• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV - Repository Poltekkes Tasikmalaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV - Repository Poltekkes Tasikmalaya"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

Prosedur pernafasan dalam ini penulis lakukan dengan terlebih dahulu menunjukkan cara melakukan terapi pernafasan dalam, kemudian pasien mengaplikasikan sesuatu. Ketika pasien mencoba mendemonstrasikan cara melakukan terapi nafas dalam, pasien dapat melakukannya dan merasa rileks, mereka akan mencoba melakukan terapi pernafasan dalam. Penulis meminta pasien untuk melakukan praktik terapi nafas dalam sesuai dengan apa yang penulis ajarkan kemarin.

Penulis kemudian menanyakan bagaimana perasaan pasien setelah melakukan terapi nafas dalam, pasien mengatakan bahwa pasien merasa nyaman setelah melakukan terapi nafas dalam, dan pikiran pasien menjadi rileks. Penulis memberikan buku catatan kepada pasien untuk mencatat aktivitas sehari-hari pasien jika telah melakukan terapi pernapasan dalam. Penulis kemudian meminta pasien untuk melakukan terapi pernafasan dalam sesuai prosedur yang diajarkan penulis, pasien dengan serius memperagakan terapi pernafasan dalam.

Penulis kemudian meminta pasien untuk melakukan terapi pernapasan dalam seperti yang pasien katakan sebelumnya. Penulis kemudian meminta pasien untuk terus melakukan terapi pernapasan dalam pada waktu yang telah disepakati bersama. Penulis mengatakan apakah pasien sudah melakukan terapi nafas dalam sesuai jadwal, pasien mengatakan pasien melakukannya sesuai jadwal, dan pasien memberikan catatan kepada penulis tentang aktivitas sehari-hari.

Penulis kemudian meminta pasien untuk menyebutkan prosedur terapi pernapasan dalam yang benar dan penulis.

Setelah Dilakukan Intervensi

D setelah melakukan terapi nafas dalam, data yang didapat pada hari pertama adalah pasien merasa tenang dan pikiran pasien menjadi rileks ketika pasien berada di dalam, pandangan mata pasien tajam, karena pasien masih menyesuaikan diri dengan penulis, wajah pasien masih terlihat tegang, pasien selesai berbicara dengan penulis, pasien masih terlihat mondar-mandir, saat pasien berbicara, suara pasien meninggi, pasien masih terlihat santai. Pada hari kedua setelah melakukan terapi nafas dalam, pasien merasa tenang, dan pikiran pasien menjadi rileks ketika pasien melakukan terapi nafas dalam, dan diperoleh data yang sama, hanya saja pasien sudah menjalin hubungan saling percaya dengan pasien. pengarang. sehingga pasien tidak lagi berjalan-jalan. Pasien tampak paham dan paham melakukan terapi nafas dalam, pasien berkonsentrasi saat melakukan terapi nafas dalam, pasien sudah melakukan nafas dalam sesuai jadwal yang telah disepakati. Pada hari ketiga dan keempat setelah dilakukannya terapi nafas dalam, pasien merasa tenteram dan pikiran pasien menjadi rileks pada saat pasien melakukan terapi nafas dalam. Tanda dan gejala pasien mereda, baru pada hari ketiga tanda dan gejala masih ada. Wajah pasien terlihat tegang, pasien masih merasa jengkel terhadap ibu dan adik pasien, dan pada hari ke empat, tanda dan gejala yang dirasakan pasien hanya berupa pasien masih merasa kesal dan curiga terhadap ibu dan adik pasien. digunakan untuk terapi pernapasan dalam.

