1
BAHAN PERKULIAHAN BUSANA PENGANTIN (BU 474) BUSANA PENGANTIN PALEMBANG
Disusun Oleh : Mila Karmila, S.Pd, M.Ds NIP. 19720712 200112 2 001
PRODI PENDIDIKAN TATA BUSANA
JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2010
2 A. LATAR BELAKANG BUDAYA
Daerah propinsi Sumatera Selatan terletak di sebelah selatan khatulistiwa yaitu di antara 1,5 derajat sampai dengan 4 derajat lintang selatan di antara 100 derajat sampai dengan 106 derajat bujur timur.
Batasan wilayahnya adalah sebagai berikut : sebelah utara berbatasan dengan daerah Jambi, sebelah selatan dengan Lampung, sebelah timur dengan laut Jawa dan Karimata, sedangkan sebelah baratnya berbatasan dengan Bengkulu.
Sumatera Selatan terdapat banyak suku bangsa. Adapun suku bangsa tersebut adalah sebagai berikut : Suku Palembang, suku Musi, suku Pegagan, duku Ranau, suku Pasemah, suku Rejang, suku Bangka dan suku Belitung terdapat di Kabupaten Bangka Belitung.
Masyarakat Sumatera Selatan sebagian besar beragama Islam.
Kebudayaan daerah ini sudah banyak mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan masyarakat. Banyak hal yang dapat mempengaruhi perkembangan itu.
Sistem kekerabatan masyarakat Sumatera Selatan yaitu patrilineal, anak yang dilahirkan dalam hubungan perkawinan adalah anak bapak, dalam masyarakat yang susunan keluarganya secara patrilineal ini dikenal juga adanya perkawinan “tambil anak”. Kedudukan anak akan berubah dan merupakan kebaikan dari hukum kebapaan. Anak adalah milik ibu dalam arti bahwa anak menarik garis keturunan melalui garis penghubung ibu, dan seterusnya ke atas.
Stratifikasi sosial masyarakat Sumatera Selatan secara umum dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu yang pertama bersifat tertutup ini mirip dengan suatu susunan kasta. Sejalan dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi maka lapisan-lapisan sosial sekarang adalah kemampuan atau peranan seseorang atau didasarkan kepada status dan peranan seseorang dalam masyarakat, dapat berupa ilmunya, kekayaan atau peranannya. Pelapisan masyarakat seperti ini disebut stratifikasi sosial yang bersifat terbuka.
3
Masyarakat Sumatera Selatan terutama mereka yang berada di pedesaan banyak sekali memiliki sistem pengetahuan yang mereka hayati dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sistem pengetahuan itu banyak pula erat hubungannya dengan adat dan upacara perkawinan antara lain dalam penentuan upacara dan jodoh.
4
B. ADAT DAN UPACARA PERKAWINAN PALEMBANG
Perkawinan adalah suatu bentuk hubungan antara seorang pria dan seorang wanita yang bertujuan untuk mendapatkan keturunan. Keturunan ini diharapkan dapat melanjutkan generasi mereka baik menurut garis ibu, bapak, maupun ibu bapak. Ditinjau dari segi status sosial, maka perkawinan bertujuan untuk menaikkan derajat seseorang dalam masyarakat. Menurut adat seseorang yang belum kawin tidak mempunyai kedudukan yang sama dengan mereka yang telah berkeluarga.
Selain tujuan perkawinan mendekatkan kembali hubungan kerabat yang sudah renggang ada pula perkawinan yang dilakukan dengan maksud agar harta peninggalannya jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Umumnya perkawinan seperti ini yang berhukum kebapaan.
