Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 mengatur pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah dan pemerintah provinsi. Dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 ditegaskan bahwa sesuai amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan sesuai kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan daerah. pemerintah. Dengan adanya kriteria tersebut, nampaknya urusan pemerintahan sebaiknya berada di tangan pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota.
Apabila dampaknya bersifat lokal, maka urusan pemerintahan menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Apabila dampaknya lintas kabupaten/kota dan/atau wilayah, maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Akuntabilitas adalah ukuran pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan pertanggungjawaban Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tertentu kepada masyarakat.
Apabila dampak pelaksanaan langsung sebagian urusan pemerintahan hanya dirasakan secara lokal (satu kabupaten/kota), maka pemerintah daerah kabupaten/kota bertanggung jawab mengatur dan mengurus urusan pemerintahan tersebut. Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, hubungan pengawasan antara pemerintah dan pemerintah daerah bersifat pengawasan represif, khususnya terhadap produk hukum daerah. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang ditetapkan oleh undang-undang sebagai urusan pemerintahan (Pasal 18 ayat (5) UUD 1945).
Dengan demikian, implikasinya sangat luas dan banyak urusan pemerintahan yang diatur dan dikelola oleh masing-masing pemerintah daerah. Peraturan daerah dan keputusan kepala daerah sebagai peraturan perundang-undangan di tingkat daerah diambil untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah adalah satuan pemerintahan teritorial tingkat bawah yang mempunyai hak mengatur dan mengurus beberapa urusan pemerintahan seperti urusan keluarga daerah, yang terdiri dari kepala daerah dan DPRD.
Implikasi Pelaksanaan Pembangunan di Daerah
Permasalahan desentralisasi harus dilihat dari akar permasalahannya, yaitu pembangunan kesehatan nasional sebagai landasan pelaksanaan desentralisasi kesehatan. Pembangunan kesehatan masih dipahami sebagai persoalan teknis semata yang hanya melibatkan dokter, perawat, dan tenaga paramedis lainnya. Sementara dari sisi kebijakan dan visi pembangunan kesehatan belum banyak dibicarakan di ruang publik.
Pembangunan kesehatan nampaknya mampu secara otomatis melakukan perubahan untuk merespon perubahan sosial politik di masyarakat. Krisis ekonomi yang berlangsung sejak tahun 1997 mengingatkan kita bahwa pembangunan kesehatan bukan sekedar persoalan teknis. Wacana pembangunan kesehatan semakin menjauh dari paradigma yang menjadi landasan pengaturan dan pengendalian pembangunan kesehatan.
Oleh karena itu, praktik penerapan otonomi luas dan desentralisasi merupakan langkah nyata dalam mewujudkan pembangunan kesehatan manusia. Desentralisasi kesehatan juga menjadi urusan sektor kesehatan bagi pemerintah daerah yang harus bertanggung jawab kepada masyarakat (public accountability). Dengan demikian, pembangunan kesehatan menjadi salah satu kriteria penilaian kinerja pemerintah daerah dalam hubungannya dengan masyarakat.250.
Teknis pengelolaan dan pengawasan puskesmas, rumah sakit daerah, fasilitas kesehatan dan pengobatan diserahkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota. 7 Tahun 1987, urusan dan kelembagaan kesehatan yang dijalankan dan dimiliki oleh pemerintah daerah menjadi tanggung jawabnya sendiri. Pasal ketiga mengatur bahwa pemerintah daerah berhak menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar, termasuk pelayanan kesehatan dasar.
Selain kewenangan tersebut, pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengatur masalah tenaga kesehatan, pendidikan paramedis, pelatihan tenaga kesehatan, pengawasan biaya pelayanan kesehatan, dan pemberian izin sementara kepada swasta untuk bergerak di bidang kesehatan. Perencanaan kesehatan pemerintah daerah di bidang kesehatan memperhatikan seluruh sumber pendanaan dan dilaksanakan secara terpadu termasuk rumah sakit dan unit teknis penyelenggaraan kesehatan pemerintah daerah. Tanggung jawab dan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah daerah kabupaten pada hakikatnya serupa, namun berbeda dalam luas wilayah administratifnya, masing-masing terbatas pada wilayah kabupaten atau kota.
Perspektif Perencanaan Pembangunan Wilayah dalam Era Otonomi Daerah
Pemberdayaan Daerah dengan Desentralisasi (Otonomi Daerah) Berbagai macam pemikiran tentang penyelenggaraan sistem pemerintahan
Oleh karena itu, setidaknya ada tiga paradigma pemberdayaan yang harus disepakati semua pihak guna mewujudkan otonomi daerah yang sesungguhnya, yaitu: 261. Berhasil atau tidaknya proses pembangunan daerah akan sangat bergantung pada sejauh mana kualitas perencanaan sebagai kekuatan yang kuat. dan dasar kualitas untuk tahap implementasi dapat digunakan.267. Dari pemikiran tersebut timbul pertanyaan, perencanaan pembangunan daerah seperti apa yang dapat dikatakan berkualitas, kuat dan layak dijadikan landasan bagi pelaksanaan fungsi-fungsi selanjutnya.
