BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
IMPLEMENTASI ATURAN PERLINDUNGAN PENDUDUK SIPIL DI WILAYAH KONFLIK ARMENIA AZERBAIJAN
A. Sejarah Konflik Armenia Azerbaijan dan Dampaknya Bagi Penduduk Sipil 1. Sejarah Konflik Armenia-Azerbaijan
Armenia dan Azebaijan merupakan dua negara saling berbatasan yang terletak di Eropa Timur dan merupakan dua negara yang terbentuk dari pecahan Negara Uni Soviet. Konflik Armenia Azerbaijan bukanlah konflik yang baru, melainkan konflik yang telah terjadi dari puluhan tahun yang lalu hingga kini konflik-pun masih terus berlanjut. Penyebab utama yang menjadi akibat daripada konflik tersebut yaitu perebutan wilayah Nagorno-Karabakh yang tepatnya berada pada wilayah perbatasan kedua negara tersebut. Nagorno-Karabakh adalah sebuah wilayah yang terletak dibagian Kaukasus (sebuah kawasan diantara Laut Hitam dan Laut Kaspia), tepatnya 270 km sebelah barat Kota Baku (kota terbesar di Azerbaijan dan sekaligus merupakan Ibu Kota Azerbaijan). Kaukasus sendiri adalah wilayah geopolitik yang terletak diperbatasan Eropa Timur dan Asia Barat Daya, yang juga wilayah ini disebut
Transkaukasia atau The Transkaukasus. Wilayah ini juga merupakan produsen minyak bumi, mangan, teh, jeruk dan anggur.1
Sejak berabad-abad, ketegangan antara Armenia dan Azerbaijan yang sama-sama mendiami tanah Kaukasus Selatan ini berpusat diwilayah seluas 4.400 kilometer persegi bernama karabakh. Dunia internasional mengakui wilayah itu adalah bagian dari Republik Azerbaijan, tetapi disana sebagian besar wilayahnya diperintah secara mandiri dibawah Republik Nagorno-Karabakh, yang sekarang juga dikenal dengan sebutan lain yaitu Republik Artsakh, yang mayoritasnya dihuni oleh etnis Armenia.
Sejak Perang Dunia I terjadi, wilayah Nagorno-Karabakh telah menjadi rebutan dan sengketa bagi orang-orang Armenia, Azerbaijan, Inggris, dan Turki Utsnami.
Namun sebelumnya, jika dilihat kembali sebelum Perang Dunia I terjadi, sejak tahun 428 M, wilayah Karabakh secara bergiliran berada dibawah pengaruh kekuasaan Persia, Arab, Seljuk, Mongol, Turki, Persia, dan Turki. Namun dari semua peristiwa penjajahan Karabakh oleh negara-negara diatas, yang punya dampak paling signifikan adalah pada masa atau waktu dijajah oleh Negara Persia dan Rusia. Dua penguasa di zaman berbeda ini memecah-mecah wilayah Kaukasus itu menjadi bagian kecil, saling berebut, hingga meninggalkan warisan pelik pada perkembangan wilayah, demografis, dan politik dimasa depan.2
Dibawah pemerintahan Uni Soviet, wilayah itu dinamai Nagorno-Karabakh yang berarti Pegunungan Karabakh, penamaan tersebut didasarkan pada geografis wilayah
1 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kaukasus_Selatan.
2 https://tirto.id/apa-penyebab-konflik-armenia-dan-azerbaijan-di-nagorno-karabakh.
tersebut yang bergunung-gunung. Karabakh sendiri berasal dari serapan bahasa Turki dan Persia yang berarti Kebun Anggur Hitam. Pada tahun 1921, Pemerintahan Uni Soviet menggabungkan wilayah yang didominasi etnik Armenia tersebut kedalam wilayah Azerbaijan. Setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, separatis Armenia mengambil Nagorno-Karabakh dalam sebuah insiden yang didukung oleh Pemerintah Armenia.