M setelah dilakukan terapi nafas dalam merasa nyaman dan pikiran pasien menjadi rileks.Data yang diperoleh pada hari pertama setelah dilakukan terapi nafas dalam adalah pandangan mata pasien tajam, wajah pasien tampak tegang, pada saat pasien melakukan terapi nafas dalam. napas dalam. Terapi membuat pasien merasa lega, rileks, namun setelahnya pasien masih merasa kesal atau terlihat emosi. Pada hari ke-2 pasien merasa nyaman, dan pikiran pasien menjadi rileks, tanda dan gejala pasien sama seperti hari pertama setelah dilakukan terapi nafas dalam, hanya saja pada hari ke-2 pasien marah/jengkel pasien tidak lagi. menutup mulutnya, pasien tidak lagi berjalan, pasien tidak lagi mengatakan bahwa bila marah tidak akan memukul orang lain. Pada hari ke-3 pasien merasa nyaman, dan pikiran pasien menjadi rileks, tanda dan gejala pasien sama seperti pada hari ke-2, hanya saja pasien tidak lagi berbicara dengan suara keras.

Pada hari ke-4 pasien merasa nyaman dan pikiran pasien menjadi rileks, tanda dan gejala pasien sama seperti pada hari ke-3, hanya saja pasien sudah tidak mudah marah lagi, dan tidak mencemooh/mengkritik orang di sekitar pasien. Perbedaan respon yang diberikan antara pasien 1 dan pasien 2 setelah dilakukan terapi nafas dalam selama 4 hari pada jam 8 dan jam 4 sore yaitu Bpk. M, sebelum dilakukan intervensi ditemukan tanda dan gejala pada saat pengkajian yaitu menatap, tangan mengepal, tegang, rahang mengatup, mondar-mandir, suara keras, mudah tersinggung, berbicara kasar, berbicara dengan nada keras, mengatakan benci/kesal pada orang lain, suka mengejek dan mengkritik orang lain, setelah melakukan intervensi rutin yaitu 2 kali sehari pada 8 dan 16, tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan mungkin berkurang pada hari ke-4, namun pasien tidak dapat menggunakan intervensi terapi pernapasan dalam jika pasien sedang marah, emosional, atau mudah tersinggung.

Pembahasan

Terapi relaksasi nafas dalam sebaiknya diajarkan kepada pasien yang beresiko melakukan perilaku kekerasan dengan tujuan agar pasien dapat mengendalikan emosinya agar tidak membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Terapi relaksasi nafas dalam pada studi kasus ini melihat dari aspek riwayat perilaku kekerasan pasien. Dalam melakukan terapi pernapasan pada pasien, penulis sendiri harus mendapatkan kepercayaan dari pasien, yaitu dengan membangun hubungan saling percaya dengan menjelaskan prosedur pelaksanaan, menyampaikan tujuan prosedur dan membuat kontrak waktu.

M masih menunjukkan tanda dan gejala yang menunjukkan adanya risiko perilaku kekerasan, misalnya mudah tersinggung, emosi pasien tidak stabil, jika berobat ke Tn. Solusinya penulis harus mampu beradaptasi dengan pendekatan dan melakukan intervensi terapi pernafasan dengan menyesuaikan kondisi pasien, bila pasien dalam keadaan emosi stabil penulis akan menerapkan terapi pernafasan tersebut, dan penulis juga harus mengeluarkan biaya. memperhatikan lingkungan yang kondusif sehingga memungkinkan pasien berkonsentrasi. Tanda dan gejala tersebut meliputi tanda dan gejala obyektif dan subyektif sesuai dengan Keliat, A.B (2019), tanda dan gejala obyektif yaitu tatapan tajam, tangan terkepal, rahang terkatup, gelisah dan tempo, mudah tersinggung, suara tinggi dan bicara keras, serta tanda dan gejala subjektif mengatakan dia benci/menjengkelkan orang lain, mengatakan ingin memukul orang lain, suka mengejek dan mengkritik.

