BAHAN PROYEK KALKULUS DIFFERENSISAL
“TURUNAN”
Disusun Oleh :
Arfi’ah Nur Rachmawati Nim: K1321O17
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2021
Definisi Turunan
Turunan fungsi f adalah fungsi lain f’ (dibaca “f aksen”) yang nilainya pada sebarang bilangan c adalah
f’(c)=lim
ℎ→0
𝑓(𝑐+ℎ)−𝑓(𝑐) ℎ
asalkan limit ini ada dan bukan ∞ 𝑎𝑡𝑎𝑢 − ∞.
Jika limit ini memang ada, dikatakan bahwa f terdiferensiasi di c.
Pencarian turunan dapat dilustrasikan sebagai berikut : Jika f(x)= x3+7x, carilah f’(x)
Penyelesaian:
f’(x)= lim
ℎ→0
𝑓(𝑐+ℎ)−𝑓(𝑐) ℎ
= lim
ℎ→0
[(𝑥+ℎ)3+7(𝑥+ℎ)]−[𝑥3+7𝑥]
ℎ
= lim
ℎ→0
3𝑥2+3𝑥ℎ2+ℎ2+7ℎ ℎ
= lim
ℎ→0 ( 𝑥2+ 3𝑥ℎ2+ ℎ2+ 7) = 3x2+7
Bentuk-bentuk Setara untuk Turunan
Tidak ada yang keramat tentang penggunaan huruf h dalam mendefinisikan f ’(c).
Misalkan perhatikan bahwa f’(x)= lim
ℎ→0
𝑓(𝑐+ℎ)−𝑓(𝑐) ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑐+𝑝)−𝑓(𝑐) 𝑝
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑐+𝑠)−𝑓(𝑐) 𝑠
Aturan Pencarian Turunan
Teorema A | Keterdiferensiasian Mengimplikasi Kontinuitas
“Jika f’(x) ada maka f kontinu di c”
TEOREMA A | Aturan Konstanta
Jika f(x)=k, dengan k suatu konstanta maka untuk sebarang x, f’(x)=0; yakni
Dx(k)=0
Bukti : f’(x)= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥)
ℎ = lim
ℎ→0 𝑘−𝑘
ℎ = lim
ℎ→00 = 0
Bukti : f’(x)= lim
ℎ→0 𝑓(𝑥+ℎ)
ℎ = lim
ℎ→0 𝑥+ℎ−𝑥
ℎ = lim
ℎ→0 ℎ ℎ = 1
Bukti : f’(x)= lim
ℎ→0 𝑓(𝑥+ℎ)
ℎ = lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)ℎ−𝑥𝑛 ℎ
= lim
ℎ→0
𝑥𝑛+𝑛𝑥𝑛−1ℎ+𝑛(𝑛−1)
2 𝑥𝑛−2ℎ+⋯+𝑛𝑥ℎ𝑛−1+ℎ𝑛−𝑥𝑛 ℎ
= lim
ℎ→0
ℎ[𝑛𝑥𝑛−1+𝑛(𝑛−1)2 𝑥𝑛−2ℎ+⋯+𝑛𝑥ℎ𝑛−2+ℎ𝑛−1] ℎ
Didalam kurung siku, semua suku kecuali yang pertama mempunyai h sebagai faktor, sehingga masing-masing suku ini mempunyai limit nol ketika h mendekati nol. Jadi
f’(x) = nxn-1
Bukti :
Misalkan F(x)= k. f(x), maka
TEOREMA B | Aturan Fungsi Satuan Jika f(x)=x, maka f’(x) = 1 ; yakni
Dx(x)=1
TEOREMA C | Aturan Pangkat
Jika f(x)=xn, dengan n bilangan bulat positif, maka f’(x) = nxn-1 yakni, Dx(xn)= nxn-1
TEOREMA D | Aturan Kelipatan Konstanta
Jika k suatu konstanta dan f suatu fungsi yang terdiferensiasikan, maka (kf)’(x)= k.f’(x) yakni,
Dx[k. f(x)]= k. Dxf(x)
F’(x)= lim
ℎ→0
𝐹(𝑥+ℎ)−𝐹(𝑥)
ℎ = lim
ℎ→0
𝑘. 𝑓(𝑥+ℎ)−𝑘. 𝑓(𝑥) ℎ
= lim
ℎ→0 𝑘 𝑓(𝑥+ℎ)− 𝑓(𝑥)
ℎ = k. lim
ℎ→0 𝑘 𝑓(𝑥+ℎ)− 𝑓(𝑥) ℎ
= k. f(x)
Bukti :
Misalkan F(x)= f(x) + g(x), maka F’(x)= lim
ℎ→0
[𝑓(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥+ℎ)]
ℎ − [𝑓(𝑥)+𝑔(𝑥)]
ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥)
ℎ − 𝑔(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥) ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥)
ℎ + lim
ℎ→0
𝑔(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥) ℎ
= f’(x) + g’(x)