Ohannes Geukjian dalam tulisannya Ethnicity, Nationalism and Conflict in the South Caucasus : Nagorno-Karabakh and the Legacy of Soviet Nationalities Policy, (Etnisitas, Nasionalisme dan Konflik di Kaukasus Selatan : Nagorno-Karabakh dan Warisan Kebijakan Kebangsaan Soviet), mencatat bahwa orang Armenia menyebut wilayah Karabakh sebagai Artskh atau Ashkharatsuits seperti yang tercantum pada peta Armenia Raya diabad ke-7, serta bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Armenia, sampai kejatuhannya pada tahun 428 M. Sedangkan orang Azerbaijan sendiri menganggap bahwa nenek moyangnya berasal dari Daghlyg Garabagh (Pegunungan Karabakh), karenanya orang Azserbaijan selalu menganggap Karabakh adalah bagian dari wilayah negara mereka. Atas dasar persoalan inilah kedua negara yakni Armenia dan Azerbaijan, sejak barabad lampau hingga sekarang masih berseteru.3
Sebelum Perang Dunia I terjadi, ketegangan antara etnis Armenia dan etnis Azerbaijan tidak terbatas pada latar belakang politik dan teritorial saja, tetapi juga bersifat etnis dan ekonomi. Hal ini dilihat dari reaksi anti Armenia oleh Azerbaijan,
3 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kekaisaran-Rusia
yang timbul atas migrasinya orang Armenia ke kota Baku, pada saat ladang-ladang minyak di kota Baku ditemukan sejak 1870-an. Orang-orang Armenia dari pegunungan Karabakh, Zangezur, dan provinsi-provinsi timur Kekaisaran Utsnami berbondong- bondong menyerbu kota Baku, dan banyak dari anggota warga mereka yang diterima menjadi anggota pekerja pada perusahan/industri minyak tersebut, serta menjadi pengawas atas beberapa pekerjaan tersebut. Sedangkan nasib orang-orang Azerbaijan, beberapa dari anggota mereka saja yang terima, dan itupun dijadikan sebagai tenaga/pekerja kasar dan anggota lainnya tidak diterima untuk menjadi pekerja dalam perusahan/industri tersebut, dengan alasan bahwa dianggap kurang terampil.
Pada periode 1990-an, pekerjaan terbaik di Baku dijalankan oleh orang-orang Armenia yang menguasai 29% industri disana. Dalam hal angkatan kerja, orang-orang Armenia terdiri dari 25-29%. Hal ini menjadikan orang Armenia berada pada urutan kedua setalah orang Rusia, dalam hal keterampilan dan perolehan upah yang tinggi.
Dalam artikel Maping the Nagorno-Karabakh Conflict (memetakan konflik Nagorno- Karabakh) tahun 2018, yang dihimpun oleh University of Kent (Universitas Kent) di Inggris, pasca Perang Dunia I antara tahun 1918 sampai 1920, Armenia dan Azerbaijan memperoleh kemerdekaannya dari Kekaisaran Rusia dan berdiri sendiri sebagai sebuah negara republik yang bertetangga, yang sama-sama mendiami wilayah Kaukasus Selatan. Namun kemerdekaan tersebut, turut membawa serta masalah sengketa wilayah
Nagorno-Karabakh yang secara resmi berbatasan penuh dengan Azerbaijan namun banyak dihuni oleh orang Armenia.4
Berdirinya Uni Soviet pada tahun 1922 membawa babak baru dalam penyelesaian sengketa wilayah tersebut. Setelah pemerintahan Bolshevik (suatu fraksi mayoritas yang bergaris keras dari Rusia) menganeksasi Azerbaijan, Armenia, dan Georgia, Nagorno-Karabakh diberi status Nagorno-Karabakh Autonomous Oblast (NKAO) dan memasukannya sebagai bagian dari Republik Soviet Azerbaijan dimana 95 % penduduknya ber-etnis Armenia.
Warga Armenia yang selama ini terkurung dilautan mayoritas Azerbaijan dan menjadi sasaran diskriminasi, menggunakan momentum keretakan Soviet untuk menyatakan kemerdekaannya. Pada tanggal 20 Februari 1988, parleman NKAO atau Nagorno-Karabakh Autonomous Oblast mengusulkan diri untuk berpisah dari Azerbaijan dan ingin bergabung dengan Republik Armenia, sejak itulah ketegangan antara orang Armenia dan Azerbaijan meningkat dan berakhir menjadi peperangan.
Eskalasi peperangan mulai meningkat pada awal 1990-an ketika pasukan Armenia Karabakh yang didukung oleh Republik Armenia menguasai sebagian besar barat daya Azerbaijan termasuk Nagorno-Karabakh. Sementara di kota Baku, unjuk rasa anti Armenia berubah menjadi kekerasan.
4https://www.kompas.com/global/read/2020/09/28/074911470/konflik-armenia-azerbaijan- latar-belakang-dan-campur-tangan-negara-lain.
