• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "BAB III"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Tata Cara Perolehan Sertifikat Produksi Industri Rumah Tangga (SPIRT) dari Balai Pengawas Obat dan Makanan

Pemenuhan pangan yang aman dan bermutu merupakan hak asasi setiap manusia, tidak terkecuali pangan yang dihasilkan oleh Industri Rumah Tangga.

Menurut Peraturan Kepala BPOM RI Nomor 12 Tahun 2016, pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan, termasuk pangan olahan tertentu, bahan tambahan pangan, pangan produk rekayasa genetik dan pangan iradiasi. Pangan olahan itu sendiri dibagi menjadi 2 yaitu pangan olahan skala rumah tangga yang disebut dengan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan pangan olahan skala industri dalam negeri.

Setiap Pangan Olahan baik yang diproduksi di dalam negeri atau yang dimasukan ke dalam wilayah Indonesia, untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran wajib memiliki surat persetujuan pendaftaran dari badan POM. Kecuali:

a. Diproduksi oleh IRTP ( Industri Rumah Tangga Pangan )

b. Mempunyai masa simpan kurang dari 7 (tujuh) hari pada suhu kamar

c. Dimasukan ke wilayah Indonesia dalam jumlah kecil untuk keperluan : sampel dalam rangka permohonan pendaftaran, penelitian, konsumsi sendiri

(2)

d. Digunakan lebih lanjut sebagai bahan baku dan tidak dijual secara langsung kepada konsumen akhir

e. Pangan yang dijual dan dikemas langsung di hadapan pembeli dalam jumlah kecil sesuai permintaan konsumen.

Selain yang disebutkan diatas, pangan olahan dalam negeri merupakan pangan olahan yang diproduksi dengan menggunakan alat otomatis, dalam jumlah besar, ruang produksi dengan ruang tempat tinggal yang terpisah, memproduksi makanan yang termasuk high risk, dan produk yang wajib SNI seperti gula, tepung, AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), garam dan minyak goreng. Adapun contoh pangan olahan yang wajib teregistrasi secara MD adalah:

1. Susu dan hasil olahannya;

2. Daging, ikan, unggas, dan lain-lain yang perlu penyimpanan beku;

3. Pangan kaleng berasam rendah;

4. Pangan bayi;

5. Minuman beralkohol;

6. AMDK;

7. Pangan wajib SNI;

8. Pangan berklaim, rekayasa genetika

Lembaga pemerintahan di Indonesia yang berwenang mengatur registrasi pangan olahan dalam negeri diseluruh wilayah Indonesia adalah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI. Di Ambon sendiri, terdapat Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM yaitu Balai Besar POM (BBPOM) Ambon yang

(3)

akan membantu Badan POM untuk melaksanakan kebijakan pengawasan obat dan makanan salah satunya adalah dalam hal registrasi produk pangan olahan. Balai Besar POM (BBPOM) Ambon akan melakukan audit/pemeriksaan sarana ke produsen, dan mengirimkan hasil pemeriksaan tersebut kepada kepala Badan POM (BPOM) dan untuk produsen itu sendiri. Adapun nilai hasil pemeriksaan yang harus dicapai adalah minimal B. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan oleh produsen adalah membuat surat permohonan PSB (Pemeriksaan Sarana dan Bangunan) ke Balai Besar POM (BBPOM) Ambon. Adapun alur audit sarana dapat dilihat pada gambar di Bawah ini :

(4)

Dari gambar diatas dapat diuraikan bahwa, proses pengajuan untuk mendapatkan SPIRT dimulai dengan memasukan permohonan pemasukan berkas ke petugas front office, setelah itu, dokumen akan diperiksa oleh petugas Wasdal, yang selanjutnya akan memeriksa seluruh kelengkapan dokumen. Jika semua dokumen telah dipenuhi, maka akan dilanjutkan dengan proses koordinasi untuk mendapatkan SPIRT.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam Pasal 111 ayat (1) menyatakan bahwa makanan dan minuman yang digunakan masyarakat harus didasarkan pada standar dan/atau persyaratan kesehatan. Terkait hal tersebut di atas, Undang-Undang tersebut mengamanahkan bahwa makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar, persyaratan kesehatan, dan/atau membahayakan kesehatan dilarang untuk diedarkan, ditarik dari peredaran, dicabut izin edar dan disita untuk dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam rangka produksi dan peredaran pangan oleh PIRT, Pasal 43 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan mengamanatkan bahwa pangan olahan yang diproduksi oleh industri rumah tangga wajib memiliki Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SP-IRT) yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota dan Kepala Badan POM menetapkan pedoman pemberian SP-IRT. Sementara itu, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota pada Bidang Kesehatan - sub

(5)

bidang Obat dan Perbekalan Kesehatan, mengamanatkan bahwa pengawasan dan registrasi makanan minuman produksi rumah tangga merupakan urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Di sisi lain, Pemerintah berkewajiban meningkatkan daya saing produk industri rumah tangga melalui peningkatan kesadaran dan motivasi produsen tentang pentingnya pengolahan pangan yang higienis. Mengingat hal tersebut di atas, dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan ditetapkan Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SP-IRT).

Berdasarkan Perka BPOM Nomor 12 Tahun 2016, telah dengan jelas disebutkan mengenai ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang Produksi IRT, yang terdiri dari :

1. Jenis Pangan Produksi IRT Yang Diizinkan Untuk Memperoleh SPIRT

Jenis pangan yang diizinkan untuk memperoleh SPP-IRT seperti tercantum pada Lampiran 6 Perka BPOM Nomor 12 Tahun 2016.

2. Tata Cara Pemberian SPIRT

a. Penerimaan Pengajuan Permohonan SP-IRT Permohonan diterima oleh Bupati/Walikota c.q. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan dievaluasi kelengkapan dan kesesuaiannya yang meliputi :

Formulir yang memuat informasi sebagai berikut : 1) Nama jenis pangan

2) Nama dagang

(6)

3) Jenis kemasan

4) Berat bersih/isi bersih (mg/g/kg atau ml/l/kl) 5) Komposisi

6) Tahapan produksi

7) Nama, alamat, kode pos dan nomor telepon IRTP 8) Nama pemilik

9) Nama penanggungjawab

10) Informasi tentang masa simpan (kedaluwarsa) 11) Informasi tentang kode produksi

Dokumen lain antara lain :

1) Surat keterangan atau izin usaha dari Instansi yang berwenang 2) Rancangan label pangan

b. Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Industri Rumah Tangga :

1) Pemeriksaan sarana dilakukan setelah pemilik atau penangungjawab telah memiliki sertifikat penyuluhan keamanan pangan

2) Pemeriksaan sarana produksi pangan IRT dilakukan oleh tenaga pengawas Pangan Kabupaten/Kota dengan dilengkapi surat tugas yang diterbitkan oleh Bupati / Walikota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

3) Kriteria Tenaga Pengawas Pangan Kabupaten/Kota (District Food Inspector/DFI) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki Sertifikat kompetensi pengawas pangan dari Badan POM.

