maserasi adalah melarutnya bahan kandungan simplisia dari sel yang rusak, yang terbentuk pada saat penghalusan, ekstraksi (difusi) bahan kandungan dari sel yang masih utuh. Setelah selesai waktu maserasi artinya keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan masuk ke dalam cairan, telah tercapai maka proses difusi segera

(5)

berakhir. Selama maserasi atau proses perendaman dilakukan pengocokan berulang-ulang. Upaya ini menjamin keseimbangan konsentrasi bahan ekstraksi yang lebih cepat di dalam cairan. Sedangkan keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif. Semakin besar perbandingan simplisia terhadap cairan pengekstraksi, akan semakin banyak hasil yang diperoleh (Voight, 1995).

Kelemahan metode maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyarian kurang sempurna. Secara tekhnologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyarigan maserat pertama dan seterusnya seperti ditunjukkan pada gambar 2.6 (Depkes RI, 2000; Depkes RI, 1995).

Gambar 2.2 Alat maserasi (putriaswantihsn.blogspot.com)

2.3 Antibakteri

Antibakteri adalah obat pembasmi bakteri, khususnya bakteri yang merugikan manusia. Berdasarkan sifatnya, antibakteri ada yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan ada yang bersifat membunuh bakteri (bakterisida) (Mukhitasari, 2012).

Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibakteri dibagi dalam lima kelompok, yaitu:

a. Menghambat metabolisme sel mikroba

(6)

Mikroba membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya.

Berbeda dengan mamalia yang mendapatkan asam folat dari luar, kuman patogen harus mensintesis sendiri asam folat dari Para Amino Benzoat Acid (PABA) untuk kebutuhan hidupnya. Salah satu antibakteri yang termasuk golongan ini adalah trimetoprim dimana kerjanya menghambat enzim dihidrofolat reduktase yang berfungsi mengubah dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat (Mukhitasari, 2012).

b. Menghambat sintesis dinding mikroba

Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah penisilin, sefalosporin, basitasin, vankomisin, dan sikloserin. Dinding sel bakteri terdiri atas polipeptidoglikan yaitu suatu kompleks polimer mukopeptida (glikopeptida). Sikloserin menghambat reaksi yang paling dini dalam proses sintesis dinding sel diikuti berturut-turut oleh basitrasin, vankomisin, dan diakhiri oleh penisilin dan sefalosporin yang menghambat reaksi terakhir (transpeptidasi) dalam rangkaian reaksi tersebut. Tekanan osmotik dalam sel kuman yang lebih tinggi daripada di luar sel akan terjadi kerusakan dinding sel kuman dan menyebabkan terjadinya lisis yang merupakan dasar efek bakterisidal pada kuman yang peka (Mukhitasari, 2012).

c. Mengganggu keutuhan membran sel mikroba

Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah polimiksin, golongan polien serta berbagai antimikroba kemoterapeutik, misalnya antiseptik surface active agents. Polimiksin sebagai senyawa amonium-kuartener dapat merusak membran sel setelah bereaksi dengan fosfat pada fosfolipid membran sel mikroba. Polimiksin tidak efektif terhadap kuman gram positif karena jumlah fosfor bakteri ini rendah. Kuman gram negatif yang menjadi resisten terhadap polimiksin, ternyata jumlah fosfornya menurun.

Kerusakan membran sel menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel mikroba yaitu protein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain (Mukhitasari, 2012).

d. Menghambat sintesis protein sel mikroba

Sel mikroba perlu mensintesis berbagai protein untuk kelangsungan hidupnya. Sintesis protein berlangsung di ribosom dengan bantuan mRNA

(7)

dan tRNA. Pada bakteri, ribosom terdiri atas dua sub unit yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai ribosom 30S dan 50S. Kedua komponen ini akan bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom 70S dalam sintesis protein. Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah golongan aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Streptomisin berikatan dengan komponen ribosom 30S dan menyebabkan kode pada mRNA salah dibaca oleh tRNA pada waktu sintesis protein. Akibatnya akan terbentuk protein abnormal dan nonfungsional bagi sel mikroba. Tetrasiklin berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino. Kloramfenikol berikatan dengan ribosom 50S dan menghambat pengikatan asam amino baru pada rantai polipeptida oleh enzim peptidil transferase (Mukhitasari, 2012).

b. Menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba

Antimikroba yang termasuk kelompok ini adalah rifampisin dan golongan kuinolon. Walaupun bersifat antimikroba, karena sifat sitotoksisitasnya, pada umumnya hanya digunakan sebagai obat antikanker.

Rifampisin adalah salah satu derivat rifamisin berikatan dengan enzim polimerase-RNA sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut, golongan kuinolon menghambat enzim DNA girase pada kuman yang fungsinya menata kromosom yang sangat panjang menjadi bentuk spiral sehingga dapat masuk dalam sel kuman yang kecil (Mukhitasari, 2012).