Bukti :
Misalkan F(x)= f(x) - g(x), maka F’(x)= lim
ℎ→0
[𝑓(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥+ℎ)]
ℎ − [𝑓(𝑥)−𝑔(𝑥)]
ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥)
ℎ − 𝑔(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥) ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥)
ℎ − lim
ℎ→0
𝑔(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥) ℎ
= f’(x) - g’(x)
Bukti :
TEOREMA E | Aturan Jumlah
Jika f dan g adalah fungsi-fungsi yang terdiferensiasikan, maka (f+g)’(x)= f’(x)+g’(x) yakni,
Dx[f(x)+ g(x)]= Dxf(x) + Dxg(x)
TEOREMA F | Aturan Selisih
Jika f dan g adalah fungsi-fungsi yang terdiferensiasikan, maka (f-g)’(x)= f’(x)-g’(x) yakni,
Dx[f(x) - g(x)]= Dxf(x) - Dxg(x)
TEOREMA G | Aturan Hasil Kali
Jika f dan g adalah fungsi-fungsi yang terdiferensiasikan, maka (f.g)’(x)= f(x) g’(x) + g(x) f’(x) yakni,
Dx[f(x) g(x)]=f(x) Dx g(x) + g(x) Dx f(x)
Misalkan F(x)= f(x) . g(x), maka F’(x)= lim
ℎ→0
𝐹(𝑥+ℎ)−𝐹(𝑥) ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)𝑔(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)𝑔(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥+ℎ)𝑔(𝑥)+𝑓(𝑥+ℎ)𝑔(𝑥)−𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) ℎ
= lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ) . 𝑔(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥)
ℎ + 𝑔(𝑥). 𝑓(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥) ℎ
= lim
ℎ→0𝑓(𝑥 + ℎ) . lim
ℎ→0
𝑔(𝑥+ℎ)−𝑔(𝑥)
ℎ + 𝑔(𝑥) . lim
ℎ→0
𝑓(𝑥+ℎ)−𝑓(𝑥) ℎ
= f(x) g’(x) + g(x) f’(x)
Aturan Rantai
Notasi Leibniz
Misal 𝑦 = 𝑓(𝑥) menyatakan suatu fungsi dalam peubah 𝑥. Misal peubah bebas 𝑥 berubah dari 𝑥 ke 𝑥 + ∆𝑥 , maka perubahan yang berpadanan dalam peubah tak
TEOREMA H | Aturan Hasil Bagi
Jika f dan g adalah fungsi-fungsi yang terdiferensiasikan dengan g(x)≠ 0, maka (𝑓
𝑔)’(x)= 𝑔(𝑥)𝑓(𝑥)−𝑓(𝑥)𝑔′(𝑥) 𝑔2(𝑥) yaitu,
Dx(𝑓(𝑥)
𝑔(𝑥))= 𝑔(𝑥) 𝐷𝑥𝑓(𝑥)−𝑓(𝑥)𝐷𝑥𝑔(𝑥)
𝑔2(𝑥)
TEOREMA A | Aturan Rantai
Misalkan y=f(u) dan u=g(x). Jika g terdiferensiasikan di x dan f terdiferensiasikan di u=g(x), maka fungsi komposit 𝑓 𝜊 𝑔, yang didefinisikan oleh (𝑓 𝜊 𝑔)(𝑥) = 𝑓(𝑔(𝑥)), adalah terdiferensiasikan di x dan
(𝑓 𝜊 𝑔)′(𝑥) = 𝑓′(𝑔(𝑥))𝑔′(𝑥) Yakni
𝐷𝑋(𝑓(𝑔(𝑥))) = 𝑓′(𝑔(𝑥))𝑔′(𝑥) Atau
𝒅𝒚𝒅𝒙=𝒅𝒚
𝒅𝒖 𝒅𝒖 𝒅𝒙
bebas 𝑦 adalah ∆𝑦 = 𝑓(𝑥 + ∆𝑥) − 𝑓(𝑥) 𝑑𝑎𝑛 Δ𝑦
Δ𝑥= 𝑓(𝑥+∆𝑥)−𝑓(𝑥)
Δ𝑥 adalah kemiringan talibusur yang melalui (𝑥, 𝑓(𝑥)). Jika∆𝑥 → 0 maka kemiringan tali busur akan mendekati kemiringan garis singgung. Leibniz menggunakan lambang 𝑑𝑦𝑑𝑥untuk menyatakan lim
∆𝑥→0 Δ𝑦
Δ𝑥 sehingga
𝒅𝒚
𝒅𝒙= lim
∆𝑥→0 Δ𝑦
Δ𝑥 = lim
∆𝑥→0
𝑓(𝑥+∆𝑥)−𝑓(𝑥)
Δ𝑥 = 𝑓′(𝑥)
Selanjutnya pandang 𝑑𝑥𝑑 sebagai lambang operator yang sama dengan Dx. Semua teorema tentang turunan tetap berlaku, hanya penulisannya berbeda.
