48
BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 3.1.1. Sejarah Perusahaan
A. Sejarah Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung
Kabupaten Bandung mengalami pemekaran pada tahun 2007 menjadi Kabupaten Bandung yang penetapannya didasarkan pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Bandung di Provinsi Jawab Barat pada tanggal 2 Januari 2007 dengan pusat pemerintahan di Kecamatan Soreang. Dengan terbentuknya Kabupaten Bandung sebagai otonom, pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, berkewajiban membin dan memfasilitasi terbentuknya DPRD, perangkat daerah yang efisien dan efektif sesuai kebutuhan, pengaturan dan penyelesaian asset daerah dilakukan dengan pendekatan musyawarah dan mufakat untuk kepentingan kesejahteraan rakyat Kabupaten induk dan Kabupaten yang baru dibentuk. Asset daerah berupa BUMD dan asset lainnya yang pelayanannya mencakup lebih dari satu Kabupaten dapat dilakukan dengan kerja sama antar daerah. Adapun tujuan pemekaran tersebut adalah dalam rangka memacu perkembangan dan kemajuan provinsi Jawa Barat pada umumnya dan Kabupaten Bandung (sebagai Kabupaten induk) pada khususnya juga untuk dapat mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan serta memberikan kemampuan dan pemanfaatan potensi daerah.
Berdasarkan Pasal 9 UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, bahwa setiap Badan Publik wajib mengumumkan Informasi Publik secara berkala. Informasi yang disediakan dan diumumkan secara berkala oleh Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bandung diantaranya sebagai berikut:
Kepala Dinas : DIAR IRWANA.,SH
Alamat : Jl.Raya Soreang Km.17 Soreang Kab Bandung.
Badan Pendapatan Daerah sebagai unsur penunjang Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan dan bertanggungjawab kepada Bupati Bandung melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung yang didalamnya terdapat fungsi Pengelolaan Barang Milik Daerah dan Tahun 2016 merupakan tahun pertama dari pelaksanaan Rencana Strategis Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2016 – 2021 yang berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2016 – 2021.
B. Visi dan Misi
Adapun Visi dan Misi dari BKAD Kabupaten Bandung adalah:
1. Visi
“Memantapkan Kabupaten Bandung yang maju, mandiri dan berdaya saing, melalui tata kelola pemerintahan yang baik dan sinergi pembangunan perdesaan, berlandaskan religius, kultural dan berwawasan lingkungan”.
2. Misi
a. Peningkatan kualitas SDM
b. Menciptakan Pembangunan Ekonomi yang Berdaya Saing
c. Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Dasar Terpadu Tata Ruang Wilayah
d. Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup.
e. Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih.
3.1.2. Struktur Organisasi dan Fungsi A. Struktur Organisasi
Sumber: Bandungkab.go.id
Gambar III.1 Struktur Organisasi B. Fungsi
Tugas, wewenang dan tanggung jawab merupakan fungsi dari setiap bagian di dalam membedakan antara satu wewenang dan tanggung jawab setiap bagian:
1. Kepala Badan
Kepala Badan mempunyai tugas membantu Bupati memimpin dan melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan yang menjad kewenangan daerah kabupaten dibidang keuangan dan menetapkan
kebijakan teknis dibidang pengelolaan dan aset daerah serta tugas pembantuan.
Dalam melaksanakan tugas, Kepala Badan mempunyai fungsi:
a. Menetapkan kebijakan teknis dibidang pengelolaan keuangan dan aset daerah;
b. Mengkoordinasi penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum dibidang pengelolaan keuangan dan aset daerah; dan
c. Memimpin pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang pengelolaan keuangan dan aset daerah.
d. Memimpin pelaksanaan urusan ketatausahaan, keuangan, kepegawaian dan perlengkaan badan;
e. Menetapkan kebijakan penyelenggaraan keuangan dan aset daerah;
f. Memvalidasi rencana dan program kerja dibidang pengelolaan keuangan dan aset daerah; dan
g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Bupati.
2. Sekertariat
a. Sekretaris, yang mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam menyelenggarakan administrasi ketatausahaan, kearsipan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan rumah tangga badan, penyusunan program dan perencanaan program badan, organisasi dan tata laksana badan.
b. Dalam melaksanakan tugas, Sekretaris mempunyai fungsi :
1) mengkoordinasikan pengelolaan dan pembinaan urusan tata usaha dan tata kearsipan rumah tangga dan keprotokolan badan;
2) mengkoordinasikan penyusunan program dan perencanaan badan;
3) mengkoordinasikan penyusunan dan pembinaan organisasi dan tata laksana badan;
4) mengkoordinasikan pengelolaan administrasi dan penyusunan laporan kepegawaian, keuangan dan perlengkapan; dan
5) melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan.
3. Sub Bagian Penyusunan Program
a. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program, mempunyai tugas membantu Sekretaris dalam pelaksanaan pengkoordinasian penyusunan rencana dan program Badan
b. Dalam melaksanakan tugas, Kepala Sub Bagian Penyusunan Program mempunyai fungsi:
1) Menyusun program dan perencanaan kegiatan badan;
2) Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan program dan kegiatan badan;
3) Menyusun laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas;
dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris.
4. Sub Bagian Keuangan
a. Kepala Sub Bagian Keuangan, mempunyai tugas membantu Sekretaris dalam pelaksanaan pengelolaan administrasi dan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan Badan.
b. Dalam melaksanakan tugas, Kepala Sub Bagian Keuangan mempunyai fungsi :
1) melaksanakan tata usaha dan administrasi keuangan dan perlengkapan;
2) menganalisis kebutuhan pengadaan dan melakukan administrasi barang;
3) menyusun pembayaran gaji pegawai;
4) menyusun laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas;
dan
5) melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris.
5. Bidang Anggaran
a. Kepala Bidang Anggaran mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam menyusun dan melaksanakan kebijakan dan pedoman teknis dibidang anggaran.
b. Dalam melaksanakan tugas, Kepala Bidang Anggaran mempunyai fungsi:
1) Merumuskan prosedur penyusunan rancangan ABPD dan rancangan Perubahan APBD;
2) Mengkoordinasikan penyusunan pedoman dan petunjuk teknis penyusunan anggaran;
3) Mengkoordinasikan pengendalian penyusunan anggaran; dan 4) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan.
