• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Literasi Keuangan

Literasi keuangan menurut Huston dalam pusporini (2020) adalah sebagai keahlian yang dimiliki oleh individu dengan kemampuannya untuk mengelola pendapatannya agar tercapai peningkatan kesejahteraan finansial.

Chen dan Volpe (1998) memberikan definisi bahwa financial literacy atau literasi keuangan merupakan pengetahuan serta kemampuan dalam mengelola keuangan pribadi dalam bentuk pemahaman mengenai pengetahuan keuangan dasar, simpanan, asuransi dan investasi.

Pengertian literasi keuangan menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomo 76/POJK/07/2016 adalah keahlian, kemampuan, dan keyakinan, yang berdampak pada sikap dan perilaku untuk meningkatkan mutu dalam mengambil keputusan dan pengelolaan keuangan sehingga dapat mencapai kesejahteraan. OJK mengharapkan literasi keuangan menawarkan manfaat kepada masyarakat luas yang meliputi kemampuan untuk memilih layanan dan produk keuangan sesuai dengan keinginan, kemampuan untuk membuat rencana keuangan yang tepat, dan menghindari investasi yang meragukan. Adanya literasi keuangan bertujuan untuk meniadakan segala bentuk hambatan terhadap akses masyarakat dalam memanfaatkan layanan jasa keuangan. OJK membentuk program yang bertujuan untuk meningkatkan indeks literasi keuangan di

(2)

Indonesia yaitu Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI).

Kerangka dasar SLNKI terdiri atas tiga pilar yaitu: (1) Edukasi literasi keuangan dan kampanye nasional, (2) Penguatan Infrastruktur Literasi keuangan, dan (3) peningkatan produk dan layanan keuangan. Ada 4 tingkat literasi keuangan menurut OJK, yaitu :

1. Well literate, yaitu mempunyai pengetahuan dan keyakinan perihal lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat serta risiko, hak serta kewajiban terkait produk serta jasa keuangan, dan memiliki keterampilan pada memakai produk dan jasa keuangan.

2. Sufficient literate, yakni mempunyai pengetahuan serta keyakinan perihal forum jasa keuangan serta produk serta jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat serta risiko, hak serta kewajiban terkait produk serta jasa keuangan.

3. Less literate, hanya memiliki informasi tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan.

4. Not literate, yaitu tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap lembaga jasa keuangan dan produk dan jasa keuangan, serta tidak memiliki keterampilan menggunakan produk dan jasa keuangan

Di samping itu, Chen dan Volpe (1998) mengklasifikasikan tingkat literasi keuangan menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. < 60 % menunjukkan bahwa individu termasuk pada tingkat literasi keuangan yang rendah.

(3)

2. 60% -79% menunjukkan bahwa individu termasuk pada tingkat literasi keuangan sedang.

3. > 80% menunjukkan bahwa individu termasuk pada tingkat literasi keuangan yang tinggi

Tabel 1.1 Tingkat Literasi Keuangan

Kategori Persentasi

Rendah < 60 %

Sedang 60-79 %

Tinggi 80 %

Sumber : Chen dan Volpe, 1998

Tingkat pengetahuan keuangan seseorang berpengaruh terhadap hasil dari penerapan keuangannya. Individu yang memiliki pengetahuan keuangan yang lebih tinggi dapat memberikan informasi yang lebih baik melalui praktik keuangan yang efisien sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan adalah pemahaman dan kemampuan seseorang dalam pengambilan keputusan keuangan untuk mencapai kemakmuran. Literasi keuangan menekankan kemampuan seseorang untuk memahami konsep dasar ilmu keuangan yang diharapkan akan dapat menerapkannya dengan tepat. Pengelolaan keuangan dan pengetahuan yang baik tidak hanya dapat digunakan untuk menabung, berinvestasi atau hal-hal lain yang bermanfaat tetapi juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi gaya hidup konsumtif seperti yang dapat diketahui secara bijak dengan membuat keputusan perencanaan keuangan yang efektif di masa depan dan meningkatkan keuangan, dan juga sumber daya yang dimiliki.

(4)

2.1.2 Indikator Literasi Keuangan

Chen dan Volpe (1998) membagi literasi keuangan menjadi 4 aspek dalam pemahaman terhadap pengelolaan keuangan pribadi yang meliputi :

1. General Personal Finance, yaitu kemampuan untuk memahami sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan dasar tentang keuangan pribadi.