1. PERKAWINAN IDEAL DAN PEMBATASAN JODOH
Di daerah Sumatera Selatan adapun yang dianggap perkawinan ideal menurut adat ialah perkawinan yang dilakukan dengan anak saudara perempuan ayah, yang membuat idealnya perkawinan tersebut di atas adalah karena berinteraksi dengan keluarga suami dari keluarga istri akan merasa lebih dekat dan lebih mudah berintegrasi, selanjutnya istri lebih mudah prosesnya dapat dianggap seperti anak sendiri oleh orang tua suaminya. Perkawinan ideal di sini adalah perjodohan dengan calon yang mempunyai 3 unsur, yaitu babat adalah perangai atau tingkah laku, bibit adalah keturunannya, dan bobot adalah ilmu atau harta benda.
Pembatasan jodoh adalah norma yang mengatur tentang anatara siapa perkawinan itu boleh atau tidak boleh dilakukan. Atau dapat dikatakan bahwa pembatasan jodoh itu adalah larangan perkawinan, mengenai larangan ini adat menentukan adalah sebagai berikut :
5
1. Larangan perkawinan karena pertalian darah, larangan dimaksud adalah larangan kawin antara anak atau sebaliknya serta keturunan lurus ke atas melalui garis ibu atau bapaknya.
2. Larangan kawin karena hubungan perkawinan, seperti anak dengan ibu/bapak tirinya, atau saudara sepupu.
3. Larangan perkawinan itu berlaku terhadap anak angkat yang kedudukannya seperti anak kandung sendiri.
4. Larangan perkawinan ini pada sebagian masyarakat berlaku juga terhadap garis laki-laki (susunan keluarganya patrilineal).
Larangan perkawinan menurut adat pada umumnya sudah tidak digunakan lagi karena prinsip tersebut sudah dianggap kuno dan sebagai pengaruh sudah terbukanya pergaulan antara muda dan mudi kecuali larangan dimaksud berlaku karena prinsip ajaran agama.
2. BENTUK-BENTUK PERKAWINAN
Di daerah Sumatera Selatan dikenal tiga bentuk dasar perkawinan, yaitu a. Kawin jujur yaitu suatu bentuk perkawinan dimana pihak keluarga
suami berkewajiban memberikan barang jujur yang mempunyai sifat magis. Jujur itu sendiri dalam arti murninya adalah suatu pemberian yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan magis yang terganggu pada keluarga perempuan, dengan diberikan jujur diharapkan keseimbangan itu pulih. Sekarang jujur sudah diartikan lain dan susdah menjurus kearah seperti bantuan dan karena itu sudah banyak diberikan dalam bentuk uang. Sehingga nama jujur itu berubah menjadi “uang jujur”. Sebagai akibat dari pemberian ujur ini maka istri berkewajiban meninggalkan kaum kerabatnya dan mengikuti suaminya bertempat tinggal bersama keluarga suaminya.
Anak yang lahir dari perkawinan ini menarik garis keturunan patrilineal.
6
b. Perkawinan semendo ialah kebalikan dari bentuk perkawinan jujur, dalam hal ini laki-laki tidak perlu memberikan jujur karenanya ia harus meninggalkan kerabatnya serta berpindah ke tempat istrinya dan keluarganya, anak yang lahir dari perkawinan ini menarik garis keturunan matrilineal.
c. Perkawinan bebas adalah suatu bentuk perkawinan yang tidak terikat baik kepada bentuk perkawinan jujur maupun samendo. Anak yang lahir dari perkawinan ini menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilanial.
3. UPACARA PERKAWINAN
Secara harfiah berpacaran merupakan sebuah acara memerahkan kuku dengan daun inai sebagai pertanda seseorang akan menikah. Namun berpacaran dalam adat Palembang dapat diartikan dengan istilah bulan madu di awal pernikahan. Meski saat ini adat kebiasaan tersebut sudah tidak semurni dulu dan terlahan bergeser seiring modernisasi yang berkembang pesat. Demi kepraktisan banyak pula nilai-nilai kebudayaan yang mulai tergantikan meski tidak menghilangkan keseluruhan adat budaya yang berakar kuat dalam masyarakat.
a. Madik
Bila seorang laki-laki telah dikhitan dan memasuki masa akil baliqh, maka dia berhak mandapat sebutan bujang. Saat itu orangtuanya berusaha mencarikan jodoh bagi si bujang yang berhasrat untuk menikah. Seseorang yang dipercaya kemudian diutus untuk menyelidiki gadis-gadis yang dituju.