6. Bidang Akuntansi
a. Kepala Bidang Akuntansi mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam melaksanakan kebijakan dan penyusunan pedoman teknis dibidang evaluasi, pembukuan dan pelaporan.
b. Dalam melaksanakan tugas, Kepala Bidang Akuntansi mempunyai fungsi:
1) Merumuskan prosedur pelaporan keuangan yang transparan dan akuntabel;
2) Mengkoordinasikan penyusunan pedoman teknis pelaksanaan APBD;
3) Mengkoordinasikan penyajian informasi laporan keuangan daerah;
4) Mengkoordinasikan pelaksanaan pembinaan teknis dan laporan keuangan daerah;
5) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan.
7. Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah
a. Kepala Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam melaksanakan kebijakan, menyiapkan bahan pedoman teknis, melaksanakan pengelolaan, koordinasi, pembinaan, dan pengendalian dibidang pengelolaan kas dan perbendaharaan.
b. Dalam melaksanakan tugas, Kepala Bidang Perbendaharaan dan Kas Daerah mempunyai fungsi :
1) Mengkoordinasikan pelaksanaan penatausahaan pengelolaan keuangan daerah;
2) Mengkoordinasikan pelaksanaan penatausahaan pengelolaan gaji PNS;
3) Mengkoordinasikan pelaksanaan perumusan peraturan bupati tentang pelaksanaan APBD;
4) Mengkoordinasikan pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis pengelolaan keuangan daerah dan pengelolaan gaji;
5) Mengkoordinasikan pelaksanaan program kegiatan peningkatan pengembangan pengelolaan keuangan daerah, dengan kegiatan peningkatan pelayanan dan fasiltasi penerimaan daerah;
6) Mengkoordinasikan pelaksanaan program kegiatan peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan, dengan kegiatan program pengendalian, evaluasi, monitoring dan pelaporan dana transfer daerah;
7) Mengkoordinasikan pelaksanaan program kegiatan peningkatan pelayanan, fasiltasi pencairan dana SKPD Se Kabupaten Bandung;
8) Merumuskan kebijakan petunjuk teknis bahan pembinaan dibidang pengelolaan keuangan daerah;
9) Mengkoordinasikan pelaksanaan pengadministrasian penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran setara kas, atas beban rekening Kas Umum Daerah;
10) Mengkoordinasikan pengelolaan utang dan piutang daerah; dan 11) melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Badan.
8. Bidang Pengelolaan dan Aset Daerah
a. Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah mempunyai tugas membantu Kepala Badan dalam pengelolaan aset daerah.
b. Dalam melaksanakan tugas, Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah mempunyai fungsi:
1) Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis pengelolaan Aset Daerah;
2) Mengkoordinasikan pengumpulan dan pengolahan data dalam rangka pengelolaan barang Aset Daerah;
3) Mengkoordinasikan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan pengelolaan Aset Daerah;
4) Mengkoordinasikan penyusunan petunjuk teknis pengelolaan Aset Daerah;
5) Mengkoordinasikan pelaksanaan pemanfaatan, pengamanan dan pengendalian Aset Daerah berupa tanah dan/atau bangunan;
6) Mengkoordinasikan pengendalian dan pemeliharaan Sistem Informasi Aset Daerah;
7) Mengkoordinasikan pelaksanaan pendataan potensi retribusi ijin pemakaian kekayaan daerah berupa tanah;
8) Mengkoordinasikan pelaksanaan pengelolaan dan penatausahaan Aset Daerah;
9) Mengkoordinasikan pensertifikatan tanah yang dikuasai Pemerintah Daerah;
10) Mengkoordinasikan pelaksanaan sebagian fungsi Kuasa BUD dalam hal penyimpanan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah;
11) Mengkoordinasikan penyusunan usulan tim penilai Aset Daerah dalam rangka pencatatan dalam neraca daerah;
12) Mengkoordinasikan pemeliharaan, pengawasan, pengamanan dan pengendalian pengelolaan Aset Daerah yang telah diserahkan kepada Bupati melalui Pengelola Barang;
13) Mengkoordinasikan pelaksanaan penelitian usulan status penggunaan Aset Daerah dari Pengguna Barang;
14) Mengkoordinasikan pelaksanaan pemanfaatan dan pengamanan Aset Daerah;
15) Mengkoordinasikan pengumpulan data Inventaris Barang;
16) Mengkoordinasikan pelaksanaan proses penghapusan dan pemindahtanganan Aset Daerah;
17) Mengkoordinasikan pelaksanaan inventarisasi dan sensus Aset Daerah;
18) Mengkoordinasikan penyusunan bahan analisis pemanfaatan, penghapusan dan pemindah tanganan Aset Daerah yang telah disetujui oleh Bupati;
3.1.3. Kegiatan Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung Kegiatan adalah tindakan nyata dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kebijakan dan program yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai sasaran dan tujuan tertentu. Tugas pokok Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung adalah menyelenggarakan atau menjalankan fungsi perencanaan, pelaksanaan aktivitas, pemantauan, evaluasi dan pengendalian serta peningkatan kerja sebagai upaya meningkatkan optimalisasi pengelolaan pendapatan dan keuangan daerah. BKAD Kabupaten Bandung juga mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantu di bidang pendapatan daerah serta tugas lainnya yang diberikan oleh kepala daerah.
3.2. Metode Penelitian
Menurut (Sugiyono, 2017) mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan verifikatif”.
Menurut (Sugiyono, 2017) mendefinisikan metode penelitian kuantitatif, metode ini disebut sebagai metode positivistic karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebur metode kuantitaif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik”.
Sehingga dapat simpulkan bahwa metode penelitian cara atau teknik yang digunakan untuk melakukan penelitian yang nanti nya mampu untuk menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian dengan didasarkan pada keilmuan sehingga dapat menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang nantinya akan didapat dari data yang telah diperoleh.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode survey dengan pendektan kuantitatif tipe pendekatan deskriptif verifikatif, dengan menggunakan metode ini penelitian akan diketahui hubungan yang signifikan antara variable yang diteliti sehingga kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.
