• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGAIMANA SAMPAI KEPADA HAKEKAT

N/A
N/A
Helmi Arief

Academic year: 2024

Membagikan "BAGAIMANA SAMPAI KEPADA HAKEKAT "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAGAIMANA SAMPAI KEPADA HAKEKAT

Kemarin kita telah diajarkan atau telah disampaikan bagaimana kita untuk bisa sampai kepada hakekat, bagaimana supaya kita bisa sampai kepada hakekat, kalau kita tidak tahu hakikat sekedar syariat saja bahwa kita tidak sempurna keimanan ini berarti keimanan itu rapuh tidak kuat. Jadi kalau keimanan itu rapuh keislaman dengan sendiri juga rapuh, tidak kokoh jadi untuk sampai kepada hakekat ini kita berpikir ya mengenai dengan pengamalan, amal.

Umpamanya amal ibadah, amal atau muamalah, pekerjaan kita sehari-hari. amal. Dimana amal ini kita harus tahu apa itu amal. Umpama sembahyang apa itu sembahyang dimana sembahyang mulai daripada takbir sampai kepada salam, mengetahui yang demikian itu mengetahui hakikat daripada pekerjaan kita, dan kita juga harus tau mengenai syarat-syarat dari pada pengamalan itu sendiri. Umpamanya sembahyang, apa syarat-syaratnya, kalau kita bakadai apo syarat-syaratnya. Dia mempunyai syarat karena terhenti segala pekerjaan itu dengan syarat, jadi pekerjaan itu tidak berhasil kalau tidak kita lakukan syarat-syaratnya, dan ketika bahwa supaya pekerjaan itu yang kita lakukan itu, sesuai dengan hukum keagamaan, hukum syarak, pekerjaan yang kita lakukan itu sesuai dengan hokum artinya pekerjaan yang wajib, pekerjaan yang sunat paling kurang pekerjaan yang harus, tidak boleh pekerjaan yang haram, pekerjaan yang wajib, ibadah wajib, bersilaturrahmi-sunat, bakadai hukumnya harus, kan begitu toh? Batani-harus, lalu pekerjaan yang kita lakukan itu umpama ibadah dan lainnya yang ke empat harus ikhlas, apa? Ikhlas apa itu ikhlas?

Bersih. Itu pekerjaan daripada penyakit-penyakit dan bahaya-bahaya daripada pekerjaan. Apa saja pekerjaan itu ada juga berpenyakit ya? Umpama ibadah kita, sembahyang berpenyakit, bakadai Apa saja pekerjaan kita ada penyakitnya? Batannak ada saja penyakitnya.

Apa penyakitnya? Yaitu penyakitnya, Hudzut mencari keuntungan-keuntungan. Keuntungan- keuntungan daripada Pengamalan itu. Keuntungan yang tidak diizinkan oleh keagamaan. Kalau keuntungan boleh tidak apa-apa juga kalau Makadai cit memang kalau bakadai cit mencari labo, cit mecari labo.

Kalau sembahyang ba itu juwo, artinya keuntungan-keuntungan yang dimaksud itu kalau ibadah sebenarnya tidak boleh. Tapi kalau di cari razeki kata atau terbayang sekali jadi ya. Tapi jangan taek-taek bana. Tabayang budiadari jadi, ma usah banyak-banyak. lalu tu Hudzut, keuntungan- keuntungan nafsu, keuntungan-keuntungan daripada beramal nafsu itu hudzut.

Penyakit itu, kalau bakadai umpama tabayang keuntungan banyak itu dengan sendiri awak alah menipu. Menipu berbohong untuk mencari keuntungan penyakit itu penyakit. Dan juga penyakit itu terhijab amal itu dengan melihat bahwa amal itu datang daripada diri kita, tidak dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu penyakit Kalau terlihat amal itu datang dari diri kita, tidak terlihat amal itu datang dari Allah. Padahal amal itu datang dari siapa? Dari Allah. Artinya bantuan Allah. Kalau tidak, bantuan Allah, Taufik Allah, kita tidak bisa beramal. Maka amal itu merupakan Kurnia pemberian Allah. Sembahyang? Milik siapa sembahyang itu?