(7)

4) Pemeriksaan sarana produksi IRT sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia tentang Tata Cara Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Industri Rumah Tangga

5) Jika hasil pemeriksaan sarana produksi menunjukkan bahwa IRT masuk level I – II maka diberikan SP-IRT

c. Pemberian Nomor P-IRT :

1) Nomor P- IRT minimal terdiri dari 15 (lima belas) digit sebagai berikut : P- IRT No. 1234567890123–45

Penjelasan 15 (lima belas) digit sebagai berikut :

a) digit ke-1 menunjukkan kode jenis kemasan sesuai Lampiran 5 b) digit ke-2 dan 3 menunjukkan nomor urut jenis pangan IRT

c) digit ke- 4,5,6 dan 7 menunjukkan kode propinsi dan kabupaten/kota.

d) digit ke 8 dan 9 menunjukkan nomor urut pangan IRT yang telah memperoleh SP-IRT

e) digit ke- 10,11,12 dan 13 menunjukkan nomor urut IRT di kabupaten/kota yang bersangkutan.

f) digit ke 14 dan 15 menunjukkan tahun berakhir masa berlaku

Nomor P-IRT diberikan untuk 1 (satu) jenis pangan IRT. Setiap perubahan, baik penambahan maupun pengurangan provinsi, kabupaten/kota, pemberian nomor disesuaikan dengan kode baru untuk

(8)

Provinsi, Kabupaten, dan Kota yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang dalam penerbitan kode propinsi, kabupaten dan kota.

3. Perpanjangan SPIRT dan Perubahan Pemilik

a. Pengajuan perpanjangan SP-IRT dapat dilakukan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum masa berlaku SP-IRT berakhir.

b. Perubahan Pemilik dan atau Penanggungjawab Perubahan pemilik dan atau penanggungjawab IRT harus dilaporkan pada Bupati/Walikota cq. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

4. SP-IRT dicabut oleh Bupati/Walikota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota apabila terjadi salah satu dari hal-hal berikut :

1) Pemilik dan atau penanggung jawab perusahaan melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku

2) Pangan terbukti sebagai penyebab Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan

3) Pangan mengandung Bahan Berbahaya 4.Sarana terbukti tidak sesuai dengan kriteria IRT

Bupati/Walikota.Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melakukan monitoring terhadap pemenuhan persyaratan SP-IRT yang telah diterbitkan minimal 1 (satu) kali dalam setahun.SP-IRT diinformasikan oleh Bupati/Walikota.Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada Dinas Kesehatan Propinsi dan Balai Besar/Balai POM setempat 2.Pencabutan SP-IRT diinformasikan oleh Bupati/Walikota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kepada

(9)

Dinas Kesehatan Propinsi dan Balai Besar/Balai POM setempat.3.Penyampaian informasi tentang pemberian dan pencabutan SPIRT serta perubahan dan penambahan jenis produk pangan dilakukan setiap 3 (tiga) bulan.

Dalam Pasal 43 Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 dijelaskan tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.Penetapan mengenai keamanan pangan yang meliputi sanitasi, bahan tambahan pangan, pangan produk rekayasa genetika, Iradiasi pangan, kemasan pangan, jaminan mutu pangan dan pemeriksaan laboratorium, pangan tercemar.Mutu dan gizi pangan meliputi mutu pangan, sertifikasi mutu pangan, dan gizi pangan.Pemasukan dan pengeluaran pangan ke dalam dan dari wilayah Indonesia, pengawasan dan pembinaan, peran serta masyarakat.Untuk Memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan gizi pangan tersebut maka perlu diwujudkan suatu sistem pengaturan, pembinaan, pengawasan, yang efektif di bidang Keamanan, Mutu dan Gizi pangan.

Sebelumnya perlu diketahui pengertian tentang pangan, pengertian ini diatur dalam Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan dan Pasal 1 ayat 1 Peraturan Pemerintah republik Indonesia Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi pangan. Pada hakikatnya terdapat dua instrumen hukum penting yang menjadi landasan kebijakan Peraturan Pemerintah di Indonesia, yakni pertama undang-undang dasar 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, mengamanatkan bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

(10)

Tujuan pembangunan nasional diwujudkan melalui sistem pembangunan ekonomi yang demokratis sehingga mampu menumbuhkan dan mengembangkan dunia yang mampu memproduksi barang dan jasa yang layak dikonsumsi oleh masyarakat.Kedua yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi pangan.Lahirnya peraturan ini memberikan harapan kepada masyarakat Indonesia untuk mendapatkan makanan atau minuman yang higienis yang tidak merugikan masyarakat. Setiap orang yang akan memproduksi pangan untuk diperdagangkan perlu memperhatikan ketentuan mengenai mutu dan gizi pangan yang ditetapkan. Pangan tertentu yang diperdagangkan dapat diwajibkan untuk terlebih dahulu diperiksa di laboratorium sebelum diedarkan.Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kandungan gizi dalam suatu produk pangan olahan tertentu, Pemerintah berwenang untuk menetapkan persyaratan tentang komposisi pangan tersebut.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan yaitu diamanatkan bahwa pangan olahan yang diproduksi oleh Industri Rumah Tangga Wajib memiliki Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP.IRT) yang diterbitkan oleh Bupati/ Walikota dan kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan menetapkan pedoman pemberian SP-IRT (Sertifikat Produksi Industri Rumah Tangga), dan terdapat juga dalam pasal 43 ayat (2) dan (3) yaitu : 32 Ayat (2) Pemberlakuan kewajiban untuk memiliki sertifikat produksi terhadap industri rumah tangga dilakukan secara bertahap

(11)

mengingat keterbatasan fasilitas dan pengetahuan tentang keamanan, mutu dan gizi pangan yang dimiliki oleh pengelola industri rumah tangga.

Pentahapan ini memberikan kesempatan kepada industri rumah tangga untuk meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan gizi pangan.Ayat (3) Sertifikat produksi diberikan kepada pangan olahan yang diproduksi oleh industri rumah tangga yang sudah memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.