Utusan tersebut biasanya seorang perempuan yang berpengalaman dalam menilai tabiat, kecakapan, dan keterampilan seorang gadis.
7 b. Menyenggung
Proses ini merupakan penegasan keseriusan pihak laki-laki untuk mempersunting sang gadis. Dalam tahap ini, pihak laki-laki masih mengutus seseorang untuk menanyakan kesediaan si gadis untuk dipinang. Jika si gadis masih keluarga dekat, jawaban setuju atau tidak setuju langsung disampaikan. Jika bukan dari kerabat dekat, penyampaian lebih bersifat hati- hati dengan bahasa sehalus mungkin.
c. Minang
Selang tiga hari setelah menyenggung, orang tua si bujang akan mengirim utusan bersama 4 perempuan lainnya kembali ke rumah orang tua si gadis membawa Gegawa. Isinya berupa satu kain terbungkus sapu tangan yang diletakkan di atas nampan beserta 5 tenong bahan-bahan pangan berupa juadah (kue) dan buah-buahan yang disebut sirih hanyut.
d. Berasan
Orang tua si bujang mengutus 7 orang ke rumah si gadis. Utusan tersebut membawa 7 tenong bahan-bahan pangan yang disebut pinang hanyut. Bila keluarga si bujang tergolong berada, permintaan ibu si gadis akan dipenuhi. Jika tak sanggup, keluarga si bujang meminta agar adat tersebut ditebus dengan maskawin sesuai permintaan.
e. Memutuskan kato
Setelah lamaran diterima, kedua utusan kembali untuk memberi laporan pada keluarga si bujang. Selanjutnya diutus kembali seorang perempuan dan 8 pengiring untuk kembali ke rumah keluarga si gadis dengan membawa 9 tenong bahan pangan dan sehelai kain sutera. Acara memutuskan kato disambut oleh keluarga si gadis dengan mengumpulkan sanak saudara. Di akhir acara, utusan keluarga si bujang melakukan upacara pengebatan tali keluarga. Acara ini ditandai dengan pengambilan tembakau setebak dari sasak gelungan untuk dibagikan pada keluarga yang hadir.
Selanjutnya bersama-sama mengunyah kapur sirih sebagai ikatan kebersamaan dalam satu keluarga besar.
8 f. Bertunangan
Sejak memutuskan kato, kedua calon mempelai resmi bertunangan, ditandai dengan pemberian emas atau intan. Ada beberapa adat yang perlu diperhatikan jika keduanya telah bertunangan. Keduanya saling memberikan hantaran sebagai pertanda keseriusan untuk menikah. Dua minggu menjelang pernikahan pernikahan, keluarga si bujang mengantarkan maskawin. Maskawin beserta gegawan dibawa oleh seorang utusan perempuan, selain maskawin, disertakan ‘uang asap’ sebagai uang belanja untuk hari perhelatan.
Gegawan yang dipakai biasanya disesuaikan dengan adat yang disepakati. Bagi mereka yang kurang mampu, adat yang dipakai adalah adat satu turunan, yaitu hanya memberi sehelai pakaian. Jika keluarga si bujang dari keluarga bangsawan kaya, adat yang dipakai adalah adat tujuh turunan. Pakaian yang diberikan bermacam-macam, disertai perabot rumahtangga untuk bekal berumah tangga.
Tujuh hari menjelang hari H, kedua mempelai dipingit tidak boleh keluar rumah. Selama masa tersebut, keduanya dibersihkan lahir dan batin hingga Nampak segar dan bersinar saat bersanding. Keduanya diurapi dengan bedak beras dicampur telur dan rempah-rempah sehingga kulit menjadi putih bersih.