Setelah Soviet bubar pada tahun 1991, peperangan antara Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh makin memanas. Pada awal 1992, Nagorno- Karabakh menyatakan kemerdekaanya dari Azerbaijan dan menjalankan pemerintahan sendiri. Dalam geopolitik Kaukasus Selatan, Rusia berpihak pada Armenia sebagai mitra penting di Kaukasus, sedangkan Turki condong ke Azerbaijan, dan Iran yang memiliki populasi orang Azerbaijan terbesar cenderung mendukung langkah negara tetangganya itu. 5
Seiring runtunhya Uni Soviet, membuat Armenia dan Azerbaijan terus mengklaim Nagorno-Karabakh sebagai milik mereka. Saling lempar kesalahan atas siapa yang menyerang terlebih dahulu membuat konflik semakin rumit dan jauh dari penyeelesaian. Pada bulan Maret 1992, diputuskan bahwa Organization for Security and Coorperation in Europe (OSCE) harus memimpin upaya mediasi masyarakat internasional. Minsk Group yang merupakan badan mediasi dari OSCE yang bertugas mempelopori untuk menemukan solusi damai bagi konflik Nagorno-Karabakh yang diketuai oleh Perancis, Federasi Rusia, dan Amerika Serikat atau dikenal dengan Co- Chair. Kemudian OSCE berkembang menjadi forum negosiasi de facto pada konflik tersebut.
Memasuki tahun-tahun berkutnya, konflik yang memiliki akar panjang ini belum menemukan penyelesaian hingga sampai kepada PBB. Pasukan Armenia mengambil Nagorno-Karabakh dan beberapa daerah sekitarnya, hal ini membuat Azerbaijan
5 Tony Firman, Sejarah Perang Nagorno-Karabakh, Dikutip dari Artikel “Bara Nagorno- Karabakh yang Kunjung Padam”, diakses pada 30 Mey 2019.
sekitar 15% lebih kecil. Azerbaijan yang tidak menerima pendudukan Armenia yang begitu luas atas Nagorno-Karabakh, pada November 2004 akhirnya meluncurkan insiatif di Majelis Umum PBB untuk mengadopsi sebuah resolusi untuk mengidentifikasi dan mengutuk secara sistematis kebijakan Armenia. Hal ini terwujud melalui proses mediasi ulang pada bulan Desember 2005, yang mendapatkan sinyal positif dari kunjungan Group Perencanaan Tingkat Tinggi OSCE yang berlangsung hingga Januari 2006.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada tanggal 18-19 Januari 2006, yang mempertemukan antara Menteri Luar Negeri Armenia, Vartan Oskanian dan Menteri Luar Negeri Azerbaijan, Elmar Mammadyarov mengantarkan pada terbentuknya satu dokumen yang disebut dokumen London, yang mana berisi pendahuluan pendek yang menguraikan prinsip-prinsip untuk tindakan di masa depan. Setelah pertemuan antara presiden kedua belah pihak, yakni Presiden Armenia Robert Kocharian dan Presiden Azerbaijan Ilham Ilham Aliyev di Paris, yang mana menunjukkan dukungan tingkat politik atas usaha negara Co-Chair yang terdiri dari Rusia, Perancis dan Amerika Serikat di Minsk Group untuk menempa penyelesaian yang adil dan abadi dari konflik.
Selanjutnya pembukan Dewan Menteri OSCE diadakan di Madrid pada 29 November 2007. Perjanjian untuk menerima prinsip-prinsip Madrid sebagai dasar untuk negosiasi baru berlangsung pada tanggal 6 Juni 2008, pada pertemuan St.Petersburg dari Presiden Armenia dan Azerbaijan.
Walaupun dengan adanya upaya-upaya perdamaian yang dilakukan, namun konflik inipun terus semakin menyala. Melihat hal ini, Majelis Umum PBB akhirnya
mengadopsi pemecahan dengan memberi penegasan atas integritas teritorial Azerbaijan. Pada 18 Maret 2008, dimana memutuskan memerintahkan penarikan semua pasukan Armenia dari pendudukan di Nagorno-Karabakh. Hal ini memunculkan berbagai pendapat dari negara anggota, yang mana terdapat 39 negara mendukung, 7 negara menolak (Angola, Armenia, Prancis, India, Federasi Rusia, Amerika Serikat, Vanuatu) dan 100 negara memilih abstain atas keputusan tersebut. Dalam keputusan ini Majelis juga kembali menegaskan mengenai hak asasi penduduk Azerbaijan untuk kembali ke rumah mereka, dan tidak mempermasalahkan pendudukan yang sah di wilayah Azerbaijan, serta terus memberikan bantuan dalam situasi ini.
Langkah-langkah positif untuk mewujudkan harapan masyarakat internasional untuk melihat adanya perdamaian antara Armenia-Azerbaijan kembali kabur dan seolah hilang melihat konflik yang kembali meletus di wilayah-wilayah pendudukan.