Penerbitan sertifikat produksi industri rumah tangga oleh Bupati atau Walikota didasarkan atas dipenuhinya persyaratan cara produksi yang baik untuk industri rumah tangga yang meliputi antara lain persyaratan sanitasi, penggunaan bahan tambahan pangan dan label.1

Pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar karena berpengaruh terhadap eksistensi dan ketahanan hidupnya, baik dipandang dari segi kuantitas dan kualitasnya. Mengingat kadar kepentingan yang demikian tinggi, pada dasarnya pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sepenuhnya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia.

Tersedianya pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi merupakan prasyarat utama yang harus terpenuhi dalam upaya mewujudkan insan yang berharkat dan bermartabat serta sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia merupakan unsur terpenting dan sekaligus tujuan utama

1 Undang-Undang R.I Nomor 8 Tahun 1999 ,Tentang Perlindungan Konsumen, Bandung, Citra Umbara, hlm.205-206

(12)

pembangunan nasional karena sumber daya manusia yang berkualitas merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat serta dapat mengurangi atau menghapuskan kemiskinan. Kualitas sumber daya manusia dimaksud antara lain sangat ditentukan oleh kualitas pangan yang dikonsumsinya, sehingga segala daya dan upaya perlu dikerahkan secara optimal agar pangan yang aman, bermutu dan bergizi tersedia secara memadai serta terjangkau oleh daya beli masyarakat.

Dalam Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan diatur mengenai kualitas dan Mutu dari suatu Produk Pangan yaitu: “Mutu pangan adalah nilai yang ditentukan atas dasar kriteria keamanan pangan, kandungan gizi, dan standar perdagangan terhadap bahan makanan, dan minuman.” 2

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan serta makinmaju dan terbukanya dunia perdagangan baik domestik maupun antar negara akan membawa dampak pada semakin beragamnya jenis pangan yang beredar dalam masyarakat baik yang diproduksi di dalam Negeri maupun yang berasal dari impor. Walaupun telah dicapai kemajuan yang cukup berarti dalam pengetahuan dan penerapan untuk pengamanan makanan, makanan dan air yang tercemar tetap merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang utama.

Makanan dan air tersebut merupakan medium penularan sebagian besar penyakit-penyakit.Sebagian besar penyebab-penyebab penyakit yang mencemari makanan dan air pada umumnya bersifat biologis dan berasal dari fases manusia

2 Ibid, hlm 91

(13)

dan hewan. Bagian ini akan memusatkan pada penyebab-penyebab biologis dan kimiawi yang terkait dengan makanan.3

Keamanan pangan pada mulanya mengutamakan aspek pengendalian mikrobiologi.Pengendalian ini dipraktekkan oleh ibu-ibu rumah tangga agar bahan pangan bersih, awet dan tidak mudah busuk.Kemudian berkembang dimasyarakat, sehingga dirasakan adanya keperluan mengenai standar sanitasi makanan.4

Agar keseluruhan tersebut memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan gizi pangan, maka perlu diwujudkan suatu sistem pengaturan, pembinaan dan pengawasan yang efektif di bidang keamanan, mutu dan gizi pangan dalam bentuk Peraturan Pemerintah tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.5

Adanya undang-undang ini, maka terbukalah saluran hukum bagi konsumen untuk menuntut ganti rugi ketika mendapat kerugian akibat mengonsumsi pangan yang menimbulkan kerugian terhadapnya.

Mengingat hal tersebut diatas maka SP-IRT (Sertifikat Produksi Industri Rumah Tangga) dan izin Dinas Kesehatan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas Industri Rumah Tangga pangan, meletakkan Industri Rumah Tangga pangan dalam posisi strategis dan sehat.Bertolak dari luas dan kompleksnya

3 Heri kusmanto, Planet Kita Kesehatan Kita,Yogyakarta, GMUP, 2001, hlm.95

4Sagung seto, Pangan dan Gizi, Ilmu Teknologi Industri dan Perdagangan Internasional, 2001, hlm. 73

5 Undang-Undang R.I Nomor 8 Tahun 1999, Op.cit, hlm 187-188.

(14)

hubungan antara produsen dan konsumen, serta banyaknya penghubung keduanya, maka untuk melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang dan/atau jasa membutuhkan berbagai aspek hukum agar benar-benar dapat dilindungi dengan adil.

Pangan yang dikonsumsi masyarakat pada dasarnya melalui suatu proses yang meliputi produksi, penyimpanan, pengangkutan, peredaran hingga tiba di tangan konsumen. Berbagai inovasi diciptakan dengan membuat berbagai bentuk kreasi hasil Industri rumahan salah satunya yang paling marak adalah usaha di sektor makanan dan minuman. Antara lain: membuat donat, coklat, roti unyil, minuman kemasan dari lidah buaya, rumput laut, dan sebagainya, ternyata produk Industri rumahan ini malah sudah mulai mendapat tanggapan pasar yang cukup baik. Faktor yang mendukung tumbuh kembangnya Industri rumahan adalah industri menggunakan bahan baku yang tersedia di dalam Negeri, dipasarkan dalam Negeri, dikonsumsi oleh masyarakat secara luas dan memberikan konstribusi bagi pengembangan ekonomi masyarakat kecil dan menengah. Dalam upaya menumbuh kembangkan industri tersebut, maka Pemerintah melalui berbagai instansi terkait melakukan berbagai upaya pembinaan, baik yang bersifat teknis produksi, manajemen pemasaran maupun melalui peraturan yang ada untuk menjamin tersedianya pangan bagi masyarakat.Berbagai peraturan yang berkaitan dengan pangan, tidak terlepas dari perlindungan konsumen, agar dapat mengonsumsi makanan dengan aman.

(15)

Sesuai Surat Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor HK.00.05.5.1640 tanggal 30 April 2003 antara lain tentang Sertifikasi Produksi Pangan dan Perusahaan Pangan Industri Rumah Tangga, ditetapkan pedoman tata cara penyelenggaraan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SP-IRT). Penetapan ini merupakan salah satu upaya memperlancar oprasional pelaksanaan berbagai kegiatan khususnya dibidang pangan yang berkaitan dengan kewenangan minimal yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten/kota.Setiap perusahaan wajib mengetahui dan mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pangan.

Upaya memasyarakatkan higiene dan peraturan perundang-undangan dibidang pangan perlu dilakukan baik melalui jalur pendidikan formal maupun informal.Berdasarkan perkiraan, pengetahuan sebagian besar karyawan tentang higiene pengolahan pangan masih rendah, sedangkan pangan yang cenderung dapat menimbulkan keracunan masih tinggi jumlahnya. Kebersihan sarana yang akan menunjang dihasilkannya produk makanan yang aman dinilai masih perlu diperbaiki. Demikian juga diperkirakan masih banyak P-IRT yang belum menguasai teknologi pengolahan pangan dan cara penggunaan bahan tambahan pangan, serta penggunaan kemasan dan label yang tepat. Bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan untuk mempengaruhi sifat ataupun bentuk makanan.Bahan Tambahan Makanan itu bisa memiliki nilai gizi, tetapi bisa pula tidak.