2. Saving and borrowing, yaitu kemampuan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan tabungan dan pinjaman.

3. Insurance, pemahaman individu tentang pengetahuan dasar asuransi dan produk-produk asuransi seperti asuransi pendidikan dan asuransi jiwa.

4. Invesment, yaitu kemampuan dasar untuk memahami sesuatu yang berkaitan tentang suku bunga, risiko investasi, pasar modal, rekasa dana, dan deposito.

2.1.3 Inklusi Keuangan

Keuangan Inklusif merupakan kajian secara menyeluruh yang akan menghilangkan berbagai hambatan yang terkait dengan penggunaan dan pemanfaatan layanan jasa lembaga keuangan oleh masyarakat (Yanti, 2019).

Demikian pula, Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) mendefinisikan inklusi keuangan sebagai hak setiap orang untuk mengakses dan mendapat layanan maksimal dari lembaga keuangan secara informatif dan tepat waktu, dengan harga murah, serta memperhatikan kenyamanan dan kualitas.

Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 76/POJK.07/2016 tentang peningkatan literasi dan inklusi keuangan di sektor jasa keuangan bagi konsumen dan/atau masyarakat, tujuan inklusi keuangan meliputi :

(5)

1. Meningkatnya.akses.masyarakat.terhadap lembaga, produk dan layanan jasa keuangan pelaku usaha jasa keuangan.

2. Meningkatnya.penyediaan.produk dan/atau layanan jasa keuangan oleh pelaku usaha jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

3. Meningkatnya.penggunaan produk dan/atau layanan jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

4. Meningkatnya kualitas penggunaan produk dan layanan jasa keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat.

2.1.4 Indikator Inklusi Keuangan

Menurut Wira (2019) Indikator Inklusi Keuangan meliputi :

1. Dimensi akses keuangan, khususnya elemen yang digunakan untuk menilai kemampuan menggunakan penawaran keuangan yang memungkinkan untuk melihat hambatan membuka dan penggunaan lembaga keuangan, termasuk bentuk fisik layanan (tempat kerja bank, ATM, dan banyak lainnya.).

2. Dimensi ketersediaan, yaitu unsur-unsur yang digunakan untuk mengukur penggunaan jasa dan produk keuangan, bersama-sama dengan frekuensi, waktu/jangka waktu penggunaan dan keteraturan.

3. Dimensi kualitas, yaitu faktor yang digunakan untuk menentukan penyediaan jasa dan produk keuangan yang telah memenuhi kebutuhan konsumen.

4. Dimensi kesejahteraan, faktor-faktor yang digunakan untuk mengukur pengaruh layanan jasa keuangan terhadap tingkat gaya hidup pengguna jasa.

(6)

2.1.5 Financial Technology

Menurut Wahid Wachyu Adi Winarto (2020) Istilah Fintech atau financial technology adalah penggabungan dari penggelolaan keuangan menggunakan sistem technology. Tujuan financial technology (Fintech) yang tertuang dalam peraturan bank Indonesia (2017) dalam (Humaidi et al, 2020) adalah agar lembaga keuangan Indonesia dapat memodifikasi penerapan teknologi untuk mendukung inovasi di bidang finansial dengan pemanfaatan prinsip-prinsip keselamatan pelanggan dan manajemen bahaya selain memenuhi prinsip kehati-hatian sehingga akan menjaga stabilitas keuangan, stabilitas pola keuangan dan pola pembayaran yang efektif, aman, lancar, dan bergaransi.

Bank Indonesia mengatakan bahwa fintech terjadi karena munculnya Perubahan kehidupan masyarakat saat ini didominasi oleh pemanfaatan teknologi yang merupakan tuntutan gaya hidup yang serba cepat. Dengan hadirnya fintech, kendala dalam transaksi jual beli dan tagihan terkait pencarian barang ke perbelanjaan, ke bank/ATM untuk melakukan transaksi dana, keengganan pergi ke tempat karena penawaran yang tidak menyenangkan dapat diminimalisir.

Dengan kata lain, fintech memfasilitasi transaksi jual beli dan sistem pembayaran jauh lebih muda, efisien, dan ekonomis tanpa menghilangkan keefektifan.