Antibiotik dalam kadar terendah yang mampu menghambat pertu,buhan suatu bakteri merupakan Kadar Hambat Minimum (KHM). Sedangkan kadar terenah dari antibiotik yang mampu membunuh suatu bakteri setelah masa inkubasi 24 jam ditetapkan sebagai Kadar Bunuh Minimum (Radji, 2011). Nazri dkk (2011) dalam Hapsari (2015) mengatakan bahwa kriteria kekuatan daya hambat antibakteri adalah sebagai berikut (tabel 2.1)

(8)

Tabel 2.1 Kriteria Kekuatan Antibakteri

No. Luas Zona Hambat Kekuatan

1. Zona hambat > 20 mm Daya hambat sangat kuat 2. Zona hambat 10-20 mm Daya hambat kuat 3. Zona hambat 5-10 mm Daya hambat sedang 4. Zona hambat 0-5 mm Daya hambat lemah

2.4 Uraian Bakteri Uji

Bakteri Staphylococcus aureus tumbuh pada suhu optimum 37ºC tetapi membentuk pigmen paling baik pada suhu kamar (20-25ºC), merupakan bakteri fakultatif anaerob. Koloni perbenihan padat berwarna abu-abu sampai kuning keamasan, berbentuk bundar, halus, menonjol, dan berkilau. Pada lempeng agar, koloninya berbentuk bulat, diameter 1-2mm, cembung, buram, mengkilat dan konsistensisnya lunak. (Syahrurahman et al., 2010).

Gambar 2.3 Bakteri Staphylococcus aureus (en.wikipiedia.org)

2.5 Metode Pengujian Aktivitas Antibakteri

Pada uji ini, yang akan diukur adalah respon pertumbuhan populasi mikroorganisme terhadap agen antimikroba. Salah satu manfaat dari uji antimikroba adalah diperolahnya satu sistem pengobatan yang efektif dan efisien.

Penentuan setiap kepekaan kuman terhadap suatu obat adalah dengan menentukan kadar obat terkecil yang dapat menghambat pertumbuhan kuman in vitro. Salah satu metode pengujian antibakteri adalah metode sumuran.

Metode sumuran dimana lempeng agar yang telah dinokulasi dengan bakteri uji dibuat suatu lubang yang selanjutnya diisi dengan zat antimikroba uji. Kemudian setiap lubang diisi dengan zat uji. Setelah dinklubasi pada suhu dan waktu yang

(9)

sesuai dengan mikroba uji, dilakukan pengamatan dengan melihat ada atau tidaknya zona hambat di sekeliling lubang yang ditunjukkan pada gambar 2.4 (Bonang G, 1992).

Gambar 2.4 Metode sumuran (akhanggit.wordpress.com)

2.6 Hand Sanitizer

Hand sanitizer memiliki berbagai macam zat yang terkandung. Secara umum mengandung alkohol 60-90%, benzalkonium chloride, benzethonium chloride, chlorhexidine, gluconatee, chloroxylenolf, clofucarbang, hexachloropheneh, hexylresocarcinol, iodine and iodophors, dan triclosan (Ramadhan, 2013; Depkes RI, 2008). Namun yang paling umum ditemukan mengandung alkohol dan triklosan. Hand sanitizer juga berisi emolien seperti gliserin, glisol propelin, atau sorbitol yang mampu melindungi dan melembutkan kulit (Depkes RI, 2008). Menurut Center for Disease Control (CDC) hand sanitizer terbagi menjadi dua yaitu mengandung alkohol dan tidak mengandung alkohol.

Hand sanitizer dengan kandungan alkohol antara 60-90% memiliki efek anti mikroba yang baik dibandingkan tanpa kandungan alkohol (Depkes RI, 2008; Al- zahrani dan Baghdadi, 2012; Todd et al., 2010).

Hand sanitizer tidak menghilangkan kotoran atau zat organik, sehingga jika tangan sangat kotor atau terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh, harus mencuci tangan dengan sabun dan air terlebih dahulu (Pickering et al., 2011; Todd et al., 2010). Selain itu, untuk mengurangi penumpukan emolien pada tangan setelah pemakaian hand sanitizer berulang, tetap diperlukan mencuci tangan dengan sabun dan air setiap kali setelah 5-10 kali pemakaian hand sanitizer.

Terakhir, hand sanitizer yang berisi hanya alkohol sebagai bahan aktifnya,

(10)

memiliki efek residual yang terbatas dibandingkan dengan hand sanitizer yang berisi campuran alkohol dan antiseptik seperti chlorhexidine (Depkes RI, 2008;

Ramadhan, 2013; Todd et al., 2010).

2.7 Kerangka Konsep

Dalam penelitian ini berdasarkan teori-teori yang ada maka dapat digambarkan sebagaimana terlihat dalam gambar 2.4.

Gambar 2.4 Kerangka konsep penelitian efektivitas hand sanitizer dengan variasi konsentrasi ekstrak daun binahong terhadap pertumbuhan Sthaphylococcus aureus

Hand sanitizer ekstrak daun binahong dengan berbagai konsentrasi

Biakan bakteri Staphylococcus aureus

Pertumbuhan Bakteri Normal Pertumbuhan Bakteri Terhambat

Referensi

Dokumen terkait