Kedua negara masih memendam bara dalam sekam, beberapa kali gencatan senjata terus dilakukan dalam beberapa kesempatan, terutama selama bentrokan tahun 2008, bentrokan 2016 dan kembali di tahun 2020.
Tepatnya pada tanggal 18 Februari 2010, kembali terjadi proses penembakan diperbatasan yang memisahkan tentara Azerbaijan dan pasukan Armenia di Karabakh.
Dalam insiden ini, Azerbaijan menuduh Pasukan Armenia melepaskan tembakan ke posisi Azerbaijan. Azerbaijan juga menuduh Armenia telah menembaki pasukan mereka dengan senjata api ringan dan sniper.6
6https://www.kompas.com/global/read/2020/11/10/175055570/timeline-perang-azerbaijan- armenia-awal-mula-pelanggaran-dan-gencatan.
2. Dampak dari Konflik Armenia Azerbaijan terhadap Penduduk Sipil
Konflik antara kedua negara ini menjadi perhatian yang cukup serius, mengingat selama pertempuran sudah jatuh begitu banyak korban. Hubungan antara kedua negara ini terus mengalami ketegangan, jatuhnya korban sipil masih terus terjadi hingga sekarang, selain daripada korban yang meninggal, sejumlah orang pun juga terpaksa dievakuasi dari daerah konflik. Wartawan BBC, Khonul Khalilova menyebut bahwa terdapat laporan korban sipil baik dari pemerintah Azerbaijan maupun dari pemerintah Armenia. Kementrian Pertahanan di Karabakh yang disokong Armenia, juga melaporkan bahwa sebagian anak-anak pun turut menjadi korban dalam peristiwa ini.
Sejumlah saksi mata juga mengatakan bahwa sejumlah orang dievakuasi dari beberapa desa dekat zona konflik, bahkan ada warga yang bersembunyi diruang bawah tanah rumah mereka.
Menurut Dr. Kamal Makili-Aliyev dalam tulisannya Nogorno-Karabakh Conflict In International Legal Documents And International Law kejahatan perang yang umum terjadi dalam konflik Nogorno-Karabakh adalah perbuatan yang dilarang oleh Statuta Mahkamah, seperti pembunuhan yang disengaja terhadap tawanan perang dan penduduk sipil.
Kejahatan lain yang terjadi selama konflik Nogorno-Karabakh berlangsung yaitu berupa pengambilan sandra yang non-kombatan dari daerah yang diduduki dirampas kebebasannya, diperlakukan sewenang-wenang dan diancam, mereka dijadikan tameng atau membunuh dengan maksud dijadikan sebagai bentuk teror perlawanan.
Serangan demi serangan terus dilakukan pada area sipil atau lingkungan sipil, resiko kerusakan pun menjadi begitu berat. Transfer penduduk sipil secara langsung dan tidak langsung, yang mana selama konflik Nagorno-Karabakh lebih dari 450.000 ribu orang Azerbaijan dipaksa oleh pendudukan Armenia untuk pindah dari wilayah yang diduduki. Tidak hanya itu yang terjadi, kejahatan perang lainnya yang terjadi selama konflik Nagorno-Karabakh hingga hari ini yaitu seperti ; penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi, sengaja menyebabkan penderitaan besar atau luka serius pada tubuh atau kesehatan, menyerang atau membombardir kota, desa, tempat tinggal serta bangunan-bangunan lainnya.
Konflik Nagorno-Karabakh merupakan konflik yang sedikit mendapat perhatian Internasional. Karena kebencian antara etnis sipil yang mengakibatkan lingkungan politik tidak aman dan belum menunjukan adanya jalan damai yang berhasil, ditambah mengingat partisipasi regional juga tidak membantu sehingga perlu perhatian dari pihak Internasional untuk segera menyelesaikan sengketa untuk mendapatkan kesepakatan dan perdamaian.
Pada tanggal 25 Februari 1992, terjadi pembantaian besar terhadap etnis Azerbaijan di kota Khojaly. Hal ini menurut Human Rights Watch (Lembaga Hak Asasi Manusia) Azerbaijan dan pengamat internasional lainnya, pembantaian dilakukan oleh
angkatan bersenjata Armenia dengan bantuan Regimen Rusia ke-366. Jumlah korban yang tewas akibat dari kejadian pembantaian tersebut, adalah sebanyak 613 penduduk sipil, 106 wanita, dan 83 anak-anak.