2.1.6 Indikator Financial Technology

Wahyudi et al. (2020) menyatakan ada tiga indikator yang dapat menilai individu terhadap fintech, antara lain :

1) Pemahaman fintech, yaitu pemahaman individu mengenai teknologi keuangan.

(7)

2) Pengetahuan dan pemahaman produk-produk fintech, yaitu terkait individu mengetahui dan memahami berbagai produk teknologi keuangan seperti dompet digital, pinjaman dana online, dan sebagainya.

3) Penggunaan fintech, yaitu terkait sejauh mana individu dapat menggunakan teknologi keuangan dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.7 Perilaku Pengelolaan Keuangan

“Perilaku Pengelolaan Keuangan (Financial Management Behaviour) berhubunga dengan tanggung jawab keuangan seseorang mengenai pengelolaan keuangan mereka. Tanggung jawab keuangan adalah proses pengelolaan uang dan aset lainnya dengan cara yang dianggap produktif. Pengelolaan keuangan (Manajemen keuangan) adalah proses menguasai menggunakan asset keuangan”

(Anugrah, 2018:25). Menurut Rambe et al dalam putri (2020) menyatakan bahwa

“manajemen keuangan adalah segala aktivitas yang berhubungan dengan perolehan, pendanaan dan pengelolaan aktiva dengan beberapa tujuan menyeluruh. Pengelolaan keuangan atau manajemen keuangan merupakan suatu hal yang harus dilakukan dalam kegiatan usaha agar terciptanya keuangan yang sehat untuk mencapai kesejahteraan keuangan.

Perilaku pengelolaan keuangan yang baik dapat dinilai dari bagaimana seseorang mengelolah anggaran, menghamat uang, dan mengontrol pengeluaran serta berinvestasi jika memungkinkan. Komponen pengelolaan keuangan yang baik yaitu: mengontrol pengeluaran membayar tagihan tepat waktu, merencanakan keuangan untuk masa depan, menabung, dan dapat mencukupi kebutuhan

(8)

keluarga. Pengelolaan keuangan yang baik dilakukan untuk jangka panjang dan pendek.

2.1.8 Indikator Perilaku Pengelolaan Keuangan

Financial management behavior seseorang dapat dilihat dari 4 aspek yang terdiri dari (Anugrah, 2018) :

1) Consumption

Konsumsi adalah pengeluaran oleh rumah tangga atas barang atau jasa.

Konsumsi seseorang menentukan baik atau buruknya pengelolaan keuangan seseorang. Hal ini dilihat dari apa yang dia beli dan mengapa ia membelinya.

2) Cash-flow management

Pengelolaan uang kas yang baik dilihat dari keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran. Selain itu cash flow management dapat dilihat dari pembayaran tagihan yang tepat waktu, menganggarkan pengeluaran dan perencanaan masa depan.

3) Saving and investment

Tabungan merupakan penerimaan yang disimpan untuk dipergunakan dilain waktu dengan maksud dan tujuan tertentu. Sedangkan investasi merupakan mengalokasikan sumber daya yang dimiliki dengan tujuan mendapatkan maanfaat dimasa yang akan datang.

4) Credit management

Manajemen utang atau pengeloaan utang yang sesuai dengan kapasitas sehingga tidak menjadi beban dan diharapkan meningkatkan kesejahteraan.

(9)

2.1.9 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan unit usaha produkrif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha di semua sektor ekonomi (Tambunan, 2012). Menurut Undang-Undang No.20 Pasal 1 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah maka pengertian UMKM adalah sebagai berikut :

1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

2) Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

3) Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

(10)

4) Usaha Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.

5) Dunia Usaha adalah Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah, dan Usaha Besar yang melakukan kegiatan ekonomi diIndonesia dan berdomisili di Indonesia.

6) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (PP UMKM) telah diterbitkan oleh pemerintah bersama 48 peraturan pelaksana lainnya dari Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) pada 16 Februari 2021 lalu.

Kriteria UMKM yang baru diatur di dalam Pasal 35 hingga Pasal 36 PP UMKM. Berdasarkan pasal tersebut, UMKM dikelompokkan berdasarkan kriteria modal usaha atau hasil penjualan tahunan. Kriteria modal usaha digunakan untuk pendirian atau pendaftaran kegiatan UMKM yang didirikan setelah PP UMKM berlaku. Kriteria modal tersebut terdiri atas:

a. Usaha Mikro paling banyak Rp1 miliar diluar tanah dan bangunan tempat usaha UMKM.

b. Usaha Kecil lebih dari Rpl miliar − paling banyak Rp5 miliar diluar tanah dan bangunan tempat usaha UMKM.