Untuk calon mempelai laki-laki biasanya diadakan upacara
‘dudukan pengantin’ yaitu mandi asap untuk mengeluarkan keringat. Bila bara api yang dicampur dengan cabe jawa dipakai si bujang untuk duduk di atasnya dengan menggunakan kursi dan berselimut tebal. Hasilnya, tubuh terasa lebih wangi dan tidak berkeringat.
g. Ijab Kabul dan mengarak pacar
Saat ijab Kabul, umumnya pengantin perempuan tidak hadir dalam ruangan, namun hanya diwakili ayah si gadis sebagai wali. Jika hari ijab kabul berbeda dengan resepsi, pengantin lak-laki belum dapat tinggal dengan istrinya, namun kembali ke rumah orang tuanya. Sebagai pengganti
9
kehadiran pengantin laki-laki, diberikan sebilah keris debagai perlambang bahwa si gadis kini telah bersuami dan berada di sampingnya. Keris tersebut dihiasai bunga, dibawa dengan arak-arakan, kemudian diletakkan di pangkuan si gadis.
h. Munggah
Cara munggah diawali iringan pengantin laki-laki yang dilengkapi bunga pembuka langse sebagai perlambang masuk ke ruang upacara.
Pengantin laki-laki disambut tari-tarian dan rebana. Bila kedua mempelai telah duduk di pelaminan, sirih penyapa diberikan pada pengantin perempuan sebagai perkenalan resmi.
Terkadang saat kedua pengantin duduk di pelaminan, mereka disuguhkan tarian pagar pengantin. Pada saat itu, mempelai perempuan didaulat menari bersama para penari. Acara berikutnya yaitu adat pengasuhan dan penyuapan terakhir. Pengasuh kedua mempelai menyuapi keduanya untuk terakhir kali. Orang tua dan kerabat dekat juga menyuapi nasi kuning dan ayam panggang sebagai tanda kasih saying pada kedua mempelai.
i. Menyacap dan mandi simburan
Upacara menyacap atau mandi keramas dilakukan dengan hiasan lengkap pengantin yang dilapisi kain semagih, menggunakan air kembang tujuh rupa dan air jeruk nipis yang diiringi doa para sesepuh. Jika kedua mempelai selesai dan janur ditarik, acar simburan dimulai, yaitu mereka yang hadir saling menyiram air. Acara ini dilakukan sebagai symbol saling memaafkan bila selama acara terdapat kata dan perbuatan yang tidak berkenan.
Keesokan hari setelah upacara selesai, sebagai penutup diadakan tepung tawar di rumah keluarga pengantin laki-laki. Ini merupakan acara selamatan yang diiringi pemberian hadiah pada kedua mempelai berupa uang dan emas. Selesai diselamati, kedua mempelai boleh berpacaran atau bulan madu. Pada masa ini keduanya resmi menjadi suami istri. Selama kaki
10
dan tangan masih memerah karena inai, selama itu pula dunia menjadi milik berdua. Berpacaran bisa dinikmati lebih indah, tentu saja dalam jalur yang syar’i.
Pada zaman sekarang upacara adat umumnya masih dipertahankan agak keras di daerah pedalaman, sebaliknya di kota-kota sudah di tinggalkan. Hal ini dapat dipahami sebab terdapat perbedaan pandangan antara masyarakat kota dan pedesaan. Masyarakat pedesaan cara berfikir kolektifnya lebih menonjol dan sebaliknya masyarakat kota lebih individualitas, disebabkan karena pertimbangan yang lebih rasional yang diperoleh karena adanya masyrakat yang heterogen.
Pertimbangan yang lebih rational dikarenakan oleh pendidikan dan pertimbangan ekonomis, kedua faktor tersebut mempunyai akibat bahwa adat dan perkawinan walaupun dalam berbagai hal tetap dipatuhi dan diikuti namun pada umumnya masyarakat kota tidak mengikuti adat dan perkawinan tersebut.
Dengan demikian pertimbangan ekonomis dan pengaruh pendidikan tidak secara total bersifat menghilangkan adat dan upacara perkawinan.