(16)

Menurut ketentuan yang ditetapkan, ada beberapa kategori BTM (Bahan Tambahan Makanan).Pertama, BTM yang bersifat aman, dengan dosis yang tidak dibatasi.Kedua, bahan tambahan makanan yang digunakan dengan dosis tertentu, dan dengan demikian dosis maksimum penggunaanya juga telah ditetapkan.Ketiga, bahan tambahan yang aman dan dalam dosis yang tepat, serta telah mendapatkan izin beredar dari instansi yang berwenang, misalnya zat pewarna yang sudah dilengkapi sertifikat aman.Sebaliknya, kita menggunakan Bahan Tambahan Makanan secara tepat sebab apabila tidak demikian maka bahan tambahan makanan ini dapat pula mengakibatkan gangguan kesehatan bagi kita.6

Pangan yang aman, bermutu, dan bergizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan, pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan serta peningkatan kecerdasan masyarakat.Pemerintah sangat mendukung adanya masyarakat yang berswadaya dengan landasan Industri rumahan, Namun sebelum seorang pelaku usaha memulai Industri rumahan hendaknya terlebih dahulu mengetahui secara global peraturan yang mengatur Industri rumahan.7

Konsumen tentunya akan sangat dirugikan dengan kondisi produk yang tidak sesuai dengan Standar Kesehatan, apalagi membawa dampak yang buruk dalam kehidupan masyarakat.

Untuk mendapatkan izin edar khususnya produk Industri Rumah Tangga pangan diharuskan:

6 Nurheti Yulianti, Awas! Bahaya Dibalik Lezatnya Makanan, CV.Andi, 2007, hlm.7

7http:// blogspot, Pertanggungjawaban Terhadap Produk Industri Rumah Tangga (Home Industry) Tanpa Izin Dinas Kesehatan, 2018, Diakses pada 10 Oktober 2018.

(17)

a. Mengajukan permohonan kedinas kesehatan Kota/Kabupaten setempat.

b. Melengkapi berkas permohonan pengajuan perizinan.

c. Harus ada seorang yang sudah pernah dan lulus mengikuti penyuluhan Industri Rumah Tangga, biasanya dinas kesehatan akan memfasilitasi penyuluhan pangan bagi industri pangan yang belum pernah ikut penyuluhan pangan tersebut.

d. Hasil survey lapangan terhadap Industri Rumah Tangga pangan memenuhi syarat ketentuan.

Mengingat hal tersebut, maka memasyarakatkan Peraturan Perundang- undangan dibidang pangan temasuk higienes pengolahan pangan, melalui jalur pendidikan non formal berupa penyuluhan langsung kepada yang bersangkutan, merupakan salah satu upaya yang perlu terus menerus dilaksanakan.

Meningkatkan penyelenggaraan P-IRT (Produksi Industri Rumah Tangga) dalam rangka:

a. Meningkatkan pengetahuan produsen dan karyawan tentang pengolahan pangan dan peraturan perundang-undangan di bidang keamanan pangan.

b. Menumbuhkan kesadaran dan motivasi produsen dan karyawan

c. tentang pentingnya pengolahan pangan yang higienis dan tanggung jawab terhadap keselamatan konsumen.

d. Meningkatkan daya saing dan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan P-IRT.

(18)

Kriteria Untuk Memperoleh SP-IRT (Sertifikat Produksi Industri Rumah Tangga) yaitu :

a. Ada tenaga yang dinilai telah mengikuti penyuluhan keamanan pangan dengan baik;

b. Hasil pemeriksaan sarana setempat telah memenuhi standar persyaratan yang ditetapkan, yaitu dengan nilai minimal cukup. Pemohon diwajibkan mengikuti penyuluhan keamanan pangan dan diperiksa sarana produksinya. Sertifikat yang diterbitkan hanya untuk 1(satu) jenis pangan produk IRT:

Persyaratan Mengajukan permohonan dengan mengisi formulir : a. Permohonan SP-IRT;

b. Data Perusahaan Makanan Industri Rumah Tangga c. Data Produk Makanan

d. Surat Pernyataan Label Melampirkan : 1) Denah Bangunan dan Peta Lokasi 2) Surat Tanda Daftar Industri 3) Copy KTP Pemohon 4) Copy Label

5) Surat Keterangan Kepemilikan 6) Pas poto 3 x 4 sebanyak 4 lembar

Permohonan tidak dapat dipenuhi apabila pangan yang diproduksi berupa : 1) Susu dan hasil olahannya

(19)

2) Daging, Ikan, Unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses dan atau penyimpanan beku.

3) Pangan kaleng 4) Pangan bayi

5) Minuman beralkohol

6) Air Minum Dalam Kemasan ( AMDK )

7) Pangan lain yang wajib memenuhi persyaratan SNI

8) Pangan lain yang ditetapkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM )

B. Tanggung Jawab Pelaku Usaha Industri Rumah Tangga Dalam Memperoleh Sertifikat Produksi Industri Rumah Tangga ( SPIRT )

Semua Industri Rumah Tangga (IRT) yaitu industri Pangan yang memiliki tempat usaha di tempat tinggal dengan peralatan pengolahan manual hingga semi otomatis, wajib mendapatkan Sertifikat Produksi -Industri Rumah Tangga (SP- IRT) untuk produknya yang akan diedarkan di Indonesia : (PP no 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan Pasal 43; Perka Badan POM RI No.