Menurut (Sugiyono, 2017) mendefinisikan pendekatan deskriptif metode pendekatan deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi”.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan deskriptif sebagai metode yang berfungsi mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data dan sampel yang telah dikumpulkan. Pada penelitian ini, pendekatan deskriptif digunakan untuk menjawab rumusan masalah dari pertama sampai dengan kelima, yaitu:
bagaimana kondisi pengendalian internal, kompetensi, dan locus of control terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi pada Badan Aset dan Keuangan Daerah Kabupaten Bandung.
Sedangkan pendekatan verifikatif menurut (Sugiyono, 2014) adalah suatu metode penelitian yang bertujuan mengetahui hubungan kualitas antara variabel melalui suatu pengujian sehingga didapat hasil pembuktian yang menunjukkan hipotesis ditolak atau diterima. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan metode pendekatan verifikatif merupakan metode penelitian yang bertujuan untuk megetahui hubungan antar variable atau lebih dalam menguji suatu hipotesis melalui alat analisis analistik. Metode pendekatan verifikatif pada dasarnya ingin menguji kebenaran dari hipotesis yang dilaksanakan melalui pengumpulan data.
Dalam penelitian ini, pendekatan verifikatif bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yang kelima sampai dengan rumusan masalah ke delapan yaitu seberapa besar pengaruh pengendalian internal, kompetensi sumber daya manusia, dan
locus of control terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung baik secara parsial maupun simultan.
3.2.1. Desain Penelitian
Ketika melakukan penelitian perlu adanya perencanaan dan perancangan, agar penelitian yang berisi langkah-langkah sistematis yang akan diikuti oleh peneliti untuk melakukan penelitiannya. Menurut (Sugiyono, 2015) desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang berisi langkah-langkah sistematis yang akan diikuti oleh peneliti untuk melakukan penelitiannya. Agar proses penelitian dapat berjalan dengan baik, maka proses penelitian dimulai dari perencanaan sampai pelaksanaan penelitian. Berdasarkan hal tersebut desain penelitian secara kuantitatif menurut (Sugiyono, 2017) dapat dilihat pada gambar III.2 berikut ini:
Sumber: (Sugiyono, 2017)
Gambar III.2
Desain Penelitian Kuantitatif
Berdasarkan pada gambar III.2 maka desain pada penelitian ini menurut (Sugiyono, 2017) dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Menetapkan rumusan masalah. Setiap penelitian selalu berangkat dari masalah, dalam penelitian kuantitatif masalah yang dibawa oleh peneliti harus sudah jelas, setelah masalah diidentifikasikan, dan dibatasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan. Rumusan masalah pada umumnya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan.
2. Landasan teori dalam penelitian kuantitatif digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan. Maka dibutuhkan sumber data teoritis atau penelitian terdahulu yang relevan yang digunakan untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah untuk sementara.
3. Menetapkan hipotesis, yaitu jawaban sementara terhadap rumusan masalah tersebut dengan menggunakan teori, yang selanjutnya akan dibuktikan kebenarannya secara empiris.
4. Pengumpulan data diperlukan untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut secara empiris di lapangan. Pengumpulan data dilakukan pada populasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Bila populasi terlalu luas sedangkan peneliti memiliki keterbatasan waktu, dana dan tenaga, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.
5. Peneliti perlu menggunakan instrumen penelitian untuk mencari data yang diteliti/akurat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian sosial biasanya belum ada, sehingga peneliti harus membuat atau mengembangkan sendiri agar instrumen dapat dipercaya maka harus diuji validitas dan reliabilitasnya.
6. Setelah instrumen teruji validitas dan reliabilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Selanjutnya instrumen tersebut digunakan untuk pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dapat berupa kuesioner, dan observasi.
7. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis. Analisis diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik parametris dan statisktik nonparametris. Peneliti menggunakan statistik inferensial bila peneliti dilakukan pada sampel yang diambil secara random. Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan.
8. Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, maka selanjutnya dapat disimpulkan. Kesimpulan berisi jawaban singkat terhadap setiap rumusan masalah berdasarkan data yang telah terkumpul. Karena penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memberikan saran-saran agar masalah dapat dipecahkan. Saran yang diberikan harus berdasarkan kesimpulan hasil penelitian.
3.2.2. Operasionalisasi Variabel
(Sugiyono, 2017) mendefinisikan secara teoritis variable penelitian sebagai atribut seseorang atau obyek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tiga variable bebas (independent) dan satu variable terikat (dependent). Berdasarkan judul penelitian yang sudah dikemukakan sebelumnya yaitu: “Analisis Pengendalian Internal, Kompetensi, dan Locus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi”. Maka definisi dari setiap variable adalah sebagai berikut:
1. Variable bebas (Independent Variable)
Variable ini sering disebut sebagai variable stimulus, predicator, antecedent.
Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variable bebas adalah merupakan variable yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable dependent (terikat).
Berikut variable independent yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Pengendalian Internal sebagai variable pertama (X1) adalah proses yang dijalankan untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian keandalan laporan keuangan, kepatuhan terhadap hukum, efektivitas, dan efisiensi operasi (Fajar, 2017).
b. Kompetensi sebagai variable kedua (X2) kompetensi sumber daya manusia adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mencapai kinerja yang tinggi dalam pekerjaan yang ditekuninya (Utama, 2017).
c. Locus of control sebagai variable ketiga (X3) locus of control adalah variable utama yang menjelaskan perilaku manusia dalam organisasi.
Locus of control adalah tingkatan dimana individu berkeyakinan bahwa hasil (peristiwa yang terjadi dalam kehidupnya tergantung pada perilaku atau karakteristik pribadi mereka (Rotter, 1996) dalam (Respati, 2011).
2. Variable Terikat (Variable Dependent)
(Sugiyono, 2017) mendefinisikan variable dependent sebagai variable output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variable terikat. Variable terikat merupakan variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variable bebas.
Berikut variable dependent yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Kecenderungan Kecurangan Akuntansi (Y) adalah sebagai satu jenis tindakan melawan hukum yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh sesuatu dengan cara menipu (Damanik, 2016).
Operasionalisasi variable diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variable-variabel terkait dalam penelitian sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar. Untuk menjadi acuan dalam penelitian yang dilakukan serta dapat diukur untuk pengolahan data selanjutnya, maka dilakukan operasional variabel.