11
j. BUSANA ADAT PALEMBANG (SUMATERA SELATAN)
Busana pak sang kong (Aesan Gede) dipakai oleh pasangan pengantin Palembang menampakkan pengaruh yang kuat dari kebudayaan Cina. Teristimewa pada hiasan kepala, dada, tangan, serta penggunaan kain-kainnya.
Busana ini berasal dari masa kesultanan Palembang sekitar abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-19 dan dikenakan oleh golongan keturunan raja-raja yang disebut priyayi. Pakaian kebesaran untuk laki-laki dilengkapi dengan tanjak (tutup kepala) yang terbuat dari kain batik atau kain tenunan. Tanjak dibedakan atas tanjak kepudang, tanjak melar, dan tanjak bela mumbang.
Semuanya terbuat dari kain songket (kain Palembang/tenunan Palembang).
Baju yang dikenakan disebut kebaya pendek, atau biasa juga menggunakan kebaya landoong atau kelemkari yaitu kebaya panjang hingga dibawah lutut. Baju ini dibuat dari kain yang ditenun dan disulam dengan
12
benang emas maupun benang biasa yang berwarna, atau dapat juga dicap dengan cairan berwarna emas atau perada. Pada bagian dalam dikenakan penutup dada yang disebut kutang. Terbuat dari kain yang ditenun, disulam, maupun diprada.
Tutup dada biasanya diberi hiasan permata.
Pakaian bagian bawah berupa celana panjang yang dinamakan celana belabas, yang terbuat dari kain yang ditenun. Mulai dari bagian bawah lutut sampai ke arah mata kaki yang disulam (diangkeen) dengan benang emas. Ada pula yang disulam dari bagian pinggul sampai mata kaki dengan motif lajur.
Jenis celana lain disebut celana lok cuan (celana pangsi, celana yang panjangnya sebatas lutut), jenis celana ini tidak disulam dengan benang emas, dan ukuran celananya lebih lebar.
Setelah celana panjang dikenakan, selembar kain yang disebut sewet bumpak. Kain ini dibuat dengan cara ditenun, ditaburi dengan bunga-bunga kecil dari benang emas, serta diberi tumpal benang emas. Kemudian pada bagian bawah selebar lebih kurang 10 atau 12 cm diberi pinggiran benang emas. Busana ini dilengkapi dengan ikat pinggang yang disebut badong, terbuat dari suasa, perak, atau tembaga yang dilapisi emas. Pada bagian luarnya ditatah dengan abjad atau angka-angka Arab, yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi pemakainya. Badong yang terkenal disebut badong jadam, yang dianggap jenis yang paling istimewa karena memiliki khasiat ampuh.
Badong ini terbuat dari campuran berbagai bahan logam.
Pelengkap busana yang lain adalah keris. Sarung keris (pendok) terbuat dari emas, suasa, atau perak dengan tatahan bermotif bunga. Ada juga yang diberi batu permata, tergantung pada taraf ekonomi pemakainya. Keris ini diselipkan pada lambung sebelah kiri, dan sarungnya tidak kelihatan karena ditutupi kain atau celana. Hanya seorang raja yang boleh memakai keris dengan gagangnya menghadap keluar. Busana ini juga dilengkapi dengan alas kaki jenis terompah.
13
14 PAKAIAN SEHARI-HARI
Pakaian orang laki-laki (wong lanang) terdiri dari kain (sewet), baju (kelambi), tutup kepala dengan jenisnya disebut tanjak, iket-iket, atau kopiah (kopca) dan memakai alas kaki yang disebut gamparan atau terompah.
Selanjutnya busana ini dilengkapi dengan senjata tajam, seperti keris, tumbak lado, badeek, rambi ayam atau jembio.
Kain (sewet) biasanya ditenun sendiri atau dibeli dari pulau Jawa.
