• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN KARYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB V PEMBAHASAN KARYA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

58

BAB V

PEMBAHASAN KARYA

5.1. Proses Penciptaan Karya

Proses penciptaan karya dalam skripsi merupakan pengaplikasian hasil penelitian kedalam bentuk karya nyata. Dalam hal ini karya yang dibuat oleh peneliti adalah program film/ dokumenter. Dalam dokumenter ini peneliti akan menceritakan mengenai pelestarian seni lukis di Desa Jelekong sesuai dengan tema yang peneliti angkat dalam penelitian ini. Peneliti memberi judul film ini dengan judul “Pusaka di Tanah Jelekong” peneliti menjabat sebagai sutradara dalam pembuatan karya ini. Peneliti akan menjelaskan proses dalam penciptaan karya ini yang meliputi tiga tahapan, yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi.

5.1.1. Tahap Pra Produksi (Kreatif)

Dalam tahap pra produksi peneliti membuat perencanaan mengenai pembuatan film dokumenter ini. Peneliti memulai dari menentukan ide kreatif mengenai konsep apa yang akan ditampilkan dalam film dokumenter ini. Kemudian peneliti melakukan riset mengenai objek penelitian yang akan diangkat kedalam karya ini, riset ini dibagi kedalam dua tahap, pertama riset mengumpulkan data- data dan informasi mengenai objek penelitian, kemudian yang kedua riset lapangan, peneliti turun langsung ke lapangan untuk menggali data dan informasi lebih dalam lagi.

Melalui riset pertama penulis mendapatkan data mengenai siapa saja yang harus peneliti wawancarai sebagai narasumber, sehingga ketika riset dilapangan

(2)

peneliti sudah bisa menggali informasi lebih dan juga melakukan pendekatan kepada narasumber.

5.1.2. Tahap Produksi

Pada tahap produksi peneliti bertanggung jawab penuh terhadap seluruh proses produksi karen peneliti menjabat sebagai sutradara. Dalam produksi ini pertama-tama peneliti membantu mengkonfirmasi narasumber yang seudah ditentukan sebelumnya. Kemudian melakukan proses wawancara bersama narasumber dan memberikan beberapa pertanyaan yang sesuai dengan fokus yang akan diangkat yaitu pelestarian seni lukis di Desa Jelekong.

Peneliti juga ikut membantu penata gambar dalam menentukan blocking kamera dan narasumber dalam proses wawancara, selain itu peneliti juga ikut membantu setup audio untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Selain melakukan wawancara kepada narasumber, peneliti sebagai sutradara juga mengarahkan penata gambar untuk mengambil beberapa stock shot yang menggambarkan pelestarian seni lukis di Desa Jelekong.

5.1.3. Tahap Pasca Produksi

Setelah selurus proses produksi selesai dilakukan, tahap selanjutnya adalah tahap pasca produksi. Pada tahap ini peneliti bersama rekan peneliti melakukan proses editing dimana kami memilih/ menyortir terlebih dahulu pertanyaan dan jawaban penelitian mana yang akan dimasukan kedalam film dokumenter ini. Lalu selanjutnya melakukan tahap rough cut yaitu memotong dan menyatukan beberapa gambar sesuai dengan cerita yang akan kami bangun, sehingga cerita dalam dokumenter ini sudah dapat dibaca oleh penonton. Setelah itu kami melakukan

(3)

tahan finishing dengan menambahkan beberapa efek yang dibutuhkan dalam film ini, seperti transisi, caption nama, judul, dll.

5.2. Spesifikasi dan Deskripsi Program A. Latar Belakang Program

Film dokumenter adalah media yang menayangkan kejadian- kejadian dalam sudut pandang tertentu dalam berbagai hal. Film dokumenter sering digunakan oleh seniman-seniman kontemporer untuk memberi tahu kenyataan pada suatu hal yang tidak diketahui oleh masyarakat.

Film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan, artinya dalam film dokumenter menyajikan kejadian-kejadian yang dilakukan dalam keseharian masyarakat, film dokumenter juga menjadi wadah untuk orang-orang yang ingin mengungkapkan fakta mengenai hal- hal tertentu.

Pembuatan film dokumenter harus memiliki riset yang kuat yang berdasarkan fakta kejadian untuk membuat film tersebut benar-benar nyata dimata penonton.

Pentingnya peran film dokumenter dibidang komunikasi dan penyiaran yaitu dapat membuat para khalayak tahu apa yang terjadi dibalik layar, apa fakta sebenarnya yang terjadi di lapangan.

Film Dokumenter “Pusaka di Tahan Jelekong” adalah film dokumenter yang menyuguhkan informasi mendalam mengenai pelestarian seni lukis di Desa Jelekong yang dilakukan Komunitas Gurat. Mulai dari

(4)

sejarah munculnya seni lukis di desa ini hingga perkembangan seni lukis Jelekong di zaman sekarang.