(2)

Milik Allah, pemberian Allah. Bukan itu milik kita, itu Taufik Allah, pemberian Allah. Jadi kalau kita benar-benar yakin, bahwa ibadah atau amal itu dari Allah, dari perbuatan Allah, yakin kita Maka menandakan kita telah dibukakan oleh Allah pintu untuk masuk kepada menjalani hakikat menjalani Berarti itu orang yang yakin bahwa pekerjaan amal itu dari Allah berarti orang itu sudah berhakekat Dengan makna bahwa dia itu sudah termasuk golongan orang yang bertauhid af’al. Apa orang yang bertauhid Af'al itu orang hakekat telah sah tawakkalnya kalau dia bertawakal itu telah sah tawakkal utamanya dalam Al-quran kita diperintahkan faiza azhamta fatawakkal ‘alallah, bila mana kamu telah membulatkan kemauan, saya alah membulatkan kemauan saya untuk saya naik haji, untuk saya pergi, maka bertawakkallah engkau kepada Allah. Melihat-lihat kita harus melihat bahwa pekerjaan itu datang Ya Allah.

Tidak dari kita. Kita diperintahkan itu, alah bulek awak bakadai maka kita batawakkal. Kedai itu baru bisa ada itu adalah dari Allah swt, Apa tauhid apa namanya itu? Tauhid af’al.

Dan yang kedua ini bagi Mubtadi, apa namanya? berhakekat bagi mubtadi, ada pula istilahnya apa berhakikat bagi mubtadi? Tauhid af’al. Adapun bagi orang yang mutawashid orang yang bermutawashid, karena dalam tariqatni dalam kajian tauhid tasawuf tidak terlepas daripada tiga tingkatan. Mubtadi, mutawashid apalagi? Mutahi. Makam, makam Mubtadi, makam mutawashid, makam Muntahi kalo Bahasa awak, makam orang yang kelas 1 sebenarnya bukan kelas 1. Apa namanya SMP SMP ya SMP dia itu. Sebenarnya buka SMP S1 kalau dia itu sudah bisa bertauhid, hafall itu sudah S1 dia. Di dalam ketauhidan S1, bahkan lebih, bahkan lebih, kalau dia sudah bisa bertauhid af’al.

Adiknya siapa Aji yang di Mesir apa? Mayri, sudah S apa tuh? S2. S2? Sudah pandai dia bertauhid af’al? ha? Belum ya! S2 pun belum pandai.

Jadi tingkat tauhid yang kedua, Mutawashid orang yang pertengahan, yang dimaksud Mutawashid ini, ini orang salik, apa? orang yang sedang berjalan. Tawashid. Orang salik, orang yang berjalan, kemana dia berjalan? Pada Allah, apanya yang berjalan? Bagaimana hati berjalan? Kemauan hati, bagaimana hati berjalan karena kemauan-kemauan itu terletak pada hati, ingatan-ingatan dimana terletak? pada hati juga, keyakinan dimana terletak? fakir, berhajat sekali dimana terletak? pada hati. ,jadi oleh karena itu hati ini banyak-banyak kalau kita berdzikir lathaif IX harus dibanyakan berzikir pada hati karena kemauan terletak pada hati, khasad, kesengajaan, niat terletak pada hati. ‘itikad, keyakinan terletak pada hati, jadi orang yang berkemauan si Salik atau berjalannya dasarnya kemauan kalau ndak ado kemauan tidak bisa sampai dari Manado kesini ya, tapi karena Kemauan. Dari Jakarta sampai? Dari pawoh?