(11)

c. Usaha Menengah lebih dari Rp5 miliar − paling banyak Rp10 rniliar diluar tanah dan bangunan tempat usaha UMKM.

Sedangkan bagi UMKM yang telah berdiri sebelum PP UMKM berlaku, pengelompokkan UMKM dilakukan berdasarkan kriteria hasil penjualan tahunan.

Kriteria hasil penjualan tahunan terdiri atas:

a. Usaha Mikro paling banyak Rp2 miliar

b. Usaha Kecil lebih dari Rp2 miliar − paling banyak Rp15 miliar c. Usaha Menengah lebih dari Rp15 miliar − paling banyak Rp50 miliar

Nilai nominal kriteria di atas dapat diubah sesuai dengan perkembangan perekonomian. Selain kriteria modal usaha dan hasil penjualan tahunan, kementerian/lembaga negara dapat menggunakan kriteria lain seperti omzet, kekayaan bersih, nilai investasi, jumlah tenaga kerja, insentif dan disinsentif, kandungan lokal, dan/atau penerapan teknologi ramah lingungkan sesuai dengan kriteria setiap sektor usaha untuk kepentingan tertentu (Pasal 36 PP UMKM).

2.2 Tinjauan Pustaka

No. Judul Penulis Variabel Hasil

1 Pengaruh Inklusi

Keuangan Dan Literasi

Keuangan Terhadap Kinerja UMKM Di Kecamatan Moyo Utara

Wira Iko Putri Yanti (2019) (Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol. 2, No. 1)

Variabel X (independen) Inklusi Keuangan (X1), Literasi Keuangan (X2). Variabel Y (dependen) Kinerja UMKM.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Inklusi keuangan memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM. Hal ini menunjukan bahwa kinerja UMKM akan meningkat secara

(12)

signifikan apabila pelaku UMKM terus meningkatkan inklusi keuangan.

Literasi keuangan memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja UMKM. Hal ini menunjukan bahwa kinerja UMKM akan meningkat secara signifikan apabila pelaku UMKM terus meningkatkan literasi keuangan.

2 Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Pengelolaan Keuangan UMKM di Kecamatan Medan Marelan

Widya Eka Putri (2020) (Jurnal

Pembangunan Perkotaan Vol. 8, No. 1, Hal 45-50)

variabel X (independen) : literasi

keuangan terhadap.

variabel Y (dependen) : pengelolaan keuangan

Hasil hipotesis menggunakan uji analisis regresi linier sederhana pada variabel literasi keuangan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengelolaan

keuangan.

Hasil analisis data menyatakan bahwa 30 UMKM di

Kecamatan Medan Marelan pada literasi keuangan dan

pengelolaan keuangan yang dimiliki tidak baik. Dimana pelaku UMKM

tidak mampu dalam pengambilan keputusan keuangan, mempertahankan keberlangsungan usahanya sehingga tidak dapat

memperoleh

kesejahteraan dalam

(13)

waktu jangka panjang.

3 Analisis Pengaruh Literasi Keuangan, Sikap

Keuangan dan Kepribadian Terhadap Perilaku Pengelolaan Keuangan UMKM di Kabupaten Ende

LD Gadi Djou (2019)

(Jurnal Magisma Vol. VII, No.

2, Hal 123- 134)

Variabel X (independen) : Literasi Keuangan (X1), Sikap Keuangan (X2), Kepribadian (X3). Variabel Y (dependen) : Perilaku Pengelolaan Keuangan

Hasil dari penelitian variabel literasi keuangan, sikap keuangan, dan kepribadian

mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap variabel perilaku pengelolaan keuangan.

Variabel sikap

keuangan mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap

perilaku pengelolaan keuangan pelaku UMKM di Kabupaten Ende, hal ini memiliki arti bahwa semakin baik sikap yang dimiliki

pemilik/manajer UMKM terhadap uang maka semakin baik pula pengelolaan keuangan usahanya.

Situasi ini akan sangat mendukung

tercapainya pemahaman atas peningkatan literasi keuangan para pelaku UMKM di Kabupaten Ende yang

pengaruhnya lebih rendah dari sikap keuangan.

4 Pengaruh Tingkat Literasi Keuangan terhadap Pengelolaan

Pusporini (2020) (Jurnal Ilmu Manajemen Terapan

Variabel X (independen) : Literasi Keuangan.

Variabel Y (dependen) :

Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa Literasi Keunagan berpengaruh signifikan

terhadap pengelolaan

(14)

Keuangan pada Pelaku UMKM

Vol. 2, Hal 58- 69)

Pengelolaan Keuangan (Y)

keuangan UMKM di Kecamatan Cinere Depok

5 Efek Impresi Fintech Terhadap Perilaku Keuangan UKM

Gendro Wiyono, dan Kusuma Chandra Kirana (2020) (Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Vol. 21, No. 1, Hal. 69-81)

Variabel X (independen) : Fintech : Usefulness (X1), Ease To Use(X2), Problem

Implementation (X3).

Variabel Y (dependen) : Behavioral Intention.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Perceived Usefullness (manfaat yang

dirasakan) terbukti berpengaruh positip dan signifikan terhadap

Behavioral Intention.

Perceived Easy of use (kemudahan yang dirasakan) tidak berpengaruh terhadap Behavioral Intention.

Perceived Usefullness (manfaat yang

dirasakan) yang dimoderasi problem

implementation tidak memiliki efek

pengaruh negatif terhadap Behavioral Intention.

6 Pengaruh Literasi, Inklusi Keuangan Dan Perkembangan Financial Technology Terhadap Minat Mahasiswa Berinvestasi Di Pasar Modal

Yuni Wulan Sari et al (2020) (Jurnal DINAMIKA Vol. 6 No. 2, Hal 129-140)

Variabel X (independen) : variabel Literasi Keuangan (X1), Inklusi Keuangan (X2) dan

Perkembangan Fintech (X3).

Variabel Y (dependen) : Minat Mahasiswa.

Hasil dari penelitian ini memberikan hasil bahwa Secara

bersama-sama variabel Literasi Keuangan, Inklusi Keuangan, dan Perkembangan Financial Technology,

berpengaruh positif secara simultan terhadap minat mahasiswa.

7 Pengaruh literasi keuangan, inklusi keuangan dan

Eka Nur Anisyah et al (2021) (MBR

Variabel X (independen) : Literasi Keuangan (X1), Inklusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif terhadap

(15)

financial technology terhadap perilaku keuangan pelaku UMKM di Kecamatan Sekupang

Management and Business Review Vol. 5 No. 2, Hal 310- 324)

Keuangan (X2), Financial Technology (X3) Variabel Y (dependen) : Perilaku Pengelolaan Keuangan

perilaku keuangan peserta UMKM di Kecamatan Sekupang, artinya

semakin baik literasi keuangan seseorang atau kelompok semakin baik pula tingkah

laku keuangan seseorang. Inklusi keuangan tidak berpengaruh terhadap Perilaku

Keuangan pelaku UMKM di

Kecamatan Sekupang.

Hal ini menjelaskan bahwa

meningginya seluruh kegiatan inklusi keuangan tidak memberi pengaruh dalam

meningkat atau tidaknya perilaku keuangan seseorang, sedangkan financial technology

tidak berpengaruh terhadap perilaku keuangan pelaku UMKM di Kecamatan Sekupang dapat diartikan pada semakin meningkat atau menurunnya level financial

technology seseorang tidak memberikan tingkatan ataupun pengaruh pada sifat atau

perilaku keuangan sesorang.

(16)

8 Pengaruh Sikap Keuangan dan Perilaku Keuangan Terhadap Literasi Keuangan (Studi Kasus pada Ibu Rumah Tangga Di Desa Lito Kecamatan Moyo Hulu)

Wilda

Rahmayanti et al (2019) (Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol. 2 No. 1)

Variabel X (independen) : Sikap

Keuangan (X1), dan Perilaku Keuangan (X2). Variabel Y (dependen) : Literasi

Keuangan

Berdasarkan hasil pengujian data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa variabel sikap keuangan

berpengaruh positif signifikan terhadap literasi keuangan dan perilaku keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap literasi

keuangan ibu rumah tangga di Desa Lito Kecamatan Moyo Hulu. Tingkat literasi keuangan

ibu rumah tangga di Desa Lito Kecamatan Moyo

Hulu berada pada kategori tinggi yaitu 98.4%.

