Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik untuk penyempurnaan buku ini di masa yang akan datang. Semakin beragam kelompok orang dan lingkungan yang ia ketahui, maka akan semakin banyak hal yang ia ketahui, termasuk bahasa. Untuk itu buku ini disusun untuk membantu pembaca memahami hal-hal yang berkaitan dengan bahasa dan perkembangan bahasa anak.
KOMUNIKASI MANUSIA VS BINATANG Sebagai makhluk hidup, hewan dan manusia
Tomassello (2008) menjelaskan bahwa ketika seseorang menunjukkan sesuatu kepada orang lain dengan jari atau pantomimnya, maka mereka akan mengetahui apa yang kita maksud. Bahasa lebih kompleks daripada gerakan, namun bahasa dapat mewakili apa yang ingin disampaikan orang dengan lebih baik dan komprehensif. Corballis (2011) berpendapat bahwa orang mempunyai kemampuan tidak hanya untuk mencerminkan apa yang ada dalam pikirannya, tetapi juga untuk mempengaruhi pemikiran orang lain.
KONSEP, CIRI, DAN FUNGSI BAHASA
Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat individual karena setiap orang mempunyai ciri-ciri berbahasanya masing-masing. Indonesia mempunyai kebanggaan tersendiri karena memiliki dan menggunakan bahasa yang berbeda dengan kelompok masyarakat di negara lain. Sebab dalam bahasa Inggris aturan tata bahasa yang berlaku adalah meletakkan kata sifat sebelum kata benda, sehingga menjadi “jeruk manis”.
Tipe Pemerolehan Bahasa
Ketiga faktor ini akan sangat mempengaruhi apakah anak dapat menemukan dan menggunakan pola atau struktur dan makna yang sama seperti orang dewasa. Pemerolehan bahasa adalah kemampuan berbahasa yang diperoleh secara informal atau alamiah atau tidak bersyarat, sedangkan proses pembelajaran bahasa bertujuan untuk mengembangkan kompetensi linguistik yang memperhatikan kaidah melalui pengajaran sistematis yang telah dirancang sebelumnya (Ellis, 2005; Cahyani & Hadianto, 2018 ). Oleh karena itu, pemerolehan bahasa identik dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa sering dikaitkan dengan bahasa kedua.
Perkembangan Bahasa Anak
Kemudian mereka akan mulai memainkan huruf vokal dan mengoceh dengan bunyi vokal dan konsonan seperti "ma ma ma" atau "ta ta ta". Anak-anak pada usia ini juga menjadikan orang dewasa sebagai panutannya sehingga mereka membandingkan bahasanya dengan orang dewasa di sekitarnya. Dalam perkembangan bahasa lisan, anak usia sekolah dasar awal masih mengembangkan kemampuannya dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa tertentu.
Pada usia 8 tahun, mereka sudah bisa menguasainya sepenuhnya, termasuk saat mengucapkan konsonan ganda yang muncul pada kata seperti "sl", "dr", "str", dll. Perkembangan semantik anak usia sekolah dasar berlanjut melalui proses informal ketika anak berinteraksi dengan lingkungannya melalui percakapan dan pengalaman sehari-hari. Misalnya, gunakan subjek ganda seperti “Aku dan teman-temanku”, atau gunakan kalimat majemuk yang setara seperti “Adikku pandai menggambar, sedangkan aku pandai Matematika.”, atau bahkan kalimat majemuk seperti “Aku tidak ikut les. karena aku sakit, cucilah." Kemampuan ini lambat laun akan dikuasai anak seiring bertambahnya jumlah topik yang dapat dibicarakan.
Anak-anak usia sekolah dasar telah menguasai sebagian besar morfem infleksional untuk menandai verba dalam bentuk jamak, posesif, dan past tense (untuk anak-anak menggunakan bahasa Inggris, sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada ketentuan penambahan imbuhan untuk menunjukkan jamak atau past tense). Dalam bahasa Inggris kita mengenal akhiran -ness yang mengubah kata sifat menjadi kata benda, seperti “good” yang merupakan kata sifat hingga “goodness” yang merupakan kata benda. Oleh karena itu, anak-anak di sekolah dasar mempelajari morfem secara lebih formal ketika mereka belajar di kelas melalui kegiatan membaca dan menulis, serta ketika mereka belajar tentang imbuhan dan kata dasar.