Hasil evaluasi dan observasi terhadap kedua pasien hanya sebagian tanda dan gejala yang muncul, hal ini dikarenakan penulis tidak dapat mengamati tanda dan gejala yang muncul pada pasien selama 24 jam, karena penulis hanya menerima pelayanan medis. sampai dengan pukul 18.00 WIB, untuk itu solusi yang penulis sarankan adalah berkoordinasi dengan perawat panti jompo untuk mendapatkan rekam medis pasien selama 24 jam. Proses pelaksanaannya dilakukan pada dua orang pasien berisiko perilaku kekerasan dengan melakukan terapi nafas dalam yang dilakukan selama 4 hari berturut-turut yang dilakukan dua kali sehari pada jam 8 pagi dan. D merasa nyaman, dan pikiran pasien menjadi rileks, pasien juga sudah menerapkan terapi nafas dalam ketika pasien merasa emosi, kesal dengan orang lain.

Jawaban yang diberikan adalah pasien merasa nyaman, rileks, namun pasien tidak dapat menggunakan terapi nafas dalam ketika sedang emosi, marah terhadap orang lain. Prosedur ini sesuai dengan pedoman PPNI SPO (2021) yang menyatakan bahwa sebelum melakukan terapi nafas dalam, pasien harus mempersiapkan diri, dimulai dengan mengidentifikasi pasien, menjelaskan tujuan dan prosedur, kemudian menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengatur suasana hati. posisikan pasien senyaman mungkin, kemudian anjurkan pasien untuk melakukan terapi pernapasan dalam, dimulai dengan menutup mata, menghirup udara melalui hidung, dan menghembuskan napas secara perlahan melalui mulut. Lakukan proses ini hingga pasien merasa nyaman, dan pada langkah terakhir, ingatlah untuk menahan napas selama 3 detik lalu hembuskan perlahan. Perbedaan tanggapan terjadi karena Pak.

M hanya melakukan terapi nafas dalam saat pasien bertemu dengan penulis karena pasien yakin dirinya tidak gila, hanya saja pasien tidak bisa mengendalikan emosinya. Hasil evaluasi pasien setelah dilakukan terapi nafas dalam selama 4 hari berturut-turut dan dilakukan 2 kali sehari pada pukul 08.00 dan 16.00 menunjukkan hasil yang dapat mengurangi tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan pada Tn. D sebelum melakukan terapi nafas dalam mempunyai beberapa tanda dan gejala seperti mata melotot, tegang, mondar-mandir, suara keras, mudah tersinggung, mengatakan kesal pada adik dan ibunya, mengatakan ingin memukul orang lain, merasa bahwa dia gagal mencapai tujuannya setelah menarik napas dalam-dalam. Dalam waktu 4 hari, tanda dan gejalanya mereda, namun pasien masih merasa kesal dengan ibu dan saudara perempuannya.

Sebelum melakukan terapi nafas dalam, ada beberapa tanda dan gejala yang menunjukkan risiko terjadinya perilaku kekerasan, seperti menatap, tangan terkepal, tegang, rahang terkatup, mondar-mandir, suara keras, mudah tersinggung, ucapan kasar, ucapan bernada tinggi. , dan berkata kesal pada orang lain jika orang itu berkata Pak. Setelah intervensi rutin, tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan dapat berkurang pada hari ke 4, tanda dan gejala berkurang, meskipun pasien tidak dapat menggunakan terapi pernapasan dalam jika pasien sedang marah, emosional atau kesal. .

Keterbatasan KTI/TA

Solusi studi kasus ini akan sama-sama efektif jika diberikan kepada pasien yang berisiko melakukan perilaku kekerasan dengan memperhatikan kondisi awal pasien yang sama, karakteristik pasien yang sama, faktor yang sama, hingga mendapatkan hasil yang sama.

Implikasi Untuk Keperawatan

Pasien

Perawat Panti Gramesia

Panti Gramesia

Referensi

Dokumen terkait

Ilhan OZTURK Editor, International Journal of Energy Economics and Policy IJEEP I am happy to receive information that our paper is entitled "Oil Price and Leverage for Mining Sector

The distribution of urinary N loads [N] × volume was described using the density curve fitted based on the frequency of the urine deposition of different N loads, and was used in the