9 Financial Literacy and Performance of Small

and Medium Scale

Enterprises in Benue State, Nigeria

Esiebugie et al (2018)

(Internasional Journal of Economics, Business and Management Research Vol. 2 No. 04, Hal 65-79)

Variabel X (independen) : Literasi

Keuangan (X);

financial knowledge, , financial behavior dan financial attitudes.

Variabel Y (dependen) : Kinerja UMKM.

financial knowledge dan financial attitudes berpengaruh

signifikan terhadap kinerja UKM.

Sedangkan, financial behavior berpengaruh tidak signifikan terhadap firm performance.

10 Financial inclusion and its impact on financial efficiency and sustainability:

Empirical evidence from

Le et al (2019) (Asia Pacific Journal of Academic Research in Business Administration

Variabel X (independen) : Financial Inclusion.

Variabel Y (dependen) : (X1), Financial Efficiency,

Hasil menunjukkan inklusi keuangan secara signifikan dan negatif berdampak pada efisiensi

keuangan, sementara secara signifikan dan positif mempengaruhi

(17)

Asia Vol. 19 No. 4, Hal 310-322)

Financial Sustainability.

keberlanjutan keuangan di negara- negara sampel penelitian selama periode investigasi dari tahun 2004 hingga 2016.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini dilakukan di Desa Jati Mulyo yang meneliti tingkat literasi keuangan, inklusi keuangan dan financial technology dengan indikator-indikatornya, dimana masing-masing variabel dilihat pengaruhnya terhadap perilaku pengelolaan keuangan UMKM dengan menggunakan software SmartPLS.

2.3 Pengembangan Hipotesis

2.3.1 Literasi keuangan berpengaruh terhadap perilaku pengelolaan keuangan

Dengan literasi keuangan maka individu akan semakin lebih bijaksana dalam mengambil setiap keputusan keuangan berkaitan dengan masalah keuangan yang dihadapi. Seseorang dengan literasi keuangan yang kurang memadai akan menghambat seseorang untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam mengelola keuangan yang dimiliki, baik dalam kegiatan investasi, konsumsi, maupun tabungan. Sedangkan seseorang dengan literasi keuangan yang baik akan memiliki persepsi yang lebih kuat untuk mengambil keputusan dengan cara yang bijak dan bertanggung jawab sebagai akibat dari pembelajaran yang lebih memadai di masa lalu.

(18)

Baik atau tidaknya pengelolaan keuangan ditentukan oleh pengetahuan keuangan yang dimiliki oleh setiap individu. Penelitian Chen dan Volpe (1998) menyatakan bahwa literasi keuangan di bagi menjadi empat aspek tentang pengetahuan keuangan dasar, simpanan dan kredit, investasi, dan asuransi.

Literasi keuangan tentang pengetahuan keuangan dasar merupakan konsep yang berkaitan dengan pengetahuan keuangan pribadi secara umum. Pengetahuan keuangan adalah pemahaman seseorang tentang suku bunga, inflasi dan informasi keuangan. Rustiaria (2017) menyatakan bahwa individu yang memiliki pengetahuan keuangan pada umumnya menunjukkan perilaku keuangan yang baik, seperti membayar kewajiban tepat waktu, menyimpan uang untuk keamanan, dan mampu mengelola pendapatan dan pengeluaran keuaangan.

Menurut Chen & Volpe (1998) menyatakan bahwa literasi keuangan tentang simpanan dan kredit merupakan pengetahuan yang berkaitan dengan pemahaman tentang menabung dan meminjam di lembaga keuangan. Baik atau tidaknya tingkat literasi tentang simpanan dan kredit seseorang dilihat dari sejauh mana seseorang tersebut dapat mengetahui tentang bagaimana tata cara menabung yang tepat serta yang berkaitan dengan syarat atau ketentuan mengajukan pinjaman pada lembaga keuangan.

Menurut Chen & Volpe (1998) literasi keuangan tentang investasi merupakan suatu pengetahuan dan pemahaman yang berkaitan dengan suku bunga, reksadana, dan risiko investasi. literasi keuangan tentang investasi yang baik maka UMKM dapat memutuskan dengan tepat saat akan melakukan

(19)

investasi, menganalisis faktor-faktor yang relevan apakah akan melakukan investasi dalam jangka pendek atau investasi jangka panjang untuk kepentingan bisnis.

Literasi keuangan tentang asuransi merupakan suatu pengetahuan seseorang tentang produk-produk dari asuransi (Chen & Volpe, 1998). Asuransi adalah salah satu bentuk manajemen risiko dengan cara mengalihkan risiko dari satu pihak ke pihak lain (dalam hal ini perusahaan asuransi). Dengan adanya asuransi, asuransi jiwa, aset dan UMKM lainnya dapat membantu menutupi kerugian. Hal ini disebabkan karena dimana pihak perusahaan asuransi telah mengikatkan diri kepada UMKM, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita UMKM, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti atau memberikan pembayaran atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Literasi keuangan akan berpengaruh pada perilaku pengelolaan keuangan seseorang. di mana perilaku ekonomi terkait dengan kewajiban seseorang atas cara mereka mengendalikan uang. Jadi, perilaku pengelolaan keuangan yang efektif terdiri dari penganggaran, menilai pentingnya pembelian dan memprioritaskan keinginan dan sebagainya. Individu yang memiliki pemahaman dan kemampuan yang cukup baik dalam mengelola keuangan akan membentuk perilaku keuangan yang baik yang terdiri dari cara berinvestasi, menabung, dan menggunakan kartu kredit (Andarsari & Ningtyas, 2019).

(20)

Dengan demikian, menurut Kholilah dan Iramani dalam Djou (2019) literasi atau pengetahuan keuangan sangat dibutuhkan oleh setiap individu dalam mengelola keuangan pribadinya. Saat individu memiliki pengetahuan keuangan yang baik, individu akan mampu melakukan pengelolaan keuangan yang cerdas berupa pencatatan dan penganggaran, perbankan dan penggunaan kredit, simpanan dan pinjaman, pembayaran pajak, membuat pengeluaran yang krusial, membeli dan mengerti asuransi, investasi, dan rencana dana pensiun.

Dalam penelitian Anisyah et., al (2021) melalui uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif terhadap perilaku keuangan peserta UMKM di Kecamatan Sekupang, artinya semakin baik literasi keuangan seseorang atau kelompok semakin baik pula tingkah laku keuangan seseorang. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Siregar (2018) menyatakan dalam penelitiannya secara keseluruhan variabel literasi keuangan berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan usaha UMKM. Variabel literasi keuangan memiliki pengaruh secara positif terhadap pengelolaan keuangan usaha, yaitu literasi keuangan tentang keuangan pribadi secara umum, literasi keuangan tentang simpanan dan kredit, literasi keuangan tentang investasi dan literasi keuangan tentang asuransi. Pengaruh secara positif paling dominan adalah literasi tentang asuransi. Sedangkan hasil penelitian (Sugiharti dan Maulana, 2019) Literasi keuangan tentang pengetahuan dasar keuangan, tabungan dan pinjaman, investasi berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan Mahasiswa pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Singa

(21)

perbangsa Karawang. Namun, literasi keungan tentang asuransi tidak berpengaruh secara signifikan.

H1 : Literasi keuangan berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan

2.3.2 Inklusi Keuangan berpengaruh terhadap perilaku pengelolaan keuangan

Menurut Kusumaningtuti dan Setiawan dalam Anisyah et., al (2021) keuangan inklusif adalah seluruh usaha yang bertujuan untuk menghilangkan seluruh hambatan guna memanfaatkan konsep berbiaya rendah untuk memanfaatkan semua hambatan yang ada terhadap akses masyarakat terhadap jasa keuangan. Inklusi keuangan diakui sebagai 'proses yang menandai' peningkatan kuantitas, kualitas, dan efisiensi keuangan layanan perantara (Le et., al, 2019).

Inklusi keuangan memberikan bantuan kepada pelaku UMKM dalam mengakses layanan keuangan yang ada dengan mudah sehingga mereka tidak hanya mengetahui tetapi juga bisa memakai produk-produk yang tersedia dalam layanan tersebut, dan juga membantu dalam kemampuan mengelolaa keuangan maka dapat disimpulkan bahwa inklusi keuangan memberikan pengaruh kepada perilaku pengelolaan keuangan (wardani dan susanti, 2019).