Cerita yang disajikan kepada anak usia sekolah dasar juga mulai terfokus agar anak mampu mengenali tokoh dan ceritanya.
Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Bahasa Anak
Hal ini menjadikan tanggung jawab orang tua untuk menciptakan lingkungan kaya bahasa semakin besar, sehingga kemampuan linguistik anak berisiko dapat berkembang secara optimal (Stormswold, 2006). Sejak lahir, bahasa apa dan berapa banyak yang dikuasai anak bergantung pada orang dewasa di sekitarnya. Sedangkan bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari seorang anak setelah ia memperoleh struktur dasar bahasa pertamanya atau setelah usia lima tahun (Taeschnner, 2012; Bishop & Mogford, 2013).
Sedangkan bahasa sasaran adalah bahasa yang sengaja dipelajari, baik itu bahasa kedua maupun bahasa asing (Cohen, 2014). Anak-anak memperoleh bahasa pertama mereka secara alami, sedangkan pembelajar bahasa kedua memerlukan bimbingan, meskipun tidak diketahui secara pasti bagaimana dan sejauh mana pengajaran mempunyai dampak positif terhadap mereka (Meisel, 2011). Padahal, seperti yang sudah dijelaskan di atas, anak-anak di Indonesia bisa menjadi bilingual sejak lahir.
Beragamnya bahasa daerah dan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional membuat orang dewasa mengajak anak-anak disekitarnya untuk berbicara dalam dua bahasa atau bahkan lebih. Meski saat ini banyak anak bilingual, namun timbul pertanyaan apakah bilingualisme justru menghambat perkembangan bahasa anak. Hal ini telah terjawab dengan banyaknya penelitian yang menggunakan anak bilingual sebagai subjeknya dan menunjukkan banyak sekali manfaat menjadi anak bilingual.
Oleh karena itu, anak yang menguasai lebih dari satu bahasa, termasuk bahasa asing, akan memiliki keunggulan dibandingkan anak lainnya.
Perbedaan Individual dalam Pembelajaran Bahasa Kedua
Pembelajaran bahasa kedua di abad ke-21 juga menjadi lebih penting dari sebelumnya dan masih diyakini sebagai faktor penting dalam menentukan masa depan seseorang (Long, 2015). Oleh karena itu, bahkan anak-anak yang memiliki prestasi akademik buruk pun tetap dapat berhasil mempelajari bahasa kedua jika mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilannya. Maftoon & Sarem (2012) menyatakan bahwa jika seorang anak mempelajari bahasa kedua dengan menggunakan pendekatan kecerdasan majemuk ini, diyakini anak tersebut akan berhasil dalam mempelajari bahasa kedua tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, ditemukan hubungan erat antara kemandirian lapangan dan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua. Selain itu, kecemasan atau kegelisahan (termasuk perasaan khawatir, gugup, dan tertekan) yang dialami anak ketika belajar bahasa kedua juga telah banyak diteliti. Sebagaimana dijelaskan di atas, penelitian tidak menunjukkan hubungan yang jelas antara ciri kepribadian tunggal dan pembelajaran bahasa kedua.
Ada dua istilah yang dapat digunakan untuk menjelaskan motivasi, yaitu kebutuhan komunikasi siswa dan hubungannya dengan komunitas bahasa kedua. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa kedua motivasi tersebut terbukti berhubungan dengan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua. Hal ini harus dilakukan sedemikian rupa agar kita puas dengan apa yang telah kita lakukan dan tetap semangat mempelajari bahasa lain, meskipun banyak kesulitan yang harus kita hadapi.
Ketika pembelajaran bahasa kedua berlangsung di lingkungan formal, seperti di ruang kelas, guru memainkan peran yang lebih besar dalam mempengaruhi sikap dan motivasi belajar anak dibandingkan dengan alasan mereka mempelajari bahasa tersebut dan keyakinan mereka tentang bahasa tersebut dan penuturnya.