Hk.03.1.5.12.11.09955 Tahun 2011 Tentang Pendaftaran Pangan Olahan) SP-IRT diterbitkan oleh Bupati/Walikota berdasarkan pedoman pemberian sertifikat produksipangan industri rumah tangga yang ditetapkan oleh Badan POM RI (PP no 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan Pasal 43)

(20)

Cara mendapatkan Sertifikat Produksi IRT (Perka Badan POM RI NOMOR HK.03.1.23.04.12.2205 TAHUN 2012 Tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga)

Pada peraturan ini diatur antara lain : 1) Persyaratan pemberian SP IRT :

a. Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan; dan

b. Hasil Rekomendasi Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Industri Rumah Tangga

2) Masa berlaku SP-IRT

3) Penyampaian informasi penerbitan SP-IRT ke Badan POM

4) Jenis pangan yang diizinkan untuk memperoleh SP-IRT (Lampiran 6 pada Perka Badan POM tentang Pedoman pemberian SP-IRT)Mengingat keterbatasan IRT dalam hal bangunan, fasilitassanitasi, peralatan serta karyawan sehingga jenis pangan yang diizinkan untukdiproduksi oleh IRT perlu dibatasi. IRT hanyadiijinkan untuk memproduksi pangan yang tidak berisiko tinggi terhadap kesehatan(PP no. 28 tahun 2004 Penjelasan Pasal 43)

5) Tata cara pemberian SP-IRT:

a. Penerimaan Pengajuan Permohonan SP-IRT, IRT mengajukan permohonan dengan mengisi formulir permohonan yang ada di Dinkes Kab/Kota setempat

(21)

b. Penyelenggaraan Penyuluhan Keamanan Pangan IRT mengikuti penyuluhan keamanan pangan yang diselengnggarakan Dinkes Kab/Kota setempat

c. Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Rumah Tangga (Perka Badan POM RI NOMOR HK.03.1.23.04.12.2206 TAHUN 2012 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Rumah Tangga)Sarana produksi IRT diperiksa kesesuaiannya terhadap CPPB-IRT (Perka Badan POM RI NOMOR HK.03.1.23.04.12.2206 TAHUN 2012 Tentang CPPB-IRT) oleh tenaga pengawas pangan Kab/Kota (District Food Inspector/DFI) yang ada di Dinkes Kab/Kota setempat.

d. Pemberian Nomor P-IRT Jika sudah memenuhi syarat yang ditetapkan maka Dinkes Kab/Kota setempat menerbitkan SPP-IRT yang didalamnya tercantum nomor P-IRT dan harus dicantumkan di label pangan.

(22)

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI PANGAN IRT Jenis Sarana : Produksi - Pangan IRT (CPPB - IRT)

Pemeriksaan Awal : 01/01/2013 Pemeriksaan Akhir : 31/10/2018

Balai Besar / Balai POM : BALAI POM DI AMBON No

. Nama Sarana Alamat Jenis Pangan No. PIRT Status Sarana

1 311 ICE CREAM, PIRT

Jl. Piere Tendean, Galala Maluku Kota Ambon

Es Puter Es Puter Es Puter Es Puter Es Puter

216817101078 216817102078 216817103078 216817104078 216817105078

Aktif

2 ARSITA, UD Jl. Ir. M. Putuhena Pemda III Kav.81 RT.004/02 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

3 BAKERY CINDERELLA, PIRT

Jl. Setiabudi No. 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817108009 206817103009 206817104009 206817105009 206817106009 206817102009 206817101009 206817107009 206817109009

Aktif

4 BAKERY CINDERELLA, PIRT

Jl. Setiabudi No. 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817108009 206817103009 206817104009 206817105009 206817106009 206817102009 206817101009 206817107009 206817109009

Aktif

5 BAKERY CINDERELLA, PIRT

Jl. Setiabudi No. 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817108009 206817103009 206817104009 206817105009 206817106009 206817102009 206817101009 206817107009 206817109009

Aktif

(23)

6 BAKERY CINDERELLA, PIRT

Jl. Setiabudi No. 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

7 BAKERY CINDERELLA, PIRT

Jl. Setiabudi No. 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817108009 206817103009 206817104009 206817105009 206817106009 206817102009 206817101009 206817107009 206817109009

Aktif

8 BAKERY

MUTIARA , PIRT

Jl Rijali Gang Vista RT 002/05 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 2.06817E+14 Aktif

9 BAKSO MJ, PIRT Desa Seilale Maluku Kota Ambon

Tapioka 0 Aktif 10 BAKSO OJOLALI,

PIRT

Desa Latuhalat Maluku Kota Ambon

Tapioka 0 Aktif ( Pada saat melakukan pemeriksaan sarana tidak melakukankegi atan produksi 11 BAKSO TANAH

TINGGI, PIRT

Jl. W.R. Supratman Maluku Kota Ambon

Abon Daging Abon Daging

0 0

Aktif 12 BERKAT ABADI,

CV

Jl. Dr Kayadoe RT 004/RW 07 Maluku Kota Ambon

Buah Dalam Sirop

000000000 Aktif

13 BRAD TIGER, PIRT

Jl Wolter Mongensidi Rt 002 / 002 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Bakpia / Pia Kue Kering

0 0 0

Aktif

14 BRAD TIGER, PIRT

Jl Wolter Mongensidi Rt 002 / 002 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Bakpia / Pia Kue Kering

0 0 0

Aktif

15 BREAD TALK, PIRT

MCM Ambon Jl. Jend. Sudirman, Tantui Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

16 BREAD TALK, PIRT

MCM Ambon Jl. Jend. Sudirman, Tantui Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

17 BREAD TALK, PIRT

MCM Ambon Jl. Jend. Sudirman, Tantui Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

(24)

18 BREADTALK ACC, PIRT

Jl. Laksdya Leo Wattimena, Passo Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

19 BREAVEN, CV Waiyari - Air Besar Maluku Kota Ambon

Kue Kering 0 Aktif

(25)

20 BREAVEN, CV Waiyari - Air Besar Maluku Kota Ambon

Kue Kering 0 Aktif 21 COKLAT

ANTARIKSA, PIRT

Jln.Taman Makmur no 33 Maluku Kota Ambon

Coklat (Tidak Termasuk Coklat Bubuk)

2.10817E+14 Aktif Pada saat melekukan pemeriksaan sarana tidak melekukan kegiatan produksi 22 COKLAT

ANTARIKSA, PIRT

Jln.Taman Makmur no 33 Maluku Kota Ambon

Coklat (Tidak Termasuk Coklat Bubuk)

2.10817E+14 Tidak Produksi Saat Diperiksa 23 ES KRIM FRISH

MARKET, PIRT

Jl. Rijali RT 001/04 Maluku Kota Ambon

Es Mambo 0 Aktif 24 ES KRIM PLANET

2000, SWALAYAN / MINI MARKET / SUPER MARKET

Jl. A.Y.Patty Maluku Kota Ambon

Es Mambo Es Mambo

0 0

Aktif

25 FA. PABRIK ROTI

& BISCUIT SARINDA, PIRT

Jl. Rijali No 7 Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

26 FA. PABRIK ROTI

& BISCUIT SARINDA, PIRT

Jl. Rijali No 7 Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

27 FA. PABRIK ROTI

& BISCUIT SARINDA, PIRT

Jl. Rijali No 7 Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

28 FOODMART BAKERY, SWALAYAN / MINI MARKET / SUPER MARKET

JALAN SAM RATULANGI, AMBON PLAZA Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