Sampai tahun 1993, pasukan Armenia berhasil menguasai Nagorno-Karabakh dan menduduki 20% dari wilayah Azerbaijan. Luas wilayah Nagorno-Karabakh pun menjadi bertambah, dari 4.400 km2 menjadi 7.00 km2. The Washington Post (Pos Washington) mencatat peperangan itu menyebabkan 30.000 orang tewas, dan hampir satu juta orang kehilangan tempat tinggalnya karena mengungsi. Sebanyak 235.000 orang etnis Armenia melarikan diri dari berbagai daerah di Azerbaijan. Sebaliknya, orang Azerbaijan lari tuggang-langgang menginggalkan Nagorno-Karabakh.
lewat Protokol Bishkek (The Bishkek Protocol) pada tanggal 5 Mei 1994, yang diusulkan oleh perwakilan Kirgistan yaitu Medetkhan Sheremkulov disepakati gencatan senjata yang ditandatangani oleh Armenia dan Azerbaijan dan mulai efektif per 12 Mei 1994. Kendati demikian, perang tak pernah benar-benar usai. Kedua negara masih memendam bara dalam sekam. Beberapa kali gencatan senjata pun terus dilanggar.
Dikutip dari The Independent, sejak tanggal 12 Januari 1990, massa Azerbaijan membawa daftar nama dan alamat orang Armenia yang ada di Azerbaijan, mereka bergerak dari rumah ke rumah mencari orang Armenia untuk dijadikan objek kekerasan sebagai sarana balas dendam, namun sebagian besar dari 250.000 warga Armenia yang tinggal di kota Baku pada awal perang sudah melarikan diri, tetapi ada sekitar 50.000
orang yang masih tinggal menjadi target penyerangan. Para lansia diseret keluar dan dipukuli, berita soal pemerkosaan dan mutilasi menjadi hal yang luar biasa.
Berikut ini adalah data korban atas konflik Armenia Azerbaijan yang menurut Union of Relatives of the Artsakh War Missing in Action Soldiers (Persatuan Kerabat Tentara yang Hilang dalam Perang Artsakh), dari tahun 2008-2016.
Tahun Armenia Azerbaijan
2008 Tidak ada data Tidak ada data 2009 Tidak ada data Tidak ada data
2010 7 tentara 18 tentara
2011 10 tentara 4 tentara + 1 sipil 2012 14 tentara 20 tentara
2013 7 tentara 12 tentara
2014 27 tentara + 6 sipil 37 tentara + 2 sipil 2015 42 tentara + 5 sipil 64 tentara
2016 107 tentara + 5 sipil 101 tentara + 7 sipil
Selain tabel data korban diatas, dikutip pula dari wacana lain yang dalam Wikipedia bahwa, korban jiwa atas konflik tersebut dari tahun 2008-2016, korban jiwa pada Armenia berjumlah 214 tentara dan 16 warga sipil tewas. Sedangkan korban jiwa dari pihak Azerbaijan berjumlah 1.008 tentara, 90 warga sipil, dan pula yang terluka sebanyak 1.205 tentara dan 140 warga sipil. Sedangkan jika di lihat lagi kebelakang
pada konflik sebelum tahun 2008, yaitu ditahun 1988-1994 keseluruhan korban dari kedua negara tersebut berjumlah 28.000-38.000 jiwa yang tewas. Dan tepatnya di bulan Mey tahun 1994-2008, keseluruhan jumlah korban jiwa atas konflik tersebut juga berjumlah 3.000 orang.7
Konflik masih terus berlanjut hingga sampai pada tahun 2020, dikutip dari artikel Aditya Jaya Iswara didalam Moskwa, Kompas.com, Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari kamis tanggal 22 Oktober 2020 mengatakan bahwa hampir 5.000 orang tewas dalam lebih dari tiga minggu perang Azerbaijan Armenia di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh.8
Dalam konflik kali ini, Militer Karabakh juga menerangkan bahwa sebanyak 16 tentara mereka gugur, menjadikan mereka kehilangan 532 jiwa, yang dihitung bersama dengan korban warga sipil. Sedangkan Azerbaijan sendiri tak menjabarkan berapa jumlah pasukan mereka yang tewas, namun diperkirakan sekitar 42 warga sipil yang terbunuh akibat korban tersebut. Ombudsman HAM di Karabakh, Artak Beglaryan menyatakan bahwa ada sekitar 31 warga sipil yang tewas pada konflik hari senin 12 Oktober 2020.
Dari konflik tersebut, terlihat bahwa korban yang terjatuh begitu banyak.