Anak Bilingual vs Anak Monolingual
Menurut Meisel (2010), anak-anak bilingual lebih baik dalam decoding dan coding, serta dalam mengikuti prinsip-prinsip tata bahasa. Memori kerja dan fungsi eksekutif anak bilingual lebih baik dibandingkan anak monolingual. Morales, Calvo, dan Bialystock (2012) juga melaporkan bahwa anak-anak bilingual merespons lebih cepat dan menunjukkan fungsi eksekutif yang lebih baik dibandingkan anak-anak monolingual.
Anak bilingual tidak kesulitan membedakan suara yang didengarnya dari dua bahasa yang digunakan orang tuanya. Kemampuan membedakan bunyi yang dimiliki anak bilingual merupakan prasyarat untuk menguasai kedua sistem bahasa tersebut (Hoff, 2015). Dari segi jumlah, anak bilingual menguasai kosakata reseptif (kosakata yang dipahami seseorang) lebih banyak dibandingkan dengan anak monolingual.
Jika dilihat dari total kosakata (yang dikuasai kedua bahasa), anak bilingual lebih banyak menguasai kosakata dibandingkan anak monolingual. Anak monolingual tentu akan mempelajari nama atau label suatu benda hanya dalam satu bahasa. Keunggulan anak bilingual yang ditunjukkan oleh fakta di atas menunjukkan bahwa menjadi anak bilingual tidak menghambat kemampuan kognitif dan perkembangan bahasanya.
Seperti halnya dalam memproduksi bahasa lisan, anak bilingual menghasilkan lebih banyak variasi dibandingkan anak bilingual ketika berbicara menggunakan masing-masing bahasa (Meisel, 2010).
Tantangan yang Dialami Anak Bilingual
Alih kode dapat terjadi dalam beberapa bentuk, dimana lebih tepatnya ada empat jenis alih kode seperti yang dikemukakan oleh Hoffmann (2014), yaitu peralihan antar kalimat, peralihan intra kalimat, peralihan tag dan menjalin kesinambungan dengan tuturan sebelumnya. Contoh di atas menunjukkan peralihan antar kalimat yang sering dilakukan oleh penutur bahasa Indonesia yang juga fasih berbahasa Jawa. Kalimat di atas menunjukkan adanya intra-sentence switching yang ditandai dengan munculnya kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris di antara kata-kata bahasa Indonesia yang masih termasuk dalam satu kalimat.
Poplack (2000) menjelaskan bahwa alih kode ini banyak terjadi pada orang-orang yang sudah fasih dalam dua bahasa yang digunakannya dan merupakan jenis alih kode yang disukai oleh para bilingual. Kalimat pertama di atas menunjukkan bahwa alih kode terjadi karena kurangnya ungkapan atau kata dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk mengungkapkan kata “kunduran trek”. Kesulitan dalam menemukan ungkapan inilah yang menjadi salah satu penyebab seringnya terjadi alih kode yang dilakukan masyarakat Jawa ketika berbicara bahasa Indonesia.
Namun, Winford mengatakan ada beberapa peneliti yang tidak percaya bahwa bentuk alih kalimat intra-kalimat ini sebenarnya adalah alih kode. Berdasarkan pengertian tersebut maka penjelasan alih kode dalam buku ini meliputi campur kode, sedangkan alih kalimat merupakan salah satu jenis alih kode. Alasan ini dapat dikategorikan karena mereka melakukan alih kode untuk meningkatkan statusnya di mata orang lain karena dianggap mampu berbahasa asing.
Selain itu, ketika seorang penutur ingin mencocokkan kemampuan berbahasa orang lain, maka perubahan topik pembicaraan juga dapat menjadi alasan seseorang melakukan alih kode (Oktaria, Hilal, & Tarmini, 2013). Pada tingkat individu, kompetensi yang dimiliki seseorang juga dapat berbeda dengan orang lain, sehingga variasi alih kode juga dapat beragam (Gardner-Chloros, 2009). Gumperz menjelaskan bahwa alih kode berbeda dengan peminjaman, karena alih kode melibatkan tata bahasa dari kedua bahasa yang digunakan, sedangkan peminjaman hanya melibatkan penyisipan kata atau frasa yang dipinjam dari bahasa lain ke dalam tata bahasa dari bahasa utama yang digunakan (Yletyinen, 2004). ).