29 FOODMART, SWALAYAN / MINI MARKET / SUPER MARKET

Jl. Yos Sudarso Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

30 FOODMART, SWALAYAN / MINI MARKET / SUPER MARKET

Jl. Yos Sudarso Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

31 GRACIA, PIRT Jl. dr. Setiabudi 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering

206817102036 206817103036 206817101036 206817101364036 206817101036403

Aktif

(26)

32 GRACIA, PIRT Jl. dr. Setiabudi 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering

206817102036 206817103036 206817101036 206817101364036 206817101036403

Aktif

33 GRACIA, PIRT Jl. dr. Setiabudi 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering

206817102036 206817103036 206817101036 206817101364036 206817101036403

Aktif

34 GRACIA, PIRT Jl. dr. Setiabudi 21, Ambon Maluku Kota Ambon

Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering Kue Kering

206817102036 206817103036 206817101036 206817101364036 206817101036403

Aktif

35 HERLY (BUAH ASAM), UD

JALAN PIERRE TENDEAN,

GALALA - AMBON Maluku Kota Ambon

Cuka Makan Seperti Cuka Buah Apel/

Anggur Dll

111817101005 Aktif

36 HYPERMART BAKERY MCM, PIRT

Jl. Jendral Sudirman Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder

0 0

Aktif

37 HYPERMART BAKERY MCM, PIRT

Jl. Jendral Sudirman Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder

0 0

Aktif

38 HYPERMART BAKERY MCM, PIRT

Jl. Jendral Sudirman Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

39 HYPERMART MCM,

SWALAYAN / MINI MARKET / SUPER MARKET

Jl. Jendral Sudirman Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

40 JCO MALUKU CITY MALL, SWALAYAN / MINI MARKET / SUPER MARKET

Jl.Jend. Sudirman, Tantui, Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

41 JCO MALUKU CITY MALL, SWALAYAN / MINI MARKET / SUPER MARKET

Jl.Jend. Sudirman, Tantui, Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

42 LIMA ROTI PREMIUM, PIRT

Jl DR Setia Budhi No.

10 Maluku Kota

Roti / Bluder 0 Aktif

(27)

Ambon 43 LIMA ROTI

PREMIUM, PIRT

Jl DR Setia Budhi No.

10 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

44 LIMA ROTI PREMIUM, PIRT

Jl DR Setia Budhi No.

10 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

45 MAPLES BAKERY, PIRT

Jl. Rijali No. 19 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif 46 MAPLES BAKERY,

PIRT

Jl. Rijali No. 19 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif 47 MAPLEZ COFE &

BAKERY, PIRT

Jl Diponegoro Samping Tk Buku Dian Pertiwi Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 206817101058 Aktif

48 MIE BASAH FAI, PIRT

Batumerah Maluku Kota Ambon

Mie Kering 0 Aktif 49 MIE BASAH SN,

PIRT

Pasar Batu Merah Maluku Kota Ambon

Mie Kering 0 Aktif 50 MIE BASAH SYT,

PIRT

Galunggung depan lap.bola samping mesjid alfurqon Maluku Kota Ambon

Mie Kering Mie Kering

0 0

Aktif

51 MUTIARA BAKERY, PIRT

Jl. Rijali Gang Vista RT/RW 002/05 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder

0 0

Aktif

52 NACHA, CV BTN Manusela, Lorong Batako, Kebun Cengkeh, Kota

Ambon Maluku Kota Ambon

Abon Abon Abon Abon Dendeng Ikan

302817102040 302817104040 302817103040 302817102040 302817105040

Aktif

53 NACHA, CV BTN Manusela, Lorong Batako, Kebun Cengkeh, Kota

Ambon Maluku Kota Ambon

Abon Abon Abon Abon Dendeng Ikan

302817102040 302817104040 302817103040 302817102040 302817105040

Aktif

54 NEW

CINDERELLA ROASTED DUCK DAN

BREADHOUSE, PIRT

Jl. Setia Budi No. 17 Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

55 PEMUDA BAKERY, PIRT

Jl. dr. Setia Budi No.

22 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

(28)

56 PEMUDA BAKERY, PIRT

Jl. dr. Setia Budi No.

22 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

57 PEMUDA BAKERY, PIRT

Jl. dr. Setia Budi No.

22 Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

58 PETAK 10/UD.

TINMAS ABADI, UD

Jl. dr. Tamaela, Kota Ambon Maluku Kota Ambon

Kue Kering 0 Aktif

59 PETAK 10/UD.

TINMAS ABADI, UD

Jl. dr. Tamaela, Kota Ambon Maluku Kota Ambon

Kue Kering 0 Aktif

60 PT TALKING SELAKSA ANUGRAH (BREAD TALK ), PIRT

Jl Wolter Mongensidi Komp ACC Lt I Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

61 PT. MATAHARI PUTRA PRIMA, PIRT

Jl Sam Ratulangi (Amplaz Lt 1) Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

62 PT. MATAHARI PUTRA PRIMA, PIRT

Jl Sam Ratulangi (Amplaz Lt 1) Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

63 ROTI GALALA, PIRT

JlPiere Tendean Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif 64 ROTI GALALA,

PIRT

JlPiere Tendean Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif 65 ROTI HILYAH, Kota Ambon Maluku

Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817107034 206817101034 20681710103034 206817106034 206817105034 206817104034 206817102034

Aktif

66 ROTI HILYAH, Kota Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817107034 206817101034 20681710103034 206817106034 206817105034 206817104034 206817102034

Aktif

(29)

67 ROTI HILYAH, Kota Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817107034 206817101034 20681710103034 206817106034 206817105034 206817104034 206817102034

Aktif

68 ROTI LESTARI, PIRT

Jl. Laksdya Leo Wattimenna Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817104039 206817103039 206817101039

Aktif

69 ROTI LESTARI, PIRT

Jl. Laksdya Leo Wattimenna Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817104039 206817103039 206817101039

Aktif

70 ROTI UD. DESSY, UD

Wainitu, Kota Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif 71 ROTI UD. DESSY,

UD

Wainitu, Kota Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif 72 TAKA DELI, PIRT Jl. Tulukabessy RT

001/03 Depan Citra Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

73 TAKA DELI, PIRT Jl. Tulukabessy RT 001/03 Depan Citra Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder 0 Aktif

74 TIGA BERLIAN, PIRT

JALAN DR.