Korban yang terjatuh bukan saja terjadi pada kaum Tenata/Kombatan, tetapi juga menewaskan begitu banyak warga sipil. Hal ini merupakan suatu dampak perang atau
7 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Konflik-Nagorno-Karabakh
8 https://www.kompas.com/global/read/2020/10/23/181050370/putin-korban-tewas-perang- azerbaijan-armenia-hampir-5000-orang.
konflik bersenjata bagi warga sipil, dalam daerah konflik, Hal inipun merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia dan juga merupakan bentuk pelanggaran terhadap hukum perang itu sendiri.
B. Implementasi Konvensi Jenewa 1949 Dalam Perlindungan Penduduk Sipil Di Wilayah Konflik Armenia-Azerbaijan.
Latar belakang sejarah kelahiran Konvensi Jenewa 1949 tidak bisa dipisahkan degan peristiwa Perang Dunia II, yang berakhir Tahun 1945. Peperangan yang berskala luas dan kejam itu menumbuhkan kesadaran dunia internasional untuk melindungi korban peperangan, khususnya warga sipil.9
Berkaitan dengan konflik Armenia Azerbaijan yang sudah terjadi selama puluhan tahun, dimana hal ini telah berdampak pada segala aktivitas penduduk daripada kedua negara tersebut. Suatu pelanggaran hukum perang atas konflik tersebut yang telah terjadi selama konflik berlangsung yaitu suatu tindakan kriminal yang dilakukan terhadap warga sipil. Berkaitan dengan tindakan kriminal terhadap warga sipil dalam suatu konflik bersenjata, secara yuridis, hukum internasional telah mengatur hal tersebut, dalam memberikan perlindungan terhadap penduduk sipil dalam konflik bersenjata. Pengaturan sebagaimana dimaksud, dapat dilihat pada beberapa Konvensi, diantaranya yaitu Konvensi Den Haag dan Konvensi Jenewa.
9 R. M. Siregar, Tinjauan Yuridis Konvensi Jenewa IV Tahun 1949 Terhadap Negara-Negara Yang Menurut Hukum Internasional. Skripsi Fak. Hukum Sumatera Utara, hal.2.
Keberadaan Konvensi Jenewa sendiri dibentuk pada tahun 1949, yang dalam konvensi ini sendiri, terbagi menjadi 4 bagian konvensi, sebagaimana yang telah dipaparkan dalam pembahasan Bab II penulisan ini. Secara khusus, pengaturan tentang perlindungan terhadap penduduk sipil, dirumuskan dalam Konvensi IV tentang Perlindungan Orang-Orang Sipil Dalam Waktu Perang.
Dalam membuat suatu kajian atau analisa proses peng-implementasian ketentuan-ketentuan Konvensi Jenewa (khususnya Konvensi Jenewa IV), dalam konflik Armenia Azerbaijan, hal ini benar-benar secara nyata telah terjadi suatu bentuk pelanggaran terhadap ketentuan dari apa yang telah diatur didalam konvensi tersebut.
Berdasarkan pada ketentuan Bagian II tentang Perlindungan Umum Penduduk Terhadap Akibat-Akibat Perang Tertentu, didalam Pasal 3 konvensi ini, menyatakan bahwa :
“Ketentuan-ketentuan dari Bagian II meliputi seluruh penduduk dari negeri yang bertikai, tanpa perbedaan yang merugikan apapun yang didasarkan atas ras, kewarganegaraan, agama, atau pendapat politik, dan dimaksudkan untuk meringankan penderitaan-penderitaan yang disebabkan oleh perang”. (“The provisionis of part II cover the entire population of the belligerent country, without any adverse distinction based on race, nationality, region or political opinion, which is intended to alleviate the sufferings caused by war”).
Dilihat bahwa berdasarkan pada ketentuan pasal tersebut, fakta yang terjadi dalam konflik Armenia Azerbaijan, telah melanggar pada ketentuan yang telah ditetapkan. Hal ini dibuktikan dengan data dan fakta dilapangan yang terjadi, dimana warga sipil dijadikan sebagai tameng, menjadi ancaman serta korban dalam konflik tersebut, dan juga tindakan kekejaman terhadap kaum wanita berupa pemerkosaan,
serta juga tindakan kriminalitas terhadap anak-anak, yang juga membawakan mereka kedalam korban jiwa. Sebagaimana dengan keberaadaan anak-anak yang menjadi korban atas konflik Armenia Azerbaijan ini, secara tidak langsung telah melanggar ketentuan Pasal 24 Konvensi IV, yang menyatakan bahwa10:
“Pihak-pihak dalam pertikaian harus mengambil tindakan yang perlu untuk menjamin bahwa anak-anak dibawah lima belas tahun, yatim piatu atau yang terpisah dari keluarganya sebagai akibat perang, tidak dibiarkan pada nasibnya sendiri, dan bahwa pemeliharaan, pelaksanaan ibadah dan pendidikan mereka selalu akan mendapat bantuan. Pendidikan mereka sejauh mungkin harus dipercayakan kepada orang-orang dari tradisi kebudayaan serupa”. (“Parties to the conflict shall take the necessary measures to ensure that children under the age of fifteen, orphaned or separated from their families as a result of war, are not left to their own fate, and that their care, pratice of worship and aducation will always be provided for. Help their aducation should as far as possible be entrusted to people of similar cultural traditions”).
