BAB. V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Simpulan
Post Power Syndrome adalah gejala-gejala negatif yang muncul setelah berakhirnya kekuasaan. Kekuasaan yang diperoleh dari memimpin suatu jabatan struktural. Jabatan structural bersifat tidak tetap. Pada saat masa jabatan structural berakhir, otomatis kekuasaan untuk yang diperoleh selama menjabat juga akan berakhir. Dengan tetap melakukan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, para dosen yang memiliki jabatan structural sebagai pemimpin Program Studi di Universitas Diponegoro, tidak teridentifikasi mengalami gejala post power syndrom. Pada waktu para pemimpin masih menjabat, para pemimpin Program studi tersebut aktif melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Pada saat masa jabatan memimpin Program Studi berakhir, kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi tetap dilakukan. Produktivitas para responden cenderung stabil.
Bahkan para responden pada masa tidak menjabat, memiliki kesibukan lain. Seperti mengelola bisnis yang dirintis semenjak masih menjabat.
Melakukan banyak aktifitas keagamaan. Kondisi kesehatan relative stabil. Dengan berakhir masa jabatan struktural sebagai pemimpin pada Universitas Diponegoro, para responden tidak terindentifikasi mengalami Post Power Syndrom. Sebaliknya, para pemimpin Program Studi teridentifikasi memiliki kesibukan baru seperti melakukan sustainable carer dan tetap melakukan Tridharma Perguruan Tinggi.
59 5.2. Rekomendasi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, terdapat beberapa saran psikologis untuk menghindari post power sindrom setelah tidak menjabat, yaitu:
1. Langkah preventif
Langkah preventif adalah mengembangkan pola hidup positif.
Karena pengembangan pola hidup yang positif memberikan energi positif yang baru. Seperti yang dilakukan para pemimpin program studi di lingkungan Universitas Diponegoro. Pada saat masa jabatan berakhir, para Pemimpin Program Studi tetap aktif melakukan kegiatan Tridharma Perguruan tinggi, melakukan kegiatan bisnis, melakukan kegiatan rokhani dan mengembangan kerjasama dengan pihak luar.
2. Langkah perseporatif
Dengan membuka diri pada ajakan untuk membuka kesempatan aktualisasi diri. Hal ini dilakukan oleh Para Pemimpin Program Studi di Lingkungan Universitas Diponegoro. Meskipun posisi saat ini sudah tidak menjabat, responden tetap bersifat terbuka dan tetap memberikan inspirasi pada pemimpin Program Studi yang menggantikan posisi jabatan yang pernah dijabat. Berkenan untuk menerima masukan dari orang disekitar. Sehingga gejala– gejala post power syndrome tidak terindentifikasi pada para pemimpin yang sudah habis masa jabatannya.
3. Langkah kuratif
Bersikap menerima sesuatu dengan perasaan ikhlas. Perlu menyadari bahwa segala sesuatu adalah kuasa dari Tuhan, termasuk kekusaan dan jabatan. Dengan bersikap ikhlas maka akan tumbuh perasaan gembira dalam menjalani tantangan hidup. Meskipun pada saat tidak lagi menjabat dan memiliki kekuasaan. Seseorang yang memiliki pandangan positif pada setiap kesulitan akan mencari solusi dalam setiap masalah hidupnya, bukan memikirkan masalah sebagai problematika yang tak ada solusinya. Dan langkah yang paling baik adalah berusaha mengembalikan segala sesuatunya berdasarkan ketentuan dari Tuhan YME.