1 BAB IV
PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Perlindungan Hukum hak atas tanah adat di wilayah Negeri Sumeith Passinaru secara yuridis dalam bentuk Peraturan Daerah belum ada. Di sisi lain keberadaan hak tanah adat di Negeri Sumeith Passinaru masih diakui oleh masyarakat hukum adat setempat dan yang berbatasan. Hal demikian tidak sesuai dengan yang diatuar dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 18B Ayat Ayat (2), serta sebagai hak konstitusional Masyarakat Hukum Adat, yang juga diatur dalam Peraturan Perundang-undangan lainya, yang mengakui dan melindungi Masyarakat Hukum Adat dan hak-haknya termasuk hak atas tanah. Sehingga pihak masyarakat maupun pihak pemerintah daerah dan pihak ke tiga lainya tidak memiliki acuan atau pedoman yuridis. Yang ada hanya wujud pengakuan secara de facto belum diikuti secara de yure.
B. Saran
Diharapkan Pemerintah dalam hal ini Pemerintah Daerah baik Gubernur, Walikota, maupun Bupati sebaiknya memperhatikan keberadaan Hak Masyarakat Hukum Adat atas lahan/tanah yang dijadikan sebagai objek investasi yang akan di lakukan oleh pihak perusahaan yang mendapat ijin dari Pemerintah Bupati SBB kepada pihak CV.Titian Hijrah dalam
2 pemanfaatan wilayah dalam hal ini lahan/tanah untuk kegiatan investasi,
harus melibatkan Masyarakat Hukum Adat untuk bersama-sama terkait dengan pembuatan suatu perjanjian terhadap wilayah masyarakat hukum adat baik di atas maupun di bawa sebagai sarana di bagi hak lahan/tanah yang di jadikan sebagai objek investasi. Dan diharapkan Pemerintah SBB harus menerbitkan Perda tentang pengakuan dan perlindungan Hak Atas tanah MHA.
Diharapkan CV.Titian Hijrah sebagai perusahan yang keberadaannya berdampingan dengan masyarakat hendaknya dapat meminta persetujuan dan partisipasi baik dengan Masyarakat Hukum adat, agar perusahaan dapat mengetahui dengan jelas lahan yang mereka kelola yang diizinkanya telah diberikan pemerintah apakah keberadaanya tersebut diatas tanah milik Negara atau milik masyarakat adat yang disebut dengan tanah ulayat, ini diharapakan agar tidak terjadi konflik dikemudian hari.
Diharapkan Masyarakat adat Desa Sumeith Passinaru hendaknya dapat memelihara keberadaan tanah ulayat yang mereka miliki agar tidak diambil ahli oleh pihak-pihak luar yang bukan berasal dari desa Sumeith Passinaru. Hak ulayat masyarakat hukum adat di dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, harus lebih mengatur hak-hak atas tanah adat menujukan adanya upaya untuk menerbitkan pemakaian tanah adat sehingga benar-benar menjamin keadilan, perlu juga dibuat Peraturan Desa.