Demikian juga baju (Kelambi) biasa ditenun sendiri, atau membeli bahan baju dari Jawa, Cina, India, atau Eropa. Laki-laki Palembang gemar memakai baju jenis bela booloo, yang dibedakan atas tiga jenis yaitu: memakai kancing (bemben), memakai kantong biasa, dan memakai kantong terawangan.
Tutup kepala dibuat dengan cara ditenun, dan diberi angkinan dari kain batik yang didatangkan dari Gresik, Lasem, Indramayu, atau Betawi. Saat ini banyak orang yang memakai tanjak, sebagai gantinya digunakan kopiah sebagai penutup kepala. Untuk alas kaki yang berbentuk gamparan terbuat dari potongan kayu yang bermutu, seperti kayu meranti payo atau ngerawan.
Sebagai pakaian sehari-hari, laki-laki umumnya mengenakan kain (sewet sempol) dan baju bela booloo, ada juga yang memakai seluar (celana) panjang atau celana model pangsi (luak cuan). Pada umumnya mereka mengenakan tutup kepala, baik waktu bepergian maupun ketika sedang dirumah, karena menganggap tutup kepala lebih penting dari baju. Jenis tutup kepala yang biasa dikenakan adalah kopiah (kopca). Pakaian untuk dirumah tidak dilengkapi alas kaki.
Pada saat akan bepergian, mereka selalu mengenakan pakaian yang terbaik dan rapi. Mereka biasa mengenakan kain pelekat yang halus dari jenis tajung bugis atau gebeng Palembang. Baju yang digunakan berupa jas tutup terbuat dari bahan linen, kamhar atau las. Bagi orang kaya tidak ketinggalan jam
15
kantong dengan medalion. Pakaian ini dilengkapi dengan ikat pinggang (cak pinggang) terbuat dari kulit. Sebagai alas kaki adalah terompah atau sepatu tanpa tali. Busana untuk bepergian tersebut juga lazim dikenakan kaum laki-laki pada kegiatan-kegiatan perayaan.
Busana adat priyai Palembang
Busana untuk perempuan (wong betina) terdiri dari kain (sawoot sarong), umumnya batik Betawi atau yang dinamakan sewet mascot. Baju yang dikenakan disebut baju kooroong (kurung) terbuat dari kain belacu. Baju kurung ini lazim dikenakan oleh perempuan yang sudah tua, sedangkan perempuan muda memakai baju kebaya. Mereka juga mengenakan selendang atau kemben,
Keterangan Gambar : 1. Tanjak (Kepudang) 2. Kebaya landoong 3. Kutang
4. Keris 5. Bagong 6. Sewet
7. Celana balebas
16
yang dikenakan pada kepala, bahu, dada, dan dahi. Untuk ikat pinggang dikenakan sejenis pending yang disebut badong atau angkin. Tetapi saat ini jenis ikat pinggang tersebut sudah jarang digunakan, sebagai penggantinya dipakai setagen (kain kecil yang sangat panjang dikenakan melilit keperut berasal dari Jawa). Sedangkan sebagai alas kaki digunakan terompah dengan sulaman klingkan bagi perempuan yang sudah tua, dan untuk orang muda menggunakan cenela atau selop tungkak tinggi (sandal bertumit tinggi). Wanita yang sudah menikah atau yang sudah tua lazim memakai selendang sebagai tutup kepala, yang disebut koodoong (kerudung) kajang atau koodoong trendak. Namun sejak tahun 1942 koodoong kajang sudah tidak lagi dipakai, dan mengalami perubahan fungsi sebagai tudung saji atau tutup makanan, selendang tersebut biasanya diberi rumbai-rumbai (rumbe-rumbe).