Berikut tabel operasionalisasi variabel yang menggambarkan variabel independent (X) dan variabel dependent (Y) sebagai berikut:
Tabel III.1 Operasional Variabel
Variabel Dimensi Indikator Ukuran Skala Item
Pengendalian Internal (X1)
Pengendalian internal adalah proses,
dipengaruhi oleh dewan
1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
a. Integritas dan nilai etis
a. Memelihara etika dalam Organisasi
Ordinal
1
b. Komitemen pada kompetensi
a. Mengidentifikasi tugas dan fungsi setiap posisi
Ordinal 2
entitas direksi, manajemen, dan personel lain, yang dircancang untuk providen keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan yang berkaitan dengan operasi, pelaporan, dan kepatuhan (Arens 2008) dalam (Dewi, 2016).
b. Partisipasi dewan komisaris dan komite audit
a. Menjalankan fungsi pengawasan
Ordinal 3
c. Filosopi dan gaya operasi
manajemen
a. Pimpinan memperhatikan risiko dalam pengambil keputusan
Ordinal 4
d. Struktur Organisasi
a. Memperhatikan kerangka kerja b. Perencanaan
dalam mencapai tujuan
Ordinal 5
6
e. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
a. Penyusunan dan penerapan kebijakan SDM b. Penerapan
pembinaan, kompensasi promosi evaluasi dan kedisplinan bagi SDM
Ordinal 7
8
2. Penilian Risiko (Risk Assesment)
a. Identifikasi Risiko a. Mengidentifikasi yang menghambat tujuan
b. Mengidentifikasi yang mungkin menghambat risiko
Ordinal 9
10
b. Analisis Risiko a. Menentukan dampak risiko b. Mengatasi dampak
risiko
Ordinal 11 12 3. Aktivitas
Pengendalian (Control Activities)
a. Pemisahan tugas yang memadai
a. Pimpinan
mengawasi seluruh kejadian dan aspek
Ordinal 13
b. Otoritas yang tepat atas transaksi dan aktivitas
a. Pimpinan menetapkan ketentuan dan syarat otoritas
Ordinal 14
c. Dokumen dan catatan yang memadai
a. Merancang dan menggunakan dokumentasi
Ordinal 15
d. Pengendalian fisik atas aset dan catatan
a. Pimpinan melaksanakan pengimplentasian rencana identifikasi kebijakan dan prosedur dalam pengamanan fisik
Ordinal 16
e. Pemerikasaan independen atas kinerja
a. Pemantauan pihak internal
Ordinal 17
4. Informasi dan Komunikasi (Information and
Communication)
a. Metode yang digunakan mencatat, memproses dan melaporkan transaksi
a. Mendapatkan informasi yang relevan b. Mengkomunikasi- kan kompenen pengendalian internal c. Komunikasi dengan pihak eksternal
Ordinal 18 19
20
5. Aktivitas Pengawsan (Monitoring Activities)
a. Melakukan evaluasi berkelanjutan
a.Pemantauan yang dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kegiatan pengelolaan rutin.
Ordinal 21
b. Mengevaluasi a. Melakukan evaluasi terpisah
Ordinal 22
Kompetensi (X2)
Kompetensi sebagai kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang
diisyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu organisasi
1. Keterampilan (Skill)
a. Keterampilan mengerjakan suatu tugas
a. Tingkat kemampuan mengerjakan tugas yang diberikan oleh pimpinan
b. Kemampuan memahami sesuatu secara rinci
Ordinal 1-2
3
b. Pengetahuan mengenai peraturan perusahaan
a. Pengatahuan dan pemahaman peraturan
Ordinal 4
sehingga organisasi tersebut dapat mencapai hasil yang
diharapkan (Hutapea, 2008).
2. Keterampilan (Skill)
a. Keterampilan mengerjakan suatu tugas
a. Kemampuan mengerjakan tugas
Ordinal 5
b. Keterampilan dalam bekerja
a. Tingkat dorongan untuk memiliki keterampilan
Ordinal 6
3. Sikap Perilaku (Values and Attitude)
a. Sikap karyawan dalam pekerjaan
a. Kepentingan publik dan sensitivitas terhadap tanggungjawab sosial
b. Dapat
bertanggungjawab c. Peraturan yang
berlaku
Ordinal 7
8 9
Locus of Control (X3) Locus of Control atau lokus
pengendalian merupakan suatu kendali individu atas pekerjaan sendiri dan kepercayaan pribadi. Locus of control mengacu pada suatu
penambahan seseorang individu
1. Internal locus of control
(Busro, 2017)
a. Suka bekerja keras
a. Bertahan dalam menghadapi kesulitan b. Tekun dan rajin
melakukan pekerjaan untuk mencapai tujuan
Ordinal 1
2
b. Memiliki inisiatif tinggi
a. Mencari cara sendiri untuk mencapai tujuan b. Melakukan tugas
dengan kesadaran sendiri
Ordinal 3
4
c. Berusaha untuk menemukan pemecahan masalah
a. Mampu mengambil keputusan untuk menghadapi masalah
Ordinal 5
memiliki kemampuan untuk menghubung- kan faktor eksternal yang berhubungan dengan deposisi (pengendapan) persepsi setiap individu.
(Busro, 2017a)
2. Eksternal locus of control (Busro, 2017)
a. Tidak bekerja keras
a. Mudah menyerah Dan Tidak tekun
Ordinal 6
b. Kurang inisiatif a. Tidak melakukan sesuatu agar mencapai tujuan
Ordinal 8
a. Berharap pada faktor luar
a. Meyakini kekuatan dari luar yang menentukan nasib, keberuntungan
Ordinal 9
b. Bergantung pada faktor luar
b. Yang terjadi pada dirinya karena lingkungan
Ordinal 7
c. Kurang solutif a. Bergantung pada petunjuk orang lain
Ordinal 10
Kecenderungan Kecurangan Akuntansi (Y)
Fraud adalah perbuatan- perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu (manipulasi atau
memberikan laporan keliru terhadap pihak lain) dilakukan oleh orang- orang dari dalam atau luar organisasi untuk mendapatkan keuntungan
1. Peluang (Opportunity)
a. Penyalahgunaan aset (Asset
Misappropriation)
a. Pencurian aset lain untuk mengambil keuntungan
Ordinal 1-3
2. Tekanan (Pressure)
a. Kecurangan laporan keuangan (Fraudulent statment)
a. Menyajikan laporan keuangan yang bukan sebenarnya
Ordinal 4-8
3. Pembenaran (Rationalizati on)
b. Korupsi (Corruption)
a. Penyalahgunaan wewenang b. Penerimaan yang
tidak sah/ illegal c. Pemerasan secara
ekonomi
Ordinal 9-12
pribadi atau kelompok yang secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain.