Tidak berkemauan tidak sampai, juga ada yang sampai. Dari pasir, kalau tidak berkemauan, tidak sampai lalu kemauannya khasad dia berjalan kemana khasat berjalan kepada Allah subhanahuwata'ala Di dalam perjalanan dalam perjalanan untuk mencapai kepada tujuan Allah ya untuk mencapai tujuan? Dalam perjalanan untuk mencapai tujuan Allah terlihat di dalam hatinya sifat-sifat tajalli sifat tajalli ini maknanya tajalli sifat terlihat di dalam hatinya sifatsifat daripada orang yang dituju itu sifatsifat daripada maksud tujuan itu yaitu tujuan kita Allah terlihat di dalam hati kita sifatsifat Allah kalau kita berjalan untuk bermaksud ibuibu yang terhormat kepada satu tujuan tentu sifatsifat tujuan untuk terlihat di mana terlihat di waktu kita berjalan nampak sifatsifat. Tajalli sifat didalam hatinya bagi orang yang sedang berjalan

(3)

berkemauan dari berkhasad. Berzikir. Maka dia berjalan sampailah kepada Hat, kepada batas menyaksikan tajali-tajalli sifat, menyaksikan tajalli sifat, tajalli sifat ini istilahnya disaksikannya, melihat, menyaksikan tajalli sifat artinya sifat-sifat tujuan tadi - sifatsifat Allah. Yang datang kepada hatinya itu disaksikanya itu!

dipandangnya dengan mata hati. Dipandang dengan mata roh. Sehingga dia dapat mencapai kepada Kunhi sifat, bilamana hilang sifatnya di dalam sifat tujuannya itu. Jadi kalau Simubtadi tadi dia tidak bisa dapat untuk mencapai Kunhi sifat ya Simubtadi dia tidak dapat untuk mencapai Kunhi sifat tetapi adapun Si Muthawsid, Si Salik waktu dia terlihat sifatsifat di dalam hatinya sifatsifat tujuan tadi maka dipandangnya itu sifatsifat tujuan dari sifatsifat Allah maka hilang sifatnya. Jadi hilang sifatnya itu menandakan dia telah mendapat mengetahui hakekat Khunhi sifat Allah untuk mendapatkan Khunhi sifat Allah hilang sifat kita.

Jadi kalau bagi Mubtadi yang belum berjalan nanti dia tidak dapat untuk mengetahui khunhi sifat. Tetapi kalau si mutawasid yang sedang berjalan dia sampai kepada batas menyaksikan tajalli sifat maka dia akan dapat kunhi sifat setelah hilang sifatnya pada sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala jadi orangorang yang demikian itu makanya karena penglihatannya, pendengaranNya kepada hak saja kepada Allah maka dia itu inilah Hadits Qudisi mengatakan bahwa dia itu adalah aku penglihatannya yang dia melihat dengannya itu penglihatan adalah aku pendengarannya yang dia itu mendengar dengan itu pendengaran, maka orang yang demikian itu telah hilang sifatnya di dalam sifat haq, maka dia tidak ada lagi yang membedakan antara sifat dengan Dzat. Sifat pada hakikatnya itulah Dzat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. sifat itu sama dengan itulah Dzat Allah karena cahaya-cahaya tajali tadi, sifat itu datang daripada sinarsinar cahaya sifat, Jamal dan jalal, merupakan cahaya dari pada Tauhid sifat dan Tauhid dzat.

Sehingga baginya, tidak teringat lagi baginya, fana dia, fana, dia dari pada dirinya dan daripada pengamalannya.

Jadi orang yang demikian, iko memahami iko agak sulit sedikit ya? Ndak ado bisa paham, agak menerima sulit, menyampaikannya pun sulit nih, kalau tidak ada dengan hatihati payah juga, payah, apa? Sehingga pada waktu itu kalau inyo dalam sembahyang ndak do nampak dirinyo lai, sembahyang ndakdo nampak, bacaan ndakdo nampak, inyo ndakdo nampak lai, itu orang yang sudh tajalli, sifat sudah dia pandang sifat Allah itu sehingga bisa lenyap baginya sifatnya, dan juga lenyap baginya, wujudnya, zat nya. ada mengerti itu ibuibu yang terhormat Kan iyo agak sulit ibuibu, inyoe sembahyang, tapi ndakdo nampak inyo yang sembahyang, makna e yang ma yang sembahyang tu? Hai sembahyang tu, bangkik duduk, yang ma sembahyang tu, bangkik – duduk, bangkik-dudukpun ndak teraso lagi karena bangkit dudukl itu sifat siapa?

Sifat kita, hilang sifat kita. Dengan sebab terpandang sifat Allah tadi. TAJAlLI sifat.

