Penilaian didasarkan pada kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada. Menurut (Bhinnety, 2008) sebelum memasuki memori jangka pendek, memori sensorik akan mencatat informasi melalui salah satu atau kombinasi panca indera. Memori jangka pendek menyimpan informasi selama sekitar 30 detik, dan hanya sekitar tujuh informasi (potongan) yang dapat disimpan dalam memori jangka pendek.
Fenomena lupa yang terjadi pada memori jangka pendek berkaitan dengan faktor penyimpanan dan kemunculan kembali informasi. Memori jangka pendek atau memori kerja adalah bagian aktif yang secara konstan mengoordinasikan aktivitas mental. Semakin lama informasi disimpan dalam memori jangka pendek melalui pengulangan, maka semakin besar kemungkinan informasi tersebut masuk ke memori jangka panjang (Long-term Memory Utami.
Ketika informasi berada dalam sistem memori jangka pendek, informasi tersebut dapat ditransfer ke sistem memori jangka panjang untuk disimpan melalui proses pengulangan, atau informasi tersebut mungkin hilang/terlupakan karena digantikan oleh informasi tambahan baru (perpindahan). ) (Solso, 2008 dalam Bhinnety, 2008:74). Recall tidak hanya dari penyelesaian soal, tetapi juga dari mempelajari materi yang telah dipelajari. Proses memasukkan informasi ke dalam memori jangka panjang: 1) pengulangan (praktik) materi, dimana individu dapat menganalisis informasi berdasarkan tingkat pemrosesan yang berbeda-beda, yaitu: a) Pemrosesan dangkal, individu menganalisis rangsangan secara fisik melalui indra, b) Deep Processing, individu secara fisik menganalisis informasi secara mendalam sehingga memperoleh makna dari suatu kata atau kalimat.
Informasi akan disimpan dalam memori jangka panjang, 2) Metode mnemonik, mengingat berdasarkan gagasan bahwa memori berupa membaca dapat ditingkatkan dengan mengorganisasikan membaca secara sistematis dalam berbagai jaringan, 3) Frekuensi tes.
Konsep Kehamilan a. Kehamilan
Pengertian
Perubahan Fisiologis Kehamilan
Selama kehamilan, peningkatan kadar estrogen dan progesteron menekan hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinizing (LH), sehingga pematangan folikel dan pelepasan sel telur tidak terjadi dan siklus menstruasi terhenti. Setelah implantasi, sel telur yang telah dibuahi dan vili korionik menghasilkan hCg yang mempertahankan korpus luteum untuk memproduksi estrogen dan progesteron selama 8 hingga 10 minggu pertama kehamilan (Bobak, 2012). Tiga tugas utama rahim selama kehamilan termasuk menanamkan sel telur yang telah dibuahi, menjaga pertumbuhan bayi, dan melahirkan bayi tepat waktu.
Sel otot membesar dan selaput lendir pada vagina menebal, efeknya adalah peningkatan sekret vagina. Peningkatan vaskularisasi pada vagina dan organ dalam panggul menyebabkan peningkatan sensitivitas yang nyata dan dapat meningkatkan hasrat dan gairah seksual. Peningkatan kemacetan ditambah relaksasi parah pada dinding pembuluh darah dan rahim menyebabkan edema vulva dan varises (Bobak, 2012). b) Perubahan sistem kardiovaskular.
Dengan semakin banyaknya cairan yang didorong ke seluruh tubuh, jantung harus bekerja ekstra keras (Kuswandani, 2011). c) Perubahan pada sistem pernapasan. Selama kehamilan, perubahan pada pusat pernapasan mengakibatkan peningkatan sensitivitas terhadap karbon dioksida yang disebabkan oleh estrogen dan progesteron. Perubahan struktur ginjal disebabkan oleh hormon, tekanan tinggi akibat pembesaran rahim, dan peningkatan volume darah.
