• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PROSEDUR DAN HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV PROSEDUR DAN HASIL PENELITIAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Data

Data yang digunakan untuk membuat peta zona layak wilayah tambang mengacu pada peta-peta dasar yang terdiri dari, peta pola ruang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat tahun 2009-2029 dan peta sebaran potensi bahan galian Provinsi Jawa Barat yang menjadi acuan untuk dibuatnya analisis pada peta zona layak wilayah tambang.

Adapun data yang digunakan untuk proses pengolahan pembuatan peta dibutuhkan data pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), peta Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) Provinsi Jawa Barat, peta hutan konservasi Provinsi Jawa Barat, peta Kawasan Bentang Alam Kars (KBAK) Provinsi Jawa Barat, dan yang terakhir yaitu peta daerah resapan air Provinsi Jawa Barat.

4.1.1 Peta Pola Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah

Peta pola ruang RTRW yang digunakan sebagai daerah penelitian merupakan peta pola ruang Provinsi Jawa Barat tahun 2009-2029 yang mendeskripsikan informasi mengenai kawasan budidaya, kawasan lindung, jaringan jalan nasional, jaringan jalan provinsi yang mana semua kawasan tersebut sudah ada maupun akan direncanakan. Fungsi peta pola ruang ini untuk mengetahui informasi-infromasi umum yang nantinya akan dijadikan acuan dan akan dikorelasikan dengan peta-peta lainnya.

Berdasarkan peta pola ruang Provinsi Jawa Barat tahun 2009-2029, daerah penelitian sebagian kota didominasi oleh kawasan perkotaan (merah) yang juga

(2)

terdapat kawasan industri didalamnya. Daerah Provinsi Jawa Barat bagian selatan didominasi kawasan hutan lindung (hijau tua), selain itu di sebagian wilayah dikelilingi kawasan rawan bencana alam seperti letusan gunung berapi, gerakan tanah, dan tsunami (biru tosca) yang tersebar di setiap kabupaten/kota. Adapun kawasan suaka alam dan pelestarian alam (ungu) biasanya terdapat pada daerah pegunungan yang tersebar di Provinsi Jawa Barat. Untuk penjelasan lebih lanjut peta pola ruang Provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada (Lampiran A).

4.1.2 Data Pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP)

Izin Usaha Pertambangan yang biasa disebut IUP adalah izin yang diberikan untuk melaksanakan usaha pertambangan. IUP terdiri dari IUP eksplorasi dan IUP operasi produksi. IUP eksplorasi merupakan izin usaha pertambangan yang diberikan untuk melakukan suatu usaha kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan. IUP operasi produksi merupakan izin usaha pertambangan yang diberikan untuk kegiatan operasi produksi setelah selesainya IUP eksplorasi.

Provinsi Jawa Barat sampai tahun 2019 ini memiliki data pemegang IUP ±533 yang masing-masing terdiri dari IUP eksplorasi, IUP operasi produksi, dan perpanjangan IUP. Data pemegang IUP Provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada (Lampiran B).

4.1.3 Peta Wilayah Usaha Pertambangan (WUP)

Peta Wilayah Usaha Pertambangan atau biasa disebut WUP merupakan peta yang telah memiliki sumber informasi geologi, potensi, dan ketersediaan data.

Pembuatan peta WUP dilakukan oleh dinas cabang kabupaten/kota yang nantinya masing-masing kabupaten/kota akan melakukan deliniasi peta WUP berdasarkan formasi kederpatan potensi mineral didalamnya yang nantinya akan diajukan kepada provinsi apakah kabupaten/kota tersebut akan dijadikan WUP atau tidak, atas dasar tersebut peta WUP juga dibuat berdasarkan perintah atas dasar Undang-Undang

(3)

Nomor 4 Tahun 2009. Daerah penelitian Provinsi Jawa Barat telah memiliki peta WUP yang terbagi kedalam WUP logam dan WUP non logam, akan tetapi pembagian WUP tersebut belum disesuaikan dengan peta pola ruang. Sebaran WUP logam mendominasi penyebarannya di daerah bagian selatan, sedangkan non logam penyebarannya didominasi bagian utara. Untuk lebih jelasnya mengenai peta WUP Provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada (Lampiran C).

4.1.4 Peta Hutan Konservasi

Hutan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mana mempunyai fungsi untuk menjaga keanekaragaman didalamnya, baik itu tumbuhan maupun satwa. Provinsi Jawa Barat memiliki beberapa kawasan hutan konservasi yang mana pengelolaannya dikelola oleh Balai besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (KSDA) seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, serta Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak dengan luas seluruhnya yaitu ±132.180 ha. Kawasan hutan konservasi di Jawa Barat dapat dilihat pada (Lampiran D).