Turunan Tingkat Tinggi
Operasi diferensiasi mengambil sebuah fungsi f dan menghasilkan sebuah fugsi baru f’. jika f’ didiferensiasikan lagi, maka akan teteap mengahsilkan fungsi lain dinyatakan oleh f’’ (dibaca “f dua aksen”) dan disebut turunan kedua dari f. Jika didiferensiasikan lagi, dengan demikian mengahasilkan f’’’ yang disebut turunan ketiga dari f. turunan keempat dinyatakan 𝑓(4) , turunan kelima dinyatakan 𝑓(5) dan seterusnya.
Cara penulisan untuk turunan dari y= f(x) adalah sebagai berikut
Turunan Implisit
Pencarian turunan implisit yaitu mencari 𝑑𝑦
𝑑𝑥 dengan tanpa menyatakan y secara eksplisit dalam x terlebih dahulu.
Masalah Benda Jatuh
Jika sebuah benda dilempar ke atas (atau ke bawah) dari suatu ketinggian awal 𝑠0 desimeter dengan kecepatan awal 𝑣0 desimeter/detik dan jika 𝑠 adalah tingginya di atas tanah dalam desimeter 𝑡 detik, maka
𝑠 = −16𝑡2+ 𝑣0𝑡 + 𝑠0
Ini mengasumsikan bahwa percobaan langsung dekat permukaan laut dan tekanan udara diabaikan.
Contoh Masalah
Dari puncak sebuah gedung setinggi 160 feet, sebuah bola dilempar keatas dengan kecepatan awal 64 feet per detik.
a. Kapan bola mencapai ketinggia maksimum?
b. Berapa ketinggian maksimumnya?
c. Kapan bola membentur tanah?
d. Dengan laju berapa bola membentur tanah?
e. Berapa percepatannya pada t=2?
Penyelesaian
Misalkan t=0 berkorespondensi dengan saat pada waktu bola dilempar. Maka 𝑠0= 160 𝑑𝑎𝑛 𝑣0= 64 (𝑣0 positif karena bola dilempar ke atas). Jadi
𝑠 = −16𝑡2+ 64𝑡 + 160 𝑣 = 𝑑𝑠
𝑑𝑡 = −32𝑡 + 64 𝑎 =𝑑𝑣
𝑑𝑡 = −32
a. Bola mencapai ketinggian maksimum pada kecepatannya 0, yakni ketika =
−32𝑡 + 64 = 0 atau ketika 𝑡 = 2 detik.
b. Pada 𝑡 = 2, 𝑠 = −16(2)2+ 160 = 224 𝑓𝑒𝑒𝑡
c. Bola membentur tanah pada waktu 𝑠 = 0, yakni ketika −16𝑡2+ 64𝑡 + 160 = 0
Pembagian oleh -16 memberikan = 𝑡2− 4𝑡 + 10 = 0 Maka rumus 𝑎𝑏𝑐 menghasilkan TEOREMA A | Aturan Pangkat
Misalkan r sebarang bilangan rasional, maka untuk x > 0, 𝐷𝑥(𝑥𝑟) = 𝑟𝑥𝑟−1
Jika r dapat dituliskan dalam suku terendah sebagai r = p/q, dimana q adalah bilangan ganjil, maka 𝐷𝑥(𝑥𝑟) = 𝑟𝑥𝑟−1 untuk semua x.
𝑡 =4±√16+40
2 = 4±2√14
2 = 2 ± √14
Hanya jawaban positif yang masuk akal. Jadi bola membentur tanah pada 𝑡 = 2 ± √14 = 5,74 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘
d. Pada 𝑡 = 2 ± √14, 𝑣 = −32(2 + √14) + 64 = −119,73. Jadi bola membentur tanah pada laju 119,73 feet per detik.
e. Percepatan selalu -32 feet per detik. Ini adalah percepatan gravitasi di dekat permukaan laut.