Terlihat sifat. Maka duduk, duduk bangkik itu sifat kito, ndak teraso layi diri kito waktu duduk- bangkik itu, bacaan-bacaan ndak teraso, duduk-bangkik ndak teraso layi, monga? alah di lungam ‘e, sia yang melungam? Sifat Allah swt. jadi bilamana itu anda sudah capai, maka anda itu sudah istilahnya bertauhid sifat dan bertauhid zat, sudah anda bertauhid, sudah anda bertauhid sifat dan bertauhid dzat. Akan tetapi yang demikian belum Tamkin karena anda masih di dalam Mutawassid orang salik belum muntahi. Belum muntahi.

(4)

Apa namanya? Mutawashid atau Sisalik belum tingkat muntahi. Contoh diumpamakan seperti tadi saya mau bertemu dengan Pak Haji Razali, karena Pak Haji Razali ini dia pandai sekali untuk mengumpulkan uang, pandai kali dia Kalau kita perlu uang, pergi sama dia. Dia peduli, uang apa uang membuat gapura, ia bercita-cita mencat gafura, nyo pak razali? ‘a, natom ne cet gafuranyan? Nyoe? Lampu na cit? lampu saboh? Jadi kaputoh lampunyan? Jadi gafura?

Gafura ne cet cit nyan? Jadi ntek pat tacok peng pegah?

Jadi, ulonnyo naksu lonjak kene merumpok dengan pak razali, sedang lon dalam berjalan, lemah lon, bagaimana sifat-sifat pak razali, ‘a gopnyan sangat peduli, apa sifat peduli kepada Tauhid tasawuf. Peduli? Ada sifat. Jadi, lemah dalam hate lon sifat pak razali, peduli gopnyan, lam lonjak langsong merumpok pak razali, Jadi sehingga sifatsifat peduli yang na bak tengku syeckh hasan gadoh, sifat peduli yang na baklon ? Gadoh. Yangna cit lemah sifat peduli Pak razali. Tajalli didalam hatelon sifat peduli-sifat pak razali.Jadi sifat peduli yang ada kepada Tengku Said Peyrus, gadoh, Pada Tengku Slamet Pati Kalau Bupati ada sama Bati ini? Ada. Ko ma ya? Oh ya ada.

Pak khruddin ada? Ada, boleh Pak khruddin. Tapi Mas Al Kahfi peduli juga. Peduli. Jadi begitu makna, hilang.

Sifat peduli saya, juga hilang. Sepak peduli saya? Hilang! Yang ada itu sifat peduli pak razali, sifat peduli saya mengenai dengan tauhid tasawuf lah, keperluan kependirikan gitu. Jadi oleh karena itu sifat peduli saya ada, bukan tidak ada tapi telah hilang di dalam sifat peduli Pak Razali. Bukan tidak ada, tapi hilang. Pak Razali. Jadi sifat peduli Pak Razali itu telah masuk kepada saya. Telah masuk cahayanya, sehingga hilang sifat cahaya saya ada yang mengerti itu?

Sebenarnya sifat begitu hilang sifat saya, peduli saya dengan sifat peduli Pak Razali, makanya mengapa? Hilang maka berdiri sifat peduli Pak Razali kepada saya. Sifat peduli kepada Pak razali ini berdiri pada saya, maka sama dengan sifat itu berdiri pada zat, sifat itu kemana berdirinya? Hm kepada zat, nah tidak diperoleh sifat kalau tidak ada zat, tidak diperoleh sifat kalau tidak ada zat. Makanya saya Pak Razali, Pak Razali sama dengan saya. Saya Pak Razali Pak Razali sama dengan saya.

Ada yang mengerti itu? Yang pada hakikatnya, tidak ada saya, yang ada pak razali. Ini kalau kepada Allah, tidak ada saya, kecuali ada Allah. Pada mula-mulanya ada saya, ada Allah.

Kemudian tidak ada saya, yang ada Allah.

Jadi ini yang dikatakan juga di dalam istilah lain dengan tauhid syuhudi dengan tauhid Syuhudi, telah bersatu antara si syahid dengan si Masyhud. Kemudian hilang si syahid dzahir si Masyhud.

Dia sudah bertemu, sudah bertemu sama dengan hilang, makanya Kerja saya yang bekerja ini, bukan dengan saya lagi, saya kerja dengan Pak razali. Karena telah berdiri sifat pak razali pada saya.

Dengan siapa saya bekerja, apakah saya bekerja dengan saya, apa dengan Pak Razali? Dengan Pak Radali. Maka adalah Pak Razali, ya adalah aku tangannya inilah hadist yang dia itu

(5)

berpegang dengan tangan adalah aku kakinya dan dia itu melangkah dengan kaki makanya kita bekerja dengan pak razali tidak lagi dengan kita. Begitulah umpamanya anda ber rabitah. Ini adalah masalah tariqatnya.

Tap, pandang terlihat sifatnya, berdiri pada zatnya, kita bekerja dengan dia tidak dengan diri kita, kalau orang main ban lagutu juwo, waktu inyo barabitah dengan maradona, rap, seolah- olah Maradona yang menyipak bukannya lagi ia yang menyipak. kalau kita batilek, ada pernah balaja silek? Oh, bodoh. Bathilek itu dipandang ampon amad, hadir ampon amad. Silek hadir.

Itu ada mengerti itu. Jadi kalau sudah seperti itu, itu kita sudah bertauhid sifat akan membawa kepada tauhid zat. Kalau kalau tauhid ini apa nama bayangan-bayangan tauhid zat itu ada cuma masih kepada sifat. iya kan! Artinya orang itu sudah mutawashid, salek dan dikatakan Tauhid Syuhudi.

Kalau yang pertama tadi, tauhid ‘itikadi, ini istilah, setelah tauhid syuhudi. Sudah dia itu bertauhid sifat maka oleh karena itu tauhid sifat kalau dia sembahyang seperti tadi bahwa duduk bangkik koe ndak do nampak layi inyo yang duduk –bangkik ko, duduk bangkik, Duduk bangkai.

jadi oleh karena itu bagi orang-orang ini artinya tauhid yang kedua ini bagi orang yang sudah tajali sifat di dalam Hadhrat Ilahi ini istilahnya. Sudah tajali sifat di dalam Hadhrat, maknanya sudah nyata sifat Dia itu sudah berada di hadapan Allah SWT. Hazrat hadapan.

Telah nyata sifat. Kalau dia itu sudah ada dimana nyata? Di dalam Hadral Ilahi dalam Hadral Ketuhanan sehingga pada waktu itu hilang sifatnya di dalam sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menggerakkan dia bukan dia lagi tetapi adalah orang yang dipandang yaitu, seperti contoh bermurakabah kita, si Salik ini orang yang bermurakabah oleh ulama tasawuf mencontohkan seperti seekor kucing sedang mengintip tikus. Seekor kucing mengintip tikus.

Dimana dia mengintip tikus? Dalam satu lobang. Kucing, ada panah melihat Kucing? ada, mengintai-intai misalnya. Begitu bergerak tikus, bergerak ekor tikus, bergerak ekor kucing. itu perumpamaan orang yang telah hilang sifatnya di dalam sifat Allah artinya fana sifatnya kepada sifat Allah Subhanahu Wa Allah contoh seperti itu berarti ada tarikan tarik tarik saja Lalu, sifat itu tidak diperoleh sifat Melainkan sifat itu ada pada zat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena sifat itu tidak berdiri sendirian. Dia berdiri pada zat. Pada hakekat, sifat itu Dzat. Pada iktibar sifat itu bukan Dzat.

Apa istilahnya? Pada hakekat pada iktibar Sifat itu bukan zat, sifat tetap sifat. zat tetap zat. Ada istilah hakekat.

Sabe lage taken Qul hua allhu ahad, pada hakekat insan itu hak. Hakekat ujudnya. Pada hakekat, pe makna hakikat? asalnya. pemakna hakikat?

Pada hakikat, insannya Hak. Asal wujudnya. Ya kan? Tapi pada iktibar, yang insan, insan, yang Hak hak inilah. Karena hakekat membicarakan wujud,

(6)

Pada hakekat sifat itu hak. Karena sifat itu, punya dalam ilmu tasawuf, Dzahir daripada dzad.

dzat itu BATIN daripada sifat. DAT? Sifat? DAHIR daripada dzad .