Berdasarkan hasil penelitian Pinem (2021) pengujian menunjukan inklusi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku keuangan, yang berarti terdapat pengaruh inklusi keuangan terhadap perilaku keuangan pada pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Depok. Sedangkan

(22)

hasil penelitian Anisyah et al (2021) menyatakan Inklusi keuangan tidak berpengaruh terhadap Perilaku Keuangan pelaku UMKM di Kecamatan Sekupang. Hal ini menjelaskan bahwa meningginya seluruh kegiatan inklusi keuangan tidak memberi pengaruh dalam meningkat atau tidaknya perilaku keuangan seseorang.

H2 : Inklusi Keuangan berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan

2.3.3 Financial technology berpengaruh terhadap perilaku pengelolaan keuangan

Financial technology atau fintech adalah kombinasi dari sistem dan teknologi sektor keuangan yang memungkinkan produk atau jasa dibeli atau dijual pada waktu yang berbeda dan di ruang pasar yang berbeda (Freedman, 2006).

Bank Indonesia (2020) mengatakan bahwa seiring dengan berjalannya fintech terjadi karena munculnya Perubahan kehidupan masyarakat saat ini dipengaruhi dengan penggunaan teknologi sebagai tuntutan hidup serba cepat. Dengan kehadiranya fintech, permasalahan dalam transaksi jual beli dan pembayaran terkait pencarian barang ke tempat perbelanjaan, ke bank/ATM untuk melakukan transaksi dana, keenganan mengunjungi suatu tempat karena pelayanan yang kurang menyenangkan dapat diminimalkan. Dalam kata lain fintech membantu persoalan transaksi jual beli dan sistem pembayaran jauh lebih muda, efisien, dan ekonomis tanpa menghilangkan keefektifan.

(23)

pada kenyataannya, tidak semua orang dapat memahami tentang produk fintech dengan baik, sehingga seharusnya mereka dapat mengamankan posisi keuangannya seperti digunakan untuk menabung, mengelola keuangan dengan tepat, tetapi mereka tidak melakukannya. Dampak negatif dari fintech terkadang membuat mereka menjadi konsumtif karena mudah membelanjakan uangnya dan tidak merasa mengeluarkan uang secara fisik. Sehingga layanan keuangan berbasis teknologi yang ada tidak dapat mempengaruhi dalam berperilaku yang tepat terkait dengan keuangan mereka. Mereka belum dapat mengambil keputusan yang tepat dalam pengelolaan keuanganmya. Hal ini menandakan bahwa tersedianya layanan keuangan harus didukung oleh pengetahuan yang baik agar terhindar dari perilaku keuangan yang tidak bertanggung jawab (Widiastuti, 2020).

Dalam penelitian Salsabila (2021) Financial technology memiliki pengaruh positif pada kinerja UMKM, hal tersebut artinya semakin tinggi layanan regulasi keuangan, layanan pembayaran digital dan pinjaman modal maka semakin tinggi kinerja UMKM, meskipun pengaruhnya tidak signifikan.

Sedangkan hasil penelian Anisyah et al (2021) menunjukkan financial technology tidak berpengaruh terhadap perilaku keuangan pelaku UMKM di Kecamatan Sekupang dapat diartikan pada semakin meningkat atau menurunnya level financial technology seseorang tidak memberikan tingkatan ataupun pengaruh pada sifat atau perilaku keuangan sesorang.

H3 : Financial technology berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan

(24)

2.4 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan tinjauan pustaka dan pengembangan hipotesis yang sudah diuraikan, maka kerangka pemikiran dalam penelitian dapat digambarkan pada gambar berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sosial demografi dan sikap keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku investasi keuangan individu pada

Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel sosial demografi dan sikap keuangan berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku investasi keuangan individu pada

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap inklusi keuangan pada Investor saham syariah di Pekanbaru dan financial

Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan keuangan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap perilaku pengelolaan keuangan keluarga, sedangkan pengalaman keuangan,

Untuk menganalisis mengenai pengaruh Financial Technology memoderasi hubungan Financial Knowledge terhadap inklusi keuangan pada UMKM Mitra Binaan PT Semen Indonesia

Dengan demikian hasil analisis data tersebut maka Ha diterima dan Ho ditolak, maka dapat dinyatakan bahwa financial literacy berpengaruh signifikan terhadap perilaku pengelolaan

Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah: H2: Sikap keuangan berpengaruh terhadap perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Riau

Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan terhadap perilaku pengelolaan keuangan dan literasi keuangan terhadap financial technology tidak memberikan pengaruh secara