B. Tujuan Teoritis

Karya ini dibuat dengan maksud untuk memberikan informasi baru bagi dunia ilmu komunikasi khusunya dibidang perfilman dan pertelevisian. Sehingga bisa menjadi referensi untuk kajian penelitian ilmu komunikasi Film dan Televisi dimasa sekarang dan masa mendatang.

C. Tujuan Praktis

Tujuan penelitian menciptakan sebuah karya ini adalah untuk membuka wawasan lebih luas atas apa yang sedang terjadi pada objek yang diangkat didalam karya penelitian, serta memberikan informasi yang bermanfaat baik sebagai pengetahuan maupun untuk promosi desa tersebut.

5.2.1. Deskripsi Program

Kategori Program : Hiburan dan Informasi

Media : Televisi

Format Program : Film/ Dokumenter

Judul Program : Pusaka di Tanah Jelekong

Durasi Program : 6 Menit 46 Detik

Target Audiens : - Semua Umur

- Menengah Ke Bawah

Karakteristik Produksi : Record Single Camera

(5)

5.3. Laporan Produksi

5.3.1. Lembar Kerja Sutradara A. Konsep Cerita

Film berjudul Pusaka di Tanah Jelekong bertemakan tentang pelestarian seni lukis yang dilakukan di Desa Jelekong. Strategi komunikasi dan proses pelestarian yang dilakukan oleh Komunitas Gurat menjadi keunikan yang akan diangkat dalam film dokumenter ini. Informasi yang disajikan dalam film ini ialah melalui cerita yang dituturkan oleh narasumber dan didukung oleh shot-shot menarik yang menggambarkan pelestarian seni lukis di Desa Jelekong.

B. Konsep Alur

Alur yang dipakai dalam film ini adalah alur maju, karena film ini menceritakan proses dari awal hingga tercapainya tujuan pelestarian seni lukis yang dilakukan oleh Komunitas Gurat di Desa Jelekong.

C. Narasumber

Tabel V. 1 Data Narasumber

No. Nama Informan Usia Jenis Kelamin

Keterangan

1. Didi Suryadi 26 Tahun Laki-Laki Pelukis/ Ketua Komunitas Gurat 2. Dadang Sugiman 57 Tahun Laki-Laki Pelukis/ Anggota

Komunitas Gurat

(6)

3. Munir 29 Tahun

Laki-Laki Pelukis/ Anggota Komunitas Gurat 4. Iman Budiman 33 Tahun

Laki-Laki Pelukis/ Anggota Komunitas Gurat

5. Iyus 46 Tahun

Laki-Laki Marketing/ Dewan Penasihat

Komunitas Gurat

Sumber : Olahan Peneliti

5.4. Director Treatment

Production Company : Satriany Project Produser : Davi & Sandi Project Title : Pusakan di Tanah Jelekong Director : M Davi Satriany S

Durasi : 6 Menit 46 Detik Penulis : Sandi Nugraha

Tabel V. 2 Director Treatment

No. SHOT VISUAL

DIRECTION AUDIO

SHOT MOVE ANGLE

1. 1

LS ZOOM EYE

LEVEL

Suasana Desa Jelekong, Pelukis, Museum 3D

VO

2. 2

MS STILL EYE

LEVEL

Narasumber Didi Suryadi

BS

3. 3

MS STILL EYE

LEVEL

Narasumber Iman

Budiman BS

4. 4

CU STILL EYE

LEVEL

Narasumber Didi Suryadi

BS

5. 5

MS STILL EYE

LEVEL

Narasumber Iyus BS

(7)

5.5. Analisi Karya

Dalam dunia perfilman, selain kualitas visula yang harus memadai, kualitas audio juga sangat menunjang dalam karya ini. Dan tidak kalah pentingnya dari kedua hal tersebut untuk membantu sebuah film dokumenter adalah penulisan naskah mengenai pendalaman objek penelitian ini. Dengan menyadari fungsi naskah sangat penting, maka karya tanpa naskah adalah kesalahan yang sangat fatal. Film adalah sebagai hiburan yang sangat sulit untuk dibantahkan dari kenyataan, karena juga sebagai media yang menjalankan fungsi hiburan.

Alasan peneliti memilih format program film dokumenter karena saat ini film menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hiburan dan informasi. Peneliti berharap dengan film yang dibuat ini, dapat diterima dan disukai oleh penontonya. Peneliti juga berharap semoga informasi yang disajdikan dalam film ini benar-benar bermanfaat dan menghibur bagi penonton.

Referensi

Dokumen terkait