(ACFE, 2016).
Sumber: Data dikumpulkan peneliti (2019)
3.2.3. Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam peneltian ini data kuantitatif berupa nilai atau skor yang telah diolah dari hasil tanggapan responden yang menjawab pernyataan dibagikan kepada pegawai Badan Keungan dan Aset Daerah di Kabupaten Bandung. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dihasilkan dari tanggapan responden terhadap kuesioner yang diberikan. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari BKAD di Kabupaten Bandung. Metode pengumpulan ini dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
3.2.4. Populasi dan Sampel A. Populasi Penelitian
(Sugiyono, 2017) mendefinisikan “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya”.
Populasi dalam penelitian ini adalah Badan keuangan dan aset daerah Kabupaten Bandung. Dari pengertian yang sudah dipaparkan menunjukan bahwa populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek dan obyek itu.
B. Sampel Penelitian
Menurut (Sugiyono, 2017) Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sampel Nonprobabilitas (Nonprobability Sampling). Menurut (Sugiyono, 2017) menyatakan bahwa “Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel teknik Nonprobability Sampling ini meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling insidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling.
Sedangkan cara pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling jenuh. (Sugiyono, 2017) “Sampling jenuh merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini
sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota dijadikan sampel”.
3.2.5. Teknik Pengumpulan Data
(Sugiyono, 2017) teknik pengumpulan data dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Interview (Wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasar diripada laporn tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Sutrisno Hadi (1986) dalam buku (Sugiyono, 2017) menegmukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan juga kuesioner (angket) adalah sebagai berikut:
a. Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.
b. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
c. Bahwa interprestasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.
2. Kuesioner (Angket)
(Sugiyono, 2017) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variable yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet. Bila penelitian dilakukan pada lingkup yang tidak terlalu luas, sehingga kuesioner dapat diantarkan langsung dalam wkatu tidak terlalu lama, maka pengiriman angket kepada responden tidak perlu melalui pos.
dengan adanya kontak langsung antara penliti dengan responden akan menciptkan suatu kondisi yang cukup baik, sehingga responden dengan sukarela akan memberikan data obyektif dan cepat.
Jenis kuesioner yang digunakan oleh peneliti adalah kuesioner tertutup, yaitu kuesioner yang sudah tersedia jawabannya dari masing-masing pertanyaan. Untuk setiap pilihan dari jawaban tersebut diberikan skor, responden diharuskan menggambarkan, mendukung atau tidak mendukung pernyataan tersebut.
3. Observasi
(Sugiyono, 2017) observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Jika wawancara dan kuesioner selaluberkomunikasi dengan orang, maka obserbvasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitan berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation(observasi berperan serta) dan non participant observation, selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
3.2.6. Rancangan Analisis Data dan Hipotesis A. Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas dan realibilitas instrument penelitian merupakan hal yang paling utama dalam meningkatkan efektivitas proses pengumpulan data. Pengujian ini dilakukan agar pada saat penyebaran kuesioner instrument-instrumen penelitian tersebut sudah valid dan reliabel (reliable), yang artinya alat ukur untuk mendapatkan data sudah dapat digunakan.
1. Uji Validitas Instrumen
Suatu instrument dinyatakan valid apabila mampu yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variable yang diteliti secara tepat. Pengujian validitas adalah pengujian yang ditujukan untuk mengetahui suatu data dapat dipercaya kebenarannya sesuai dengan kenyataan. Instrument yang valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2015). Uji validitas instrument yang digunakan adalah validitas isi dengan analisis item, yaitu menghitung kolerasi antara skor butir instrument dengan skor total (Sugiyono, 2014). Teknik kolerasi untuk menentukan validitas item ini merupakan teknik yang paling banyak digunakan dan item yang mempunyai korelasi positif dengan kriterium (skor total) serta kolerasi yang tinggi, menunjukan bahwa item tersebut memiliki validitas yang tinggi pula (Sugiyono, 2014). Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik korelasi bertujuan untuk menentukan validitas pada tiap-tiap item, jika kolerasi tinggi maka menunjukan bahwa item tersebut memiliki validitas tinggi. Syarat yang harus dipenuhi yaitu harus memenuhi kriteria jika r ≥ 0,3 maka item-item tersebut dinyatakan valid. Sedangkan jika r
≤ 0,3 maka item-item tersebut dinyatakan tidak valid.
Rumus untuk menguji validitas yaitu menggunakan korelasi person (product moment) adalah: Untuk menghitung korelasi pada uji validitas menggunakan metode Pearson Product Moment, dengan rumus sebagai berikut
Rxy = n (∑ X iYi) – (∑ X I).(∑ Y i) √ {n.∑xi2 – (∑xi)2} - {n. ∑y2 – (∑y)2} Sumber: (Sugiyono, 2015)
Keterangan:
rxy = Koefisien Korelasi
∑xy = Jumlah perkalian variabel x dan y
∑X = Jumlah nilai variabel x
∑y = Jumlah nilai variabel y
∑X2 = Jumlah pangkat dari nilai variabel x
∑y2 = Jumlah pangkat dari nilai variabel y n = Banyaknya sampel
Setelah angka korelasi diketahui, kemudian dihitung t dan r dengan rumus: r2
t =
𝒓√𝒏−𝟐√𝟏−𝒓𝟐
(Sugiyono, 2017)
Setelah itu dibandingkan dengan nilai kritisnya. Bila Bila thitung˃ ttabel,berarti data tersebut signifikan (valid) dan layak digunakan dalam pengujian hipotesis penelitian. Sebaliknya thitung ˂ ttabel, berarti data tersebut tidak signifikan (tidak valid) dan tidak akan diikutsertakan dalam pengujian hipotesis penelitian.
