BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Dalam Karya Ilmiah Terapan ini penulis akan mendeskripsikan tentang gambaran umum objek penelitian sesuai dengan judul penelitian yaitu
“MEMAKSIMALKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INGGRIS UNTUK BERKOMUNIKASI DIATAS KAPAL MT BULL PAPUA.”. Sehingga dengan adanya deskripsi gambaran umum objek penelitian ini pembaca dapat memahami dan mampu merasakan tentang hal yang terjadi pada saat penulis melakukan penelitian di atas MT. Bull Papua.
MT. Bull Papua adalah sebuah kapal Crude Oil Tanker yang dikelola oleh PT.TOPAZ MARITIME yang berkantor di Mega Kuningan Timur Blok C6 kav.
12A Jakarta Selatan Kapal MT. memiliki nama panggilan (Call Sign) Juliet Zulu Yankee Charlie (JZYC) dengan Port Of Registry Jakarta IMO No. 9209295, dan memiliki Dead Weight Tonnage (DWT) 108.935 Ton. Ukuran – ukuran pokok kapal diantaranya: panjang kapal/Length Over All (LOA) 240.99 meter dan lebar kapal 42.00 meter, serta memiliki Tropical Draft 15.23 meter.
Dalam melakukan penelitian, lokasi penelitian taruna yaitu di atas kapal MT. Bull Papua, PT. Topaz Maritim, jenis kapal Crude Oil Tanker. Berikut adalah Ship Particular kapal MT. Bull Papua :
[SPACE FOR SHIP’S PARTICULAR]
[SPACE FOR CREW LIST]
Kapal MT. Bull Papua mempunyai route yang tiap voyage-nya hanya meliputi Fujairah (UAE) – Singapura – Cilacap. Kapal ini memuat dan membongkar muatan berupa Crude oil / minyak mentah tiap sandarnya. Dalam pengoperasiannya, muatan yang akan dibongkar dan dimuat atau dikenal dengan istilah Discharging dan Loading terhitung dalam sebuah Voyage Instructions yang diberikan oleh Charterer dan akan diperiksa kembali oleh Mualim I di atas kapal dengan dibuatnya sebuah Stowage Plan untuk proses bongkar dan memuat muatan. Hal tersebut dilakukan pada setiap voyage baik pada saat loading maupun discharging.
Tabel 4.1Crew List MT. Bull Papua
No Jabatan Kebangsaan
1 Kapten Indonesia
2 Mualim I Indonesia
3 Mualim II Indonesia
4 Mualim III Indonesia
5 Mualim IV Indonesia
6 KKM Indonesia
7 Masinis II Indonesia
8 Masinis III Indonesia
9 Masinis IV Indonesia
10 Masinis V Indonesia
11 Electrician Indonesia
12 Bosun Indonesia
13 P/Man Indonesia
14 Juru Mudi Indonesia
15 Juru Mudi Indonesia
16 Juru Mudi Indonesia
17 Kadet Indonesia
18 Kadet Indonesia
19 Kadet Indonesia
20 Kadet Indonesia
21 Tukang Las Indonesia
22 Mandor Indonesia
23 Juru Minyak Indonesia
24 Juru Minyak Indonesia
25 Juru Minyak Indonesia
26 Koki Indonesia
27 Pelayan Indonesia
Sumber: IMO Crew List Arrival to Fujairah MT. Bull Papua Gambar 4.1 Kapal MT.Bull Papua
Sumber : Dokumentasi oleh penulis
MT. Bull Papua memiliki Kapten yang mengharuskan crewnya berbicara Bahasa inggris, sehingga di atas kapal semua kru harus bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, terlebih khusus Bahasa Inggris Maritim, untuk menghindari miscommunication yang dapat membahayakan pekerjaan, muatan, kapal dan lingkungan sekitar kapal.
B. Hasil Penelitian
1. Penyajian Data
Sesuai dengan masalah yang diangkat maka sebagai deskripsi data, akan dijelaskan tentang keadaan yang terjadi di kapal, sehingga dengan deskripsi ini penulis mengharapkan agar pembaca mampu dan bisa merasakan tentang semua hal yang terjadi selama penulis melaksanakan penelitian.
Penerapan Maritime English di atas kapal harus dilakukan dengan baik dan benar, baik pada saat kapal sedang berlayar maupun saat kapal sedang melaksanakan cargo operation atau sandar di sebuah pelabuhan. Sebab jika hal ini tidak diterapkan dengan baik maka akan mengakibatkan terjadinya kesalahan maupun kecelakaan yang tidak diinginkan, sehingga dapat merugikan semua pihak yang terlibat dalam sebuah operasi, baik charterer, owner dari perusahaan pelayaran maupun dapat membahayakan kru yang berada di atas kapal.
Berdasarkan hasil penelitian penulis selama berada di atas kapal MT. Bull Papua pada saat kapal berlayar maupun saat kapal sedang melaksanakan cargo operation atau sandar di sebuah pelabuhan sering terjadi kesalahan pada saat melakukan komunikasi yang diakibatkan karena tidak diterapkannya Maritime
English dengan baik dan benar. Di bawah ini adalah beberapa contoh kejadian yang terjadi dan diuraikan sebagai berikut:
1. Pada saat passing dengan kapal luar.
Sekitar pukul 21.00 LT di daerah Laut China Selatan MT. Bull Papua hampir bertubrukan dengan sebuah kapal container MV. Danum 9 yang disebabkan karena terjadinya miscommunication antara perwira dek MT. Bull Papua dengan perwira dek MV. Danum 9. Kejadian ini terjadi pada tanggal 09 Juli 2019 saat kapal sedang berlayar dari Cilacap menuju Sungai Natuna, setelah selesai melaksanakan proses bongkar muatan pada voyage no. 06. Pada saat itu terjadi sebuah situasi kapal berhadapan dengan kecepatan MT. Bull Papua adalah 11.2 knots dan MV. Danum 9 adalah 8.6 knots. Mempelajari situasi ini Mualim III mengambil inisiatif untuk mengubah haluan kapal ke kanan¸ akan tetapi pada saat itu terlihat melalui Radar (Radio detection and ranging) MV. Danum 9 perlahan- lahan mengubah haluannya ke kiri. Melihat hal tersebut Mualim III MT. Bull Papua yang berkebangsaan Indonesia mencoba untuk memanggil MV. Danum 9 melalui Radio VHF untuk memastikan keputusan yang akan diambil dalam situasi ini, setelah beberapa saat perwira dek MV. Danum 9 menjawab panggilan Mualim III MT. Bull Papua dengan menggunakan bahasa Cina, pada saat itulah terjadi miss comunication antara kedua perwira dek di kedua kapal yang terlibat, melihat CPA (Cross point Approach) sudah menunjukan angka di bawah 0.50 nm, maka Mualim III MT. Bull Papua yang awalnya sudah mengubah haluan ke kanan langsung mengubah haluan ke kiri untuk menghindari tubrukan yang dikarenakan perwira dek MV. Danum 9 tidak bisa merespon pesan yang disampaikan oleh Mualim III MT. Bull Papua.
2. Pada saat melakukan driil
Pada tanggal 21 Mei 2019 saat kapal berlabuh di Cilacap, diadakan drill pemadaman kebakaran di atas kapal, pada saat itu mualim III memerintahkan kepada juru mudi untuk mengambilkan hose di gudang bosun. Namun, juru mudi tersebut baru saja bekerja di atas kapal dan tidak mengerti apa yang dimaksud dari perintah mualim III, mualim III memerintahkan cadet A untuk membantu Juru Mudi mengambil hose di store bosun sekaligus memberikan familiarisasi terhadap alat keselamatan dalam mencegah kebakaran di atas kapal
3. Melakukan proses bongkar muat
Pada tanggal 11 Juni 2019 kapal MT. Bull Papua sedang melakukan loading operation di TPPI,Tuban pada Voyage no. 27/19. Di mana kejadian terjadi pada malam hari pukul 22.00 LT pada saat Mualim III hendak memberikan sebuah perintah kepada AB jaga yang sedang bertugas di dek.