“Pihak-pihak dalam pertikaian harus membantu usaha penerimaan anak-anak demikian di negeri netral selama berlangsungnya pertikaian, dengan persetujuan negara Pelindung, apabila perlu, dan dengan jaminan-jaminan yang sewajarnya untuk ditaatinya asas-asas yang tercantum dalam paragaf pertama”. (“The parties to the conflict shall assist in the acceptance pf such children in a neutral country during the duration of the dispute, with the consent of the protective power, if necessary, and with reasonable guarantees for the observance of the principles set out in the first paragraph”).
“Pihak-pihak dalam pertikaian selanjutnya harus berusaha supaya semua anak-anak dibawah 12 tahun dapat dikenal dengan jalan memakai cakram pngenal, atau cara-cara lainnya”. (“Parties to the dispute shall further endeavor to ensure that all children under 12 years of age can be identified by means of identification discs, or by other means”).
10https://www.academia.edu/13000136/Terjemahan Konvensi Jenewa IV tentang Perlindungan Orang-Orang Sipil dalam Waktu Perang.
Terkait dengan konflik Nagorno-Karabakh oleh Negara Armenia dan Azesrbaijan tersebut, Pemerintah Azerbaijan sendiri mengatakan bahwa infrastruktur masyarakat sipil dan gedung bersejarah rusak akibat dari pertempuran dalam konflik tersebut, rumah-rumah warga dirusak dan dihancurkan, hal ini membuat para warga terpaksa mengungsi, serta kehilangan tempat tinggalnya.11 Sebagaimana hal tersebut juga diatur dalam Pasal 15, yang menyatakan bahwa :
“Any party to the conflict may, through a neutral State, or through a humanitarian organization, propose to the opposing party to hold in areas where fighting is taking place, neutralized ones deling with (without any distinction) the consequences of war, to the following persons”. Setiap pihak dalam pertikaian dapat, secara langsung atau melalui negara netral, atau melalui suatu organisasi perikemanusiaan, mengusulkan kepada pihak lawan untuk mengadakan dalam daerah-daerah dimana pertempuran sedang berlangsung, daerah yang dinetralisir yang dimaksudkan untuk (tanpa suatu perbedaan) memberi lindungan dari akibat-akibat perang, kepada orang-orang berikut”
:
a.) Kombatan atau non-kombatan yang luka dan sakit (injured and sick combatants or non-combatants).
b.) Orang-orang sipil yang tidak turut serta dalam permusuhan, dan yang tidak melakukan pekerjaan yang bersifat militer selama berdiam dalam batas daerah- daerah netral itu (civilians who do not take part in hostilities, and who do not carry out work of a military nature while staying within the boundaries of the neutral area).
Jikalau pihak-pihak yang bersangkutan telah bermufakat tentang letak geografis, administrasi, perlengkapan makanan serta pengawasan dari daerah netral yang diusulkan, maka suatu persetujuan tertulis harus diadakan dan ditandatangani oleh wakil Pihak-Pihak dalam pertikaian. Persetujuan itu akan mengatur permulaan dan jangka
11https://www.bbc.com/indonesia/dunia-544429274.
waktu penetralan daerah itu. (If the parties concerned have agreed on the geographical location, administration, food supplies and control of the proposed neutral area, a written agreement must be made and signed by the parties to the dispute. The agreement will regulate the start and period of neutralization of the area).
Didasarkan pada ketentuan Pasal 15 ini, adanya upaya-upaya perdamaian atas konflik tersebut yang telah dilakukan dalam beberapa kali, baik pertemuan antara Presiden maupun Menteri Luar Negeri serta para mediator, pihak-pihak yang bertikai telah membuat pernyataan yang optimis bahwa perdamaian akan dicapai di tahun 2006.
Namun kenyataannya konflik pun masih terus terjadi hingga sekarang.