2. Uji Realibilitas Instrumen
Uji reliable instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Realibilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen, oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitasnya perlu dilakukan (Sugiyono, 2017). Uji realibilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Alpha Cronbach yang merupakan
koefisien yang paling umum digunakan untuk mengevaluasi internal consistency (Sugiyono, 2017). Adapun rumusnya sebagai berikut:
n =
𝒌(𝒌−𝟏)
{𝟏 − Ʃ
𝑺𝒊𝟐𝑺𝒕𝟐
}
Sumber: (Sugiyono, 2017) Keterangan:
K = Mean kuadrat antara subyek
∑Si2 = Mean kuadrat kesalahan St2 = Varians total
Pemberian interprestasi terhadap reliabilitas variabel dapat dikatakan reliabel (realible) jika koefisien variabelnya lebih dari 0,6. Jika koefisien yang didapat kurang 0,6 maka instrumen penelitian tersebut dinyatakan tidak reliabel.
Apabila dalam uji coba instrumen ini sudah valid dan reliabel, maka dapat digunakan untuk pengukuran dalam rangka pengumpulan data.
B. Analisis Data
Berdasarkan (Sugiyono, 2017) menyatakan bahwa “Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis ini yaitu mengelompokan data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan perhitungan untuk menguji hipotesis yang diajukan”.
Analisis data dalam penelitian dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan verifikatif. Dalam
melakukan analisis terhadap data yang dikumpulkan untuk mencapai suatu kesimpulan, peneliti melakukan perhitungan pengolahan dan penganalisaan dengan bantuan dari program software IBM SPSS Statistik versi 20 (Statistical Product and Service Solution) untuk meregresikan model yang telah dirumuskan.
Adapun tahapan analisis data yang akan dilakukan untuk melakukan pengujian adalah sebagai berikut:
1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah analisis yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi (Sugiyono, 2017).
Data kontinum adalah data kuantitatif yang satu sama lain berkesinambungan dalam satu garis. Data kontinum dibedakan menjadi tiga yaitu ordinal, interval dan ratio, dalam penelitian ini menggunakan data ordinal.
Berdasarkan (Sugiyono, 2017). Untuk memperoleh data kuantitatif dalam penelitian ini digunakan kuesioner dengan daftar pernyataan sebanyak 64 pernyataan kemudian kuesioner tersebut dijawab oleh 30 responden, yang merupakan staff keuangan dan aset daerah yang ada di Dinas Kabupaten Bandung. Jawaban responden kemudian diberi skor dengan menggunakan skala likert. Berdasarkan (Sugiyono, 2017) Skala likert yaitu skala yang digunakan mengukur sikap, pendapat, persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Jawaban setiap instrumen yang menggunakan skala likert dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel III.2 Pernyataan Skala Likert
Sumber: (Sugiyono, 2017)
Analisis deskriptif dilakukan dengan cara menyusun tabel frekuensi distribusi, lalu perolehan nilai (skor) tanggapan responden terhadap setiap variabel penelitian dikategorikan sesuai peringkatnya, melalui presentase jumlah skor tanggapan responden dan perbandingan antara skor aktual dan skor ideal.
Skor aktual adalah hasil perhitungan seluruh jawaban responden sesuai klasifikasi nilai yang diberikan (1,2,3,4, dan 5). Sedangkan skor ideal adalah perolehan prediksi nilai tertinggi dikalikan dengan jumlah kuesioner dikalikan jumlah responden. Berikut adalah rumus untuk menentukan persentase skor.
Sumber: (Narimawati, 2010) Keterangan:
Skor aktual = Jumlah skor jawaban responden
Skor ideal = Jumlah skor maksimum (jumlah responden x jumlah pernyataan x 5) Selanjutnya hasil perhitungan perbandingan antar skor aktual dengan skor ideal diklasifikasikan dengan tabel sebagai berikut:
Jawaban Skala Nilai
(Positif)
Skala Nilai (Negatif)
Sangat setuju 5 1
Setuju 4 2
Ragu-ragu 3 3
Tidak setuju 2 4
Sangat tidak setuju 1 5
Tabel III.3
Kriteria Persentase Skor Tanggapan Responden
Sumber: (Narimawati, 2010)
Rata – rata persentase tanggapan responden mengenai variabel akan disajikan dalam garis kontinum seperti pada gambar berikut ini:
Sumber : (Mariah, 2018)
Gambar III.3 Garis Kontinum
Kemudian untuk perhitungan skor aktual dan skor ideal setiap variabel adakah sebagai berikut:
a. Pengendalian Internal (X1)
Untuk menilai variabel independent pengendalian internal dengan skor tertinggi 5 dari 22 pernyataan dengan jumlah responden 30, maka akan diperoleh kriteria sebagai berikut:
No % Jumlah Skor Kriteria
1 20.00 – 36.00 Sangat Tidak Baik
2 37.01 – 52.00 Tidak Baik
3 52.01 – 68.00 Kurang Baik
4 68.01 – 84.00 Baik
5 85.01 – 100 Sangat Baik
Skor aktual : jawaban 30 responden atas 22 pernyataan yang diajukan.
Skor ideal : bobot tertinggi 5 x 30 x 22 = 3.300 b. Kompetensi (X2)
Untuk menilai variabel independent kompetensi, dengan skor tertinggi 5 dari 9 pernyataan dengan jumlah responden 30, maka akan diperoleh skor sebagai berikut:
Skor aktual : jawaban 30 responden atas 9 pernyataan yang diajukan Skor ideal : bobot tertinggi 5 x 30 x 9 = 1.350
c. Locus of Control (X3)
Untuk menilai variabel independent locus of control, dengan skor tertinggi 5 dari 10 pernyataan dengan jumlah responden 30, maka akan diperoleh skor sebagai berikut:
Skor ideal : jawaban 30 responden atas 10 pernyataan yang diajukan Skor ideal : bobot tertinggi 5 x 30 x 10 = 1.500
d. Kecenderungan Kecurangan Akuntansi (Y)
Untuk menilai variabel independent kecenderungan kecurangan akuntansi, dengan skor tertinggi 5 dari 12 pernyataan dengan jumlah responden 30, maka akan diperoleh skor sebagai berikut:
Skor ideal : jawaban 30 responden atas 12 pernyataan yang diajukan Skor ideal : bobot tertinggi 5 x 30 x 12 = 1.800
2. Analisis Verifikatif
Analisis Verifikatif digunakan untuk menguji hipotesis hasil penelitian deskriptif dengan perhitungan statistika sehingga didapat hasil yang menunjukan hipotesis ditolak atau diterima. Analisis ini digunakan untuk
menunjukkan pengaruh variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y) baik secara Uji t (parsial) maupun Uji F (simultan) yang digunakan metode verifikatif yaitu menganalisis secara kuantitatif serta melakukan uji statistika.