Hasilnya, seluruh fungsi ginjal menjadi lebih efisien, tubuh terbebas dari zat-zat sisa seperti ureum dan asam urat, namun ginjal tidak dapat membedakan antara zat sisa dan zat gizi sehingga glukosa juga cepat dibersihkan dari darah (Kuswandani, 2011). e) Perubahan sistem muskuloskeletal. Perubahan bertahap pada tubuh dan bertambahnya berat badan ibu hamil menyebabkan postur dan cara berjalan ibu berubah secara signifikan. Peningkatan distensi perut yang membuat panggul miring ke depan, penurunan tonus otot perut, dan peningkatan berat badan pada akhir kehamilan memerlukan penyesuaian berulang (Bobak, 2012). f) Perubahan sistem integral.
Perubahan juga terjadi pada sistem kulit, yaitu peningkatan ketebalan kulit dan lemak subkutan, hiperpigmentasi, pertumbuhan rambut dan kuku, percepatan aktivitas kelenjar keringat dan sebasea. Perubahan akibat peningkatan hormon melanotropin yang muncul pada wajah saat hamil disebut dengan chloasma atau topeng kehamilan (Bobak, 2012). g) Perubahan sistem pencernaan. Aliran darah panggul dan tekanan vena meningkat sehingga terjadi wasir di akhir kehamilan (Bobak, 2012).
Perubahan Psikologis Kehamilan
Seksualitas dianggap sebagai bagian dari perasaan diri individu secara keseluruhan dan merupakan integrasi dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi, antara lain identitas seksual, orientasi seksual, nilai-nilai dan perilaku seksual (Budiarti, 2010). Dimensi biologis menyangkut organ reproduksi dan organ seksual, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan berfungsinya organ reproduksi dan dorongan seksual secara optimal. Dimensi sosial berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana lingkungan mempengaruhi pandangan terhadap seksualitas yang pada akhirnya menentukan perilaku seksual.
Pernikahan merupakan proses memperoleh keluarga, hubungan seksual merupakan suatu hal menyenangkan yang selalu didambakan oleh setiap pasangan suami istri, selain itu hubungan seksual merupakan bentuk komunikasi terdalam yang dilakukan untuk saling menguntungkan suami istri (Bobak, 2012). ).
Komponen seksualitas
Hubungan Seksual a) Pengertian
Perbedaan perasaan tersebut dipengaruhi oleh faktor fisik, emosional, dan interaksional, antara lain mitos tentang seks saat hamil, masalah disfungsi seksual, dan perubahan fisik saat hamil (Bobak, 2012). Hubungan seksual saat hamil semakin meningkat karena banyak pria yang menganggap ibu hamil terlihat berbeda dari sebelumnya, selain itu tubuh yang semakin membesar menandakan hasrat seksual yang meningkat. Perubahan hormonal yang terjadi pada ibu hamil juga meningkatkan sirkulasi darah di area genital sehingga menyebabkan peningkatan hasrat seksual.
Saat hamil biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai orgasme, namun orgasme berlangsung lebih lama dan ada beberapa ibu hamil yang mengalami orgasme pertama kali saat hamil (Onggo, 2010). Wanita hamil dengan riwayat infertilitas atau kebiasaan aborsi dan primitua sebaiknya disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual pada awal kehamilan. Hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa hubungan seksual dan orgasme saat hamil merupakan kontraindikasi bagi wanita yang secara medis sehat dan mempunyai kondisi obstetrik yang sangat baik (Budiarti, 2010).
Wanita yang berisiko tinggi tertular dan menularkan penyakit menular seksual disarankan untuk selalu mengingatkan pasangannya untuk menggunakan kondom saat berhubungan intim saat hamil. Pada trimester pertama (1-3 bulan atau 1-12 minggu), gairah seks biasanya menurun akibat perubahan hormonal yang tidak stabil setelah pembuahan terjadi. Selain itu, kondisi ibu hamil trimester pertama antara lain mual, muntah, kehilangan nafsu makan, mudah lelah, dan mengantuk.