SETIABUDI KOTA AMBON Maluku Kota Ambon

Cuka Makan Seperti Cuka Buah Apel/

Anggur Dll

1.11817E+14 Aktif

75 TUNAS S.

BAKERY, PIRT

Jl. Said Perintah 21 A Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817112007 206817103007 206817109007 206817110007 206817101007 206817108007

Aktif

76 TUNAS S.

BAKERY, PIRT

Jl. Said Perintah 21 A Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Bakpia / Pia Roti / Bluder

206817112007 206817103007 206817109007 206817110007 206817101007 206817108007 2068171030057 206817105005722 20681713005722

Aktif

(30)

77 TUNAS S.

BAKERY, PIRT

Jl. Said Perintah 21 A Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817112007 206817103007 206817109007 206817110007 206817101007 206817108007

Tidak Produksi Saat

Diperiksa

78 TUNAS S.

BAKERY, PIRT

Jl. Said Perintah 21 A Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817112007 206817103007 206817109007 206817110007 206817101007 206817108007

Aktif

79 TUNAS S.

BAKERY, PIRT

Jl. Said Perintah 21 A Ambon Maluku Kota Ambon

Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder Roti / Bluder

206817112007 206817103007 206817109007 206817110007 206817101007 206817108007

Aktif

Dari Tabel di atas, sesuai dengan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, ditemukan bahwa dari 79 diantaranya jenis usaha yang belum mempunyai PIRT dan belum mempunyai nomor registrasi, dan ada 8 jenis usaha antara lain : ROTI UD.DESSY,PETAK 10/UD, TINMAS ABADI,JCO MALUKU CITY MALL,

FOODMART SWALAYAN MINI MARKET,BREAVEN.CV,ES KRIM

FRISHPLANET 2000,ARSITA.UD.dan ada juga jenis usaha yang sudah mempunyai SPIRT tetapi belum ada nomor registrasi, dan ada 21 jenis usaha antara lain : LIMA ROTI PREMIUM, HYPERMART BAKERY MCM, PABRIK ROTI dan BISKUIT SARINDA, ES KRIM FRISH MARKET, BRAD TIGER, BAKSO TANAH TINGGI, BAKSO OJOLALI, BAKSO MJ, BAKERY CINDERELLA, MUTIARA BAKERY, MIE BASAH SYT, MIE BASAH FAI, MAPLES BAKERY, NEW CINDERELLA ROASTED DUCK dan BREADHOUSE, PEMUDA BAKERY, PT TALKING SELAKSA ANUGRAH ( BREAD TALK ), BREAD TALK ACC,

(31)

PT.MATAHARI PUTRA PRIMA, ROTI GALALA, ROTI UD DESSY, TAKA DELI, dan ada juga jenis usaha yang sudah PIRT, dan ada 9 jenis usaha antara lain : 311 ICE CREAM, BAKERY CINDERELLA, BAKERY MUTIARA, BERKAT ABADI CV, COKLAT ANTARIKSA, GRACIA, HERLY ( BUAH ASAM ), ROTI LESTARI, TUNAS BAKERY.

Jenis usaha industry rumah tangga yang telah terdaftar, 75 jenis usaha yang aktif yang sudah mempunyai SPIRT dan nomor registrasi, sedangkan 4 diantaranya tidak aktif karena belum mempunyai SPIRT dan nomor registrasi,atau tidak menjalankan kegiatan usaha tersebut sebagaimana mestinya.Jenis-jenis usaha yang tidak menjalankan kegiatan usaha atau produksi usaha sebagaimana mestinya tersebut kemudian dievaluasi oleh Balai POM yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Ambon. Jika memang setelah proses evaluasi, kemudian tetap tidak menjalankan produksi usaha tersebut, maka jenis usaha tersebut dianggap tidak lagi aktif (jenis usahanya telah ditutup). Sedangkan, adanya juga 52 jenis usaha yang belum memiliki Nomor PIRT.Dari hasil penelitian, 52 jenis usaha tersebut, ternyata sudah daluarsa dan belum melakukan registrasi ulang untuk mendapatkan nomor SPIRT yang baru.Berdasarkan pasal 3 Per Kbom_no.hk.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012_tentang Pedoman Pemberian Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga, SPP-PIRT ditetapkan berlaku 5 tahun dan dilakukan pembaharuan kembali.Dengan adanya peraturan tersebut, setiap 5 tahun sekali maka Industri Rumah Tangga atau IRT harus melakukan registrasi ulang dan ini berarti, nomor

(32)

yang semula diperoleh 12 digit berganti dengan no baru yang terdiri dari 15 digit.

Untuk melakukan registrasi terdapat persyaratan yang harus dipenuhi antara lain : 1. FC Sertifikat S PIRT lama

2. Pas foto berwarna ukuran 3x4 3. FC KTP

4. Surat keterangan usaha dari lurah/kades 5. Stempel perusahaan

6. Label produk yang mencantumkan 7 informasi wajib 7. Foto tempat dan sarana produksi

8. Layout tempat produksi

Dengan adanya Sertifikat PIRT memberikan jaminan terhadap masyarakat bahwa pangan yang dibeli telah memenuhi standard mutu tertentu karena telah melewati uji sampel pangan sehingga dapat diketahui pangan tersebut sudah layak dan terjamin untuk dikonsumsi masayarakat sebagai konsumen. Proses sertifikasi produk pangan industri rumah tangga di kota Ambon dilaksanakan oleh Balai POM Kota Ambon bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Ambon.

Pelaksanaan dari sertifikasi menggunakan Pedoman Tata Cara Penyelenggaraan Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), pedomaan tersebut berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor Hk.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Alur Pengajuan permohonan Sertifikat Produk Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Setiap produsen pelaku

(33)

usaha yang mendaftar sertifikasi pasti sudah mengikuti penyuluhan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Ambon karena penyuluhan merupakan salah satu prosedur untuk mendapatkan sertifikasi.Pasal 47 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, Gizi dan Pangan, Pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Ambon apabila menemukan produk pangan yang mengandung bahan kimia berbahaya sehingga konsumen dirugikan akibat mengkonsumsi pangan industri rumah tangga makan Dinas Kesehatan Kota Ambon berhak melakukan penarikan produk tersebut dari pasaran, pelarangan izin beredar, serta penutupan indsutri. Dinas Kesehatan akan mengeluarkan sertifikat P-IRT dan memberikan ijin P-IRT kepada produsen industri rumah tangga yang telah memenuhi persyaratan di atas.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pejabat yang ditunjuk Kepala Balai POM AmbonBapak Sandy M, selaku Pejabat Balai POM Ambon pada tanggal 12 Oktober 2018 pada Kantor Balai POM Ambon, Beliau menjelaskan bahwa Balai POM melalui kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Ambon ini perlu berbenah dan lebih gencar lagi melakukan sidak ke pasar, warung, toko, maupun swalayanuntuk melindungi dan memberikan layanan kepada masyarakat.8

Dalam Mengkonsumsi Pangan Industri Rumah Tangga Oleh Dinas Kesehatan Kota Ambon Serta Upaya Yang Dilakukan Ada beberapa faktor penghambat yang ditemui dalam penelitian ini yaitu :

1. Pelaku Usaha Tidak Mengetahui Kewajibannya Berdasarkan UndangUndang Perlindungan Konsumen Pelaku usaha yang menyalahi aturan dengan

8 Wawancara Dengan Bapak Sandy Matthew, Pejabat BALAI POM Ambon,Tanggal 12 oktober 2018.

(34)

mengesampingkan hak konsumen memiliki tujuan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya sehingga tidak mau mengikuti ketentuan yang berlaku karena para pelaku usahan memandang makan yang diproduksinya sudah aman, dan tidak perlu lagi mendaftarkannya pada Dinas Kesehatan Kota Ambon.