Sama seperti mak anii, dengan sifat nafsiah, Makna daripada zat itulah, hayyat, ilmu, qudrat, iradat, makna daripada dzat itulah makna? Mak-ani, batin daripada sifat makani itu zat.

Jadi oleh karena itu asma asma itu, hakekat dari pada Asma itu sifat. Hakekat dari pada Asma?

Asma itu yaitu merupakan Dhahir pada Asma Asma Allah ini gambaran gambaran alam nih gambaran kita gambaran alam gambaran kita umpama gambaran alam, gambaran kita, gambaran semuanya gambaran awak itu dahir dari Asma.

Jadi kalau Umpama Asma dan sifat hilang maka hilang dalam pandangan kita, sembahyang kita dan diri kita. Tidak nampak lagi kalau sudah ada cahaya, sudah kita pandang cahayacahaya daripada sifat cahaya asma dan sifat dipandang itu. Kalau sudah kita pandang cahaya itu, sama dengan cahaya itu sifat. Jadi kalau cahaya itu sifat, maka hilanglah sifat kita. Maka lahirlah sifat Allah.

Umpamanya seperti kita pandang cahaya matahari ini. Yang kamu lihat ini cahaya apa ini?

Cahaya matahari! tetapkan pandanganmu kepada cahaya matahari. sebenarnya cahaya matahari itu, cahaya matahari itu kalau kamu meletakkan pandangan sama dengan matahari itu. Tapi pada sebelum kamu pandang, maka cahaya adalah cahaya, sedang matahari adalah matahari. Tapi setelah kamu pandang, pandang itu taraki dia naik dia cahaya, dimana asalnya?

Oh pada matahari? Berarti itu matahari itu. Tadi yang pandang itu artinya kembali kepada asalnya.

Jadi itu baru orang itu bertauhid sifat, bertauhid, bertauhid dzat si Salik. Adapun Semuntahi, Adapun Semuntahi, bagaimana dia itu bermakrifat ya kan? Lalu bagi mereka yaitu makrifat mereka setelah fana dimana makrifat mereka? Setelah Fana, Jadi makrifat yang demikian itu tidak bisa untuk dibicarakan.

Tidak bisa karena bagaimana membicarakan tidak sampai kepadanya istidhlal, dan tidak menyaksikan baginya oleh dalil, kelak tidak berhak baginya oleh wasilah. Karena wasilah, dalil istidhlal itu pada dirinya pada alam, sedangkan alam tidak ada lagi. Maka oleh karena itu. Bagi makrifat qawasul-qawas ini, ini tidak, apa namanya? Tidak sampai padanya Istidhlal untuk dalil bagaimana dikatakan karena akal, tidak bisa?

Habis akal. Tidak ada bisa menyaksikan oleh dalil, karena ngak ada dalil. Yang menyaksikan, karena dalil itu sudah habis. Tidak berhak baginya wasilah jalan, karena itu merupakan pemberian semata-mata. Pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Itu. Dicapai dengan setelah FANA setelah setelah FANA dan BAQA Allah. Itu adalah apa namanya? Apa? MAKRIFAT orang yang muntahi , tidak ada istilahnya tajali, tajali lagi ya tajali, terlihat kalau bahaso awak istilah alah basuo e, Allah basuo, alah basuo nyoe, kok alah basuo tu, ndak taingek layi Kediri ‘e, orang yang paling rindu sangat rindu ibuibu yang terhormat yang dikatakan Rindu ini apa? rindu ini artinya berjalan rohaninya itu kepada yang gaib, bergerak

(7)

rohnya pada yang gaib. Itu adalah rindu. Roh kita ini bergerak kepada yang jauh. Di waktu sudah bertemu nyoe ngak teringat lagi kepada dirinya, hilang. Umpamanya tgk. Haji Hamzah trep that meuranto, sudah 10 tahun, jadi ketika pulang dari rantau setelah 10 tahun, ka rindu, jadi istri H. Hamzah ketika melihat mobil Abu sudah sampai, berarti suami saya juga sudah pulang, begitu Nampak H. Hamzah, istri dan H. Hamzah berpelukan, mereka sudah tidak peduli dengan kondisi disekelilingnya, karena RINDU.