a. Uji Asumsi Klasik
Pengujian yang harus dijalankan terlebih dahulu, sebelum dibuat analisis korelasi dan regresi, hal tersebut untuk menguji apakah model yang digunakan tersebut mewakili atau mendekati kenyataan yang ada. Untuk menguji kelayakan model regresi yang digunakan, maka harus terlebih dahulu memenuhi uji asumsi klasik. Terdapat tiga jenis pengujian pada uji asumsi klasik ini:
1) Uji normalitas
(Sugiyono, 2015) menyatakan bahwa “penggunaan statistic parametris mensyaratkan bahwa data setiap variable yang akan dianalisis harus berdistribusi normal, oleh karena itu sebelum pengujian hipotesis dilakukan maka terlebih dahulu akan dilakukan pengujian normalitas data”. Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah nilai residual berdistribusi normal atau tidak, karena model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang berdistribusi normal. Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan dengan berbagai macam analisis normalitas. Dalam penelitian penulis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk menentukan normal tidaknya data. Kriteria yang digunakan adalah apabila hasil perhitungan Kolmogorov-Smirnov dengan 2 sisi lebih besar dari 0,05.
a. Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah normal.
b. Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah tidak normal.
2) Uji Multikolinieritas
(Sugiyono, 2015) menyatakan bahwa “multikolinieritas merupakan salah satu asumsi dalam penggunaan analisis regresi” beberapa cara untuk mendeteks masalah multikolinieritas menurut (Sugiyono, 2015) adalah sebagai berikut:
a) Nilai R2 yang dihasilkan dari hasil estimasi model empiris sangat tinggi, tetapi tingkat signifikansi variabel bebas berdasarkan uji t statistic sangat kecil atau bahkan tidak ada variabel bebas yang signifikan (high R2 but few significant t rations)
b) Nilai kolerasi antar regressor atau variabel bebas diatas atau melebihi 0,80
c) Menggunakan pengujian korelasi parsial (Examination of partial) d) Auxiliary Regresion
e) Eigenvalues dan condition index
f) Tolerance and Valuances Inflation Factor (VIF)
g) Pada penelitian ini pengujian multikolinieritas menggunakan cara
“Tolerance and Valuances Inflation Factor (VIF)” pedoman yang digunakan untuk menentukan multikolinieritas menurut (Sugiyono, 2015) adalah apabila nilai VIF dari satu variabel melebihi 10 dan ini akan terjadi bila R2 0,90 maka variabel tersebut dikatakan
berkolerasi sangat tinggi (kolinier). Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai VIF tidak melebihi 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 maka model tersebut dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas.
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.
Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah dimana terdapat kesamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap atau disebut homoskedastisitas. Deteksi hetrokedastisitas dapat dilakukan dengan metode sccaterplot dengan memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul ditengah, menyempit kemudian melebar kemudian menyempit (Sugiyono, 2015).
4) Uji Autokolerasi
(Sugiyono, 2015) menyatakan bahwa “Autokolerasi merupakan salah satu asumsi dalam model regresi linier” uji auto kolerasi digunakan untuk mengetahui apakah dalam persamaan regresi terdapat kondisi serial atau tidak antara variabel pengganggu. Beberapa uji statistik yang sering dipergunakan uji Durbin Watson dan uji Run Test.
Kriteria uji Durbin-Watsonadalah sebagai berikut:
DW < DL, berarti ada autokolerasi (+) dL < DW < Du , tidak dapat disimpulkan
dU < DW < 4-DU, berarti tidak terjadi autokolerasi 4-Du < dw < 4- dL, tidak dapat disimpulkan
DW > 4-dL, berarti ada kolerasi negatif (-)
Dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin-Watsonuntuk menentukan autokolerasi. Uji auto korelasi yang baik adalah dU <
DW < 4-DU, berarti tidak terjadi autokolerasi.
3. Analisis Linear Berganda
(Sugiyono, 2017) “analisis regresi ganda digunakan oleh penliti, bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor predictor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya).”
Persamaan regresi linier berganda digunakan untuk menguji apakah variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen secara simultan maupun parsial. Analisis regresi linier berganda dirumuskan sebagai berikut:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4X4+€
Sumber: (Sugiyono, 2017) Keterangan :
Y = Kecenderungan Kecurangan Akuntansi a = nilai konstansta
B1,b2,b3 = koefisien regresi X1 = Pengendalian internal
X2 = Kompetensi
X3 = Locus of Control
dengan menggunakan rumus persamaan seperti yang dikutip dalam (Sugiyono, 2014) yaitu:
Sumber: (Sugiyono, 2014)
Gambar III.4
Persamaan Regresi Linear Berganda Keterangan:
: Uji Secara Parsial : Uji Secara Simultan
4. Analisis Koefisien Korelasi
Analisis korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan apabila ada, berarti seberapa erat hubungan tersebut serta apakah hubungan tersebut berarti atau tidak. Arah dinyatakan dalam bentuk hubungan positif atau negatif, sedangkan kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi. Pengujian korelasi pada penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara Pengendalian internal, Kompetensi dan Locus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi dengan menggunakan pendekatan koefisien korelasi antara variabel berskala interval atau rasio.
Rxy = 𝑛 ((∑XiY)− (∑Xi) (∑y)
√[n∑Xi2 – (∑Xi)2] [ 𝑛 ∑Y2− (∑Y)2]
Sumber: (Sugiyono, 2017) X1
X2 Y
X3
Keterangan:
r = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
∑X = Jumlah skor yang diperoleh dari responden yang diuji
∑Y = Jumlah skor seluruh item dari keseluruhan responden yang diuji N = jumlah data
Interpretasi dari nilai koefisien korelasi :
Jika r = -1 atau mendekati, artinya korelasi negatif sempurna Jika r = 0, artinya tidak ada korelasi
Jika r = +1 atau mendekati, artinya korelasi positif sangat kuat.