2. Konsumen Tidak Mengetahui Haknya Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen Selain dari pelaku usaha, konsumen juga berperan dalam pelaksanaan hak atas informasi karena konsumen dituntut cerdas dan cermat dalam mendayagunakan sumber dananya karena ciri konsumen yang terinformasi seperti yang dijelaskan sebelumnya yakni memiliki tingkat pendidikan tertentu, mempunyai sumber daya ekonomi yang cukup sehingga berperan dalam ekonomi pasar dan lancar berkomunikasi. Akan tetapi ciri konsumen tersebut belum dapat terpenuhi secara menyeluruh di kotaAmbon karena konsumen pangan industri rumah tangga berdasarkan hasil wawancara, konsumen pangan industri rumah tangga sebagian mengesampingkan hal tersebut asal murah dan enak konsumen tidak memperdulikan bahaya akan makanan tersebut.

3. Anggaran Dana dan Sarana Operasional dari Dinas Kesehatan Kota Ambon Terbatas.

Dinas Kesehatan Kota Ambon dalam melaksanakan pengawasan terhadap hak konsumen atas informasi dan keamanan dalam mengkonsumsi pangan sering tidak maksimal akibat keterbatasan anggaran dana. Padahal program kerja Dinas Kesehatan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana tersebut dialokasikan untuk :

(35)

a. Dana untuk melakukan koordinasi dengan instansi lain yang berwenang.

b. Dana untuk program penyuluhan produsen dan konsumen.

c. Dana untuk uji biaya laboratorium uji sampel pangan industri rumah tangga.

Dana yang dilakukan untuk pengawasan juga tidak sedikit karena jumlah pelaku usaha yang menyebar dan sarana operasional yang terbatas sehingga mempengaruhi pelaksanaan program kerja Dinas Kesehatan Kota Ambon sendiri khususnya bagian farmasi makanan dan minuman. Upaya yang dilakukan dinas kesehatan Kota Ambon terhadap pelaku usaha yang tidak mengetahui kewajibannya adalah sebagai berikut :

a. Penyuluhan terhadap pelaku usaha yang belum mendapatkan sertifikasi

b. Operasi/razia terhadap pangan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku c. Penarikan produk pangan industri rumah tangga yang mengandung bahan kimia

berbahaya

Upaya yang dilakukan dinas kesehatan Kota Ambon terhadap konsumen yang tidak mengetahui haknya berdasarkan undang-undang perlindungan konsumen adalah:

a. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hak atas informasi dan keamanan pangan

b. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk cermat dan kritis dalam memilih pangan industri rumah tangga

Upaya yang dilakukan tehadap anggaran dana dan sarana operasional dari dinas kesehatan kota Ambon :

(36)

a. Menyusun anggaran yang sesuai dengan kebutuhan dinas kesehatan kota Ambon b. Penambahan jumlah pegawai dan sarana operasional oleh dinas kesehatan kota

Ambon

Pelaksanaan hak konsumen atas keamanan dalam mengkonsumsi pangan industri rumah tangga oleh Dinas Kesehatan dengan melakukan uji sampel makanan yang bertujuan untuk memastikan ada/tidaknya bahan kimia berbahaya (boraks, formalin, rhodamin, memastikan bahan tambahan pangan yang digunakan sesuai dengan takaran yang dipersyaratkan, melakukan pengawasan keamanan pangan yang beredar, mengetahui bahan berbahaya dalam panganmenyertakan kadar bahan tambahan pangan tertentu/ pangan sesuai mutu, menyebarluaskan informasi hasil pengujian sampel keamanan pangan sebagai hak konsumen dalam Pasal 4 huruf (a) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa Pengujian menggunakan metode uji kualitatif (pengujian ada/tidaknya) bahan kimia berbahaya pengambilan sampel dilakukan berdasarkan ciri dan jenis sampel yang menunjukkan dugaan adanya bahan kimia berbahaya dalam pangan dan metode uji kuantitatif yaitu berdasarkan jumlah bahan tambahan pangan memenuhi syarat atau tidak, pengambilan sampel yang diambil dengan melihat label, tidak dilakukan secara random sampling, dibatasi pangan yang mempunyai no. PIRT dan yang tidak memiliki izin beredar.Tempat pengambilan sampel makanan terdiri dari :

1. Kantin sekolah

2. Pedagang yang berjualan dihalaman luar sekolah

(37)

3. Pasar dan toko

4. Produsen yang mengajukan sertifikat PIRT

Berdasarkan Pasal 8 ayat 1 Udang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur tentang larangan pelaku usaha tidak memenuhi atau tidak standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam hal keamanan pangan yang dapat dilihat dari sampel pangan yang diuji menunjukan bahwa pelaku usaha melakukan perbuatan melawan hukum.

Di kota Ambon bagi Produsen yang tidak memperhatikan keamanan pangan menurut bapak Wiratmo selaku Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan yang dilakukan penarikan terhadap produk pangan industri rumah tangga yang beredar di pasar. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah kesadaran dari masyarakat sebagai konsumen karena selama ini belum ada laporan dari masyarakat yang diterima Dinas Kesehatan Kota Ambon mengenai kerugian akibat mengkonsumsi pangan industri rumah tangga yang mengandung bahan kimia berbahaya, hal tersebut penting karena hak dan kewajiban antara pelaku usaha dan konsumen saling berhubungan timbal balik.

Pasal 19 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen menyatakan bahwa yaitu pelaku usaha bertanggung jawab dalam hal memberikan ganti kerugiaan kerusakan, pencemaran, dan atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau di perdagangkan.

Referensi

Dokumen terkait

For and on behalf of the First Party, sell, transfer / transfer and / or release the rights to the Land and Building to the Second Party itself, at the