Bangunan haram yang ditemui di kawasan kajian termasuk bangunan di sempadan sungai dan sempadan laluan kereta api. Berdasarkan hasil pemerhatian lapangan, bilangan bangunan yang termasuk dalam kategori bangunan haram atau bangunan yang didirikan tidak mengikut peraturan yang ditetapkan di kawasan kajian boleh dilihat pada Jadual 3.2 di bawah. Berdasarkan jadual di atas, jumlah keseluruhan bangunan yang termasuk bangunan haram adalah bangunan yang melanggar garis sempadan sungai dan laluan kereta api.
Jumlah keseluruhan bangunan yang melanggar garis sempadan sungai di kawasan kajian adalah sebanyak 217 unit bangunan termasuk 13 bangunan yang melanggar kedua-dua garisan sempadan. Manakala bilangan bangunan yang merentasi sempadan kereta api adalah sebanyak 55 unit bangunan termasuk bangunan yang melanggar kedua-dua garisan sempadan. Berdasarkan foto di atas, ia kelihatan seperti bangunan liar yang berdiri di sempadan sungai dan landasan kereta api.
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan pengolahan melalui Arc-GIS, jumlah bangunan di wilayah penelitian sebanyak 1760 unit bangunan dengan luas blok total 36,82 ha. Berdasarkan hasil observasi lapangan, bangunan yang ada di wilayah penelitian terdiri dari bangunan permanen, semi permanen, dan sementara. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah berbagai jenis kondisi bangunan di wilayah penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.5 di bawah ini.
Untuk lebih jelasnya mengenai sebaran kondisi bangunan di wilayah penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.9 dibawah ini.
Tapak Bangunan (Building Coverage)
Berdasarkan gambar di atas, keberadaan ruang terbuka hijau di wilayah penelitian tersebar di beberapa bagian Sungai Ciloseh yang berfungsi sebagai kawasan lindung lokal di sepanjang sempadan sungai. Namun keberadaan ruang terbuka hijau sebagai perlindungan lokal di beberapa wilayah seringkali tergerus oleh pembangunan komunal. Kondisi lokasi bangunan di wilayah penelitian dapat dilihat pada tabel 3.6 di bawah ini.
Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi lokasi bangunan di wilayah penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.12 dan Gambar 3.13 di bawah ini.
Jarak antar Bangunan
Berdasarkan gambar di atas terlihat kawasan pemukiman yang terletak di tepian Sungai Ciloseh dan rel kereta api merupakan pemukiman padat penduduk. Untuk lebih jelasnya kondisi jarak antar bangunan pada kawasan yang dipertimbangkan dapat dilihat pada Gambar 3.16 di bawah ini. Berdasarkan hasil asumsi dan pengolahan dengan Arc-GIS, kepadatan penduduk pada setiap blok pada wilayah yang dipertimbangkan dapat dilihat pada tabel 3.8 di bawah ini.
Berdasarkan hasil analisis tabel di atas, kepadatan penduduk pada blok 1 sebanyak 194 jiwa/ha, blok 2 sebanyak 310 jiwa/ha, dan blok 3 sebanyak 182 jiwa/ha.
Vitalitas Ekonomi Kawasan
Tingkat Kepentingan Kawasan
Berdasarkan hasil observasi lapangan, cakupan wilayah penelitian dengan situs-situs penting dapat dilihat pada Tabel 3.9 di bawah ini.
Fungsi Kawasan dalam Peruntukan Ruang Kota
Status Kepemilikan Tanah
Status Pemilikan Tanah
Status Sertifikat Tanah
Keadaan Prasarana
- Kondisi Jalan
- Kondisi Air Bersih
- Kondisi Saluran Air Limbah
- Kondisi Persampahan
- Upaya Penanganan Pemerintah Kota
Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi drainase di wilayah penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.25 dibawah ini. Berdasarkan hasil observasi lapangan, sistem penyediaan air bersih di wilayah penelitian meliputi sumur, mata air alami, dan air bersih yang berasal dari PDAM. Sistem penyediaan air bersih berupa sumur dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah penelitian sebagai sistem penyediaan air bersih pribadi, yaitu penyediaan air bersih yang diperuntukkan bagi rumah tertentu, baik untuk keperluan toilet maupun untuk keperluan minum dan memasak.
Sementara itu, sumber mata air alami dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah studi sebagai sistem penyediaan air bersih umum bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sumber mata air alami, yang sebagian besar hanya digunakan untuk kebutuhan toilet. Sumber air bersih yang berasal dari PDAM dimanfaatkan oleh masyarakat di sepanjang jalan raya yang menjadi batas fisik wilayah penelitian. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan air bersih di wilayah penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.27 di bawah ini.
Salah satu pemeriksaan sistem penyediaan air di wilayah yang dimaksud antara lain sistem saluran air limbah atau pembuangan air limbah. Sistem pembuangan air limbah di wilayah tersebut dilakukan masyarakat dengan menyalurkan limbah rumah tangga langsung ke sungai. Dari gambar di atas terlihat bahwa pemerintah kota di wilayah tersebut tidak memiliki sistem pembuangan limbah khusus, sehingga sampah yang dihasilkan rumah tangga langsung mengalir ke sungai.
Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi saluran pembuangan limbah di wilayah penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.29 di bawah ini. Berdasarkan observasi di wilayah penelitian, masih banyak sampah yang tidak tertata dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di wilayah penelitian, penumpukan sampah khususnya di bagian interior pemukiman disebabkan karena kurangnya fasilitas pembuangan sampah.
Selain limbah, pencemaran Sungai Ciloseh juga disebabkan oleh sistem pembuangan limbah domestik masyarakat di wilayah penelitian yang mengalir langsung ke sungai. Untuk lebih jelasnya mengenai status persampahan di wilayah penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.32 di bawah ini. Berdasarkan hasil wawancara kepada RT dan RW wilayah penelitian, penerima bantuan program Tasik Bersedekah terdiri dari 1 rumah di Kecamatan Cipedes.
Sementara berdasarkan hasil wawancara dengan RT dan RW, belum terdapat lembaga masyarakat khusus yang menangani kumuh di wilayah studi. Selain di kawasan Desa Lengkongsari, penanganan kawasan kumuh juga dilakukan di kawasan Desa Sukamanah berupa renovasi RLTH.
Prioritas Penanganan
Kedekatan Kawasan dengan Pusat Pertumbuhan Kota
Berdasarkan hasil observasi lapangan, kedekatan wilayah penelitian dengan pusat pertumbuhan perkotaan dapat dilihat pada Tabel 3.11 di bawah ini. Berdasarkan hasil observasi lapangan, jarak blok 1 menuju kawasan pusat pertumbuhan kota adalah 1,15 km atau dengan waktu tempuh 7 menit 40 detik, jarak blok 2 menuju kawasan pusat pertumbuhan kota adalah 1,32 km atau dengan jarak tempuh 1,32 km. waktu tempuh 8 menit 48 detik sedangkan jarak blok 3 menuju kawasan pusat pertumbuhan kota adalah 1,46 atau waktu tempuh 9 menit 44 detik.
Kedekatan Kawasan dengan Kawasan Lain Bagian Kota