Busana yang dipakai oleh perempuan di Palembang
17
Pada masa lalu, semua bahan pembuatan busana tersebut didatangkan dari Cina, India, dan Singapura. Saat ini orang Palembang sudah dapat membuat sendiri busana mereka dengan bahan-bahan yang diperoleh dari alam sekitarnya
Sebagai pakaian sehari-hari, kaum perempuan lazim mengenakan kain (tenunan tradisional Palembang atau kain batik dari Jawa), baju kooroong (kurung) dengan panjang sebatas lutut, dan tutup kepala (tengkoolook). Rambut disisir dengan rapi dan diberi minyak lengo (minyak kelapa yang dicampur dengan daun pandan yang diiris halus, serta dicampur dengan bunga-bunga yang diharum). Kemudian rambut ditata dengan sanggul, yang disebut geloongan coompook atau geloongan temakoo setebek.
Pada saat menghadiri upacara adat, pakaian yang lazim digunakan yaitu kain sarung (sewet saroong) batik yang halus, baju kurung yang panjangnya sampai lutut atau kebaya yang tepinya diberi renda hingga menutup dada (untuk remaja putri), rambut disanggul, dan terompah atau selop. Busana ini dilengkapi dengan sehelai selendang besar yang dipakai dengan rapi menutupi kepala sampai bahu, sehingga yang Nampak hanya mata dan hidung pemakainya.
Sebagai perhiasan pelengkap busana ini adalah kalung emas dengan liontin permata berlian atau intan, rangkaianya peniti yang terbuat dari emas atau perak, gelang (jenis gelang yang terkenal disebut gelang kepalak ulo), serta gelang kaki (gelang yang terkenal adalah gelang sekel kepalak nago).
Untuk menghadiri suatu upacara adat yang disebut penganten mungga, busana yang dikenakan kaum wanita adalah serba songket. Busana ini hanya boleh digunakan oleh perempuan yang sudah bersuami. Songket ini merupakan pemberian suami ketika mereka menikah sebagai salahsatu mas kawin. Dari mutu kain songket tersebut dapat terlihat kekayaan atau kemampuan keluarga yang memilikinya. Semakin halus songket yang dimilikinya, menandakan kekayaan keluarga yang bersangkutan. Sebagai kelengkapan busana serba songket ini sama dengan perhiasan yang lazim dikenakan untuk menghadiri upacara-upacara adat lainnya.
18
Busana upacara adat khatam Al-Quran gaya pak sang kong dalam paduan baju kurung beludru. Pak sang kong adalah istilah untuk hiasan yang dibuat dalam beberapa versi. Untuk versi pengantin dibuat lebih besar dan rumit daripada yang dipakai untuk umum.
19
Lembar soal!
1. Jelaskan stratifikasi sosial masyarakat Sumatera Selatan?
2. Jelaskan tujuan perkawinan masyarakat Sumatera Selatan?
3. Sebutkan perkawinan ideal yang dianut oleh masyarakat Sumatera Selatan?
4. Sebutkan adat yang menetapkan pembatasan jodoh di Sumatera Selatan?
5. Sebutkan perbedaan kawin jujur dan perkawinan samendo?
6. Apa yang dimaksud dengan berpacaran di masyarakat Sumatera Selatan?
7. Sebutkan rangkaian proses upacara perkawinan Sumatera Selatan?
8. Jelaskan proses upacara menyenggung?
9. Apa yang dimaksud upacara dudukan pengantin?
10. Jelaskan prosesi upacara menyacap?
20
Kunci Jawaban
1. Stratifikasi sosial masyarakat Sumatera Selatan secara umum dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu yang pertama bersifat tertutup ini mirip dengan suatu susunan kasta. peranan seseorang atau didasarkan kepada status dan peranan seseorang dalam masyarakat, dapat berupa ilmunya, kekayaan atau peranannya. Pelapisan masyarakat seperti ini disebut stratifikasi sosial yang bersifat terbuka.
2. Bertujuan untuk mendapatkan keturunan, diharapkan dapat melanjutkan generasi mereka, untuk menaikkan derajat seseorang dalam masyarakat., untuk mendekatkan kembali hubungan kerabat yang sudah renggang, dan ada pula perkawinan yang dilakukan dengan maksud agar harta peninggalannya jangan sampai jatuh ke tangan orang lain.