Sebaliknya, ada pula ibu hamil yang mengalami trimester pertama yang nyaman, gairah seksual biasanya sedikit berubah, bahkan tidak sedikit ibu justru mengalami peningkatan (Bobak, 2012). Pada penelitian yang dilakukan oleh Lee dkk (2010) ditemukan bahwa pada trimester pertama pola hubungan intim mengalami penurunan namun tidak signifikan, disebutkan bahwa posisi yang umum digunakan adalah man on top, face to face dan dikatakan bahwa tidak terjadi penurunan kepuasan pada trimester pertama kehamilan.Penelitian lain yang dilakukan oleh Sagiv (2012) menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan signifikan pada kualitas hubungan dan fungsi seksual selama kehamilan. b) Pada trimester kedua.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2011) tentang pengalaman seksual pada masa kehamilan disebutkan bahwa saat memasuki trimester kedua, umumnya libido muncul kembali bahkan meningkat, hal ini disebabkan karena tubuh sudah mampu menerima dan membiasakan diri dengan kondisi tersebut. kehamilan sehingga ibu hamil dapat menikmati aktivitas lebih leluasa dibandingkan pada trimester pertama (Onggo, 2008; Hapsari, 2011). Pada trimester ketiga, tubuh ibu mulai terlihat membesar dan merasa sangat lelah, ditambah rasa cemas dan tidak sabar menunggu kelahiran bayi yang dirasakan ibu hamil (Onggo, 2008). Berbeda dengan trimester sebelumnya, pada trimester ketiga libido bisa kembali menurun karena faktor fisiologis yang sangat terlihat yaitu kehamilan meningkat dan cairan tubuh meningkat, akibatnya cairan vagina pun meningkat sehingga kontak seksual menjadi kurang memuaskan (Hapsari, 2011) .
Posisi hubungan seksual selama kehamilan
Posisi man on top adalah posisi dimana wanita berbaring dan merentangkan tangan dan kakinya agar mudah melakukan penetrasi, sedangkan posisi pria di atas wanita berada di antara lengan dan kakinya (Carroll, 2007). b) Wanita di atas. Posisi ini paling nyaman bagi ibu hamil karena posisi ini dapat menghindari tekanan pada perut, selain itu wanita dapat mengontrol kedalaman penetrasi (Siswosuharjo, 2010). c) Posisi samping. Posisi ini biasanya dimana wanita berlutut dan menyikut pahanya ke atas sedangkan pria memasuki vagina dari belakang (Sacomori & Cardoso, 2010). e) Posisi duduk.
Frekuensi berhubungan seksual selama kehamilan
Frekuensi hubungan seksual sebaiknya tidak sesering biasanya pada tiga bulan pertama kehamilan. Apabila pemaksaan hubungan seksual terjadi pada usia kehamilan tiga bulan, dikhawatirkan akan terjadi keguguran spontan (Pangkahila, 2015). Rata-rata frekuensi hubungan seksual pada masa kehamilan adalah sebagai berikut: Trimester pertama 2 kali seminggu, trimester kedua 3 kali seminggu, trimester ketiga 1 kali seminggu (Andik, 2007). Namun jika perempuan kehilangan gairah seksual dan melakukan hubungan seksual hanya untuk memuaskan suaminya, hal tersebut hanya akan menjadi beban (Dianloka, 2008).
Manfaat berhubungan seksual selama kehamilan
Namun jika istri kehilangan gairah seksualnya dan hanya melakukan hubungan seksual untuk memuaskan suaminya, hal tersebut hanya akan menjadi beban (Dianloka, 2008). . Tentunya Anda akan terlihat ceria, lebih rukun dengan pasangan, dan bisa menikmati hidup dengan baik. Sebab ketika terjadi gerakan, otot-otot menjadi tegang dan pada akhir hubungan intim seluruh otot mengendur, yang kemudian mengendur.
Mitos-mitos seputar hubungan seksual