Perencanaan pembangunan daerah dalam perspektif otonomi daerah diharapkan dapat mendorong eksistensi suatu daerah dalam menghadapi era global. Oleh karena itu, rencana pembangunan daerah yang dikembangkan harus berprinsip Indonesia dengan tetap memperhatikan perkembangan global. Perencanaan pembangunan daerah harus mempunyai landasan filosofis yang kuat dan berakar pada budaya masyarakat di daerah tersebut.
Perencanaan pembangunan daerah harus bersifat holistik, holistik atau holistik, sehingga mampu membangun aspek-aspek yang ada menjadi satu kesatuan dalam pembangunan. Perencanaan pembangunan wilayah harus mengakomodasi struktur tata ruang wilayah perencanaan, seperti pusat kota, perdesaan, daerah terpencil (daerah tangkapan air), pusat pertumbuhan, distribusi air, listrik dan sebagainya. Perencanaan pembangunan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan mendukung proses pembangunan nasional, dengan tetap bertumpu pada kekuatan, potensi, dan kebutuhan daerah itu sendiri.
Dengan demikian jelas bahwa perencanaan pembangunan daerah pada dasarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan pembangunan nasional. Artinya, pembangunan daerah harus dijadikan masukan bagi perumusan perencanaan pembangunan nasional. Perencanaan pembangunan daerah harus menggambarkan arah kebijakan, kemana daerah akan dituju, apa yang akan dilakukan dan apa tahapannya.
Dengan kata lain perencanaan pembangunan daerah harus mencerminkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang diinginkan. 270 Ishanders, 1995, Perencanaan Pembangunan Daerah, Makalah yang disampaikan pada pelatihan PRDP di Merauke, Irian Jaya, tidak dipublikasikan. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan daerah harus benar-benar digali berdasarkan potensi dan kondisi tata ruang daerah tersebut.
Otonomi Daerah di Indonesia: Das Sollen and Das Sein
Ada beberapa permasalahan yang perlu kita pahami secara mendalam agar otonomi daerah benar-benar terwujud dan tidak hanya sekedar basa-basi. Pertama, kita harus memahami bahwa otonomi daerah adalah suatu sistem pemerintahan dalam keseluruhan sistem ketatanegaraan. Artinya otonomi daerah merupakan suatu subsistem dalam sistem ketatanegaraan, dan merupakan suatu sistem yang utuh dalam pemerintahan.
Artinya, seluas apapun otonomi daerah dilaksanakan, namun dalam pelaksanaannya tetap tidak lepas dari kerangka sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, sangat tidak berdasar jika pemberlakuan otonomi daerah justru dianggap sebagai penyebab disintegrasi bangsa. Kedua, perlu dipahami juga bahwa pelaksanaan otonomi daerah yang baik dan benar memerlukan kemauan politik semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Ketiga, diperlukan komitmen bersama agar pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku, guna mencapai tujuan yang diharapkan. Produk hukum yang dikeluarkan pemerintah saat itu juga menunjukkan bahwa otonomi daerah sudah ada dalam pemikiran para pendiri negara kita. Masih segar dalam ingatan kita ketika pemerintahan Soeharto meluncurkan sistem percontohan di 26 daerah Tingkat II untuk melaksanakan otonomi daerah berdasarkan UU No.
Meskipun aspirasi pemerintahan Habibie terhadap otonomi daerah seluas-luasnya telah terakomodasi, namun ambivalensi pemerintah masih terlihat kuat dalam kebijakan baru tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa otonomi daerah adalah hak untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri. Dengan modal dasar berupa sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), kita akan mampu melaksanakan otonomi daerah dengan baik.
Tumbuhnya semangat otonomi daerah sebagai bagian dari agenda reformasi tidak boleh terdistorsi oleh kepentingan politik kelompok sektarian.286. Di era reformasi ini sudah sepatutnya kita memanfaatkan peluang yang diperoleh daerah untuk membangun daerahnya secara mandiri melalui penyelenggaraan pemerintahan daerah sendiri. Di sisi lain juga harus dipahami bahwa dalam membangun daerah/daerah dengan sistem pemerintahan daerah sendiri terdapat beberapa konsekuensi yang harus diwujudkan secara bersama-sama, seperti: 292.