3. Perkawinan ideal menurut adat ialah perkawinan yang dilakukan dengan anak saudara perempuan ayah, karena berinteraksi dengan keluarga suami dari keluarga istri akan merasa lebih dekat dan lebih mudah berintegrasi, selanjutnya istri lebih mudah prosesnya dapat dianggap seperti anak sendiri oleh orang tua suaminya.
4. Larangan perkawinan karena pertalian darah, larangan kawin karena hubungan perkawinan, larangan perkawinan itu berlaku terhadap anak angkat yang kedudukannya seperti anak kandung sendiri, larangan perkawinan ini pada sebagian masyarakat berlaku juga terhadap garis laki-laki (susunan keluarganya patrilineal).
5. Kawin jujur yaitu suatu bentuk perkawinan dimana pihak keluarga suami berkewajiban memberikan barang jujur yang mempunyai sifat magis. Sekarang jujur sudah diartikan lain dan susdah menjurus kearah seperti bantuan dan karena itu sudah banyak diberikan dalam bentuk uang. Sebagai akibat dari pemberian jujur ini maka istri berkewajiban meninggalkan kaum kerabatnya dan mengikuti suaminya bertempat tinggal bersama keluarga suaminya. Anak yang lahir dari perkawinan ini menarik garis keturunan patrilineal. Sedangkan perkawinan
21
semendo ialah kebalikan dari bentuk perkawinan jujur, dalam hal ini laki-laki tidak perlu memberikan jujur karenanya ia harus meninggalkan kerabatnya serta berpindah ke tempat istrinya dan keluarganya, anak yang lahir dari perkawinan ini menarik garis keturunan matrilineal.
6. Berpacaran dalam adat Palembang dapat diartikan dengan istilah bulan madu di awal pernikahan.
7. Masik, menyenggung, minang, berasan, memutuskan kato, bertunangan, ijab Kabul, mengarak pacar, munggah, menyacap dan mandi simburan.
8. Proses ini merupakan penegasan keseriusan pihak laki-laki untuk mempersunting sang gadis. Dalam tahap ini, pihak laki-laki masih mengutus seseorang untuk menanyakan kesediaan si gadis untuk dipinang. Jika si gadis masih keluarga dekat, jawaban setuju atau tidak setuju langsung disampaikan. Jika bukan dari kerabat dekat, penyampaian lebih bersifat hati-hati dengan bahasa sehalus mungkin.
9. Upacara ‘dudukan pengantin’ yaitu mandi asap untuk mengeluarkan keringat. Bila bara api yang dicampur dengan cabe jawa dipakai si bujang untuk duduk di atasnya dengan menggunakan kursi dan berselimut tebal. Hasilnya, tubuh terasa lebih wangi dan tidak berkeringat.
10. Upacara menyacap atau mandi keramas dilakukan dengan hiasan lengkap pengantin yang dilapisi kain semagih, menggunakan air kembang tujuh rupa dan air jeruk nipis yang diiringi doa para sesepuh.
22
DAFTAR PUSTAKA
Harmoko. 1998. Indonesia Indah “Busana Tradisional”. Jakarta: Yayasan harapan Cipta
Kiswandi, BA, Drs. Eddy Supriyatno, Drs. Aas Kasimin Budi. 1994. Adat dan Perkawinan Palembang. Jakarta: PT. Rakaditu
http://rezatribunplmbng.blogspot.com
http://id.wikipedia.org/wiki/sumateraselatan
http://www.lpmak.org/galance.php?cat=the5_tribes&_p=3 www.tamanmini.com/...//busanadaerahpalembang http://www.indomedia.com/intisari/1997/feb/mumi.htm
23
ADAT DAN UPACARA PERKAWINAN SUMATERA SELATAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Busana pengantin (BU 474) Yang diberikan Oleh :
Dra. Hj. Yani Achdiani. M.Si Mila Karmila S.Pd. M.Ds.
Disusun Oleh : Devi Dathiah 044354
PROGAM STUDI PENDIDIKAN TATA BUSANA JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2008