Interpretasi terhadap hubungan korelasi atau seberapa besarnya pengaruh variabel-variabel tidak bebas, digunakan pedoman interpretasi koefisien korelasi nilai r dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel III.4.
Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199 Sangat Rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,81 – 1,000 Sangat Kuat Sumber: (Sugiyono, 2017)
5. Analisis Koefisien Determinasi (R2)
a. Analisis Koefisien Determinasi Simultan
Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh analisis koefisien determinasi (Kd) digunakan untuk melihat seberapa besar variabel independen (X) berpengaruh terhadap variabel dependen
(Y), yang dinyatakan dalam persentase. Besarnya koefisien determinasi dihitung dengan rumus yang dikemukakan (Sugiyono, 2017) sebagai berikut:
Sumber : (Sugiyono, 2017) Keterangan:
Kd = Koefisien determinasi
r2 = Kuadrat koefisien determinasi Kriteria analisis koefisien determinasi:
1) Jika Kd mendekati nol (0), artinya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen lemah.
2) Jika Kd mendekati satu (1), artinya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen kuat.
b. Analisis Koefisien Determinasi Parsial
Koefisien determinasi parsial digunakan untuk menemukan besarnya pengaruh dari satu variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) secara parsil. Berdasarkan (Gujarati, 2012). Rumus untuk menghitung koefisien determinasi secara parsial yaitu :
Kd = B X Zero Order X 100%
Keterangan:
B = beta (nilai standardized coefficients)
Zero Order = Matrix korelasi variabel bebas dengan variabel terikat Kd = r2 x 100%
C. Rancangan Uji Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Secara statistik hipotesis diartikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian (Sugiyono, 2017). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya pengaruh dari variabel independen Pengendalian Internal, Kompetensi dan Locus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi secara parsial maupun simultan. Hipotesis nol (Ho) tidak dapat berpengaruh signifikan dan hipotesis alternatif (Ha) mewujudkan adanya pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat. Berdasarkan rumuan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka dalam penelitian mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Rancangan Hipotesis Deskriptif Pengendalian Internal a. Pengujian Hipotesis Deskriptif Pengendalian Internal
H1 : Pengendalian Internal di Kabupaten Bandung Sudah baik
Ho : Pengendalian Internal di Kabupaten Bandung masih kurang baik.
Kriteria dalam penentuan hipotesis deskriptif dapat dilihat dari garis kontinum 1) H1 : diterima, jika rata-rata Pengendalian Internal > 69%
2) Ho : ditolak, jika rata-rata Pengendalian Internal < 69%
b. Pengujian Hipotesis Deskriptif Kompetensi H2 : Kompetensi di Kabupaten Sudah baik Ho : Kompetensi di Kabupaten masih kurang baik
Kriteria dalam penentuan hipotesis deskriptif dapat dilihat dari garis kontinum.
1) H2 : diterima, jika rata-rata Kompetensi > 69%
2) Ho : ditolak, jika rata-rata Kompetensi < 69%
c. Pengujian Hipotesis Deskriptif Locus of Control
H3 : Locus of Control di Kabupaten Bandung Sudah baik Ho : Locus of Control di Kabupaten Bandung masih belum baik
Kriteria dalam penentuan hipotesis deskriptif dapat dilihat dari garis kontinum.
1) H3 : diterima, jika rata-rata locus of control > 69%.
2) Ho : ditolak, jika rata-rata locus of control < 69%.
d. Pengujian Hipotesis Deskriptif Kecenderungan Kecurangan Akuntansi Kriteria dalam penentuan hipotesis deskriptif dapat dilihat dari garis kontinum.
H4 : diterima, jika rata-rata kecenderungan kecurangan akuntansi > 69%.
Ho : ditolak, jika rata-rata kecenderungankecurangan akuntansi< 69%.
2. Rancangan Hipotesis Verifikatif
a. Pengujian hipotesis secara parsial (Uji t)
Uji t (t-test) digunakan untuk menguji hipotesis secara parsial untuk menunjukan pengaruh tiap variabel independen secara individu terhadap variabel dependen. Uji t adalah pengujian koefisien regresi masing- masing variabel independen terhadap variabel dependen. Langkah- langkah pengujian dengan menggunakan Uji t adalah sebagai berikut:
1) Menentukan hipotesis
Hipotesis statistik yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:
a) Hipotesis parsial antara variabel Pengendalian Internal terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
H1 = H0 : β = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Pengendalian Internal terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi di Kabupaten Bandung.
Ha : β ≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara Pengendalian Internal terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi di Kabupaten Bandung.
b) Hipotesis parsial antara variabel Kompetensi terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
H2 = H0 : β = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Kompetensi terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
Ha : β ≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara Kompetensi terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
c) Hipotesis parsial antara variabel Locus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
H3 = H0 : β = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Locus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi Ha : β ≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antaraLocus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
b. Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 0,05 atau 5%, karena dinilai cukup untuk mewakili hubungan variabel-variabel yang diteliti, dan merupakan tingkat signifikan yang umum digunakan dalam suatu penelitian. ttabel dicari dengan menentukan degree of freedom (df) sebagai berikut:
Df = n – k
Keterangan:
K = banyaknya variabel n = banyaknya sampel c. Mencari nilai thitung
Rumus uji t yang digunakan adalah sebagai berikut:
t
hitung = r√𝑛−2
√1−𝑟2
Sumber: (Sugiyono, 2017)
Keterangan:
t = Nilai uji t
r = Koefisien korelasi r2= Koefisien determinasi n = jumlah periode d. Kriteria Pengujian
a. Secara Parsial
1) Jika tℎPositif, maka :
a) tℎ>𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙,maka Ho ditolak (signifikan)
b) tℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔<𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙,maka Ha diterima (tidak signifikan) 2) Jika thitung negatif, maka :
a) tℎ>𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙,, maka Ha diterima (signifikan) b) tℎ<𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka Ha ditolak (tidak signifikan) 3) Jika tSign < α 0,05 maka Ho ditolak
a) Jika t Sign > α 0,05 maka Ha diterima