4.1.5 Peta Kawasan Bentang Alam Kars (KBAK)

Menurut Permen No 17 Tahun 2012, karst merupakan suatu bentang alam yang terbentuk oleh adanya pelarutan air yang terjadi pada batu gamping dan dolomit.

Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) merupakan kawasan geologi yang dilindungi dan menjadi bagian dari kawasan lindung nasional. Fungsi dari karst yaitu sebagai daerah imbuhan air, objek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, dan penyimpan air tanah secara permanen.

Provinsi Jawa Barat memiliki KBAK di daerah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, serta Kabupaten Sukabumi (Lampiran E).

(4)

4.1.6 Peta Daerah Resapan Air

Daerah resapan air merupakan daerah imbuhan atau tempat berkumpulnya air yang dapat menambah air tanah secara alami terdapat pada cekungan air tanah.

Provinsi Jawa Barat memiliki daerah resapan air (Lampiran F) yang tersebar didominasi di Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Garut.

a

4.2 Pengolahan Data

Pengolahan data pada pembuatan peta zona layak wilayah tambang dilakukan dengan menggunakan software ArcGIS (Versi 10.3) dengan memunculkan setiap layer pada setiap peta yang diperlukan. Pengolahan data ini menggunakan metode penapisan yang mana nantinya dari setiap peta yang di overlay akan menjadi peta zona layak wilayah tambang yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat.

4.2.1 Peta Hutan Konservasi Overlay Peta WUP dan IUP

Peta WUP dan peta hutan konservasi yang telah ada, dilakukan penapisan yaitu dengan memunculkan layer peta konservasi, seperti yang dilihat pada (Lampiran G) ruang kosong yang berada pada peta WUP terisi dengan layer hutan konservasi (ungu) hal tersebut menandakan peta WUP yang telah ada sebelumnya sudah dilakukan penapisan terhadap peta hutan konservasi, sehingga di daerah tersebut tidak dibuat wilayah usaha pertambangan selain daerah kota seperti Kota Depok, Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Cirebon, dan Kota Tasikmalaya.

Setelah dilakukan pembuatan peta konservasi diatas layer WUP, selanjutnya dimunculkan layer data pemegang IUP, hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah

(5)

ada tidaknya IUP yang berada pada kawasan hutan konservasi. Dilihat pada (Lampiran G) ada suatu layer yang menumpuk pada kawasan hutan dan IUP.

4.2.2 Peta KBAK Overlay Peta WUP dan IUP

Peta WUP dan peta KBAK yang telah ada, dilakukan penapisan yaitu dengan memunculkan layer peta KBAK, seperti yang dilihat pada (Lampiran H). Layer KBAK berada pada daerah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bandung Barat yang masing- masing berada pada WUP logam dan non logam.

Setelah dilakukan pembuatan peta KBAK diatas layer WUP, selanjutnya dimunculkan layer data pemegang IUP, hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah ada tidaknya IUP yang berada pada layer KBAK. Dilihat pada (Lampiran H) ada suatu layer yang menumpuk pada KBAK dan IUP.

4.2.3 Peta Daerah Resapan Air Overlay Peta WUP dan IUP

Peta WUP dan peta daerah resapan air yang telah ada, dilakukan penapisan yaitu dengan memunculkan layer peta daerah resapan air, seperti yang dilihat pada (Lampiran I). Layer daerah resapan air mendominasi di bagian utara yaitu Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang yang memiliki WUP non logam, adapun daerah resapan air Kabupaten Bandung berada pada WUP logam. Untuk bagian selatan didominasi di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur.

Setelah dilakukan pembuatan peta daerah resapan air diatas layer WUP, selanjutnya dimunculkan layer data pemegang IUP, hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah ada tidaknya IUP yang berada pada layer daerah resapan air. Dilihat pada (Lampiran I) ada beberapa layer yang menumpuk di sebagian kabupaten/kota pada daerah resapan air dan IUP.

4.2.4 Peta Zona Layak Wilayah Tambang

Pembuatan peta zona layak wilayah tambang didasarkan atas peta dasar yaitu dalam penelitian kali ini menggunakan peta WUP yang mana peta WUP belum

(6)

dilakukan proses penapisan terhadap daerah apapun, setelah dibuatnya peta-peta hasil overlay kawasan hutan konservasi, KBAK, dan daerah resapan air, maka selanjutnya setiap layer ketiga kawasan tersebut dimunculkan (Lampiran J) lalu dilakukan penapisan terhadap 3 kawasan tersebut, yang mana dapat dilihat pada (Lampiran J).

Referensi

Dokumen terkait

Answer: As at 30 September 2016, no staff have been recruited by the Office of the Chief Minister from interstate or overseas to the Northern Territory to support the new elected

As an associate handling editor and on the behalf of the entire editorial team we are gratified to the authors for showing trust in the journal and along with this 1st issue of year we