Berkaitan dengan persetujuan tertulis yang harus diadakan dan ditandatangani demi kenetralan atas konflik tersebut, sebagaimana pada bunyi konsiderans terakhir ketentuan Pasal 15 ini, adanya upaya yang juga telah dilakukan oleh organisasi internasional. Para Aktor-aktor yang terlibat dalam upaya konflik selain organisasi internasional untuk keamanan dan kerjasama di Eropa, yaitu Organization For Security and Cooperation In Europe (OSCE), juga terdapat keterlibatan organisasi internasional dan regional lainnya seperti Uni Eropa, Dewan Eropa, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), European for peaceful Settlement of the conflik of Nagorno-Karabakh (EPNK), European Movement International and Nation Councils, dan organisasi masyarakat sipil lainnya dalam upaya resolusi konflik perebutan Nagorno-Karabakh oleh Armenia dan Azerbaijan.
Terkait dengan tindakan pemerkosaan terhadap kaum perempuan dalam konflik Nagorno-Karabakh oleh Armenia dan Azerbaijan ini juga, sebagaimana telah melanggar ketentuan Pasal 27 paragraf kedua, yang menyatakan bahwa :
“Wanita harus terutama dilindungi terhadap setiap serangan atas kehormatannya, khusunya terhadap perkosaan, pelacuran yang dipaksaka, atau setiap bentuk serangan yang melanggar kesusilaan” (women should be especially protected against any attack on their honor, in particular against rape, forced prostitution, or any form of attack that violates decency).
Pada hakikatnya, Konvensi Jenewa IV ini juga telah memberikan pengertian dan penjelasan atas perbedaan objek sasaran atau penyerangan para anggota kombatan dalam keberadaan suatu konflik. Faktanya yang terjadi pada konflik Armenia dan Azerbaijan ini, ketentuan dalam hal tersebut tidak dihiraukan. Banyak tempat-tempat dimana warga sipil berada, selalu menjadi sasaran penyerangan, serta para warga juga dijadikan sebagai tameng dalam mengundang pihak lawan.12 Hal tersebut juga sebagaimana telah menjadi sebuah pelanggaran atas ketentuan Pasal 28 Konvensi tersebut yang menyatakan bahwa :
“Adanya seorang yang dilindungi tak boleh digunakan untuk menyatakan sasaran- sasaran atau daerah tertentu kebal dari operasi-operasi militer” (the presence of a protected person should not be used to imply that certain targets or areas are immune from military operations).
Konflik di daerah Nagorno-Karabakh antara Armenia dan Azerbaijan juga berdampak pada dilanggarnya ketentuan Konvensi Jenewa 1949, khususnya tindakan dan perbuatan yang berkaitan dengan pendduduk sipil. Penduduk sipil didaerah tersebut diambil sebagai sandera, dirampas kebebasannya, diperlakukan sewenang- wenang dan di ancam. Berkaitan dengan hal tersebut, sebagaimana dilihat didalam Pasal 34 menjelaskan bahwa :
12 Arlina Permatasari Dkk, Op Cit, hal.204.
“Penangkapan orang untuk dijadikan sandera (tanggungan) dilarang”. (the arrest of people to be used as hostages (dependents) is prohibited).
Sebagaimana hal tersebut juga diatur dalam Pasal 31 yang menyatakan :
“Terhadap orang-orang yang dilindungi tidak boleh dilakukan paksaan fisik atau moral, terutama untuk memperoleh keterangan-keterangan dari mereka atau dari pihak ketiga”.
(No physical or moral coercion should be applied to protected persons, especially to obtain information from them or third parties).
Namun pada kenyataannya yang terjadi ketika konflik kembali pecah, para warga yang sedang berada di negara lawan, mereka ditanggkap, diambil sebagai sandera, serta dijadikan tameng dalam menggundang para lawan dalam konflik.
Pada dasarnya, ketentuan-ketetuan dalam hukum internasional terkait dengan pencegahan dan perlindungan korban konflik bersenjata, supaya terhindar dari kekerasan yang berakibat buruk, terutama bagi penduduk sipil atau orang yang tidak berdaya. Pihak yang yang terlibat dalam konflik bersenjata wajib melindungi anggota angkatan bersenjata musuh yang telah jatuh ke tangannya dan orang-orang sipil dari berbagai tindakan kekerasan untuk tidak dianiyaya, disiksa, diperkosa dan dibunuh, sebagaimana berdasar pada ketentuan-ketentuan tentang cara berperang maupun tentang perlindungan yang mengikuti dan terlibat dalam perang yang diatur dalam Konvensi Jenewa 1949.13
13 Antonio Pradjasto, Konvensi Genosida Melindungi Hak Asasi Manusia-Memerangi Impunitas, Jurnal Hukum Jentera, Vol. II No.I, I Februari 2004, PSHK Jakarta, hal.65.