Pada saat itu Mualim I memberikan sebuah perintah kepada AB yang berkebangsaan Indonesia untuk membuka valve nomor 2 kiri melalui walkie- talkie, tetapi dikarenakan aksen yang berbeda serta perintah dan jawaban yang tidak sesuai dengan SMCP maka AB yang berada di dek membuka valve nomor 4 kiri yang pada saat itu sudah mencapai tahap topping off, Mualim III yang tidak menyadari akan hal ini meninggalkan ruang kontrol dan melakukan 2-hourly checking di dek, setelah sampai di daerah manifold kemudian Mualim III menyadari bahwa AB jaga telah melakukan sebuah kesalahan dan segera membuka valve nomor 2 kiri dan menutup valve 4 kiri.
Beruntung kejadian itu tidak begitu lama disadari oleh Mualim III dan tidak sampai terjadi cargo overfill.
C. Pembahasan
1. Pada saat passing dengan kapal luar.
Sesuai dengan Colregs rules 14 paragraph (a) berbunyi “When two power- driven vessels are meeting on reciprocal or nearly reciprocal courses so as to involve risk of collision each shall alter her course to starboard so that each shall pass on the port side of the other”, maka pada saat itu baik perwira dek MT. Bull Papua maupun perwira dek MV. Danum 9 seharusnya dapat langsung mengambil keputusan untuk mengubah masing-masing haluan kapal ke kanan, akan tetapi pada saat itu MV. Danum 9 mengubah haluannya ke kiri pada saat MT. Bull Papua telah mengubah haluan ke kanan yang menyebabkan terjadinya near miss antara MT. Bull Papua dengan MV. Danum 9.
Hal ini tentu saja dapat dihindari dari awal apabila sudah terjadi komunikasi yang baik antara kedua perwira pada masing-masing kapal, terlepas dari peraturan Colregs yang tertulis bahwa kapal harus mengubah haluan ke kanan, namun apabila MV. Danum 9 memiliki batasan untuk mengubah haluan ke kanan dan lebih memilih untuk mengubah haluan ke kiri seharusnya perwira kapal MV.
Danum 9 harus menghubungi dan menjelaskan situasinya kepada perwira MT.
Bull Papua. Akan tetapi kejadian pada saat itu membuktikan bahwa perwira di MV. Danum 9 tidak menggunakan Maritime English dalam pekerjaannya yang meliputi navigasi laut. Tidak hanya Maritime English, bahkan perwira di atas kapal MV. Danum 9 tidak dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris dan malah menggunakan bahasa Cina pada saat melakukan komunikasi lewat Radio
VHF. Hal ini membuktikan bahwa perwira di MV. Danum 9 tidak mengikuti STCW Code, 2010, Table A-II/I Kolom II yang menyatakan “Pengetahuan Bahasa Inggris yang memadai memungkinkan perwira untuk menggunakan peta dan publikasi nautika lainnya, untuk memahami informasi dan pesan meteorologi mengenai keselamatan dan operasi kapal, untuk berkomunikasi dengan kapal lain, stasiun pantai dan pusat VTS dan untuk melaksanakan tugas dari perwira juga dengan awak yang menggunakan berbagai bahasa, termasuk kemampuan untuk menggunakan dan memahami Standard Marine Communication Phrases (SMCP) IMO” pada aturan ini menyebutkan bahwa sebagai perwira laut harus bisa menggunakan Bahasa Inggris termasuk kemampuan untuk menggunakan dan memahami SMCP.
Kejadian seperti ini akan sangat berbahaya apabila pada saat itu Mualim III MT. Bull Papua tidak melakukan keputusan dengan cepat di tengah miss communication yang terjadi antara kedua kapal.
2. Pada saat melakukan driil
Sesuai dengan dugaan langsung bahwa kejadian ini terjadi disebabkan oleh kemampuan berbahasa inggris jurumudi yang tidak memadai, sehingga ketika Mualim III memerintahkan sesuatu dengan menggunakan Bahasa Inggris tidak dapat dipahami dengan baik. Dan juga belum menguasai seluruh bagian, ruang, ataupun barang diatas kapal atau kurang memahami familirisasi 3. Melaksanakan proses bongkar muat
Sesuai dengan dugaan langsung bahwa kejadian ini terjadi disebabkan oleh perbedaan aksen antara Mualim III yang berkebangsaan Indonesia (Jawa Timur) dengan AB yang berkebangsaan Indonesia (NTT) pada saat
memberikan perintah untuk membuka valve nomor 2 kiri melalui walkie-talkie, Mualim III mengatakan “open two port” akan tetapi AB yang berada di dek mendengar perintah yang diberikan adalah “open four port” dan hanya membalas perintah dengan “okay” kemudian AB tersebut membuka valve nomor 4 kiri yang pada saat itu sudah mencapai tahap topping off. Akan tetapi sesuai dengan ketentuan SMCP ‘Produce Full Answer’ pada saat itu seharusnya AB jaga kembali membalas perintah yang diberikan dengan mengatakan “Okay, open four port” sehingga Mualim III akan menyadari telah terjadi kesalahan dalam komunikasi saat memberikan perintah dengan jawaban yang diberikan oleh AB jaga kemudian segera mengoreksi kesalahan yang telah terjadi. Hal ini tentu saja dapat dihindari apabila AB jaga pada saat itu menerapkan Maritime English dalam komunikasi yang dilakukan terlebih khusus saat berkomunikasi dengan orang berkebangsaan lain menggunakan radio. Ketentuan dari SMCP ketentuan SMCP ‘Produce Full Answer’ adalah AB tersebut harus mengulangi pertanyaan, pernyataan ataupun perintah yang diberikan oleh Mualim III atau perwira lainnya, untuk mengklarifikasi tentang perintah dan arahan yang diberikan atasan ataupun sebaliknya. Dengan kelalaian ini hampir menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi semua pihak yang terlibat.
Dari sini terlihat dengan pengalaman AB yang sudah bertahun-tahun bekerja di luar negeri pun masih memungkinkan terjadinya kesalahan dalam berkomunikasi.
Oleh karena itu kapten MT. Bull Papua melakukan beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris maritim guna meminimalisir
adanya miss communication antara sesama kru kapal, kru kapal dengan kru kapal lain, maupun dengan pihak kepelabuhan. Berikut adalah beberapa cara yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris bagi kru MT. Bull Papua :
1.
Memberikan poster , larangan, atau petunjuk menggunakan Bahasa inggris Kapten MT. Bull Papua mulai menerapkan system seperti ini sejak kapal MT.Bull Papua memiliki rute pelayaran melintasi berbagai negara. Dan juga karena semakin banyaknya miss communication karena kemampuan berbahasa inggris yang sangat kurang. Maka kapten dan mualim I memutuskan untuk mengganti seluruh poster berbahasa Indonesia dengan berbahasa inggris disetiap sudut ruangan. Sehingga para kru mencoba memahami apa isi dari poster tersebut. Jika ada sesuatu yang tidak mengerti maka para kru akan mencari tau arti kata tersebut. Dan mulai membiasakan diri untuk menggunakan Bahasa inggris. Dan dengan tujuan utama dapat meningkatkan kemampuan berbahasa inggris untuk seluruh kru kapal.2. Menjadikan Bahasa Inggris Bahasa Sehari-hari
Dengan digantinya kapten lama dengan kapten baru. Maka diganti juga aturan aturan tak resmi diatas kapal. Salah satunya adalah menjadikan Bahasa inggris menjadi Bahasa sehari hari, seperti pada saat memberi order, proses bongkar muat, jaga anjungan ataupun berkomunikasi sesame kru. Karena salah satu factor untuk mahir berbahasa inggris adalah menjadikannya kebiasaan atau menggunakannya sehari hari. Karena jika seluruh kru mampu menerapkannya menjadi Bahasa sehari hari maka akan semakin meninggkatkan kemapuan berbahasa inggris maritim. Jika itu sudah terjadi
maka akan meminimalisir terjadinya miss komunikasi dan juga akan mengurangi terjadinya kesalahan akibat komunikasi.
3. Adanya kelas belajar setiap sabtu minggu bagi kadet
Guna meningkatkan kemampuan berbahasa inggris untuk berkomunikasi diatas di berlakukannya kelas belajar bagi para kadet atau calon perwira kapal. Hal ini karena pada masa mendatang kadet mempunyai tanggung jawab dalam pekerjaan, kru dan juga sebagainya. Maka kadet harus mulai melatih kemampuannya sedini mungkin, salah satunya kemampuan berbahasa inggris maritim. Mualim I sebagai mentor yang sudah mempunyai pengalaman berlayar di berbagai perusahaan mancanegara membimbing penulis selaku kadet untuk meningkatkan kemapuan berbahasa inggris. Jika sedari dini sudah dapat menguasai kemampuan berbahasa inggris maka bukan tidak mungkin kedepannya akan semakin mahir dan akan mengurangi kecelakaan atau miss komunikasi.
BAB V PENUTUP
A. KesimpulanBerdasarkan proses penelitian yang dilakukan penulis selama melaksanakan praktek laut dapat disimpulkan bahwa:
1. Penggunaan bahasa inggris maritim diatas kapal MT. Bull Papua masih belum maksimal atau bahkan masih sangat kurang . Karena masih banyak kru kapal yang tidak menerapkannya sebagai bahasa sehari hari dan juga poster berbahasa inggris yang di tempel diabaikan begitu saja oleh sebagian kru.
Masih kurangnya kesadaran para kru untuk menggunakan Bahasa inggris dalam berkomunisaksi. Sehingga masih ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh awak kapal yang disebabkan karena miscommunication saat bekerja di atas kapal contohnya kesalahan pada saat cargo operation yang hampir terjadinya cargo overfill dikarenakan AB jaga saat itu tidak mengikuti aturan SMCP “Produce Full Answer” ataupun saat bernavigasi dan Mualim III salah mengucapkan perintah dan berlawanan dengan aturan SMCP yang mengakibatkan juru mudi mengemudikan kapal menuju haluan yang berbeda dengan Passage Plan yang sudah ditentukan.
2. Tindakan yang dilakukan oleh awak kapal untuk mencegah miscommunication saat bekerja di atas kapal adalah dengan memahami dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya SMCP pada saat bekerja di atas kapal serta tindakan yang dilakukan oleh perwira di atas kapal adalah dengan membuat Safety Meeting, menempel poster dan menjadikan Bahasa inggris menjadi Bahasa sehari hari ditujukan kepada seluruh awak kapal untuk lebih
memperhatikan lagi tentang Maritime English, terlebih khusus keadaan di atas MT. Bull Papua.
Maritime English sangatlah berpengaruh pada keselamatan pelayaran di atas kapal. Dibuktikan dengan masih terjadinya beberapa kesalahan ataupun near miss yang disebabkan karena miscommunication pada saat bekerja di atas kapal. Dengan mencegah hal ini untuk terjadi yaitu dengan menerapkan Maritime English dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari hal ini akan sangat berguna dan tentu saja dapat meningkatkan kualitas perkapalan dunia.
B. Saran
Melalui hasil kesimpulan di atas diharapkan kepada setiap pembaca yang ada baik taruna maupun pelaut lainnya untuk terus mengasah kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, terlebih khusus menggunakan Maritime English yang di dalamnya terdapat aturan-aturan yang sesuai dengan Standard Marine Communication Phrases (SMCP). Karena kesalahan yang terjadi di atas kapal tidak hanya dilakukan oleh taruna ataupun ABK akan tetapi semua kru kapal termasuk para perwira di atas kapal.
Selain itu, pelaut ataupun perwira di atas kapal dapat membuat latihan di luar drill yang membahas tentang Maritime English, mulai dari percakapan sederhana, percakapan melalui walkie-talkie antara para kru di atas kapal, maupun percakapan melalui Radio VHF dengan kapal lain, pelabuhan ataupun subjek dari luar kapal lainnya dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dan mutu para kru yang ada di atas kapal.