Jadi begitu tidak teringatnya, FANA, tidak dia teringat lagi kepada dirinya, tidak teringat lagi dia kepada dia kepada pekerjaan dirinya, kepada sifat dirinya, kepada wujud diri, bagaimana kita bicarakan? Ngak teringat lagi dia. Kepada dirinya, kepada perbuatan dirinya. Ka di wa laju istri H. Hamzah buno. Ketika disadarkan oleh Abu, baru H. Hamzah terkaget-kaget dan tersipu malu Jadi itu. Jadi kenapa bapak ibu-ibu sekalian, dengan alam, dengan makhluk bisa. Dengan Allah tidak bisa. Tidak tidak bisa kita seperti itu, FANA seperti itu.

Kenapa dengan makhlu bisa seperti itu, dengan Allahyang begitu nikmat, Allah berikan kasih sayang Allah, kenapa tidak bisa? Tidak sampai ke tingkat itu, makrifat kita, gaseh sayang tanyoe,

Gaseh sayang, sehingga bisa hilang wujud diri tanyoe, pakon han di themlee? Boeh ta tanyoeng bak droe tanyoe, karena iman, iman kita tipis, itu dikatakan Fana ul Fana, ah begitulah ‘ak tini mahabbataka , kecintaan kepadaMU dan bermakrifat kepadamu, jadi kalau kita masih teringat selain bermakrifat kepada Allah, ayyuh, alah lebih gadang awak dari Allah, marah Allah kepada kita, jadi ibu-ibu yang terhormat-itu HAKEKAT. ITU MAKRIFAT, HAKEKAT/DEKAT hilang sifat, juga hilang Wujud, tetapi belum TAMKIN, tapi kalau sudah MAKRIPAT? sudah TAMKIN/TETAP itu MAKRIPAT. jadi itulah makanya saya membuat penulisan Pengkajian tingkat Pengkajian, Tidak ada istilah Debhidayah ada istilahnya apa? Ahli Suluk, Mengamal Tarikat, ada istilahnya Wilaya, Ada istilahnya Nihaya.

Arif Billah Nihaya. Jadi itu baru mereka itu kamil ya, kamil Imannya. Jadi kalau ada beberapa orang yang semacam itu, dalam negeri kita, kampung kita, berarti cahaya Islam, cahaya agama ini KAUT, KOKOH, nikmat dan rahmat Allah itu artinya, rendah pada kita, makna rendah dekat nikmat dan rahmat dan ada BALA dijauhkan oleh Allah SWT Wa Ta'ala. Jadi itulah makanya perlu ya generasigenerasi ini ya untuk bisa berjuang untuk siapa yang demikian.

demikianlah kalau lebih banyak lebih bagus ya Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Referensi

Dokumen terkait

As-Salām, yang merupakan salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mulia. Nama ini tercantum dalam al- Qur’ān dan Hadîs. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. Artinya: Dia lah

Alhamdulillahirobbil‟alamin puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya yang berlimpah

Wahai sekalian hamba Allah Subhanahu wa ta’alla, bertaqwa dan jujurlah kepada -Nya niscaya kalian akan berlaku jujur, jujurlah kepada Allah Subhanahu wa ta’alla dalam

Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, yang telah menunjukkan kita kepada cahaya Islam dan barangsiapa yang diberi Allah subhanahu wa ta‟ala petunjuk maka

Alhamdulillah hirabbil „alamin, puji syukur penulis ucapkan atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya Allah Subhanahu wa Ta‟ala, sehingga penulis dapat menyelesaikan

bahwa empat hal di atas adalah meliputi ilmu Alloh Subhanahu wa Ta‟ala berkenaan dengan kunci-kunci rizki, maka bisa jadi Alloh Subhanahu wa Ta‟ala akan.

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta‟ala, Rabb semesta alam, atas berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga

Jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, Mengenai sifat memaafkan, sungguh Allah telah berfirman dalam surat Al-A’raf Ayat 199: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah