I Putu Mika Antarmukhta (1419251016)1), Ngakan Putu Sueca2), dan Ni Made Swanendri3)–Fasilitas Pernikahan (Wed-
ding Venue) di Kecamatan Kuta Utara Badung-Bali
311
FASILITAS PERNIKAHAN (WEDDING VENUE) DI KECAMATAN KUTA UTARA BADUNG-BALI Penggunaan Bahan Alami pada Ruang Dalam dan Ruang Luar Bangunan
I Putu Mika Antarmukhta1), Ngakan Putu Sueca2), dan Ni Made Swanendri3)
1)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
2)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
3)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
ABSTRACT
Marrid is one of the processes in human life that is only done once in a lifetime, so the bride and groom expect a memo- rable marriage by holding a wedding in a unique place. Wedding venues that already exist in Bali, inclouding those locat- ed in Badung Regency, tend to display an atmostphere that is almost the same so that it gives less choice for prospec- tive brides. This condition is the starting point for planning this wedding facility which prioritizes the use of natural ingredients so as to create a building with a natural and unique atmosphere. The use of natural material such as reeds, wood, natural stone to the material being recycled is focused on the inner space and outer space of the building is inte- grated with nature. These natural ingredients are chose because they meet ecological conditions and are in accordance with the surrounding natural resources.
Keywords: wedding, wedding facility, wedding venue, natural materials, outdoor space, interior room
ABSTRAK
Menikah merupakan salah satu proses dalam kehidupan manusia yang hanya dilakukan sekali seumur hidup, sehingga calon pengantin mengharapkan pernikahan yang berkesan dengan cara melangsungkan pernikahan di tempat yang unik. Fasilitas pernikahan (wedding venue) yang sudah ada di Bali termasuk yang berlokasi di Kabupaten Badung cenderung menampilkan suasana yang hampir sama sehingga kurang memberikan pilihan bagi calon pengantin. Kondisi ini menjadi titik tolak perancangan fasilitas pernikahan ini yang mengutamakan penggunaan bahan alami sehingga tercipta bangunan dengan suasana yang alami dan unik. Penggunaan bahan alami seperti alang-alang, kayu, batu alam sampai dengan bahan yang didaur ulang difokuskan pada ruang dalam dan ruang luar bangunan sehingga secara keseluruhan akan memberikan kesan bangunan yang menyatu dengan alam. Bahan-bahan alami ini dipilih karena memenuhi konsep ekologis dan sesuai dengan iklim serta sumber daya alam sekitarnya.
Kata Kunci: pernikahan, fasilitas pernikahan, bahan alami, ruang luar, ruang dalam
PENDAHULUAN
Fasilitas pernikahan (wedding venue) adalah bangunan wisata dan rekreasi dimana bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk acara pernikahan 5 agama. Fasilitas ini memiliki 2 jenis ruangan yang berbeda yakni indoor (seperti : restaurant dan ruang acara pernikahan) dan outdoor (seperti : garden party dan area resepsi outdoor) untuk menunjang acara pernikahan tersebut. Bangunan ini dirancang dengan kelengkapan fasilitas untuk pernikahan 5 agama sesuai dengan kebutuhan pasangan pengantin. Jumlah pernikahan yang berlangsung di Bali khususnya di Kabupaten Badung tercatat sebanyak 2.163 pasangan diantaranya per- nikahan warga asing 962 pasangan, pernikahan campuran 247 pasangan dan pernikahan warga sendiri sebanyak 954 pasangan. (Badung Dalam Angka 2017). Bangunan fasilitas pernikahan serupa yang ada di Kabupaten Badung dominan menggunakan konsep modernisme yang sebagian besar tidak memperhi- tungkan alam sekitarnya. Konsep ekologis dipilih untuk menciptakan suasana pernikahan yang hangat, terkesan alami, dapat menyatu dengan alam serta dapat memelihara lingkungan sekitar. Fasilitas yang akan dirancang nantinya akan terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu 1) fasilitas utama (tempat pernikahan, ruang resepsi indoor dan outdoor), 2) fasilitas penunjang (salon & SPA, studio photo, bridal centre, restaurant, villa, ru- angan pengelola dan parkir), 3) jasa pendukung (wedding organizer (WO), wedding chairs, photograper, flo- ral arrangements, live music, dan MC (Master of Ceremonies), sehingga nantinya calon pengantin akan dimudahkan dalam mengadakan upacara sakral dalam hidupnya. Dengan konsep ekologis yang digunakan
312
e-Jurnal Arsitektur Universitas Udayana-Volume (7) Nomor (1) Edisi Januari 2019-ISSN No. 9 772338 505117 diharapkan dapat membantu dalam penanganan kerusakan lingkungan yang terjadi, sehingga terdapat har- monisasi antara alam dan penggunanya.BAHAN ALAMI
Material alami merupakan bahan-bahan yang didapatkan dari alam yang bersifat ramah lingkungan ataupun bahan alami yang didaur ulang kembali menjadi bahan yang dapat digunakan kembali. Bahan alami ini digunakan untuk mendapatkan kesan ataupun desain dengan tampilan alam, material alam dapat diaplikasi- kan pada struktur ataupun pada fasad bangunan. Adapun beberapa contoh bahan-bahan alami yang sering kali digunakan dalam pembangunan adalah kayu, bamboo, beberapa bebatuan alam sampai dengan jerami yang digunakan sebagai penutup atap. Penggunaan dan pemeliharaan bahan alami sendiri terbilang cukup mudah akan tetapi beberapa bahan alami yang sudah lama atau bahan yang didaur ulang harus melewati tahap pemeliharan khusus seperti dicuci, dilapisi dengan bahan khusus dan sebagainya. Bahan yang sudah melewati tahap tersebut dan sudah dinyatakan layak untuk di pakai kembali maka bahan tersebut dapat digunakan pada bangunan baik digunakan pada exterior maupun interior. (Frick, Heinz. Bambang Suski- yatno. 1998).
PENGGUNAAN BAHAN ALAMI PADA RUANG LUAR
Pada fasilitas pernikahan yang dirancang, penggunaan bahan alami pada ruang luar dapat dilihat pada fasilitas pernikahan yang dirancang yaitu bangunan pernikahan, bangunan resepsi, salon, SPA, bridal cen- tre, restaurant, photo studio, villa dan bangunan persiapan. Penggunaan bahan alami dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2 yang merupakan hasil rancangan dalam bentuk 3D dari fasilitas pernikahan (wedding ven- ue) di kecamatan Kuta Utara Badung.
Gambar 1. Perspektif Mata Burung Rancangan Sumber: Antarmukhta, 2018
Pada Gambar 1 dapat dilihat penataan bangunan yang dinamis dipadukan dengan alam sekitar sehingga seluruh bangunan terlihat elegan dan serasi. Seluruh bagian bangunan menggunakan material alami dian- taranya menggunakan 1) material batu alam yang digunakan sebagai tempelan dinding, 2) material kayu digunakan sebagai struktur atap dan penutup lantai, 3) alang-alang digunakan sebagai penutup atap, 4) bambu digunakan sebagai struktur bangunan resepsi dan 5) kayu ulin yang didaur ulang digunakan sebagai penutup lantai pada bangunan pernikahan dan bangunan resepsi. Bangunan dirancang terbuka sehingga sikulasi dan suasana bangunan dapat menyatu dengan alam sekitar.
I Putu Mika Antarmukhta (1419251016)1), Ngakan Putu Sueca2), dan Ni Made Swanendri3)–Fasilitas Pernikahan (Wed-
ding Venue) di Kecamatan Kuta Utara Badung-Bali
313
Gambar 2. Perspektif Ruang Luar Bangunan Acara Pernikahan Sumber: Antarmukhta, 2018
Selanjutnya pada Gambar 2 menunjukan lebih detail penggunaan bahan-bahan alami pada bangunan. Pada bagian bawah bangunan menggunakan batu karang motif sirip ikan material ini dipilih untuk menciptakan kesan bangunan yang berada pada daerah pantai. Kayu ulin bekas yang digunakan pada bagian sirkulasi menuju bangunan dan bagian dalam ruangan untuk menciptakan suasana yang hangat pada ruangan mengingat ruangan ini difungsikan sebagai tempat untuk melangsungkan pernikahan. Pada bagian atas bangunan menggunakan struktur kayu serta penutup atapnya menggunakan material alang-alang. Bagian taman bangunan ditanam beberapa vegetasi untuk menunjang dari bangunan itu sendiri untuk lebih mencip- takan kesan yang tenang serta agar bangunan terkesan terbuka dan dapat menyatu dengan alam sekitar.
PENGGUNAAN BAHAN ALAMI PADA RUANG DALAM
Penggunaan baham alami pada ruang dalam (interior) fasiltas pernikahan dapat dilihat pada ruangan yang dijadikan contoh yaitu ruang acara pernikahan dan restaurant. Sebagaimana yang akan dijelaskan pada Gambar 3 dan 4.
Gambar 3. Perspektif Ruang Acara Pernikahan Sumber: Antarmukhta, 2018
Pada Gambar 3 merupakan ruang acara pernikahan dimana ruangan ini difungsikan sebagai tempat untuk melangsungkan prosesi pernikahan. Penggunaan bahan alami pada bangunan terdapat mulai dari elemen bawah bangunan hingga atas bangunan. Elemen bawah bangunan menggunakan material kayu ulin bekas dimana material ini merupakan material yang yang sudah tidak terpakai yang didaur ulang kembali sehingga
314
e-Jurnal Arsitektur Universitas Udayana-Volume (7) Nomor (1) Edisi Januari 2019-ISSN No. 9 772338 505117 menjadi material yang dapat digunakan kembali, material ini juga akan memberikan kesan yang hangat pa- da ruangan. Elemen samping bangunan menggunakan struktur beton yang dilapisi dengan kayu ulin bekas.Elemen atas bangunan menggunakan alang-alang sebagai penutup atap. Bangunan juga dibuat terbuka se- hingga udara maupun cahaya dapat masuk kedalam ruangan dan dapat menghemat energi dari bangunan.
Tidak hanya itu ruangan yang dibuat terbuka juga akan memberikan suasana yang sejuk karena pemandangan atau view dari area sekitar akan terlihat jelas dari dalam ruangan.
Gambar 4. Perspektif Ruang Restaurant Sumber: Antarmukhta, 2018
Pada Gambar 4 merupakan ruang dalam restaurant dimana ruang ini merupakan salah satu bangunan penunjang dari fasilitas pernikahan (wedding venue). Ruang dalam restaurant menggunakan material alami yang juga dapat dilihat mulai dari elemen bawah sampai dengan elemen atas bangunan. Elemen bawah bangunan menggunakan kayu ulin yang bekas yang didaur ulang. Elemen samping bangunan menggunakan struktur kayu. Struktur kayu ini digunakan untuk memberikan kesan yang berbeda dari bangunan lainnya dan struktur kayu ini pula akan memberikan identitas atau ciri khas dari fasilitas per- nikahan di kecamatan Kuta Utara Badung. Elemen atas bangunan menggunakan alang-alang sebagai pe- nutup atap. Fungsi dari restaurant ini adalah sebagai tempat untuk bersantai ataupun sekedar untuk menik- mati makanan maka bangunan ini dibuat terbuka agar suasana alam sekitar dapat dirasakan oleh pengunjung yang datang. Furniture pada ruang dalam restaurant ini dibuat dengan material kayu yang didaur ulang sehingga akan menciptakan kesan yang unik. Vegetasi pada restaurant ditata untuk mencip- takan suasana yang sejuk pada ruangan.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa fasilitas pernikahan ini menerapkan konsep ekologis, yang memfokuskan pada penggunaan bahan alami baru ataupun bahan daur ulang yang digunakan pada ruang luar dan ruang dalam bangunan. Material alami memiliki kelebihan tidak hanya men- ciptakan suasana yang asri, sejuk dan nyaman sekaligus akan dapat menanggulangi kerusakan alam yang diakibatkan oleh pembangunan itu sendiri. Rancangan yang didasari prinsip pembangunan yang berorienta- si dengan alam merupakan suatu upaya pelestarian lingkungan yang dapat dilakukan dan diterapkan pada bangunan untuk memberikan suasana baru dan juga dapat memelihara alam sekitar.
DAFTAR PUSTAKA
Antarmukhta, I Putu Mika., 2018, Seminar Tugas Akhir ‘Fasilitas Pernikahan (wedding venue) Dengan Konsep Ekologi di Kecamatan Kuta Utara Badung’, Teknik Arsitektur Universitas Udayana.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung. 2017, ‘Kabupaten Badung Dalam Angka 2017’, Mangupura, BPS Badung.
Frick, Heinz. Bambang Suskiyatno., 1998, Dasar-dasar Eko-Arsitektur (Konsep Arsitektur Berwawasan Lingkungan Serta Kualitas Konstruksi dan Bahan Bangunan Untuk Rumah Sehat dan Dampaknya Atas Kesehatan Manusia), Semarang, Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI).